Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI2105)

SIKLUS HIDUP LALAT BUAH (Drosophila melanogaster)

Tanggal Praktikum : 2 September 2016


Tanggal Pengumpulan : 23 September 2016

Disusun oleh:
Nadia Fairuz Aprilia
10615038
Kelompok 9

Asisten:
Intan Fatmawati
10614072

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Drosophila melanogaster sudah mulai digunakan sebagai model percobaan
genetika sejak 1901 tetapi baru menjadi tren organisme eukariotik paling populer
yang digunakan untuk penelitian pewarisan sifat dan biomedis pada tahun 1910.
Karena T. H. Morgan berhasil menemukan penyimpangan yang terjadi pada
fenotip Drosophila melanogaster mata putih, padahal biasanya berwarna merah.
Kemudian setelah itu, ditemukan beragam mutasi lainnya pada Dhrosophila
melanogaster (Ilona, 2008).
Drosophila melanogaster sangat efektif sebagai model organisme dibanding
hewan lain karena memiliki siklus hidup pendek yaitu kurang lebih 8 11 hari
dan hanya memiliki 4 pasang kromosom. Lalat buah juga mudah dipelihara pada
temperatur kamar (suhu ruangan), biaya murah, tidak memerlukan tempat yang
bersih, makanannya sangat sederhana, hanya memerlukan sedikit ruangan dan
tubuhnya cukup kuat (Flannery, 1997).
Siklus hidup Drosophila melanogaster meliputi telur, larva instar 1, larva
instar 2, larva instar 3, prepupa, pupa dan imago (Henuhili, 2002). Tiap tahapnya
punya ciri-ciri yang berbeda sehingga mudah dibedakan. Selain itu dengan siklus
hidup yang pendek para peneliti dapat lebih memahami teori Mendel dan tidak
memerlukan waktu yang lama untuk mengamati proses perkembangannya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Menentukan tahapan siklus hidup Drosophila melanogaster
2. Menentukan karakter morfologis dan waktu tiap tahapan dari siklus hidup
Drosophila melanogaster
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Drosophila melanogaster


Drosophila melanogaster merupakan jenis lalat buah yang terdapat dalam
filum Artropoda, kelas Insekta, bangsa Diptera, anak bangsa Cyclophorpha
(pengelompokan lalat yang pupanya terdapat kulit instar 3, mempunyai jaw
hooks), seri Acaliptrata (imago menetas dengan keluar dari bagian anterior pupa),
dan suku Drosophilidae. Jenis Drosophila melanogaster di Indonesia terdapat
sekitar 600 jenis, pulau Jawa sekitar 120 jenis dari suku drosophilidae (Wheeler,
1981).

Gambar 2.1 Drosophila melanogaster Wild Type


(Meigen, 1830)

Berikut merupakan klasifikasi dari Drosophila melanogaster


(Borror, 1992) :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Diptera

Famili

: Drosophilidae

Genus

: Drosophila

Species

: Drosophila melanogaster

2.2 Ciri ciri Morfologi Drosophila melanogaster dan Perbedaan Jantan


Betina

Tubuh Drosophila melanogaster ini terbungkus oleh eksoskeleton yang


terbuat dari kitin, memiliki dua segmen tubuh utama dan tiga pasang kaki
berbuku. Warna tubuh pada lalat buah normal yaitu coklat kekuningan dan
panjang tubuhnya bisa sekitar 3 mm dan lebar 2 mm. Drosophila melanogaster
mempunyai kepala yang bulat dilengkapi dengan mata majemuk besar berwarna
merah dan 3 mata tunggal berukuran lebih kecil beserta antena (Patterson and
Stone, 1952).
Drosophila melanogaster mempunyai ciri morfologi yang berbeda antara
jantan dan betina. Pada Drosophila melanogaster jantan ukuran tubuhnya lebih
kecil bila dibandingkan dengan yang betina. Jantan mempunyai 3 ruas dibagian
abdomennya dan mempunyai sisir kelamin juga pada jantan memiliki sayap yang
lebih pendek. Sedangkan pada betina ukurannya relatif lebih besar, mempunyai 6
ruas pada bagian abdomen dan tidak memiliki sisir kelamin juga sayapnya lebih
panjang daripada lalat buah jantan (Soemartomo.S.S, 1979).
Perbedaan jenis kelamin pada Drosophila melanogaster secara morfologi
terlihat dari bentuk pantat Drosophila, lalat jantan memiliki ujung posterior yang
tumpul sedangkan lalat betina memiliki ujung posterior yang runcing. Lalat jantan
memiliki sex comb pada kakinya sedangkan lalat betina tidak. Ciri lainnya yang
dapat membedakan jantan dan betina adalah dari ukuran tubuhnya, dimana lalat
jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan ukuran lalat betina
(Ghostrecon, 2008).

Gambar 2.2 Drosophila melanogaster Betina dan Jantan


(http://www.cbsd.org, 2014)

2.3 Siklus Hidup Drosophila melanogaster


Perkembangan Drosophila melanogaster

dimulai

sesudah

terjadinya

fertilisasi, yang terdiri dari dua periode yaitu, periode embrionik di dalam telur
pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan periode
embrionik ini terjadi dalam waktu 24 jam. Telurnya berdiameter sekitar 0.5 mm.
Pada telur ini ada bagian seperti dua kail yang berlawanan untuk mencegah telur
lalat tenggelam dalam substrat. Dan pada saat ini, larva tidak berhenti-berhenti
untuk makan (Silvia, 2003).
Periode kedua yaitu setelah menetas dari telur, disebut juga perkembangan
postembrionik, dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase
seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lain pada perkembangan
secara seksual terjadi pada saat dewasa (Silvia, 2003).
Fase larva terdiri dari 3 tipe. Pertama adalah larva instar I, pada fase ini larva
baru saja menetas dan mempunyai pergerakan yang sangat rendah atau terlihat

tidak bergerak sama sekali. Lalu pada larva instar II sudah mempunyai pergerakan
yang jauh lebih lincah dibandingkan dengan instar I, karena pada fase ini larva
sedang dalam tahap makan sebanyak banyaknya. Selanjutnya yang terakhir dari
fase larva adalah instar III dimana pergerakannya sudah tidak setinggi pada larva
instar II. Ada ciri khas morfologi yang nampak diantara ketiga larva ini. Pada
larva instar I hanya mempunyai spirakel dibagian posterior, sedangkan pada larva
II dan III sudah terdapat spirakel di anterior, dan terdapat seperti sebuah lonjongan
pada spirakelnya pada larva instar III (Gilbert, 2010).
Fase lalat buah dilanjutkan menjadi tahap pre-pupa, tahap ini menyebabkan
sedikit perubahan warna pada larva. Lalu pada tahap pupa adalah tahap lalat buah
diam dimana larva membungkus tubuhnya dengan suatu membran berwarna
kecoklatan. Tahap pupa ini menghabiskan waktu sekitar 30 jam. Setelah selesai
pupa akan berubah menjadi imago atau lalat dewasa (Gilbert, 2010)
Metamorfosis pada Drosophila melanogaster termasuk metamorfosis yang
sempurna, yaitu dari telur larva instar I larva instar II larva instar III pupa
sampai imago. Fase perkembangan Drosophila melanogaster dapat dilihat pada
gambar 2.3 di bawah ini.

Gambar 2.3 Siklus Hidup Drosophila melanogaster


(Wolpert, 2002)

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Siklus Hidup Drosophila melanogaster

Faktor-faktor yang mempengaruhi siklus hidup Drosophila melanogaster


antara lain :
a. Jumlah Makanan
Makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup jika tidak mempunyai asupan
makanan yang cukup. Hal ini menjadi bukti yang cukup akan pentingnya
kuantitas makanan dalam pemeliharaan Drosophila melanogaster. (Campbell et
al, 2008)
b. Intensitas Cahaya
Intensitas cahaya sangat diperlukan untuk mempercepat siklus hidup
Drosophila melanogaster karena pada umumnya serangga menyukai tempat yang
terang dibandingkan dengan tempat yang gelap. (Campbell et al, 2008)
c. Suhu Lingkungan
Setiap makhluk hidup dalam suhu yang berbeda beda, Drosophila
melanogaster dapat hidup pada suhu yang optimal sekitar 250C - 280C. Jika hidup
pada suhu dibawah 180C, pertumbuhan Drosophila melanogaster akan terhambat,
sedangkan jika pada suhu diatas 300C, lalat buah akan menjadi steril
(Shorrocks, 1972).
d. Kepadatan Media Pemeliharaan
Faktor kepadatan juga mempengaruhi pertumbuhan serta kelangsungan
hidup Drosophila melanogaster. Jika populasi Drosophila melanogaster pada
media pemeliharaan terlalu banyak, akan terjadi persaingan hidup dalam mencari
makanan dan tempat untuk menetaskan telur. (Shorrocks, 1972)
e. Parasit (Jamur)
Selain faktor lingkungan, adanya organisme lain seperti jamur, tungau, serta
semut mengganggu Drosophila melanogaster dalam beraktivitas dan mencari
makanan, karena adanya infeksi makanan dari jamur, serta semut dan tungau
tersebut. (Gilbert, 2010)

BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat dan Bahan
Pada praktikum pengamatan siklus hidup Drosophila melanogaster ini
membutuhkan beberapa alat dan bahan. Alat dan bahan terdapat di tabel 3.1.
Tabel 3.1 Alat dan Bahan Penelitian Siklus Hidup Drosophila melanogaster

Alat
Botol berisi media dengan sumbat
busa
Kantong plastik
Botol dengan mulut sebesar botol
media
Kertas saring

Bahan
Buah buahan busuk
550 gram pisang
20 gram ragi
150 gram gula aren
5 mL Nipagin/ Tegosept/ Moldex/
PABA/ Methyl paraben (2,5 gram
dalam 120 mL etanol)
7 gram (1 bungkus) agar agar
411 mL aquadest
5 mL sorbic agid

3.2 Metode Kerja


3.2.1 Penangkapan Lalat Buah
Ada berbagai metode penangkapan lalat buah, untuk percobaan kali ini
metode yang digunakan adalah dengan melakukan penangkapan di habitatnya
(lingkungan) menggunakan sebuah media. Lalat buah dipancing untuk datang
dengan memasukkan pisang atau buah buahan lain yang sudah membusuk ke
dalam botol kosong. Setelah dirasa cukup banyak lalat yang masuk pada botol
tersebut, kemudian lalat buah dipindahkan dari media penangkapan ke media yang
diberikan pada saat praktikum. Metode ini digunakan untuk mengurangi resiko
media yang terkontaminasi jamur yang berasal dari udara. Namun jika terlihat ada
jamur, segera dikeluarkan dan bila media sangat basah, lipatan kertas saring
dimasukkan ke dalam media. Kemudian botol media disimpan di tempat teduh.

3.2.2 Pengamatan Lalat Buah


Mula mula dicatat tempat, tanggal, jam penangkapan, dan
jumlah lalat buah yang telah tertangkap. Lalat buah diamati
minimal dua kali sehari agar tidak terlewat fasa hidupnya. Saat lalat buah
pertama kali mengalami tahapan pertumbuhan tertentu, dicatat tanggal dan jam
pengamatan ketika lalat tersebut mengalami perubahan fase pertumbuhan. Setelah
pupa pertama muncul, lalat dewasa dikeluarkan. Pengamatan terus dilakukan
secara rutin sampai telur berubah menjadi larva instar 1, larva instar 2, larva instar
3, prepupa, pupa dan imago. Botol media dikembalikan setelah pengamatan
selesai.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tanggal parental dimasukkan ke dalam botol : 4 September 2016, pkl. 10.00.
Jumlah parental yang dimasukkan ke dalam botol : 8 ekor
Hasil pengamatan pada praktikum siklus hidup Drosophila melanogaster ini
terdapat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Siklus Hidup Drosophila melanogaster

Pengamatan
Ukuran (mm)
Pertama

dan Hasil

Muncul

Pengamatan

Telur

Lainnya
Sulit dilihat,
ukurannya
0.5 mm

Tanggal dan
Jam

Umur*
Foto Pengamatan

(jam/

Teramati

hari)

5 September

24 jam
(1 hari)

2016
08.00 WIB

Gambar 4.1 Telur Drosophila


melanogaster

Larva

Berwarna

6 September

Instar I

sedikit bening,

2016
08.00 WIB

ukuran

48 jam
(2 hari)

1,5 mm
Gambar 4.2 Larva Instar I

Larva
Instar II

Berukuran

7 September

2 mm,

2016
18.00 WIB

82 jam
( 3
hari)

berwarna putih
bening

Gambar 4.3 Larva Instar II

Larva
Instar III

Berukuran
2,5 mm,

8 September

100 jam
( 4

2016
12.00 WIB

hari)

spirakel
terlihat,
Gambar 4.4 Larva Instar III

berwarna
kecoklatan di
bagian
Prepupa

ujungnya
Berukuran
2,5 mm,

9 September

130 jam
( 5

2016
18.00 WIB

hari)

berwarna putih
agak
kecoklatan
Pupa

Berukuran
2,5 mm,

Gambar 4.5 Prepupa

11 September

170 jam
( 7

2016
10.00 WIB

hari)

berwarna
cokelat
kehitaman
Gambar 4.6 Pupa

Imago

Berukuran

12 September

kira-kira 3

2016
08.00 WIB

mm, sayap

192 jam
( 8
hari)

berukuran 3,2
mm, Sangat
jelas teramati
Gambar 4.7 Imago

*dari tanggal parental dimasukkan


4.2 Pembahasan
Percobaan ini dimulai pada tanggal 4 September 2016
dengan meletakkan lalat buah parental sejumlah 8 ekor pada
media. Setelah melakukan pengamatan terhadap lalat buah, maka diketahui kali

ini umur lalat wildtype 192 jam atau kurang lebih 8 hari. Sedangkan waktu hidup
lalat pada literatur berkisar antara 8 9 hari dengan tahapan tahapan
perkembangan yang lengkap, yaitu telur, larva instar, prepupa, pupa, sampai
imago. Drosophila melanogaster ditangkap dari alam dan dimasukkan ke dalam
media, lalu lalat buah betina mulai bertelur keesokan harinya. Selanjutnya, waktu
pertumbuhan telur menjadi larva Instar I kurang lebih 1 hari. Dan perubahan dari
Instar I ke Instar II memerlukan waktu 1 hari. Kemudian dari Instar II menuju
Instar III juga memerlukan waktu 1 hari. Pada perubahan dari larva Instar III
menjadi prepupa dibutuhkan waktu 1 hari. Selanjutnya, perubahan prepupa
menjadi pupa juga dihabiskan waktu 1 hari. Sedangkan pada perubahan dari pupa
hingga menjadi imago waktu yang dihabiskan paling lama, yaitu 3 hari.
Pengamatan ini dilakukan pada suhu 280C, berbeda dengan literatur yang
menganjurkan pengamatan pada suhu 250C (Dosh, 2014). Perbedaan ini
kemungkinan disebabkan perubahan iklim yang tidak menentu dan tingginya
curah hujan.
Perbandingan tiap fase pada pertumbuhan Drosophila melanogaster yaitu
pada ukuran, motilitas, morfologi, dan letak. Fase telur merupakan fase yang
sangat non-motil, berukuran 0,5 mm sampai 1 mm jadi sangat kecil bahkan
hampir tak terlihat, bentuknya kecil bulat panjang berwarna putih, serta terletak
pada permukaan makanan. Fase larva instar I, II, dan III mempunyai motilitas
yang rendah, ukurannya 1,5mm 2,5 mm, biasanya terdapat di dasar makanan
atau dapat dilihat di dinding botol media, bentuknya seperti cacing berwarna putih
agak kecokelatan juga mempunyai spirakel anterior dan posterior (pada larva
instar I tidak ada spirakel anterior). Fase pupa sangat non-motil atau diam,
spirakel pada pupa terlihat jelas, ukurannya sama dengan larva instar III, terletak
di dinding botol media dan bentuknya bulat sedikit lonjong. Fase imago atau lalat
dewasa memiliki bagian tubuh yang komplit seperti kepala, thorax, sayap, dan
abdomen, berukuran 3 5 mm, memiliki motilitas yang tinggi, dan ini adalah fase
terakhir dalam metamorfosis lalat buah,.

Pada percobaan beberapa praktikan, botol media biasanya terdapat


kontaminasi jamur, tungau semi parasitik, semut atau Drosophila melanogaster
dari strain lain di atas media makanan. Hal ini disebabkan karena media kultur
semakin membusuk atau botol media berada di tempat yang terlalu lembab dan
kebersihan media itu sendiri sebelum pisang dan kertas saring dimasukkan ke
dalam media atau juga kemungkinan kotoran dibawa oleh lalat wildtype liar.
Apabila sudah terlanjur terkontaminasi oleh jamur, maka yang perlu dilakukan
adalah membuang bagian yang terkontaminasi jamur dan daerah sekitarnya
menggunakan sendok. (Ashburner, 1989).
Pada pengembangbiakan Drosophila melanogaster, diperlukan medium
yang juga menjadi sumber makanan. Pembuatan medium harus dilakukan dengan
baik, agar dapat memenuhi nutrisi yang dibutuhkan, dan juga mencegah terjadinya
kontaminasi. Komposisi yang menyusun media yaitu seperti pisang, ragi, gula
aren, agar agar, anti jamur, kertas saring (tissue makan), akuades, serta
penutupnya dari busa. Pisang, ragi, gula aren, dan agar agar menjadi makanan
bagi lalat buah yang dipelihara. Kertas saring atau tissue makan pada media
berfungsi untuk menyerap air berlebih di pisang dan sebagai tempat untuk
meletakkan telur bagi Drosophila melanogaster (walaupun lebih sering terlihat
pada dasar makanan dibanding di kertas saring). Tutup busa berfungsi untuk
penutup botol media agar lalat tetap mendapatkan udara dan lalat tidak bisa keluar
dari botol media. Pada pembuatan medium, ditambahkan juga anti jamur seperti
Nipagin, Tegosept, Moldex, maupun jenis lainnya untuk menghambat
pertumbuhan jamur pada medium.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan siklus hidup Drosophila melanogaster yang sudah dilakukan,
dapat disimpulkan bahwa :
1. Drosophila melanogaster mengalami metamorfosis sempurna. Tahapan
tahapan dalam siklus hidup Drosophila melanogaster yaitu : telur larva
instar I larva instar II larva instar III prepupa pupa imago.
2. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, morfologi dan perubahan
pada tiap fase pada Drosophila melanogaster, serta waktu hidupnya.
a. Telur berbentuk bulat lonjong dengan waktu hidup selama 22-24 jam.
b. Larva instar berbentuk seperti cacing berspirakel dengan waktu hidup
2-3 hari.
c. Pupa dengan bentuk seperti larva instar yang kecoklatan dengan waktu
hidup 2-3,5 hari.
d. Serta imago yang sudah jelas struktur tubuhnya dengan waktu hidup 78 hari.
5.2 Saran
Saran untuk melakukan praktikum ini lebih baik adalah sebagai berikut :
1. Sebaiknya botol medium jangan terlalu lama tereksploitasi di lingkungan
luar karena kemungkinan besar medium akan terkena kontaminasi jamur.
2. Supaya lebih mudah saat memindahkan lalat buah dari botol penangkapan
ke botol media, botol penangkapan dapat disimpan di dalam freezer selama
30 menit agar lalat buah pingsan dan dapat dipindahkan ke botol media
tanpa khawatir lalat kabur beterbangan.
3. Sebaiknya lalat buah dikembangbiakkan dalam suhu 25-28C agar siklus
hidupnya optimal. Dan disimpan di ruangan yang remang remang supaya
lebih cepat pertumbuhannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ashburner, Michael. 1989. Drosophila, A Laboratory Handbook. USA :
Coldspring Harbor Laboratory Press

Borror. J. D, Triplehorn. 1992. Pengenalan Pengajaran Serangga. Yogyakarta:


Universitas Gadjah Mada Press
Campbell, Reece, Urry, Peterson, Wasserman, Minorsky, Jackson. 2008. Biology
Concept and Connection 7th. Pearson International: New York.
Dosh, L., 2014. Faculty of Medicine Medical Research. [Online] https://www.aub.
edu.lb/fm/medicalresearch/AnimalCareFac/Documents/Document%209%20Drosophila%2
0Melanogaster.pdf, diakses pada 21 September 2016.
Flannery, C. M. 1997. Models in biology. American Biology Teacher, 59 (Apr),
244-248.
Ghostrecon. 2008. Drosophila melanogaster. http://one.indoskripsi.com/judul
skripsi/tugas-makalah/biologi-umum/drosophila-melanogaster/, diakses
pada 22 September 2016
Gilbert, Scott F. 2010. Developmental Biology 9th Edition. Sinauer Associates :
New York
Henuhili, Victoria, 2002. Genetika. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri
Yogyakarta.
Lab 7 Heredity. 2014. http://www.cbsd.org/cms/lib010/PA01916442/Centricity
/Domain/1844/AP%20Biology%20Labs/Lab%207%20-%20Heredity%20
%20Information.pdf, diakses pada 20 September 2016
Patterson, J. and W. Stone. 1952. Evolution in the Genus Drosophila. New York:
Macmillan Co.
Silvia, Triana. 2003. Pengaruh Pemberian Berbagai Konsenterasi Formaldehida
Terhadap Perkembangan Larva Drosophila. Bandung: Jurusan Biologi
Universitas Padjdjaran.
Shorrocks, B. 1972. Drosophila. London: Ginn & Company Limited.
Wheeler, MR. 1981. The Drosophilidae: a taxonomic overview. In: The genetics
and biology of Drosophila (Ashburner M, Carson HL and Thompson JN
Jr, eds). New York: Academic Press.
Wolpert, Lewis. 2002. Principles of Development 2nd Edition. Oxford University
Press : New York.