Anda di halaman 1dari 9

Cahaya matahari

Cahaya matahari merupakan sumber utama energi yang diperlukan dalam proses
fotosintesis tanaman. Cahaya matahari mempengaruhi kehidupan tanaman karena 4 hal:
1. intensitasnya: banyaknya jumlah cahaya (dalam foot candle) yang sampai pada
tanaman
2. kualitasnya: panjang gelombang (dalam satuan mg) yang dapat ditangkap/ disekap
tanaman
3. durasi: lamanya pencahayaan
4. arah datangnya cahaya: berkaitan dengan intensitas.
1). Intensitas Cahaya.
Cahaya matahari yang sampai ke bumi secara langsung dalam bentuk cahaya
gelombang pendek hanya 24 %, sebagan dipantulkan kembali ke atmosfer dalam bentuk
gelombang panjang, konduksi, konveksi, dan untuk evapotranspirasi. Apabila atmosfer
berawan, maka intensitas cahaya akan berkurang. Di daerah tropis, intensitas cahaya
sering berkurang karena tertutup oleh awan yang tebal, terutama pada musim hujan.
Berdasarkan atas tanggapan tanaman terhadap intensitas cahaya dan asimilasi CO2,
tanaman dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu:
a) Tanaman C-3: tanaman yang tidak dapat memanfaatkan intensitas cahaya matahari
secara penuh dalam proses fotosintesisnya. Tanaman ini mempunyai titik
kompensasi CO2 50 ppm dan terjadi fotorespirasi yang dapat mengurangi hasil
fotosintat bersih. Fiksasi CO2 dalam proses fotosintesis dilakukan oleh senyawa
RuDP

(Ribulose

diphosphat)

dan

membentuk

senyawa

fosfoglyserat

(phosphoglycerit acid = PGA) dengan rumus:

contoh: bit gula, kedelai, gandum, dan tanaman-tanaman daerah temperate.


b) Tanaman C-4: tanaman yang memanfaatkan intensitas cahaya secara penuh, titik
kompensasi CO2 hampir mendekati nol. Fiksasi CO2 dilakukan oleh phosphoenol
pyruvate (PEP) dan membentuk senyawa oxaloacetate (OAA) dalam proses

fotosintesisnya (Hatch and Slack, 1970 cit. Landsberg and Cutting, 1977) dengan
rumus:

Secara anatomi tanaman C-4 dicirikan dengan adanya kloroplast yang terdapat
dalam jaringan mesofil dan sel pengiring jaringan pembuluh (bundle sheath cells).
Kloroplast mesofil ukurannya kecil, memiliki grana dan tidak mengakumulasi pati,
sedangkan kloroplast dalam bundle sheath adalah besar, tidak mempunyai grana dan
mengakumulasi pati. Pada tanaman ini tidak terjadi proses fotorespirasi sehingga hasil
fotosintesis bersihnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman C-3. contoh: jagung,
tebu, sorghum, bayam dan banyak tanaman rumputan tropis.
c) Tanaman

CAM

(Crassulacea

acid

metabolism):

tanaman

yang

dapat

mengasimilasi CO2 dalam keadaan gelap dalam keadaan cekaman, stomata


membuka pada malam hari dan menutup pada siang hari. Dalam proses
fotosintesisnya produk pertama yang dibentuk adalah asam malat dengan
rumus:

Karena stomatanya membuka pada malam hari dan menutup pada siang hari,
maka tanaman ini sangat efisien dalam memanfaatkan air (kebutuhan airnya sangat kecil)
sehingga hasil fotosintesis bersihnya juga kecil Contoh: anggrek, kaktus, nanas.

2) Kualitas Cahaya
Kualitas cahaya menunjukkan panjang gelombang yang terkandung dalam
cahaya. Menurut Penman (1968) dari 75 satuan (unit) cahaya yang sampai dipermukaan
bumi atau atmosfer, apabila semua unit tidak dipantulkan oleh awan, kira-kira 44 %
mengandung panjang gelombang yang aktif untuk fotosintesis (photo-synthetically active
wavelengths) dengan panjang gelombang 0,4 - 0,7 atau 400-700 mg. Panjang
gelombang ini umumnya yang dapat ditangkap/dilihat oleh mata manusia, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

ultraviolet (panjang gelombang 400-435 m)


biru (panjang gelombang 435-490 m)
hijau (panjang gelombang 490-574 m)
kuning (panjang gelombang 574-595 m )
oranye (panjang gelombang 595-626 m )
merah (panjang gelombang 626-750 m )
Dari panjang gelombang di atas yang efektif untuk fotosintesis adalah oranye,

merah, disusul violet dan biru. Apabila cahaya matahari sampai pada daun, maka cahaya
yang efektif akan disekap, sedangkan sisanya (hijau dan kuning) yang kurang efektif akan
diteruskan ke bawah. Oleh karena itu daun-daun yang ternaung tidak dapat menghasilkan
fotosintat secara maksimal. Untuk mendapatkan hasil tanaman yang maksimal perlu
adanya pengurangan daun sampai pada batas luasdaun tertentu (luas daun yang optimal)
yang diukur dengan indeks luas daun. Yang dimaksud dengan indeks luas daun (leaf area
index atau LAI) adalah perbandingan antara luas daun tanaman dengan luas lahan yang
ditempati oleh tanaman tersebut. LAI optimum untuk tanaman satu berbeda dengan LAI
optimum tanaman yang lain, untuk mendapatkan hasil tanaman yang maksimum.
3) Durasi atau lamanya pencahayaan (fotopepriodisme)
Pada umumnya periode waktu untuk pertumbuhan aktif suatu tanaman setiap
tahun dibatasi oleh sejumlah faktor. Sebagai contoh pada daerah dengan garis lintang
tinggi, pertumbuhan aktif dibatasi oleh suhu rendah selama musim dingin. Di daerah
tropis, kelembaban yang sesuai selama musim kemarau lebih membatasi panjangnya
musim pertumbuhan tanaman. Dalam pembudidayaan tanaman hams disesuaikan
aktivitas tanaman dengan perubahan kondisi iklim yang terjadi selama setahun. Apabila
tanaman hams bertahan, ia hams menyesuaikan dengan daerah dimana ia tumbuh.
Sejumlah mekanisme atau peristiwa telah terjadi yang memungkinkan tanaman tumbuh
pada waktunya. Salah satu mekanisme yang paling penting adalah fotoperiodisme, atau

kepekaannya pada panjang hari/lamanya pencahayaan (atau malam). Pengaruh


fotoperiodisme paling nyata adalah pada induksi pembungaan yaitu peralihan tanaman
dari fase vegetatif ke fase reproduktif. Akan tetapi fotoperiodisme dapat mempenganihi
sejumlah aspek lain dari fase reproduktif, meliputi lamanya pembungaan, panjang periode
reproduktif, pembentukan tepungsari yang dapat hidup (viable) dan pembentukan buah
dan biji. Tanggapan tanaman terhadap fotoperiodisme dikelompokkan dalam:
a) Tanaman hari netral (day neutral plants): tanaman yang dalam pembungannya
tidak dipengaruhi oleh lamanya pencahayaan. Pada tanaman ini suhu yang lebih
tinggi umumnya memacu/mempercepat pembungaan tanaman.
b) Tanaman hari pendek absolut (A bsolut short day plants): tanaman yang hanya
akan berbunga apabila lamanya pencahayaan lebih pendek dari panjang hari
spesifik atau kritis.
c) Tanaman hari panjang absolut (Absolut long day plants): tanaman yang hanya
akan berbunga apabila panjang hari atau lamanya pencahayaan lebih panjang dari
panjang hari spesifik atau kritis.
d) Tanaman hari pendek kuantitatif (Quantitative short day plants): hari pendek
mempercepat pembungaan yaitu tanggapan kuantitatif pada hari pendek yang ada,
tidak memerlukan adanya lama pencahayaan kritis sebelum terjadi pembungaan.
Akan tetapi umumnya tanaman akan berbunga jika mendapatkan lama
pencahayaan yang panjang dalam periode waktu yang cukup. Suhu yang lebih
tinggi umumnya memacu proses pembungaan.
e) Tanaman hari panjang kuantitatif (Quantitative long day plants): pembungaan
tanaman dipacu oleh hari panjang dan dihambat oleh hari pendek. Suhu yang lebih
tinggi umumnya memacu proses pembungaan, teristimewa dalam panjang hari
yang lebih pendek.
Sebagian besar tanaman semusim yang sudah beradaptasi di daerah tropis
termasuk dalam kelompok tanaman hari pendek kuantitatif, misalnya tanaman kedelai,
jagung, padi, dan sorghum.
4) Arah datangnya cahaya
Arah datangnya cahaya berkaitan dengan jumlah cahaya yang dapat diterima
tanaman. Cahaya yang datangnya condong akan memberikan energi yang lebih kecil
daripada yang datangnya dari arah vertikal, sehingga pengaruhnya pada pertumbuhan
tanaman juga akan berbeda. Cahaya matahari pada pagi hari lebih baik bagi pertumbuhan

tanaman yang masih muda (pada pembibitan dan pesemaian). Oleh karena itu dalam
membuat atap pembibitan umumnya miring ke arah barat (atap bagian timur lebih tinggi
dari bagian barat).

PENGARUH INTENSITAS CAHAYA MATAHARI TERHADAP


PERTUMBUHAN TANAMAN KEDELAI (GLYCINE MAX)

Cahaya matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan, tanpa adanya
cahaya matahari kehidupan tidak akan ada. Bagi pertumbuhan tanaman ternyata pengaruh
cahaya selain ditentukan oleh kualitasnya ternyata ditentu kan intensitasnya. Intensitas
cahaya adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu tanaman per satuan luas dan per
satuan waktu (kal/cm2/hari). Dengan demikian pengertian intensitas yang dimaksud
sudah termasuk lama penyinaran, yaitu lama matahari bersinar dalam satu hari. Pada
dasarnya intensitas cahaya matahari akan berpengaruh nyata terhadap sifat morfologi
tanaman.Hal ini dikarenakanintensitas cahaya matahari dibutuhkan untuk berlangsungnya
penyatuan CO2 dan air untuk membentuk karbohidrat.
Berdasarkan ekologi terhadap kemampuan penerimaan cahaya, Lukitasari (2010)
menyatakan bahwa secara garis besar tanaman dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu:
1) Heliofit, tanaman yang tumbuh baik jika terkena cahaya matahari penuh, dan 2)
Skiofit, tanaman yang tumbuh baik pada intensitas cahaya yang rendah. Secara umum,
Suryowinoto (1988) mengemukakan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan tanaman, yaitu faktor makro dan faktor mikro. Yang termasuk dalam faktor
makro adalah: cahaya matahari, suhu, kelembaban, awan, angin, serta pencemaran udara.
Sedangkan faktor mikro meliputi media tumbuh dan kandungan O2 dan CO2 yang ada di
udara, Tanaman yang mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi
menyebabkan lilit batang tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih sempurna,
internodia menjadi lebih pendek, daun lebih tebal tetapi ukurannya lebih kecil dibanding
dengan tanaman yang terlindung. Beberapa efek dari cahaya matahari penuh yang
melebihi kebutuhan optimum akan dapat menyebabkan layu, fotosistesi lambat, laju
respirasi meningkat tetapi

kondisi tersebut

cenderung mempertinggi daya tahan

tanaman.
Menurut Salisbury dan Ross (1992) cahaya matahari mempunyai peranan besar
dalam proses fisiologi tanaman seperti fotosintesis, respirasi, pertumbuhan dan
perkembangan, menutup dan membukanya stomata, dan perkecambahan tanaman,
metabolisme tanaman hijau, sehingga ketersediaan cahaya matahari menentukan tingkat

produksi tanaman. Tanaman hijau memanfaatkan cahaya matahari melalui proses


fotosintesis. Chozin (1998) melaporkan bahwa intensitas cahaya di bawah tegakan karet
umur dua dan tiga tahun setara dengan intensitas cahaya di bawah paranet 25% dan 50%,
sedangkan pada tegakan karet berumur empat tahun sudah melebihi intensitas cahaya
dalam paranet 75%.
Pendapat di atas diperkuat oleh Baharsyah dkk, (1985) bahwa cahaya matahari
sangat besar peranannya dalam proses fisiologis yaitu fotosintesis, respirasi, pertumbuhan
dan perkembangan, pembukaan dan penutupan stomata, berbagai pergerakan tanaman dan
perkecambahan. Penyinaran matahari mempengaruhi pertumbuhan, reproduksi dan hasil
tanaman melalui proses fotosintesis. Hubungan antara penyinaran matahari dengan hasil
adalah kompleks terutama untuk tanaman kedelai yang memang pada dasarnya
merupakan tanaman yang menyukai cahaya matahari penuh.
Kedelai merupakan komoditas penting dalam hal penyediaan pangan sehingga
telah menjadi komoditas utama dalam pembangunan pertanian di Indonesia
(Adimihardja,1992). Kedelai yang dibudidayakan selama ini sebenarnya terdiri dari
paling tidak dua spesies yaitu Glycine max biasa disebut kedelai putih. Ciri utamanya
adalah warna biji yang berkisar antara kemungkinan berwarnakuning, agak putih, atau
hijau.

Spesies kedua adalah Glycine soja atau kedelai hitam dengan ciri utama warna

biji hitam. Glycine max merupakan tanaman asli daerah Asia subtropik seperti RRC
dan Jepang selatan, sementara Glycine sojamerupakan tanaman asli Asia tropis di
Asia Tenggara. Tanaman ini telah menyebar ke Jepang, Korea, Asia Tenggara, dan
Indonesia.
Perlakuan dengan pemberian naungan pada kedelai akan mempengaruhi sifat
morfologi tanaman. Morfologi tanaman kedelai yang bisa dipengaruhi oleh naungan
adalah batang tidak kokoh, karena garis tengah batang lebih kecil sehingga tanaman
menjadi mudah rebah seperti diungkapkan Adisarwanto (1999).
Hal ini tidak berlaku bagi tanaman yang toleran naungan karena cenderung lebih
efisien dalam pemanfaatan cahaya. Pada batas naungan tertentu proses fisiologis didalam
tanaman toleran tersebut tidak terlalu dipengaruhi naungan sehingga tanaman tumbuh
normal, tidak terjadi etiolasi dan kerebahan yang tentunya tidak mempengaruhi hasil
(Asadi dkk,1991).

Asadi,

dkk

(1997) menjelaskan bahwa adaptasi tanaman terhadap naungan

dicirikan oleh: a) peningkatan luas daun dan penurunan penggunaan metabolit, b)


penurunan jumlah tranmisi dan refleksi cahaya.

Penurunan intensitas cahaya akibat

naungan juga akan menurunkan rasio klorofil a/b, tetapi akan meningkatkan
jumlahrelative

klorofil.

Pemberian

naungan

pada

tanaman

akan

berdampak

terhadapproses metabolism dalam tubuh tanaman dan akhirnya akan berdampak terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman, terutama karena kurangnya intensitas cahaya yang
diterima tanaman tersebut (Baharsyah,1980). Widiastuti, dkk (2004) juga menyatakan
bahwa pemberian perlakuan naungan pada berbagai stadi pertumbuhan berpengaruh nyata
terhadap jumlah bunga per tanaman, jumlah polong per tanaman, berat biji, dan produksi
biji kering pada berbagai macam variaetas kedelai. Pemberian naungan 20% akan
memberikan hasil yang lebih baik apabila diaplikasikan pada awal pengisian polong
dibandingkan dengan awal tanam atau awal berbunga. Hasil produksi kedelai yang
optimum membutuhkan intensitas cahaya yang cukup. Produksi kedelai selain
dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang diserap tanaman juga ditentukan oleh tingkat
efisiensi penggunaan cahaya oleh tanaman bersangkutan.

TUGAS
EKOFISIOLOGI

Oleh
I Gede Asena Pradana
C1M013080

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2016