Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LANJUT

PENGUJIAN BIOKONTROL KHAMIR ANTAGONISTIK


TERHADAP KAPANG PATOGEN
Dosen

: Ukit Rosit, M. Si.

Di susun oleh

Nama

: Ahmad Sopian

Nim

: 1127020001

Kelas

: Biologi IV A

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

1.2.

Tujuan
Untuk mengetahui metode pengujian biokontrol antara khamir
antagonistik terhadap kapang patogen
Dasar Teori
Dalam suatu lingkungan yang kompleks yang berisi berbagai macam

organisme. Aktivitas metabolisme suatu organisme akan berpengaruh terhadap


lingkungannya. Mikroorganisme seperti halnya organisme lain yang berada
dalam lingkungan yang kompleks senantiasa berhubungan baik dengan
pengaruh faktor biotik dan faktor biotik. Sedikit sekali suatu mikroorganisme
yang

hidup

di

alam

mampu

hidup

secara

individual.

Hubungan

mikroorganisme dapat terjadi baik dengan sesama mikroorganisme, hewan


ataupun dengan tumbuhan. Hubungan ini membentuk suatu pola interaksi yang
spesifik yang dikenal dengan simbiosis (Nurhaedah, 2002).
Interaksi antar mikroorganisme yang menempati suatu habitat yang sama
akan memberikan pengaruh positif, saling menguntungkan dan pengaruh
negatif, saling merugikan dan netral, tidak ada pengaruh yang berarti.
Beberapa macam hubungan antar spesies bakteri di alam antara lain
komensalisme,

mutualisme

serta

antagonisme

atau

amensalisme.

Komensalisme merupakan suatu interaksi antara mikroorganisme dengan


organisme lain dimana satu jenis dapat diuntungkan namun jenis lain tidak
dirugikan. Sedangkan interaksi antar mikroorganisme yang dapat saling
menguntungkan disebut dengan simbiosis mutualisme dan hubungan
mikroorganisme yang dengan organisme lain yang saling menekan
pertumbuhannya disebut dengan antagonisme( Nurhayati, 2011).
Kompetisi adalah suatu mekanisme penekanan aktivitas patogen oleh
agensia hayati terhadap sumber-sumber terbatas seperti zat organik, zat
anorganik, ruang dan faktor-faktor pertumbuhan lainnya. Salah satu contoh

adalah persaingan akan ruang/tempat pada akar. Contoh ektomikoriza


merupakan agensia yang dapat digunakan sebagai agen pengendali hayati.
Jamur tersebut mampu membungkus secara efektif seluruh akar dan
menempati bagian rizosfer sehingga apabila ada mikroorganisme lain seperti
misalnya Armilaria mellea atau Phytophthora sp. maka patogen tersebut tidak
dapat lagi mengkolonisasi bagian tersebut. Mekanisme hiperparasit merupakan
perusakan patogen oleh senyawa atau zat yang dihasilkan oleh agensia hayati
seperti kitinase, selulase, glukanase, enzim pelisis dan lainnya (Nurhayati,
2011).
Antagonisme

dapat

terjadi

antara

mikroba

ada

yang

bersifat

menguntungkan dan mikroba yang bersifat patogen.Mikroba antagonis


merupakan suatu jasad renik yang dapat menekan, menghambat dan
memusnahkan mikroba lainnya. Mikroba antagonis ini dapat berupa bakteri,
jamur atau cendawan, actinomycetes atau virus. Mikroba yang bermanfaat juga
termasuk mikroba antagonis yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan
aktif biopestisida untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman.Hubungan
mikroorganisme dengan organisme lain yang saling menekan pertumbuhannya
disebut antagonisme. Bentuk interaksi ini merupakan hubungan asosial.
Biasanya spesies yang satu menghasilkan suatu senyawa kimia yang dapat
meracuni spesies lain yang menyebabkan pertumbuhan spesies lainnya
terganggu. Senyawa kimia yang dihasilkan dapat berupa sekret atau metabolit
sekunder. Bentuk lain dari interaksi antagonisme di alam dapat berupa
kompetisi, parasitisme, amensalisme dan predasai. Biasanya bentuk interaksi
ini muncul karena ada beberapa jenis mikroorganisme yang menempati ruang
dan waktu yang sama, sehingga mereka harus memperebutkan nutrisi untuk
tetap dapat tumbuh dan berkembangbiak. Akhirnya dari interaksi semacam ini
memberikan efek beberapa mikroorganisme tumbuh dengan optimal sementara
organisme yang lainnya tertekan pertumbuhannya (Pelzar, 1988).
Penggunaan

cendawan

antagonis

sebagai

pengendali

patogen

merupakan salah satu alternatif yang dianggap aman dan dapat memberikan

hasil yang cukup memuaskan. Pengendalian hayati terhadap patogen dengan


menggunakan mikroorganisme antagonis dalam tanah memiliki harapan yang
baik untuk dike mbangkan karena pengaruh negatif terhadap lingkungan tidak
ada. Pemanfaatan mikroorganisme sebagai agens pengendalian nampaknya
masih perlu dikembangkan. Pengembangan penggunaan mikroorganisme
tersebut perlu dilandasi pengetahuan jenis-jenis mikroorganisme, jenis-jenis
penyakit dan juga mekanisme pengendalian penyakit tanaman dengan
menggunakan mikroorganisme. Pemanfaatan ini diharapkan dapat membantu
pengendalian penyakit tanpa mengganggu kondisi lingkungan. Pengendalian
hayati dengan menggunakan agens hayati seperti Trichoderma spp. yang
terseleksi ini sangatlah diharapkan dapat mengurangi ketergantungan dan
mengatasi dampak negatif dari pemakaian pestisida sintetik yang selama ini
masih dipakai untuk pengendalian penyakit tanaman di Indonesia ( Tidaon,
2008).
Mikroba patogen dijumpai sangat banyak, baik selama buah berada di
tanaman maupun di dalam ruang simpan. Meskipun demikian, hanya
beberapa jenis patogen yang mampu tumbuh dan berkembang, dan
menimbulkan kerusakan pada produk pascapanen. Perkembangan patogen
pascapanen sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, khususnya suhu,
pH, nutrisi, dan kandungan air, yang harus tersedia. Selain itu, patogen
pascapanen harus bekerja sama dengan enzim yang dihasilkannya untuk
menguraikan jaringan inang, yang mengakibatkan keluarnya nutrisi yang
sesuai bagi pertumbuhan patogen dari jaringan yang terurai tersebut (Pelczar,
1988).
Aspergilus merupakan fungi dari filum ascomycetes yang berfilamen,
mempunyai hifa berseptat, dan dapat ditemukan melimpah di alam. Fungi ini
biasanya diisolasi dari tanah, sisa tumbuhan, dan udara di dalam ruangan.
Jamur Aspergillus terdiri dari beberapa jenis, diantaranya Aspergillusniger, A.
flavus, dan Aspergillusterreus. (Nurhayati, 2011).

BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1. ALAT BAHAN
N

Alat

o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Jumlah

Mikropipet
Tips

1 buah
3 buah

Cawan petri
Bunsen
Sedotan
Beaker glass
Baki
Incubator

1 buah
1 buah
Secukupnya
1 buah
1 buah
1 buah

Bahan
Media PDA
Alcohol 70%
Sarung tangan plastik
Kapang Aspergilus niger
Khamir Saccharomyces sp.
Buah Apel Fuji
Label
Akuades
Plastic wrap
Masker
Bayclin

Jumlah
1 buah
Secukupnya
1 pasang
Secukupnya
Secukupnya
10 buah
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
1 buah
Secukupnya

2.2. CARA KERJA


1

Penanaman kapang dan khamir


Media PDA
Dibuat 3 garis sejajar dalam media
Digoreskan kapang dibagian tengah
Diamkan selama 1 jam
Isolate kapang
Digoreskan khamir di garis bagian kiri dan kanan
Diinkubasikan selama 1 minggu
Diamati apakah khmair memiliki sifat antagonisme terhadap
kapang patogen
Hasil

Pengujian khamir antagonisme dan kapang patogen pada buah


10 buah apel fuji

Dibersihkan dengan air mengalir

Buah yang telah dibersihkan


5 buah dicelupkan ke larutan hipoklorit 3%
4 buah dicelupkan akuades steril
Diberi lubang di 2 lokasi berlawanan
Diberi suntikan kapang dan khamir sesuai dengan perlakuan
masing-masing
Buah yang telah diberi perlakuan
Diinkubasi selama 1 minggu
Dibandingkan persentase kebusukannya
Hasil

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. TABEL HASIL PENGAMATAN
Tabel Pengamatan Kapang dan Khamir pada Media

N
o
1

Nama

Gambar

Keseluruhan

Keterangan
Kapang dan khamir tidak saling
menyatu, dimana ada sekat diantara
kedanya.

(Pribadi)
2

Kapang
Aspergillus
niger

Penampakan kapang dengan spora


hitam

Khamir
Saccharomyce
s sp.

Penampakan khamir berwaarna putih

Tabel Pengujian khamir antagonisme dan kapang patogen pada buah


a

Gamabar Pribadi
b c d e

Keterangan
a. Kontrol Tanpa Hipoklorit

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
f

h i

Khamir Tanpa Hipoklorit


Aquades Tanpa Hipoklorit
Khamir hipoklorit
Kontrol Hiploklorit
Khamir+kapang Tanpa Hipoklorit
Kapang Tanpa Hipoklorit
Kapang Hipoklorit
Kapang+khamir Hipoklorit
Aquades Hipoklorit

3.2. Pembahasan
Praktikum kali ini dilakukan pengamatan mengenai pengujian
biokontrol khamir antagonis terhadap kapang patogen pada media cawan dan
pada buah-buahan. Pengujian khamir antagonis terhadap kapang patogen
yang pertama dilakukan pada media PDA, dan yang kedua dilakukan pada
buah apel hijau. Khamir yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
khamir Saccharomyces sp. Sedangkan kapang patogen yang digunakan
adalah Aspergilusniger. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah
terjadi interaksi antagonis antara khamir Saccharomyces sp dengan kapang
Aspergilusniger.
Kedua mikroba ini ditanam pada media cawan PDA, khamir dibagian
tengah dan kapang di bagian pinggir cawan dengan jarak antara keduanya 3
cm. Kapang ditanamakan terlebih dahulu pada media, karena mikroba ini
pertumbuhannya cukup lama. Sedangkan khamir ditanaman pada media pada
waktu 3 jam setelah menanamkan kapang.
Dari hasil yang didapat kapang dan khamir bisa hidup bersama tanpa
ada sekat antar keduanya. Kapang tumbuh dibagian bawah khamir. Hal ini
menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antagonis antara khamir
Saccharomyces sp dengan kapang Aspergillus niger yang merupakan kapang
patogen. Hal ini dikarenakan khamir yang ditanam tidak memiliki enzim,
dimana enzim tersebut akan dikeluarkan oleh khamir dalam pengendalian
hama atau organisme lain yang mengganggunya.

Pengamatan yang berikutnya adalah pengujian khamir antagonis


terhadap kapang patogen. Khamir dan kapang yang digunakan pada
pengujian ini sama dengan pada pengujian sebelumnya. Khamir dan kapang
terlebih dahulu diencerkan

pada larutan aquades sebanyak satu kali

pengenceran. Sedangkan buah yang dijadikan sampel untuk pengujian adalah


apel hijau.
Buah yang diuji sebanyak sepuluh buah, lima buah apel diantaranya di
rendam terlebih dahulu dalam larutan hipoklorit dan lima buah lainya hanya
dicuci dengan larutan aquades. Pengujian ini dilakukan dengan ketentuan
yang sudah ditentukan sebelumnya, yaitu pada masing-masing buah yang
diberi kedua perlakuan ada 2 buah yang menjadi control (tidak ditusuk). Pada
buah larutan hipoklorit masing-masing diberi perlakuan diantaranya 1 buah
ditanamkan kapang dan khamir, 1 buah hanya ditanamkan khamir, 1 buah
hanya ditanamkan kapang, dan 1 buah hanya di suntikan cairan aquades
steril. Begitupun perlakuan selanjutnya yang dilakukan pada buah yang tidak
direndam dalam hipoklorit.
Pengamatan ini dilakukan selama 1 minggu dengan diamati perubahan
yang terjadi setiap harinya. Pada buah yang direndam terlebih dahulu dengan
hipoklorit dilakukan pengamatan pada

masing-masing perlakuan. Dari

keseluruhan buah yang di tanamkan khamir maupun kapang, buah tidak


mengalami kebusukan yang banyak. Pada kapang terlihat miselium dan
spora-spora yang menempel pada dinding buah yang ditanami kapang
tersebut. Sedangkan pada khamir tidak nampak apapun dari luar, namun buah
yang ditanami khamir lebih lembek dibandingkan dengan buah yang ditanami
kapang. Sedangkan yang tidak ditanami khamir atau kapang tidak terjadi
pembusukan pada buah. Hal ini dikarenakan sifat hipoklorit yang mampu
menghambat laju pertumbuhan mikroorganisme.
Sedangkan pengujian pada buah yang tidak direndam pada larutan
hipoklorit, perubahannya sangat jelas terlihat. Pada buah yang di tanami
kapang terlihat sangat membusuk dan terlihat spora dan miselium yang
memenuhi dinding buah. Kapang pada buah ini sangat merusak tekstur

maupun bentuk. Namun, pada buah yang ditanami khamir tidak terlihat
membusuk namun permukaan daging buahnya sangat lembek.
Menurut Jaweta (1988), adanya mikroorganisme pembusuk pada buah
adalah merupakan faktor pembatas utama di dalam memperpanjang masa
simpan buah. Mikroorganisme pembusuk yang menyebabkan susut
pascapanen buah dan sayuran secara umum disebabkan oleh jamur dan
bakteri.
Dari keseluruhan buah apel yang dijadikan sample dengan perlakuan
masing-masing, kapang mempunyai sifat merusak dinding buah dengan
pertumbuhannya yang sangat cepat, sedangkan khamir tidak memiliki
kemampuan merusak seperti kapang. Khamir membutuhkan waktu yang
cukup lama untuk menginfeksi buah. Selain itu dapat pula perbedaan antara
pengujian dengan cara pemberian larutan hipoklorit dengan yang tidak diberi
larutan hipoklorit. Pada sampel buah yang direndam terlebih dahulu dengan
hipoklorit pertumbuhan kapang dan khamirnya tidak sebanyak pada sampel
buah yang tidak direndam terlebih dahulu dengan larutan hipoklorit. Hal ini
dikarenakan sifat larutan hipoklorit yang mampu mencegah atau menghambat
laju pertumbuhan mikroorganisme.

BAB IV
KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dalam 2 percobaan dapat
disimpulkan bahwa pada percobaan pertama telah membuktikan bahwa tidak
terjadi interaksi antagonisme antara kapang patogen Aspergilusniger dengan
khamir Saccharomyces sp sehingga kedua mikroorganisme ini bisa hidup

bersama dalam satu tempat . Pada percobaan kedua, buah yang direndam
hipoklorit memiliki proses pembusukan yang lebih lambat, dan dalam
menginfeksi buah kapang lebih cepat bila dibandingkan dengan khamir.

DAFTAR PUSTAKA
Jaweta, E. 1986. Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan. EGC : Jakarta
Nurhaedah, 2002, Mikrobiologi Pangan, Departemen Pendidikan dan kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Jakarta.

Nurhayati, 2011, Penggunaan Jamur dan Bakteri dalam Pengendalian Penyakit


Tanaman secara Hayati yang Ramah Lingkungan, Jurusan Hama dan
Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Kampus
Unsri. Vol : 1. Hlmn: 12-14.
Pelczar, M. J. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Tindaon, W., 2008, Uji Antagonisme Jamur Patogen Phytophthorainfestans
Penyebab Penyakit Busuk Daun dan Umbi Tanaman Kentang Dengan
Menggunakan

Trichoderma

Mikrobiologi.Vol : 02. Hlmn: 5-9.

spp.

Isolat

Lokal,

Laboratorium