Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

TAKSONOMI TUJUAN PENDIDIKAN DAN MOTIVASI BELAJAR

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ilmu Pendidikan


Dosen Pengampu: Dra. Kurniana Bektiningsih, M.Pd.

Disusun Oleh :
Kelompok 5 / Rombel 005
1
2
3

Aliyn Nafisha
Shella Devi Anggraini
Kurniati Noor Handayani

(1401414119)
(1401414124)
(1401414150)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Dan tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu dalam proses pengerjaan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan
yang dibimbing oleh Ibu Kurniana Bektiningsih. Makalah ini menjelaskan tentang
Taksonomi Tujuan Pendidikan dan Motivasi Belajar. Semoga dengan makalah
ini dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam mata kuliah Ilmu
Pendidikan.
Selesainya penyusunan makalah ini berkat bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami sampaikan terima kasih dan
penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat Ibu Kurniana Bektiningsih
dan teman-teman seperjuangan yang telah membantu menyelesaikan tugas ini.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran pembaca guna
mengembangkan kemampuan kami untuk menjadi lebih baik. Semoga makalah
ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Semarang, 20 September 2015

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................
A Latar Belakang........................................................................................
B Rumusan Masalah...................................................................................
C Tujuan......................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................
A Taksonomi Tujuan Pendidikan................................................................
B Motivasi Belajar......................................................................................
C Tinjauan Mengenai Faktor yang Mempengaruhi Motivasi.....................
BAB III PENUTUP...........................................................................................
A Kesimpulan.............................................................................................
B Saran........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................

ii
iii
1
1
2
2
3
3
9
13
17
17
17
18

BAB I
PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan
kehidupan dan memenuhi tujuan hidup secara lebih efektif dan efisien. Pendidikan
lebih dari pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu,
sedangkan pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian
dengan segala aspek yang dicakupnya. Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak
pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan kepribadian anak
didik di samping transfer ilmu dan keahlian. Secara bahasa taksonomi diambil dari
bahasa Yunani yaitu tassein dan nomos. Tassein yang berarti untuk mengelompokan
dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi dapat pula di artikan secara istilah, yaitu
sebagai pengelompokan suatu hal berdasarkan hierarki tingkatan tertentu. Dimana
taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum atau masih luas dan taksonomi yang
lebih rendah bersifat lebih spesifik atau lebih teperinci.
Taksonomi dalam pendidikan dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan
pendidikan. Taksonomi bloom merupakan cara memungkinkan mengubah proses
pembelajaran. Taksonomi Bloom merujuk pada tujuan pembelajaran yang
diharapkan agar dengan adanya taksonomi ini para pendidik dapat mengetahui
secara jelas dan pasti apakah tujuan instruksional pelajaran bersifat kognitif, afektif
atau psikomotor. Taksonomi berarti klasifikasi hirarki dari sesuatu atau prinsip yang
mendasari klasifikasi.Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian
sampai pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema
taksonomi.
Saat guru berdiri dalam kelas dan memulai bercerita kepada murid-murid
tentang mata pelajaran, tentunya guru berharap murid antusias dengan pelajaran yang
diterangkannya. Guru menatap mata siswa satu persatu dan memperkirakan
kemampuan mereka dalam menangkap bahan pelajaran yang diberikan. Kegiatan
tersebut merupakan salah satu pemberian motivasi kepada siswanya.
Motivasi memegang peranan yang penting dalam proses belajar. Apabila guru
dan orang tua dapat memberikan motivasi yang baik pada siswa atau anaknya, maka
dalam diri siswa atau anak akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik.
Memberikan motivasi yang baik dan sesuai, maka anak dapat menyadari akan
manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai dengan belajar tersebut. Motivasi
belajar juga diharapkan mampu menggugah semangat belajar, terutama bagi para
siswa yang malas belajar sebagai akibat pengaruh negatif dari luar diri
siswa.Selanjutnya dapat membentuk kebiasaan siswa senang belajar, sehingga
prestasi belajarnya pun dapat meningkat.

B Rumusan Masalah
1 Apakah taksonomi itu?
2 Apakah taksonomi tujuan itu?
3 Apakah taksonomi tujuan pendidikan itu?
4 Apa motivasi itu?
5 Apa arti dari belajar?
6 Apakah motivasi belajar itu?
7 Apa Tinjauan Mengenai Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar?
C Tujuan
1 Mengetahui apa itu taksonomi.
2 Mengetahui taksonomi tujuan.
3 Mengetahui taksonomi tujuan pendidikan itu.
4 Mengetahui motivasi.
5 Mengetahui apa arti dari belajar.
6 Mengetahui motivasi belajar itu.
7 Mengetahui tinjauan mengenai faktor yang mempengaruhi motivasi belajar.

BAB II
PEMBAHASAN
2

A Taksonomi Tujuan Pendidikan


1. Taksonomi
Secara bahasa taksonomi diambil dari bahasa Yunani yaitu tassein dan nomos.
Tassein berarti untuk mengelompokkan dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi
dapat pula diartikan secara istilah yaitu, sebagai pengelompokan suatu hal
berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Dimana taksonomi yang lebih tinggi
bersifat lebih umum atau masih luas dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih
spesifik atau lebih terperinci.
2. Taksonomi Tujuan
Taksonomi disusun oleh satu tim yang diketuai oleh Benyamin S. Bloom dan
Krathwool (1964) sehingga Taksonomi pendidikan lebih dikenal dengan sebutan
Taksonomi Bloom. Sejarahnya bermula ketika pada awal tahun 1950-an, dalam
Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika, sebagai kelanjutan kegiatan serupa tahun
1948, Bloom dan kawan-kawan mengemukakan bahwa persentase terbanyak butir
soal evaluasi hasil belajar yang banyak disusun di sekolah hanya meminta siswa
untuk mengutarakan hafalan mereka. Hafalan sebenarnya merupakan taraf terendah
kemampuan berpikir (menalar, thinking behaviors). Artinya, masih ada taraf lain
yang lebih tinggi. Bloom, Englehart, Furst, Hill dan Krathwohl kemudian pada tahun
1956 merumuskan ada tiga golongan domain atau kawasan. Sampai saat ini
taksonomi Bloom banyak dipakai sebagai dasar pengembangan tujuan intruksional
diberbagai kegiatan latihan dan pendidikan.
3. Taksonomi Tujuan Pendidikan
Taksonomi tujuan pendidikan merupakan suatu kategorisasi tujuan pendidikan,
yang umumnya digunakan sebagai dasar untuk merumuskan tujuan kurikulum dan
tujuan pembelajaran.
Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan
pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu:
kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi
beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai
dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks.
Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari
tingkat yang lebih rendah.
Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawankawan pada tahun 1956, sehingga sering pula disebut sebagai "Taksonomi Bloom".
Ranah Kognitif adalah kemampuan berpikir, kompetensi memperoleh
pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan dan penalaran.

Ranah afektif adalah berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat


penerimaan atau penolakan terhadap suatu objek.
Ranah psikomotor adalah kompetensi melakukan pekerjaan dengan melibatkan
anggota badan, kompetensi yang berkaitan dengan gerak fisik.
Taksonomi Tujuan Pendidikan Menurut Bloom (Revisi)
1 Ranah Kognitif
1) Remember (Mengingat)
Mengingat adalah kemampuan memperoleh kembali pengetahuan yang
relevan dari memori jangka panjang. Kategori Remember terdiri dari proses
kognitif Recognizing (mengenal kembali) dan Recalling (mengingat). Untuk
menilai Remember, siswa diberi soal yang berkaitan dengan proses kognitif
Recognizing (mengenal kembali) dan Recalling (mengingat).
a. Recognizing (mengenal kembali)
Recognizing adalah memperoleh kembali pengetahuan yang relevan
dari memori jangka panjang kemudian membandingkannya dengan informasi
yang tersaji. Dalam Recognizing, siswa mencari potongan informasi dalam
memori jangka panjang yang identik atau hampir sama dengan informasi
yang baru disampaikan. Ketika menemui informasi baru, siswa menentukan
mana informasi yang berkaitan dengan pengetahuan yang sebelumnya
diperoleh kemudian mencari yang cocok.
b. Recalling (mengingat)
Recalling adalah memperoleh kembali pengetahuan yang sesuai dari
memori jangka panjang ketika merespon suatu masalah atau diberikan suatu
perintah. Perintah dapat berupa sebuah pertanyaan. Dalam Recalling, siswa
mencari sebagian informasi dalam memori jangka panjang, kemudian
membawanya untuk mengerjakan memori dimana informasi ini dapat
diproses.
2) Understand (Memahami)
Memahami adalah kemampuan merumuskan makna dari pesan
pembelajaran dan mampu mengkomunikasikannya dalam bentuk lisan, tulisan
maupun grafik. Siswa mengerti ketika mereka mampu menentukan hubungan
antara pengetahuan yang baru diperoleh dengan pengetahuan mereka yang lalu.
Kategori
Understand
terdiri
dari
proses
kognitif
Interpreting
(menginterpretasikan),
Exemplifying
(memberi
contoh),
Classifying
(mengklasifikasikan), Summarizing (menyimpulkan), Inferring (menduga),
Comparing (membandingkan), dan Explaining (menjelaskan)
a) Interpreting (menginterpretasikan)
Interpreting adalah kemampuan siswa untuk mengubah informasi yang
disajikan dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Interpreting dapat berupa
mengubah kalimat ke kalimat, gambar ke kalimat, angka ke kalimat, kalimat
ke angka, dan lain sebagainya.
4

b) Exemplifying (memberi contoh)


Exemplifying adalah kemampuan siswa untuk memberikan contoh yang
spesifik atau contoh mengenai konsep secara umum. Exemplifying dapat pula
berarti mengidentifikasi pengertian dari bagian-bagian pada konsep umum.
c) Classifying (mengklasifikasikan)
Classifying adalah ketika siswa mengetahui bahwa sesuatu merupakan bagian
dari suatu kategori. Classifying dapat diartikan pula sebagai mendeteksi ciri
atau pola yang menunjukkan bahwa ciri atau pola tersebut sesuai dengan
kategori tertentu atau konsep tertentu. Jika Exemplifying dimulai dari konsep
umum dan meminta siswa untuk mencari contoh khususnya, maka
Classifying dimulai dari contoh khusus dan meminta siswa untuk mencari
konsep umumnya.
d) Summarizing (menyimpulkan)
Siswa dikatakan memiliki kemampuan Summarizing ketika siswa dapat
memberikan pernyataan tunggal yang menyatakan informasi yang
disampaikan atau topik secara umum.
e) Inferring (menduga)
Inferring berarti dapat mencari pola dari beberapa contoh kasus. Siswa
dikatakan memiliki kemampuan Inferring jika siswa dapat membayangkan
konsep atau prinsip yang merupakan bagian dari contoh dengan cara
mengkode karakteristik yang sesuai dari masing-masing contoh dan lebih
penting lagi dengan tidak ada hubungan antara contoh-contoh tersebut.
f) Comparing (membandingkan)
Comparing adalah kemampuan menunjukkan persamaan dan perbedaan
antara dua atau lebih objek. Comparing dapat juga diartikan sebagai mencari
korespondensi satu-satu antara objek yang satu dengan objek yang lain.
g) Explaining (menjelaskan)
Explaining adalah kemampuan merumuskan dan menggunakan model sebab
akibat sebuah sistem. Siswa yang memiliki kemampuan menjelaskan dapat
menggunakan hubungan sebab akibat antar bagian dalam suatu sistem.
3) Apply (Menerapkan)
Menerapkan adalah kemampuan menggunakan prosedur untuk
menyelesaikan masalah. Siswa memerlukan latihan soal sehingga siswa terlatih
untuk mengetahui prosedur apa yang akan digunakan untuk menyelesaikan soal.
Kategori menerapkan (Apply) terdiri dari proses kognitif kemampuan
melakukan (Executing) dan kemampuan menerapkan (Implementing).
a) Executing (melakukan)
Dalam Executing, jika siswa menemui soal yang sudah dikenal, siswa akan
mengetahui prosedur yang akan digunakan. Keadaan yang sudah dikenal ini
sering memberikan petunjuk kepada siswa mengenai cara apa yang akan
digunakan. Executing lebih cenderung kepada kemampuan menyelesaikan
masalah secara skill dan algoritma daripada kemampuan teknik dan metode.
Skill dan algoritma memiliki ciri sebagai berikut: 1) langkah pengerjaan soal
5

lebih berurutan 2) jika setiap langkah dikerjakan dengan benar, maka hasil
yang akan diperoleh juga pasti benar.
b) Implementing (menerapkan)
Dalam Implementing, siswa memilih dan menggunakan prosedur untuk
menyelesaikan soal yang belum dikenal siswa. Karena itu, siswa harus
memahami benar masalah tersebut sehingga siswa dapat menemukan
prosedur yang tepat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Implementing berhubungan dengan dua kategori yang lain yaitu Understand
dan Create. Karena siswa belum mengenal soal yang dihadapi sehingga siswa
belum mengetahui prosedur apa yang akan digunakan. Karena itu,
kemungkinan prosedur yang akan digunakan bukan hanya satu, mungkin
membutuhkan beberapa prosedur yang dimodifikasi. Implementing
berhubungan dengan teknik dan metode daripada skill dan algoritma. Teknik
dan metode memiliki dua ciri: 1) prosedur mungkin lebih cenderung berupa
flowchart daripada langkah yang berurutan, karena itu prosedur memiliki
beberapa titik tujuan, 2) jawaban mungkin tidak tunggal. Jawaban yang tepat
mungkin terjadi jika setiap langkah dilakukan dengan benar.
4) Analyze (Menganalisis)
Menganalisis meliputi kemampuan untuk memecah suatu kesatuan
menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut
dihubungkan satu dengan yang lain atau bagian tersebut dengan keseluruhannya.
Analisis menekankan pada kemampuan merinci sesuatu unsur pokok menjadi
bagian-bagian dan melihat hubungan antar bagian tersebut. Di tingkat analisis,
seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi
atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk
mengenali pola atau hubungannya dan mampu mengenali serta membedakan
faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit. Kategori Apply
terdiri kemampuan membedakan (Differentiating), mengorganisasi (Organizing)
dan memberi simbol (Attributing)
a) Differentiating (membedakan)
Membedakan meliputi kemampuan membedakan bagian-bagian dari
keseluruhan struktur dalam bentuk yang sesuai.
b) Organizing (mengorganisasi)
Mengorganisasi meliputi kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur secara
bersama-sama menjadi struktur yang saling terkait.
c) Attributing (Memberi simbol)
Attributing adalah kemampuan siswa untuk menyebutkan tentang sudut
pandang, bias, nilai atau maksud dari suatu masalah yang diajukan.
Attributing membutuhkan pengetahuan dasar yang lebih agar dapat menerka
maksud dari inti permasalahan yang diajukan.
5) Evaluate (Menilai)

Menilai didefinisikan sebagai kemampuan melakukan judgement berdasar


pada kriteria dan standar tertentu. Kriteria sering digunakan adalah menentukan
kualitas, efektifitas, efisiensi, dan konsistensi, sedangkan standar digunakan
dalam menentukan kuantitas maupun kualitas.
Evaluasi mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat
mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban
pendapat itu yang berdasar kriteria tertentu. Adanya kemampuan ini dinyatakan
dengan memberikan penilaian terhadap sesuatu. Kategori menilai terdiri dari
Checking (mengecek) dan Critiquing (mengkritik).
a) Checking (mengecek)
Cheking adalah kemampuan untuk mengetes konsistensi internal atau
kesalahan pada operasi atau hasil. mendeteksi keefektifan prosedur yang
digunakan.
b) Critiquing (mengkritik)
Critique adalah kemampuan memutuskan hasil atau operasi berdasarkan
criteria dan standar tertentu. mendeteksi apakah hasil yang diperoleh
berdasarkan suatu prosedur menyelesaikan suatu masalah mendekati jawaban
yang benar.
6) Create (Berkreasi)
Create didefinisikan sebagai menggeneralisasi ide baru, produk atau cara
pandang yang baru dari sesuatu kejadian. Create di sini diartikan sebagai
meletakkan beberapa elemen dalam satu kesatuan yang menyeluruh sehingga
terbentuklah dalam satu bentuk yang koheren atau fungsional. Siswa dikatakan
mampu Create jika dapat membuat produk baru dengan merombak beberapa
elemen atau bagian ke dalam bentuk atau stuktur yang belum pernah diterangkan
oleh guru sebelumnya. Proses Create umumnya berhubungan dengan
pengalaman belajar siswa yang sebelumnya.
Proses Create dapat dipecah mnjadi tiga fase yaitu:
Masalah diberikan, dimana siswa mencoba untuk memahami soal, dan
mengeluarkan solusi yang mungkin;
Perencanaaan penyelesaian, di mana siswa memeriksa kemungkinan
dan memikirkan rancangan yang dilaksanakan;
Pelaksanaan penyelesian, di mana siswa berhasil melaksanakan
rencana.
Karena itu, proses kreatif dapat diartikan sebagai awalan yang memiliki
fase yang berbeda di mana akan muncul kemungkinan penyelesaian yang
bermacam-macam sebagaimana yang dilakukan siswa yang mencoba untuk
memahami soal (Generating). Langkah ini dilanjutkan dengan langkah yang
mengerucut, dimana siswa memikirkan metode penyelesaian dan
menggunakannya dalam rancangan kegiatan (Planning). Terakhir, rencana
dilaksanakan dengan cara siswa menyusun penyelesaian (Producing).

Ranah Afektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap (attitude), apresiasi (appreciation), dan
motivasi (motivation) siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Kartwohl & Bloom
(Dimyati & Mudjiono, 1994; Syambasri Munaf, 2001) membagi ranah afektif
menjadilima aspek, yaitu:
a Receiving (Penerimaan)
Merupakan tingkat afektif yang terendah, meliputi penerimaan secara pasif
terhadap suatu masalah, situasi, gejala, nilai dan keyakinan. Misalnya
mendengarkan dengan seksama penjelasan guru energi dan panas.
b Responding (Jawaban)
Merupakan bagian afektif yang meliputi keinginan dan kesenangan menanggapi
atau merealisasikan sesuatu sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat.
Misalnya menyerahkan laporan praktikum/tugas tepat waktu.
c Valuing (Penilaian)
Mengacu pada nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tertentu.
Reaksi-reaksi yang dapat muncul seperti menerima, menolak atau tidak
menghiraukan. Misalnya menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap alat-alat
laboratorium yang dipakai waktu praktikum dan bersikap jujur dalam kegiatan
pembelajaran.
d Organization (Organisasi)
Meliputi konseptualisasi nilai-nilai menjadi satu sistem nilai. Sikap-sikap yang
membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan
membentuk suatu sistem nilai internal. Sikap yang ditunjukkan misalnya mampu
menimbang akibat positif dan negatifnya tentang kemajuan sains terhadap
kehidupan umat manusia.
e Characterization (Karakteristik)
Merupakan keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang
mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Misalnya bersedia
mengubah pendapat jika ditunjukkan bukti-bukti yang tidak mendukung
pendapatnya.

Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan manual fisik (skills) dan
kemampuan bertindak individu. Harrow (Syambasri Munaf, 2001) mengembangkan
ranah psikomotor dengan enam jenjang, yaitu:
a Gerakan refleks adalah gerakan yang tidak disadari.
b Keterampilan gerakan-gerakan dasar yaitu gerakan yang menuntut kepada
keterampilan yang sifatnya kompleks.
c Kemampuan perseptual, termasuk membedakan visual, auditif, motoris.
d Kemampuan dalam bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan ketepatan.
e Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai kompleks.
f Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi, seperti gerakan ekspresif dan
interpretatif.

4. Motivasi Belajar
1 Motivasi

Menurut pendapat A.M. Sardiman (2004:75), motivasi dapat dikatakan


sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan
arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan dari subjek belajar itu dapat dicapai.
Dikatakan keseluruhan karena pada umumnya ada beberapa motif yang sama-sama
menggerakan siswa untuk belajar. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang
bersifat non-intelektual. Perananya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah,
merasa senang dan semangat untuk belajar.
Persoalan motivasi ini, dapat juga dikatakan dengan persoalan minat. Minat
diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang memilih ciri-ciri atau
arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau
kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu apa yang dilihat seseorang sudah
tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempunyai
hubungan dengan kepentingan sendiri. Hal ini menunjukan bahwa minat merupakan
kecenderungan jiwa seseorang kepada seseorang. Menurut A.M Sadiman (2004:76)
minat timbul tidak secara tiba-tiba atau spontan melainkan akibat dari partisipasi,
pengalaman, kebiasaan, pada waktu belajar. Oleh karena itu yang penting
bagaimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus
belajar.
2

Belajar
Belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang
memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari
terbentuknya respon utama, dengan sarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah
laku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan
sementara oleh suatu hal (Nasution, dkk: 1992: 3).
Belajar adalah suatu proses yamg ditandai dengan adanya perubahan pada diri
seseorang. Perubahan dalam diri seseorang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk
seperti berubahnya pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya,
keterampilan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain
aspek yang ada pada individu (Sudjana,2002 :280).
Djamarah mengemukakan bahwa belajar adalah suatu aktifitas yang
dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah
dipelajari (Djamarah,1991:19-21).
Sedangkan menurut Slameto belajar adalah merupakan suatu proses usaha
yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003 : 2).

Definisi belajar menurut Cronbach yang dikutip oleh A.M. Sardiman


(2004:20) belajar adalah perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari
pengalaman individu itu sendiri.
Pada dasarnya belajar merupakan kebutuhan dasi setiap individu. Dengan
belajar maka seseorang dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya dan
mendapatkan hal-hal baru yang sebelumnya belum diketahui.
Belajar merupakan usaha yang dilakukan secara sadar untuk mendapat dari
bahan yang dipelajari dan adanya perubahan dalam diri seseorang baik itu
pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan tingkah lakunya.
3

Motivasi Belajar
Motivasi belajar siswa adalah suatu upaya atau dorongan yang mendorong
siswa mengarah pada perubahan tingkah laku terutama dalam proses belajar
mengajar.

Hubungan Motivasi dengan Belajar


Pengertian motivasi menurut Mc. Donald, yang dikutip oleh A.M Sadirman
(2004:73) bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang
ditandai dengan munculnya feling dan di dahului oleh tanggapan terhadap adanya
tujuan.

Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga
elemen penting yaitu :
a Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap
individu manusi. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan
energi didalam sistem yang ada pada organisme manusia, karena menyangkut
perubahan energi manusia (walaupun motivasi muncul dari dalam diri manusia),
penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
b Motivasi ditandai dengan munculnya, rasa/feling, efeksi seseorang. Dalam hal ini
motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, efeksi dan emosi yang
dapat menentukan tingkah laku manusia.
c Motivasi akan dirangsang karena ada tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini
sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang
muncul dari dalam diri seseorang, tetapi kemunculannya karena
terangsang/terdorong oleh unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan akan
menyangkut dengan kebutuhan.
Disimpulkan bahwa motivasi dalam belajar akan mempengaruhi keberhasilan
dalam belajar. Karena setiap individu butuh akan belajar, dengan adanya motivasi
sebagai pendorong, seorang individu akan mampu mendapatkan apa yang menjadi
kebutuhanya. Belajar tanpa dorongan yang kuat pada diri individu tidak akan
menghasilkan sesuatu yang diharapkan.

10

Ciri-ciri Motivasi Belajar


Orang termotivasi dapat dilihat dari ciri-ciri yang ada pada diri orang
tersebut. Berikut ini akan diuraikan beberapa pendapat tentang ciri-ciri dalam
motivasi belajar siswa:
(1) Dedi Supriyadi (2005:86), berpendapat bahwa motivasi belajar siswa dapat
diamati dari beberapa aspek yaitu: memperhatikan materi, ketekunan dalam
belajar, ketertarikan dalam belajar, keseringan belajar, komitmennya dalam
memenuhi tugas-tugas sekolah, semangat dalam belajar dan kehadiran siswa
di sekolah.
(2) Sardiman (2008:83) mengemukakan ciri-ciri orang yang bermotivasi adalah:
a. Tekun menghadapi tugas
b. Ulet menghadapi kesulitan
c. Menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah
d. Lebih senang bekerja mandiri
e. Cepat bosan pada tugas-tugas rutin
f. Dapat mempertahankan pendapatnya
g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu
h. Senang memecahkan masalah soal-soal
(3) Ciri-ciri motivasi belajar menurut Hamzah B. Uno (2008:23) dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Adanya hasrat dan keinginan berhasil
b) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar
c) Adanya harapan dan cita-cita masa depan
d) Adanya penghargaan dalam belajar
e) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar
f) Adanya lingkungan belajar yang kondusif
Dari beberapa ciri-ciri motivasi menurut para ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukan
hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun,
menunjukan ketertarikan, senang mengikuti pelajaran, selalu memperhatikan
pelajaran, semangat dalam mengikuti pelajaran, mengajukan pertanyaan,
berusaha mempertahankan pendapat, senang memecahkan masalah soal-soal,
maka pembelajaran akan berhasil dan seseorang yang belajar itu dapat mencapai
prestasi yang baik.

Teori-teori dalam Motivasi Belajar


a Teori Kebutuhan
Teori ini berfokus pada tiga kebutuhan :
1 Kebutuhan Pencapaian: Dorongan untuk melebihi, mencapai standarstandar, berusaha keras untuk berhasil. Individu dengan kebutuhan ini
lebih menyukai situasi-situasi pekerjaan yang memiliki tanggung jawab
pribadi, umpan balik, dan resiko tingkat menengah. Ketika karakteristikkarakteristik ini merata, individu yang berprestasi tinggi akan sangat
termotivasi.
2 Kebutuhan Kekuatan (nPow): Keinginan untuk memiliki pengaruh, dan
mengendalikan individu lain. Individu dengan nPow tinggi suka
11

bertanggung jawab, berjuang untuk mempengaruhi individu lain, senang


ditempatkan dalam situasi yang kompotitif dan berorientasi status, serta
cendrung lebih khawatir dengan wibawa.
Kebutuhan Hubungan: Keinginan untuk menjalin suatu hubungan antar
personal yang ramah dan akrab. Kebutuhan ini mendapatkan perhatian
yang paling sedikit dari para peneliti. Individu dengan motif hubungan
yang tinggi berjuang untuk persahabatan, lebih menyukai situasi-situasi
yang kooperatif dari pada situasi-situasi yang kompetitif dan
menginginkan hubungan-hubungan yang melibatkan tingkat pengertian
mutual yang tinggi.

Teori Efektifitas Diri


Teori Efektifitas diri ( Self-Efficacy yang juga dikenal sebagai teori
kognisi social atau teori pembelajaran social ) Merujuk padan keyakinan
individu bahwa ia mampu mengerjakan suatu tugas. Semakin tinggi
efektifitas diri individu, semakin tinggi rasa percaya diri yang ia miliki dalam
kemampuan untuk berhasil dalam suatu tugas. Jadi, dalam situasi-situasi sulit,
individu merasa bahwa individu yang memiliki efektifitas diri rendah
cenderung mengurangi usaha atau menyerah, sementara individu dengan
efektifitas diri tinggi akan berusaha lebih keras untuk mengalahkan tantangan.
Selain itu, individu yang memiliki efektifitas diri yang tinggi tampak
merespon umpan balik negatif dengan usaha dan motivasi yang lebih tinggi,
sementara individu dengan efektifitas diri rendah cenderung mengurangi
usaha ketika diberi umpan balik negative.
Teori Penguatan ( Reinforcement Theory )
Dalam teori ini mempunyai sebuah pendekatan perilaku, yang
menunjukkan bahwa penguatan mempengaruhi perilaku. Teori ini
mengabaikan keadaan batin individu dan hanya terpusat pada apa yang terjadi
pada seseorang ketika ia melakukan tindakan.
Teori Keadilan
Menyatakan bahwa individu cenderung membandingkan masukanmasukan dan hasil pekerjaan mereka dengan masukan masukan dan hasil
pekerjaan orang lain dan kemudian merespon untuk menghilangkan
ketidakadilan.
Teori Harapan.
Menunjukkan bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak
dalam cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa
tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang ada dan pada daya tarik dari
hasil itu terhadap individu tersebut. Teori ini berfokus pada tiga hubungan :
1 Hubungan usaha kinerja. Kemungkinan yang dirasakan oleh individu
yang mengeluarkan sejumlah usaha akan menghasilkan kinerja.
2 Hubungan kinerja - penghargaan. Tingkat sampai mana individu tersebut
yakin bahwa bekerja pada tingkat tertentu akan menghasilkan pencapaian
yang diinginkan.
3 Hubungan penghargaan tujuan pribadi. Tingkat sampai mana
penghargaan-penghargaan yang diberikan memuaskan tujuan-tujuan
12

pribadi atau kebutuhan-kebutuhan seorang individu dan daya tarik dari


penghargaan-penghargaan potensial bagi individu tersebut.
5. Tinjauan Mengenai Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
1 Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Menurut pendapat Purwanto (2002:102) motivasi belajar siswa dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari diri siswa (faktor
internal) maupun dari luar siswa (faktor eksternal). Faktor internal diantaranya
adalah minat, bakat, kebiasaan belajar dan orientasi diri. Sedangkan faktor
eksternal diantaranya adalah faktor metode pembelajaran dan lingkungan baik
berasal dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Selain faktor
lingkungan keluarga dan sekolah faktor eksternal melingkupi sarana dan prasarana
yang mendukung kegiatan belajar mengajar.
Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan proses belajar dan mengajar
adalah dengan meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar. Dalam pendapat lain menurut Slameto (1997:71), faktor lain
yang dapat mempengaruhi belajar yakni:
a

Faktor-faktor intern
1 Faktor jasmaniah
a Faktor kesehatan
b Faktor cacat tubuh
2 Faktor psikologis
a Intelegensi
b Minat dan motivasi
c Perhatian dan bakat
d Kematangan dan kesiapan
3 Faktor kelelahan
a Kelelahan jasmani
b Kelelahan rohani

Faktor ekstern
1 Faktor keluarga
a Cara orang tua mendidik
b Relasi antara anggota keluarga
c Suasana rumah
d Keadaan gedung dan metode mengajar
2 Faktor sekolah
a Metode mengajar dan kurikulum
b Relasi guru dan siswa
c Disiplin sekolah
d Alat pengajaran dan waktu sekolah
e Keadaan gedung dan metode mengajar
f Standar pelajaran di atas ukuran dan tugas rumah
3 Faktor masyarakat
a Kegiatan siswa dalam masyarakat
b Mass media dan teman bergaul
c Bentuk kehidupan masyarakat
13

Adanya berbagai faktor yang mempengaruhi belajar siswa di atas, dapat


memahami bahwa adanya faktor tersebut dapat memberikan suatu kejelasan
tentang proses belajar yang dipahami oleh siswa. Dengan demikian seorang guru
harus benar-benar memahami dan memperhatikan adanya faktor tersebut pada
siswa, sehingga didalam memberikan dan melaksanakan proses belajar mengajar
harus memperhatikan faktor tersebut, baik dari psikologis dan lingkungan dengan
kata lain faktor intern dan ekstren.
Terkait dengan hal yang tersebut di atas, maka Dimyanti dan Mudjiono
(1999:100) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
belajar antara lain:
a Cita-cita / aspirasi
Cita-cita merupakan satu kata tertanam dalam jiwa seorang individu. Cita-cita
merupakan angan-angan yang ada di imajinasi seorang individu, dimana citacita tersebut dapat dicapai akan memberikan suatu kemungkinan tersendiri
pada individu tersebut. Adanya cita-cita juga diiringi oleh perkembangan dan
pertumbuhan keperibadian individu yang akan menimbulkan motivasi yang
besar untuk meraih cita-cita atau kegiatan yang diinginkan.
b Kemampuan siswa
Kemampuan dan kecakapan setiap individu akan memperkuat adanya motivasi.
Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan membaca, memahami
sehingga dorongan yang ada pada diri individu akan makin tinggi.
c Kondisi siswa dan lingkungan
Kondisi siswa adalah kondisi rohani dan jasmani. Apabila kondisi stabil dan
sehat maka motivasi siswa akan bertambah dan prestasinya akan meningkat.
Begitu juga dengan kondisi lingkungan siswa (keluarga dan masyarakat)
mendukung, maka motivasi pasti ada dan tidak akan menghilang.
d Unsur dinamis dan pengajaran
Dinamis artinya seorang individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekitar, tempat dimana seorang individu akan memperoleh pengalaman.
e Upaya guru dalam pengajaran siswa
Guru adalah seorang sosok yang dikagumi dan insan yang mempunyai peranan
penting dalam dunia pendidikan. Seorang guru dituntut untuk profesional dan
memiliki keterampilan.
Pendapat lain dikemukakan oleh Anshory (2011) mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu:
a Kematangan
Dalam pemberian motivasi, faktor kematangan fisik, sosial dan psikis haruslah
diperhatikan, karena hal itu dapat mempengaruhi motivasi. Seandainya dalam
pemberian motivasi itu tidak memperhatikan kematangan, maka akan
mengakibatkan frustasi dan mengakibatkan hasil belajar tidak optimal.
b Usaha yang bertujuan
Setiap usaha yang dilakukan mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Semakin
jelas tujuan yang ingin dicapai, akan semakin kuat dorongan untuk belajar.
14

Pengetahuan mengenai hasil dalam motivasi


Dengan mengetahui hasil belajar, siswa terdorong untuk lebih giat belajar.
Apabila hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa akan berusaha untuk
mempertahankan atau meningkat intensitas belajarnya untuk mendapatkan
prestasi yang lebih baik di kemudian hari. Prestasi yang rendah menjadikan
siswa giat belajar guna memperbaikinya.
Partisipasi
Dalam kegiatan mengajar perluh diberikan kesempatan pada siswa untuk
berpartisipasi dalam seluruh kegiatan belajar. Dengan demikian kebutuhan
siswa akan kasih sayang dan kebersamaan dapat diketahui, karena siswa
merasa dibutuhkan dalam kegiatan belajar itu.
Penghargaan dan hukuman
Pemberian penghargaan itu dapat membangkitkan siswa untuk mempelajari
atau mengerjakan sesuatu. Tujuan pemberian penghargaan berperan untuk
membuat pendahuluan saja. Pengharagaan adalah alat, bukan tujuan.
Hendaknya diperhatikan agar penghargaan ini menjadi tujuan. Tujuan
pemberian penghargaan dalam belajar adalah bahwa setelah seseorang
menerima pengharagaan karena telah melakukan kegiatan belajar yang baik, ia
akan melanjutkan kegiatan belajarnya sendiri di luar kelas. Sedangkan
hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara
tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.

Dalam suatu kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan tidak terlepas adanya
fungsi dan kegunaan. Motivasi dalam belajar yang merupakan suatu dorongan
memiliki fungsi, menurut pendapat A.M. Sardiman (2004 : 83) fungsi dari
motivasi yaitu motivasi adalah sebagai pendorong usaha dan pencapaian
prestasi. Jelaslah bahwa fungsi motivasi itu memberikan suatu nilai atau itensitas
tersendiri dari seorang siswa dalam meningkatkan motivasi belajar dan prestasi
belajarnya.
2

Cara-Cara Menimbulkan Motivasi Ekstrinsik


Menurut Prayitno (1989:17), ada beberapa cara yang sering digunakan
guru untuk untuk merangsang minat siswa yang merupakan dorongan ekstrinsik,
diantaranya:
a Memberikan penghargaan dan celaan.
b Mengadakan persaingan atau kompetisi.
c Memberikan hadiah dan hukuman.
d Pemberitahuan tentang kemajuan belajar yang telah dicapai siswa.
Pendapat lain dikemukakan oleh Uzer Usman (1995:29), bahwa terdapat
beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi
intrinsik, yaitu:
a Kompetisi (persaingan): Guru berusaha menciptakan persaingan diantara
siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil
prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.
15

e
f

Pace making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan
belajar-mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa
tujuan pembelajaran khusus yang akan dicapainya sehingga dengan demikian
siswa berusaha untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus tersebut.
Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin
jelas tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan
makin besar pula motivasi dalam melakukan suatu perbuatan.
Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas,
kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan
membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak
memberikan kesempatan kepada anak untuk maraih sukses dengan usaha
sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
Minat yang besar: Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.
Mengadakan penilaian atau tes: Pada umumnya semua siswa mau belajar
dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan
bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila
mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar
dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu
merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.

BAB III
PENUTUP
A Kesimpulan
Taksonomi merupakan pengelompokan suatu hal berdasarkan hierarki
(tingkatan) tertentu. Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk
mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi
menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Taksonomi
tujuan pembelajaran dalam kawasan kognitif meliputi hafalan, pemahaman,
penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Dan pada kawasan afektif meliputi
penerimaan, jawaban, penilaian, organisasi dan karakteristik. Sedangkan pada
kawasan psikomotor yaitu gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar,
kemampuan perseptual, kemampuan dalam bidang fisik, gerakan skill dan
kemampuan dalam hal komunikasi.
Motivasi belajar siswa adalah suatu upaya atau dorongan yang
mendorong siswa mengarah pada perubahan tingkah laku terutama dalam proses
belajar mengajar. Motivasi juga mempunyai hubungan dalam proses belajar
mengajar, tepatnya motivasi mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam
belajar. Motivasi yang ada pada diri setiap orang itu memiliki ciri-ciri, yaitu
tekun, ulet, mempunyai minat, lebih senang bekerja mandiri, cepat bosan pada
16

tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat, dll. Selain itu terdapat faktor yang
dapat mempengaruhi motivasi belajar yaitu faktor kematangan, usaha yang
bertujuan, pengetahuan mengenai hasil dalam motivasi, partisipasi, penghargaan
dan hukuman.
Cara-cara untuk membangkitkan motivasi belajar yaitu dengan kompetisi
(persaingan), pace making (membuat tujuan sementara atau dekat), tujuan yang
jelas, kesempurnaan untuk sukses, minat yang besar, dan mengadakan penilaian
atau tes.
B Saran
Sebagai calon pendidik sebaiknya kita harus mengetahui taksonomi
pendidikan agar kita bisa mengelompokkan tujuan pendidikan. Juga harus dapat
memotivasi siswanya dalam belajar. Agar siswa dapat memperoleh hasil belajar
yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Luqman, Muhammad Hanif. 2012. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Motivasi Siswa Jurusan Teknik Gambar Bangunan di SMKN 2 Garut Dalam
Mengikuti
Pembelajaran
Di
Dalam
Kelas.
aresearch.upi.edu/operator/upload/s_tb_0700430_chapter2(1).pdf. Diakses pada
tanggal 12 September 2015 pukul 8.19 WIB.
M.

Bloom. 2012. Taksonomi Tujuan


Pendidikan Menurut Bloom.
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/IKA_MUSTIKA_S
ARI/EVALUASI_PENDIDIKAN/BAHAN_AJAR_(MINGGU_KE_3)_TAKSO
NOMI_BLOOM.pdf. Diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 8.35 WIB.

Ria, L. Vivi. 2012. Peningkatan Motivasi Belajar IPS Siswa Kelas VII.
eprints.uny.ac.id/8864/3/BAB%202%20-%2008416241001.pdf. Diakses pada
tanggal 2 Oktober 2015.
Udin, Taufiq. 2010. Pengertian Motivasi Belajar Siswa Menurut Para Ahli Definisi.
https://taufikudin.wordpress.com/category/pengertian-motivasi-belajar-siswamenurut-para-ahli-definisi/. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2015 pukul 20.30
WIB.
17

18