Anda di halaman 1dari 10

Mufidatul Mahmudah

Man Jadda Wa Jada

Skip to content

Home

About

Galeri Foto

Jati Diriku yang Singkat


Bahaya Membunuh Kecoa

Makalah Fiqih Zakat Maal dan Zakat Fitrah


Posted on June 17, 2014 by Mufidatul Mahmudah
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Zakat merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam yang digunakan untuk membantu masyarakat
lain, menstabilkan ekonomi masyarakat dari kalangan bawah hingga kalangan atas, sehingga
dengan adanya zakat umat Islam tidak ada yang tertindas karena zakat dapat menghilangkan
jarak antara si kaya dan si miskin. Oleh karena itu, zakat sebagai salah satu instrumen negara dan
juga sebuah tawaran solusi untuk menbangkitkan bangsa dari keterpurukan. Zakat juga sebuah
ibadah mahdhah yang diwajibkan bagi orang-orang Islam, namun diperuntukan bagi kepentingan
seluruh masyarakat.
Zakat merupakan suatu ibadah yang dipergunakan untuk kemaslahatan umat sehingga dengan
adanya zakat (baik zakat fitrah maupun zakat maal) kita dapat mempererat tali silaturahmi
dengan sesama umat Islam maupun dengan umat lain.

Oleh karena itu kesadaran untuk menunaikan zakat bagi umat Islam harus ditingkatkan baik
dalam menunaikan zakat fitrah yang hanya setahun sekali pada bulan ramadhan, maupun zakat
maal yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan zakat dalam yang telah ditetapkan baik
harta, hewan ternak, emas, perak dan sebagainya.
2. Rumusan Masalah
3. Pengertian Zakat ?
4. Dasar hukum zakat ?
5. Syarat-syarat mengeluarkan zakat ?
6. Macam-macam zakat ?
7. Yang berhak menerima zakat ?
8. Manfaat Zakat ?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Zakat
Secara etimologi (asal kata) zakat dari kata zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, suci, subur
dan baik. Secara istilah zakat merupakan upaya mensucikan diri dari kotoran kikir dan dosa
melalui pengeluaran sedikit dari nilai harta pribadi untuk kaum yang memerlukan.[1]
2. Dasar Hukum Zakat
Zakat hukumnya wajib bagi setiap muslim yang memiliki harta yang telah sampai nishab untuk
dikeluarkan zakatnya.

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkandan
mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi)

ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
(Qs. At Taubah : 103)

Dirikanlah sholat dan tunaikan zakat. (Q.S. An-nisa : 77)

Hukum Zakat
Mengeluarkan zakat hukumnya Fardhu Ain bagi setiap orang Islam yang mampu dan kaya.
Mengeluarkan zakat dilakukan tiap-tiap tahun sesuai dengan peraturan zakat oleh orang-orang
yang mampu dan diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu atau miskin dan orang-orang
yang berhak menerimanya.
Pada zaman Abu Bakar Ash Shiddiq menjadi khalifah, orang-orang Islam yang membangkang
terhadap kewajiban membayar zakat diperangi sampai mereka sadar dan patuh kembali
membayar zakat.
3. Syarat-syarat Mengeluarkan Zakat
Islam : Zakat hanya diwajibkan bagi orang Islam saja.
Merdeka : Hamba sahaya tidak wajib mengeluarkan zakat kecuali zakat fitrah, sedangkan
tuannya wajib mengeluarkannya. Di masa sekarang persoalan hamba sahaya tidak ada lagi.
Bagaimanapun syarat merdeka tetap harus dicantumkan sebagai salah satu syarat wajib
mengeluarkan zakat karena persoalan hamba sahaya ini merupakan salah satu syarat yang tetap
ada.
Milik Sepenuhnya : Harta yang akan dizakati hendaknya milik sepenuhnya seorang yang
beragama Islam dan harus merdeka. Bagi harta yang bekerjasama antara orang Islam dengan
orang bukan Islam, maka hanya harta orang Islam saja yang dikeluarkan zakatnya.
Cukup Haul : cukup haul maksudnya harta tersebut dimiliki genap setahun, selama 354 hari
menurut tanggalan hijrah atau 365 hari menurut tanggalan mashehi.
Cukup Nisab : Nisab adalah nilai minimal sesuatu harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.
4. Macam-macam Zakat
Macam-macam zakat secara garis besar ada dua macam yaitu zakat fitrah dan zakat harta benda
atau maal. Ulama madzhab sepakat bahwa tidak sah mengeluarkan zakat kecuali dengan niat.
1)

Zakat Nafs (Fitrah)

Zakat fitrah adalah zakat untuk pembersih diri yang diwajibkan untuk dikeluarkan setiap akhir
bulan Ramadhan. Ketentuan waktu pengeluaran zakat dapat dilakukan mulai dari awal
Ramadhan sampai yang paling utama pada malam Idul Fitri dan paling lambat pagi hari Idul
Fitri.[2]

[3]



Ibnu Umar ra. Ia berkata : Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha kurma atau satu
sha gandum atas setiap hamba dengan orang merdeka, baik laki-laki, perempuan, kecil maupun
besar dari kalangan kaum muslimin dan beliau menyuruh agar zakat fitrah itu ditunaikan
sebelum orang-orang keluar untuk sholat (idul fitri).
Hadits diatas menjelaskan bahwa Rasulullah mewajibkan zakat fitrah. Adapun nishabnya 1 sha
(2,5kg).
2)

Zakat Maal

Zakat Maal adalah zakat yang berhubungan dengan harta: yaitu emas, perak, binatang ternak,
hasil tanaman dan buah-buahan, serta harta barang dagangan.[4]
1. Zakat Emas dan Perak
Emas dan perak merupakan harta yang wajib di keluarkan zakatnya jika telah memenuhi nishab
dan haul.
Nishab zakat emas dan perak :
Nishab emas 20 misqaal (96 gram).
Besarnya zakat yang harus dikeluarkan 2,5%.
Kalau emas lebih dari batas tersebut, dihitung dengan ketentuan 2,5% kali besarnya (banyaknya)
emas.
Nishab perak 200 dirham. Besarnya zakat sama dengan emas 2,5%. Jadi perak yang berjumlah
200 dirham, zakatnya 2,5% = 5 dirham. Kalau bertambah nanti, dihitung dengan ketentuan
pengeluaran zakat 2,5%.
(1

dirham = 3 gram).[5]
2. Binatang Ternak

Nishab hasil peternakan (binatang ternak) yang telah ditentukan pada zaman Nabi adalah
mengenai zakat unta, sapi dan kambing.
a)

Zakat Unta

NO
1
2

JUMLAH UNTA
5 ekor
10 ekor

JUMLAH ZAKAT
1 ekor kambing
2 ekor kambing

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

15 ekor
20 ekor
25 ekor
36 ekor
46 ekor
61 ekor
76 ekor
91 ekor
121 ekor
Setiap tambahan 40 ekor

b)

Zakat Sapi

3 ekor kambing
4 ekor kambing
1 ekor unta umur 1 tahun penuh
1 ekor unta umur 2 tahun penuh
1 ekor unta umur 3 tahun penuh
1 ekor unta umur 4 tahun penuh
2 ekor unta umur 2 tahun penuh
2 ekor unta umur 3 tahun penuh
3 ekor unta umur 2 tahun penuh
Tambah 1 ekor unta umur 2 tahun penuh

Sapi yang sudah berjumlah 30 ekor wajib dikeluarkan zakatnya 1 ekor sapi umur 1 tahun penuh.
Dan sapi yang berjumlah 40 ekor wajib dikeluarkan 1 ekor sapi umur 2 tahun penuh.
c)

Zakat Kambing

Kalau kambning sudah mencapai jumlah 40 ekor, wajib dikeluarkan zakatnya 1 ekor kambing.
NO
1
2
3
4
5

JUMLAH KAMBING
40-120 ekor
121-200 ekor
201-300 ekor
301-400 ekor
Setiap tambah 100 ekor

JUMLAH ZAKAT
1 ekor kambing umur 2 tahun
2 ekor kambing umur 2 tahun
3 ekor kambing umur 2 tahun
4 ekor kambing umur 2 tahun
Zakatnya tambah 1 ekor kambing

3. Zakat Hasil Tanaman dan Buah-buahan


141 :

Berilkanlah haknya (zakat) pada waktu memetik hasilnya.
(QS.Al-Anam:141 )[6]
Nishab tanaman dan buah-buahan (untuk wajib zakat) 1 ton padi.[7]

4. Zakat Barang Dagangan

Dijelaskan oleh hadits Rasulullah SAW yang disampaikan oleh Samurah bin Jundab, beliau
berkata :



Rasulullah menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat dari setiap barang yang kami
persiapkan untuk perdagangan. (HR.Abu Dawud)[8]
Nishab zakat perdagangan adalah 200 dirham atau 20 dinar (sama dengan nishab zakat emas dan
perak). Zakat yang harus dikeluarkan 2,5%. Pedagang hendaknya menghitung barangdagangannya pada akhir tahun. Penghitungannya berdasarkan pembelian.[9]
5. Yang Berhak Menerima Zakat
$yJR)Ms%y9$#!#ts)=93|
yJ9$#urt,#Jy9$#ur$pkn=tpx9xsJ9$#urNk5q=%ur>$s
%h9$#tBt9$#urur@6y!
$#$#ur@69$#(ZpsiB!$#3!$#urO=tO6ym
Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir,orang-orang miskin, amil
zakat, yang dilunakkan hatinya(muallaf), untuk (memerdekakan hamba sahaya), orang-orang
yang berhutang, untuk jalan Allah dan oran-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai
diwajibkan dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS At.Taubah:60)
[10]
Ayat tersebut menjelaskan bahwa yang berhak menerima zakat ialah 8 kategori manusia, yaitu :
1. Orang Fakir (al-Fuqara)
Al-Fuqara adalah kelompok pertama yang menerima bagian zakat. Mereka adalah orang yang
tidak memiliki harta benda dan pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
2. Orang Miskin (al-Masakin)
Al-Masakin adalah kelompok kedua penerima zakat. Mereka adalah orang yang memiliki
pekerjaan, tetapi penghasilannya tidak dapat dipakai untuk kebutuhan hajat hidupnya.
3. Panitia Zakat (al-Amil)
Panitia zakat adalah orang-orang yang bekerja memungut zakat. Panitia disyaratkan harus
memiliki sifat kejujuran dan menguasai hukum zakat.
4. Muallaf

Muallaf adalah kelompok orang-orang yang lemah niatnya untuk memasuki Islam.
5. Para Budak
Para budak yang dimaksud disini, menurut jumhur ulama, ialah para budak muslim yang telah
mebuat perjanjian dengan tuannya untuk dimerdekakan dan tidak memiliki uang untuk
membayar tebusan atas diri mereka, meskipun mereka telah bekerja keras dan membanting
tulang mati-matian. Syarat pembayaran zakat budak yang dijanjikan untuk dimerdekakan ialah
budak itu harus muslim dan memerlukan bantuan seperti itu.
6. Ghaarimun (orang yang mempunyai utang)
Mereka adalah orang-orang yang memiliki utang untuk tujuan yang baik berhak menerima zakat.
Tetapi jika utangnya itu untuk maksiat, kebutuhan-kebutuhan hawa nafsu, tidak boleh diberi
zakat, dan tidak berhak menerima zakat.
7. Ibnu Sabil
Mereka adalah orang yang dalam keadaan bepergian untuk kebaikan, bukan untuk maksiat.
8. Sabilillah
Mereka ialah orang-orang yang berjuang dijalan Allah tanpa mendapat gaji.[11]
6. Orang yang tidak berhak menerima zakat
7. Orang kaya dengan harta atau kaya dengan usaha dan penghasilan.
8. Hamba sahaya, karena mereka mendapat nafkah dari tuan mereka.
9. Keturunan Rasulullah SAW.
10. Orang dalam tanggungan yang berzakat , artinya orang yang berzakat tidak boleh
memberikan zakatnya kepada orang yang dalam tanggungannya dengan nama fakir atau
miskin, sedangkan mereka mendapat nafkah yang mencukupi. Tetapi dengan nama lain,
seperti nama pengurus zakat atau berutang, tidak ada halangan. Begitu juga kalau mereka
tidak mencukupi dari nafkah yang wajib.
11. Orang yang tidak beragama Islam.[12]

7. Manfaat Zakat
8. Meningkatkan ketaqwaan orang yang menunaikannya

9. Membersihkan dan mensucikan harta kekayaan serta mensucikan pribadi dari sifat kikir
10. Menambah keberkahan hartanya dan menumbuhkan usahanya, berkat doa kaum fakir
miskin yang menerima pembagian zakat
11. Meringankan penderitaan fakir miskin yang menerima pembagian zakat.
12. Mempersiapkan bekal pahala pembayar zakat dengan pahala yang tidak putus-putusnya
di akherat kelak.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Zakat merupakan upaya mensucikan diri dari kotoran kikir dan dosa melalui pengeluaran
sedikit dari nilai harta pribadi untuk kaum yang memerlukan. Zakat wajib ditunaikan oleh setiap
umat muslim.
Zakat ada dua macam, yaitu zakat nafs (fitrah) dan zakat maal. Zakat maal terdiri dari beberapa
macam, diantaranya zakat emas dan perak, binatang ternak, hasil tanaman dan buah-buahan,
serta harta barang dagangan.
Orang yang menunaikan zakat harus memenuhi beberapa syarat antara lain; Islam, merdeka, hak
milik yang sempurna, mencapai nishab. Kemudian ada 8 golongan manusia yang berhak
menerima zakat, yaitu :

1. Orang Fakir (al-Fuqara)


2. Orang Miskin (al-Masakin)
3. Panitia Zakat (al-Amil)
4. Muallaf
5. Para Budak
6. Ghaarimun (orang yang mempunyai utang)
7. Ibnu Sabil
8. Sabilillah
Masalah yang berkaitan dengan zakat harus kita pahami, apalagi kita sebagai mahasiswa muslim
harus paham betul tentang zakat. Sehingga kita dapat mengaplikasikan dalam kehiduapan seharihari. Minimal untuk diri kita sendiri dan orang disekitar kita.

DAFTAR PUSTAKA
Inoed, H. Amirudin, dkk. 2005. Anatomi Fiqih Zakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nawawi, Imam. 1999. Terjemah Riyadhus Shalihin. Jakarta: Pustaka Amani.
Bukhari, Imam. 1993. Shahih Bukhari juz II. Semarang: CV. Asy Syifa.
Rifai, Moh, dkk. 1978. Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar. Semarang: CV. Toha Putra.
Darajat, Zakiah. 1982. Ilmu Fiqih. Jakarta: Direktorat Pembinaan Tinggi Agama Islam.
Al-Quran dan Terjemahnya. 2009. Bandung: Diponegoro.
Al-Zuhayly, Wahbah. 1995. Zakat Kajian Berbagai Mazhab. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Bahreisy, Hussein. 1980. Himpunan Hadits Pilihan Hadits Shahih Bukhari. Surabaya: Al-Ikhlas.

[1] Inoed,H.Amirudin,dkk.Anatomi Fiqih Zakat(Yogyakarta,Pustaka Pelajar:2005),hal:8.


[2] Inoed,H.Amirudin,dkk.Anatomi Fiqih Zakat(Yogyakarta,Pustaka Pelajar:2005),hal:61.
[3] Bukhari, Imam.Shahih Bukhari juz II(Semarang,CV. Asy Syifa:1993)hal: 397.
[4] Rifai,Drs.Moh,dkk.Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar(Semarang,CV.Toha
Putra:1978).hal:124.
[5] Rifai,Drs.Moh,dkk.Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar(Semarang,CV.Toha
Putra:1978).hal:133.

[6] Al-Quran dan Terjemahnya(Bandung,Diponegoro:2009).hal:116.


[7] Rifai,Drs.Moh,dkk.Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar(Semarang,CV.Toha
Putra:1978).hal:136.
[8] Al-Zuhayly,Dr.Wahbah.Zakat Kajian Berbagai Mazhab(Bandung,PT Remaja
Rosdakarya:1995).hal:170.
[9] Ibid.hal:169.
[10] Al-Quran dan Terjemahnya(Bandung,Diponegoro:2009).hal:156
[11] Al-Zuhayly,Dr.Wahbah.Zakat Kajian Berbagai Mazhab(Bandung,PT Remaja
Rosdakarya:1995).hal:280.
[12] Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam (Bandung, Sinar Baru Algensindo:1994)hal:215
Sumber : https://mufidatulmahmudah.wordpress.com/2014/06/17/makalah-fiqih-zakat-maaldan-zakat-fitrah/