Anda di halaman 1dari 5

OPSI SAHAM IMBALAN

Kalau program opsi saham tidak memenuhi kriteria sebagai opsi


saham non imbalan, tentunya opsi saham tersebut merupakan opsi
saham imbalan. Misalnya saja, opsi saham ditawarkan hanya keada para
eksekutif tertentu bukan pada seluruh karyawan. Kalau banyaknya saham
dan harga pengambilan sudah diketahui pada saat opsi ditawarkan maka
kompensasi dapat diukur pasa saat itu atas dasar selisih harga pasar dan
harga

pengambilan.

Akan

tetapi

kalau

jumlah

saham

dan

harga

pengambilan tergantung pada hal-hal yang akan terjadi di masa


mendatang, kompensasi yang diperhitungkan dan diakui sebagai biaya
biasanya adalah selisih harga pengambilan dan harga pasar pada tanggal
pengukuran.
WARAN
Waran adalah efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang
memberi hak kepada pemengangnya untuk memesan saham dari
perusahaan tersebut pada harga dan jangka waktu tertentu.
Pemegang

waran

dapat

membeli

sejumlah

saham

dengan

mengembalikan waran tersebut dan membayar sejumlah uamg kas


tertentu.
Persoalan teoritis timbul bila waran dijual sebagai bonus penjualan
surat berharga lain misalnya obligasi atau saham prioritas. Persoalannya
apakah jumlah uang yang diterima perusahaan dialokasi seluruhnya ke
obligasi atau saham prioritas bersangkutan atau sebagian dialokasikan ke
waran sebagai setoran saham biasa.
Ada dua argumen :
1. Bahwa sekuritas dan waran mempunyai nilai terpisah karena
terjadinya nilai bersal dari sumber yang berbeda. Pertimbangan
tentang pemisahan kos juga didasarkan pada karakteristik waran
tersebut

yaitu

apakah

bersifat

lepas,

lekat

atau

bebas

(Proporsional).
2. Berdasarkan pada objektivitas penentuan nilai karena pada
umumnya harga pasar masing masing sekuritas tersebut tidak

tersedia dipasar. Jadi dapat dikatakan pula bahwa argumen untuk


menolak alokasi adalah kepraktisan (Metode inkremental).
PENURUNAN MODAL SETORAN
Berbagai sumber perubahan modal setoran yang dibahas biasanya
bersifat menaikan atau menambah modal setoran daripada menurunkan,
karena begitu modal disetor dan tertanam dalam perusahaan maka modal
tersebut akan menjadi investasi permanen dalam perusahaan. Kalaupun
pemegang saham mau melepas investasinya, maka pemegang saham
akan menjualnya ke pasar saham sehingga apa yang dilakukan pemegang
saham tidak mempegaruhi operasi ataupun posisi keuangan perusahaan.
Modal setoran tidak akan berkurang kecuali adanya pembayaran
atau pembagian deviden yang dapat dikatagorikan sebagai deviden
likuidasi atau penarikan kembali saham yang beredar secara permanen.
Pembelian kembali saham beredar oleh perseroan sebenarnya
bermakna penarikan aset yang diinvestasikan oleh pemegang saham
yang bersangkutan. Akibatnya struktur modal berubah sesuai dengan
jumlah aset yang ditarik kembali tersebut. Akan tetapi karena perlakuan
akhir terhadap saham yang ditebus kembali tersebut mungkin tidak pasti
maka perlu dibuat ketentuan tentang perlakuan sementara terhadap
saham yang ditarik kembali tersebut.
SAHAM TREASURI
Transaksi yang jelas akan mengurangi modal setoran adalah
penarikan kembali untuk sementara saham menjadi saham treasuri.
Beberapa alasan perusahaan melakuka penarikan kembali saham sebagai
saham terasuri adalah :
1. Saham tersebut akan diterbitkan kembali kepada karyawan dalam
program opsi saham. Dengan penggunaan saham treasuri dalam
program opsi saham proporsi pemilikan saham yang masih beredar
tidak berkurang dibandingakan kalau digunakan saham baru
2. Saham tersebut akan digunakan untuk membeli perusahaan lain
dalam transaksi penggabungan usaha

3. Ingin dimiliki sebagai treasury stock (atau hendak dihapus) untuk


meningkatkan harga pasar dan EPS
4. Mengurangi total pembayaran dividen dengan tetap mempertahankan
jumlah dividen yang dibayarkan per saham

Masalah teoritis yang melekat pada transaksi saham treasuri adalah:


1. Penentuan

jumlah

rupiah

yang

harus

dianggap

sebagai

pengurangan modal setoran dan laba ditahan


2. Pengungkapan pengaruhnya terhadap modal yuridis bila saham
treasuri dijual kembali mengenai hal ini ada dua pendekatan yaitu
konsep satu trasaksi atau konsep dua transaksi

KONSEP SATU TRANSAKSI (Metode kos)


Disebut satu transaksi karena pembelian saham terasuri dan
penjualannya kembali dianggap sebagai satu transaksi. Artinya, pembelia
dan penjualan dianggap sebagai kesatuan transaksi untuk mencapai
tujuan yang diinginkan dengan transaksi saham treasuri tersebut.
Kalau saham treasuri ini dijual kembali dengan harga diatas kos
maka jelaslah bahwa selisihnya akan menambah agio saham atau
mengurangi disagio saham.
Contoh: seksi ekuitas modal pemengang saham dalam neraca suatu
perusahaan pada 1 januari 2005 menunjukkan modal saham Rp.
1.000.000 dan agio saham Rp. 200.000. dalam tahun 2005 menunjukkan
modal saham mempeoleh kembali 25 % sahamnya sebagai saham
treasuri dengan harga Rp. 400.000 dan kemudian saham tersebut
diterbitkan kembali dengan harga Rp.340.000 bagaimana perlakuan
terhadap selisih rugi Rp. 60.000?
Ada 3 alternatif :
1.
selisih

Alternatif
(60.000)

pertama

sebagai

adalah

memperlakukan

pengembalian

karenanya harus didebet ke premium .

modal

seluruh

setoran

dan

2.

Alternatif kedua jumlah rupiah selisih dipecah secara

proposional atas dasar modal saham dan agio saham sebelum


penarikan saham treasuri. Kemudian jumlah yang berkaitan dengan
agio saham dibebankan ke agio saham tetapi yang berkaitan
dengan agio saham dibebankan ke agio saham tetapi yang
berkaitan dengan modal saham dibebankan di laba ditahan.
3.
Alternatif ketiga membebankan seluruh selisih ke laba
ditahan karena perlakuan ini semata mata kepraktisan.
KONSEP DUA TRANSAKSI (Metode Nilai Nominal)
Pemerolehan kembali saham sebagai saham treasuri dianggap
sebagai likuidasi ekuitas pemegang saham sedangkan penjualan kembali
saham treasuri dianggap sebagai penerbitan saham baru. Konsep ini
disebut dengan pendekatan nilai nominal karena harga penarikan atau
penjualan kembali, ditandingkan dengan nilai nominal.
Memang dari segi teknis dan konsep sebenarnya tidak ada
perbedaan yang cukup material antara konsep satu-transaksi dan konsep
dua-transaksi.

Perbedaan

sebenarnya

justru

terletak

pada

tujuan

pemerolehan kembali saham tersebut. Kalau tujuannya adalah untuk


menjual kembali saham treasuri kepada karyawan atau pihak khusus
lainnya, konsep satu akan lebih relevan. Akan tetapi, bila tujuan
pemerolehan kembali adalah untuk membeli saham para pemegang
saham yang tidak setuju dengan kebijakan perusahaan atau untuk
melikuidasi jenis saham tertentu maka pendekatan dua akan lebih
mengena karena hal ini cenderung bermakna likuidasi atau memutus
hubungan kepemilikan.
PERUBAHAN LABA DITAHAN
Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan laba ditahan pada suatu periode
berubah selain karena transaksi modal tetapi karena transaksi khusus yaitu:
1. Penyesuaian periode yang lalu
2. Koreksi kesalahan dalam laporan keuangan sebelumnya
3. Pengaruh perubahan akuntansi
4. Kuasi reorganisasi

1. Penyesuaian Periode Lalu


Penyesuaian periode lalu adalah perlakuan

terhadap suatu jumlah rupiah yang

mempengaruhi operasi periode masa lalu bukan sebagai pengurang atau penambah
perhitungan laba tahun sekarang tetapi sebagai penyesuaian tehadap laba ditahan awal
periode sekarang, sebagai contoh perusahaan yang pada periode lalu dituntut unutk
mengganti rugi sejumlah uang tertentu karena dituduh melanggar hak paten perusahaan lain.
Baru pada periode sekarang dapat dipastikan bahwa perusahaan harus membayar ganti rugi
sejumlah tertentu. Jumlah tersebut harus diperlakukan sebagai rugi bagi perusahaan. Rugi
tersebut diakui sebagai penyesuaian terhadap laba bersih peiode lalu ketika peristiwa yang
menyebabkan rugi tersebut terjadi.Laba akan menjadi lebih berarti kalau rugi yang timbul
akibat kejadian masa lalu dilaporkan sebagai elemen laba rugi periode yang bersangkutan.
Memasukkannya sebagai elemen laba rugi periode sekarang akan menimbulkan distorsi
pelaporan laba periode sekarang.
2. Koreksi Kesalahan
Untuk dapat disebut kesalahan suatu jumlah rupiah harus berasal dari kesalahan
hitung, kesalahan aplikasi, atau kekeliruan menggunakan fakta yang tersedia dalam
penyusunan laporan keuangan. Perubahan taksiran muncul dari adanya informasi atau
perkembangan baru yang berarti dari pertimbangan yang lebih handal.
Misalnya, kalau terbukti bahwa beban depresiasi telah ditentukan terlalu kecil
sehingga depresiasi akumulasian kemungkinan tidak mencapai jumlah rupiah yang dapat
menutup kos asset pada saat diberhentikan maka ini berarti bahwa saldo asset telah
dilaporkan terlalu besar pula. Dari situasi di atas, suatu koreksi diperlukan segera setelah
cukup bukti bahwa kesalahan telah terjadi.