Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM BFFK

PEMBUATAN KURVA KALIBRASI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Praktikum BFFK pada Semester 7 Program Studi
Farmasi Angkatan 2013

OLEH
KELOMPOK 1
Ahmad Hasyim Abbas

1113102000010

Aisyah

1113102000030

Puspa Novadianti S.

1113102000028

Rizki Marta Putri

1113102000049
KELAS B

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
SEPTEMBER/2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metode yang teliti dan akurat dibutuhkan dalam penetapan kadar
parasetamol dalam suatu sediaan. Sebelum menetapkan kadar parasetamol terlebih
dahulu dilakukan validasi metode. Prosedur validasi metode digunakan untuk
membuktikan bahwa metode analisis memberikan hasil yang sesuai dan ketelitian
dan kecermatan tinggi. Pembuatan kurva kalibrasi dan penentuan panjang
gelombang maksimum termasuk ke dalam langkah validasi metode. Praktikum
BFFK kali ini bertujuan untuk menetapkan kurva kalibrasi dan panjang
gelombang maksimum menggunakan metode analisis spektrofotometri UV-Vis.
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya
oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu (Day dan Underwood,
2002). Pengukuran spektrofotometri menggunakan alat spektrofotometer yang
melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis,
sehingga spektrofotometer UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif
dibandingkan kualitatif. Konsentrasi dari analit di dalam larutan bisa ditentukan
dengan

mengukur

absorban

pada

panjang

gelombang

tertentu

dengan

menggunakan hukum Lambert-Beer (Rohman, 2007).


1.2 Rumusan Masalah
1. Berapa panjang gelombang maksimum larutan parasetamol?
2. Bagaimana persamaan dan linearitas kurva standar parasetamol?
3. Mengapa tidak perlu dilakukan prosedur operating time?
4. Bagaimana profil faktor yang memengaruhi nilai koefisien relasi?
1.3 Tujuan Praktikum
1. Untuk mengetahui panjang gelombang maksimum larutan parasetamol.
2. Untuk mengetahui persamaan dan linearitas kurva standar parasetamol.
3. Untuk memahami alasan tidak dilakukan prosedur operating time.
4. Untuk memahami profil faktor yang memengaruhi nilai koefisien relasi.
1.4 Manfaat Praktikum
2.1 Dapat menentukan panjang gelombang maksimum melalui spektrofotometri
UV-Vis.

2.2 Dapat membuat kurva kalibrasi parasetamol menggunakan instrumen


spektrofotometri UV-Vis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Parasetamol (Acetaminophen)

Struktur Kimia

Kandungan

Rumus Kimia
BM
Pemerian
Kelarutan

:
:
:
:

Gambar 2.1 Struktur Kimia Acetaminophen


99.0 % sampai 101.0 % (substansi kering)
(British Pharmacopeia, 2009; Hal.4548)
C8H9NO2
151,16
Serbuk hablur putih; tidak berbau; sedikit pahit
Larut dalam air mendidihdan dalam NaOH 1 N;

Penetapan Kadar

mudah larut dalam etanol


Larutan baku Timbang

seksama

sejumlah

parasetamol BPFI, larutkan dalam air sehingga


kadar lebih kurang 12g per ml
Larutan uji Timbang seksama lebih kurang 120
mg, masukan ke dalam labu terukue 500 ml,
larutkan dalam 10 ml methanol P, encerkan
dengan air sampai tanda. Masukan 5,0 ml larutan
ke dalam terukur 100 ml, encerkan dengan air
sampai tanda dan campur. Ukur serapan Lrutan uji
dan Larutan baku pada panjang gelombang
maksimum (maks) 244 nm, terhadap air sebagai
blanko.
HItung dalam jumlah mg, C8H9NO2 dengan
rumus
10 C

Au
As

C adalah kadar Parasetamol BPFI dalam g per ml


larutan baku; Au dan As berturut-turut adalah
Wadah dan Penyimpanan

serapan larutan uji dan serapan arutan baku.


Dalam wadah tertutup rapat dan tidak tembus
cahaya
(FI IV, 1995 ; Hal. 649)

Kegunaan

Analgesik dan antipiretik

(British Pharmacopeia, 2009; Hal. 4548)


2.2 Sodium Hidroksida
Rumus Kimia
BM
Kegunaan
Pemerian

:
:
:
:

NaOH
40
Alkalizing agent; buffering agent
Massa berwarna putih atau hamper putih. Biasa
berbentuk small pellets, flakes, sticks dan berbagai
bentuk. Jika terkena udara cepat menyerap karbon

Titik leleh
Kelarutan

Stabilitas

:
:

dioksida dan air


318 oC

Tabel 1. Kelarutan NaOH


Ketika terkna udara, cepat menyerap kelembaban
tetapi kembali menjadi padatan saat menyerap

Inkompatibilitas

karbondioksida dan membentuk sodium karbonat


Merupakan basa kuat dan inkompatibel dengan
senyawa yang mudah terhidrolisis dan teroksidasi.
NaOH akan bereaksi dengan asam, ester dan eter

Penyimpanan

terutama dalam bentuk cairan


Disimpan pada wadah kedap udara, non-metal pada

tempat sejuk dan kering


(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Ed, 2009; Hal. 648)
2.3 Spektrofotometer UV-Vis
Spektrofotometri serap merupakan pengukurn interaksi antara radiasi
elektromagnetik panjang gelombang tertentu yang sempit dan mendekati
monokromatik, dengan molekul atau atom dari suatu zat kimia. Hal ini didasarkan
pada kenyataan bahwa molekul selalu mengabsorpsi cahaya elektromagenetik jika
frekuensi cahaya tersebut sama dengan frekuensi getaran dari molekul tersebut.
Elektron yang terikat dengan elektron yang tidak terikat akan tereksitasi pada
suatu daerah frekuensi, yang sesuai dengan cahaya ultraviolet dan cahaya tampak

(UV-Vis). Spektrum absorbsi daerah ini adalah sekitar 220 nm sampai 800 nm
dan dinyatakan sebagai spectrum elektron. Suatu spektrum ultraviolet meliputi
bagian Ultraviolet (190-380nm) dan (spektrum Visibel) bagian sinar tampak (380780). Instrumentasi dari spektrofotometer UV-Vis ini dapat diuraikan sebagai
berikut.
1. Sumber energi cahaya yang berkesinambungan yang meliputi daerah
spektrum yang mana alat tersebut dirancang untuk beroperasi
2. Monokromator, yaitu sebuah perangkat untuk mempersempit panjang
gelombang dari spectrum lebar ysng dipancarrkan oleh sumber cahaya
3. Wadah untuk sampel (kufet)
4. Detektor, berupa transduser yang mengubah energi cahaya menjadi isyarat
listrik
5. Amplifier dan rangkaian untuk memembuat isyarat dapat dibaca
6. Sistem baca
(Ibnu Ghalib, 2009; Hal 261)

Gambar 2.2 Instrumentasi Spektrofotometer UV- Vis


Sumber: sites.cord.edu

2.4 Pembuatan Kurva Kalibrasi


2.4.1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Pada Parasetamol Panjang gelombang maksimum ( maks)
merupakan panjang gelombang dimana terjadi eksitasi elektronik yang
memberikan absorbansi maksimum. Alasan dilakukan pengukuran pada
panjang gelombang maksimum adalah perubahan absorban untuk setiap

satuan kosentrasi adalah paling besar pada panjang gelombang maksimum,


sehingga akan diperoleh kepekaan analisis yang maksimum.
Penentuan panjang gelombang pada penelitian ini dilakukan
dengan mengukur absorbansi dari parasetamol pada panjang gelombang
ultraviolet yaitu antara panjang gelombang 200 nm 400 nm. Secara
teoritis serapan maksimum untuk parasetamol adalah 244 nm, bila terjadi
pergeseran disebabkan adanya gugus aukskrom pada parasetamol memiliki
yang terikat pada gugus kromofor. Apabila Auksokrom terikat pada gugus
kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorbansi menuju ke
panjang gelombang yang lebih besar (pergeseran batokromik) disertai
dengan peningkatan intensitas (hiperkromik).
2.4.2 Kurva Baku
Kurva baku adalah kurva yang diperoleh dengan memplotkan
nilai absorban dengan kosentrasi larutan standar yang bervariasi
menggunakan panjang gelombang maksimum. Kurva ini merupakan
hubungan antara absorbansi dengan kosentrasi. Bila hukum Lambert-Beer
terpenuhi maka kurva kalibrasi berupa garis lurus. Pada pembuatan kurva
baku ini digunakan persamaan garis yang diperoleh dari metode kuadrat
terkecil yaitu y = bx +a, Persamaan ini akan menghasilkan koefisien
korelasi (r). Nilai koefisien korelasi yang memenuhi persyaratan adalah
lebih dari 0,9770. (Grace et al, 2015)

Gambar 2.3 Kurva Kalibrasi

Sumber : Grace et al, 2015

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1
Bahan
a. Air suling;
b. Parasetamol.
3.1.2

Alat
a. Alat-alat gelas laboratorium;
b. spektrofotometer UV-Vis;
c. mikropipet dan tip.

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Menentukan Panjang Gelombang Maksimum
1. Dibuat tiga macam kadar larutan parasetamol: 5 ppm, 10 ppm, dan 15
ppm.
2. Dibaca intensitas serapan yang terjadi pada spektrofotometer UV-Vis
pada panjang gelombang 200-400 nm.

3. Diplotkan serapan yang terbaca terhadap panjang gelombang dan


ditetapkan berapa panjang gelombang maksimumnya.
3.2.1 Membuat Kurva Kalibrasi
1. Dibuat satu seri larutan obat dalam air dengan kadar 6 ppm, 8 ppm, 10
ppm, 12 ppm dan 14 ppm.
2. Dibaca intensitas serapannya yang terjadi dari masing-masing kadar
pada gelombang yang telah ditemukan sebelumnya.
3. Dilihat persamaan dari kurva baku menggunakan aplikasi Ms. Excel,
kemudian dihitung koefisien korelasinya.
3.3 Perhitungan
1. 6 ppm dalam labu ukur 25 ml
V1.N1 = V2.N2
V1. 1000 ppm = 25 ml. 6 ppm
V1 = 150/1000
V1 = 0,15 ml / 150 l
2. 8 ppm dalam labu ukur 25 ml
V1.N1 = V2.N2
V1. 1000 ppm = 25 ml. 8 ppm
V1 = 200/1000
V1 = 0,2 ml / 200 l
3. 10 ppm dalam labu ukur 25 ml
V1.N1 = V2.N2
V1. 1000 ppm = 25 ml. 10 ppm
V1 = 250/1000
V1 = 0,25 ml / 250 l
4. 12 ppm dalam labu ukur 25 ml
V1.N1 = V2.N2
V1. 1000 ppm = 25 ml. 12 ppm
V1 = 300/1000

V1 = 0,3 ml / 300 l
5. 14 ppm dalam labu ukur 25 ml
V1.N1 = V2.N2
V1. 1000 ppm = 25 ml. 14 ppm
V1 = 350/1000
V1 = 0,35 ml / 350 l

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Gambar

Keterangan
Pembuatan larutan

Perhitungan
Mr NaOH = 40

alkali 0,1 N

N NAOH = 0.1
V= 500 mL

N =

gram
Mr

1000
500

1.1 =

gram
40

1000
500

1.1 =

gram
40

x2

4
2

= 2 gram

Pembuatan larutan
induk parasetamol
(1000 ppm)

x
100 ml

1000 ppm =
1 mg
ml

x
100 ml

= 100 mg

Pengenceran larutan
parasetamol 10 ppm

V1.M1

= V2. M2

(labu 10 mL)

10 ml . 10 ppm = X . 1000 ppm


X

= 0,1 ml =100 l

Pengukuran larutan

Panjang gelombang maksimum

parasetamol 10 ppm

= 256 nm

dengan menggunakan
alat spektrofotometri

Absorbansi = 0,388

Pembuatan seri

Konsentrasi 6 ppm :

konsentrasi larutan

V1.M1 = V2.M2

parasetamol

25 ml . 6 ppm = X . 1000 ppm

(menggunakan labu 25

mL)

=
25 ml .6 ppm
1000 ppm

= 0.15 ml = 150 l

Konsentrasi 8 ppm :
V1.M1 = V2.M2
25 ml . 8 ppm = X . 1000 ppm

=
25 ml .8 ppm
1000 ppm

= 0.2 ml = 200 l

Konsentrasi 12 ppm :
V1.M1 = V2.M2
25 ml . 12 ppm = X . 1000 ppm
X

=
25 ml .12 ppm
1000 ppm

= 0.3 ml = 300 l

Konsentrasi 14 ppm :
V1.M1 = V2.M2
25 ml . 14 ppm = X . 1000 ppm
X

=
25 ml .14 ppm
1000 ppm

= 0.35 ml = 350 l

4.1.1 Panjang Gelombang Maksimum Larutan Parasetamol

Peak
1
2

Panjang gelombang
256 nm
215,5 nm

Absorbansi (A)
0,388
0,755

4.1.1 Kurva Standar Larutan Parasetamol


4.1.2.1Kurva Standar Kelompok 1 dan 2 B
Konsentrasi (ppm)
6
8
12
14

Absorbansi
0,214
0,281
0,540
0,669

Kurva Standar Parasetamol


kelompok 1 & 2 B
0.8
0.6
Absorbansi

0.4

f(x) = 0.06x - 0.16


R = 0.99

0.2
0
5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Konsentrasi (ppm)

4.1.2.2 Kurva Standar Kelompok 3 & 4 B

a
Linear (a)

Konsentrasi (ppm)

Absorbansi 1

Absorbansi 2

6
8
10
12
14

0,212
0,277
0,330
0,415
0,512

0,212
0,279
0,331
0,414
0,512

Absorbansi ratarata
0,212
0,278
0,330
0,414
0,512

Kurva Standar Parasetamol


kelompok 3 & 4 B
0.6
0.5

f(x) = 0.04x - 0.02


R = 0.99

0.4
Absorbansi

0.3

a
Linear (a)

0.2
0.1
0
5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Konsentrasi (ppm)

4.1.2.3 Kurva Standar Kelompok 1 & 2 D


Konsentrasi (ppm)
8
10
12
14

Absorbansi
0,262
0,335
0,405
0,483

Kurva Standar Parasetamol


Kelompok 1& 2 D
0.6
0.5
f(x) = 0.04x - 0.05
R = 1

0.4
Absorbansi

0.3

A
Linear (A)

0.2
0.1
0
7

9 10 11 12 13 14 15

Konsentrasi (ppm)

4.1.2.4 Kurva Standar Kelompok 3 & 4 D


Konsentrasi (ppm)
8
10
12
14

Absorbansi
0,254
0,331
0,398
0,482

Kurva Standar parasetamol


kelompok 3 &4 D
0.6
f(x) = 0.04x - 0.05
R = 1

0.4
Absorbansi

A
Linear (A)

0.2
0
7

9 10 11 12 13 14 15

Konsentrasi (ppm)

4.1.2.5 Kurva Standar Kelompok 1 & 2 A


Konsentrasi (ppm)

Absorbansi 1

Absorbansi 2

Absorbansi rata-

4
6
8
10

0,276
0,442
0,588
0,734

rata
0,287
0,44
0,587
0,733

0,297
0,438
0,585
0,731

Kurva standar parasetamol


kelompok 1 & 2 A
0.8
f(x) = 0.07x - 0.01
R = 1

0.6
0.4

Absorbansi

A
Linear (A)

0.2
0
3 4 5 6 7 8 9 10 11
Konsentrasi (ppm)

4.1.2.6 Kurva Standar Kelompok 1 &2 C


Konsentrasi (ppm)
2
6
8

Absorbansi
0,17
0,426
0,609

Kurva Standar Parasetamol


kelompok 1 & 2 C
0.8
0.6
Absorbansi

f(x) = 0.07x + 0.02


R = 0.99

0.4

Linear (a)

0.2
0
1

Konsentrasi (ppm)

4.2 Pembahasan
Ketersediaan hayati merupakan kecepatan dan jumlah obat yang
mencapai sirkulasi sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetik dan
perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang
diberikan.Ketersediaan hayati obat yang diformulasikan menjadi sediaan farmasi
merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang
terpenting untuk keefektifan obat tersebut. Pengkajian terhadap ketersediaan
hayati ini tergantung pada absorpsi obat dalam sirkulasi umum serta pengukuran
dari obat yang terabsorpsi tersebut. Dalam menaksir ketersediaan hayati ada tiga
parameter yang biasanya di ukur yaitu konsentrasi dalam darah dan waktu dari
obat yang diberikan.
1. Konsentrasi puncak (Cmax), menggambarkan konsentrasi obat tertinggi
dalam sirulasi sistemik. Konsentrasi ini tergantung pada konstanta absorpsi, dosis,
volume distribusi dan waktu pencapaian konsentrasi obat maksimum dalam darah.
Konsentrasi puncak sering kali di kaitkan dengan intensitas respon biologis dan
harus diatas MEC (minimum effect concentration) dan tidak melebihi MTC
(minimum toxic concentration)
2. Waktu untuk konsentrasi puncak (tmax), menggambarkan lamanya waktu
tersedia untuk mencapai konsentrasi puncak dari obat sirkulasi sistemik.
3. Luas daerah di bawah kurva (AUC), merupakan total area di bawah kurva
konsentrasi vs waktu yang menggambarkan perkiraan jumlah obat yang berapa
dalam sirkulasi sistemik.
Untuk menghitung kadar obat dalam darah diperlukan kurva standar yang
akan kita gunakan dalam menghitung kadar obat dalam darah atau matriks lainnya
sehingga dengan mengetahui kadar obat dalam darah kita bisa mengetahui
bioavailabilitas dari obat tersebut serta menilai keefektifan obat dalam mengobati
suatu penyakit.
Pada praktikum ini dilakukan pembuatan kurva standar parasetamol yang
nantinya akan kita gunakan untuk menentukan konsentrasi obat parasetamol

dalam darah sehingga biovailabilitas obat dalam tubuh bisa kita tentukan.
Sebelum dilakukan pembuatan kurva kalibrasi, terlebih dahulu di lakukan
penentuan panjang gelombang maksimum dan pembuatan larutan parasetamol.
Larutan parasetamol di buat dengan menggunakan larutan alkali NaOH 0,1 N
dengan konsentrasi 1000 ppm sebagai larutan induk. Dari larutan induk tersebut,
di buat pengenceran menjadi larutan parasetamol dengan konsentrasi 10 ppm.
Larutan parasetamol 10 ppm ini di pakai untuk menentukan panjang gelombang
maksimum dengan menggunakan spektrofotometri dan larutan NaOH sebagai
blanko.
Pada praktikum ini seharusnya dilakukan prosedur operating time
terlebih dahulu sebelum menentukan panjang gelombang maksimum parasetamol,
namun hal ini tidak dilakukan karena operating time dilakukan apabila sampel
yang akan di ukur mengandung zat warna sedangkan pada praktikum ini sampel
(larutan parasetamol) yang digunakan tidak mengandung zat warna.
Panjang golombang larutan parasetamol yang di ukur menggunakan
spektrofotometri adalah 256 nm dan di dapat nilai absorbansi parasetamol yaitu
0,388. Panjang gelombang maksimum yang di peroleh tidak terlalu jauh dengan
panjang gelombang maksimum parasetamol menurut referensi yaitu 257-258 nm.
Nilai serapan yang baik berkisar antara 0,2-0,8. Karena absorbansi yang di
peroleh pada larutan parasetamol 10 ppm adalah 0,388 sehingga seri konsentrasi
yang di buat untuk membuat kurva standar adalah 2 konsentrasi di bawah 10 ppm
dan 2 konsentrasi diatas 10 ppm. Hal ini di tujukan agar serapan yang diperoleh
nanti tidak kurang dari 0,2 dan tidak lebih dari 0,8. Seri konsentrasi yang di buat
untuk membuat kurva standar parasetamol adalah 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, 12 ppm
dan 14 ppm.
Seri konsentrasi yang telah di siapkan kemudian di ukur absorbansinya
menggunakan spektrofotometri dan larutan NaOH sebagai larutan blanko pada
panjang gelombang maksimum yang telah di peroleh sebelumnya yaitu 256 nm.
Dari data tersebut di peroleh absorbansi sebagai berikut.
Konsentrasi (ppm)
6
8
10

Absorbansi
0,214
0,281
0,358

12
14

0,540
0,669

Dari data tersebut, maka nilai absorbansi diplotkan dengan konsentrasi


dalam sebuah grafik dan diperoleh nilai absorbansi naik secara linier, namun pada
konsentrasi 100 ppm nilai absorbansi agak jauh menyimpang dari kurva sehingga
diperoleh persamaan y = 0,0584x-0,1721, dan r = 0,9643

Kurva Standar Parasetamol


0.8
0.6
absorbansi

0.4

f(x) = 0.06x - 0.17


R = 0.96

a
Linear (a)

0.2
0
5 6 7 8 9 101112131415
Konsentrasi (ppm)

Penyimpangan terjadi dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut, antara


lain human error dan tidak telitinya praktikan dalam pembuatan larutan baku
parasetamol,

alat

praktikum

yang

kurang

memadai

dalam

melakukan

pengenceran, yaitu perbedaan labu ukur yang digunakan, labu ukur yang
digunakan untuk membuat larutan konsentrasi 10 ppm adalah labu ukur 10 ml
sedangkan labu ukur yang digunakan untuk membuat larutan konsentrasi 6 ppm, 8
ppm, 12 ppm, dan 14 ppm adalah labu ukur 25 ml. Perbedaan volume labu ukur
yang digunakan bisa mempengaruhi nilai absorbansi dari larutan parasetamol.
Selain itu, kemurnian parasetamol yang dipakai dalam praktikum juga
bisa mempengaruhi nilai absorbansi dari larutan parasetamol. Pemakaian larutan
parasetamol yang sudah lama di buat memungkinkan terjadinya kontaminasi
sehingga banyak pengotor yang ikut terdeteksi akibatnya absorbansi nya
terganggu. Hal ini bisa kita amati dari hasil kurva standar kelompok lain
(kelompok 1 & 2 A) yang memakai larutan parasetamol yang baru dibuat
menghasilkan absorbansi dan nilai r yang bagus yaitu 0,999. Sedangkan kelompok

yang memakai larutan parasetamol yang sudah beberapa jam di buat


menghasilkan absorbansi dan nilai r yang kurang baik hanya sekitar 0,988.
Dapat kita simpulkan bahwa kemurnian parasetamol akan berkurang
seiring dengan bertambahnya waktu. Dengan bertambahnya waktu kemungkinan
terjadinya kontaminasi pada parasetamol meningkat sehingga banyak pengotor
yang dapat mengganggu penyerapan sinar UV- Vis dari spektrofotometri.
Meskipun nilai r yang diperoleh sudah mendekati 1 namun kelompok
kami memutus kan untuk memperbaiki kurva standar kelompok kami dengan
membuang larutan 10 ppm sehingga yang dipakai hanya absorbansi alarutan 6
ppm, 8 ppm, 12 ppm dan 14 ppm saja dan di peroleh persamaan y = 0,0584x0,1585, r = 0,9902.

Kurva Standar Parasetamol


0.8
0.6
absorbansi

f(x) = 0.06x - 0.16


R = 0.99

0.4

a
Linear (a)

0.2
0
5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.1 Kurva Standar Kelompok yang Memakai Larutan Parasetamol yang Telah
Dibuat Beberapa Jam Sebelum Praktikum

Kurva standar parasetamol


kelompok 1 & 2 A
0.8
f(x) = 0.07x - 0.01
R = 1

0.6
Absorbansi

A
Linear (A)

0.4
0.2
0
3

10 11

Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.2 Kurva Standar Kelompok yang Memakai Larutan Parasetamol yang Baru
Dibuat

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Panjang gelombang maksimum larutan parasetamol adalah 256 nm
2. Dari kurva standar parasetamol diperoleh persamaan y = 0,0584x - 0,1585
3. Kurva yang di hasilkan linier dengan nilai r = 0,9902
4. Beberapa faktor yang mempengaruhi nilai koefisien relasi adalah :
5. Human error dan tidak telitinya praktikan dalam pembuatan larutan induk
parasetamol dan pengenceran larutan parasetamol
6. Penggunaan labu ukur yang berbeda dalam membuat larutan seri konsentrasi
5.

untuk membuat kurva standar.


Beberapa faktor yang memengaruhi nilai koefisien relasi adalah sebagai berikut.
a. Human error dan tidak telitinya praktikan dalam pembuatan larutan
induk parasetamol dan pengenceran larutan parasetamol.

b. Penggunaan labu ukur yang berbeda dalam membuat larutan seri


konsentrasi untuk membuat kurva standar.
c. Kemurnian larutan parasetamol yang dipakai
5.2 Saran
1. Perlu ketelitian dalam pembuatan larutan induk dan pengenceran larutan
parasetamol.
2. Alat yang digunakan dalam pembuatan larutan seri konsentrasi yang di
gunakan untuk membuat kurva standar sebaiknya memiliki volume yang
sama.
3. Pembuatan parasetamol untuk kurva standar sebaiknya yang dibuat beberapa
saat sebelum praktikum dimulai (baru di buat).

DAFTAR PUSTAKA
Allen, L. V. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth Edition. London :
Pharmaceutical Press and American Pharmacists Assosiation; Hal. 648).
British Pharmacopoeia. 2009. British Pharmacopoeia, Volume I & II. London:
Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA); Hal.4548
Day, R. A. and A. L. Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.
Jakarta. Penerbit Erlangga.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan R.I.
Hal. 649) (Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Ed, 2009; Hal. 648)
Rohman, Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Shargel, Leon. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan. Airlangga University
Press.
Tulandi, Grace Pricilia,. Sri Sudewi dan Astuty Widya. 2015. Validasi Metode Analisis
untuk

Penetapan

Kadar

Parasetamol

dalam

Sediaan

Tablet

secara

Spektrofotometri Ultraviolet. Manado: PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi


UNSRAT Vol. 4 No. 4 November 2015.
William, Dudley. Spektroscopic Methods in Organic. McGraw-Hill.