Anda di halaman 1dari 4

MK Pengembangan Karakter

Hari/tanggal : Selasa, 29 September 2015

Dosen Dr. Ir. Dwi Hastuti, MSc


Kelas RK B1-C1

Disusun oleh :
Desy Dwikawati / I24130023
DEMORALISASI REMAJA
Pencabulan yang Dilakukan Remaja terhadap Anak SD
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian demoralisasi
adalah kemerosotan akhlak atau kerusakan moral. Arus globalisasi yang terjadi
saat ini merupakan perubahan secara besar-besaran dari berbagai sektor yang
merubah kehidupan masyarakat seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Segala informasi dapat diperoleh dengan mudah yang telah didukung dengan
tekonologi yang canggih untuk mengakses informasi sehingga segala sesuatu
dapat dilakukan dengan mudah oleh manusia. Namun, perkembangan zaman yang
semakin maju justru membuat banyak orang untuk berpikir secara rasional karena
banyak hal-hal yang terjadi di sekitar masyarakat yang menyayat hati. Perubahan
tersebut cenderung mengarah pada demoralisasi sehingga muncul permasalahan
kompleks yang melanda negeri ini, terutama pada remaja. Demoralisasi pada
generasi muda disebabkan dari perubahan sosial, faktor keluarga, faktor
lingkungan, pengalaman masa kecil, dan lain-lain. Faktanya masih banyak remaja
sebagai generasi penerus bangsa yang tidak bisa melihat perubahan secara
gamblang. Salah satu contohnya adalah kasus pencabulan yang dilakukan remaja
terhadap anak SD. Pencabulan termasuk kedalam kekerasan seksual.
Kekerasan seksual pada dasarnya adalah setiap bentuk perilaku yang
memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun
tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga
menimbulkan akibat negatif seperti rasa malu, tersinggung, terhina, marah,
kehilangan harga diri, kehilagan kesucian, dan sebagainya pada diri yang menjadi
korban (Supandi & Sadarjoen 2006). Terry E Lawson (dalam Huraerah 2007)
membagi kekerasan menjadi empat macam yaitu kekerasan fisik, kekerasan
emosional, kekerasan secara verbal, dan kekerasan seksual. Komisi Perlindungan
Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, kekerasan pada anak selalu meningkat setiap
tahunnya. Hasil pemantauan KPAI dari tahun 2011 hingga 2014 terjadi
peningkatan yang signifikan. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus, 2012 ada 3512
kasus, 2013 ada 4311 kasus, dan 2014 ada 5066 kasus. Anak menjadi korban atau

pelaku kekerasan lokus kekerasan pada anak ada tiga, yaitu lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, dan lingkungan rumah.
Kasus dan Pembahasan
Kasus pencabulan yang dilakukan remaja putus sekolah berusia 16 tahun
terhadap anak Sdcberusia 7 tahun yang terjadi di Kecamatan Meurubo, Kabupaten
Aceh Barat terjadi karena nafsu yang tidak dapat dibendung lagi setelah pelaku
menonton film porno dari handphonenya. Lebih parahnya lagi, kejadian
pencabulan tersebut terjadi di rumah korban ketika orang tua korban sedang
keluar rumah. Pelaku belum sempat menyetubuhi korban karena kepergok terlebih
dahulu, hanya memegang kemaluan korban. Hasil visum yang dilakukan, korban
mengalami luka sobek pada bagian kemaluan akibat benda tumpul. Meski masih
di bawah umur, pelaku tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya
dengan hukuman 10 tahun penjara.
Dari kasus tersebut, dapat kita lihat telah terjadi demoralisasi remaja.
Remaja yang masih usia di bawah umur menonton film porno yang seharusnya
tidak layak untuk ditonton. Lemahnya pengawasan dari orang tua merupakan
salah satu faktor pemicu terjadinya pencabulan pada anak SD. Tontonan film
porno yang secara terus menerus akan memicu nafsu untuk melampiaskan kepada
lawan jenisnya. Menurut Donald L. Hilton Jr, MD, ahli bedah syaraf rumah sakit
San Antonio, Amerika Serikat mengatakan bahwa pornografi menimbulkan
perubahan konstan neurotransmitter dan melemahkan fungsi kontrol sehingga
membuat orang yang menonton film porno tidak bisa mengontrol perilakunya.
Selain itu juga akan mengakibatkan otak bagian tengah depan secara fisik akan
mengecil.
Lingkungan keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam
pembentukan karakter anak. Apabila lingkungan keluarga buruk, maka akan
terbentuk anak yang memiliki karakter buruk pula. Yang paling dominan
berpengaruh dalam pembentukan karakter anak adalah orang tua. Faktor lain yang
berpengaruh adalah lingkungan, pendidikan, dan perkembangan teknologi
informasi juga turut andil dalam kasus ini. Lingkungan bermain anak yang tidak
terkontrol akan membentuk moral dan karakter anak menjadi buruk. Begitu juga
dengan pendidikan. Remaja yang putus sekolah tidak akan memiliki karakter dan
moral yang baik apabila di dalam keluarganya tidak diimbangi dengan
pembentukan karakter sejak dini dari orang tua. Perkembangan teknologi yang
semakin canggih akan memunculkan efek negatif karena informasi yang masuk
begitu cepat dan tidak adanya filter akan membentuk perilaku yang buruk dalam
diri anak. Jika setiap perubahan yang terjadi dimaknai secara bijak, maka anakanak khusunya remaja tidak akan mengalami kemerosotan moral.
Menurut Erik Erikson, kematangan kepribadian seseorang dipengaruhi
oleh pengalaman masa kecil. Pengalaman emosi positif di masa kanak-kanak akan
mempengaruhi perkembangan jiwa yang sehat selanjutnya. Telah jelas bahwa
pengalaman baik di masa kecil sangat mempengaruhi perkembangan jiwa anakanak di kemudian hari. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan karakter yang
dimulai sejak dini dengan cara menanamkan nilai dan moral kepada diri anak
untuk membentuk karakter (akhlak mulia) yang merupakan pondasi penting
terbentuknya tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera.

Kejadian pencabulan akan juga akan menimbulkan dampak bagi korban


kejadian tersebut. Korban akan mengalami gangguan fisik, psikologis, maupun
pengalaman traumatik seperti rasa tidak percaya diri hingga merasa dijauhi dari
lingkungan sekitar. Hal ini akan membuat korban menyalahkan dirinya sendiri.
Pengalaman buruk yang terjadi pada masa kecil akan berefek sangat mengerikan,
lama, dan sulit dihilangkan hingga mereka tua.
Oleh karena itu, dalam situasi seperti ini, perlu dukungan dari orang tua,
perhatian yang tulus, dan rasa kasih sayang untuk mempercepat proses
penyembuhan korban terhadap trauma. Selain orang tua, teman dan guru juga
memiliki peran dalam menghilangkan trauma anak. Tetap mengajak anak dalam
berinteraksi akan membuat anak merasa bahwa dirinya berharga dan untuk
sementara dijauhkan dari topik-topik atau tempat-tempat yang memunculkan
reaksi trauma. Jika orang tua tidak dapat mengatasi trauma anak, orang tua segera
membawa anak ke psikolog untuk mendapatkan terapi. Orang tua pelaku
pencabulan perlu menanamkan nilai-nilai agama pada diri anak agar anak
memiliki karakter yang baik. Melakukan kontrol dan pengawasan terhadap anak
sangat diperlukan untuk menghindari perilaku buruk yang tidak diinginkan. Nilai
moral yang ditanamkan akan membentuk karakter (akhlak mulia), yang
merupakan fondasi penting terbentuknya tatanan masyarakat yang beradab dan
sejahtera.
Daftar pustaka
Anonim. 2009. Dampak negatif menonton film porno bagi otak kita.
http://akudansekitar.blogspot.co.id/2009/09/dampak-negatif-menonton-filmporno-bagi.html [24 September 2015]
Araro, Rine. 2013. Psikolog : Keluarga Harus Beri Dukungan Korban Pencabulan.
http://manado.tribunnews.com/2013/04/22/psikolog-keluarga-harus-beridukungan-korban-pencabulan [24 September 2015]
http://kbbi.web.id/demoralisasi
Mastiah, Tiah. 2014. Dampak Negatif Menonton VIDEO PORNO Untuk
Kesehatan
Otak.
http://kesehatanjreng.blogspot.co.id/2014/04/dampaknegatif-menonton-video-porno.html [26 September 2015]
Setyawan, Davit. 2015. KPAI: Pelaku Kekerasan Terhadap Anak Tiap Tahun
Meningkat.
http://www.kpai.go.id/berita/kpai-pelaku-kekerasan-terhadapanak-tiap-tahun-meningkat/ [25 Sepetember 2015]
Umar, Raja. 2015. Remaja 16 Tahun Ditangkap karena Cabuli Bocah SD.
http://regional.kompas.com/read/2015/02/02/22435531/Remaja.16.Tahun.Dit
angkap.karena.Cabuli.Bocah.SD [3 September 2015]
Wulandari, Y. 2014. Dampak dan Penanganan Kekerasan Seksual pada Anak.
http://infokitauntukkita.blogspot.co.id/2014/04/dampak-dan-penanganankekerasan-seksual.html [26 September 2015]