Anda di halaman 1dari 23

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2016/2017

MODUL

: Reverse osmosis

PEMBIMBING

: Dianty Rosirda Dewi Kurnia, S.T., M.T.

Tanggal Pelaksanaan Praktikum

10 Oktober 2016

Oleh:
Kelompok

: 2 (Dua)

Nama

: 1. Ayu Nurpitriani

Kelas

(NIM. 141411005)

2. Citha Amelia

(NIM. 141411006)

3. Dida Anggiana

(NIM. 141411007)

4. Dita Apriani

(NIM. 141411008)

: 3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu kebutuhan makluk hidup yang sifatnya sangat penting. Saat
ini, air bersih yang layak digunakan baik untuk keperluan rumah tangga maupun keperluan
industri jumlahnya semakin sedikit. Untuk menghasilkan air bersih yang layak pakai, air
harus diolah terlebih dahulu salah satunya dengan menggunakan teknologi membrane atau
Reverse Osmosis.
Membran RO merupakan salah satu teknologi yang digunakan untuk desalinasi air
payau dan air laut. Teknologi RO mampu memisahkan kompenen-komponen pada
temperatur kamar, konsumsi energi dan bahan aditif cukup rendah, tidak menghasilkan
produk samping berupa limbah, bersifat modular dan kompak, serta hanya membutuhkan
ruangan yang kecil untuk instalasinya, mampu memisahkan garam-garaman sehingga
teknologi ini cocok digunakan dalam pengolahan air lain menjadi air tawar (desalinasi).
Oleh karena itu dilakukan percobaan Reverse osmosis di laboratorium Pengolahan
Limbah Industri agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami proses reverse osmosis
dengan baik dan benar.

1.2 Tujuan
a. Membuat kurva/grafik hubungan antara DHL di aliran permeat dan konsentrat terhadap
waktu.
b. Membuat kurva/grafik hubungan antara total hardness di aliran permeat dan konsentrat
terhadap waktu.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Reverse Osmosis
Reverse osmosis adalah kebalikan dari fenomena osmosis. Osmosis merupakan
fenomena pencapaian kesetimbangan antara dua larutan yang memiliki perbedaan konsentrasi
zat terlarut, dimana kedua larutan ini berada pada satu bejana dan dipisahkan oleh lapisan
semipermeabel. Kesetimbangan terjadi akibat perpindahan pelarut dari larutan yang memiliki
konsentrasi zat terlarut rendah ke larutan yang memi-liki konsentrasi zat terlarut tinggi. Saat
kesetim-bangan konsentrasi dicapai maka terdapat perbedaan tinggi larutan yang dapat
didefinisikan sebagai tekanan osmosis Prinsip dasar reverse osmosis adalah memberi tekanan
hidrostatik yang melebihi tekanan osmosis larutan sehingga pelarut dalam hal ini air dapat
berpindah dari larutan yang memiliki konsentrasi zat terlarut tinggi ke larutan yang memiliki
konsentrasi zat terlarut rendah seperti yang terlihat pada. Prinsip reverse osmosis ini dapat
memisahkan air dari komponen-komponen yang tidak diinginkan dan dengan demikian akan
didapatkan air dengan tingkat kemurnian yang tinggi (Santoso.2009).

Gambar 2.1 Skema fenomena osmosis dan reverse osmosis

Reverse osmosis RO adalah suatu metode penyaringan yang untuk memisahkan


molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan cara memberi tekanan pada larutan
ketika larutan itu berada di salah satu sisi membran seleksi (lapisan penyaring). Proses
tersebut menjadikan zat terlarut terendap di lapisan yang dialiri tekanan sehingga zat
pelarut murni bisa mengalir ke lapisan berikutnya. Hasil proses reverse osmosis adalah air

yang tidak mengandung ion (kation) dengan kadar zat terlarut total (TDS) atau daya hantar
listrik (DHL) relatif sangat rendah. Oleh karena itu, air murni yang dihasilkan dari proses
reverse osmosis RO tidak sehat bagi tubuh.

Gambar 2.2 Skema peralatan reverse osmosis di Laboratorium PLI

2.2 Perbedaan Osmosis dengan Reverse Osmosis


Pada proses reverse osmosis, sisi larutan dengan konsentrasi (TDS) tinggi diberikan
tekanan untuk mendorong molekul air melewati membran menuju sisi larutan air dengan
konsentrasi (TDS) rendah. Proses pemisahan ini akan memisahkan antara zat terlarut pada
suatu sisi membran dan pelarut murni disisi yang lain.
Pada proses osmosis, air tidak diberikan tekanan disalahsatu sisi. Karena air memiliki
sifat berpindah dari larutan berkonsentrasi rendah menuju larutan berkonsentrasi lebih
tinggi, maka air akan berpindah (berdifusi) melalui membran dari sisi konsentrasi rendah
ke sisi konsentrasi yang lebih tinggi sehingga tekanan osmotik akan melawan proses difusi
dan akan terbentuk kesetimbangan (Atomic.2013).

Gambar 2.3 Perbedaan osmosis dengan reverse osmosis

2.3 Membran Reverse Osmosis


Membran semipermeabel pada aplikasi reverse osmosis terdiri dari lapisan tipis polimer
pada penyangga berpori (fabric support). Membran untuk kebutuhan komersial harus memiliki
sifat perme-abilitas yang tinggi terhadap air. Selain itu, membran juga harus memiliki derajat
semipermeabilitas yang tinggi dalam arti laju transportasi air melewati membran harus jauh
lebih tinggi dibandingkan laju transportasi ion-ion yang terlarut dalam umpan. Membran juga
harus memiliki ketahanan (stabil) terhadap variasi pH dan suhu. Kestabilan dari sifat-sifat
tersebut dalam periode waktu dan kondisi tertentu dapat didefinisikan sebagai umur membran
yang biasanya berkisar antara 3-5 tahun. Terdapat dua jenis polimer yang dapat digunakan
sebagai membran reverse osmosis: selulosa asetat (CAB) dan komposit poliamida (CPA).
Kedua jenis material membran ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan pada proses
pembuatannya, kondisi operasi dan kinerjanya seperti yang terlihat pada Tabel 1.

Batasan

Tabel 2.1 Jenis membran RO yang biasa digunakan


Membran Selulosa Asetat Lapisan tipis mebran komposit

pH

pH 2-8

pH 2-11

50C-300C

50C-500C

Ketahanan terhadap
serangan bakteri

Lemah

Sangat kuat

Ketahanan terhadap
klorin

0-1 ppm

0-0,1 ppm

Rejeksi terhadap garam


saat 60 psi

85-92%

94-98%

Rejeksi terhadap nitrat


saat 60 psi

30-50%

70-90%

Cost relatif

Rendah

Tinggi

Temperatur

Pada aplikasi reverse osmosis, konfigurasi modul membran yang digunakan yaitu spiral
wound. Konfigurasi yang lain yaitu hollow fiber, tubular dan plate and frame tidak terlalu
banyak digunakan pada aplikasi reverse osmosis, hanya diaplikasikan pada industri makanan
serta sistem khusus (Muchtadi.2010).

Material membran reverse osmosis yang digunakan umumnya bersifat hidrofilik,


mempunyai permeabilitas yang tinggi terhadap air, dan kelarutan yang sangat rendah terhadap
zat terlarut. Membran reverse osmosis terbuat dari bahan polimer permeator. Material yang
digunakan antara lain dari golongan ester selulosa seperti selulosa diasetat dan selulosa
triasetat, tetapi material ini tidak tahan terhadap zat kimia, bakteri, dan suhu yang ekstrim.
Material lainnya adalah poliamida. Poliamida memiliki selektivitas yang tinggi terhadap garam
tetapi material ini kurang begitu tahan terhadap klorin. Membran reverse osmosis memiliki
ukuran pori persepuluh ribu mikron dan dapat menghilangkan zat organik, bakteri, pirogen,
juga koloid yang tertahan oleh struktur pori yang berfungsi sebagai penyaring.
Membran reverse osmosis tidak membunuh mikroorganisme melainkan hanya
menghambat dan membuangnya. Konfigurasi modul membran RO umumnya adalah spiral
wound. Beberapa aspek yang menjadi pertimbangan pemakaian konfigurasi modul ini antara
lain tekanan operasi, kemudahan pencucian, kemudahan pemeliharaan, kemudahan
pengoperasian, dan kemungkinan penggantian membran. Modul spiral wound terdiri dari
beberapa membran seperti membran datar, spacer, dan material berpori yang dililitkan
mengelilingi suatu saluran pengumpul permeat (permeate collecting tube). Larutan umpan
mengalir aksial sepanjang modul dalam celah yang terbentuk antara spacer dan membran atau
masuk pada permukaan silindris dari elemen dan keluar secara aksial seperti gambar.

Gambar 2.4 Modul membran spiral wound

Membran semipermeabel yang digunakan pada reserve osmosis disebut membran memiliki
ukuran pori < 1 nm. Karena ukuran porinya yang sangat kecil. membran RO disebut juga
membran tidak berpori. Membran RO biasanya digunakan untuk pengolahan air seperti
pengolahan air minum, desalinasi air laut, dan pengolahan limbah cair. Saat ini membran RO
juga banyak digunakan pada proses pengolahan air isi ulang untuk melewatkan
molekulmolekul air dan menahan solid yang terkandung serta ion-ion garam, memisahkan dan

menyisihkan zat terlarut dan zat organik, pirogen, koloid, virus dan bakteri dari air tersebut
(Muchtadi.2010). Karakteristik cairan hasil pengolahan membran RO adalah sebagai berikut:

Gambar 2.5 Karakteristik air hasil pengolahan membrane reverse osmosis

Pada pengolahan air minum, seperti pengolahan air isi ulang, membran RO didesain untuk
dapat melewatkan molekul-molekul air dan menahan solid, seperti ion-ion garam. Membran
RO dapat memisahkan dan menyisihkan zat terlarut, zat organik, pirogen, koloid, virus, dan
bakteri dari air baku. Efisiensi penyisisihan membran RO untuk zat terlarut total (TDS) dan
bakteri masing-masing adalah 95-99% dan 99%. Sehingga pada akhir proses akan dihasilkan
air yang murni
Membran reverse osmosis dapat mengalami perubahan karena terjadi penyumbatan dimana
penyumbatan diakibatkan oleh zat padat yang terlarut dalam air. Membran yang mengalami
penyumbatan ditandai oleh tingginya aliran yang masuk dan meningkatnya tekanan.
Penyumbatan dapat terjadi karena adanya kerak (scale) pada membran, pengendapan oksida
logam, atau penyumbatan koloid (Ananto.2013).
Membran RO memiliki keterbatasan dalam pengoperasiannya, di antaranya tekanan air baku
antara 2-80 bar.

2.3.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja membran reverse osmosis


a. Laju umpan

Laju permeat meningkat dengan semakin tingginya laju alir umpan. Selain itu
laju alir yang besar juga akan mencegah terjadinya fouling pada membran. Namun
energi yang dibutuhkan untuk mengalirkan umpan akan semakin besar.
b. Tekanan operasi
Laju permeat secara lansung sebanding dengan tekanan operasi yang digunakan
terhadap permukaan membran. Semakin tinggi tekanan operasi, maka permeat juga
akan semakin tinggi
c. Temperatur operasi
Laju permeat akan meningkat seiring dengan peningkatan temperatur. Namun
temperatur bukanlah variabel yang dikontrol. Hal ini perlu diketahui untuk dapat
mencegah terjadinya penurunan fluks yang dihasilkan karena penurunan temperatur
operasi.

2.4 Prinsip Kerja Reverse Osmosis


Proses Reverse osmosis menggerakkan air dari konsentrasi kontaminan yang tinggi
(sebagai air baku) menuju penampungan air yang memiliki konsentrasi kontaminan sangat
rendah. Dengan menggunakan tekanan tinggi di sisi air baku, maka terjadi proses yang
berlawanan (reverse) dari proses osmosis. Dengan menggunakan membran semipermeabel
maka hanya molekul air yang melaluinya dan memisahkan berbagai kontaminan terlarut.
Proses spesifik yang terjadi dinamakan ion eksklusi, dimana sejumlah ion pada permukaan
membran sebagai sebuah pembatas mengijinkan molekulmolekul air untuk melaluinya
seiring melepas substansi-substansi lain (Ariyanti.2009).

Gambar 2.6. Prinsip kerja reverse osmosis

2.4.1 Faktor- faktor yang mempengaruhi proses reverse osmosis


a) Kepadatan /kerapatan membrane
Semakin rapat membran maka akan semakin baik air olahan yang dihasilkan
b) Fluks, gerakan air yang terus menerus
c) Tekanan

Tekanan mempengaruhi laju alir bahan pelarut yang melalui membran. Laju alir
permeat akan semakin meningkat dengan meningkatnya tekanan dan mutu air hasil
olahan (permeat) juga akan semakin meningkat (Heitmann, 1990).
d) Recovery factor
Dalam pengolahan air payau, semakin tinggi faktor perolehan maka akan semakin
baik konsentrasi garam yang didapat dari pengolahan air payau.
e) Ketahan membran.
Membran hanya dapat bertahan sebentar. Apabila terlalu banyak komponen
komponen yang tidak diinginkan ikut masuk di dalam air umpan.
f) Pembersihan (cleaning)
Pembersihan pada membran tergantung dari jenis membran yang digunakan dan
proses penggunaannya.

2.4.2 Jenis-jenis membrane RO


1. CTA membrane (Celulosa Triacetate)
a. Harga lebih murah
b. Tahan terhadap chlorine
c. Rejection rate/ daya saring lebih rendah
d. Digunakan pada air yang mengandung chlorine
e. Tidak dapat digunakan pada air dengan Ph tinggi (basa)
2. TFC Membrane (Thin Film Composite)
a. Rejection rate/ daya saring lebih tinggi
b. Dapat digunakan pada air dengan ph asam dan basa tinggi
c. Harga lebih mahal
d. Tidak tahan terhadap chlorine
e. Dapat digunakan pada air dengan TDS tinggi

2.5 Aplikasi Penggunaan Reverse Osmosis


Berapa aplikasi penggunaan reverse osmosis dalam industri :
- Desalinasi (desalination) air payau (brackish) dan air laut (sea water). - Demineralisasi
untuk air umpan boiler (Boiler Feed Water/BFW) - Pemisahan protein dari whey.
- Treatment khusus untuk industri kimia, makanan, tekstil dan kertas.
- Pervaporasi (perparporation), misalnya permisahan alkohol-air

2.6 Kelebihan dan Kekurangan Reverse Osmosis


2.6.1 Kelebihan reverse osmosis
1. Proses yang tergolong rendah
2. Biaya instalasi rendah
3. Dapat digunakan untuk menghilangkan kontaminan-kontaminan organik atau inorganic
4. Tidak menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan

2.6.2 Kekurangan reverse osmosis


1. Air umpan harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu untuk menghilangkan partikulapartikulat
2. Operasi reverse osmosis memerlukan biaya yang tinggi baik dari segi material maupun
alat.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Tabel 3.1 Alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum
Alat
Bahan
1. Seperangkat alat RO

1. Air keran

2. Gelas kimia 250 mL (4 buah)

2. Larutan EDTA (45 mL)

3. Gelas kimia 1000 mL (1

3. Indikator EBT ( 2
gram)

buah)
4. Gelas ukur 50 mL

4. Larutan buffer pH 10 (26


mL)

5. Konduktimeter
6. Buret 25 mL
7. Erlenmeyer 250 mL (2 buah)

Gambar 3.1 Alat reverse osmosis yang digunakan pada saat praktikum

3.2 Skema Kerja


Menyalakan peralatan reverse osmosis

Membuka semua valve di aliran influen secara penuh

Mencatat tekanan operasi

Mengukur total hardness dan DHL pada influen


Mengukur total hardness dan DHL setiap 15 menit pada
aliran permeat dan konsentrat
Mengukur laju alir volume permeat dan konsentrat setiap 15
menit dengan waktu penampungan sebesar 15 detik

Mematikan alat RO dan menutup semua valve aliran influen

Gambar 3.1 Skema kerja yang dilakukan pada saat praktikum

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Data Pengamatan

4.1.1 Data DHL (Daya Hantar Listrik) Setiap Waktu

Laju alir =

127

15 s

60 s

1 menit

= 508 ml/menit

Tabel 4.1 Hasil Pengukuran DHL di Aliran Permeat-Konsentrat pada Keran Bukaan
Penuh

Konsentrasi di aliran
Waktu
(menit)

Permeat
DHL (mS)

0
15
30
45
60
75
90
4.1.2
5

0.288
0.014
0.015
0.016
0.016
0.018
0.017

Volume
(ml)
82
82
82
82
82
82
82

Konsentrat
DHL
Volume
(mS)
(ml)
0.288
127
0.430
127
0.429
127
0.430
127
0.428
127
0.438
127
0.438
127

Tekanan
Operasi
(MPa)
0,7
0,7
0,7
0,7
0,7
0,7
0,7

Nilai Total Hardness Setiap Waktu

Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Total Hardness di Aliran Permeat-Konsentrat pada Keran
Bukaan Penuh

Waktu
(menit)
15
30
45
60
75
90

Volume
EDTA
(ml)
0.50
0.55
0.40
0.50
0.60
0.35

Permeat
Total
Hardness
(mg/L
CaCO3)
0.1250
0.1375
0.1000
0.1250
0.1500
0.0875

Konsentrat
Volume
EDTA
(ml)
5.20
5.70
5.10
5.00
5.15
5.10

Total Hardness
(mg/L CaCO3)
1.3000
1.4250
1.2750
1.2500
1.2875
1.2750

4.2

Pengolahan Data

4.2.1

Kurva hubungan DHL (daya hantar listrik) terhadap waktu


0.5
0.45
0.4

DHL (mS)

0.35
0.3
0.25

Permeat

0.2

Konsentrat

0.15
0.1
0.05
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Gambar 4.1 Kurva hubungan antara DHL vs waktu pada permeat dan konsentrat

4.2.2

Kurva hubungan total hardness terhadap waktu

Permeat
Konsentrat

1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

Gambar 4.2 Grafik hubungan antara Total Hardness vs waktu pada permeat dan
konsentrat

4.3 Pembahasan
Pembahasan oleh Ayu Nurpitriani (141411005)
Pada praktikum kali ini akan dilakukan proses reverse osmosis dengan umpan air
keran. Dari data hasil pengamatan, dibuat grafik hubungan antara nilai total hardness
(kesadahan) dan DHL terhadap waktu di aliran permeat dan konsentrat. Berdasarkan
kurva, terlihat bahwa nilai total hardness (kesadahan) dan DHL akan mengalami
penurunan dan cenderung konstan pada aliran permeat karena padatan terlarut yang
mengandung mineral-mineral akan tertahan oleh membran sehingga tidak ikut terbawa ke
aliran permeat.
Pada aliran konsentrat, nilai total hardness (kesadahan) dan DHL akan mengalami
peningkatan dan cenderung konstan karena padatan terlarut yang tertahan oleh membran
akan mengalir ke aliran konsentrat. Sehingga membuat nilai DHL dan total hardness
(kesadahan) di aliran konsentrat lebih tinggi dibandingkan dengan nilai DHL dan total
hardness (kesadahan) di aliran permeat.
Tekanan operasi dibuat konstan yaitu pada tekanan 7 bar. Hal ini sesuai dengan
literatur yang mengharuskan bahwa tekanan operasi untuk proses reverse osmosis harus
ada diantara 2-80 bar. Dengan nilai tekanan operasi konstan, membuat nilai DHL maupun
total hardness (kesadahan) cenderung konstan baik di aliran permeat maupun konsentrat.
Ini menunjukkan bahwa alat masih masih dapat beroperasi atau membran tidak mengalami
kejenuhan.

Pembahasan oleh Citha Amelia (141411006)


Pada praktikum yang telah dilakukan yaitu Reverse Osmosis, air umpan yang

digunakan yaitu air yang dialirkan dari keran dengan bukaan penuh. Praktikum dilakukan
dengan tekanan konstan 7 bar. Sesuai dengan literature bahwa tekanan operasi untuk
proses reverse osmosis harus berada diantara 2-80 bar. Dengan nilai tekanan operasi
konstan, membuat nilai DHL maupun total hardness cenderung konstan baik di aliran
permeat maupun konsentrat. Hal ini menunjukkan bahwa alat reverse osmosis di
laboratorium PLI memiliki kinerja yang baik atau tidak mengalami kejenuhan.
Dari grafik hubungan antara nilai total hardness dan DHL terhadap waktu di aliran
permeat dan konsentrat selama 90 menit terlihat bahwa nilai total hardness yang ada di
aliran permeat lebih kecil dibandingkan dengan nilai total hardness yang ada di aliran

konsentrat karena membrane dari reverse osmosis telah menahan ion-ion dan zat terlarut
yang ada dalam air umpan. Sedangkan pada aliran konsentrat, nilai total hardness lebih
besar dibandingkan dengan nilai total hardness di aliran permeat. Hal ini menunjukkan
bahwa kadar zat terlarut yang berada di dalam aliran influen dapat disaring oleh membrane
reverse osmosis dan terbawa oleh aliran konsentrat sehingga membuat nilai DHL dan total
hardness di aliran konsentrat lebih tinggi dibandingkan di aliran permeat.

Pembahasan oleh Dida Anggiana (141411007)

Reverse Osmosis merupakan proses pemisahan zat-zat terlarut yang ada didalam suatu
larutan dengan cara mengalirkan larutan tersebut melewati membran yang memiliki
karakteristik khusus sehingga kation dan zat lain dalam larutan tersebut akan tertahan didalam
membran dan akan menghasilkan air yang lebih murni dengan kadar kation dan zat terlarut
yang rendah. Alat ini dirancang dengan memberikan tekanan hidrostatik yang melebihi tekanan
osmosis larutan sehingga pelarut dalam hal ini air dapat berpindah dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi yang rendah dengan melewati membran. Pada praktikum ini praktikan hanya
menggunakan 1 variasi laju alir dalam waktu 90 menit dan pemeriksan DHL dilakukan setiap
15 menit sekali dengan tekanan konstan 0,7 kg/cm2. Pada praktikum ini, laju alir yang yang
ditentukan yaitu bukaan valve penuh, 508 ml/menit.

Dengan laju alir yang besar ini, didapatkan nilai DHL(Daya Hantar Listrik) yang tinggi.

Hal ini dikarena kan laju alir yang terlalu besar dan tekanan yang konstan akan mengakibatkan
proses pemisahan kurang baik karena akan banyak ion-ion atau partikel terlarut yang lolos .
tekanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses reverse osmosis karena
semakin besar tekanan maka semakin banyak ion-ion atau partikel terlarut yang tertahan, selain
itu juga laju alir yang semakin kecil menunjukan semakin baik pula proses pemisahan nya.
Pada praktikum ini nilai DHL pada aliran permeat lebih kecil dibandingkan nilai yang
ada pada aliran konsentrat seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.1 Grafik hubungan antara
DHL vs waktu pada permeat dan konsentrat. Hal ini membuktikan bahwa ion-ion dan partikel
terlarut telah tertahan oleh membran akan keluar bersama aliran konsentrat.
Pada praktikum ini nilai Total Hardness pada aliran permeat lebih kecil dibandingkan
nilai yang ada pada aliran konsentrat seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.2 Grafik
hubungan antara Total Hardness vs waktu pada permeat dan konsentrat Hal ini membuktikan
bahwa ion-ion dan partikel terlarut telah tertahan oleh membran akan keluar bersama aliran
konsentrat, sehingga nilai total kesadahan pada aliran konsentrat lebih tinggi dari aliran
permeat.

Pembahasan oleh Dita Apriani (141411008)

Parameter yang dicari untuk menentukan keberhasilan proses Reverse Osmosis ini
adalah nilai DHL (Daya Hantar Listrik), TDS (Total Disolved Solid), TH (Total Hardness)
dan pH. Tetapi pada praktikum kali ini parameter yang dicari hanyalah nilai DHL dan TH.
Sampel diambil setiap 15 menit selama 90 menit dengan tekanan 7 bar. Hal tersebut sesuai
dengan literatur bahwa tekanan operasi untuk prose reverse osmosis harus berada diantara
2-80 bar. Nilai tekanan operasi yang konstan akan membuat nilai DHL maupun TH akan
cenderung konstan. Hal tersebut menunjukkan bahwa alat tidak mengalami kejenuhan.
Dari hasil yang didapat nilai DHL maupun TH di aliran permeat lebih kecil
dibanding dengan di aliran konsentrat. Hal itu menunjukkan bahwa ion-ion telah tersaring
oleh membran dan akan mengalir keluar yang disebut aliran permeat yang memiliki
kandungan ion-ion yang bnyak, sedangkan hasil saringan akan mengalir keluar yang
disebut aliran permeat dimana aliran ini memiliki sedikit ion-ion terlarutnya. Berdasarkan
gambar 4.1, dapat dilihat bahwa nilai DHL maupun TH permeat cenderung konstan, hanya
sedikit titik yang mengalami penurunan. Selain itu, nilai DHL maupun TH pada permeat
lebih kecil dibanding konsentrat. Sedangkan, nilai DHL maupun TH konsentrat naik
sedikit demi sedikit setiap waktunya, karena pada konsentrat cenderung lebih didominasi
oleh kandungan mineral dan zat terlarut.

BAB V SIMPULAN

Berdasarkan grafik 4.1-4.2 hubungan antara total hardness (kesadahan) dan DHL
terhadap waktu di aliran permeat dan konsentrat dapat disimpulkan bahwa:
1) Nilai total hardness dan DHL di aliran permeat mengalami penurunan dan cenderung
konstan pada aliran permeat karena padatan terlarut yang mengandung mineralmineral
akan tertahan oleh membran sehingga tidak ikut terbawa ke aliran permeat.
2) Pada aliran konsentrat, nilai total hardness (kesadahan) dan DHL akan mengalami
peningkatan dan cenderung konstan karena padatan terlarut yang tertahan oleh
membran akan mengalir ke aliran konsentrat.

DAFTAR PUSTAKA
Ananto, Ilham. 2013. MEMBRAN REVERSE OSMOSIS REVERSE OSMOSIS. Banjarbaru:
Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat

Ariyanti, Dessy. 2009. Pengendalian Scaling Pada Sistem Membran Reverse Osmosis:
Universitas Diponegoro

Atomic,

Stie.

2013.

Reverse

Osmosis.

Tersedia

pada

http://stieatomic.blogspot.com/2011/05/reverse-osmosis.html. Diakses pada tanggal 23


Oktober 2015.

Muchtadi,

Tien

R.

2010.

Membrane

Technology.

http://www.bali-

water.com/2012/05/tentang-reverse-osmosis.html (diakses pada tanggal 13 April 2014)

Juliardi, Naniek Ratni. -. Peningkatan Kualitas Air Minum Menggunakan Membran Reverse
osmosis (Ro). Tersedia pada http://eprints.upnjatim.ac.id/2547/1/NANIK_RATNI.pdf .
Diakses tanggal 25 Oktober 2016.

Maulana, Abdul Malik dan Ariyanto S.Widodo . - . Pengolahan Air Produk Reverse osmosis
sebagai Umpan Boiler dengan Menggunakan Ion Exchange. Tersedia pada
http://eprints.undip.ac.id/3372/1/MAKALAH_PENELITIAN_pdf-.pdf. Diakses tanggal
24 Oktober 2015.

Santoso, Rio. 2009. Apa Itu Reverse osmosis Semua Tentang Air Reverse Osmosis.Tersedia
pada http://airreverseosmosis.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2015.

Tim

Penyusun

Modul

Proses

Pemurnian.

Tersedia

pada

http://akademik.che.itb.ac.id/labtek/wp-content/uploads/2010/08/modulprosespemurnian.pdf. Diakses pada tanggal 23 Oktober 2015.

Anonim. 2012. Air. https://jujubandung.wordpress.com/tag/air/ (diakses pada tanggal 13 April


2014)

Anonim.

2013.

Reverse

Osmosis.

http://www.yukiwaterfilter.com/in/ourproduct-129-

reverseosmosis.html (diakses pada tanggal 13 April 2014

LAMPIRAN

1) Perhitungan total hardness umpan


Volume air umpan yang dititrasi

= 25 mL

Komsentrasi EDTA

= 0,01 M

Volume EDTA

= 3,77 mL

Total hardness umpan


= (volume sampel/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 3,77 mL x 100
= 0,9425 mg/L CaCO3

2) Perhitungan total hardness sampel dari data titrasi

Larutan Permeat
Volume Larutan Permeat

= 25 mL

Komsentrasi EDTA

= 0,01 M

Indikator EBT

= 1 mg

Debit air umpan

= 508 ml/menit

a. Total hardness pada t = 15 menit


= (volume larutan/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 0.5 mL x 100
= 0,125 mg/L CaCO3

b. Total hardness pada t = 30 menit


= (volume larutan/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 0.55 mL x 100
= 0,1375 mg/L CaCO3

c. Total hardness pada t = 45 menit


= (volume larutan/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 0.4 mL x 100

= 0,1 mg/L CaCO3

d. Total hardness pada t = 60 menit


= (volume larutan/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 0.5 mL x 100
= 0,125 mg/L CaCO3
e. Total hardness pada t = 75 menit
= (volume larutan/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 0.6 mL x 100
= 0,15 mg/L CaCO3

f. Total hardness pada t = 90 menit


= (volume larutan/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 0.3sd5 mL x 100
= 0,0875 mg/L CaCO3

Larutan Konsentrat
Volume Larutan Konsentrat

= 25 mL

Komsentrasi EDTA

= 0,01 M

Indikator EBT

= 1 mg

Debit air umpan

= 508 ml/menit

a. Total hardness pada t = 15 menit


= (volume sampel/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 5.2 mL x 100
= 1.3 mg/L CaCO3

b. Total hardness pada t = 30 menit


= (volume sampel/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 5.7 mL x 100
= 1.425 mg/L CaCO3
g. Total hardness pada t = 45 menit

= (volume larutan/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3


= (25/100)mL 0,01 M 5.1 mL x 100
= 1.275 mg/L CaCO3

h. Total hardness pada t = 60 menit


= (volume larutan/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 5 mL x 100
= 1.25 mg/L CaCO3
i. Total hardness pada t = 75 menit
= (volume larutan/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 5.15 mL x 100
= 1.2875 mg/L CaCO3

j. Total hardness pada t = 90 menit


= (volume larutan/ 100) x konsentrasi EDTA x volume EDTA x faktor CaCO3
= (25/100)mL 0,01 M 5.1 mL x 100
= 1.275 mg/L CaCO3