Anda di halaman 1dari 8

EKOLOGI DASAR

EKOSISTEM KEHIDUPAN GUA

Disusun oleh :
Endrianto (163112620120008)

PRODI BIOMEDIK
FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS NASIONAL
2016/2017

EKOSISTEM KEHIDUPAN GUA


A. Karakteristik Ekosistem Gua
Gua merupakan suatu ekosistem yang unik dan sedikit berbeda dibandingkan dengan
jenis ekosistem lainnya. Ada yang beberapa yang menganggap bahwa gua merupakan suatu
ekosistem yang bersifat tertutup dan terisolasi. Namun hal ini tidak pernah sebenarnya
terjadi dalam ekosistem gua. Ekosistem gua sama halnya dengan ekosistem lainnya, dimana
berupa sebuah ekosistem yang terbuka dengan semua komponen saling berkaitan baik
dalam lingkungan gua maupun lingkungan luar gua. Hanya saja keterkaitan yang tercipta
dari interaksi antar komponennya memiliki beberapa karakteristik yang unik menarik.
Morfologi daerah gua antara lain sebagai berikut:

Daerahnya berupa cekungan-cekungan


Terdapat bukit-bukit kecil
Sungai-sungai yang nampak dipermukaan hilang dan terputus ke dalam tanah.
Adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah
Adanya endapan sedimen lempung berwama merah hasil dari pelapukan batu

gamping.
Permukaan yang terbuka nampak kasar, berlubang-lubang dan runcing.

B. Zonasi Kehidupan Gua berdasarkan Adaptasi


Dalam klasifikasi klasik, organisme gua dibedakan berdasarkan tingkat adaptasinya
terhadap lingkungan gua, yaitu:
1. Trogloxene. Troglexene berasal dari kata Troglos yang artinya gua dan xenos yang
berati tamu. Berdasarkan asal katanya dapat kita ketahui bahwa Trogloxene adalah
organisme yang hidup di dalam gua namun tidak pernah menyelesaikan seluruh
siklus hidupnya di dalam gua. Organisme ini hanya menggunakan gua sebagai
habitatnya hanya pada siklus tertentu dalam hidupnya, seperti hibernasi, masa
bereproduksi seperti bertelur. Organisme tipe ini tidak memerlukan adaptasi khusus
terhadap lingkungan gua yang mereka tempati. Kelelawar merupakan salah satu

contoh hewan trogloxene. Contoh lain dari organism tipe ini, yaitu beruang, sigung,
dan rakun.
2. Troglophile. Troglophile berasal dari kata troglos yang berarti gua dan phileo yang
berarti cinta. Oleh karena itu, Troglophile adalah suatu organisme yang
menyelesaikan seluruh siklus hidupnya di dalam gua, namun individu yang lain dari
jenis yang sama juga hidup di luar gua, seperti salamander, cacing tanah, kumbang
dan crustacean
3. Troglobite. Troglobite berasal dari kata troglos yang berati gua dan bios yang berarti
hidup. Troglobite adalah organisme gua sejati dan hidup secara permanen di zona
gelap total dan hanya ditemukan di dalam gua. Organisme ini memiliki bentuk
adaptasi fisiologis terhadap habitatnya. Bentuk adaptasi ini seperti tereduksinya
indera penglihatan, tubuh tidak berpigmen, waktu reproduksinya tertentu,
mempunyai alat gerak yang ramping dan panjang (Jangkrik gua mempunyai antena
20-21 mm), mempunyai alat indera (alat penggetar) yang sudah berkembang, serta
metabolismenya lambat karena kurangnya suplai makanan. Selain itu juga,
organisme ini dapat beradaptasi dengan lingkungan kelembaban yang tinggi.
Contoh: ikan Amblyopsis spelaeus, Puntius sp, Bostrychus sp, udang karang (cave
crayfish), kaki seribu (millipedes), dan juga salamanders serta serangga
Berdasarkan ketersediaan cahaya matahari, maka dibagi kedalam empat zonasi, yaitu:
1. Zona mulut atau zona terang (entrance zone). Pada zona ini menerima cahaya
matahari langsung dan iklim gua sangat terpengaruh oleh faktor luar gua.
Temperatur dan kelembaban berfluktuasi tergantung kondisi luar gua. Kondisi iklim
mikro di mulut gua masih sangat dipengaruhi oleh perubahan kondisi di luar gua
Mulut gua mempunyai komposisi fauna yang mirip dengan komposisi fauna di luar
gua seperti rakun, beruang, salamander, burung hantu, serta siput. Selain itu, ada
zona ini juga ditemukan tanaman, seperti lumut, pakis dan tanaman paku
2. Zona senja atau zona remang-remang (twilight zone) adalah zona dengan cahaya
matahari tidak langsung, berupa pantulan cahaya dari zona mulut. Di zona peralihan
ini kondisi lingkungan masih dipengaruhi oleh luar gua, yaitu masih ditemukannya
aliran udara. Temperatur dan kelembaban juga masih dipengaruhi oleh lingkungan

luar gua. Komposisi fauna pada zona ini mulai berbeda baik dari segi jumlah jenis
maupun individu. Kemelimpahan jenis dan individu lebih sedikit dibandingkan di
daerah mulut gua. Pada zona ini akan ditemukan organisme dari jenis trogloxene,
seperti kelelawar, laba-laba, ngengat, kaki seribu, dan jamur. Hewan pada zona ini
bersifat dapat masuk dan keluar dari gua selama siklus hidupnya
3. Zona gelap (dark zone) adalah zona dimana tidak ada cahaya sama sekali. Daerah
ini merupakan daerah yang gelap total sepanjang masa, kondisi temperatur dan
kelembaban mempunyai fluktuasi yang sangat kecil sekali. Jenis fauna yang
ditemukan sudah sangat khas dan telah teradaptasi pada kondisi gelap total.
Organisme gua sejati hidup di zona ini, seperti fauna yang berasal dari golongan
Troglobite. Fauna yang ditemukan biasanya mempunyai jumlah individu yang kecil
namun mempunyai jumlah jenis yang besar
4. Zona yang terakhir adalah zona gelap total dimana sama sekali tidak terdapat aliran
udara kondisi temperatur dan kelembaban mempunyai fluktuasi yang sangat kecil.
Biasanya mempunyai kandungan karbondioksida yang sangat tinggi. Zona ini
biasanya terdapat pada sebuah ruangan yang lorongnya sempit dan berkelokkelok
C. Flora Fauna Pada Ekosistem Gua
1. Mikroorganisme dan dekomposer pada ekosistem gua, seperti jamur dan bakteri
2. Kelelawar Pemakan Serang, Pemakan Buah, dan Burung Walet. Lebih dari separuh
spesies kelelawar pemakan serangga dan 3-4 spesies kelelawar buah, menggunakan
gua sebagai tempat tinggal, baik secara permanen atau hanya pada masa tertentu
saja. Spesies kelelawar yang bersarang di gua memiliki preferensi berbeda-beda
terhadap kondisi gua. Kelelawar buah Eonycteris spelaea ditemukan pada ruangan
di dekat mulut gua (Goodwin, 1979). Kelelawar lain, Miniopterus cenderung
ditemukan di zona gelap (Marshall, 1971). Beberapa spesies kelelawar, termasuk
kelelawar buah dan kelelawar pemakan serangga bersarang di zona antara atau zona
transisi. Beberapa jenis kelelawar dan walet memiliki kemampuan echolocate;
yakni menghasilkan suara dan memperkirakan echoes yang direfleksikan kembali
oleh benda keras, sehingga mereka memiliki gambaran lingkungan sekitarnya. Di
dalam gua kemampuan ini digunakan untuk menghindari batu-batuan, sedangkan di

luar gua digunakan untuk mendeteksi mangsa. Familia hewan yang berbeda
menggunakan sistem echolocate yang berbeda pula, dan beberapa di antaranya
dapat mendeteksi hewan berukuran 1 mm. Oleh karena itu kelelawar dapat dengan
mudah menangkap mangsanya, namun beberapa jenis serangga dapat pula
mendeteksi echolocate, sehingga dapat menghindar atau mengeluarkan bunyibunyian yang membingungkan (Fenton dan Fullard 1981; Fenton 1983).
3. Arthropoda. Arthropoda merupakan instrumen ekonomi penting karena dapat
mengontrol hama dan penyakit tanaman. Taksa ini juga penting sebagai agen
penyerbuk bunga dan dekomposisi seresah untuk menyuplai hara. Arthropoda
(serangga, laba-laba, udang, centipede, millipede, dan lainnya) juga menjadi dasar
rantai makanan, sehingga menjadi sangat penting karena menyusun bagian dasar
rantai makanan dan menjaga keseimbangan lingkungan serta memberi makan
hewan lain seperti ikan, reptil, burung, dan mamalia. Kebanyakan arthropoda tidak
sepenuhnya tinggal di kawasan gua, namun kerusakan lingkungan di sekitarnya
seringkali menjadikan kawasan gua sebagai tempat pengungsiannya yang terakhir
(Vermeulen dan Whitten, 1999). Beberapa di antaranya memiliki alat-alat tambahan
yang sangat panjang sebagai bentuk adaptasi fisiologisnya terhadap lingkungan,
misalnya kaki centipede dan antena jengkerik.
4. Molusca dan Cacing, organism ini berperan sebagai konsumen tingkat satu yang
akan membawa makanan jauh ke dalam gua.
5. Ikan, berperan sebagai predator pada ekosistem gua. Hidup jauh di dalam gua yang
gelap. Terdapat adaptasi fisiologis, yaitu tereduksinya organ penglihatan. Ikan pada
ekosistem gua menempati posisi predator pada rantai makanan.
6. Salamander, berperan sebagai predator pada ekosistem gua. Salamander pada sisi
kiri merupakan salamander yang berhabitat pada daerah senja atau remang-remang
pada gua, sedangkan salamander pada sisi kanan merupakan salamander yang
bermukim di zona gelap.
7. Ular
D. Rantai Makanan Pada Ekosistem Gua
Kondisi gelap total tidak memungkinkan produsen utama seperti di lingkungan luar gua
dapat hidup. Hal ini menyebabkan sumber energi dalam gua merupakan sumber energi

yang allochtonous dan sangat bergantung pada produktivitas mikroorganisme yang ada
dalam gua maupun sumbersumber lain yang berasal dari luar gua.
Kelangkaan makanan menyebabkan beberapa hewan dapat menahan lapar untuk jangka
waktu lama, hingga musim hujan ketika makanan masuk gua, serta dapat menyimpan
sejumlah besar lemak (Howarth, 1983 dlm Rahmadi, 2007). Sumber energi gua masuk ke
dalam lingkungan gua melalui beberapa cara, menurut Culver (1986) ada 5 sumber pakan
yang penting untuk habitat terestrial di dalam gua di daerah empat musim yaitu guano
kelelawar, telur dan guano jangkrik gua, mikroorganisme, kotoran mamalia dan bangkai
hewan dan terakhir adalah serasah tanaman yang terbawa banjir. Sumber pakan yang
penting berasal dari akarakar yang menerobos melalui celah rekahan dan menggantung di
langitlangit gua.
Berdasarkan kemelimpahan dan jenis sumber pakan dibedakan 5 tipe gua, yaitu
1. Oligotrophic yaitu gua yang mempunyai jumlah ketersediaan bahan organik yang
rendah yang berasal dari hewan atau tumbuhan.
2. Eutrophic adalah gua yang mempunyai ketersediaan bahan organik yang sangat
tinggi, umumnya berasal dari hewan, khususnya guano kelelawar.
3. Distrophic adalah gua yang ketersediaan bahan organik berasal dari tumbuhan yang
terbawa banjir.
4. Mesotrophic adalah gua yang berada pada tingkat menengah antara tiga tipe tersebut
dan dicirikan dengan ketersediaan bahan organic dari hewan dan tumbuhan dalam
jumlah yang sedang.
5. Poecilotrophic adalah gua yang merupakan pemanjangan bagian gua dengan suplai
energi yang berbeda dengan rentang bagian oligotrophic sampai eutrophic.
(Gnaspini dan Trajano, 2000 dlm Rahmadi, 2007).
Energi di dalam gua berasal dari deposit bahan organik, seperti guano di bawah tempat
bertengger kelelawar dan burung walet; sisa-sisa akar tumbuhan yang masuk melalui celah
di langit-langit gua, serta seresah tumbuhan dan hewan-hewan kecil yang terbawa masuk
oleh air hujan. Di kawasan tropis, akar pepohonan merupakan sumber bahan organik yang
penting di gua; banyak pohon, seperti Ficus, dapat bertahan lingkungan karst yang tandus,

dengan menjalarkan akarnya jauh ke dalam batu gamping, sering hingga di bawah
permukaan air tanah. Organisme tertentu, seperti fungi, protozoa, dan bakteri menguraikan
deposit ini sebagai nutrien-nutrien yang akan digunakan sebagai sumber energi bagi
organisme yang berada di dalam gua. Selanjutnya, perpindahan energi ini dilakukan oleh
konsumen primer gua, yaitu berupa golongan nematode, kecoa, dan kumbang atau insekta
lainnya. Konsumen primer ini kemudian akan dimakan oleh bangsa arthropoda yang lebih
besar, seperti jangkerik, centipede, laba-laba, dan juga ikan atau kepiting gua. Pada
konsumen teratas sering pula ditemui reptile, seperti ular. Rantai makanan ini terus bergulir,
dimana konsumen teratas akan mati dan diuraikan kembali oleh mikroorganisme yang
berada di dalam gua mejadi nutrient-nutrien sederhana sebagai sumber energi kehidupan
ekosistem gua (Vermeulen dan Whitten, 1999; Whitten et al., 2000 dlm Setyawan, 2007).

E. Daftar Pustaka
Setyawan, Ahmad Dwi. 2007. Biodiversitas Ekosistem Karst di Jawa Tinjauan Agroekosistem di
Gunung Sewu. Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta.

Rahmadi, Cahyo. 2007. Ekosistem Karst dan Gua: Gudangnya Keanekaragaman Hayati yang Unik.
Cibinong: Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong.

http://science.howstuffworks.com/life/biology-fields/cave-biology.htm