Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

GUGATAN ISTERI (FASAKH)


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Ilmu Tasawuf

Disusun Oleh
Nama

: RAKHMAWATI

NPM

: 15290017

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH


STIT AGUS SALIM METRO
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt, karena atas segala curahan rahmat dan
karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan tema
Gugatan isteri (Fasakh) ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini pula penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada
seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Secara khusus, penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. Dosen pengampu mata kuliah yang telah memberikan tugas makalah ini
2. Semua pihak yang telah berpartisipasi dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih
banyak terdapat kekurangan dari sisi isi pembahasan, penulisan kalimat dan
sebagainya, maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
konstruktif sebagai penambahan pengetahuan bagi penulis dalam menyusun
makalah di masa yang akan datang.

Metro, Oktober 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................


KATA PENGANTAR .....................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................

i
ii
iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................

B. Rumusan Masalah ..........................................................................

C. Tujuan Penulisan ............................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Macam-macam Fasakh .........................................

B. Sumber Hukum Fasakh ..................................................................

C. Pelaksanaan Fasakh .......................................................................

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ....................................................................................
B. Saran ..............................................................................................

11
11

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

12

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini sering terlihat, seorang isteri mengajukan gugat cerai
terhadapsuaminya. berita tersebut semakin hangat, karena si penggugat yang
sering diekspos di mediatelevisi adalah figure atau artis-artis terkenal. gugat
cerai tersebut ada yang berhasil, yaitu jatuhnya talak, atau karena keahlian
hakim dan pengacara, gugat cerai urung dilanjutkan,sehingga rumah tangga
mereka terselamatkan.padahal mereka mengikatkan diri dalam lembaga
perkawinan adalah dalam rangka melaksanakan perintah allah s.w.t.
Sebagaimana banyak dikutip dalam setiap undangan walimahan
(resepsi pernikahan), yaitu termaktub dalam surat ar-rum ayat 21 yang artinya:
dan di antara tanda-tandanya bahwa dia menciptakan jodoh untuknya dari
dirimu (bangsamu) supaya kamu bersenang-senang kepadanya, dan dia
mengadakan sesama kamu kasih saying dan rahmat. sesungguhnya yang
demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir.
Berdasarkan ayat ini pula, maka tujuan perkawinan dalam islam adalah
untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa-rahmah.bisa jadi, karena
mereka sudah tidak dapat mempertahankan keluarga yang sakinah, mawaddah
wa-rahmah, tapi jika hal tersebut tidak terlaksana maka salah satu pihak dapat
menggunakan haknya, baik suami atau isteri untuk mengajukan gugatan cerai,
padahal dalam islam, cerai memang dihalalkan allah, namun sangat dibenci
olehnya (sesungguhnya perbuatan yang boleh, tetapi sangat dibenci allah
adalah talak, hadits riwayat abu daud dan ibn majah). Gugatan dari suami
disebut dengan talaq sementara gugatan dari isteri disebut fasakh.
Alasan-alasan tersebut diatas yang mendasari kami membuat makalah
ini yang membahas tentang Gugatan isteri (Fasakh).

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami buat dalam makalah ini adalah,
sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari Fasakh?
2. Apa dasar hukum dari Fasakh?
3. Bagaimana peaksanaan Fasakh?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisn dalam
makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian Fasakh.
2. Untuk mengetahui dasar hukum fasakh.
3. Untuk mengetahui tentang pelaksanaan fasakh.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Macam-macam Fasakh
1. Pengertian Fasakh
Fasakh dalam tinjauan bahasa (etimologi) adalah berasal dari akar
kata (mashdar) : artinya: membatalkan.1 :
artinya pembatalan.2 Kemudian dalam perkembangannya lafadz
fasakh ini digunakan oleh para fuqoha untuk dijadikan istilah yang
menunjukan arti tertentu.
Fasakh menurut terminologi adalah : artinya:
menfasakh akad, yang berarti membatalkan. Apabila terjadi pada akad
nikah. Fasakh berarti melepaskan ikatan hubungan antara suami istri.3
Dalam definisi lain, Abdul Mujib mengartikan fasakh sebagai pembatalan
perkawinan oleh istri karena antara suami istri terdapat cacat atau penyakit
yang tidak dapat disembuhkan, atau si suami tidak dapat memberi belanja
atau nafkah, menganiaya, murtad dan sebagainya.4 Begitu pula menurut
Gundur, bahwa fasakh adalah membatalkan akad dan menghilangkan
ikatan hubungan yang menjadi konsekuensi dari akad tersebut.5
Dari beberapa pengertian tersebut, berarti fasakh adalah salah satu
bentuk perpisahan yang dapat melepaskan atau membatalkan ikatan
perkawinan.
2. Macam-macam Fasakh
Fasakhterbagimenjadiduayaitu:
a.

Fasakhkarenasyaratsyaratyangtidakterpenuhiketikaakadnikah:6

1 A. W. Munawwir, Al-Munawwir, (Surabaya; Pustaka Progressif, 1997), Cet. Ke-14, h.


1054

2 Atabik Ali, Kamus Kontenporer, (Yogyakarta; Yayasan ali Maksum Ponpes Krapyak,
1996), h. 1392
3 Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, (Beirut; Daar Al-Fikr, 1983), Cet. Ke-4, h. 268
4 M. Abdul Mujied, Kamus Istilah Fiqh, (Jakarta; Pustala Firdaus, 1994), Cet. Ke-1, h.
75
5 Ahmad Gundur, At-Thalaq, (Makkah, Daar al-Ma'arif, 1967), Cet. Ke-1, h. 35
6 Sayyid Sabiq, Loc. Cit.

1)

Setelah akad nikah, ternyata diketahui bahwa isteri merupakan


saudarasepersusuansuami(radaah).

2)

Pernikahanyangdilaksanakansaatsuamiisterimasihkecil.Yang
menikahkan keduanya adalah wali selain ayah dan kakeknya.
Kemudian setelah dewasa keduanya berhak memilih untuk
meneruskanikatanperkawinannyaituataumengakhirinya.Khiyar
ini dinamakan khiyar albulugh. Jika keduanya lebih memilih
untukmengakhiriikatansuamiisteri,makahalinidisebutfasakh
alaqdi.

3)

Fasakh,karenakeduanyadinikahkanpadasaatsalahseorangdari
keduanyaataukeduaduanyasedangsakit.

4)

Fasakhkarenapasanganyangtidaksekufu(imbang).

5)

Fasakhkarenamaharyangdiberikantidaksesuaidenganmahar
padaumumnya(maharmisli).7

b.

Fasakhyangdianggaptidakmembatalkanakadsejaksemula,namun
timbul cacat yang tidak diduga dikemudian hari, menyebabkan
keberlangsunganakadtidaklestari:
1)

Apabila salahseorangdarisuamiisterimurtadataukeluardari
Islam dan tidak mau kembali sama sekali, maka akad
pernikahannyamenjadibatal(Fasakh)karenakemurtadantersebut,
yaitumurtadyangterjadisetelahsekianlamadaripernikahan.8

2)

Jikasuami yangtadinya kafiritukemudianmasukIslam,tetapi


istrimasihtetapdalamkekafirannya,yaitutetapmenjadimusyrik,
makaakadpernikahanyangdulutelahdilaksanakan,menjadibatal
(Fasakh). Lain halnya, jika istrinyaitu seorang ahli kitab, maka
akadnyatetapsahsepertisemula.Sebabperkawinanlelakimuslim
denganwanitaahlikitabadalahsahdarisejaksemula.

7 Abu Ainaini Al-Badran, Al-Fiqh Al-Muqaran Li Al-Akhwal Asy Syakhsiyah, (Beirut;


Daar An-Nuhdhah AlArabiyah, tth), Juz.1, h. 295
8 Muhammad Ibnu Abidin, Hasiyah Radd Al-Mukhtar, (tt, Daar Al-Fikr, tth), h 28

3)

Salahseorangistrinabimelakukanhubunganintimdenganmertua
atauanaktirinya.9
Kemudian fasakh yang dianggap tidak membatalkan akad sejak

semula,dibagimenjadiduamacam:
1) Fasakh yang berimplikasi terhadap batal atau rusaknya akad
pernikahansecaraselamanya(Muabbad).10Makatidakbolehbagi
seoranglakilakimenikahiistrinyalagisetelahperistiwafasakhini,
dikarnakanfasakhtersebutterjadiakibatdarifaktorfaktoryang
berimplikasi pada keharaman menikah diantara keduanya untuk
selamalamanya, misalnya salah seorang suami istri melakukan
hubunganpersetubuhandenganmertuaatauanaktirinya.
2) Fasakh yang menghalanghalangi hubungan nikah dan
mengharamkannya dengan keharaman yan bersifat temporal
(muaqqotan).11 Demikian itu dikarenakan fasakh tersebut terjadi
akibat keharaman yang bersifat temporal pula. Oleh karena itu,
ketika penghalangnya sudah hilang atau sembuh maka
diperbolehkankembaliuntukmenyambunghubunganpernikahan
tersebut.
3. Beberapa faktor penyebab terjadinya fasakh:
Selain faktor-faktor diatas yang menyebabkan terjadinya gugatan
isteri (fasakh), adapula penyebab lain adalah sebagai berikut:
a. Syiqaq
Salah satu bentuk terjadinya fasakh ini adalah adanya pertengkaran
antara suami-istri yang tidak mungkin didamaikan. Bentuk ini disebut
syiqaq. Ketentuan tentang syiqaq terdapat dalam QS. An-Nisa ayat 35.




Artinya : dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara
keduanya, Maka kirimlah seorang hakam. dari keluarga
9 Wahbah Az-Zuhaili, Loc. Cit.
10 Badran Abu Ainain Bahran, Op. Cit. h. 296
11 Ibid., h. 297

laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika


kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan,
niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal. (QS. An-Nisa: 35)
b. Fasakh karena cacat
Yang dimaksud cacat disini adalah cacat yang terdapat pada diri suami
atau istri, baik cacat jasmani atau rohani atau jiwa. Seperti: balak
(penyakit belang kulit), gila, canggu (penyakit kusta), penyakit
menular (TBC, sipilis, dll), ada daging tumbuh pada kemaluan
perempuan yang menghambat maksud perkawinan, unah, yaitu zakar
atau impoten (tidak hidup untuk jima). Ada atsar sahabi ang berasal
dari Umar bin Khattab dari Said bin al-Musayyab yang berbunyi:



Artinya : Umar bin Khattab berkata: Laki-laki mana saja yang
mengawini perempuan dan bergaul dengannya, menemui
pada perempuan itu penyakit sopak, gila atau kusta, maka
berikanlah maharnya karena telah bergaul dengannya
(artinya setelah keduannya dipisahkan).
c. Fasakh karena ketidakmampuan suami memberi nafkah
Suami selama dalam masa perkawinan berkewajiban memberi nafkah
untuk istrinya, baik dalam bentuk sandang, pangan maupun papan.
Dalam kehidupan sehari-hari mungkin saja terjadi suami kehilangan
sumber pencahariannya sehingga dia tidak dapat menjalankan
kewajibannya, sehingga kehidupan rumah mulai terancam. Ada sebuah
hadis yang berasal dari Abu Hurairah:


Artinya : Bahwasanya Nabi SAW. Berbicara tentang seorang lakilaki yang tidak memperoleh sesuatu untuk nafkah istrinya
dan mengatakan: diceraikan diantara keduanya.
d. Fasakh karena suami ghaib (al-mafqud)

Yang dimaksud dengan suami gaib disini adalah suami meninggalkan


tempat tetapnya dan tidak diketahui dimana perginya dan dimana
beradanya dalam waktu yang sudah lama. Gaibnya suami dalam
bentuk menyulitkan istrinya. Ada sebuah pendapat sahabat Ibnu
Masud bahwa:
hakim tidak boleh memutuskan perkawinan tersebut. Istri suami ang
gaib itu masih terikat dengan suaminya sampai ada keyakinan tentang
kematiannya. (Ibnu hazmin, 315).
e. Fasakh karena melanggar perjanjian dalam perkawinan
Bila terjadi pelanggaran janji, dalam kasus taliq thalaq umpamanya
suami yang meninggalkan istrinya selama masa tertentu dan tidak
memberi nafkah dalam masa itu; istri tidak rela dengan kenyataan itu,
istri mengajukannya ke pengadilan untuk memperoleh perceraian dari
pengadilan. Inilah salah satu bentuk dari penelesaian pelanggaran
perjanjian dalam perkawinan dalam bentuk fasakh.
B. Sumber Hukum Fasakh
Pembatalan perkawinan mempunyai dasar hukum yang tegas dalam
pasal 22 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, bahwa:
Perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syaratsyarat untuk melangsungkan perkawinan.
Selain pasal 22 UU Nomor 1 tahun 1974 di atas, juga diatur dalam
pasal 24 undang-undang tersebut, bahwa: Barang siapa karena perkawinan
masih terikat dirinya dengan salah satu dari kedua belah pihak dan atas dasar
masih adanya perkawinan dapat mengajukan pembatalan perkawinan yang
baru, dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 1ayat (2) dan pasal 4 undangundang ini.12
Pernyataan di atas menunjukkan kuatnya dasar hukum pembatalan
perkawinan dalam undang-undang perkawinan yang berlaku di Indonesia,
yaitu Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.
12 Undang-Undang Perkawinan (UU.No.1 Th.1974, PP.No.9 Th.1975, PP.No.10 Th.
1983, PP.No.45 Th.1990), (Cet II, Bandung : Citra Umbara, 2012).

Sedangkan di dalam hukum Islam, terdapat suatu riwayat dari Aisyah


ra, bahwasanya anak perempuan al-Jaun tatkala dipersatukan dia kepada
Rasulullah saw dan ia hampir kepadanya. Ia berkata : Aku berlindung kepada
Allah dari padamu. Maka Rasulullah bersabda :

:
Artinya : Kembalilah kepada keluargamu (H.R.Ibnu Majah).
Ada beberapa hadits lain yang dijadikan dasar pijakan bagi hukum
fasakhannikahdiantaranyaadalah:



{}.
Artinya : DarijamilbinZaidbinKaabr.abahwasannyaRosulullahSAW
pernahmenikahiseorangperempuanbanigafar,makatatkalaia
akan bersetubuh dan perempuan itu telah yang meletakkan
kainnya, dan ia duduk di atas pelaminan, kelihatannya putih
(balak)dilambungnyalaluiaberpaling(pergidaripelaminanitu)
serayaberkata,ambillahkainengkau,tutupilahbadanengkau,
danbeliautelahmengambilkembalibarangyangtelahdiberikan
kepadaperempuanitu.(HR.Ahmad).13

: :

{}.
Artinya : Dariyahyabinsaidbinmusayyab,iaberkata:umarbinkhattab
r.a berkata. Bilamana seorang lakilaki menikahi seorang
perempuan, lalu dari diri perempuan itu terdapat tandatanda
gila,kusta,ataubulak,laludisetubuhinyaperempuanitu,maka
hakbaginyamenikahidengansempurna(maharsempurna).Dan
yang demikian itu hak bagi suaminya utang atas walinya.
(RiwayatMalik).14
Hadis di atas menunjukkan adanya pembatalan perkawinan yang telah
dipraktekkan dalam Islam, bahkan oleh Rasulullah saw sendiri. Bahkan dalam
Islam sudah sangat jelas bahwa segala sesuatu akad, termasuk akad
13 Malik, Muwatha' Malik, (Beirut; Daar al-Fikr, 1974), Ket. Ke-3, h. 298
14 Ibid. h. 299

perkawinan yang tidak memenuhi syarat atau menyalahi aturan yang telah
ditetapkan, secara otomatis batal, sekalipun tidak dibatalkan secara resmi oleh
pihak yang berwenang.
C. Pelaksaan Fasakh
Apabila terdapat hal-hal atau kondisi penyebab fasakh itu jelas, dan
dibenarkan syara. Maka untuk menetapkan fasakh tidak diperlukan putusan
pengadilan. Misalnya, terbukti bahwa suami istri masih saudara kandung,
saudara susuan, dan sebagainya.
Akan tetapi, bila terjadi hal-hal seperti berikut, maka pelaksanaanya
adalah:
1. Jika suami tidak memberi nafkah bukan karena kemiskinannya sedang
hakim telah pula memaksa ia untuk itu. Dalam hal ini hendaklah diadukan
terlebih dahulu kepada pihak yang berwenang, seperti: Qadi nikah di
Pengadilan Agama, supaya yang berwenang dapat menyelesaikannya
sebagaimana mestinya, seperti dijelaskan dalam riwayat berikut:
Artinya : Dari Umar r.a bahwa ia pernah berkirim surat kepada
pembesar-pembesar tentara, tentang laki-laki yang telah jauh
dari isteri-isteri mereka supaya pemimpin-pemimpin itu
menangkap merekaagar mereka mengirimkan nafkah, atau
menceraikan
isterinya.
Maka
bila
mmreka
telah
menceraikannya, hendaklah mereka kirim semua nnafkah yang
telah mereka tahan. (H.R. Asy-Syafii dan Al-Baihaqi)
2. Setelah hakim memberi janji kepadanya sekurang-kurangnya tiga hari
mulai dari hari istri mengadu.
Bila masa perjanjiann itu telah habis, sedangkan si suami tidak juga dapat
menyelesaikannya, barulah hakim memfasakhkan nikahnya. Atau dia
sendiri yang memfasakhkan di muka hakim setelah diizinkan olehnya.
Rosulullah SAW bersabda:
Artinya : Dari Abu Hurairah r.a Rosulullah Saw. bersabda tentang yang
tidak memperoleh apa yang telah dinafkahkannya kepada
isterinya, bolehlah keduanya bercerai. (H.R. Darutqutni dan
Al-Baihaqi)
Di Indonesia, masalah pembatalan perkawinan diatur dalam kompilasi
hukum islam sebagai berikut:

1. Seorang suami dan isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan


pernikahan apabila pernikahan dilangsungkan di bawah ancaman yeng
melanggar hukum.
2. Seorang suami dan istri dapat mengajukan permohonan pembatalan
pernikahan apabila pada waktu berlangsungnya pernikahan terjadi
penipuan atau salah sangka mengenai diri suami atau isteri.
3. Apabila ancaman telah berhenti, maka bersalah sangka itu menyadari
keadaannya, dan dalam jangka waktu enam bulan setelah itu masih tetap
hidup sebagai suami isteri, dan tidak menggunakan haknya untuk
mengajukan permohonan pembatalan, maka haknya gugur.
Adapun yang berhak mengajukan permohonan pembatalan pernikahan
adalah:
1. Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah dari suami
atau isteri.
2. Suami atau isteri.
3. Pejabat yang berwenang mengatasi pelaksanaan pernikahan menurut
undang-undang.
4. Para pihak yang berkepentingan yang mengetahui adanya cacat dalam
rukun dan syarat pernikahan menurut hukum Islam dan Peraturan
Perundang-Undangan.
Selanjutnya dalam Kompilasi Hukum Islam juga dijelaskan hal-hal
sebagai berikut:
1.

Permohonan pembatalan pernikahan dapat diajukan kepada Pengadilan


Agama yang mewilayahi tempat tinggal suami atau isteri, atau tempat
pernikahan dilangsungkan.

2.

Batalnya suatu pernikahan dimulai setelah Putusan Pengadilan Agama


mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak berlangsungnya
pernikahan.15

15 Slamet Abidin, Fiqih Munakahat II, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999), h.79-81

10

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan di atas maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Fasakh dalam tinjauan bahasa (etimologi) pembatalan. Fasakh menurut
terminologi adalah menfasakh akad, yang berarti membatalkan. Apabila
terjadi pada akad nikah. Fasakh berarti melepaskan ikatan hubungan antara
suami istri.
2. Pembatalan perkawinan mempunyai dasar hukum yang tegas dalam pasal
22 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, bahwa:
Perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syaratsyarat untuk melangsungkan perkawinan.
3. Di Indonesia, masalah pembatalan perkawinan diatur dalam kompilasi
hukum islam sebagai berikut:
a. Seorang suami dan isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan
pernikahan apabila pernikahan dilangsungkan di bawah ancaman yeng
melanggar hukum.
b. Seorang suami dan istri dapat mengajukan permohonan pembatalan
pernikahan apabila pada waktu berlangsungnya pernikahan terjadi
penipuan atau salah sangka mengenai diri suami atau isteri.
c. Apabila ancaman telah berhenti, maka bersalah sangka itu menyadari
keadaannya, dan dalam jangka waktu enam bulan setelah itu masih
tetap hidup sebagai suami isteri, dan tidak menggunakan haknya untuk
mengajukan permohonan pembatalan, maka haknya gugur
B. Saran
Agar fasakh tidak terjadi hendaknya suami istri selalu menjaga rumah
tangganya agar tetap harmonis dengan selalu menjaga rasa kepercaaan,
komunikasi dan tanggung jawab dari masing-masing pasangan karena hal hal
ini dapat meminimalisirkan pergesekan atau pertengkaran dari sepasang suami

11

istri tersebut karena walau perceraian dihalalkan oleh Allah tetapi Allah juga
membeci perceraian tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

A. W. Munawwir. 1997. Al-Munawwir. Cet. Ke-14. Surabaya: Pustaka Progressif


Atabik Ali. 1996. Kamus Kontenporer. Yogyakarta: Yayasan ali Maksum Ponpes
Krapyak
Sayyid Sabiq. 1983. Fiqh As-Sunnah. Cet. Ke-4. Beirut: Daar Al-Fikr
M. Abdul Mujied. 1994. Kamus Istilah Fiqh. Cet. Ke-1. Jakarta: Pustala Firdaus
Ahmad Gundur. 1967. At-Thalaq. Cet. Ke-1. Makkah: Daar al-Ma'arif
Abu Ainaini Al-Badran. Al-Fiqh Al-Muqaran Li Al-Akhwal Asy Syakhsiyah. Juz.1.
Beirut: Daar An-Nuhdhah AlArabiyah
Muhammad Ibnu Abidin. Hasiyah Radd Al-Mukhtar. Beirut: Daar Al-Fikr
Undang-Undang Perkawinan (UU.No.1 Th.1974, PP.No.9 Th.1975, PP.No.10
Th.1983, PP.No.45 Th.1990). Cet. II. 2012. Bandung: Citra Umbara
Malik. 1974. Muwatha' Malik. Beirut; Daar al-Fikr
Slamet Abidin. 1999. Fiqih Munakahat II. Bandung: CV Pustaka Setia

12