Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LANJUT

ANTAGONIS
(Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Praktikum Mikrobiologi
Lanjut)

Disusun oleh:
Nama

: Vina Yuliandiana

NIM

: 1137020079

Semester/Kelas

: 4/B

Kelompok

: VI

Tanggal Praktikum

: 21 Mei 2015

Tanggal Pengumpulan

: 30 Mei 2015

Dosen

: Ukit, M.Si

Asisten

: Intan G.

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
Untuk mengetahui metode pengujian biokontrol antara khamir antagonistik
terhadap kapang pathogen.
1.2 Dasar Teori
Mikroba antagonis adalah mikroba yang memiliki sifat berlawanan
dengan mikroba merugikan, seperti mikroba patogen dan pembusuk. Dengan
sifat demikian, mikroba antagonis telah digunakan untuk berbagai keperluan
manusia. Banyak manfaat telah diperoleh, baik untuk kesehatan, menghambat
aktivitas penyakit atau menghambat proses pembusukan. berbagai upaya telah
dikembangkan untuk mengembangkan dan memanfaatkan mikroba antagonis
(Waluyo, 2005).
Aktivitas mikroorganisme akan berpengaruh terhadap lingkungannya.
Mikroorganisme seperti halnya organisme lain yang berada dalam lingkungan
yang kompleks senantiasa berhubungan baik dengan pengaruh faktor biotik dan
faktor biotik. Sedikit sekali suatu mikroorganisme yang hidup di alam mampu
hidup secara individual. Hubungan mikroorganisme dapat terjadi baik dengan
sesama mikroorganisme, hewan ataupun dengan tumbuhan. Hubungan ini
membentuk suatu pola interaksi yang spesifik yang dikenal dengan simbiosis
(Kusnadi, 2003).
Interaksi antar mikroorganisme yang menempati suatu habitat yang sama
akan memberikan pengaruh positif, saling menguntungkan dan pengaruh negatif,
saling merugikan dan netral, tidak ada pengaruh yang berarti. Mikroorganisme
harus berkompetisi dengan organisme lain dalam memperoleh nutrisi dari
lingkungannya, sehingga dapat terus lulus hidup dan dapat berkembangbiak
dengan sukses (Kusnadi, 2003).

Hubungan antara mikroorganisme dengan organisme lain yang saling


menekan pertumbuhannya disebut antagonisme. Bentuk interaksi ini merupakan
suatu hubungan asosial. Biasanya Spesies yang satu menghasilkan suatu senyawa
kimia yang dapat meracuni spesies lain yang menyebabkan pertumbuhan spesies
lain tersebut terganggu. Senyawa kimia yang dihasilkan dapat berupa sekret atau
metabolit sekunder. Contoh dari antagonisme antara lain Streptococcus lactis
dengan Bacillus subtilis. Pertumbuhan B. Subtilis akan terhambat karena asam
laktat yang dihasilkan oleh S. lactis. Interaksi antagonism disebut juga antibiois.
Bentuk lain dari interaksi antagonisme di alam dapat berupa kompetisi,
parasitisme, amensalaisme dan predasi. Biasanya bentuk interaksi ini muncul
karena ada beberapa jenis miktororganisme yang menempati ruang dan waktu
yang sama, sehingga mereka harus memperebutkan nutrisi untuk tetap dapat
tumbuh dan berkembangbiak. Akhirnya dari interaksi semacam ini memberikan
efek

beberapa

mikroorganisme

tumbuh

dengan

optimal,

sementara

mikroorganisme lain tertekan pertumbuhannnya (Kusnadi, 2003).


Sebenarnya fenomena antagonisme di antara organism hidup sudah
muncul sejak 1877, pada saat Pasteur dan Joubert melaporkan bahwa suatu
bakteri aerob mempunyai sifat antagonis terhadap pertumbuhan Bacillus
anthracis. Sifat antagonistic disebabkan adanya sekresi substansi kimia yang
bersifat menghambat pertumbuhan. Sifat antagonis ini oleh Pasteur kemudian
diterapkan secara in vivo. Hasil percobaan anthrax pada binatang percobaan yang
peka ternyata dapat ditekan dengan menginokulasi secara simultan berbagai
bakteri non patogenik (Soemiaji, 1986).
Mikroba antagonis dapat berupa bakteri, jamur/cendawan, actinomycetes
atau virus. Berbagai spesies mikroba antagonis telah berhasil diisolasi dan
dievaluasi keefektifannya sebagai agen hayati pengendali penyakit tanaman.
Bacillus subtilis, misalnya, terbukti efektif mengendalikan penyakit rebah
kecambah yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani pada krisan, sedangkan
Pseudomonas fluorescens (Pf) efektif untuk penyakit akar bengkak yang
disebabkan oleh Plasmodioph. Mekanisme antagonis pada mikroba dapat terjadi

melalui 3 cara yaitu parasitasi secara langsung, karena adanya metabolik sekunder
yang bersifat toksin dan adanya kompetisi dalam hal ruang dan kebutuhan nutrisi
(Semangun, 2006).
Banyak jamur yang sudah dikenal peranannya, yaitu jamur yang tumbuh
di roti, buah, keju, ragi dalam pembuatan bir, dan yang merusak tekstil yang
lembab, serta beberapa jenis cendawan yang dibudidayakan. Beberapa jenis
memproduksi antibiotik yang digunakan dalam terapi melawan berbagai infeksi
bakteri (Hadioetomo,1993).
Semua unsur kimia di alam akan beredar melalui jalur tertentu dari
lingkungan ke organisme atau makhluk hidup dan kembali lagi ke lingkungan.
Semua bahan kimia dapat beredar berulang-ulang melewati ekosistem secara tak
terbatas. Jika suatu organisme itu mati, maka bahan organik yang terdapat pada
tubuh organisme tersebut akan dirombak menjadi komponen abiotik dan
dikembalikan lagi ke dalam lingkungan. Peredaran bahan abiotik dari lingkungan
melalui komponen biotik dan kembali lagi ke lingkungan dikenal sebagai siklus
biogeokimia (Kusnadi,2003).
Pathogen dapat berupa tumbuhan parasitik, jamur parasit, bakteri parasit,
virus, mikoplasma, dan nematode parasit. Patogen menghasilkan keturunan yang
sangat banyak di dalam proses reproduksinya, terutama cendawan, bakteri, dan
virus. Disamping itu banyak patogen tanaman mempunyai siklus hidup yang
singkat sehingga mampu menghasilkan banyak generasi di dalam satu musim
pertanaman. Patogen semacam ini bersifat polisiklik (beberapa generasi dalam
satu musim pertanaman) seperti penyebab penyakit karat, bercak-bercak dan
hawar daun yang paling banyak dilaporkan menimbulkan kerusakan yang tibatiba dan dalam skala besar. Beberapa jenis patogen membutuhkan sepanjang
tahun untuk menyelesaikan satu siklus hidup (patogen monosiklik), sehingga
hanya menyelesaikan satu siklus penyakit dalam setahun. Inokulum terakumulasi
dari tahun ke tahun, sehingga epidemic membutuhkan waktu tahunan untuk
berkembang (Triharso, 1994).

BAB II
METODE
2.1 Alat dan Bahan
Alat
Mikropipet 1 nm
Tips
Cawan petri
Bunsen
Sedotan
Beaker glass
Baki
Inkubator
Spatula
Tabung reaksi

Jumlah
1buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
3 buah

Bahan
Media PDA
Alcohol 70%
Sarung tangan plastik
Kapang Aspergillus niger
Khamir Saccharomyces sp.
Buah Pir
Buah Apel merah
Buah Tomat
Buah Jeruk
Buah Jambu biji
Label
Aquades
Plastic warp
Masker
Bayclin (Hipoklorit)

2.2 Cara Kerja


a) Penanaman Kapang dan Khamir
Media PDA
- digoreskan kapang di bagian kiri dan kanan
- didiamkan selama 2 jam
Isolat kapang

Jumlah
1 buah
Secukupnya
I pasang
Secukupnya
Secukupnya
10 buah
10 buah
10 buah
10 buah
10 buah
10 buah
Secukupnya
Secukupnya
1 buah
Secukupnya

- digoreskan khamir di bagian tengah


- diinkubasikan selama 1 minggu
-

diamati apakah khamir memiliki sifat antagonism terhadap


kapang patogen

Hasil
b) Pengujian Khamir Antagonisme dan Kapang Patogen pada Buah
10 buah dengan 6
jenisbuah
- Dibersihkandengan air mengalir
Buah yang telah dibersihkan
- Dicelupkan kelarutan hipklorit 3%
- Dicuci dengan aquades
- Diberi lubang di 2 lokasi berlawanan
-

Diberi suntikan kapang dan khamir sesuai dengan


perlakuan masing-masing

Buah yang telah diberi perlakuan


- Diinkubasi selama 1 minggu
- Dibandingkan persentasi kebusukannya
- Diamati
Hasil

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan antagonis
No

Gambar Pengamatan

Keterangan

.
1

Kontrol

Buah tidak rusak, tidak terjadi


perubahan pada buah tomat.

(Dokumen pribadi, 2015)


Kontrol+hipoklorit

Buah tidak rusak, terdapat


pertumbuhan khamir sedikit.

(Dokumen pribadi, 2015)


Khamir+kapang+hipoklorit

Buah Busuk, buah tomat rusak,


pada bagian sisi kanan kapang
tumbuh, khamir juga tumbuh
tetapi hanya sedikit.

(Dokumen pribadi, 2015)


Kapang+hipoklorit

Buah busuk sebagian, pada bagian


sisi kanan buah kapang tumbuh.

(Dokumen pribadi, 2015)


5

Khamir + hipoklorit

Buah tidak rusak, terdapat


pertumbuhan khamir sedikit.

(Dokumen pribadi, 2015)

Aquades + hipoklorit

Buah tidak rusak, terdapat


pertumbuhan khamir sedikit.

(Dokumen pribadi, 2015)


Aquades

Buah segar, tidak terjadi


perubahan.

(Dokumen pribadi, 2015)


Khamir

Buah tidak rusak, pada bagian sisi


kiri khamir tumbuh tetapi sedikit.

(Dokumen pribadi, 2015)


Kapang

Buah Busuk sebagian, pada


bagian sisi kanan kapang tumbuh
banyak.

10

(Dokumen pribadi, 2015)


Khamir + kapang

Buah busuk, khamir dan kapang


tumbuh tetapi pertumbuhan
didominasi kapang.

(Dokumen pribadi, 2015)


3.2 Pembahasan

Praktikum ini adalah pengujian biokontrol antara khamir antagonistik


terhadap kapang pathogen. Menurut Waluyo (2005), mikroba antagonis adalah
mikroba yang memiliki sifat berlawanan dengan mikroba merugikan, seperti
mikroba patogen dan pembusuk. Dengan sifat demikian, mikroba antagonis telah
digunakan untuk berbagai keperluan manusia. Banyak manfaat telah diperoleh,
baik untuk kesehatan, menghambat aktivitas penyakit atau menghambat proses
pembusukan.
Mekanisme penyerangan terhadap patogen tanaman antara lain adalah
melalui proses mikoparasitisme, yang melibatkan produksi berbagai enzim
(biokatalis) hidrolitik (pemecah berbagai senyawa polimer) (Lorito et al.,1993)
dan sekresi (produksi dan pengeluaran) senyawa antifungi, antibakteri dan
antinematoda (Vinale et al. ,2006). Selain itu, fungi biokontrol juga menghasilkan
hormon pertumbuhan tanaman, dan asam-asam organik yang membantu
pelarutan fosfat dan mineral, sehingga mudah diserap tanaman (Benitez et al.,
2004).
Pada pengujian ini digunakan Saccharomyces cerevisiae sebagai khamir
antagonis dan Aspergillus niger sebagai kapang patogen. Kelompok kami
menggunakan buah tomat sebagai bahan uji. Diuji pada 10 buah tomat, yaitu
untuk kontrol, kapang+hipoklorit, aquades hipoklorit, khamir+hipoklorit,
kontrol+hipoklorit, khamir+kapang+hipoklorit, kapang, khamir+kapang, aquades,
dan khamir.
Berdasarkan hasil pengamatan, pada uji kontrol buah tomat tidak rusak
dan tidak terjadi perubahan apapun. Pada uji kontrol+hipoklorit, buah tomat tidak
rusak, terdapat pertumbuhan khamir sedikit. Pada uji khamir+kapang+hipoklorit,
buah tomat busuk, rusak, pada bagian sisi kanan kapang tumbuh, khamir juga
tumbuh tetapi hanya sedikit. Pada uji kapang+hipoklorit, buah busuk sebagian,
pada bagian sisi kanan buah kapang tumbuh. Pada uji khamir+hipoklorit, buah
tidak rusak, terdapat pertumbuhan khamir sedikit. Pada uji aquades+hipoklorit,
buah tidak rusak, terdapat pertumbuhan khamir sedikit. Pada uji aqudes, buah
segar tidak terjadi perubahan. Pada uji khamir, buah tidak rusak, pada bagian sisi

kiri khamir tumbuh tetapi sedikit. Pada uji kapang, buah busuk sebagian, pada
bagian sisi kanan kapang tumbuh banyak. Pada uji khamir+kapang yaitu buah
busuk, khamir dan kapang tumbuh tetapi pertumbuhan didominasi kapang.
Dengan adanya hasil bahwa kapang mendominasi pertumbuhan, jadi dapat
diketahui pada pengujian ini kapang bersifat antagonis terhadap khamir, karena
kapang memiliki sifat berlawanan dengan khamir. Mekanisme antagonism
dilakukan oleh kapang antara lain kompetisi ruangan dan nutrient yang terbatas.
Kesuksesan berkompetisi ditunjukkan melalui pertumbuhan sel dan kolonisasi
kapang antagonis yang lebih cepat dibandingkan dengan khamir. Mekanisme
parasitisme terjadi saat kapang menjadikan khamir sebagai inang yang
menyediakan habitat dan nutrient untuk pertumbuhan.
Menurut Octriana (2011), dalam mekanisme penghambatannya, antagonis
memiliki beberapa tipe aktivitas seperti antibiosis, lisis, kompetisi, dan
parasitisme.
Antibiosis adalah penghambatan atau perusakan melalui hasil metabolit,
termasuk kemampuannya mengeluarkan zat beracun toksin.
Lisis adalah destruksi, desintegrasi, disolusi, atau dekomposisi sel atau jaringan
inang.
Kompetisi adalah usaha untuk memperoleh keuntungan dari substrat/nutrisi
inang (karbohidrat, nitrogen, faktor tumbuh) dan tempat (tempat reseptor sel,
dan oksigen).
Parasitisme terjadi bila organisme yang satu menyerap nutrisi dari organisme
lain, bahkan hifa antagonis dapat tumbuh di dalam hifa patogen (hiperparasit).
Mikoparasitisme sebagai salah satu mekanisme penyerangan fungi
biokontrol terhadap fungi patogen, dipengaruhi oleh kemampuan fungi biokontrol
menghasilkan enzim hidrolitik (biokatalis pemecah berbagai polimer). Salah satu
golongan enzim hidrolitik yang dianggap cukup penting peranannya pada proses
mikoparasitisme dari beberapa fungi patogen adalah enzim-enzim kitinolitik,
yang terdiri dari kitinase (Lu et al., 2004). Kitinase adalah nama untuk golongan
enzim yang mampu menghidrolisis ikatan Beta-1,4 pada kitin dan oligomer kitin.

Kitin merupakan komponen penting dari dinding sel beberapa fungi


patogen. Produksi kitinase oleh fungi biokontrol antara lain berfungsi untuk
merusak kitin dinding sel fungi patogen. Kitinase yang diproduksi fungi
biokontrol kemudian akan berdifusi ke dinding sel fungi patogen, dan
mematahkan atau merusak dinding sel fungi patogen tersebut. Proses ini akan
diikuti pelilitan fungi biokontrol pada miselia (benang sel) fungi patogen, dan
sekresi senyawa peptida kecil bernama peptaibol. Peptaibol akan melubangi
membran sel fungi patogen (Elad et al., 1983).

BAB IV
KESIMPULAN
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa metode pengujian biokontrol ini
diuji pada 10 buah tomat dengan metode kontrol, kapang+hipoklorit, aquades
hipoklorit,

khamir+hipoklorit,

kontrol+hipoklorit,

khamir+kapang+hipoklorit,

kapang, khamir+kapang, aquades, dan khamir. Hasil yang diperoleh yaitu


khamir+kapang pada buah tomat diketahui kapang bersifat antagonis terhadap
khamir, karena kapang memiliki sifat berlawanan dengan khamir.

DAFTAR PUSTAKA
Benitez, T., Rincn, A. M., Limn, M. C., Codn, A. C.

2004.

Biocontrol

mechanisms of Trichoderma strains. Int. Microbiol. 7: 249--260.


Elad, Y., Chet, I. , Henis, Y. (1983). Parasitism of Trichoderma spp. on Rhizoctonia
solani and Sclerotium rolfsii-scanning electron microscopy and fluorescence
microscopy. Phytopathology 73:85-88.
Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Gramedia. Jakarta.
Kusnadi. 2003. Mikrobiologi. FMIPA Biologi. UMY.

Lu, Z., Tombolini, R., Woo, S., Zeilinger, S., Lorito, M., Jansson, J. K. 2004. In vivo
study of Trichoderma-pathogen-plant interactions, using constitutive and
inducible green fluorescent protein reporter systems.

Appl. Environ.

Microbiol. 70: 3073-081.


Lorito, M., Harman, G. E., Hayes, C. K., Broadway, R. M., Tronsmo, A., Woo, S.L.,
Di Pietro, A.

1993.

Chitinolytic enzymes produced by Trichoderma .

Phytopathology 83: 302-307.


Martoredjo Toekidjo. 1983. Ilmu Penyakit Lepas Panen. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Octriana, L. 2011. Potensi Agen Hayati dalam Menghambat Pertumbuhan Phytium
sp. secara In vitro. Buletin Plasma Nutfah. 17(2): 138142.
Semangun, Haryono. 2006. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Soemiaji. 1986. Biologi. Erlangga. Bandung.
Triharso. 1994. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Gajah Mada. Universitas Press.
Yogyakarta.
Vinale, F., Marra, R., Scala, F., Ghisalberti, E. L., Lorito, M., Sivasithamparam, K.
2006. Major secondary metabolites produced by two commercial Trichoderma
strains active against different phytopathogens. Letters in Applied Microbiology
43: 143-148.
Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang.