Anda di halaman 1dari 2

Penyelesaian Permasalahan Geng Motor di Bandung

Keberadaan geng motor yang makin menjadi ini sudah sangat membuat cemas dan takut
masyarakat. Bukan saja di Bandung, tapi juga di Jawa Barat. Tindakan mereka yang anarkis,
brutal, bahkan sampai melakukan tindak pidana seperti menyerang dan menggasak
minimarket, merampok, menganiaya. Penganiayaannya pun tergolong sadis seperti
menggergaji kepala korban, menabrak dan menggilas korban pakai motor, membakar tangan
korban dengan menempelkannya ke knalpot motor yang panas. Lalu mengapa geng motor
tersebut sering melakukan penganiayaan? Salah satu penyebabnya adalah tidak
tersalurkannya emosi mereka pada suatu kegiatan yang positif. Remaja pada umumnya, lebih
suka memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Namun, ajang-ajang lomba balap yang
legal sangat jarang digelar. Padahal, ajang-ajang seperti ini sangat besar manfaatnya, selain
dapat memotivasi untuk berprestasi, juga sebagai ajang aktualisasi diri. Karena sarana
aktualisasi diri yang positif ini sulit mereka dapatkan, akhirnya mereka melampiaskannya
dengan aksi ugal-ugalan di jalan umum yang berpotensi mencelakakan dirinya dan oranglain.
Mungkin sadar atau tidak para anggota geng motor adalah teman teman kita, karena
kebanyakan dari anggota mereka adalah usia remaja atau usia sekolah, maka harus kita cari
solusi preventif untuk menanggulangi masalah geng motor tersebut.
Pertama, salah satu solusi yang bisa memperbaiki keadaan mereka secara efektif adalah
peran; kepedulian; dan kasih sayang orang tua mereka sendiri. Sehingga secara psikologis
sedikit demi sedikit anak akan mendapatkan kembali kenyamanan berada dalam kasih sayang
orang tua serta Penanaman Nilai-nilai Agama sebagai upaya preventif terhadap peningkatan
jumlah anggota geng motor di kemudian hari, perlu dilakukan penanaman nilai-nilai agama
sejak dini. terutama tentang akhlaq (moral dan etika). Dengan begitu anak akan mengetahui
mana yang layak dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Sehingga pada saat mereka
sudah mulai berinteraksi dengan masyarakat mereka tahu batasan-batasan dan aturan yang
harus dipatuhi.
Kedua penerapan hukum pidana yang dilakukan secara formal oleh pihak negara. Dalam
kaitan itu, aparat penegak hukum, seperti kepolisian, pengadilan, dan lembaga pemenjaraan,
digunakan untuk mengatasi geng motor. Keuntungannya adalah penangkapan dan pemberian
hukuman kepada anggota-anggota geng motor yang melakukan tindakan kriminal mampu
memberikan efek jera bagi anggota-anggota atau remaja lain. Kerugiannya, aplikasi hukum
pidana membatasi kebebasan pihak lain yang tidak berbuat serupa. Bukankah dalam
masyarakat ada kelompok-kelompok pengendara sepeda motor yang memiliki tujuan-tujuan
baik, misalnya untuk menyalurkan hobi otomotif.
Ketiga, deskriminalisasi yang berarti bahwa eksistensi geng-geng motor justru diakui secara
hukum oleh negara. Tentu saja, deskriminalisasi bukan bermaksud untuk melegalisasi
kejahatan, kekerasan, dan berbagai pelanggaran norma-norma sosial yang dilakukan remaja.
Deskriminalisasi memiliki pengertian sebagai "kejahatan yang tidak memiliki korban".
Prosedur yang dapat ditempuh adalah pihak pemerintah dan masyarakat membuka berbagai
jenis ruang publik yang dapat digunakan kaum remaja untuk mengekspresikan keinginannya,
terutama dalam menggunakan kendaraan bermotor. Lapangan terbuka atau arena balap bisa
jadi merupakan jalan keluar terbaik.

Kehadiran geng motor merupakan fenomena sosial yang harus direspons secara proporsional
oleh para sosiolog dan ahli hukum dalam mengatasi merebaknya geng-geng motor di
Indonesia.

Nama

: Nadia Fairuz Aprilia

NIM

: 16115051

Fakultas

: SITH - S