Anda di halaman 1dari 23

PLASMID, EPISOM DAN ELEMEN TRANSPOSIBLE

RESUME
UNTUK MEMENUHU TUGAS MATAKULIAH
Genetika I
Yang dibina oleh Ibu Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah. M.Pd

Oleh
Nuzula Khoirun Nafsiah (140341604501)
Oki Osaka Herlinawati ( 140341600030 )

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016

HASIL RESUME :
PLASMID DAN EPISOM
Telah dibahas pada awal bab ini, bahwa materi genetik bakteri dibawa dalam
satu kromosom utama dan pada banyak kasus dari satu ke beberapa molekul DNA
ekstrakomosom atau mini chromosome yang disebut plasmid. Secara definisi
plasmid adalah replicon (bagian dari material genetik yang mampu bereplikasi secara
mandiri)yang secara stabil menurukan sifat dalam sebuah keadaan ekstra kromosom.
Kebayakan, tapi tidak semua, plasmid bersifat dapat dibuang, yaitu, mereka tidak
diharuskan untuk bertahan dalam sel yang mereka tinggali. Di banyak kasus, mereka
penting dalam kondisi lingkungan tertentu misalnya dalam keberadaan antibiotik.
Peran penting plasmid telah semakin dikenal selama dua dekade terakhir. Plasmid
telah teridentifikasi dalam hampir semua unsur bakteri yang di uji. Mereka diketahui
memiliki signifikansi praktik yang besar dalam dua area : (1) penyebaran beberapa
antibiotik

dan resistansi obat

pada bakteri patogen

dan (2) instabilitas

mikroorganisme yang penting dalam industri (akan dibahas lebih lanjut dalam bab 9).
Pada bakteri streptococcus lactis dan bakteria lain yang berkaitan dalam pembuatan
keju, beragam plasmid telah teridentifikasi dan tampak membawa gen yang
menghsilkan enzim penting dalam fermentasi pembuatan keju. Pengamatan ini
menjelaskan mengapa starter cultures dari bakteria ini tidak stabil dan sering kali
harus dihilangkan, pada tingkat pengeluaran yang dapat ditanggung oleh industri
pembuatan keju (bab 24).
Tiga tipe bakteri plasmid yang paling utama telah dipelajari : (1) plasmid F
dan F, (2) plasmid R (3) col.plasmid, plasmid yang menghasilkan colicins yaitu
protein yang membunuh sel E. Coli sensitif. Plasmid juga diketahui pada bakteri yang
menghasilkan bakteriosin selain colicins. Contohnya, plasmid juga diketahui
menyusun kode untuk vibriocins, yaitu protein yang membunuh sel Vibrio cholerae.
Plasmid dapat dibagi ke dua kelompok dengan dasar apakah mereka
memediasi atau tidak transfer konjunggativ mandiri. Plasmid yang dapat
ditransmisikan atau konjugativ memediasi perpindahan DNA melalui konjugasi
(seperti dalam perkawinan F+ oleh F-. Semua plasmid F dan F, banyak plasmid R dan

beberapa plasmid Col bersifat konjugatif. Sifat asli konjugatif dari plasmid R
memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran cepat dari antibiotik dan gen
resistansi obat melalui populasi bakteri patogen. Sedangkan plasmid yang non
konjugatif atau yang tidak dapat ditransmisikan adalah plasmid yang tidak memediasi
transfer DNA melalui konjugasi. Banyak dari plasmid R dan Col bersifat non
konjugasif .
Beberapa plasmid seperti faktor F, juga cocok dengan definisi dari elemen
genetik yang disebut episol. Episom adalah elemen genetik yang dapat bereplikasi
dalam salah satu dari dua alternatif : (1) sebagai bagian terintegrasi dari kromosom
utama inang (2) sebagai elemen genetik yang otonom, bersifat independen atau
terpisah dari kromosom utama inang. Istilah plasmid dan episom bukanlah sinonim.
Kebanyakan plasmid tidak ada dalam keadaan terintegrasi sehingga tidak dapat
disebut episom, begitupula banyak kromosom temperate phage, misalnya genom
phage adalah episom tetapi bukan termasuk plasmid.
Kemajuan luar biasa telah dihasilkan dalam usaha pemahaman kita atas
struktur dan sifat dari plasmid dan episom selama dua dekade terakhir. Banyak sifat
tersebut sekarang diketahui bergantung pada ada tidaknya urutan DNA pendek yang
disebut elemen IS atau penyisipan urutan. Elemen IS juga terdapat pada kromosom
utama inang. Urutan pendek ini (sekitar 800-1400 pasangan nukleotida) bersifat
transposable yaitu mereka bisa berpindah dari satu posisi ke yang lain dalam satu
kromosom, atau berpindah dari satu kromosom ke kromosom lainnya. Selain itu,
elemen IS memediasi rekombiasi antara elemen genetik nin homolog dimana mereka
tinggal. Telah ada bukti yang dpat dipercaya bahwa elemen IS memediasi integrasi
episom ke dalam kromosom inang. Bukti ini dapat dilihat pada gambar 8.20 yaitu
tentang kasus integrasi plasmid F E. Coli K12 selama pembentukan Hfrs. Empat
elemen IS awal dikategorikan dan diurutkan IS1, IS2, IS3, IS4 adalah pasangan
nukleotida yang memiliki panjang 768, 1327, 1300, dan 1426. Beberapa elemen IS
lain setelah itu telas diidentifikasi, dan beberapa kasus telah diurutkan juga.
Kromosom E. Coli K12 ternyata mengandung delapan rangkap IS1 dan lima
rangkap IS2, dan satu atau beberapa rangkap dari IS3 dan IS4. Faktor F E. Coli K12

mengandung satu rangkap IS2 dan dua rangkap IS3. Posisi elemen IS pada beragam
faktor F dan pada kromosom berbagai E. Coli dipercaya menentukan letak dari
integrasi faktor F selama pembentukan Hfr.
TRANSPOSABLE ELEMENT GENETIC
sebagian besar analisis genetik klasik dikhususkan untuk lokalisasi gen pada
kromosom. seperti yang dibahas sebelumnya, pemetaan genetik tergantung pada
asumsi bahwa gen tidak bergerak dari satu posisi ke posisi lain. sebagian besar, telah
mempercayainya . gen menduduki tempat pada kromosom, dan struktur keseluruhan
dari peta genetik praktis invarian. Namun, mulai tahun 1940-an, para peneliti telah
menemukan bahwa beberapa urutan DNA benar-benar dapat mengubah posisi.
Urutan yang dapat berpindah posisi tersebut dinamakan elemen transposabel, atau
sederhananya disebut transposon.
ketidakstabilan genetik dan penemuan urutan DNA yang berpindah
elemen genetik yang berpindah ditemukan oleh B. McClintock melalui
analisis genetik ketidakstabilan pada jagung. ketidakstabilan terlibat kerusakan
kromosom dan ditemukan terjadi pada sisi di mana unsur berpindah berada. dalam
analisis McClintock ini, peristiwa kerusakan terdeteksi dengan mengikuti hilangnya
penanda genetik tertentu. dalam beberapa percobaan, McClintock yang digunakan
penanda yang mengontrol pigmentasi pengendapan di aleuron, lapisan terluar
endosperm biji jagung dimana endosperma adalah triploid, yang diproduksi oleh
penyatuan dua inti betina dan satu inti sperma. Pada percobaannya, McClintock
menggunakan penanda untuk mengontrol penyimpanan pigmentasi dalam aleuron,
yaitu alel lokus C di lengan pendek kromosom 9. McClintock menyilangkan individu
betina CC dan jantan CICI, di mana CI adalah alel dominan inhibitor pewarnaan
aleuron, maka hasilnya kernel dengan endosperm CICC. walaupun banyak biji jagung
yang tidak berwarna sebagaimana yang diharapkan namun terdapat pula biji jagung
yang berbercak ungu kecoklatan. Berdasarkan analisis ternyata telah terjadi
pemecahan kromosom yaitu terpisahnya fragmen yang mengandung alel CI tersebut
yang menyebabkan hilangnya alel CI dalam kromosom dan biji yang dihasilkan
menjadi berwarna karena tidak ada yang menghambat pigmentasi. McClintock

menemukan bahwa bulir yang berwarna itu terjadi karena pecahan di lokasi tertentu
pada kromosom 9 dan menamakan faktor penyebab pecahnya kromosom tersebut
sebagai factor Ds (dissociation), factor Ds harus diaktivasi oleh faktor lain bernama
AC (activator) yang tidak terdapat pada semua stok jagung. Karena pemecahan dalam
suatu lokasi tergantung adanya aktivasi oleh Ac, maka McClintock menghipotesiskan
factor Ds dapat muncul pada lokasi berbeda dalam genom dan dimungkinkan Ds
dapat berubah posisinya. Baik Ac maupun Ds adalah anggota dari elemen
transposabel, dapat masuk ke lokasi berbeda dalam kromosom dan gen tertentu
sehingga fungsi gen tersebut berubah atau hilang sama sekali. Ac dapat mengaktifkan
diri sendiri disebut autonom sedangkan Ds tidak dapat mengaktifkan diri sendiri,
disebut nonautonom.
Elemen transposabel pada bakteri
Ketidakstabilan genetik juga juga ditemukan pada bakteri, dan pada beberapa kasus
yang diidentifikasi penyebabnya adalah elemen transposabel. Transposons bakeri
diteliti pertama kali pada level molekuler dan menyediakan petunjuk penting tentang
organisasi dan kebiasaan transposons eukariotik. Transposons bakteri yang paling
sederhana adalah inserting sequences (elemen IS). Ada kurang dari 1500 tipe
pasangan nukleotid panjang dan hanya mengandung gen yang terlibat dalam
pengaturan transposition. Kadang, 2 elemen IS yang homogen berkombinasi dengan
gen lain untuk membentuk komposit transposon, ditandai dengan simbol Tn. Simbol
ini juga digunakan untuk menandai transposons yang tidak mengandung IS elemen,
seperti elemen Tn3. Komposit transposons merupakan elemen yang mengandung gen
yang tidak diperlukan dalam transposition. Bakteriofage juga merupakan elemen
transposable karena dapat memasukkan dirinya pada kromosom bakteri.
Elemen IS
Elemen IS merupakan elemen yang kompak. Mempunyai coding sekuen tunggal
dengan elemen yang pendek dan identik atau hampir identik. Sekuen terminal ini
selalu berosientasi terbalik

dengan lainnya, sehingga disebut inverted teminal

repeats. Panjangnya 9-40 pasangan nukleotid.

Ketika IS elemen masuk dalam kromosom atau plasmid, mereka membentuk sekuen
duplikasi DNA pada sisi insersi (sisipan). Satu salinan dari duplikasi terletak pada sisi
lain dari elemen. Sisi yang pendek (3-12 pasangan nukleotid) merupakan sekuen
ulangan yang disebut target site duplication dan untuk menimbulkan kerusakan pada
jalinan double-DNA. IS elemen mewadahi integrasi episom pada kromosom bakteri.
Proses ini melibatkan rekombinasi homolog antara IS elemen yang terletak di episom
dan pada kromosom.
Transposons komposit dibentuk ketika dua IS elemen masuk dan saling mendekati.
Sekuen diantaranya kemudian tertransposi dengan gerakan bersama dari franklin
elemen. Pada Tn9, franklin IS elemen memiliki orientasi yang sama dengan lainnya,
sednagkan pada Tn5 dan Tn10, orientasinya terbalik. Masing-masing komposit
transposom membawa gen untuk resistensi antibiotik. Chloramophenicol resisten
pada Tn9, kanamycin resisten resisten terhadap Tn5 dan tetracycline resisten pada
Tn10. Perlu dicatat bahwa seringkali franklin IS elemen pada komposit transposons
tidak benar-benar identik. Sebagai contoh, pada elemen pada bagian kiri Tn5 yaitu
IS50Ltidak mampu menstimulasi transposisi, tetapi elemen di sebelah kanan yaitu
IS50R mampu menstimulasi transposisi. Protein transposase disintesis oleh IS50R
dimana transposase dapat memobilisasi transposons komposit.
Ketika sel bakteri menginfeksi dengan sebuah bakteriofag non yang membawa Tn5
pada kromosomnya. Pada infeksi tersebut, frekuensi transposisi Tn5 berkurang
seiring sel yang menginfeksi membawa salinan Tn5. Pengurangan ini menunjukkan
bahwa elemen transposons menghambat transposisi dari sebuah transposom yang
dihasilkan. Analisis detail menunjukkan bahwa hipotesis ini benar. Elemen IS50R
dari Tn5 sebenarnya memproduksi 2 protein, yaitu transposase (katalis transposisi)
dan versi pendek transposase (pencegah transposisi). Ketika protein pendek
meningkat maka transposisi Tn5 terhambat.
Kelompok Tn3 Elemen
Tn3 elemen merupakan elemen dari kelompok transposon yang memiliki ulangan
ujung terbalik sepanjang 38-40 pasang nukleotid, dan menghasilkan duplikasi dari 5
pasang nukleotid saat insersi. Elemen Tn3 ini lebih besar daripada elemen IS,

mengandung struktur yang disebut Cointegrate. Selama proses ini, transposon


mengalami replikasi dan masing-masing membentuk sambungan pada cointegrate.
Terlihat bahwa kedua elemen Tn3 berorientasi pada arah yang sama. Pada tahap
kedua dari transposisi pengkode tnpR memutuskan mediasi rekombinasi pada lokasi
yang spesifik antara dua Tn3 elemen. tahapan ini muncul pada urutan di Tn3 yang
disebut res, lokasi resolusi, dan menyebabkan timbulnya dua molekul, masing-masing
dengan kopian dari transposon.
Hasil dari gen tnpR juga memiliki fungsi penamaan lain untuk menekan
kembali sintesis dari kedua transpose dan protein resolvase. Kenampakan ini terjadi
karena sisi res terletak diantara gen tnpA dan tnpR. Dengan mengikat sisi res kedua
hasil gen protein tnpR mengganggu sintesis dari kedua produk gen meninggalkan
mereka dalam pasokan pendek kronis. Akibatnya elemen TN3 cenderung tetap
bergerak.
Signifikansi

medis

dari

transposon

bakteri

Transposon bakteri yang jelas bertanggung jawab atas transposisi gen


mengendalikan resistensi terhadap antibiotik (dan obat-obatan lain) dari satu molekul
ke molekul yang lain. Transposon bakteri diyakini memainkan peran dalam evolusi
cepat diamati dari R plasmid. Semua plasmid conjugative memiliki minimal dua
komponen, satu segmen membawa satu set gen yang terlibat dalam transfer DNA
conjugative (mungkin analog dengan gen tra dari plasmid) dan segmen kedua
membawa antibiotik atau resistensi obat gen atau gen. Segmen tersebut membawa
gen transfer disebut RTF komponen (resistensi transfer factor). Segmen yang
membawa gen resistensi atau gen disebut R-determinant. Beberapa komponen RTF
berbeda dengan conjugative R plasmid tampaknya memiliki banyak kesamaan,
berdasarkan percobaan silang hibridisasi DNA-DNA. Komponen R determinant
lebih divergence. Dalam beberapa R plasmid R-determinant diapit oleh homolog IS
elemen. Dalam beberapa kasus, mereka yang hadir dalam orientasi yang sama, dan di
sisi lain mereka dimasukkan dengan orientasi yang berlawanan. Dalam kedua kasus
mereka dapat dimediasi transposisi R-determinant dari satu R plasmid ke R yang lain.
Beberapa komponen R plasmid telah ditandai sebagai pembawa dua atau lebih faktor

R- determinant setiap diapit oleh elemen IS. Element IS hampir bertanggung jawab
untuk evolusi cepat pada plasmid bakteri yang membawa faktor antibiotik dan banyak
obat .
Kemampuan transmisibilitas dari R plasmid, kemampuan transposon dari Rdeterminan, dan evolusi yang cepat dari R plasmid senyawa, yang membawa gen
untuk resistensi terhadap baterai seluruh antibiotik yang paling efektif dan obatobatan, menjadi perhatian besar bagi tenaga medis. Tidak hanya plasmid cepat
tersebar dalam spesies bakteri, tetapi juga menular di seluruh spesies dan bahkan
garis generik. Misalnya, E. Coli R plasmid yang tahu akan ditransfer ke beberapa
genus, termasuk Proteus, Salmonella, Haemophilus, Pasteurella, dan Shigella, semua
yang disebutkan termasuk spesies patogen. Meningkatnya frekuensi bakteri
membawa plasmid dengan R-determinan, yang menghasilkan resistensi terhadap
antibiotik seperti penisilin, tetrasiklin, streptomisin, kanamisin dan, pada populasi
rumah sakit (yang terus menerus terkena antibiotik) telah banyak didokumentasikan.
Lebih menyakitkan lagi adalah hasil penelitian di Jepang yang menunjukkan bahwa,
dalam waktu kurang dari 10 tahun, populasi alami dari bakteri (di selokan dan di
danau tercemar dan sungai) telah berevolusi dari frekuensi sangat rendah (kurang dari
1 persen) dari R plasmid resistensi antibiotik -dimediasi ke frekuensi yang relatif
tinggi (50-80 persen).
Hasil studi ini telah menunjukkan bahwa kita harus membatasi penggunaan
antibiotik untuk infeksi bakteri serius dan tidak menggunakannya untuk setiap infeksi
ringan yang datang bersama. Jika kita tidak membatasi penggunaan, antibiotik dan
obat-obatan yang efektif saat ini, mungkin dapat menurun nilai kegunaannya di masa
depan.
Elemen Tranposabel pada eukaryot
Walaupun beberapa dari banyaknya penelitian mengenai elemen transposable telah
dilakukan pada bakteri , terdapat juga penelitian extensive pada transposon eukariot,
dimulai dari penelitian klasik dari Mc-Clintock. Beberapa diantara penemuan terbaru
mengenai ragi, jagung dan transposon Drosophila yang akan dibahas selanjutnya.
Elemen Ty pada ragi

Ragi saccharomyces cerevisiae memiliki 35 copi dari elemen transposable yang


disebut dengan Ty pada gen haploidnya. Transposon tersebut sekitar 5900 pasangan
nukleotida panjang dan dibatasi pada setiap ujungnya dengan segmen DNA yakni
sekuen , yang kira-kira panjangnya 340 pasang (9.11). Tiap sekuen berorientasi
pada arah yang sama, membentuk apa yang kita ketahui sebagai LTRs. Kadangkadang LTR terpisah dari elemen Ty membentuk yang biasanya dikenal solo , yang
dihasilkan oleh rekombinasi antara LTRs dari elemen Ty komplit. Nasib dari molekul
sirkuler yang terbentuk ini tidak diketahui tapi molekul yang telah dideteksi pada sel
jamur dapat diterima pada model. Elemen Ty diapit oleh 5 pasang nukleotida
berulang yang dihasilkan oleh duplikasi DNA pada daerah penyisipan Ty. Duplikasi
daerah target tidak memiliki sekuen standar tetapi cenderung mengandung pasangan
basa AT. Ini mungkin mengindikasikan bahwa elemen Ty lebih cenderung masuk ke
dalam daerah yang kaya A-T pada genom.
Organisasi genetic dari elemen Ty menyerupai retrovirus eukaryotic.(9.13a) Strand
tunggal dari RNA virus mensintesis DNA dari RNAnya setelah masuk sel. DNA lalu
memasukkan dirinya sendiri kedalam genom, membuat duplikasi situs target.
Material yang masuk ini memiliki kesamaan pada keseluruhan strukturnya seperti
pada elemen Ty pada ragi. Sekuen DNA dibatasi oleh LTRs dan dinamakan provirus.
Provirus yang paling sederhana memiliki 3 gen, gag, pol dan env, yang masingmasing mengkodekan structural , katalitik dan membrane protein. Elemen Ty hanya
memiliki 2 gen, A dan B yang analog dengan gen gaga dan pol dari retrovirus.
Penelitian secara biokimia telah menunjukkan bahwa hasil dari gen tersebut dapat
membentuk partikel mirip virus di dalam sel jamur, Namun, tidak diketahui apakah
partikel-partikel ini adalah benar-benar menular. Terdapat salah satu hipotesis bahwa
elemen Ty merupakan retrovirus primitive, memiliki kemampuan berpindah dari satu
site dalam sel lain tapi tidak memiliki kemampuan berpindah antar sel. Dalam hal
ini,

telah

ditunjukkan

bahwa

transposisi

elemen

Ty

melibatkan

RNA

perantara(9.13b). Setelah RNA di sintesis dari Ty DNA , produk dari gen TyB
menggunakan RNA untuk membuat Stran dobel DNA. Proses ini dinamakan

transkripsi terbalik. Kemudian dna yang baru disintesis dimasukkan suatu tempat
pada genom., membentuk elemen Ty yang baru. Karena keseluruhan kesamaannya
dengan retrovirus, elemen jamur Ty kadang disebut retrotransposons.
Transposons jagung
Elemen transposable telah ditemukan di beberapa tanaman yang paling menonjol
adalah jagung (zea mays) dan snapdragon (antirrhium majus). Penyelidikan secara
mendalam yang melibatkan jagung, yang beberapa family transposonnya telah
teridentifikasi
Elemen Ac dan Ds
Family

Ac/ Ds dari jagung , awalnya ditemukan oleh McClintock, terdiri dari

berbagai elemen yang tersebar di seluruh genom. Penelitian molekuler telah


menunjukkan bahwa elemen fungsional otonom, Ac, terdiri 4563 pasang nukleotida
dibatasi oleh ulangan 8 pasang nukleotida (9.14a). Ulangan langsung ini dibuat saat
elemen dimasukkan pada bagian di kromosom. Sekuen ulangan lainya ditemukan
dalam elemen itu sendiri. paling mencolok dari ini di ujungnya, dimana 11 pasang
sekuen nukleotida pada salah satu ujungnya diulangi pada orientasi yang berlawanan
pada ujung yang lain. Ulangan terminal tang berkebalikan diperkirakan memiliki
peran penting pada transposisi.
Seluruh elemen Ac pada genom jagung menunjukkan kesamaan structural jika tidak
identic. Hal ini tidak pada elemen Ds yang secara struktural cukup heterogen yang
telah diteliti. Salah satu klas dari elemen Ds berasal dari elemen Ac dengan
penghapusan sekuen internalnya. Gambar 9.14b memberi beberapa contoh. Kelas lain
memiliki karakteristik ulangan terminal berkebalikan

dengan sekuen Ac, serta

beberapa dari urutan subterminal tetapi sisa DNA adalah berbeda. (9.14c) . amggota
yang tidak biasa dari family Ac/Dc dinamakan elemen Ds menyimpang. Kelas ketiga
dari elemen Ds dicirikan dengan pengaturan boncengan khas. (9.14d). salah satu
e;emen Ds dimasukkan ke lainnya tetapi pada orientasi yang berbeda. Telah
ditunjukkan bahwa elemen Ds double memiliki tanggung jawab dalam kerusakan
kromosom.

Fungsi aktif elemen Ac terkait dengan protein yang disintesis. Saat protein ini terlibat
dalam transposisi, kadang-kadang disebut transpos dari kelompok Ac / Dc.
Penghapusan atau mutasi pada gen yang mengkodekan protein menghapus sinyal
aktif dan menjelaskan mengapa Ds elemen, yang memiliki lesi seperti itu, tidak bisa
aktif sendiri. Namun, karena transposase ini sulit,

elemen AC

tunggal dapat

diberikan kepada semua Ac Dan Ds elemen pada genom. Oleh karena itu kami
mengatakan bahwa transposon Ac / Dc adalah trans-acting
Analisis genetik telah memberikan beberapa informasi tentang mekanisme elemen
transpose Ac (mungkin Ds). Setelah Ac direplikasi sebagai bagian dari DNA dalam
kromosom, dapat kelua dari posisi dan pindah ke yang baru, biasanya di dekatnya.
Situasi ini digambarkan pada Gambar 9.15. garis yang mewakili kromosom dalam
Proses replikasi. Setelah garpu replikasi dilewati elemen Ac, elemen salinan dapat
ditranspos ke depan garpu replikasi. Ketika proses replikasi selesai, akan ada dua
kromatid, satu dengan salinan Ac (di lokasi saja) dan satu dengan dua salinan (satu di
lokasi baru dan satu di lokasi yang lama). Perhatikan bahwa dalam proses ini, elemen
Ac tidak mereplikasi dirinya sendiri selama transposisi; namun, itu disalin oleh
mekanisme replikasi normal sebelum dan sesudah gerakan . Untuk alasan ini,
transposisi sebenarnya elemen Ac dianggap non replikatif.
Fig.9.15 ransposisi elemen Ac pada jagung. awalnya, unsur ini direplikasi dengan
mekanisme sel normal. maka satu salinan dari Ac transpose menuju garpu replikasi.
setelah transposisi, replikasi kromosom selesai, memproduksi dua kromatid kembar
seperti yang ditunjukkan di bagian bawah. salah satu dari ini memiliki unsur Ac di
posisi baru, sedangkan yang lain memiliki unsur Ac di posisi lama juga.
Elemen Spm dan dSpm
Kelompok

lain, transposon jagung ditemukan oleh Mc-clintock adalah keluarga

suppressor-mutator (fig.9.16). Dalam kelompok ini, elemen otonom disebut Spm dan
elemen non otonom disebut dSpm ("d" singkatan dihapus atau cacat). Elemen Spm
adalah 8.287 nukleotida-pasangan lama, termasuk 13-pasangan nukleotid ulang
terbalik. Ketika Spm masukkan ke dalam kromosom, mereka membuat 3-pasangan-

nukleotida target duplikasi . Unsur-unsur dSpm lebih kecil dari elemen Spm karena
bagian dari urutan DNA telah dihapus. penghapusan ini mengganggu fungsi gen yang
dibawa oleh elemen Spm lengkap dan karena itu mencegah sintesis produk gen.
karena produk ini penting

untuk transposisi, elemen dSpm dihapus tidak dapat

menstimulasi gerakannya sendiri.


Keluarga Spm dinamai sedemikian rupa karena elemennya dapat menekan fungsi gen
menjadi yang sudah ditranspos. Ini terjadi ketika elemen dSpm yag dimasukkan
berinteraksi dengan elemen Spm yang terletak dimanapun di dalam genome. Gambar
9.17 menunjukkan sebuah contoh ketika sebuah elemen dSpm telah di masukkan ke
dalam salah satu gen pengatur pigmentasipada kernel. Namun,

meskipun

penambahan dSpm mengurangi ekspresi gen ini, ia tidak akan meghapuskannya sama
sekali. Bagaimanapun, ketika sebuah elemen Spm autonom dimasukkan ke dalam
genome,ekspresi pigmentasi gen benar-benar dihambat pada sebagian besar kernel.
Hal ini mengindikasikan adanya peran penekan elemen Spm. Sebagai tambahan,
elemen ini menstimulasi pemotongan elemen dSpm pada beberapa sel, yang
menyebabkan penggandaan yang fungsi gennya dikembalikan sebagian. Klon-koln
ini, yang dikenali sebagai pigmentasi sederhana hingga kuat, mendemonstrasikan
trans-acting, fungsi mutator elemen Spm.
Akhir-akhir ini, analisis biokimia mengindikasikan bahwa aktivitas Ac dan elemen
Spm diatur oleh mettylasi nukleotida terpilih dalam sequence DNA. Penelitian pada
fenomena ini belum dipahami dan mungkin akan mengarah pada pemahaman lebih
dalam mekanisme yang mengatur perilaku keluarga elemen transposabel ini.
Drosophila Transposons
Elemen transposabel telah ditemukan di banyak hewan, tetapi beberapa informasi
terbaik datang dari penelitian dengan Drosophila, yang mana sebanyak 15 % DNA
berpindah tempat. Beberapa kelas transposons Drosophila telah diidentifikasi
Retrotransposons
Kelompo terbesar transposons Drosophila meliputi elemen retrovirus, atau
retrotranspons. Elemen ini adalah 5000 hingga 15000 panjang pasangan nukleotida

dan menyerupai bentuk retrovirus, lebih kepada elemen TY pada ragi. Masing-masing
retrotranspososn dibatasi pada ujungnya dengan sebuah ujung sequence berulang
yang panjang, atau LTR, yang mungkin berisi beberapa ratus pasang nukleotida.
Kedua LTRs terpusat pada arah yang sama. Sebagai tambahan, LTRs diikat oleh
sequence berulang pendek yang terpusat pada arah yang berbeda. Ketika sebuah
retrotransposon masuk pada sebuah kromosom, akan membuat tempat target
duplikasi, dengan satu salinan pada masing-masing sisi transposon. Ukuran duplikasi
ini merupakan karakteristik masing-masing keluarga transposon. Contohnya, anggota
keluarga copia(Gbr 9.18a) memproduksi 5 duplikasi 5 pasang nukleotida, sedangkan
anggot akeluarga gypsy (Gbr 9.18b) memproduksi duplikasi 4 pasng nukleotida.
Duplikasi tempat target selalu terpusat pada arah yang sama.

241
Tidak jelas berapa banyak perbedaan retotransposon famili yang berada di
Drodophila, tetapi tidak lebih dari 30. Penelitian dengan strain yang berbeda
mengindikasi besar dari famili yang bermacam-macam. Misalnya, beberapa strain
Drosophila hanya mempunyai sedikit elemen gypsy, diamana lainnya memiliki lebih
dari 100. Selain itu semua elemen dapat menyebar dan berakhir genetik, menempati
posisi yang berbeda didalam strain. Banyak dari variasi ini berkemungkinan acak,
tetapi beberapa penelitian mempunya spekulasi beberapa elemen di retrotransposon
kuat mengatur famili.
Retotranspoposon bertanggungjawab untuk beberapa mutasi klasik dari genetik
Drosophila. Gambar 9.19 menunjukkan empat alel dari X-linked putih yang
seharusnya terjadi retotransposon. Contohnya ekspresi dari locus (tempat) yang
dihapus, hanya mengurangi dari tingkatan sembarang. Meskipun sebagian besar
retotransposon sisipan mutasi di Drosophila tetap, hanya sedikit yang kembali diteliti.
Contohnya, sebuah gipsi sisipan mutasi dari potongan sayap locus terkadang kembali
menjadi tipe-wild. Pengembalian alel jelas berkaitan dengan pemotongan elemen
gipsi.

Seperti dengan elemen Ty dari ragi, transposition dari drosophila retrotransposons


sepertinya terlibat dengan sebuah RNA intermediet. Mekanisme yang rinci belum
diketahui, tetapi ada gagasan untuk menirukan proses infeksi retroviral. Misalnya
keterangan formasi virus seperti partikel, tetapi untuk hasilnya tidak mempunyai
bukti bahwa dapat untuk meninggalkan satu sel dan memasuki yang lainnya.
Elemen P dan Disgenesis Hibrid
Beberapa dari penelitian Drosophila transposon hanya fokus pada anggota dari famili
elemen P. (gambar 9.20). Trnasposons kecil berakhir pada pasangan 31 nukleotida
pada ulangan dan diapit dengan 8-pasang nukleotida yang memiliki sisi target
duplikasi.
Anggota famili unsur P bervariasi menurut ukurannya. Unsur terbesar dengan
panjang pasangan neklotida 2907, termasuk pengulangan terbalik akhir tapi tidak
termasuk duplikasi situs target. Unssur lengkap ini secara otonomi bergerak karena
mereka membawa gen yang mengkode protein transpos. Ketika protein ini menempel
pada unsur, dia akan menggerakkan unsur ke posisi lain pada genom. Unsur P lain
secara struktur tidak lengkap (gambar 9.20b). meskipun unsur lain kurang bisa
menghasilkan transpos, mereka memiliki sekuen terminal dan subterminal yang
dibutuhkan untuk transposisi. Konsekuensinya, unsur ini dapat digerakkan jika unsur
penghasil transpos muncul di suatu tempat pada genom.
Penelitian mengenai populasi alami Drosophila menunjukkan bahwa ada variasi yang
dapat dipertimbangkan pada banyaknya unsur P yang ditunjukkan pada genom.
Beberapa lalat memiliki sebanyak 50, sedangkan yang lain hanya beberapa. Mungkin
penelitian yang paling mengejutkan adalah bahwa lalat yang diperoleh dari strain
tangkapan sebelum 1950 tidak memiliki unsur P semua. Penelitian lebih jelasnya
membuktikan bahwa strain kosong menunjukkan kondisi primitif, dan bahwa unsur
P menyerbu populasi alami Drosophila selama waktu dekat ini. Pada konteks ini, ini
menarik untuk menggarisbawahi bahwa keluarga terdekat D. Melanogaster
mempertahankan kondisi primitif, sedangkan yang lain, spesies yang memiliki
hubungan lebih jauh memiliki unsur P. Pada waktu sekarang, ini tidak mungkin untuk
mengatakan bagaimana unsur ini diperkenalkan pada spesies Drosophila berbeda

yang sangat banyak; bagaimanapun, beberapa peneliti memiliki pendapat bahwa


unsur P bisa masuk melalui virus yang secara alami menginfeksi Drosophila. Sepeerti
halnya proses yang dapat dianalogikan pada transduksi sel E.coli oleh bakteriofage
yang membawa unsur IS.
Populasi Drosophila yang memiliki unsur P memliki mekanisme yang berkembang
untuk mengatur pergerakan mereka. Pada beberapa strain, aturan ini tergantung pada
pewarisan dari indukan yang disebut cytotype P. Drosophila dengan kondisi ini
menekan pergerakan unsur P secara lebih atau kurang lengkap. Hal ini dapat dilihat
dengan menyilangkan lalat cytotype P dengan lalat yang tidak memiliki cytotype P
dan kemampuan untuk mengatur pergerakan unsur P (gambar 9.21). ketidakmunculan
kemampuan mengatur disebut cytotype M. Campuran yang diperoleh dari persilangan
antara cytotype P betina dan cytotype M jantan mewariskan unsur P dari induk
betinanya; disamping mereka juga mewariskan cytotype P melalui sitoplasma
indukan, pergerakan unsur ini ditekan. Ini bukan kasus dengan campuran dari
persilangan kebalikan, Cytotype P jantan x cytotype M betina. Beberapa campuran
tidak mewariskan cytotype P bahkan meskipun mereka mewariskan unsur P dari
induk pejantan. Konsekuensinya, unsur P ditunjukkan pada campuran transpos secara
bebas, memacu pada sindrom ketidaknormalan genetik yang disebut disgenesis P-M
campuran. Ini termasuk mutasi frekuensi tinggi dan kerusakan kromosom, sgregasi
kromosom yang menyimpang dan pada kasus ekstrim kesalahan pembentukan gonad.
Kondisi terakhir ini dapat menyebabkan lalat campuran menjadi steril. Berdasarkan
kerusakan yang dapat disebabkan oleh pergerakan unsur P yang luas, hal ini dapat
terlihat mengejutkan bahwa persilangan P (jantan) x M (betina) menghasilkan
keturunan semua. Bagaimanapun, keturunan dari persilangan ini dapat dikatakan
sehat karena pergerakan unsur P dibatasi pada sel garis bakteri. Pada jaringan
somatis, dimana pergerakan unsur P dapat secara pasti menyebabkan masalah serius,
ada sebagian kecil, jika mungkin, transposisi. Inhibisi selektif transposisi terjadi
karena gen transpos yang dibawa unsur P yang lengkap tidak dapat diekspresikan
pada jaringan somatis. Penelitian pada beberapa labotarorium berusaha untuk
menentukan mengapa hal itu bisa terjadi.

Hal 243
Genetik dan evolusi siknifikan dari perpindahan elemen
Mutasi dan kerusakan kromosom
Bukti perpindahan unsur berasal dari Drosophila, di mana banyak alel mutan
yang

telah terbukti melibatkan insersi transposon. Namun, eksperimen dengan

berbagai jenis perpindahan unsur menunjukkan bahwa terjadinya mutasi penyisipan


merupakan peristiwa jarang, mungkin karena banyak keluarga transposon yang ketat
diatur. Ledakan transposisi dapat terjadi, menyebabkan banyak mutasi secara
bersamaan. Hal ini tampaknya apa yang terjadi ketika unsur P dimobilisasi di hibrida
dysgenic Drosophila.Perpindahan unsure menyebabkan kerusakan kromosom. Hal ini
ditunjukkan oleh perilaku elemen Ds ganda pada jagung dan oleh unsur P di
Drosophila. Dalam kedua kasus,dapat menyebabkan hilangnya atau penataan ulang
bahan kromosom. Kadang-kadang unsur berpindah memediasi peristiwa kombinasi
antara molekul DNA. Salah satu contoh adalah penyisipan dimediasi IS F plasmid ke
dalam kromosom E.coli. Lain adalah penataan ulang Struktural kromosom X di
Drosophila berikut merupakan rekombinasi antara transposon homolog yang terletak
di posisi yang berbeda JK Lim telah menemukan bahwa salah satu perpindahan
elemen (disebut bobo) tampaknya dimediasi peristiwa ini, mengarah ke penghapusan
atau inversi segmen besar kromosom. Temuan lainnya menunjukkan bahwa
transposon mungkin memainkan peran penting dalam evolusi struktur kromosom
Digunakan dalam analisis genetik
Kemampuan

alami

perpindahan

unsur

menyebabkan

mutasi

telah

dimanfaatkan di laboratorium. Dalam beberapa organisme merangsang transposisi


dari elemen tertentu, sehingga meningkatkan tingkat mutasi alami. Prosedur ini
memiliki keuntungan, metode tradisional menginduksi mutasi karena unsur
transposabel yang telah menyebabkan mutasi dengan memasukkan ke dalam gen
dapat berfungsi sebagai landmark untuk studi yang lebih rinci. Fitur terbaik adalah
Drosophila, di mana teknik hibridisasi in situ dapat digunakan untuk menemukan
situs dari penyisipan transposon. Dalam teknik ini, urutan transposon berlabel
radioaktif yang dibuat DNA beruntai tunggal dalam kromosom raksasa kelenjar

ludah. Reaksi hibridisasi terjadi pada permukaan slide mikroskop, di mana kromosom
telah menyebar dengan meremas kelenjar dibedah. Ketika reaksi hibridisasi selesai,
lokasi urutan radioaktif dapat ditentukan dengan autoradiografi. Kromosom dalam
yang hibridisasi dengan squence elemen gipsi. Digambarkan dari masing-masing dari
bintik-bintik gelap pada fig. 9.22 menunjukkan di mana urutan gipsi radioaktif telah
hibridisasi dengan DNA kromosom. Oleh karena itu tempat ini mengidentifikasi situs
kromosom yang mengandung unsur gipsi.
Gen yang telah mengalami mutasi melalui penyisipan pada elemen transposable
dikatakan telah dilabel . Kata ini digunakan secara bebas untuk menyapaikan
bahwa gen siap untuk diidentifikasi .Ketika digunakan bersamaan dengan kloning
DNA dan prosedur koloni hybridization, transposon menyediakan sesuatu yang
berguna untuk mengidentifikasi sekuen gen , campuran heterogeneus pada DNA . Ini
adalah teknik standart dalam teknik mesin genetik.
Elemen transposable juga digunakan dalam transformasi genetika pada organisme
tingkat tinggi . Pada chapter8 telah dibahas bagaimana bakteri dapat ditransformasi
melalui penggabungan fisik fragmen DNA . Sel pada organisme tingkat tinggi dapat
ditransformasi , tetapi frekuensi transformasi meningkat dengan cepat jika fragmen
DNA disisipkan kedalam elemen transposable . Barangkali banyak sistem canggih
yang telah mengalami perkembanagan menggunakan P element pada D r os ophil a .
Pada sistem ini , elemen nonautonomous yang menyediakan sama seperti vektor
transformasi dan menyediakan elemen lengkap yang sama halnya dengan sumber
pada transposase yang dibutuhkan untuk menyisipkan vector kedalam kromosom
pada sel Drosophila . Ada sekuen DNA yang dapat di tempatkan kedalam elemen
vektor. Elemen vector carrier merupakan sekuen non homolog pada DNA .Pada tipe
penelitian, campuran vector dan elemen lengkap yang diinjeksikan ke dalam embrio
Drosophila yang sangat muda. Jikainjeksi ini tidak menimbulkan luka, maka embrio
akan terselamatkan dan berkembang dengan normal , dan menjadi fertil . Selama
pekembangan , terdapat kesempatan transposase dari elemen komplit yang akan
mempercempat penyisipan elemen vektor ke dalamsalah satu kromosom Drosophila.
Jika kejadian ini terjadi pada sel maka secepatnya

akan menyebabkan

berkembangnya kuman penyakit , elemen vektor mungkin telah meninggalkan


generasi selanjutnya yang memproduksi keturunan transformasi genetik . Dengan
menggunakan teknik ini , ratusan Drosophila telahmengalami transformasi , banyak
yang membawa DNA dari organisme lain . Aspek lainnya mengenai transformasi
pada proses elemen-mediaed P dibahas pada Chapter 24.
evalutionary Isu
Distribusi luas dari unsur yang berpindah menunjukkan bahwa ada peran
dalam evolusi. satu hipotesis menyatakan bahwa unsur-unsur ini adalah alat alam
untuk materi genetik. Seperti untuk menyalin, transpos, dan mengatur ulang urutan
DNA lain, seperti gen untuk resistensi antibiotik, dapat ditafsirkan sebagai manfaat
bagi organisme yang membawanya. dalam hal ini, elemen transportasi dapat
menyebar karena mereka telah memberikan keuntungan selektif untuk carriernya.
Hipotesis lain menyatakan adalah bahwa unsur-unsur yang di bawa menyebar karena
memiliki kemampuan untuk berkembang biak secara independen dari mekanisme
replikasi normal. Ini Mungkin bukan untuk semua transposon, tapi mungkin berlaku
untuk beberapa, seperti unsur-unsur bakteri yang transportasi melalui mekanisme
replikasi. didalamelemen tampilan transposabel yang sedikit lebih dari parasitsegmen genomik DNA yang meniru dirinya sendiri , yang kemungkinan dapat
merugikan inangnya.
Bagaimana transposon pertama telah berevolusi?

N. Kleckener telah

menyatakanbahwa transposon primordial mungkin timbul dengan modifikasi gen


yang mengkode enzim untuk meciptakan dan meperbaiki DNAdari istirahat. semua
yang diperlukan adalah enzim untuk mengembangkan tingkat sederhana sampai
kekhususan, mungkin dengan mengenali urutan DNA tertentu enam atau delapan
pasang. Urutan seperti itu mungkin terjadi secara kebetulan di terbalik orientasi di
kedua sisi gen, mebuat situasi di mana produk gen bisa berinteraksi dengan masingmasing urutan yang mengapit dengan "cutting and pasting"DNA, enzim dimodifikasi
ini kemudian bisa merefleksikan seluruh unit ke posisi baru dalam genom. unit
tersebut itu akan bertindak sebagai transposon primordial.

Muncul pertanyaan lain

hubungan evolusi antara retrotransposon, seperti

unsur ragi, dan retrovirus yg lengkap. Secara kolektif entitas ini disebut sebagai
retroelements. A.J Kingman dan S.M. kingmas berpenapat bahwa retrovirus telah
dikembangkan dari retrotransposon sederhana dengan penambahan gen yang
mensintesis protein membran. dengan hali ini, retroelement bisa menghasilkan
partikel yang mampu melepaskan diri dari satu sel dan masuk lagi satu partikel
tersebut akan menginfeksi dan akan memberikan retroelement kesempatan untuk
merefleksikan antara genom yg ada pada dirinya

PERTANYAAN DAN JAWABAN


Pertanyaan :
1. Mengapa Ac dan Dc pada percobaan Mc-Clintock disebut sebagai element
pengontrol ?
Baik Ac maupun Ds adalah bagian dari elemen transposabel. Elemen ini
secara struktur saling terhubung dan dapat memasuki lokasi berbeda pada
kromosom. Ketika salah satu dari elemen ini masuk atau berada dekat sebuah
gen, fungsi dari gen tersebut telah berubah. Bahkan fungsi dari gen tersebut
bisa benar-benar hilang. Oleh karena itu, McClintock menyebut Ac dan Ds
sebagai elemen pengontrol.
2. Bagaimana proses transposon komposit pada bakteri terbentuk ?
Tansposon gabungan terbentuk ketika dua elemen IS masuk secara berdekatan
kemudian menginsersi. Urutan ini dapat diubah oleh kerja sama dari elemen
yang mengapitnya. Sebagai contoh, pada Tn9, elemen IS yang mengapit

langsung berorientasi dengan yang lainnya sedangkan Tn5 dan Tn10


berorientasi terbalik. Masing-masing transposon gabungan ini membawa gen
yang resistan terhadap antibiotik. Tn9 resistan terhadap chloraphenicol, Tn5
resistan terhadap kanamycin dan Tn10 resistan terhadap tetracycline. Hal ini
menunjukkan bahwa kadang elemen IS pengapit pada transposon gabungan
tidak identik. Pada Tn5, elemen yang terletak di kiri, disebut IS50L tidak
mampu untuk menstimulasi transposisi namun elemen yang berada di kanan
yaitu IS50R mampu melakukannya. Perbedaannya adalah perubahan
pasangan nukleotida tunggal menghalangi IS50L untuk mensintesis faktor
transposisi yang penting

3. Jelaskan perbedaan dari episom dan plasmid !


Jawab :
Plasmid
Plasmid merupakan molekul DNA tambahan atau elemen DNA ekstra
kromosomal.

Plasmid berada di sitoplasma bakteri berupa DNA sirkuler ekstra

kromosomal
Plasmid merupakan molekul DNA ekstra kromosom, plasmid tidak dapat
bergabung dengan DNA kromosom, dan plasmid berisi informasi genetik
yang diperlukan untuk replikasi plasmid itu sendiri.

Plasmid memiliki struktur yang sama dengan DNA kromosom yang terdiri

atas gen-gen yang mengkodekan sifat tertentu seperti resistensi terhadap


antibiotik dan sebagainya.
Plasmid memiliki bentuk sirkular untai ganda (umumnya), sirkular untai

tunggal seperti pada bakteri gram positif dan berbentuk linier seperti pada
genus Borellia dan Streptomyces.OK
Plasmid melakukan replikasi sendiri dan memiliki dua tipe yaitu plasmid

berukuran kecil (kurang dari 10 kb) dan terdapat dalam kopian berganda di
dalam sel dan plasmid F yang berukuran lebih besar (lebih besar dari 30
kb; plasmid F sendiri berukuran 100 kb).
Plasmid ini hanya memiliki satu atau dua kopian per sel. Plasmid F ini juga

dikenal dengan plasmid konjugativ karena dapat ditransfer dari satu sel ke
sel yang lain atau dapat menggabungkan dirinya ke dalam kromosom.
Episom
Sedangkan episom adalah setiap jenis DNA ekstra-kromosom yang dapat
berhubungan dengan DNA kromosom.
Episom biasanya lebih besar dari DNA ekstra-kromosom lainnya.

Contoh episom adalah virus, karena mereka mengintegrasikan materi

genetik mereka ke dalam DNA kromosom inang dan bereplikasi bersama


dengan replikasi DNA kromosom inangnya.

Pengertian di atas diperkuat oleh Garner (1991) yang menyebutkan bahwa


episom merupakan elemen genetik yang memiliki dua alternatif cara replikasi

Cara replikasi itu meliputi


1. sebagai bagian yang terintegrasi dalam kromosom utama
2. sebagai elemen genetik autonom yang independen (berdiri sendiri) dari
kromosom utama.

4. jelaskan fungsi dari episom dan plasmid !

Jawab : Sebagai komponen genetik extrakromosomal, plasmid memiliki


beberapa peranan yang cukup penting, baik bagi bakteri yang memiliki
plasmid itu sendiri maupun bagi penelitian di bidang genetika. D

ale dan Park (2004) menyebutkan bahwa plasmid menyediakan sebuah


dimensi ekstra yang penting terhadap fleksibilitas respon organisme terhadap
perubahan lingkungan, baik perubahan itu bersifat antagonis atau berlawanan
(misalnya kehadiran antibiotik) maupun yang berpotensi menguntungkan atau
baik, misalnya ketersediaan substrat baru.

Beberapa kegunaan plasmid yang lain bagi bakteri seperti: produksi protein
yang berfungsi sebagai zat antimikrobial untuk melawan organisme bakteri
yang saling berdekatan misalnya Colicin yang diproduksi oleh E. Coli strain
tertentu untuk membunuh bakteri E. Coli yang lain; plasmid membawa sifat
virulensi bagi bakteri; bakteri-bakteri tertentu seperti Agrobacterium
tumefaciens membawa plasmid yang disebut TI (Tumor Inducing) yang
bersifat patogen yang menyebabkan tumor pada tumbuhan dan Rhizobium
yang membentuk nodul pada akar kacang-kacangan yang berguna untuk
fiksasi nitrogen dikontrol oleh gen-gen yang dibawa oleh plasmid. Selain itu
juga, plasmid membawa gen-gen yang digunakan oleh beberapa bakteri dalam
aktivitas metabolisme seperti fermentasi laktose dan proses biodegradasi dan
bioremidiasi.

kondisi lingkungan Secara umum, plasmid memiliki peran penting di dalam


menberikan kemampuan adaptif yang kuat bagi bakteri. Sesuai dengan sifat
plasmid yang dapat keluar atau masuk ke dalam sel bakteri, hal ini
memungkinkan bakteri dapat memiliki sifat-sifat genetik dan juga sifat-sifat
metabolis yang menguntungkan pada yang baru.

Dari segi penelitian genetika, plasmid telah lama dikenal sebagai vektor dalam
teknik rekayasa genetika. Contoh yang cukup popular adalah bakteri
penghasil insulin, bakteri ini dihasilkan dengan menanamkan plasmid yang
telah di modifikasi dengan disisipi gen pengkode insulin, dengan memiliki
plasmid tersbut, bakteri itu mampu memproduksi insulin. Selain itu masih

banyak contoh-contoh lain terkait manfaat plasmid di bidang penelitian


genetika.

Sedikit berbeda dengan pada plasmid, umumnya episom justru merugikan sel
inang, terutama jika episome tersebut merupakan virus. Sebagaimana kita
ketahui pada daur replikasi virus, saat materi genetik virus tersebut masuk ke
dalam sel inang dan segera menyisip pada kromosom inti kemudian
mengambil kendali sel inang sehingga akhirnya membentuk virion-viron baru.
Tentu saja proses ini merugikan bagi sel inang, apalagi jika daur tersebut
berakhir dengan lisisnya sel inang.

Namun beberapa episom virus ternyata diketahui dapat berada dalam kondisi
dorman (viral episomal latency), sebagaimana yang disebutkan di dalam
wikipedia (2011) bahwa viral episomal latency merupakan kondisi dimana
materi genetik virus yang telah masuk ke dalam sel inang, hanya melayanglayang (floating) di dalam sitoplasma sel inang. Dalam kondisi ini episom
virus tersebut tidak memberikan bahaya yang serius bagi sel inang.

Dalam bidang rekayasa genetika, episome memberikan manfaat yang cukup


besar.

Seperti

halnya

plasmid

episom

seringkali

digunakan

untuk

menyuntikkan gen-gen tertentu ke dalam kromosom sel target sehingga,


dengan demikian sel target akan memiliki sifat-safat yang dibawa gen tadi.
Dalam hal ini, penggunaan episom memberikan hasil yang sedikit berbeda
dengan plasmid, dimana gen yang disuntikkan akan bergbung bersama pada
DNA utama pada sel target.

Anda mungkin juga menyukai