Anda di halaman 1dari 29

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Material 2


Modul B Metal Hardening
Oleh:
Nama

: Muhammad Abduh Fuadi

NIM

: 13714022

Kelompok

:5

Anggota (NIM) : Ahmad Zulfy Alhamdy (13714005)


Ali Ghorizatulloh (13714015)
Muhammad Naufal (13714014)
Friedrich Hieronymus Pasasa (13714018)
Muhammad Abduh Fuadi (13714022)
Tanggal Praktikum

: 12 Oktober 2016

Tanggal Penyerahan Laporan : 18 Oktober 2016


Nama Asisten (NIM)

: Farid Ibnu S (13712045)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material


Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Logam merupakan salah satu material yang dapat dijumpai dalam kehidupan
sehari-sehari. Kontruksi bangunan, mesin perkakas, alat bangunan, kendaraan
merupakan salah satu produk yang memakai material logam. Dalam proses
pembuatan logam dibagi menjadi beberapa tahap antara lain :
1. Proses pengecoran dan metalurgi serbuk (primer)
2. Proses pemesinan (sekunder)
3. Proses pembentukan (sekunder)
4. Proses penyambungan (assembly)
5. Proses perubahan sifat (finishing)
Salah satu sifat logam yang sering digunakan adalah sifat kekuatannya.
Kekuatan logam sering kali disejajarkan dengan kekerasannya. Dalam
meningkatkan sifat kekuatan dan kekerasan dari logam dan paduan harus diatur
unsur-unsur yang terkandung dalam logam tersebut pada saat proses pengecoran.
Akan tetapi cara ini tidak efektif karena memakan biaya yang mahal dan
prosesnya memakan waktu yang lama.
Dikarenakan hal tersebut maka diperlukan metode lain untuk meningkatkan
sifat kekuatan dan kekerasan logam dan paduan. Metode lain adalah dengan cara
perlakuan panas, strain hardening, dan grain refinement. Metode perlakuan panas
dan grain refinement sering kali digunakan karena tidak perlu mengubah dimensi
benda kerja.
Ketika logam dinaikkan kekuatannya seringkali keuletannya diabaikan. Salah
satu cara perlakuan panas yang digunakan untuk mengeraskan baja adalah
quenching. Untuk mengembalikan keuletan logam yang telah diberi perlakuan
quenching adalah dengan cara annealing. Parameter temperatur dan waktu ketika
proses pemanasan dan pendinginan pada perlakuan panas sangatlah penting untuk
menentukan kekuatan dari logam. Oleh sebab itu diperlukanlah studi lebih lanjut

mengenai metode pengerasan baja dengan cara perlakuan panas dan grain
refinement.
1.2 Tujuan
1. Menentukan kadar karbon pada peningkatan kekerasan baja karbon.
2. Menentukan aging time yang optimal pada paduan Al-Cu.
3. Menentukan temperatur rekristalisasi dan durasi pemanasan terhadap nilai
kekerasan Cu.

BAB II
TEORI DASAR

Proses pengerasan logam pada dasarnya adalah dengan cara menghambat


dislokasi untuk bergerak sehingga logam akan semakin sulit untuk berdeformasi
plastis. Metode untuk menghambat dislokasi antara lain adalah membentuk fasa
martensit pada baja, pengerasan presipitat, dan strain hardening.
Pembentukan fasa martensit pada baja dilakukan dengan cara melakukan
pendinginan cepat pada baja yang telah dipanaskan sampai temperatur austenisasinya.
Pengerasan presipitat adalah proses perlakuan panas yang ditujukan untuk
meningkatkan kekuatan dan kekerasan material logam dengan pembentukan
presipitat yang tersebar secara seragam di dalam matriks. Strain hardening
merupakan metode pengerasan dengan cara menambah jumlah dislokasi sesuai
dengan teori Franck-Reed. Metode pengerasan strain hardening mengubah dimensi
benda kerja sehingga jarang dilakukan pada proses pengubahan sifat.
2.1 Pembentukan Fasa Martensit Pada Baja
Proses pengerasan baja dapat dilakukan dengan cara memberikan proses
perlakuan panas. Proses perlakuan panas adalah proses pengubahan sifat mekanik
melalui pengubahan struktur mikro dengan cara memberi pemanasan dan mengatur
laju pendinginan. Tujuan dari proses perlakuan panas adalah mengubah baja yang
keras menjadi lunak dan mengubah baja yang lunak menjadi keras.
Struktur mikro adalah gambaran tentang jenis dan distribusi fasa; bentuk dan
ukuran butir; distribusi, jenis dan bentuk inklusi. Jenis fasa terdiri dari larutan padat
yang memiliki sifat lunak dan senyawa yang memiliki sifat keras. Bentuk butir terdiri
dari butir equiaksial dan elongated grain. Inklusi menentukan grade dan tingkatan
baja, baja yang sedikit inklusinya akan memiliki kualitas yang lebih baik.

Gambar 2.1 Diagram fasa Fe-C.

Gambar 2.2 Garis solvus pada diagram fasa Fe-C.

Untuk mengeraskan baja maka temperatur pemanasannya adalah :


Tp = A3 + 50 C (untuk baja hypoeutectoid)
Tp = A13 + 50 C (untuk baja hypereutectoid)
Untuk melunakkan baja maka temperatur pemanasannya adalah :
Tp = A3 + 50 C (untuk baja hypoeutectoid)
Tp = ACM + 50 C (untuk baja hypereutectoid)
Untuk mencapai struktur mikro yang diinginkan maka laju pendinginan harus
ditentukan. Laju pendinginan dapat dibagi menjadi slow cooling dan rapid cooling.
Yang membedakan antara kedua laju pendinginan adalah mekanisme pergerakan
atomnya. Dimana pada slow cooling terjadi proses difusi, yaitu mekanisme
perpindahan atom secara individual dan arahnya sembarang. Sedangkan pada rapid
cooling yang terjadi adalah mekanisme geser, yaitu proses perpindahan atomnya
secara bersama-sama (serentak) pada arah pergeseran tertentu.
Pada rapid cooling metode pendinginannya adalah disemprot dengan air
bertekanan atau dengan nitroger cair dan dicelup (quench) ke dalam medium
pendingin (brine, air, dan oli). Bentuk struktur mikro yang diperoleh disebut
martensit yang memiliki sifat yang sangat keras.
Mekanisme pembentukan martensit adalah mekanisme geser yang dapat
dijelaskan dengan hipotesa dari Kurdjumov dan Sachs sebagai berikut :
Jika dua sel satuan FCC digabungkan, maka akan tampak adanya selsatuan
yang lain yang mirip BCC. Namun karena rusuk tegaknya tidak sama dengan rusuk
bidang alas, maka akan muncul sel satuan yang disebut Body Centered Tetragonal
(BCT).

Gambar 2.3 Mekanisme geser pembentukan BCT dari FCC.


Kekerasan martensit pada hakekatnya merupakan fungsi dari kadar karbon.
Namun dengan semakin tinggi kadar karbon, maka atom-atom karbon akan
menempati rongga tetrahedral pada sel satuan FCC (austenit). Jadi untuk baja dengan
kadar karbon yang tinggi (>0,5%), maka tranformasi fasanya adalah austenit menjadi
martensit dan austenit sisa. Austenit sisa adalah larutan padat sehingga memiliki sifat
lunak.
Jadi tetragonalitas yang dimiliki oleh martensit sangat dipengaruhi oleh
banyak sedikitnya karbon di rongga oktahedral FCC austenit. Atau lokasi atom-atom
Fe pada posisi BCT dipengaruhi oleh banyaknya kadar karbon. Perpindahan atom Fe
setara dengan fenomena dislokasi dan menjelaskan kerasnya martensit. Kadar karbon
yang sedikit seperti pada baja karbon rendah tidak dapat memicu terbentuknya
martensit.
Dengan mengatur laju pendinginan pada austenit maka austenit dapat
bertransformasi menjadi perlit, bainit dan martensit. Untuk menjelaskan pengaruh
laju pendinginan, maka dapat dijelaskan melalui diagram CCT (Continuous Cooling
Transformation).

Diagram CCT pada hakekatnya dapat diturunkan dari diagram fasa.

Gambar 2.4 Cara membuat diagram CCT dari diagram fasa.


Diagram CCT merupakan fungsi dari kadar karbon, sehingga diagram CCT
baja hypoeutectoid, baja eutectoid dan baja hypereutectoid berbeda.

Gambar 2.5 Diagram CCT baja eutectoid.

Gambar 2.6 Diagram CCT baja eutectoid.

Gambar 2.7 Diagram CCT baja hypereutectoid.

Karakteristik diagram CCT :

1. Daerah di depan hidung kurva, luas sempitnya sangat dipengaruhi oleh


banyak sedikitnya kadar karbon (atau CE) yang dimiliki oleh baja. Jika
kadar C-nya sangat rendah maka hidung kurva akan menyentuh sumbu
tegak. Baja seperti itu tidak dapat ditransformasi martensitik. Sebaliknya,
jika kadar karbon (atau CE) tinggi, maka posisi hidung kurva akan
menjauh dari sumbu tegak. Sehingga memiliki mampu keras yang baik.
2. Jika kadar karbon meningkat, posisi garis Ms dan Mf akan bergeser
kebawah. Sehingga garis Mf dapat berada dibawah temperatur kamar.
Dengan demikian, keberadaan austenit sisa, dapat dijelaskan karena
transformasi austenit ke martensit belum selesai, karena proses pendinginan berakhir
pada temperatur kamar. Untuk menghilangkan austenit sisa, lazim digunakan proses
sub zero treatment. Yaitu didinginkan sampai temperatur dibawah nol derajat.
2.2 Precipitation Hardening Pada Paduan Al-Cu
Precipitation hardening adalah proses perlakuan panas yang bertujuan untuk
meningkatkan kekuatan dan kekerasan material dengan pembentukan presipitat yang
tersebar secara seragam di dalam matrik. Salah satu paduan yang dapat dikeraskan
dengan metode ini adalah paduan Al-Cu.

Gambar 2.8 Diagram fasa Al-Cu.


Precipitation hardening membutuhkan 2 syarat yang harus dicapai pada diagram
fasa. Yaitu kelarutan maksimum satu komponen ke komponen yang lain dan
menurunnya batas kelarutan terhadap penurunan temperatur.

Gambar 2.9 Mekanisme terbentuknya presipitat. a. super saturated solid


solution b. precipitate phase c. phase.
Proses precipitation hardening dibagi menjadi dua tahap yaitu solution heat
treating dan precipitation heat treating.

Gambar 2.10 Tahapan pada proses precipitation hardening.


Solution heat treatment dilakukan dengan cara memanaskan logam paduan Al-Cu
hingga berada diatas garis solvus dan membentuk fasa keseluruhan. Setelah itu
logam paduan Al-Cu di-quench sehingga temperaturnya berada pada temperatur
kamar. Fasa yang terbentuk tidak seimbang dan dinamakan super
saturated solid solution karena seharusnya terdapat fasa pada
temperatu kamar.
Precipitate heat treating dilakukan dengan cara memanaskan
logam paduan Al-Cu dan ditahan pada temperatur tertentu dibawah
garis solvus selama beberapa waktu tertentu. Sehingga terjadi
proses difusi fasa yang keluar dari fasa super saturated solid
solution, proses ini lazimnya disebut aging. Jika waktu lama
pemanasan terlalu lama maka akan terjadi overaging, dimana
terjadi penurunan kekuatan dan kekerasan.

Gambar 2.11 Kurva kekerasan terhadap aging time.


Pada proses precipitat heat treating paduan dapat terjadi proses aging pada
temperatur kamar lalu di-quench dan disimpan pada temperatur dibawah temperatur
kamar, ini dinamakan natural aging. Sedangkan artificial aging adalah proses aging
terjadi pada temperatur diatas temperatur kamar.
Proses penguatan dapat dipercepat dengan cara menaikkan temperatur.

Gambar 2.12 Efek kenaikan temperatur terhadap proses penguatan paduan AlCu.
2.3 Rekristalisasi
Spesimen logam polikristalin yang telah terdeformasi plastis pada temperatur
dibawah temperatur rekristalisasi mengalami perubahan mikrostruktur dan perubahan

sifat yang meliputi : bentuk butir, fenomena strain hardening, dan peningkatan
jumlah dislokasi.
Sifat dan struktur logam dapat diubah kembali menjadi seperti semula dengan
perlakuan panas yang sesuai (terkadang disebut annealing treatment). Hasil
pemulihan dari dua proses pada temperatur diatas temperatur rekristalisasi adalah
recovery, recrystallization, dan diikuti oleh grain growth.
Ketika tahap recovery, energi regangan dalam dalam dilepaskan dengan cara
pergerakan dislokasi. Hasilnya adalah peningkatan difusi atom pada temperatur diatas
temperatur rekristalisasi. Terdapat penurunan jumlah dislokasi dan konfigurasi
dislokasi menyebabkan rendahnya energi regangan dalam. Sifat fisik seperti elektrik
ataupun konduktivitas thermal pulih seperti sebelum pengerjaan dingin.
Rekristalisasi adalah pembentukan butir ekuiaksial baru yang memiliki densitas
dislokasi yang rendah dan memiliki karakter seperti sebelum pengerjaan dingin. Sifat
mekanik yang diubah antara lain : lebih lunak, kekuatannya lebih rendah, akan tetapi
lebih ulet. Rekristalisasi merupakan proses yang tergantung pada temperatur
rekristalisasi. Temperatur rekristalisasi adalah temperatur dimana rekristalisasi telah
terjadi seluruhnya pada waktu 1 jam. Besar temperatur rekristalisasi biasanya
sepertiga sampai setengah temperatur cair absolut. Proses rekristalisasi terjadi lebih
cepat pada logam murni daripada logam paduan. Ketika rekristalisasi, pergerakan
batas butir muncul sebagai bentuk inti butir baru lalu tumbuh. Ketidak murnian atom
mengakibatkan segregasi dan berinteraksi dengan batas butir. Sehingga menghentikan
pergerakan batas butir, menurunkan kecepatan rekristalisasi, dan meningkatkan
temperatur rekristalisasi. Untuk logam murni temperatur rekristalisasinya biasanya
0,3 Tm, dimana Tm merupakan temperatur cair absolut. Untuk logam paduan
komersil dapat mencapai 0,7 Tm.
Setelah rekristalisasi selesai, butir akan tumbuh jika logam dibiarkan pada
temperatur yang tinggi, fenomena ini dinamakan grain growth. Grain growth timbul

dikarenakan migrasi dari perpindahan batas butir. Proses perpindahan batas butirnya
yaitu butir yang besar akan membesar sedangkan butir yang kecil akan menciut.

Gambar 2.13 Efek dari annealing temperature terhadap sifat mekanik dan
bentuk butir.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pengerasan Baja Karbon

Spesimen terdiri dari baja karbon rendah dan tinggi disiapkan dan diukur kekerasan
awalnya.

Spesimen dipanaskan pada temperatur austenisasinya selama 30 menit

Proses quenching dilakukan dengan medium pendingin air dan kekerasan akhir
spesimen diukur.

3.2 Precipitation Hardening Pada Paduan Al-Cu

Empat spesimen paduan Al-Cu disiapkan.

Spesimen dipanaskan sampai temperatur 550 C selama 12 jam lalu diquench ke


dalam air. Dan diukur kekerasan empat spesimen tersebut.

Spesimen dipanaskan lagi pada temperatur 200 C masing masing selama 10, 30, 60
dan 120 menit lalu diquench dengan medium pendingin air.

Kekerasan masing-masing spesimen diukur, dan dibuat kurva kekerasannya


berdasarkan lama waktu pemanasan.

3.3 Rekritalisasi

Keenam spesimen tembaga dipanaskan terlebih dahulu pada temperatur 800 C, lalu
didinginkan di udara dan dilakukan pengerolan dengan reduksi 50%.

Keenam spesimen diberi tanda dengan nomor 1 sampai 6 dan diukur kekerasan
awalnya

Spesimen nomor 1 dipanaskan pada temperatur 300 C selama 20 menit.


Spesimen nomor 2 sampai 5 dipanaskan pada temperatur 400 C
berturut turut selama 60, 15, 45, dan 10 menit. Spesimen nomor 6
dipanaskan pada temperatur 100 C selama 90 menit.

Spesimen didinginkan diudara lalu diukur kekerasan masing-masing.

BAB IV
DATA PERCOBAAN

4.1 Pengerasan Baja Karbon

Tabel 4.1 Data hasil pengerasan baja karbon.


Baja

T (C)

Persegi
Lingkara
n

800
800

t (menit)
30
30

H awal (HRA)

H akhir (HRA)

51,25
67,6

Peningkatan
kekuatan (%)
73,83
44,05
76,16
12,66

4.2 Precipitation Hardening Pada Paduan Al-Cu


Tabel 4.2 Data hasil precipitation hardening paduan Al-Cu.
Al-Cu
1
2
3
4

T (C) t (menit) H awal (HRA)


H akhir (HRA)
200
10
103
89
200
30
103
106
200
60
97
106
200
120
103
102

Perbedaan Kekerasan Terhadap Lama Waktu Pemanasan Paduan Al-Cu

Kekerasan Akhir
Kekerasan Awal

Gambar 4.1 Kurva perbandingan kekerasan terhadap lama pemanasan paduan Al-Cu.

4.3 Rekristalisasi
Tabel 4.3 Data hasil rekristalisasi pada tembaga
Tembaga
1
2
3
4
5
6

T (C) t (menit) H awal (HRE)


H akhir (HRE)
300
120
94
118
400
60
94
128
400
15
97
72
400
45
97
130
400
10
95
140
100
90
95
91

BAB IV
ANALISIS DATA
Pada praktikum kali ini kami melakukan 3 percobaan, yaitu : pengerasan dengan
membentuk fasa martensit pada baja karbon, precipitation hardening pada paduan AlCu dan rekristalisasi pada Cu.
Pada pengerasan dengan membentuk fasa martensit kami menggunakan dua
spesimen yaitu baja silinder dan kotak. Kedua baja tersebut dipanaskan pada
temperatur yang sama dan lama pemanasan yang sama. Setelah dipanaskan kedua
baja didinginkan menggunakan medium pendingin yang sama yaitu air.
Baja

Persegi
Lingkaran

T (C)

800
800

t (menit)

30
30

H awal (HRA)

51,25
67,6

H akhir (HRA)

Peningkatan
kekerasan
(%)
73,83
44,05
76,16
12,66

Dapat dilihat dari tabel diatas bahwa peningkatan kekerasan pada baja persegi
dan baja lingkaran terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut dapat menggambarkan
bahwa seberapa banyak fasa martensit yang terbentuk pada kedua spesimen. Baja
persegi memiliki peningkatan kekerasan lebih tinggi dibandingkan dengan baja
lingkaran. Sehingga pada baja persegi fasa martensit yang terbentuk lebih banyak
daripada baja lingkaran.
Dapat disimpulkan bahwa diagram CCT kedua spesimen baja tersebut berbeda.
Karena pada cooling rate yang sama jumlah martensit yang dihasilkan berbeda maka
dapat dilihat bahwa kadar karbonnya berbeda. Kadar karbon yang tinggi
menyebabkan austenit sisa pada saat baja mengalami proses quenching. Teori
tetragonalitas dapat menjelaskan fenomena tersebut. Karbon yang berlebih akan
mengisi rongga tetrahedral dan ketika mengalami proses quenching karbon tersebut
akan menjadi austenit sisa. Austenit sisa juga dapat timbul akibat kadar karbon (atau
CE) yang tinggi sehingga menyebabkan garis Ms dan Mf bergeser ke bawah. Cara
mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan sub zero treatment, yaitu
didinginkan sampai temperatur dibawah nol derajat. Kesimpulan dari dua analisa
diatas adalah pada baja lingkaran kadar karbonnya lebih tinggi dibandingkan dengan
baja persegi.
Percobaan kedua adalah precipitation hardening pada paduan Al-Cu. Pada
percobaan ini logam paduan Al-Cu dipanaskan pada temperatur yang sama dengan
durasi pemanasan yang berbeda-beda.
Al-Cu
1
2
3
4

T (C) t (menit) H awal (HRA) H akhir (HRA)


200
10
103
89
200
30
103
106
200
60
97
106
200
120
103
102

Pada

percobaan ini logam paduan telah mengalami solution heat treatment

sebelumnya sehingga fasa yang terbentuk adalah super saturated solid solution.
Sehingga pada percobaan yang diperlukan hanyalah memberi precipitation heat
treatment. Karena temperetur aging berada diatas temperatur kamar maka dinamakan
artificial aging. Karena pada proses aging yang dicari adalah peningkatan kekerasan
terhadap waktu, maka praktikan harus dapat menentukan berapa waktu aging yang
meningkatkan kekerasan secara optimal.
Spesimen nomor 1 mengalami penurunan kekerasan, hal ini dapat terjadi karena
kesalahan praktikan dalam melakukan pengujian keras. Baja nomer 2 sampai 4
mengalami peningkatan kekerasan, akan tetapi baja nomer 3 mengalami peningkatan
kekerasan paling tinggi. Dari situ dapat disimpulkan bahwa aging time yang optimal
adalah 60 menit.
Percobaan ketiga adalah melakukan rekristalisasi pada logam Cu. Spesimen
dipanaskan pada temperatur yang berbeda dan waktu yang berbeda pula untuk
mengetahui efek temperatur dan waktu pemansan terhadap proses rekristalisasi.
Untuk mengetahui efek temperatur terhadap proses rekristalisasi dapat dilihat pada
spesimen dengan temperatur pemanasan yang sama pada waktu pemansan yang
berbeda.
Tembaga
1
2
3
4
5
6

T (C) t (menit) H awal (HRE) H akhir (HRE)


300
120
94
118
400
60
94
128
400
15
97
72
400
45
97
130
400
10
95
140
100
90
95
91

Spesimen nomor 2 sampai 6 mengalami temperatur pemanasan yang sama akan


tetapi dengan waktu pemanasan yang berbeda. Dapat dilihat bahwa kekerasan akhir
relatif turun terhadap lama waktu pemanasan. Terdapat error pada percobaan ini

karena menurut teori seharusnya rekristalisasi akan menyebabkan penurunan nilai


kekerasan. Akan tetapi karena pada saat uji keras terjadi kesalahan yaitu tidak
menghilangkan lapisan oksida pada permukaan spesimen maka kekerasannya
meningkat. . Terkecuali untuk spesimen nomor 5 yang memiliki peningkatan
kekerasan paling tinggi karena mengalami proses quench yang seharusnya adalah
normalized. Ketika Cu di-quench maka akan terbentuk fasa martensit karena Cu
memiliki kristal FCC dan mekanisme geser pada FCC menyebabkan terbentuknya
martensit.
Pada spesimen nomor 1 sampai 6 dapat dilihat bahwa semakin tinggi temperatur
pemanasan dan lama waktu pemanasan maka semakin turun kekuatan material.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Baja persegi memiliki kadar karbon lebih rendah dibandingkan baja lingkaran.
2. Aging time yang optimal adalah selama 60 menit.
3. Semakin tinggi temperatur pemanasan dan lama pemanasan maka logam akan
semakin lunak.
5.2 Saran

Sebaiknya dalam melakukan percobaan spesimen diberi penghitung waktu


masing-masing agar lebih akurat. Dan sebaiknya baik praktikan dan asisten praktikan
membaca alur metodologi agar perlakuan yang diberikan tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Callister, William D. Materials and Science Engineering An Introduction 6th


edition. John Willey & Sons, Inc. 2003.
Suratman, Rochim. Dasar-dasar Proses Perlakuan Panas Untuk Baja. Penerbit ITB.

LAMPIRAN

Tugas Setelah Praktikum


A. Pengeerasan Baja Karbon
Soal
1. Mengapa baja dengan kadar karbon lebih tinggi memiliki kekerasan yang lebih
tinggi daripada baja karbon dengan baja karbon rendah setelah proses quenching?
2. Apakah pengaruh proses quenching dengan kekuatan dan kekerasan baja?
3. Jelaskan mekanisme terbentuknya martensi dan mengapa martensit memiliki
kekerasan yang tinggi pada baja!

4. Kapan terbentuk austenit sisa pada proses quenching dan apa pengaruhnya
terhadap kekerasan?
5. Jelaskan cara yang dilakukan untuk mengurangi keberadaan austenit sisa!
Jawaban
1. Dikarenakan fasa martensit yang terbentuk lebih banyak pada baja karbon tinggi
dibandingkan dengan baja karbon rendah.
2. Pada proses quenching terjadi fenomena transformasi fasa dari fasa austenit
menjadi fasa martensit yang memiliki kekerasan hampir sama seperti senyawa.
Semakin cepat laju pendinginannya maka semakin tinggi kekuatan dan kekerasan
baja ketika di-quenching.
3. Mekanisme terbentuknya martensit adalah mekanisme geser. Difusi tidak bisa
terjadi ketika baja karbon di-quench sehingga atom-atom pada baja bergerak
secara bersamaan dan membentuk martensit. Ketika terjadi mekanisme geser
kristal FCC bergabung dan membentuk kristal BCT yang merupakan sel satuan
dari martensit. Martensit memiliki kekerasan yang tinggi pada baja karena terdapat
atom C diantara atom Fe.
4. Austenit sisa terbentuk ketika terdapat atom C di rongga tetrahedral pada kristal
FCC. Austenit sisa dapat mengakibatkan turunnya kekerasan dari baja.
5. Cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi keberadaan austenit sisa adalah ada
medium pendingin diatur pada temperatur dibawah 0 C sehingga laju pendinginan
mencapai garis M finish.

B. Precipitation Hardening Pada Paduan Al-Cu


Soal
1.
2.
3.
4.

Buat analisis pengaruh waktu aging terhadap kekerasan!


Mengapa presipitasi meningkatkan kekerasan/kekuatan?
Apa yang dimaksud dengan natural aging, artificial aging, dan over aging?
Jelaskan apa yang dimaksud GP zone!

Jawaban
1. Semakin lama waktu aging maka semakin tinggi kekerasannya selama masih di
GP zone.
2. Kekerasan atau kekautan logam didefinisikan sebagai mudah tidaknya dislokasi
bergerak. Presipitasi merupakan salah satu hal yang dapat menghambat dislokasi.
3. Natural aging merupakan aging yang dilakukan dengan menggunakan temperatur
kamar. Artificial aging merupakan aging yang dilakukan diatas temperatur kamar.
Over aging merupakan aging yang melewati batas kekuatan dan kekerasan yang
dapat diperoleh, sehingga kekerasannya malah menurun.
4. GP zone adalah daerah dimana terbentuknya cluster partikel presipitat, dimana
cluster tersebut masih koheren dengan atom-atom solvent.

C. Rekristalisasi
Soal
1. Buatlah analisis antara temperatur pemanasan pada T=800 C, 400 C dan 100 C
terhadap kekerasan material! Adakah hubungannya dengan struktur mikronya?
Jelaskan!
2. Temperatur rekristalisasi dipakai sebagai batas antar cold working dan hot
working. Jelaskan mengapa pemberian deformasi pada hot working tidak
meningkatkan kekerasan?
3. Jelaskan pengaruh cold working terhadap temperatur rekristalisasi material?
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan cold working dan hot working! Apa masingmasing kelebihan dan kekurangannya dan berikan contohnya!
5. Jelaskan pengaruh recovery, recrystallization, dan grain growth terhadap sifat
mekanik material!
Jawaban

1. Temperatur pemanasan memiliki hubungan dengan struktur mikro. Semakin tinggi


temperatur pemanasan maka semakin lunak materialnya karena butirnya akan
lebih besar.
2. Karena pada hot working terjadi proses revovery dimana dislokasi di anhilisasi
sehingga jumlah dislokasi berkurang.
3. Semakin tinggi reduksi cold working maka temperatur kristalnya akan menurun
secara eksponensial.
4. Cold working merupakan proses pengerjaan logam dibawah temperatur
rekristalisasinya. Kelebihan dari cold working adalah toleransi dimensi ketat,
permukaan benda kerja halus, dan tidak perlu tungku pemanas. Kelemahan dari
cold working adalah terjadi fenomena strain hardening pada benda kerja,
ketahanan korosi menurun dan perlu proses annealing untuk memperbaiki sifat
mekaniknya. Contoh dari cold working adalah cold rolling dan wire drawing.
Hot working merupakan proses pengerjaan logam diatas temperatur
rekristalisasinya. Kelebihan dari hot working adalah gaya pembentukannya kecil,
tidak terjadi fenomena strain hardening, dan tidak perlu proses annealing untuk
memperbaiki sifat mekaniknya. Kekurangan dari hot working adalah diperlukan
tungku pemansan, peralatan mahal, toleransi dimensi yang rendah, permukaan
benda kerja kasar karena terjadi oksidasi. Contoh dari hot working adalah hot
rolling, ekstrusi, dan forging.
5. Pengaruh recovery, recrystallization dan grain growth terhadap sifat mekanik
material adalah terjadinya penurunan kekuatan tarik, penurunan kekerasan, dan
peningkatan keuletan.
Tugas Tambahan
Diagram CCT dibuat dengan cara membikin dua kurva dibawah garis solvus
(start dan finish) dan menulis fasa yang terdapat pada temperatur tersebut.