Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH FORENSIK TOPIK 5

DVI dan Odontogram

DISUSUN OLEH
Kelompok 1
Belladina Maulani Y

1306440575

Cut Asyila Vianda

1306366590

Diwiya Aryyaguna

1306440650

Fadiza Fadillah N

1306366496

Friski Amanda Putri

1306366262

Namira Rositha Hakiki

1306440783

Rahmi Ulfiana

1306440695

Regina Vaniabella

1306412956

Windy Najla

1306404121

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS INDONESIA
2016
1

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan YME, yang atas rahmat-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah forensik topik 5 yang meliputi DVI dan
Odontogram dalam forensik.
Penulisan makalah merupakan salah satu persyaratan untuk mendapatkan nilai tugas pada
mata kuliah Forensik Kedokteran Gigi. Dalam penulisan makalah ini, kami dari kelompok 1
merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingat akan kemampuan yang kami miliki masih terbatas. Untuk itu kritik dan saran dari
semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan tugas kelompok ini sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca yang
lain dan dapat digunakan dengan semestinya.

Depok, 23 Oktober 2016

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Dalam bencana yang besar dan menghasilkan banyak korban jiwa, terdapat kemungkinan
bahwa korban tesebut dalam keadaan yang tidak dapat di kenali secara langsung. Oleh
karena itu turunlah suatu tim yang bertujuan untuk mengenali korban tersebut, yaknis tim
DVI. Tim DVI (disaster victim identification) merupakan suatu tim yang terdirikan dari
berbagai tenaga mulai dari dokter gigi, dokter umum hingga aparat kepolisian.
Banyaknya tenaga lintas bidang yang terdapat dalam tim ini memerlukan seorang dokter
gigi untuk dapat bekerja sama dengan tenaga lainnya untuk mencapai tujuan bersama. Tim
DVI ini bekerja berdasarkan suatu standar internasional yang telah di buat oleh international
police atau INTERPOL dengan sedikit modifikasi agar disesuaikan dengan keadaan di
indonesia. Seorang dokter gigi forensic yang akan turun sebagai tim DVI harus memahami
betul standar dan prosedur yang telah di tetapkan oleh DVI ini.
Peran dokter gigi dalam tim identifikasi antara lain adalah merekonsiliasi atau
mencocokan data postmortem yang di temukan dengan data antemortem yang didapatkan
untuk mengidentifikasi suatu jenazah. Salah satu data yang dapat digunakan adalah data
Odontogram.
Data odontogram ini didapatkan salah satunya dari rekam medic yang diisi oleh sorang
dokter gigi yang menangani pasien. Odontogram memiliki banyak fungsi, selain untuk
bidang forensic, dapat juga menjadi suatu pertanggung jawaban praktik kedokteran gigi
yang kita lakukan. Oleh karena itu dokter gigi yang baik sudah semustinya memahami cara
pengisian odontogram yang baik dan benar.
II. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang Ilmu
Kedokteran Gigi Forensik, terutama dalam DVI dan Odintogram.
III.

Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode studi
kepustakaan (library research), yaitu dengan cara mengumpulkan data-data dan literaturliteratur yang sesuai dengan topik, baik yang dilakukan di perpustakaan maupun di
3

tempat lain. Literatur yang digunakan berasal dari buku teks, jurnal ilmiah, website, dan
sumber lain yang mendukung kebutuhan penulisan.

BAB II
4

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DVI
Prinsip DVI
Tim DVI bekerja secara interdisiplin, dimana jasa/keahlian yang ditawarkan membutuhkan
berbagai macam disiplin dan harus bekerja bersamaan dan berkolaborasi dalam mengidentifikasi
korban. Sebagai prinsip utama, standar kualitas yang dimiliki harus diaplikasikan dan korban
harus di perkerjakan dengan hormat dan respek. Juga penting untuk merespon terhadap
kebutuhan kerabat korban dengan baik, respek, dan jujur untuk memberikan jawaban dan
kepastian secepatnya. Dari banyak kasus, bekerja sama dengan tim DVI nasional sangat
menguntungkan pada saat korban bencana berada pada level nasional ataupun terdapat korban
asing yang mungkin terkena.
Fase proses DVI
Proses DVI ini sudah dikenal secara internasional sebagai urutan aktifitas yang telah
dikembangkan setelah beberapa tahun. Proses ini juga sudah di uji dalam skala bencana besar
dalam berbagai macam negara di dunia dan sudah terbukti menjadi metode yang reliabel dimana
data keorban dalam form post-mortem dapat disesuaikan dengan data orang hilang. Tujuan
utama pencocokan ini adalah untuk secara psotof mengidentifikasi sisa-sisa korban manusia.
Proses DVI terdiri dari 4 fase;

Fase 1: Scene (memproses jasad manusia dan seluruh objek dalam area bencana)

Fase 2: Post-mortem (pengecekan secara detil jasad manusia)

Fase 3: Ante-mortem (pengumpulan data orang hilang dari berbagai macan sumber)

Fase 4: Reconciliation (pencocokan data post-mortem dan ante-mortem)

Klasifikasi Bencana
Dalam konteks DVI, bencana merupakan kejadian yang tidak diduga dan menyebabkan kematian
banyak orang. Banyak kejadian yang dapat menyebabkan bencana dan memerlukan proses DVI.
Seperti contoh; kecelakaan jalan, bencana alam, kecelakaan teknis (kebakaran, ledakan),
serangan teroris atau kejadian yang terjadi karena peperangan. Terdapat 2 macam kecelakaan,
yaitu open disaster dan closed disaster yang mempengaruhi pendekatan tim DVI.

Open Disaster

Open disaster (bencana terbuka) merupakan kejadian katastrofik besar dan menyebabkan
kematian beberapa orang dan tidak ada daftar khusus mengenai identitas korbannya. Dan akan
lebih sulit untuk mendapatkan jumlah tertentu mengenai banyaknya korban. Dalam kasus ini tim
DVI harus mendapatkan daftar potensial orang-orang yang mungkin menjadi korban. Contohnya
adalah bencana dalam suatu tempat umum dan tidak ada daftar formal mengenai orang-orang
yang hadir dalam tempat umum tersebut.

Closes Disaster

Closed disaster (bencana tertutup) merupakan kejadian katastrofik besar yang dapat
menghasilkan banyak jumlah kematian orang yang berasal dari suatu grup yang dapat di
identifikasi. Contohnya adalah pada kecelakaan pesawat yang memiliki daftar formal mengenai
penumpangnya. Dengan adanya daftar ini, data ante-mortem dapat dengan mudah di terima dan
secara lebih cepat.
Kombinasi dari kedua bencana ini juga dapat terjadim misalnya kecelakaan pesawat di tempat
umum yang korbannya dapat berasal dari pesawat maupun lokasi kecelakaannya.

PENDEKATAN KOOPERATIF PADA MANAJEMEN BENCANA


DVI merupakan bagian dari respons darurat. Untuk memastikan manajemen DVI dalam
memaksimalkan keahlian secara efektif, anjuran dan sumber daya yang tersedia dari instansi
yang terlibat, struktur efektif, penyusunan rencana dan hubungan perlu diciptakan dan
diimplementasikan.Ketidakpastian akan adanya perluasan kerusakan, gangguan dan kekurangan
informasi yang reliabel menyebabkan sulitnya memberikan respons darurat setelah bencana.
Meski demikian, koordinasi pada tiap tingkatan (lokal, regional, nasional, internasional) sangat
penting.
Koordinasi yang efektif pada operasi respons bencana dapat dipastikan jika perintah dan
struktur organisasi yang berfungsi secara benar diimplementasikan. Hal ini dapat menghindari
terjadinya kekeliruan dan disfungsionalitas.Sebagai bagian dari respons bencana, elemen yang
beragam dari perintah DVI harus digabungkan menjadi struktur organisasi pimpinan
otoritas.Selain itu, pola pikir terhadap fleksibilitas harus digunakan saat mengintegrasikan
operasi DVI dengan respons darurat multidisiplin lainnya sehingga kekeliruan dapat
diminimalisir dan tujuan umum dapat dicapai.

Koordinasi Respons DVI dengan Disiplin Lain


Setelah dilakukan peninjauan luas dan penilaian awal terhadap situasi yang didapatkan
dari area bencana, unit operasional yang berbeda harus dibentuk untuk melakukan aktivitas
respons bencana. Unit ini harus teridentifikasi secara jelas dan diberikan tugas serta tanggung
jawab yang spesifik. Pimpinan otoritas harus membuat struktur untuk mengembangkan
komunikasi yang efektif antara unit operasional dalam rangka memastikan informasi kritikal
tersampaikan pada dan dari penerima yang tepat. Selama respons multi nasional, keputusan awal
dalam prosedur, bahasan dan struktur misi respons sangat penting untuk meningkatkan
koordinasi.
Instansi respons spesialis yang ikut serta ke area bencana dibatasi hanya polisi, pemadam
kebakaran, dan ambulans. Namun, jika dibutuhkan sumber daya lain, pelayanan spesialis yang
dapat ikut serta beroperasi dengan tim DVI meliputi
7

Spesialis respons darurat, contohnya polisi, pemadam kebakaran, ambulans


Unit penyelamat, contohnya pencarian dan penyelamatan
Unit investigasi, contohnya investigator kriminal dan kebakaran
Pelayanan forensik, contohnya pemeriksa tempat kejadian dan pasca ledakan
Unit investifasi bencana, contohnya keamanan udara
Unit intelegensi
Unit informasi publik, contohnya media

Respons Awal Otoritas Pimpinan


Otoritas pimpinan harus mengambil komando dalam operasi secara keseluruhan, dalam
rangka memastikan koordinasi yang efektif dari personel dan sumber daya. Pada banyak kasus,
polisi mengambil komando tanggung jawab terhadap operasi.
Salah satu prioritas utama saat tiba di area bencana adalah melakukan peninjauan luas
pada lingkungan insiden sehingga determinasi dapat dibuat terkait dengan sumber daya yang
dibutuhkan dan proses yang perlu dilakukan. Meskipun prioritas utama selama aktivitas respons
melibatkan penyelamatan korban yang berhasil selamatdan meminimalisir hilangnya nyawa,
terdapat berbagai masalah signifikan yang harus dipertimbangkan dan diberikan apresiasi
penuhdari skala bencana oleh pimpinan otoritas melalui akusisi fakta yang dikonfirmasi. Setelah
informasi yang cukup didapatkan, pimpinan otoritas yang mengambil komado tanggug jawab
untuk operasi respons bencana harus mempertimbangkan hal berikut.
8

Alam bencana apakah alami, buatan manusia (man-made), atau kriminal


Klasifikasi, apakah bencana terbuka, tertutup, atau kombinasi keduanya
Cakupan dan estimasi kuantitatif kerusakan infrastruktur
Jumlah korban
Kebutuhan transportasi untuk orang yang terluka
Informasi mengenai jumlah orang hilang
Perluasan kerusakan harta benda
Menentukan layanan respons bencana yang sedang berada di area
Menetukan respons lanjutan yang dibutuhkan
Klarifikasi fungsi instansi di tempat kejadian dan bagaimana mereka dikontak, dikontrol, dan

diarahkan untuk tujuan umum


Jika penyelamatan dan/atau pemulihan tindakan telah dimulai, kemungkinan durasi tindakan

tersebut
Deskripsi saat ini dan perubahan yang mungkin terjadi pada area bencana
Klarifikasi mengenai waktu menerima instruksi dari area insiden
Klarifikasi pegawai perlu diberikan pengarahan dan kapan
Klarifikasi struktur komunikasi untuk memastikan partai yang berkontribusi tetap

mendapatkan informasi dan terkoordinasi


Pemeliharaan catatan kontemporer dari semua keputusan perintah dan rencana respons

Tindakan Pengendalian Tempat Kejadian Awal oleh Otoritas Pimpinan


Keputusan manajemen yang relevan pada tempat kejadian sering dapat mempengaruhi
bagaimana fase lain dari proses DVI dilakukan. Misalnya, jika proses yang terkait dengan
penanganan jenazah manusia atau harta benda terganggu, ini dapat menyulitkan proses
identifikasi dan repatriasi. Dalam rangka meminimalkan risiko terjadi ini, penting bagi perintah
DVI untuk memperkuat pada otoritas pimpinan untuk melakukan tindakan pengendalian tempat
kejadian sesegera mungkin. Untuk menahan lokasi bencana dan membatasi akses oleh personel
yang tidak sah, kegiatan keamanan area berikut harus dilakukan:

Kebutuhan untuk jenis dan lingkup eksternal hambatan atau kepungan penjaga
Membatasipandangan area bagi orang yang tidak berwenang
Membuat dan memeliharacara pendekatan umum yang terkontrol ke tempat kejadian dengan
catatan waktu dari setiap orang yang memasuki dan meninggalkan tempat kejadian.

Menjaga catatan dari semua individu yang hadir di lokasi untuk menentukan tujuan dan

otorisasi; merekam data yang sesuai dan penghapusan orang yang tidak sah dari daerah aman
Pembentukan perakitan dan koleksi poin dalam area aman untuk tujuan koordinasi

Penilaian Risiko dan Bahaya Awal oleh Pimpinan Otoritas


Meskipun tim respons awal, termasuk personel DVI mungkin memerlukan akses awal ke
lokasi kejadian, kesehatan kerja, kesejahteraan, dan keselamatan harus ditangani atau
diringankan oleh otoritas pimpinan sebelum personel dikerahkan. Oleh karena itu, kegiatan
berikut harus dilakukan:

Pengumpulan informasi pada bangunan/bahaya terkait struktural


Pertimbangan tindakan deteksi bahan berbahaya
Persiapanpenilaian risiko yang komprehensif

Evaluasi Awal Tempat Kejadian


Setelah urgensi langsung dari tanggap darurat telah mereda, sangat penting untuk
melakukan evaluasi tempat kejadian yang terkoordinasi. Hal ini mungkin melibatkan berbagai
disiplin ilmu dan evaluasi tempat kejadianyang mereka lakukan harus diawasi dan
dikoordinasikan oleh otoritas pimpinan.
Sejauh tanggung jawab DVI yang bersangkutan, tim advance (biasanya terdiri seorang
anggota senior tim DVI, ahli patologi forensik, polisi, dan spesialis lainnya jika diperlukan)
harus hadir di tempat kejadian, untuk mengevaluasi situasi dan merumuskan awal rencana
pengelolaan tempat kejadian. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam rencana ini
meliputi:

Perluasan

dipertimbangkan)
Kondisi dan potensi jumlah sisa manusia
Estimasi jumlah harta benda yang akan diproses
Estimasi kemungkinan durasi proses

tempat

kejadian

(ukuran,

bahaya,

dan

faktor-faktor

lain

yang

perlu

10

Lembaga medikolegal atau personel lainnya yang diperlukan untuk merespons (misalnya

butuhkan untuk peralatan khusus atau keahlian di TKP)


Metodologi untuk mengagkat sisa manusia (komposisi dan jumlah tim) dipertimbangkan.
Transportasi dari almarhum
Penyimpanan almarhum dan harta benda

Perencanaan Pendahuluan Manajemen Tempat Kejadian


Setelah informasi yang memadai diperoleh oleh tim advance DVI, perencanaan harus
dilakukan untuk memfasilitasi pendekatan logis, terorganisir, dan terkoordinasi untuk
pengolahan TKP. Dalam rangka meningkatkan kualitas rencana pengelolaan TKP, pertemuan
pra-operasi harus diadakan untuk:

Menjelaskan dan merencanakan tujuan DVI, metodologi umum, dan khususnya persyaratan

serta proses yang terlibat dalam catatan dan pengangkatan sisa manusia dan harta benda
Mengevaluasi kemungkinan durasi proses dan sumber daya yang diperlukan untuk

menyelesaikan semua tugas


Identifikasi peserta kunci eksternal untuk spesialis DVI yang perlu terlibat
Perencanaan adalah bagian penting dalam memastikan TKP dikelola dengan benar dan

dengan waktu yang cukup untuk melakukan secara menyeluruh. Selanjutnya, rencana perlu
dikomunikasikan kepada semua lembaga dan layanan yang berpartisipasi untuk mengurangi
kebingungan/kekeliruan di lokasi bencana. Yang penting, otoritas pimpinan harus diberitahu
tentang rencana pengelolaan TKP terakhir.

STRUKTUR KOMANDO DAN TANGGUNG JAWAB DVI


Penyusunan struktur komando DVI harus dientuk agar semua fase dari proses dapat tetap
dikoordinasi, dikontrol, dan dimonitor. Struktur ini membutuhkan saluran pelaporan yang tetap
untu memastikan informasi dan tujuan dikomunikasikan dan diinterpretasi secara akurat oleh
posisi kunci. Struktur juga perlu memastikan bahwa hubungan yang efektif terjadi pada anggota

11

kunci dari perintah tanggap bencana secara keseluruhan dan pihak lain yang berpartisipasi seperti
lembaga lainnya, negara dan kedutaan.
Struktur komando DVI dapat diperluas, tergantung pada ukuran dan sifat bencana, tetapi
penting bahwa bidang utamadari proses DVI di bawah ini harus dikendalikan dan dikelola secara
kompoten oleh staf yang terlatih dan berpengalaman:
Manajemen

Peran komandan DVI


Fase 1: Koordinasi TKP
Fase 2: Koordinasi Post-Mortem
Fase 3: Koordinasi Ante-Mortem
Fase 4: Koordinasi Rekonsiliasi

Spesialis
Keterlibatan spesialis yang terlatih dan berpengalaman bersifat penting bagi proses DVI. Disiplin
utama yang terlibat dalam aspek teknis proses DVI adalah:
Ahli Patologi Forensik
Ahli Odontologi Forensik
Ahli Sidik Jari (Ahli Friction Ridge)
Ahli Biologi Atau Genetika Forensik
Ahli Antropologi Forensik
Selain itu, terdapat layanan lain yang dapat terlibat untuk mendukung proses DVI, yaitu:

Fotografer
Ahli radiologi
Tim Wawancara
Pengelola harta enda
Pencatat TKP dan post-mortem
Tim Jaminan Kualitas (informasi dan data yang terkontrol kualitasnya)
Tim pengumpul dan manajemen bukti
Pengelola kamar mayat
Investigator
Petugas Logistik
Petugas Penghubung
Petugas Orang Hilang
12

Spesialis Teknologi Informasi

Struktur Komando DVI


Berikut ini adalah bagan organisasi dasar dari Struktur Komando DVI. Adanya perluasan
atau modifikasi biasanya akibat alam dan/atau kompleksitas kejadian, atau kerangka struktural,
legal, atau prosedural yang digunakan dalam kekuasaan hukum terkait atau suatu negara.

Identifikasi Peran Kunci


Personil yang ditempatkan untuk tugas, terutama di lokasi bencana harus mengenakan
tanda yang sesuai seperti tabards, ban lengan, atau tanda lainnya untuk secara jelas
mengidentifikasi peran yang mereka lakukan dan untuk menandakan bahwa akses ke area
membutuhkan otoritas/wewenang (misalnya komandan, koordinator TKP, ahli patologi, ahli
odontologim atau pemeriksa kejahatan di TKP). Hal ini sangat penting ketika beberapa instansi,
apakah instansi atau layanan lokal, nasional maupun internasional yang terlibat.

Komandan DVI

13

KomandanDVI memikul tanggung jawab keseluruhan untuk respons operasional untuk


kejadian DVI.Berikut ini adalah beberapa fungsi yang dianggappenting untuk dilakukan dalam
peran tersebut:

Membentuk komandoDVI dan kontrol struktur yang tepat untuk memastikan semua

kegiatanDVI diatur dan dikoordinasikam


Memulai respons DVI sesuai dengan rencana operasional yang telah disepakati dan/atau

pengaturan yurisdiksi
Menunjuk Koordinator Tahap DVI dan posisi kunci lainnya yang diperlukan
Melaksanakan saluran komunikasi yang jelas dan mekanisme pelaporan untuk memudahkan

koordinasi dan arus informasi


Pastikan bahwa kapasitas yang memadai dan kemampuan, baik spesialis dan logistik,

dipelihara untuk secara efektif dalam menanggapi insiden tersebut


Ringkas Pemeriksa atau otoritas yang setara dan otoritas pimpinan yang relevan
Pastikan kepatuhan terhadap persyaratan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan kerja

Koordinator Tahap
Penting bagi personil yang dialokasikan untuk peran koordinasi memiliki pengetahuan
yang diperlukan dan keterampilan yang sepadan dengan tuntutan dan tanggung jawab
ditempatkan pada posisi tersebut. Penting juga bagiKoordinator tersebut untuk memiliki
keterampilan teknis untuk mengelola fase DVI secara kompeten, juga dianjurkan bagi orangorang tersebut untuk memiliki keterampilan dan pengalaman dalam pengelolaan staf.
Sebagai Koordinator, ada harapan bahwa penduduk mampu mengelola staf secara efektif
dengan memaksimalkan kemampuan mereka untuk bersama mencapai tujuan DVI. Selain itu,
Koordinator juga memerlukan untuk dapat memantau semua aspek area kerja mereka, untuk
memastikan bahwa prosedur dilakukan dengan tepat, bahwa isu-isu yang proaktif ditangani, dan
bahwa Komandan DVI menjelaskan tentang isu-isu kuncisecara akurat. Yang paling penting
adalah Koordinator perlu memonitor masalah kesehatan kerja, kesejahteraan, dan keamanan,serta
mengurangi masalah tersebut ketika mereka muncul.

14

Memberikan kesempatan pelatihan bagi Koordinator di bidang manajemen dan


pengawasan di setiap wilayah hukum itu disarankan, untuk mengembangkan dan meningkatkan
keterampilan sebelum penyebaran terjadi.

Koordinator/Pengelola Spesialis DVI


Pengangkatan anggota kunci untuk mengkoordinasikan dan mengawasi disiplin spesialis
merupakan syarat penting untuk operasi DVI. Meskipun manajer dari personil spesialis ini harus
memenuhi syarat dalam disiplin masing-masing, mereka juga harus memiliki kemampuan untuk
mengkoordinasikan produksi output dengan disiplin lain, atau area lain dari proses DVI.
Seperti Koordinator TahapDVI, pengelola wilayah kerja spesialis harus tetap menyadari
semua perkembangan dalam area kerja mereka dan menjadi sadar terhadap kesehatan,
kesejahteraan, dan keselamatan kerja.
Fase-fase DVI
Tujuan penjelasan setiap fase ialah untuk mengetahui tujuan daris etiap fase dan
tanggung jawab yang harus dikerjakan pada setiap fase.
1. Scene
Identifikasi korban yang telah meninggal tidak dapat dilakukan hingga seluruh korban
yang selamat berhasil di selamatkan. Pada banyak kejadian yang terjadi, keadaan ini menjadi
sangat kacau dan tidak terorganisasi, tetapi harus diingat bahwa penyelamatan terhadap korban
yang masih hidup dan penjagaan terhadap barang-barang yang dapat membantu identifikasi
merupakan hal utama yang harus dilakukan pada tahap ini. Kendala yang sering terjadi adalah
banyaknya organisasi yang ikut terlibat dalam proses ini yang memiliki system komunikasi dan
organisasi yang berbeda-beda. Untuk menghindari terjadinya hal tersebut, harus dibentuk
struktur dan system pencarian yang segera dengan kolaborasi tim pencari bukti, DVI, dan access
control and security teams. Perencanaan ini terdiri dari tujuan pencarian, dan pencarian korban,
property dan bukti.Bila terjadi bencana dengan jumlah korban yang besar maka diperlukan
adanya Operational Section yang bertugak mengumpulkan bukti dan pemulihan. Tanggung
jawab Operational Section yaitu :
15

Pemulihan seluruh korban dan pengumpulan potongan tubuh pada daerah bencana
Pengumpulan dan penjagaan seluruh properti yang ditemukan pada lokasi bencana
Pengumpulan dan penjagaan barang-barang pribadi milik korban
Saat pengumpulan sedang dilakukan segera hubungi spesialis-spesialis untuk

mengidentifikasi seperti ahli odontologi, ahli antropologi, dan ahli patologi. Terdapat beberapa
tahap pada fase scene, yaitu :

Searching / Recording / Securing


Sebelum dimulainya operasi, semua personil operasional harus diberitahu tentang situasi
keseluruhan. Proses pengarahan ini juga akan mencakup tugas tanggung jawab dan tugas
yang harus diselesaikan. Subordinat external helpers dan penyediaan sketsa diperlukan dan
peta daerah bencana harus dibentuk untuk membantu proses ini.
Lokasi bencana harus dicari dan diproses sesuai metode secara sektor-ke-sektor. Setiap
tim individu harus diberi sektor tertentu dari daerah bencana yang ditentukan oleh Sector
Operation Commander. Sebelum memasuki daerah bencana, tenaga operasional harus
dilengkapi dengan peralatan yang sesuai keselamatan dan pakaian (misalnya helm, overall,
sepatu bot, sarung tangan karet, masker) dan peralatan penyelamatan yang tepat dan
dokumentasi, cukup untuk setiap korban dan barang bukti.Kedua peralatan / dokumentasi ini
harus diberikan melalui Recovery Command Centre.
Tim-tim ini bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pencarian menyeluruh dari
sektor yang ditugaskan telah dilakukan.

Scene gridding
Pada saat terjadinya bencana, diperlukan penjelasan mengenail TKP dengan jelas dan
akurat agar dapat mencarii dan mendata tempat bencana dengan jelas.DVI Scene Controller
yang bertanggung jawab dalam memastikan TKP di proses dengan mengkotak-kotakan
dengan benar dan setiap sektor di alokasikan dengan dengan benar untuk pencarian.

16

Recovery and Evidence Collection


Dalam melakukan pencarian, tim ini memiliki tugas sebagai berikut :
o
o
o
o
o

Identifikasi dan merekam seluruh keadaan dilokasi


Periksa seluruh korban
Tandai seluruh korban dengan penanda yang jelas dan tidak dapat dihapus
Berilah kombinasi nomer yang berbeda pada setiap korban
Dokumentasikan seluruh barang yang ditemukan.
Collection Centres
Recovery Command Centre menyediakan beberapa hal untuk melindungi dokumen,

korban dan barang-barang yang diberikan pada tim recovery and evidance collection, seperti
:
o
o
o
o
o

Recovery Report
Evidance List
Number Plates
Body Bags
Seals
Evidence / Property Collection Centre
Fungsi dari evidance/property collection centre adalah :

o Menjamin pengemasan dan dan penyimpanan dari objek yang ditemukan di TKP
o Persiapan serah terima catatan mengenai bukti untuk pemeriksaan selanjutnya
o Pemeriksaan property untuk menghasilkan informasi yang relevan untuk identifikasi dan
klasifikasi.
o Mempersiapkan hasil foto dari property untuk proses identifikasi
17

o Menyusun rencana pengembalian property kepada pemiliknya.


Scene Coordination Responsibilities

Koordinator tempat bencana DVI bertanggung jawab untuk mengatur aktivitas fase scene
dari operasi DVI.

Kewajibannya meliputi :
Melaksanakan fase scene dari respon DVI dalam persetujuan dengan rencana operasional
yang telah disetujui dan/atau peraturan yuridiksi
Menetapkan sistem grid dan numbering untuk digunakan
Melaksanakan channel komunikasi yang jelas untuk memfasilitasi korrdinasi aktivitas di
tempat bencana
Menugaskan Human Remains Holding Area Controller
Menugaskan tim properti untuk mengatur properti
Memastikan komitmen untuk jabatan kesehatan, keamanan dan kesejahteraan

2. Post-Mortem
Segala penginggalan manusia yang telah diselamatkan dari tempat bencana di proses, di
periksa dan di simpan di dalam kamar jenazah yang telah ditetapkan untuk operasi tersebut.
Proses pengujian dan metode yang digunakan pada fase ini meliputi photography, ridgeology
(fingerprinting), radiology, odontology, DNA samplingdan autopsy procedures. Periksa juga
properti yang melekat pada tubuh korban seperti perhaisan, ciri-ciri khusus dan pakaian yang
digunakan Seluruhnya dicatat dalam Form merah muda INTERPOL DVI Post mortem

Purpose of the Post-Mortem Process


Memenuhi persyaratan hukum dari negara masing-masing.
Membuktikan penyebabnya, cara dan mekanisme kematian.
Menentukan waktu bertahan hidup sebelum kematian.
Mengumpulkan data untuk tujuan identifikasi.
Mendokumentasikan informasi kunci termasuk cedera dan bukti untuk tujuan

o
o
o
o
o

penyelidikan.

Transporting Human Remains


Pemilik perusahaan pemakaman tidak dapat memindahkan tubuh, harus ada tim
khusus. Tubuh/bagian tubuh harus dipindahkan menggunakan kendaraan atau brankar atau
meja

Mortuary Facilities
18

Syarat pemilihan tempat : memiliki air berjalan yang cukup, drainase dan listrik yang
cukup. Pos yang terpisah harus ada dalam tempat pemeriksaan, antara lain:
o Penerimaan badan
o Pemeriksaan forensic tubuh
o Radiograf
o Fingerprinting
o Evidence processing
o Quality control
o Melepaskan tubuh yang telah diperiksa
Ruangan yang harus ada dalam tempat pemeriksaan:
o Ruang ganti
o Ruang pendingin tubuh
o Ruang penyimpanan barang logistic
o Ruang dekontaminasi, fasilitas mencuci, toilet
o Ruang istirahat dan ruang makan

Numbering System for Human Remains


Biasanya penomoran tunggal. Jika tim DVI bekerja bersama, digunakan kode Negara
internasional dari tim. Misalnya: Jerman 49-nomor kejadian-0001

Cooling Human Remains


o Harus didinginkan pada suhu 4-6C
o Pada penyimpanan jangka panjang -14 C, kemudian dipanaskan sampai suhu 4-6C
ketika akan diperiksa
o Tempat penyimpanan mayat harus berkonsultasi dengan kepala tim unit Identifikasi
Korban
Fungsi:

Menerima tubuh/bagian tubuh dari Recovery Command Cenre

Menyimpan dan mendinginkan tubuh/bagian tubuh

Mengorganisasi transport tubuh untuk pemeriksaan forensik

Pendaftaran tubuh untuk dokumentasi


19

Examination of Human Remains


Selama pemeriksaan PM pada korban, adalah penting untuk memastikan bahwa
hanya perubahan tidak dapat dihindari yang dapat terjadipada saat pemeriksaan.Metodologi
yang digunakan selama otopsi ditentukan pada beberapa alasan:
o Otopsi lengkap diperlukan pada kasus pembunuhan, penyebab kematian yang tidak
diketahui, awak pesawat, dan potongan tubuh yang tak dikenal.
o Deskripsi luka eksternal termasuk posisi cedera atau luka bakar relatif terhadap posisi
tubuh.
o Deskripsi susunan dari trauma, patah tulang, perdarahan internal, perubahan saluran
o
o
o
o

pernapasan atas (misalnya trauma, jelaga dari kebakaran di paru-paru).


Prosedur old surgical dan implan internal yang: tulang, payudara, hati, IUD rahim.
Rekaman anomali anatomi.
Mengumpulkan sampel untuk toksikologi dan DNA.
Dalam kasus tubuh membusuk, bagian tubuh yang tidak membusuk berharga seperti
sepertisimfisis kemaluan, ujung medial klavikula, tulang paha, dan tengkorak, untuk
menilai etnis, usia, jenis kelamin dan tinggi badan. Namun, penggunaan radiologi,
terutama CT scan, dapat meniadakan kebutuhan untuk proses ini.

Key Personnel and Functions


Dalam pemeriksaan, diperlukan sejumlah anggota yang memiliki fungsi berbeda, antara
lain :

Kepala Tim Post Mortem (PM Team Chief)

Memastikan personel tersedia dan cukup untuk pemeriksaan

Pencatat tubuh

Menentukan penomoran PM, mengeluarkan plat foto, dan memasukan nomor PM pada
formulir PM

Spesialis sidik jari

Menentukan cara mengumpulkan sidik jari.Palm print dan barefoot print korban harus
diambil.

Fotografer

Hal yang berkaitan dengan foto:


o Foto harus dibuat pada setiap tubuh
o Setiap foto harus memiliki nomor PM
20

o Subjek harus memenuhi 1 bingkai foto


o Tubuh harus difoto dengan menggunakan pakaian dan tanpa menggunakan pakaian
Hal-hal yang harus ada dalam foto:
o
o
o
o
o
o
o
o

Tanda foto, label, dan nomor kantung mayat


Foto tubuh yang utuh
Foto full-frame tampak depan
Foto 90 terhadap tubuh
Foto seluruh hal yang unik, misalnya: tato, bekas luka, amputasi, dan lain-lain
Foto seluruh hal yang dapat digunakan sebagai tanda pengenal (merek baju, dll)
Foto dental juga dilakukan: gigi tampak depan tertutup, bibir diretraksi
Patologi dan abnormalitas spesifik

Radiologi (u/ mendapatkan petunjuk penyebab, untuk screening benda asing pada tubuh,
misalnya implant)

Secara sistematis, pemeriksaan radiologi dilakukan dengan :


a. Diagnosis cedera khusus, penyakit, abnormalitas
b. Mencari benda asing
c. Evaluasi cedera
d. Mencari gigi
e. Evaluasi umumr
f. Radiologi odontology
g. Perbandingan AM dan PM

Patologis forensic

Melakukan pemeriksaan eksternal dan internal tubuh, mengambil sampel DNA, dan
menyediakan informasi kritis untuk profil biologi, misalnya umur, jenis kelamin, dll.

Asisten autopsy

Asisten ini melakukan :


o Membersihkan instrument
o Membantu penempatan tubuh pada meja otopsi
o Membantu pemeriksaan eksternal tubuh
o Membantu pelepasan rahang bawah (jika diperlukan)
o Membantu mengumpulkan sampel DNA

Dokter Gigi
21

Dokter gigi membantu forensic odontologist mencatat status dental korban, dengan:
o Menyiapkan halaman F1 dan F2
o Memeriksa kualitas data post mortem accuracy, legiblity, clarity
o Menandatangani data catatan dan memastikan pemeriksa odontologist juga telah
menandatanganinya

Asisten Odontologi Radiografi


Membantu odontologist dan pencatat dalam menyiapkan, mengambil gambaran
radiografi gigi dan bertanggungjawab dengan kualitas foto radiografi.

Quality Control Officer


Mereview semua kelengkapan dokumen.

Examination Procedures
1. Setelah menerima jasad tubuh korban dan recovery record, tubuh diletakkan diatas meja
autopsi
2. Registrar tubuh mengeluarkan satu nomor dan mencatatnya pada formulir post mortem
(PM). Jika telah ditetapkan pemulihan spesifik maka dicatat nomornya pada form
3. Registrar tubuh memberikan catatan PM ke autopsy recorder
4. Registrar tubuh mencatat nomor PM pada laporan pemulihan, dan memberikan kantong
barang bukti pada property processor
5. Registrar tubuh menyediakan fotografer dengan pelat bertuliskan nomor PM yang sesuai
6. Fotografer memotret tubuh berpakaian
7. Property processor dibantu dengan autopsy assistant melepas pakaian dari tubuh dan
membersihkannya

dan

barang

bukti

lainnya.

Evidence

processor

harus

mendokumentasikan lokasi dimana setiap item bukti ditemukan


8. Fotografer memotret tubuh tanpa pakaian
9. Pemeriksaan eksternal dan internal tubuh dilakukan, dan sampel DNA dikumpulkan
ahli patologi forensik, asisten autopsi dan pencatat autopsi. Pencatat autopsi meminta
fotografer memotret hal yang penting yang berkaitan
10. Penilaian status dental forensic odontologist, dental recorder dan asisten radiografi.
Odontologist meminta fotografer memotret kondisi dental. Instruksi untuk halaman F1
dan F2 harus dipehatikan
11. Mengumpulkan sidik jari, sidik telapak tangan dan kaki fingerprint specialist

22

12. Dokumentasi pakaian, perhiasan dan lainnya evidence processor &fotografer. Bila
ditemukan bukti harus dipisahkan kedalam evidence bag
13. Setelah pemeriksaan pakaian selesai, pakaian ditempatkan pada trash bag bersih dan
dimasukan ke kantong tubuh korban
14. Mengontrol kualitas pemeriksaan
15. Jika memungkinkan, foto rontgen seluruh tubuh dapat dilakukan untuk mendeteksi
implan, atau bekas fraktur

Special Considerations for Primary Identification Methods


o Post Mortem fingerprinting
o PM DNA Sample
o PM Dental Examination

Post Mortem Coordination

Koordinator post mortem DVI bertanggung jawab dalam konsultasi dengan spesialis

untuk manajemen dan hasil dari aktivitas selama identifikasi post mortem oleh DVI
Tanggung jawabnya meliputi :
Mengimplementasikan fase post mortem dari proses DVI sesuaui dengan peraturan yang
berlaku
Menunjuk DVI Post-mortem Human Remains Team Leader.
Menunjuk tim yang pantas untuk mengatur properti
Memastikan arahan dari Coroner or equivalent authority sejalan dengan pemeriksaansetiap
korban yang sedang dilaksanakan
Melaksanakan komunikasi yang jelas untuk memfasilitasi aktivitas di kamar jenazah
Memastikan kesehatan, keamanan dan kesejahteraan
3. Ante Mortem
Tahapan Ketigadalam Proses DVI adalah Pengumpulan Data Ante Mortem dimana pada
fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah sebelum kematian.Data ini biasanya
diperoleh dari keluarga jenazah maupun orang yang terdekat dengan jenazah.Data yang
diperoleh dapat berupa foto korban semasa hidup, interpretasi ciri ciri spesifik jenazah (tattoo,
tindikan, bekas luka, dll), rekaman pemeriksaan gigi korban, data sidik jari korban semasa hidup.
Informasi informasi lain yang relevan dan dapat digunakan untuk kepentingan identifikasi,
misalnya informasi mengenai pakaian terakhir yang dikenakan korban. Apabila tidak ada data
sidik DNA korban maka dilakukan pengambilan sampel darah dari keluarga korban. Data Ante
Mortem diisikan ke dalam yellow form berdasarkan standar interpol.

23

Tahapan pengambilan data Ante Mortem

Sistem Manajemen Dokumentasi atau Persiapan Data Korban


Seluruh Tim pengumpulan data antemortem yang bertugasharus mengumpulkan
dan mencatat seluruh informasi yang berhubungan dengan individu yang berpotensi
menjadi korban dalam suatu bencana ataupun bencana yang sedang terjadi. Tim
menyiapakan sebuah personal file untuk setiap orang yang dicurigai menjadi korban
dimana didalmnya terdapat checklist dari semua ukuran dan data yang harus didapatkan
untuk mengumpulkan data ante mortem. Pada tahap awal, tim AnteMortem akan sangat
membutuhkan data korban yang reliable dan aktual karena berkaitan dengan tahap
berikutnya sehingga dapat dibantu oleh data dari pihak kepolisian dan tim SAR.

Pengumpulan Material Ante Mortem


Pada tahap awal, tim AnteMortem akan sangat membutuhkan data korban yang
reliable dan aktual karena berkaitan dengan tahap berikutnya sehingga dapat dibantu oleh
data dari pihak kepolisian dan tim SAR. Proses pengumpulan data harus memperlakukan
seluruh temuan seperti layaknya suatu tempat kejadian perkara (TKP).

Proses

pengumpulan data dilakukan oleh para pakar dengan pengetahuan yang telah diuji
reliabilitasnya (equal value)
24

Melakukan Interview Terkait Data Ante Mortem


Petugas kepolisian yang belum paham dengan form AnteMortem harus dijelaskan
terlebih dahulu. Proses wawancara sebaiknya tatap muka, dengan lokasi sebagaimana
ditentukan, begitu pula dengan fasilitas yang tersedia. Interview terkait dengan kerabat
yang kemungkinan menjadi korban dapat dilakukan dimanapun asalkan dapat
memungkinkan untuk berbicara tatap muka (faco to face). Wawancara harus segera
dilakukan setelah pihak keluarga terdekat diketahui. Jika lokasi tidak dapat dilakukan di
kediaman kerabat, dapat dipilih area publik atau media.Pihak wawancara harus
memastikan bahwa kerabat korban bersedia untuk diwawancara.

Pertimbangan Hasil Interview Ante Mortem


Dalam melakukan interview kepada kerabat atau orang terdekat korban, hasil
yang harus didapatkan yaitu :

Rekam medik kesehatan (umum dan dental) : records, odontogram, treatment


records, x-ray, mouth guard

Nama dan alamat dokter yang menjadi dokter pribadi korban

Nama dan alamat dokter gigi korban

Deskripsi perhiasan dan properti yang digunakan

Foto terbaru (menampilkan wajah, gigi, tato)

Buccal Swab (Usap mukosa) bukal atau sampel darah dari orang tua biologis atau
anak

Deskripsi atau foto dari karakteristik fisik

Objek yang mungkin memiliki sidik jari atau DNA

Manajemen Semua Komposisi Data yang Didapat


Semua data Ante Mortem yang telah didapatkan dijaga baik-baik, dengan cara seperti
:

Menaruh semua berkas di dalam amplop


Semua berkas harus memiliko halaman depan dengan nama dan jenis kelamin dari

orang yang dinyatakan hilang


Berkas harus di pantau selalu

25

Identifikasi Primer Data Ante Mortem dengan Berbagai macam Pertimbangan (Sidik Jari,
DNA, Dental Status, etc)

Quality Control dari Data Ante Mortem


Dokumentasi dan pengumpulan data yang dilakukan harus hati-hati dan wellprepared. Semua forms sampel dan informasi yang didapatkan harus direview sesegera
mungkin dan dikoreksi apabila terdapat kekeliruan sebelum data masuk ke tahap
matching process.

Ante Mortem Coordination

Koordinator ante mortem DVI bertanggung jawab untuk manajemen aktivitas selama
ante mortem oleh DVI.

Tanggung jawabnya meliputi :


Mengimplementasikan fase ante mortem dari proses DVI sesuaui dengan peraturan yang
berlaku
Menunjuk Ante Mortem Coordination Centre
Menunjuk tim pewawancara dan berkoordinasi untuk mengumpulkan data orang hilang
Memperoleh data mengenai keadaan korban sebelum kejadian dan list orang-orang yang
terkena bencana
Berkerjasama dengan polisi sekitar, INTERPOL, pemerintah, dll untuk mengumpulkan
data-data mengenai korban
Memastikan kesehatan, keamanan dan kesejahteraan

4. Rekonsiliasi
Pada fase ini dilakukan pembandingan data post mortem dengan data ante mortem. Tim
rekonsiliasi bertugas membandingkan hasil yang didapat oleh tim anter mortem dan tim post
mortem. Ahli forensik dan profesional lain yang terkait dalam proses identifikasi menentukan
apakah temuan post mortem pada jenazah sesuai dengan data ante mortem milik korban yang
dicurigai sebagai jenazah. Apabila data yang dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan
identifikasi positif atau sudah dapat ditegakkan. Apabila data yang dibandingkan ternyata tidak
cocok maka identifikasi dianggap negatif dan data post mortem jenazah tetap disimpan sampai
ditemukan data ante mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah. Tim rekonsiliasi

26

nantinya akan memproses dan mengevaluasi data yang didaptkan berdasarkan semua semua
kriteria yang relevan.
Tim Rekonsiliasi harus berada sedekat mungkin dengan Pusat Komando Operasional
(Operations Command Centre).Penggunaan data processing and evaluation software untuk
membandingkan data dapat menghemat waktu, namun keputusan akhir harus tetap dibuat
berdasarkan semua kriteria yang relevan. Organisasi dan struktur unit rekonsiliasi yaitu :
1. Pemimpin Unit Rekonsiliasi
2. Kepala Asisten Tim Rekonsiliasi
3. Seksi Rekonsiliasi
a. Data Dactyloscopic (Ahli Identifikasi Sidik Jari)
b. Gigi (Odontologis Forensik)
c. DNA (Biologi)
d. Identifikasi Sekunder / Penggalian Data (Petugas Polisi)
Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap rekonsiliasi yaitu :
1. Mengumpulkan/meninjau temuan AM dan PM
2. Klasifikasi kolektif
3. Persiapan daftar berisi tanda-tanda kunci AM dan PM
4. Penyesuaian/penyocokan pertama
5. Perbandingan individual (sidik jari, dental status, DNA)
6. Identifikasi atau penolakan Identification Board
Reconciliation Coordination

Koordinator rekonsiliasi DVI bertanggung jawab dalam manajemen aktivitas hasil dari
aktivitas selama fase rekonsiliasi oleh DVI.

Tanggung jawabnya meliputi :


Mengimplementasikan fase rekonsiliasi dari proses DVI sesuai dengan peraturan yang
berlaku
Menunjuk dan mengatur operasi dari pusat rekonsiliasi DVI
Menunjuk beberapa ketua tim pada pusat rekonsiliasi
Menyediakan pos-pos untuk menyedia mencatat mengenai informasi ante mortem dan
post mortem
Menyiapkan hasil identifikasi formal untuk diterima DVI commander
27

Mengadakan DVI Identification Board


Memastikan kesehatan, keamanan dan kesejahteraan
5. Debriefing
Setelah korban teridentifikasi sedapat mungkin dilakukan perawatan jenazah yang
meliputi antara lain:

Perbaikan atau rekonstruksi tubuh jenazah

Pengawetan jenazah (bila memungkinkan)

Perawatan sesuai agama / kepercayaan korban

Memasukkan dalam peti jenazah


Setelah 3-6 bulan identifikasi juga dilakukan evaluasi mengenai

seluruh proses

identifikasi seperti hal-hal yang harus ditingkatkan dari kinerja, hal yang tidak boleh terulang,
dan kesulitan yang ditemui selama identifikasi.

Metode Identififkasi
Dalam insiden massa yang fatal, konfirmasi identitas dari jasad harus hanya dibuat oleh
Identification Board (IB)atau pejabat setempat yang berwenang setelah assessment penutupan
dan evaluasi dari data yang relevan dan reliable. Korban pada bencana skala besar diidentifikasi
menggunakan assessment multifactor :
derajat kerusakan korban
waktu korban dibiarkan terekspose
Perubahan kondisi jasad yang dapat mempengaruhi kuatitas data post mortem.
Hal ini juga mempengaruhi dan menentukan metode spesifik apa yang cocok digunakan.
Metode yang digunakan harus bersifat keilmiahan, reliabel dan dapat diaplikasikan pada kondisi
apapun dan dapat dimplementasikan dalam perode waktu tertentu.

Metode Identifikasi Primer


Data yang dihasilkan dapat berdiri sendiri untuk mengidentifikasi korban, karena
cukup kuat sebagai data utama.

Friction ridge analysis


Comparative dental analysis
28

DNA analysis
Metode Identifikasi Sekunder

Metode ini hanya digunakan sebagai pendukung dari metode identifikasi utama
karena tidak cukup kuat dijadikan bukti apabila berdiri sendiri. Bila hanya terdapat data
sekunder maka dengan minimal 2 data sekunder yang cukup kuat dapat mengidentifikasi
korban.

Personal description
Medical findings
tattoos
Property and clothing found
Identifikasi melalui foto sangat tidak dianjurkan karena data menjadi tidak

meyakinkan.Data Post Mortem (PM) akan di evaluasi sebagai referensi untuk dibandingkan
dengan data Ante Mortem (AM) dari orang-orang yang hilangData PM yang dapat
digunakan sebagai pembanding dari data AM tidak bisa ditentukan sejak awal sehingga
perlu untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan seluruh data yang ada baik data AM
maupun PM
2.2 Rekam Medik Kedokteran Gigi & Odontogram
-

Rekam Medik Kedokteran Gigi


Rekam medik dalam bidang kedokteran gigi adalah catatan mengenai apa yang
ditemukan oleh dokter gigi/ perawat gigi pada saat pasien datang dan tindakan apa yang
dilakukan termasuk perawatan yang dilakukan pada gigi dan mulut pasien tersebut. Di dalam
rekam medik ini tercakup informasi mengenai:
Identitas pasien
Keadaan umum pasien
Odontogram (data gigi yang menjadi keluhan)
Radiograf
Model studi
Photograph
Laboratory prescriptions
Drug prescriptions
Data perawatan kedokteran gigi
Nama dokter gigi yang merawat
Informed consent
Fungsi Rekam Medik Kedokteran Gigi
29

Sebagai dasar penyusunan rencana perawatan/ kebutuhan alat/ bahan kedokteran gigi
melalui perhitungan DMF-T
Merupakan dokumen legal yang dapat melindungi dokter gigi maupun pasien
Sebagai resume keadaan gigi dan mulut pasien baik untuk kepentingan pasien
maupun rujukan
Sebagai data untuk sarana identifikasi jika diperlukan
Sebagai bahan penelitian
Data yang tercantum dalam rekam medik dapat berfungsi dalam keperluan identifikasi
korban bencana (disaster victim identification/DVI), yakni sebagai data antemortem. Data
dari rekam medik ini nantinya dapat digunakan sebagai pembanding dari data postmortem
atau data tentang gigi geligi yang ditemukan pada jenazah korban.
Di Indonesia, pencatatan data rekam medik diatur dalam buku panduan yang dikeluarkan
oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2004 dengan judul Standar
Nasional Rekam Medik Kedokteran Gigi.

Gambar 1. Borang Rekam Medik Kedokteran Gigi


-

Odontogram
30

Odontogram merupakan salah satu bagian dari dental record berupa catatan berbentuk
peta gambaran seluruh keadaan gigi-geligi pasien yang dicatatkan pada kunjungan pertama.
Odontogram menjadi bagian penting yang yang tidak terpisahkan dari Rekam Medik
Kedokteran Gigi.
Pengisian Odontogram
Pengisian form odontogram dilakukan pertama kali adalah saat kunjungan pertama pasien
ke dokter gigi. Pengisian dilakukan setelah pemeriksaan terhadap seluruh keadaan gigi dan
mulut pasien selesai dilaksanakan. Odontogram ini akan diperbaiki atau diperbaharui setelah
dilakukan tindakan perawatan.
Komponen yang tercakup dalam form odontogram meliputi:
Identitas Pasien
Peta Odontogram dengan nomenklatur yang digunakan mengacu pada sistem FDI
o Kwadran 1 = gigi tetap atas kanan (11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18)
o Kwadran 2 = gigi tetap atas kiri (21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28)
o Kwadran 3 = gigi tetap bawah kiri (31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38)
o Kwadran 4 = gigi tetap bawah kanan (41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48)
o Kwadran 5 = gigi sulung atas kanan (51, 52, 53, 54, 55)
o Kwadran 6 = gigi sulung atas kiri (61, 62, 63, 64, 65)
o Kwadran 7 = gigi sulung bawah kiri (71, 72, 73, 74, 75)
o Kwadran 8 = gigi sulung bawah kanan (81, 82, 83, 84, 85)
Saat pemeriksaan dari masing-masing elemen gigi, dokter gigi dapat membuat catatan
kecil terlebih dahulu sebelum dipindahkan dalam peta odontogram.

Oklusi Diklasifikasikan sesuai gambaran umum yang terlihat


Torus palatinus
Torus mandibular
Palatum Berpedoman pada kaca mulut No. 5. (1/2 kaca mulut = palatum sedang)
Supernumerary teeth Pencatatan dalam borang dilakukan dengan menyebutkan

jenis &lokasinya.
Diastema Umunya yang paling sering ditemukan adalah central diastema, tetapi
jika ada diastema lain maka tetap dicantumkan
Gigi anomali Dalam pengisiannya pada borang, hal yang dicantumkan meliputi
bentuk & lokasinya
Lain-lain Jika ditemukan adanya ciri-ciri lain yang bersifat menetap/ permanen &
dapat dijadikan ciri khas maka hal tersebut juga perlu dicatatkan dalm borang
Tanggal pembuatan odontogram Hal ini penting untuk ditulis dan tanggal yang
dicantumkan adalah saat pemeriksaan dilakukan
31

Gambar 2. Borang Odontogram

32

Gambar 3. Borang Odontogram Pusat Kedokteran dan Kesehatan POLRI


Ketentuan dalam Penulisan Odontogram
Seluruh penulisan notasi gigi memakai format FDI (Federation Dentaire

Internationale)
Setiap gigi harus ditulis notasinya.
Penulisan dimulai dari rahang atas kanan dari gigi 18 dan di akhiri sampai gigi 48
Lokasi dan jenis restorasi dan kondisi lainnya harus di gambarkan dalam odontogram
Permukaan gigi dituliskan dengan inisial awal menggunakan huruf kapital
M = Mesial
D = Distal
V = Vestibular (biasa juga disebut Bukal, Labial dan Fasial)
L = Lingual
O = Oklusal
Material restorasi dilambangkan dengan:
33

Amalgam dan Inlay logam = Hitam penuh


Logam mulia/ Emas = Merah
Restorasi sewarna gigi (komposit, glass ionomer, porcelain) = Hijau atau
Tanda arsir
Fissure sealant (restorasi pencegahan) = Merah muda
Keadaan gigi
Sound: Tidak ada karies atau restorasi, diberi tanda S pada odontogram
Missing:
Missing Ante Mortem diberi tanda X pada odontogram.
Missing
Post
Mortemdiberi
tanda X dan dilingkari pada
odontogram
Kehilangan bagian rahang ditulis pada teks box
Tidak ada informasi: diberi tanda ? pada odontogram dan ditulis NON pada
teks box
Keadaan lainnya
Kavitas: Diberi tanda dengan menebalkan kavitas menggunakan tinta hitam
pada odontogram.
Restorasi: Ditebalkan dengan warna sesuai jenis material tambalan.
Perawatan saluran skar (RCT): Diberi tanda Lingkaran dengan titik (dot)
ditengahnya pada gambar odontogram.
Fraktur: Diberi tanda # pada odontogram (deskripsi detail dari fraktur gigi,
mahkota, bridge, implant dll ditulis pada keterangan lainnya).
Gigi tiruan:
Full maxillary denture F/ Full mandibular denture -/F
Partial mandibular denture -/P
Partial maxillary denture P/ Crown (Mahkota) : Diberi warna sesuai material yang digunakan pada
odontogram
Bridge (Jembatan):
Gunakan warna sesuai material yang digunakan
Abutment teeth: Diberi gambar sesuai crown (mahkota)
Pontik : Gunakan garis penghubung antar gigi sandaran
Dental implan: Dituliskan IPX diatas odontogram (dengan

restorasi

mahkotanya)
Gigi belum tumbuh (Unerupted tooth): Tuliskan UE pada Odontogram.
Sisa akar (Retained root):
Dituliskan RR pada odontogram
Penutupan Jarak (Space Closure): Menggunakan anak panah
34

Diastema (Space Opened): Munakan anak panah


Rotasi Gigi: Menggunakan kurva panah
Kodifikasi Informasi Gigi menurut Interpol (International Police)
Kodifikasi informasi gigi yang dibuat Interpol hanya terdiri dari satu huruf yang
digunakan untuk sebagian besar kode guna meminimalisasi kesalahan saat input data
dimana satu kode hanya akan memiliki satu arti
Kodifikasi ini bersifat hirarkis, yaitu penjabaran informasi dimulai dari yang sifatnya
umum ke khusus sehingga memudahkan pencarian data
Dengan sifatnya yang fleksibe, sistem ini dapat diterapkan secara internasional, baik
di negara berkembang maupun negara maju

35

36

37

Contoh Pengisian Rekam Medik Kedokteran Gigi

38

39

BAB III
KESIMPULAN
Tim DVI terdiri dari banyak tenaga yang harus berkolaborasi, mulai dari dokter umum,
dokter gigi hingga aparat kepolisian. DVI sendiri bertujuan untuk mengidentifikasi jenazah
korban bencana yang terjadi dan mengembalikannya ke keluarganya. DVI terdiri dari 4 fase.
Fase 1, Scene (memproses jasad manusia dan seluruh objek dalam area bencana), Fase 2: Postmortem (pengecekan secara detil jasad manusia), Fase 3: Ante-mortem (pengumpulan data orang
hilang dari berbagai macan sumber) dan Fase 4: Reconciliation (pencocokan data post-mortem
dan ante-mortem) Dan DVI memiliki hierarkinya sendiri serta fase tambahan yaitu fase 5;
debriefing.
Odontogram merupakan salah satu bagian dari dental record berupa catatan berbentuk peta
gambaran seluruh keadaan gigi-geligi pasien yang dicatatkan pada kunjungan pertama.
Odontogram menjadi bagian penting yang yang tidak terpisahkan dari Rekam Medik Kedokteran
Gigi. Pengisian form odontogram dilakukan pertama kali adalah saat kunjungan pertama pasien
ke dokter gigi. Pengisian dilakukan setelah pemeriksaan terhadap seluruh keadaan gigi dan mulut
pasien selesai dilaksanakan. Odontogram ini akan diperbaiki atau diperbaharui setelah dilakukan
tindakan perawatan.

40

DAFTAR PUSTAKA
1. Interpol Disaster Victim Identification Guide [online] Available at:
http://www.interpol.com.shtml [Accessed 10 Oct. 2016].
2. Lukman D. Buku Ajar IlmuKedokteran Gigi Forensik.Jilid 1.CV Sagung Seto. Jakarta:2006
3. Ncids.com. (2016). Forensic Resources. [online] Available at:
http://www.ncids.com/forensic/serology/serology.shtml [Accessed 7 Oct. 2016].
4. Mariah F. Ilmu Forensik. In ; 2009. p. 112.
5. Lukman, Djihansyah . Ilmu Kedokteran Gigi Forensik Jilid 2. Jakarta : Sagung Seto. 2006
6. Buku Panduan Rekam Medik Kedokteran Gigi 2014

41