Anda di halaman 1dari 29

BAHAN PERKERASAN LENTUR

JALAN RAYA
ASPAL

BAHAN PERKERASAN JALAN


Material utama pada struktur perkerasan
jalan antara lain adalah: tanah asli (soil),
agregat, aspal, semen, dan material pengisi
(filler) seperti kapur, lempung, atau abu
terbang (fly ash, sisa pembakaran batu
bara).
Kekuatan, daya dukung dan keawetan
struktur selain ditentukan oleh karakteristik
material masing-masing, juga oleh interaksi
antar material seperti aggregate
interlocking, mortar, dan campuran aspalagregat atau semen-agregat (beton)

DEFINISI dan DISKRIPSI ASPAL


Aspal adalah sejenis material yang banyak digunakan
untuk konstruksi jalan raya, khusus perkerasan
lentur. Aspal merupakan material organik
(hydrocarbon) yang komplek yang dapat diperoleh
langsung dari alam atau dengan proses tertentu
(artifisial).
Umumnya aspal terbagi atas: bentuk cair, semi padat
dan padat pada suhu ruang (25 derajat Celsius).
Beberapa literatur di USA mendefinisikan aspal
adalah material yang larut dalam karbon disulfida
(CS2) tetapi di Inggris menggunakan trichlororthene
(CCl3) sebagai pelarut.

DEFINISI DAN DISKRIPSI ASPAL

Aspal dijelaskan sebagai material yang lengket, bersifat


viscoelastis pada suhu kamar, dan berwarna coklat gelap
sampai hitam.
Aspal adalah material penting dalam perkerasan lentur
karena dapat merekatkan (bersifat sebagai perekat),
mengisi rongga (sebagai filler), dan memiliki sifat kedap
air (water proof).
Penggunaan aspal sebagai material perkerasan cukup
luas, mulai dari lapis permukaan, lapis pondasi, lapis aus,
maupun lapis penutup.
Konstruksi jalan yang dibangun dengan aspal dapat
digunakan untuk segala jenis lalu lintas, seperti lalu lintas
ringan, sedang, dan berat, bahkan untuk perkerasan
landas pacu bandara.

DEFINISI ASPAL
Aspal adalah suatu bahan perekat yang berwarna hitam
sampai coklat tua, dimana unsur utamanya adalah
bitumen, yang secara berangsur-angsur akan menjadi
cair bila dipanaskan. Aspal dapat diperoleh langsung di
alam atau sebagai hasil residu dari penyulingan minyak
bumi.

Spesifikasi aspal keras

KLASIFIKASI ASPAL BERDASARKAN CARA MEMPEROLEH DAN


KEGUNAANNYA

ASPAL ALAM

ASPAL BUATAN

ASPAL CAIR

ASPAL EMULSI

TAR (TER)

PENGUJIAN KARAKTERISTIK ASPAL


PNETRASI BAHAN ASPAL

PENGUJIAN KARAKTERISTIK ASPAL

BERAT JENIS
Berat jenis aspal adalah perbandingan antara
berat aspal terhadap berat air suling dengan isi
yang sama pada suhu tertentu.

Berat Jenis aspal sangat tergantung pada nilai


penetrasi dan suhu dari aspal itu sendiri
Penetration grade aspal dengan berat jenis antara 1,010
(untuk aspal dengan penetrasi 300) sampai dengan 1,040 (untuk
aspal dengan penetrasi 25);

Aspal yang teroksidasi (oxidized asphalt) dengan berat jenis


berkisar antara 1,015 sampai dengan 1,035;
Hard grades asphalt dengan berat jenis berkisar antara 1,045
sampai dengan 1,065
Cutback grades asphalt dengan berat jenis berkisar antar
0,992 sampai dengan 1,007.

TITIK LEMBEK ASPAL


Aspal merupakan material termoplastik yang secara bertahap mencair, sesuai
dengan pertambahan suhu dan berlaku sebaliknya pada pengurangan suhu.
Namun demikian perilaku/respon material aspal tersebut terhadap suhu pada
prinsipnya membentuk suatu spektrum/beragam tergantung dari komposisi unsurunsur penyusunnya.

TITIK LEMBEK ASPAL

TITIK NYALA DAN TITIK BAKAR

Terdapat dua metoda yang umum dipakai untuk


menentukan titik nyala dari bahan aspal. Untuk aspal
cair (cutback) biasanya dilakukan dengan menggunakan
alat tagliabue open cup, sementara untuk bahan aspal
dalam bentuk padat digunakan alat cleveland oven cup.
Kedua metode ini pada prinsipnya adalah sama, walau
pada metode cleveland oven cup, bahan aspal
dipanaskan di dalam tempat besi. Sedangkan pada
metode tagliabue open cup, pemanasan dilakukan pada
tabung kaca.

Pada kedua metode tersebut, suhu dari material aspal ditingkatkan


secra gradual pada jenjang yang tetap. Seiring kenaikan suhu, titik
api kecil dilewatkan di atas permukaan benda uji yang dipanaskan
tersebut. Titik nyala ditentukan sebagai suhu terendah dimana
percikan api pertama kali terjadi, sedangkan titik bakar ditentukan
sebgai suhu dimana benda uji terbakar.
Titik nyala dan titik bakar aspal perlu diketahui sebagai indikasi
temperatur pemanasan maksimum di mana masih dalam batasbatas aman pengerjaan dan agar karakteristik aspal tidak berubah
(rusak) akibat dipanaskan melebihi tempertaur tititk bakar.

DAKTILITAS ASPAL
Pemeriksaan dilakukan dengan cara mengukur jarak terpanjang yang dapat
terbentuk dari bahan aspal pada 2 cetakan kuningan, akibat penarikan
dengan mesin uji, sebelum bahan tersebut putus. Pemeriksaan ini
dilakukan pada suhu 25 +/- 0,5 derajat selsius. Dan dengan kecepatan
50mm per menit (dengan toleransi +/- 5%).

Pemeriksaaan ini dilakukan untuk mengetahui salah satu sifat mekanik


bahan aspal yaitu seberapa besar bahan ini menahan kekuatan tarik yang
diwujudkan dalam bentuk kemampuannya untuk memenuhi syarat jarak
tertentu ( dalam pemeriksaan ini 100 cm) tanpa putus. Apabila bahan aspal
tidak putus setelah melewati jarak 100 cm, maka dianggap bahan ini
mempunyai kemampuan untuk menahan kekuatan tarik yang tinggi.
Pada saat pengujian, apabila benda uji menyentuh dasar mwsin uji atau
terapung pada permukaan air maka pengujian dianggap gagal /tidak
normal. Untuk menghindari hal semacam itu maka berat jenis air harus
disesuaikan dengan berat jenis benda uji.

KEHILANGAN BERAT AKIBAT PEMANASAN

KELARUTAN ASPAL

VISKOSITAS ASPAL

Tingkatan material aspal dan suhu yang digunakan sangat tergantung


pada kekentalannya. Kekentalan aspal sangat bervariasi terhadap
suhu, dari tingkatan padat, encer sampai tingkatan cair. Hubungan
antara kekentalan dan suhu adalah sangat penting dalam perencanaan
dan penggunaan aspal. Kekentalan akan berkurang (dalam hal ini
asapal menjadi lebih encer) ketika suhu meningkat.

VISKOSITAS ASPAL

VISKOSITAS ASPAL

Ketentuan Aspal Pen. 60/70

No.

Jenis Pengujian

Metoda Pengujian

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Penetrasi pada 25C (mm)


Viskositas 135C (cSt)
Titik Lembek (C)
Daktilitas pada 25C, (cm)
Titik Nyala (C)
Berat Jenis

SNI 06-2456-1991
SNI 06-6441-2000
SNI 06-2434-1991
SNI-06-2432-1991
SNI-06-2433-1991
SNI-06-2441-1991

Aspal Pen.
60/70
60-70
385
48
100
232
1,0

Sumber :

Anonim 2010, Spesifikasi Umum 2010 Seksi 6.3 Campuran Aspal Panas,
Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaa Umum, Jakarta.

Kadar air dan fraksi aspal cair