Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

ILMU HAMA HUTAN

Disusun Oleh :
Nama

: M. Faisal Nasution

NIM

: 13/16124/SHTI

Jurusan

: Kehutanan

Acara III

: Koleksi Serangga

Kelompok

: V ( Lima )

Co.Ass

: Rifky Nyoman Saputra

FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2015

ACARA III
KOLEKSI SERANGGA
I.

TUJUAN
Membuat koleksi kering dan koleksi basah bermacam-macam serangga dari

beberapa ordo dan family.


II. TEMPAT DAN TANGGAL
1. Tempat
: Lab. Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Instiper
2. Tanggal
: 06 November 2015
III. ALAT DAN BAHAN
1. Alat :
a. Jala penangkap
b. Alat tulis
c. Botol untuk koleksi basah
d. Kertas label
e. Jarum bundel
2. Bahan :
a. Serangga masing masing ordo
b. Alkohol 70%

IV. DASAR TEORI


Serangga merupakan kelompok hama paling berat yang menyebabkan
kerusakan hutan. Hama tanaman hutan pada umumnya baru menimbulkan
kerugian bila berada pada tingkat populasi yang tinggi. Perkembangan
populasi hama hingga mencapai tingkat yang tinggi ditentukan oleh potensi
reproduksi, kemampuan mempertahankan diri (sintas), dan daya tahannya
terhadap kondisi lingkungan hidupnya.
Salah satu cara terbaik untuk mempelajari serangga adalah dengan
mengadakan kegiatan di alam terbuka (di kebun). Serangga yang beraneka

ragam dapat dijumpai untuk koleksi. Di lapagan kita akan melihat langsung
specimen hidup sekaligus dapat mengetahui habitat dan tingkah laku serta
informasi tentang karakter morfologi yang sangat penting untuk penentuan
posisi taksonomi dan pengendalian OPT yang efektif.
Pada tanaman perkebunan sereangga yang sering menjadi hama dan
mengakibatkan kerusakan sebagian besar berasal dari ordo Lepidoptera,
Homoptera, Hemiptera, Orthotera dan Coleoptera. Sedangkan untuk
serangga yang menguntungkan seperti predator atau parasitoid biasanya
berasal dari ordo Coleoptera dan Hymenoptera. Serangga yang biasanya
dikoleksi adalah serangga dewasa (imago) berupa koleksi kering dan
serangga ada stadia muda atau larva berupa koleksi basah.
Untuk serangga yang dapat disimpan dengan cara ditusuk pakai jarum
sebaiknya jangan disimpan dalam cairan. Kelompok serangga yang tubuhnya
kecil dan lemah dengan menggunakan ethyl alcohol 70 95% dan serangga
tersebut dibiarkan dalam satu hari. Setelah itu disimpan secara permanen
dalam alkohol 70%. Cairan yang digunakan untuk menyimpan seranga dapat
menggunakan formula cornoys selama satu atau dua hari kemudian diawetkan
dalam ethanol 80% dan disimpan secara permanen. Untuk mencegah
penguapan cairan dalam botol penyimpanan, maka tutup botol dilapisi dengan
parafin (lilin) atau meletakan botol botol koleksi dalam botol besar berisi
alkohol.
Koleksi kering biasanya dilakukan untuk OPT atau serangga yang tubunya
sedang sampai besar, dibunuh dengan menggunakan bensin agar mati lemas
dan tubuhnya dapat dibentuk dengan mudah. Kotak penyimpanan serangga
dibuat dari kayu keras dan kering, tutup atasnya dibuat dari kaca dan bagian
bawahnya diberi gabus untuk memudahan masuknya jarum pada saat
membentuk dan menempelkan serangga pada bagian alasnya. Untuk
menghindari pembusukan pada bagian perut atau tubuh yang berisi cairan,
dapat diberi suntikan formalin.

V. CARA KERJA
1. Menangkap
Menangkap serangga dengan menggunakan jala yang diayunkan kearah
serangga. Pada waktu menangkap, jangan lupa mencatat tanggal
penangkpan, lokasi dan tinggi tempat, nama serangga yang ditangkap
terdapat pada apa, yang dicatat pada label semenara.
2. Mematikan
Untuk serangga kecil (lalat, kutu, semut, rayap), dimasukkan kedalam
alkohol. Untuk serangga yang besar (tawon, belalang, dll) dimasukkan
kedalam botol pembunuh kupu-kupu

(butterfly) dimatikan dengan

memberi insektisida (minyak tanah) pada alat mulutnya.


3. Mengopzet
Yaitu memasang serangga yang sudah dimatikan diatas turfblok dengan
pertolongan jarum atau memasang serangga bersayap pada spanblok
dengan tujuan agar kedudukan serangga menjadi seperti dalam kehidupan
alaminya dan supaya tidak rusak. Serangga yang tubuhnya berukuran
kecil, diopset dengan cara staging atau carding. Perhatikan penusukan
jarum untik serangga yang diopset.
4. Serangga-srangga yang sudah diopset pada turf blok atau pada spanblok
dimasukkan kedalam almari pengering sampai serangga tersebut menjadi
kering betul.
5. Mendeterminasi

Mendeterminasi serangga dengan menggunakan kunci determinasi.


6. Menyimpan
7. Setelah dideterminasi, serangga diberi etiket tetap dan disimpan dalam
dos-dos yang didalamnya diberi kamper, kemudian ditutup rapat dan
disimpan pada almari koleksi. Etiket tetap dibuat dari kertas manila
berwarna putih, berukuran 7,5x15 cm dan penulisan dengan pena tinta
berwarna hitam.

VI. HASIL PENGAMATAN


1. Ordo Orthophera
Arti: Orthoptera berasal dari bahasa Latin orthop = lurus, pteron = sayap
yang berarti Insekta bersayap lurus.
Ciri-ciri umum :
a. Sayap

: Memiliki satu pasang sayap, sayap depan lebih


tebal dan sempit disebut tegmina. Sayap belakang

tipis berupa selaput.


b. Tipe mulut
: mengigit
c. Metamorfosis
: tidak sempurna
d. Kunci determinasi :
1.(a) sayap ada. 2
2.(a) sayap depan dengan tekstur seperti mika/kulit atau tanduk
terutama pada pangkal sayap, sayap belakang bila ada bersifat
membran. 3
3.(b) ciri-ciri tidak seperti pada 3(a). 4
4.(b) alat mulut tipe pengunyah, mempunyai mandibel. 6
6.(b) abdomen tidak seperti pada 6(a) atau apabila ada cerci, sayap
menutup sebagian perutnya, jumlah tarsi bervariasi. 7
7.(b) sayap depan seperti mika dengan vena-vena dan saling tumpang
tindih menutup abdomen apabila sedang hinggap, sayap belakang
lebar, biasanya lebih pendek dari sayap depan dengan banyak venavena; antenna biasanya mempunyai ruas-ruas lebih dari 12 ruas.
Orthoptera
e. Contoh

: Kecoa (Periplaneta americana)


Jangkrik (Grillus sp.).

Belalang sembah (Tenodora sp.)

2. Ordo Lepidoptera
Arti: Lepidoptera berasal dari bahasa Latin yang artinya sayap bersisik
Ciri-ciri umum :
a. Sayap

: Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan

tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni.


b. Tipe mulut
: menghisap
c. Metamorfosis
: sempurna
d. Kunci determinasi :
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(b) dengan 2 pasang sayap. 14
14.(a) sayap sebagian tertutup oleh sisik. Lepidoptera
e. Contoh

: Kupu-kupu tengkorak (Acharonitra lachesis)


Penggerek batang padi kuning (Tryporiza
incertulas Wlk)
Ngengat sutera (Bombyx mori)
Kupu-kupu gajah (Attacus atlas)
Kupu-kupu kenari (Cricula trifenestrata)
Kupu-kupu ulat jati (Hyblaea puera)
Ulat grayak (Spodoptera litura)
Ngengat (Corcyra cephalonica (Stain.)

3. Ordo Diptera
Arti: Nama Diptera berasal dari kata Yunani di yang artinya duan dan
ptera yang artinya sayap.
Ciri-ciri umum:
a. Sayap
: mempunyai satu pasang sayap yang tipis
b. Tipe mulut : ada yang menusuk dan menghisap atau menjilat dan
menghisap.
c. Metamorfosis
: sempurna
d. Kunci determinasi :
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(a) dengan satu pasang sayap. 9
9.(b) pronotum tidak seperti pada 9(a), kaki belakang tidak begitu
membesar. 10
10.(b) tidak seperti ciri-ciri tersebut pada 10 (a). 11
11.(b) abdomen tidak seperti pada 11(a), mulut tipe penguyah atau
penghisap. 13
13.(a) tarsi selalu 5 ruas, mulut tipe penghisap, sayap belakang
menghilang berubah bentuk menjadi halteres, lalat bersayap
sepasang. Diptera
e. Contoh
: Lalat (Musca domestica)
Nyamuk biasa (Culex natigans)

4. Ordo Hymenoptera

Arti:

Nama Hymenoptera berasal dari kata Yunani hymen yang artinya


selaput dan ptera yang artinya sayap. Sehingga arti Hymenoptera
adalah serangga yang sayapnya tipis seperti selaput.

Ciri-ciri umum:
a. Sayap

: mempunyai dua pasang sayap, tipis seperti


selaput. Sayap belakang lebih kecil daripada

sayap depan
b. Tipe mulut
: menggigit
c. Metamorfosis
: sempurna
d. Kunci determinasi
:
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(b) dengan 2 pasang sayap. 14
14.(b) sayap tidak seperti pada 14(a).15
15.(b) sayap tidak seperti pada 15(a), sayap sedikit seperti garis; tarsi
lebih dari 2 ruas. 16
16.(b) sayap dan abdomen tidak seperti pada 16 (a). 17
17.(a) tarsi 5 ruas. 18
18.(b) sayap depan tidak seperti pada 18(a), mandibel tumbuh
sempurna, antenna lebih pendek dari pada tubuhnya. 19
19.(a) agak bertubuh padat, abdomen sering terputus pada
pangkalnya dengan petiolus, sayap belakang lebih kecil dari sayap
depan dengan 20 sel atau kurang. Hymenoptera
e. Contoh
: Lebah madu (Apis mellifera)

5. Ordo Homoptera
Arti: Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan
ordo Hemiptera.
Ciri-ciri umum:
a. Sayap

: mempunyai 2 pasang sayap, sayap depan dan


belakang sama, bentuk transparan.

b. Tipe mulut
: menghisap
c. Metamorfosis
: tidak sempurna
d. Kunci determinasi :
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(a) dengan satu pasang sayap. 9
9.(b) pronotum tidak seperti pada 9(a), kaki belakang tidak begitu
membesar. 10
10.(b) tidak seperti ciri-ciri tersebut pada 10(a). 11
11.(a) abdomen dengan alat tambahan caudal yang panjang seperti
ekor, mulut vestigial. 12
12.(a) antenna panjang dan menarik perhatian, abdomen ramping dan
panjang, sayap hanya mempunyai satu vena yang menyerupai
garpu, halteres (sayap belaakang yang mengecil) seperti kait;
ukuran serangga sangat kecil, biasanya panjangnya kurang dari
e. Contoh

5 mm. Homoptera
: Tonggeret (Dundubia manifera)
Wereng hijau (Nephotetix apicalis)
Kutu kepala (Pediculuchumanus capitis)
Kutu daun (Aphid sp)

6. Ordo Hemiptera
Arti : Nama "Hemiptera" berasal dari bahasa Yunani hemi (setengah)
dan pteron (sayap) sehingga jika diartikan secara keseluruhan,
Hemiptera berarti "yang bersayap setengah.
Ciri-ciri umum:
a. Sayap

: Memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap depan


satu pasang seperti berkulit dan sayap belakang

transparan.
b. Tipe mulut
: menusuk dan menghisap
c. Metamorfosis
: tidak sempurna
d. Kunci determinasi :

1.(a) sayap ada. 2


2.(a) sayap depan dengan tekstur seperti mika/kulit atau tanduk
terutama pada pangkal sayap, sayap belakang bila ada bersifat
membran. 3
3.(b) ciri-ciri tidak seperti pada 3(a). 4
4.(a) alat mulut tipe penghisap dengan bentuk paruh (beak)
panjang biasanya beruas-ruas. 5
5.(a) paruh muncul dari bagian depan kepala, tekstur pangkal
sayapdepan (kira-kira 2/3 bagian sayap) seperti mika atau kulit,
ujung sayap (1/3 bagian) bersifat membran, ujung sayap saling
tumpang tindih (ovelapping) apabila serangga sedang
e. Contoh

hinggap. Hemiptera
: Kutu busuk (Cymex rotundus)
Walang sangit (Leptocorisa acuta)
Kumbang coklat (Podops vermiculata)

7. Ordo Coleoptera
Arti : Nama Coleoptera berasal dari kata koleos yang artinya perisae
dan ptera yang artinya sayap.
Ciri-ciri umum:
a. Sayap

: mempunyai dua pasang sayap, sayap depan


keras, tebal dan mengandung zat tanduk disebut

elitra, sayap belakang seperti selaput.


b. Tipe mulut
: menggigit
c. Metamorfosis
: sempurna
d. Kunci determinasi :
1.(a) sayap ada. 2
2.(a) sayap depan dengan tekstur seperti mika/kulit atau tanduk
terutama pada pangkal sayap, sayap belakang bila ada bersifat
membran. 3
3.(b) ciri-ciri tidak seperti pada 3(a). 4
4.(b) alat mulut tipe pengunyah, mempunyai mandibel. 6

6.(b) abdomen tidak seperti pada 6(a) atau apabila ada cerci, sayap
menutup sebagian perutnya, jumlah tarsi bervariasi. 7
7.(a) sayap depan keras seperti tanduk tanpa vena, kedua sayap depan
biasanya bertemu satu sama lain membentuk sebuah garis lurus
kebawah pada tengah-tengah punggung, sayap belakang bersifat
membran, berbentuk sempit dan biasanya lebih panjang dari
sayap depan dengan hanya beberapa vena sayap, antenna 11 ruas
atau lebih. Coleoptera
e. Contoh
: Kumbang kelapa (Orytec rhynoceros)
Kumbang buas air (Dystisticus marginalis)
Kumbang beras (Calandra oryzae)

8. Ordo Isoptera
Arti : Isoptera berasal dari bahasa Latin iso = sama, pteron = sayap
yang berarti Insekta bersayap sama.
Ciri-ciri umum:
a. Sayap

: Memiliki dua pasang sayap tipis yang tipe dan

ukurannya sama.
b. Tipe mulut
: mengigit
c. Metamorfosis
: tidak sempurna
d. Kunci determinasi :
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(b) dengan 2 pasang sayap. 14
14.(b) sayap tidak seperti pada 14 (a). 15
15.(b) sayap tidak seperti pada 15 (a), sayap sedikit seperti garis; ta rsi
lebih dari 2 ruas. 16
16.(b) sayap dan abdomen tidak seperti pada 16 (a). 17
17.(b) tarsi dengan 4 ruas atau kurang. 21
21.(b) ciri-ciri seperti tersebut pada 21(a), antenna panjang dan
ramping. 22
22.(a) sayap depan dan belakang hampir sama dalam ukuran, bentuk
dan susunan venanya,; cerci kecil atau tidak ada, tarsi 4 ruas.
Isoptera

e. Contoh

: Rayap (Helanithermis sp.)

9. Ordo Odonata
Arti:

odonata=bergigi

Ciri-ciri umum:
a.
b.
c.
d.

Sayap
: 2 pasang sayap tipis seperti selaput
Tipe mulut
: Mengunyah
Metamorfosis
: tidak sempurna
Kunci determinasi
:
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(b) dengan 2 pasang sayap. 14
14.(b) sayap tidak seperti pada 14 (a). 15
15.(b) sayap tidak seperti pada 15 (a), sayap sedikit seperti garis; ta rsi
lebih dari 2 ruas. 16
16. (b) sayap dan abdomen tidak seperti pada 16 (a). 17
17.(b) tarsi dengan 4 ruas atau kurang. 21
21.(a) sayap belakang sama panjangdan sama bentuknya dengan sayap
depan, sayap dengan banyak vena dan sel, bagian pangkal agak
melebar; antenna pendaek seperti bulu keras, abdomen panjang

e. Contoh

dan ramping, tarsi 3 ruas. Odonata


: Capung (Aesha sp)
Capung besar (Epiophlebia)

VII. PEMBAHASAN
Dalam praktikum kali ini yang berjudul koleksi serangga, praktikan
diminta untuk menangkap serangga sebagai langkah awal dari kegiatan
acara ini. Penangkapan dilakukan menggunakan jala dan mencatat tanggal
penangkapan, lokasi, tinggi tempat, nama serangga yang ditangkap
terdapat pada apa, dan dicatat pada lebel sementara. Ketika sembilan
macam ordo sudah terkumpul, ada perlakuan pada masing masing
serangga berdasarkan ukuran. Untuk serangga kecil (lalat, kutu, semut,
rayap) dimasukkan langsung kedalam alkohol. Untuk serangga besar
(belalang, tawon dan sebagainya) dimasukan ke dalam botol pembunuh,
kupu kupu dimatikan dengan memberi insektisida/ minyak tanah pada
mulutnya.
Kemudian kegiatan penempalan serangga dilakukan pada spanblok
dengan tujuan agar posisi serangga beserta dengan sayapnya menempel
seperti serangga tersebut masih hidup juga menghindari kerusakan
terhadap koleksi serangga tersebut. Menempelkan serangga yang sudah
diawetkan dengan alkohol sebelumnya pada turfblok atau sterofom
menggunakan jarum serangga sedangkan untuk memasang serangga yang
mempunyai sayap cukup besar. Untuk perlakuan terhadap serangga yang
berukuran kecil, diopset dengan cara staging atau carding. Bagian dari
tubuh serangga yang akan diopset perlu diperhatikan penusukan jarumnya
agar tidak merusak tubuh serangga. Untuk koleksi serangga kering hanya
dengan menempelkan serangga tersebut pada gabus menggunakan jarum
serangga sebagai perekat dimana cara pengeringan terhadap serangga
tersebut adalah menggunakan panas matahari.
Serangga yang sudah diopset pada turfblok dan pada spanblok
dimasukan ke dalam lemari pengering sampai serangga betul betul

kering dan bisa melakukan tahap selanjutnya. Di dalam rongkist dari seng
dan menggunakan lampu listrik dalam lemari pengeringan juga dengan
alat khusus yang diberi zat ada erbens untuk mengurangi kandungan air
pada tubuh serangga tersebut. Cairan yang digunakan untuk mengawetkan
serangga dengan teknik koleksi serangga basah adalah alkohol atau
formalin
Tujuan dari pembuatan kunci determinasi tersebut adalah agar kita
dapat mengetahui identitas yang merupakan ciri khas dari morfologi
makhluk hidup jika dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yang
mempunyai ciri yang sama secara umumnya. Kunci determinasi untuk 9
ordo serangga yang telah dibuat adalah berdasarkan ada tidaknya sayap,
ukuran tubuh serangga, jumlah pasang sayap, bentuk sayap, ruas pada
antena, tipe mulut, tipe kaki dan jumlah ruas pada tarsi.
Setelah dideterminasi, serangga diberi etiket tetap dan disimpan
didalam doos yang didalamnya diberi kamper, kemudian ditutup rapat dan
disimpan dalam lemari koleksi. Tujuan diberikan kamper adalah untuk
menghindari koleksi serangga tersebut dimakan oleh serangga lain yang
masih hidup. Etiket tetap dibuat dari kertas manila berwarna putih,
berukuran 7,5 x 15 cm (tergantung dari besarnya ukuran tubuh serangga )
dan penulisan menggunakan tinta berwana.

VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum acara ini, praktikan dapat mengambil beberapa
kesimpulan, yaitu :
1.

Tujuan dibuat kunci determinasi adalah agar kita mengetahui ciri ciri

2.

khusus yang menjadi pembeda dengan ordo ordo lainnya.


Kunci determinasi untuk 9 ordo serangga yang telah dibuat adalah
berdasarkan ada tidaknya sayap, ukuran tubuh serangga, jumlah pasang
sayap, bentuk sayap, ruas pada antena, tipe mulut, tipe kaki dan jumlah

3.

ruas pada tarsi.


Cairan yang digunakan untuk mengawetkan serangga dengan teknik

4.

koleksi serangga basah adalah alkohol atau formalin.


Untuk perlakuan terhadap serangga yang berukuran kecil, diopset

5.

dengan cara staging atau carding


Untuk serangga besar dimasukan ke dalam botol pembunuh, kupu
kupu dimatikan dengan memberi insektisida/ minyak tanah
mulutnya.

pada

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Petunjuk Praktikum Ilmu Hama Hutan. Laboratorium Ilmu Hama
Hutan Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Stiper.
Yogykarta.
Subyanto. 2009. Bahan Ajar Imu Hama Hutan. Fakultas Kehutanan UGM.
Yogyakarta.
Sumardi dan S.M. Widyastuti. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Fakultas
Kehutanan UGM. Yogyakarta.

Yogyakarta, 08 November 2015


Mengetahui,
Co.Ass

Praktikan

(Rifky Nyoman Saputra)

(M. Faisal Nasution)