Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL

TERAPI BERMAIN PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH


DI RUANG BONA LANTAI 1
RSUD DR SOETOMO SURABAYA
1. LATAR BELAKANG
Dampak hosptalisasi pada anak adalah merupakan pengalaman yang penuh dengan
stress Anak akan merasa cemas dan akan timbul ketakutan akibat perpisahan dengan
keluarga ataupun lingkungan terutama pada anak yang mengalami rawat inap lama
(Wong, 2005). Terapi bermain sangat dibutuhkan oleh seorang anak, hal ini merupakan
kebutuhan psikososial anak baik dalam keadaan sehat maupn sakit. Bermain pada anak
dapat meningkatkan

kecerdasannya

dalam berfikir dan membantu

anak untuk

mengembangkan imajinasinya serta melatih daya motorik halus dan kasar pada anak.
Pada anak pra sekolah umumnya perkembangan motorik kasar dan motorik halusnya
sudah baik (Soetjiningsih, 1995). Pada tahap ini mereka berminat untuk mendapatkan
pengetahuan dan mulai mengalami peningkatan kompetensi. Dengan mengerti tentang
dunia anak terutama usia anak pra sekolah, maka dengan ini kami bermaksud untuk
melaksanakan program terapi bermain karena dengan bermain membuat anak menjadi
lebih rileks. Adapun terapi bermain yang akan dilaksanakan yaitu bermain puzzle. Alasan
kelompok mengadakan terapi bermain puzzle adalah untuk mengembangkan motorik
halus, keterampilan kognitif dan kemampuan berbahasa.Puzzle merupakan salah satu
bentuk permainan yang membutuhkan ketelitian, melatih kita untuk memusatkan pikiran,
karena kita harus berkonstrasi ketika meyusun kepingan-kepingan puzzle tersebut hingga
menjadi sebuah gambar yang utuh dan lengkap. Puzzle termasuk mainan anak yang
memiliki nilai-nilai edukatif.
Saat usia 3 tahun atau lebih, kemampuan balita untuk memegang dan mengambil
benda sudah berkembang, mereka juga bisa memasang kepingan-kepingan puzzle.
Dengan puzzle, balita belajar memahami konsep bentuk, warna, ukuran dan jumlah.,
tentunya bentuk puzzle yang digunakan lebih sederhana dan mempunyai warna yang lebih
mencolok. Memasang kepingan puzzle berarti mengingat gambar utuh, kemudian
menyusun komponennya menjadi sebuah gambar benda. Cara anak menyelesaikan
gambar utuh puzzle adalah dengan menggunakan metode coba dan salah. Warna dan
bentuk kepingan, dua hal yang diperhatikan buah hati Anda saat memasang puzzle.

Bermain puzzle melatih anak memusatkan pikiran karena ia harus berkonsentrasi ketika
mencocokkan kepingan-kepingan puzzle. Tidak hanya itu, permainan ini meningkatkan
keterampilan anak menyelesaikan masalah sederhana.
2. TUJUAN
2.1 Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti terapi bermain puzzle diharapkan dapat meminimalkan dampak
stress hospitalisasi pada anak
2.2 Tujuan Instruksional Khusus
Dengan mengikuti terapi bermain puzzle, diharapkan dapat:
1) Melatih kemampuan kognitif anak.
2) Melatih kemampuan motorik halus anak.
3) Melatih kemampuan sosial personal anak.
4) Melatih kemampuan berbahasa anak.
3. SASARAN
1) Anak usia pra sekolah (5-6 tahun)
2) Anak yang dirawat di ruang Hematologi Bona Lantai 1
3) Tidak mempunyai keterbatasan fisik yang dapat menghalangi proses terapi bermain
4) Kooperatif dan mampu mengikuti proses kegiatan sampai selesai
5) Tidak dalam kondisi kritis
4. JADWAL PELAKSANAAN
Hari/Tanggal

: Jumat, 7 Juni 2013

Jam

: 10.00 WIB

Tempat

: Ruang Bona 1 (Ruang Hematologi)

5. MEDIA
Puzzle (lebih dari 9 keping puzzle dengan gambar tokoh kartun)
Tape
6. METODE
1) Anak diberi penjelasan tentang prosedur pelaksanaan terapi bermain yang meliputi
waktu kegiatan, cara membuat, serta hal-hal lain yang terkait dengan program terapi

bermain.
2) Diawal permainan, anak diperkenalkan dengan puzzle, lalu diberikan penjelasan
mengenai cara bermain puzzle.
3) Setelah itu dengan panduan leader, anak diminta untuk mengamati terlebih dahulu
gambar yang ada di dalam puzzle, memencar kepingan puzzle, menyusun kembali
kepingan puzzle sesuai gambar semula dengan benar.
4) Fasilitator mendampingi dan mengarahkan anak selama bermain puzzle berlangsung.
5) Ibu dapat berperan sebagai fasilitator, tetapi tidak boleh ikut terlibat dalam kegiatan
membentuk mainan.
6) Setelah waktu yang ditentukan untuk terapi bermain habis, anak dipersilahkan untuk
berhenti, dan diberikan pujian atas keterlibatan anak selama terapi bermain
berlangsung.
7) Observer melakukan pengamatan dan memberikan evaluasi terhadap perilaku anak
dan proses jalannya terapi bermain.
8) Setelah anak selesai menyusun puzzle, anak diharapkan untuk bercerita tentang
gambar yang ada di dalam puzzle sesuai dengan imajinasi anak.
9) Pada akhir kegiatan diberikan pengumuman hasil bangun terbaik dan memberikan
bangun tersebut sebagai reward.
10) Kemudian fasilitator mengembalikan hasil karya mereka dan memberikan pujian
kepada semua peserta sebagai reward.
7. STRATEGI PELAKSANAAN
No
Waktu
1.
5 menit

2.

15 menit

Kegiatan
Pembukaan:
1. Membuka
kegiatan
dengan
mengucapkan salam.
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan tujuan dari terapi
bermain
4. Kontrak waktu dengan anak dan
orang tua
Pelaksanaan:
1. Menjelaskan tata cara pelaksanaan
terapi bermain puzzle
2. Memberikan kesempatan kepada
anak untuk bertanya jika belum jelas
3. Membagikan puzzlekepadaanak

Peserta
1. Menjawab salam
2. Mendengarkan
3. Memperhatikan
4. Memperhatikan
1. Memperhatikan
2. Bertanya

3. Antusias saat menerima


peralatan
4. Fasilitator mendampingi anak dan 4. Memulai
membuat
3

3.

4.

5 menit

5 menit

memberikan motivasi kepada anak


5. Menanyakan kepada anak apakah
telah selesai membuat menyusun
puzzle.
6. Memberitahu anak bahwa waktu
yang diberikan untuk bermain telah
selesai.
7. Memberikan pujian terhadap anak
karena telah bermain dengan serius
8. Menyuruh anak untuk menceritakan
gambar yang ada di dalam puzzle
Evaluasi:
1. Mengumumkan nama anak yang
dapat menyusun puzzle dengan
cepat dan tepat.
Terminasi:
1. Memberikan motivasi dan pujian
kepada seluruh anak yang telah
mengikuti program terapi bermain
2. Membagikan reward berupa hasil
karya mereka kepada masingmasing peserta
3. Mengucapkan terima kasih kepada
anak dan orang tua, menggali
perasaan klien setelah terapi
bermain
4. Mengucapkan salam penutup

bingkai dan menghias


5. Menjawab pertanyaan
6. Mendengarkan
7. Memperhatikan
8. Menceritakan
1. Gembira
tangan

dan

bertepuk

1. Gembira
2. Gembira
3. Mengungkapkan perasaan
4. Menjawab salam

8. PENGORGANISASIAN
Leader

: Irma Rosita, S.Kep

Fasilitator : Maria Konsita Pede, S.Kep


Yuri Kemal, S.Kep
Nurjani, S.Kep
Masfin Muhayanah, S.Kep
Ferry Kusnadi, S.Kep
Observer

: Nuur Raafi Wulandari, S.Kep

Pembimbing Klinik

: Suparmiasih, S.Kep., Ns

Pembimbing Pendidikan : Iqlima S.Kep., Ns


9. JOB DESCRIPTION
1) Leader
-

Mengatur jalannya permainan mulai dari pembukaan sampai selesai.

Mengarahkan permainan.

Memandu proses permainan.

2) Fasilitator
-

Memfasilitasi anak untuk bermain.

Membimbing anak bermain.

Memperhatikan respon anak saat bermain.

Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan temannya.

3) Observer
-

Mengawasi jalannya permainan.

Mencatat proses permainan disesuaikan dengan rencana.

Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermain.

Menyusun laporan dan menilai hasil permainan dibantu dengan Leader dan
fasilitator.

10. SETTING

= Anak

= Observer

= Leader

= fasilitator

11. KRITERIA EVALUASI


11.1

Evaluasi Struktur

1) Anak hadir di ruangan minimal 7 orang


2) Pelaksanaan dilakukan di ruang hematologi Bona lantai 2
3) Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelumnya
11.2

Evaluasi Proses

1) Anak antusias dalam kegiatan bermain puzzle


5

2) Anak mengikuti terapi bermain dari awal sampai akhir


3) Tidak terdapat anak yang rewel atau malas untuk bermain puzzle
11.3

Kriteria Hasil

1) Anak terlihat senang dan gembira


2) Kecemasan anak berkurang
3) Anak lebih akrab dengan tenaga kesehatan khususnya perawat
4) Bentuk yang dibuat sesuai atau rapi
5) Anak mampu menyebutkan gambar yang ada dalam puzzle
6) Anak mampu mengungkapkan perasaannya selama bermain puzzle.
12. MASALAH YANG MUNGKIN TERJADI
1. Anak malas dan mengantuk
2. Anak bermain tidak sesuai dengan perintah leader
13. ANTISIPASI HAMBATAN/MASALAH
1. Jadwal terapi bermain disesuaikan (tidak pada waktu terapi)
2. Diberikan penjelasan tentang pelaksanaan program terapi kepada anak dan orang tua
3. Melakukan kerjasama dengan orang tua untuk mendampingi anak selama program
terapi

BAB 2
MATERI KONSEP BERMAIN
2.1 Pengertian
1) Menurut Hurlock (1991) bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan
yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir, bermain dilakukan secara
sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban.
2) Menurut Depkes RI (1993) bermain merupakan kesibukan anak, layaknya seperti
bekerja bagi orang dewasa, dilakukan secara sukarela untuk memperoleh kesenangan.
3) Menurut Foster (1989) bermain adalah kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
keinginan sendiri untuk memperoleh kesenangan.
2.2 Fungsi Bermain
Menurut Wong (1996), fungsi bermain bagi anak meliputi :
1. Perkembangan sensori motorik
Bermain penting untuk mengembangkan otot dan energi. Komponen yang paling
untuk semua umur terutama bayi. Anak mengekslorasi alam sekitarnya :
a.

Bayi melalui stimulasi taktil ( sentuhan ), audio, visual.

b.

Toddler dan prasekolah ; gerakan tubuh dan eksplorasi lingkungan

c.

Sekolah dan remaja : Memodifikasi gerakan tubuh lebih terkoordinasi dan rumit.
Contoh berlari dan bersepeda.

2. Perkembangan Intelektual/ Kognitif


Anak belajar berhubungan dengan lingkungannya, belajar mengenal objek dan
bagaimana menggunakannya. Anak belajar berpikir abstrak dapat meningkatkan
kemampuan bahasa, dapat mengatasi masalah dan menolong anak membandingkan antara
fantasi dan realita.
3. Sosialisasi
Dengan bermain akan mengembangkan dan memperluas sosialisasi anak sehingga
anak cepat mengatasi persoalan yang akan timbul dalam hubungan sosial. Dengan
sosialisasi akan berkembang nilai-nilai normal dan etik. Anak belajar yang benar dan
salah serta bertanggung jawab atas kehendaknya.
a. Bayi : perhatian dan rasa senangnya akan kehadiran orang lain dimana kontak sosial
pertama anak adalah figur ibu.

b. Sampai usia 1 tahun : bayi memeriksa bayi lain, memeriksa objek di lingkungan.
c. Usia 23 tahun : permainan pura-pura dengan ibu dan anak, dokter dan pasien, penjual
dan pembeli. Kemudian meluas teman sementara dan teman permainannya.
d. Usia prasekolah : sadar akan keberadaan teman sebaya, mengidentifikasi ciri yang ada
pada setiap bermainnya.
e. Usia sekolah : teman 1 atau 2 orang yang disukai, belajar memberi dan menerima,
belajar peran benar atau salah, nilai moral dan etik, mulai memahami tanggung jawab
dari tindakannya.
4. Kreativitas
Melalui bermain anak menjadi kreatif, anak mencoba ide-ide baru dalam bermain.
Kalau anak merasa puas dari kreativitas baru, maka anak akan mencoba pada situasi yang
lain.
5. Nilai terapeutik
Untuk melepaskan stress dan ketegangan.
6. Kesadaran diri
Anak akan sadar akan kemampuan dan kelemahannya serta tingkah lakunya.
7. Nilai Moral
Belajar salah/benar dari kultur, rumah, sekolah dan interaksi. Contoh bila ingin
diterima sebagai anggota kelompok, anak harus mematuhi kode perilaku yang diterima
secara kultur, adil, jujur, kendali diri dan mempertimbangkan kepentingan orang lain.
2.3 Tujuan Bermain
Melalui fungsi yang terurai diatas, pada prinsipnya bermain mempunyai tujuan sebagai
berikut :
1. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat sakit anak
mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Walaupun demikian,
selama anak dirawat di rumah sakit, kegiatan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan
masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya.
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya.
3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuannya memecahkan masalah.
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat dirumah sakit.

2.4 Ciri Bermain


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Smith et al; Garvev; Rubin, Fein dan
Vandenberg (Johnson et al, 1999) diungkapkan adanya beberapa ciri bermain yaitu :
1. Dilakukan berdasarkan motivasi intrinsik, maksud muncul atas keinginan pribadi serta
untuk kepentingan sendiri.
2. Perasaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh emosi-emosi
yang positif.
3. Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
4. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhir.
5. Bebas memilih, dan ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi konsep bermain
pada anak-anak kecil.
2.5 Klasifikasi Bermain
1. Menurut isi permainan
1) Social Affektif Play, permainan yang membuat anak belajar berhubungan dengan
orang lain. Contoh : orang tua berbicara, memeluk, bersenandung, anak memberi
respon dengan tersenyum, mendengkur, tertawa, beraktivitas, dll.
2) Sense Pleasure Play (bermain untuk bersenang-senang), contoh : Obyek, cahaya,
bau, rasa, benda alam dan gerakan tubuh.
3) Skill Play, bermain yang sifatnya membina keterampilan Misalnya berulangkali
melakukan dan melatih kemampuan yang baru didapat,Contoh naik sepeda.
4) Dramatik Role Play/bermain Dramatik/ Simbolik, dimulai pada akhir masa bayi
11-13 bulan. Contoh : berpura-pura melakukan kegiatan keluarga seperti makan,
minum dan tidur. Usia Toddler kegiatan berupa hal-hal yang lebih dikenalnya.
Usia Prasekolah kegiatan sehari-hari tetapi lebih rumit.
5) Permainan game, contoh Puzzle, komputer games dan video.
2. Menurut Karakteristik Sosial
1) Onlooker Play/mengamati, anak melihat apa yang dilakukan anak lain tetapi tidak
ada usaha untuk ikut bermain. Contoh : menonton televisi
2) Solitary/mandiri, anak bermain sendiri. Menyukai kehadiran orang lain tapi tidak
ada usaha untuk mendekat atau berbicara. Hanya terpusat pada aktivitas/
permainanya sendiri.
3) ParalelPlay, bermain sendiri di tengah anak lain, tidak ada asosiasi kelompok.

4) Asosiasi Play, bermain dan beraktifitas serupa bersama, tetapi tidak ada
pembagian kerja, pemimpin/ tujuan bersama, Anak interaksi dengan saling
meminjam alat permainan. Ciri Anak Prasekolah
5) Cooperatif Play, bermain dalam kelompok, ada perasaan kebersamaan/
sebaliknya, terbentuk hubungan pemimpin dan pengikut. Ada tujuan yang
ditetapkan dan ingin dicapai.
3. Menurut Usia Anak
1) Anak usia bayi
Permainan untuk anak usia bayi dibagi menjadi bayi usia 0 3 bulan, usia 4 6
bulan, dan usia 7 9 bulan. Karakteristik permainan anak usia bayi adalah sense
of pleasure play.
- Bayi usia 0 3 bulan
Karakteristik khas permainan bagi usia bayi adalah adanya interaksi sosial yang
menyenangkan antara bayi dan orang tua dan/atau orang dewasa sekitarnya.
Selain itu, perasaan senang juga menjadi ciri khas dari permainan untuk bayi di
usia ini. Alat permainan yang biasa digunakan, misalnya mainan gantungan yang
berwarna terang dengan bunyi musik yang menarik. Dari permainan tersebut,
secara visual bayi diberi objek yang berwarna terang dengan tujuan menstimuli
penglihatannya. Oleh karena itu bayi harus ditidurkan atau diletakkan pada
posisi yang memungkinkan agar dapat memandang bebas ke sekelilingnya.
Secara auditori ajak bayi berbicara, beri kesempatan untuk mendengar
pembicaraan, musik dan nyanyian yang menyenangkan.
- Bayi usia 4 6 bulan
Untuk menstimuli penglihatan, dapat dilakukan permainan seperti mengajak
bayi menonton TV, memberi mainan yang mudah dipegangnya dan berwarna
terang, serta dapat pula dengan cara memberi cermin dan meletakkan bayi
didepannya sehingga memungkinkan bayi dapat melihat bayangan di cermin.
Untuk

stimulasi

pendengaran,

dapat

dilakukan

dengan

cara

selalu

membiasakan memanggil namanya, mengulangi suara yang dikeluarkannya, dan


sering berbicara dengan bayi, serta meletakkan mainan yang berbunyi di dekat
telinganya.
Untuk stimulasi taktil, berikan mainan yang dapat digenggamnya, lembut dan
lentur atau pada saat memandikan, biarkan bayi bermain air di dalam bak mandi.

10

- Bayi usia 7 9 bulan


Untuk stimulasi penglihatan, dapat dilakukan dengan memberikan mainan yang
berwarna terang, atau berikan kepadanya kertas dan alat tulis, biarkan ia
mencoret-coret sesuai keinginannya.
Stimulasi pendengaran, dapat dilakukan dengan memberi bayi boneka yang
berbunyi, mainan yang bisa dipegang dan berbunyi jika digerakkan. Untuk itu
alat permainan yang dapat diberikan pada bayi, misalnya buku dengan warna
yang terang an mencolok, gelas dan sendok yang tidak pecah, bola yang besar,
berbagai boneka, dan/atau mainan yang dapat didorong.
2) Anakusia toddler (>1 tahunsampai 3 tahun)
Anakusia toddler menunjukkankarakteristikyang khas, yaitubanyakbergerak,
tidakbisadiamdanmulaimengembangkanotonomidankemampuannyauntukmandiri
.

Olehkarenaitu,

dalammelakukanpermainan,

anaklebihbebas,

spontan,

danmenunjukkanotonomibaikdalammemilihmainanmaupundalamaktivitasbermai
nnya.Anakmempunyai

rasa

ingintahu

yang

besar.Olehkarenaituseringkalimainannyadibongkar-pasang,
bahkandirusaknya.Untuk itu harus diperhatikan keamanan dan keselamatan anak
dengan cara tidak memberikan alat permainan yang tajam dan menimbulkan
perlukaan.
Jenis permainan yang tepat dipilih untuk anak usia toddler adalah solitary play
dan parallel play. Pada anak usia 1 sampai 2 tahun lebih jelas terlihat anak
melakukan permainan sendiri dengan mainannya sendiri, sedangkan pada usia
lebih dari 2 tahun sampai 3 tahun, anak mulai dapat melakukan permainan secara
parallel karena sudah dapat berkomunikasi dalam kelompoknya walaupun belum
begitu jelas karena kemampuan berbahasa belum begitu lancar. Jenis alat
permainan yang tepat diberikan adalah boneka, pasir, tanah liat dan lilin warnawarni yang dapat dibentuk benda macam-macam
3) Anak usia prasekolah (>3 tahun - 6 tahun)
Anak usia prasekolah mempunyai kemampuan motorik kasar dan halus yang
lebih matang dari pada anak usia toddler. Anak sudah lebih aktif, kreatif dan
imajinatif. Demikian juga kemampuan berbicara dan berhubungan sosial dengan
temannya semakin meningkat. Oleh kerena itu jenis permainan yang sesuai
adalah associative play, dramatic play dan skill play. Anak melakukan

11

permainan bersama-sama dengan temannya dengan komunikasi yang sesuai


dengan kemampuan bahasanya. Anak juga sudah mampu memainkan peran orang
tua tertentu yang diidentifikasinya, seperti ayah, ibu dan bapak atau ibu gurunya.
Permainan yang menggunakan kemampuan motorik (skill play) banyak dipilih
anak usia prasekolah. Untuk itu, jenis alat permainan yang tepat diberikan pada
anak misalnya, sepeda, mobil-mobilan, alat olah raga, berenang dan permainan
balok-balok besar.
4) Anak usia sekolah (> 6 tahun - 12 tahun)
Kemampuan social anak usia sekolah semakin meningkat. Mereka lebih mampu
bekerja sama dengan teman sepermainannya. Seringkali pergaulan dengan teman
menjadi tempat belajar mengenal norma baik atau buruk. Dengan demikian,
permainan pada anak usia sekolah tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan
ketrampilan fisik atau intelektualnya, tetapi juga dapat mengembangkan
sensitivitasnya untuk terlibat dalam kelompok dan bekerja sama dengan
sesamanya. Mereka belajar norma kelompok sehingga dapat diterima dalam
kelompoknya. Sisi lain manfaat bermain bagi anak usia sekolah adalah
mengembangkan kemampuannya untuk bersaing secara sehat. Bagaimana anak
dapat menerima kelebihan orang lain melalui permainan yang ditunjukkannya.
Karakteristik permainan untuk anak usia sekolah dibedakan menurut jenis
kelaminnya.Anak laki-laki lebih tepat jika diberikan mainanjenis mekanik yang
akan menstimulasi kemampuan kreativitasnya dalam berkreasi sebagai seorang
laki-laki, misalnya mobil-mobilan. Anak perempuan lebih tepat diberikan
permainan yang dapat menstimulasinya untuk mengembangkan perasaan,
pemikiran dan sikapnya dalam menjalankan peran sebagai seorang perempuan,
misalnya alat untuk memasak dan boneka.
5) Anak usia remaja (13 tahun sampai 18 tahun)
Anak remaja berada dalam suatu fase peralihan, yaitu disatu sisi akan
meninggalkan masa kanak-kanak dan disisi lain masuk pada usia dewasa dan
bertindak sebagai individu. Oleh karena itu, dikatakan bahwa anak remaja akan
mengalami krisis identitas dan apabila tidak sukses melewatinya, anak akan
mencari kompensasinya pada hal yang berbahaya, seperti obat-obatan terlarang
dsb. Melihat karakteristik anak remaja perlu mengisi kegiatan yang konstruktif,
misalnya

dengan

melakukan

permainan

berbagai

macam

olah

raga,

12

mendengarkan dan/atau bermain musik serta melakukan kegiatan organisasi


remaja yang positif, seperti kelompok basket, sepak bola, karang taruna dll.
Prinsip kegiatan bermainbagi anak remaja tidak hanya sekedar mencari
kesenangan dan meningkatkan perkembangan fisio-emosional, tetapi juga lebih
juga ke arah menyalurkan minat, bakat dan aspirasi serta membantu remaja untuk
menemukan identitas pribadinya. Untuk itu alat permainan yang tepat bias berupa
berbagai macam alat olah raga, alat musik dan alat gambar atau lukis.
2.6 Faktor faktor yang Mempengaruhi Bermain
1. Tahapperkembangananak
Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak, yaitu sesuai dengan tahapan
pertumbuhan dan perkembangan anak. Tentunya permainan anak usia bayi tidak lagi
efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah. Demikian juga
sebaliknya karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Dengan demikian, orang tua dan perawat harus mengetahui dan
memberikan jenis permainan yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan
perkembangan anak.
2. Status kesehatananak
Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi, walaupun demikian, bukan
berarti anak tidak perlu bermain pada saat sedang sakit. Kebutuhan bermain pada anak
sama halnya dengan kebutuhan bekerja pada orang dewasa. Yang penting pada saat
kondisi anak sedang menurun atau anak terkena sakit, bahkan dirawat di rumah sakit,
orang tua dan perawat harus jeli memilihkan permainan yang dapat dilakukan anak
sesuai dengan prinsip bermain pada anak yang sedang dirawat di rumah sakit.
3. Jenis Kelamin
Dalam melaksanakan aktivitas bermain tidak membedakan jenis kelamin laki-laki atau
perempuan. Semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau
perempuan untuk mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreativitas dan kemampuan
sosial anak. Akan tetapi, ada pendapat lain yang meyakini bahwa permainan adalah
salah satu alat untuk membantu anak mengenal identitas diri sehingga sebagian alat
permainan anak perempuan tidak dianjurkan untuk digunakan oleh anak laki-laki. Hal
ini di latarbelakangi oleh alasan adanya tuntutan perilaku yang berbeda antara lakilaki dan perempuan dan hal ini dipelajari melalui media permainan.

13

4. Lingkungan yang mendukung


Terselenggaranya aktivitas bermain yang baik untuk perkembangan anak salah
satunya dipengaruhi oleh nilai moral, budaya dan lingkungan fisik rumah. Fasilitas
bermain tidak selalu harus yang dibeli di toko atau mainan jadi, tetapi lebih
diutamakan yang dapat menstimulus imajinasi dan kreativitas anak, bahkan sering kali
mainan tradisional yang dibuat sendiri dari/atau berasal dari benda-benda di sekitar
kehidupan anak akan lebih merangsang anak untuk kreatif, keyakinan keluarga
tentang moral dan budaya juga mempengaruhi bagaimana anak di didik melalui
permainan. Sementara lingkungan fisik sekitar lebih banyak mempengaruhi ruang
gerak anak untuk melakukan aktivitas fisik dan motorik. Lingkungan rumah yang
cukup luas untuk bermain memungkinkan anak mempunyai cukup ruang gerak untuk
bermain, berjalan, mondar-mandir, berlari, melompat dan bermain dengan teman
sekelompoknya.
5. Alatdanjenispermainan yang cocokatausesuaibagianak
Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk anak. Pilih yang
sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. Label yang tertera pada mainan harus
dibaca terlebih dahulu sebelum membelinya, apakah mainan tersebut sesuai dengan
usia anak. Alat permainan tidak selalu harus yang dibeli di toko atau mainan jadi,
tetapi lebih diutamakan yang dapat menstimulus imajinasi dan kreativitas anak,
bahkan seringkali mainan tradisional yang dibuat sendiri dari atau berasal dari bendabenda di sekitar kehidupan anak, akan lebih merangsang anak untuk kreatif. Alat
permainan yang harus didorong, ditarik, dan dimanipulasi, akan manegajarkan anak
untuk dapat mengembangkan kemampuan koordinasi alat gerak. Permainanmembantu
anak untuk meningkatkan kemampuan dalam mengenal norma dan aturan serta
interaksi sosial dengan orang lain.
2.7 Karakteristik Bermain Sesuai Tahap Perkembangan Anak
1) Tradisi
a. Setiap generasi meniru permainan generasi sebelumnya
b. Bentuk permainan yang memuaskan akan dilanjutkan
c. Tergantung dari perubahan musim
2) Bermain mengikuti pola perkembangan yang dapat diramalkan. Usia bertambah,
penggunaan material lebih bermakna, misalnya balok.

14

3) Waktu dan usia


a. Ragam kegiatan bermain berkurang dengan tambahnya usia
b. Waktu berkurang sesuai usia
c. Aktifitas fisik berkurang
d. Waktu untuk aktifitas spesifik meningkat
e. Perhatian menyempit tetapi lebih lama
f. Jumlah dan usia teman ( lebih sedikit dan spesifik )
2.8 Prinsip Permainan pada Anak di Rumah Sakit
1. Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang dijalankan pada
anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih permainan yang dapat dilakukan
di tempat tidur, dan anak tidak boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat
bermain khusus yang ada di ruangan rawat.
2. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan sederhana
3. Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak
4. Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama
5. Melibatkan orang tua
2.9 Keuntungan Bermain Pada Anak Di Rumah Sakit
1. Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawat
2. Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri. Aktivitas
bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak.
3. Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan rasa senang pada anak,
tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut,
sedih tegang dan nyeri.
4. Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk
mempunyai tingkah laku yang positif
2.10

Konsep Puzzle
Puzzle merupakan salah satu jenis permainan yang biasanya menggunakan potongan

(piece), dan pemain diminta memindahkan potongan (piece) secara bebas. Umumnya puzzle
memiliki potongan (piece) denganbentuk yang kompleks sehingga selama kita berusaha
mencocokan gambar, kita juga harus mencocokan bentuk sambungannnya (Yuriastien, 2009)
1.

Jenis-jenispuzzle:

15

Ada beberapajenis puzzle, antara lain:


a. Logic Puzzle
Logic Puzzle adalah puzzle yang menggunakan logika. Gambar berikut adalah contoh
dari logic puzzle berupa grid puzzle.
b. Jigsaw Puzzle
Jigsaw Puzzle adalah puzzle yang merupakan kepingan-kepingan. Disebutdengan
Jigsaw puzzle karena alat untuk memotong menjadi keeping disebut dengan jigsaw.
c. Mechanical Puzzle
Mechanical Puzzle adalah puzzle yang kepinganya saling berhubungan. Contoh
puzzle pada mechanical puzzle adalah Soma Cube dan Chinese wood knots.
d. Combination Puzzle
Combination puzzle adalah puzzle yang dapat diselesaikan melalui beberapa
kombinasi yang berbeda. Rubik's Cube dan Hanoi Tower adalah contoh Combination
Puzzle.
2.

Manfaat permainan puzzle:


a. Meningkatkan kemampuan berpikir dan membuat anak belajar berkonsentrasi.
Saat bermain puzzle, anak akan melatih sel-sel otaknya untuk mengembangkan
kemampuan berpikirnya dan berkonsentrasi untuk menyelesaikan potongan-potongan
kepingan gambar tersebut.
b. Melatih koordinasi tangan dan mata.
Anak dapat melatih koordinasi tangan dan mata untuk mencocokkan kepingankepingan puzzle dan menyusunnya menjadi satu gambar.
c. Meningkatkan Keterampilan Kognitif.
Keterampilan kognitif (cognitive skill) berkaitan dengan kemampuan untuk belajar
dan memecahkan masalah. Puzzle adalah permainan yang menarik bagi anak balita
karena anak balita pada dasarnya menyukai bentuk gambar dan warna yang menarik.
Dengan bermain puzzle anak akan mencoba memecahkan masalah yaitu menyusun
gambar.
d. Belajar bersosialisasi.
Dua anak yang bermain bersama-sama tentunya butuh diskusi untuk merancang
kepingan-kepingan gambar dari puzzle tersebut. Anak yang lebih besar akan merasa
senang jika dapat membantu anak yang lebih kecil, sebaliknya pun begitu, sehingga
akan tercipta suasana yang nyaman dan terciptanya interaksi ketika bermain.

16

e. Melatih kesabaran
Dengan bermain puzzle anak bias belaja rmelatih kesabarannya dalam menyelesaikan
suatu tantangan.
f. Melatih daya ingat
Bermain puzzle akan melatih daya ingat anak tentang bentuk dan warna puzzle yang
akan disusun. Anak akan mengingat gambar yang dilihat sebelum menyusunnya.
g. Melatih nalar
Puzzle dalam bentuk manusia akan melatih nalar mereka. Anak akan menyimpulkan
dimana letak kepala, tangan, kaki dan lain-lain sesuai dengan logika. Jika sudah
menaruh bagian hidung berarti mulut ada di bagian bawahnya.
Orang tua harus memperhatikan bahwa kemampuan tiap anak itu berbeda. Biasanya
anak yang sejak dini sudah dikenalkan dengan puzzle akan lebih mahir dan terbiasa bermain
puzzle. Oleh karena itu, para orang tua yang akan memilih puzzle untuk anaknya, jangan
berdasarkan umur, tetapi bergantung kepada kemampuan sibuah hati. Umumnya, anak-anak
yang kuat kemampuan visualnya, akan lebih mudah dancepat menyelesaikan permainan ini.

17

DAFTAR PUSTAKA
Berhman et al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol 3, Editor bahasa Indonesia: A. Samik
Wahab-Ed.15- Jakarta : EGC
Hurlock.1991. Perkembangan Anak Jilid I. Jakarta : Erlangga
Ngastiyah,2005, Perawatan Anak Sakit, Ed.2, Jakarta:EGC
Soetjiningsih, 1995, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Edisi 4. Jakarta : EGC

18

19