Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................2
1.1 Deskripsi........................................................................................................2
1.2 Maksud dan Tujuan.......................................................................................3
1.3 Waktu dan Tempat.........................................................................................3
BAB II MATERI DAN METODE...................................................................4
2.1 Status Faali Pada Manusia.............................................................................4
2.2 Cara Kerja......................................................................................................6
2.3 Pengaturan Suhu Tubuh.................................................................................8
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN...........................................................9
3.1 Hasil Data Status Faali Manusia...................................................................9
3.2 Hasil Data Status Faali Katak......................................................................12
BAB IV KESIMPULAN.................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................17

I
PENDAHULUAN

1.1.

Deskripsi
Ilmu

faal

adalah

ilmu

percabangan

dari

fungsi

kardiovaskuler yang mempelajari tentang aliran darah di


dalam tubuh hewan dan manusia. Dalam ilmu ini dibahas
mengenai faktor-faktor fisik dan kimia yang mempengaruhi
mahluk

hidup,

menyangkut

masalah

awal

mula,

perkembangan serta kelangsungan hidup (Frandson, 1996).


Pada status faali manusia, setelah melakukan kegiatan berupa lari-lari
kecil, terjadi peningkatan pada denyut jantung, denyut nadi, respirasi, dan
temperature. Hal ini disebabkan tubuh mengalami serangkaian aktivitas fisik
dan kimiawi, yang menyebabkan tubuh akan menjaga kestabilan dalam
dirinya. Dengan meningkatnya keseluruhan kerja organ-organ tubuh maka
akan menghasilkan panas tubuh yang berlebih yang nantinya akan
dikeluarkan oleh tubuh, melalui keringat dan uap udara lewat mulut dan
hidung, sehingga temperatur tubuh pun akan naik.
Percobaan

status

faali

katak

bertujuan

untuk

mengetahui perbedaan sistem homeostatis pada kelompok


homoioterm
menggunakan

dan

poikiloterm.

thermometer

Pada
yang

percobaan
berfungsi

ini
untuk

mengetahui suhu tubuh pada katak. Suhu tubuh diukur pada


saat lingkungan normal, lingkungan dingin, dan lingkungan

hangat,

yang

berfungsi

untuk

mengetahui

kelompok

homoioterm atau poikiloterm.

1.2.

Maksud dan Tujuan


1. Mahasiswa diharapakan mampu menentukan status faali manusia dan
katak dengan cara mengukur suhu tubuh, frefekuensi pernafasan,
frefekuensi denyut jantung, dan frefekuensi denyut nadi.
2. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui dan menentukan sebab-sebab
fenomena yang terjadi pada mahluk hidup tersebut.
3. Mahasiswa diharapkan mengetahui jenis-jenis hewan yang tergolong
mampu untuk mempertahankan keadaan di dalam tubuhnya atau hewan
yang termasuk Homoioterm

dan hewan yang tergolong ke dalam

Poikioterm

1.3.

Waktu dan Tempat


Hari, tanggal

: Kamis, 3 November 2016

Pukul

: 12.30 14.30 WIB

Tempat

: Laboratorium Fisiologi Ternak dan Biokimia


Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

II

MATERI DAN METODE


2.1 Status Faali Pada Manusia
2.1.1 Alat dan Bahan
No
Nama
1.
Manusia

2.

Stetoscope

Gambar

3.

Stop Watch

4.

Termometer Klinik

2.2

Cara Kerja

Langkah
2.2
I
Objek disuruh tidur terlentang dengan tenang
selama 5 menit
Diukur suhu tubuhnya dengan termometer
Diukur frekuensi pernapasannya dengan diamati
gerakan perut
Dihitung

frekuensi

denyut

jantung

dengan

stetoskop yang ditempelkan di daerah costal 4-5


dada sebelah kiri
Dihitung freuensi denyut nadi pada arteri yang
Hasi
l
Langkah
II
Objek diminta beraktivitas: lari keliling plaza
selama 10 menit
Kemudian

diminta

tidur

terlentang,

langsung

diukur suhu tubuh dengan termometer di mulut


dan ketiak selama 5 menit
Bersamaan dengan diukurnya suhu tubuh, diukur
juga

frekuensi

pernapasan,

denyut nadi selama 1 menit

denyut

jantung,

Hasi
l
Pengaturan Suhu Tubuh Pada
Manusia
Objek dibaringkan dengan tenang
Diukur suhu tubuhnya dengan termometer yang
diletakkan di bagian ketiak selama 5 menit
Diukur suhu tubuhnya dengan termometer yang
diletakkan di mulut yaitu bagian bawah lidah
selama 5 menit pertama dan 5 menit kedua
Dicatat suhunya

Hasi
l

Pengaturan Suhu Tubuh


Pada Katak
Disiapkan seekor katak yang segar, dimasukkan ke
dalam beaker glass
Termometer

dimasukkan ke

dalam

esophagus

katak selama 5 menit, lalu dicatat suhunya


Katak direndam dalam air es selama 5 menit,
diukur suhunya
Istirahatkan katak selama 5 menit, lalu direndam
air hangat (40o C) selama 5 menit. Dicatat suhunya
Hasi
l
7

2.3 Pengaturan Suhu Tubuh


2.3.1 Alat dan Bahan
No

Nama

1.

Air Es

2.

Air Panas

3.

Gelas Beaker

4.

Katak

5.

Stop Watch

6.

Termometer

Gambar

III

HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Data Status Faali Manusia
3.1.1 Pengukuran Suhu
PENGUKURAN

SUHU

Dalam Ketiak (selama 5 menit)

36,7C

Dalam Mulut (selama 5 menit)

36,6C

SUHU
PENGUKURAN

Setelah

Suhu

Minum air

Awal

Suhu Awal

Setelah minum

panas

Yoghurt

Dalam Ketiak

36,7C

36,7C

36,7C

36,7C

Dalam Mulut

36,6C

37,8C

36,6C

33,5C

3.1.2 Status Faali Manusia Dalam Keadaan Tenang, Beraktifitas dan Setelah
Beraktifitas
Pengamatan
No
.

Frek.

Frek. Denyut

Frek. Denyut

Pernapasan

Nadi

Jantung

(x/menit)

(x/menit)

(x/menit)

Tenang

1. 50

1. 70

1. 74

1. 36,6

(Awal)

2. 48

2. 63

2. 64

2. 36,7

3. 46

3. 69

3. 62

3. 36,7

Kondisi

Suhu Tubuh
(C)

Keterangan

Rata-rata

48

67,3

66,67

36,7

70

120

115

37,1

5 Pertama

54

117

114

37

5 Kedua

62

107

110

36,7

5Ketiga

58

104

102

36,7

Kerja

Fisik
Setelah
Kerja

Fisik

3.1.

2 Pembahasan
Status faali pada manusia setelah melakukan kegiatan berupa lari-lari naik

turun tangga lalu segala halnya meningkat mulai dari denyut jantung, denyut nadi,
respirasi, dan temperatur tubuh. Hal ini disebabkan tubuh mengalami serangkaian
aktivitas fisik dan kimiawi, yang menyebabkan tubuh akan menjaga kestabilan
dalam dirinya. Maka jantung bekerja lebih keras untuk menyalurkan asupan
nurtrisi ke saluruh tubuh guna pembentukan energi. Karena jantung bekerja lebih
cepat maka pembuluh balik juga akan mengalirkan darah kotor ke jantung dengan
lebih cepat pula, untuk keseimbangan tubuh, yang akan menyebabkan naiknya
denyut nadi.
Begitu pula dengan respirasi udara dalam paru-paru, karena tubuh
memerlukan energi yang banyak, maka diperlukan oksigen yang banyak pula, dan
menghasilkan karbon yang banyak, sehingga kerja paru-paru meningkat dari
keadaan normal. Dengan meningkatnya keseluruhan kerja organ-organ tubuh

10

maka akan menghasilkan panas tubuh yang berlebih yang nantinya kan
dikeluarkan oleh tubuh, melalui keringat dan uap udara lewat mulut dan hidung,
sehingga temperatur tubuh pun naik. (Subronto, 2003).
Pengaturan suhu tubuh erat kaitannya dengan cairan tubuh dan
metabolisme yang terdiri dari anabolisme dan katabolisme. Anabolisme
merupakan

proses

pembentukan

senyawa-senyawa

vital

dalam

rangka

mempertahankan kehidupan organisme dan katabolisme merupakan proses


penguraian atau pengadaan energi untuk memenuhi kebutuhan energi dalam
rangka melakukan aktifitas sehari dan tentu saja untuk mempertahankan suhu
tubuh agar tetap kostan berkisar antara 36C 37 C. Fungsi cairan tubuh adalah
menjaga kondisi cairan tubuh agar dalam keadaan konstan dan wajar hal ini
disebut dengan homeostatis.
Pengamatan faali pada praktikum ini dilakukan dengan beberapa tahap
yaitu dalam keadaan normal, keadaan setelah melakukan aktifitas, dan
pengamatan homeostatis setelah pemberian minuman hangat dan yoghurt dingin.
Berdasarkan data pengamatan pada saat melakukan aktifitas menunjukkan nilai
yang meningkat dari pada keadaan normal ini disebabkan dilakukannya aktifitas
berlebih (lari) yang dapat meningkatkan suhu tubuh, detak jantung dan
pernafasan. Bukan hanya itu pengaruh dari lingkungan, rangsangan tertentu ikut
berperan dalam pernafasan. Saat melakukan aktifitas tubuh melakukan
metabolisme untuk memenuhi energi bukan hanya itu cairan tubuh yang terdiri
dari cairan internal dan eksternal ikut berperan dalam menyeimbangkan suhu
tubuh. Sementara itu pemberian minuman hangat dan yoghurt dingin
menyebabkan lingkungan dalam mulut berubah. Namun pada waktu tertentu suhu
menjadi normal kembali.

11

Seperti pada data praktikum diatas, dimana suhu awal dan suhu setelah
diberi air panas maupun yoghurt dingin pada bagian mulut berubah, sedangkan
pada bagian ketiak suhu nya normal atau tidak terjadi perubahan yang signifikan.
Hal ini terjadi karena saat minum air panas maupun yoghut dingin suhu yang
diberikan kepada subyek tidak merata tesebar keseluruh tubuh sehingga suhu
hanya berubah disekitar mulut saja sedangkan didaerah ketiak yang jauh dari area
mulut suhunya tetap konstan, hal ini membuktikan bahwa manusia mampu
mempertahankan kondisi normal atau kondisi idealnya terhadap perubahan
lingkungan (Homeostatis).
3.2 Hasil Data Status Faali Katak
3.2.1 Hasil pengamatan
Pengukuran Katak

Suhu

Keadaan normal

29 C

Setelah direndam dengan air es

26 C

setelah di rendam dengan air hangat

34 C

3.2.2 Pembahasan
Termoregulasi adalah pemeliharaan suhu tubuh di dalam suhu kisaran
yang membuat sel-sel mampu berfungsi secara efisien.Sebagian besar hewan

12

dapat bertahan hidup menghadapi fruktuasi lingkungan eksternal yang lebih


ekstrim dibandingkan dengan keadaan yang sangat ditolerir oleh setiap
individu selnya.Meskipun spesies hewan yang berbeda telah diadaptasikan
terhadap kisaran suhu yang berbeda-beda, setiap hewan mempunyai kisaran
suhu yang optimum. Didalam kisaran tersebut

banyak hewan dapat

mempertahankan suhu internal yang konstan meskipun suhu eksternalnya


berfruktuasi (Campbell, 2004).
Amphibi tergolong hewan berdarah dingin karena mekanisme
penyesuaian relatif rudimenter dan spesial, suhu tubuhnya naik turun dalam
perbatasan yang luas. Pada praktikum termoregulasi dan sirkulasi katak, saat
katak berada pada air es, suhu tubuhnya sebesar 26 oC, pada suhu ruangan
suhu tubuhnya naik menjadi sebesar 29oC, dan pada saat berada pada air
hangat suhu tubuhnya paling tinggi yakni sebesar 34oC. Dari data tersebut
dapat diambil suatu kesimpulan bahwa semakin tinggi suhu tempat katak
berada maka akan semakin besar pula suhunya. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Dukes (1995) yang menyatakan bahwa hewan poikiloterm
merupakan hewan yang suhu tubuhnya berubah-ubah mengikuti kondisi suhu
lingkungan yang ditempatinya, atau lebih sering dikenal sebagai hewan
berdarah dingin.
Suhu tubuh hewan poikiloterm dipengaruhi oleh lingkungan.Suhu
tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar.Hewan
ektoterm adalah hewan yang sangat bergantung pada suhu di lingkungan luar
untuk meningkatkan suhu tubuhnya karena panas yang dihasilkan dari
keseluruhan sistem metabolismenya hanya sedikit.

13

Cara mempertahankan suhu tubuhya dengan mengkombinasikan empat


kategori umum dari adaptasi, yaitu:
1) Penyesuaian laju pertukaran panas antara hewan dengan sekelilingnya.
Insulasi tubuh seperti, rambut, bulu, lemak yang terletak persis di
bawah kulit untuk

mengurangi kehilangan panas.Pengaturan arteri dan

vena yang disebut penukar panas lawan arus (countercurrent heat


exchanger) bertujuan memudahkan pemindahan panas dari arteri ke vena di
sepanjang pembuluh darah tersebut.
2) Pendinginan melalui kehilangan panas evaporatif.
Hewan ektotermik terestial kehilangan air melalui pernapasan dan
melalui kulit. Jika kelembapan udara cukup rendah, air akan menguap dan
hewan tersebut akan kehilangan panas dengan cara pendingin melalui
evaporasi. Evaporasi dari sistem respirasi dapat ditingkatkan dengan cara
panting (menjulurkan lidah ke luar). Pendinginan melalui evaporasi pada
kulit dapat ditingkatkan dengan cara berendam atau berkeringat.
3) Respons perilaku.
Banyak hewan dapat meningkatkan atau menurunkan hilangnya panas
tubuh dengan cara berpindah tempat. Mereka akan berjemur dibawah terik
matahari atau pada batu panas selama musim dingin, menemukan tempat
sejuk, lembab atau masuk ke dalam lubang di dalam tanah pada musim
panas, dan bahkan bermigrasi ke lingkungan yang lebih sesuai.

14

15

IV
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
setiap pengukuran status faali pada manusia maupun pada katak memiliki kisaran
data fisiologis berbeda pada setiap kondisinya yang meliputi jumlah respirasi,
denyut jantung, denyut nadi, dan temperatur rektal. Pengujian status faali
dilakukan untuk memperoleh informasi sehingga keadaan manusia dan katak
dapat diketahui apakah manusia dan katak tersebut dalam kondisi sehat atau tidak.
Sesuai hasil praktikum status faali pada manusia yang telah dilakukan pada
praktikan (Reda) disimpulkan bahwa praktikan dalam keadaan sehat/normal,
begitu pula pada katak. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain keadaan
temperatur lingkungan, kelembaban (RH), ketinggian tempat, dan sebagainya.

16

DAFTAR PUSTAKA

Campbell. 2004. Biology. Erlangga: Jakarta.


Duke, NH. 1995. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Publishing: New
York.
Guyton, D.C. 1993. Fisiologi Hewan, edisi 2. EGC: Jakarta.
Subronto. 2003. Homeostasis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

17