Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

Penentuan Minimum Inhibitory Concentration (MIC) Dari Suatu Sediaan


Uji yang Berpotensi Sebagai Antibiotik
Rabu, 15 April 2015
Kelompok 4
Rabu, Pukul 10.00 13.00

Nama

NPM

Tugas

Amelia Suci P

260110130042

Pembahasan, Simpulan.

Nur Alfi K. D

260110130043

Teori Dasar, Daftar Pustaka

Iman Firmansyah

260110130044

Editor, Tujuan, Prinsip, Data


Pengamatan dan Perhitungan,
Prosedur, Alat dan Bahan.

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

Nilai

TTD

Penentuan Minimum Inhibitory Concentration (MIC) Dari Suatu Sediaan


Uji yang Berpotensi Sebagai Antibiotik

I.

Tujuan
Menentukan Minimum Inhibitory Concentration (MIC) suatu sediaan uji
terhadap bakteri Gram positif maupun Gram negatif, dengan menggunakan
metoda MIC cair.

II. Prinsip
1. MIC (Minimum Inhibitory Concentration)
Konsentrasi terendah obat tersebut yang masih mampu mengahambat
pertumbuhan organisme ( yang tampak baik dengan mata atau instrumen)
(Sacher, 2000).
2. Makrodilusi
Menggunakan satu seri tabung reaksi yang diisi media cair dan sejumlah
tertentu sel mikroba yang di uji, dengan ukuran volume bisa lebih dari 1
mL (Lay, 1994).
3. Pertumbuhan Bakteri.
Perbanyakan sel dan peningkatan ukuran populasi yang di tandai dengan
adanya kekeruhan pada media cair (Schlegel, 1994).
4. Teknik Aseptis
Proses tanpa kontaminasi untuk menjamin preparasi bebas dari mikroba
kontaminan, teknik aseptis digunakan sepanjang percobaan berlangsung,
baik alat, bahan, lingkungan sekitar maupun praktikan (Anton, 2008).
III. Teori Dasar
Antibiotik merupakan suatu substansi yang dihasilkan oleh suatu
mikroorganisme yang dalam jumlah yang sangat kecil dapat menghambat
pertumbuhan jasad renik lain. Kini, antibiotik merupakan senyawa kimia
utama untuk pengobatan penyakit menular (Pelczar, 2005).

Antibiotik adalah semacam bahan yang apabila digunakan dan memasuki


tubuh, akan mengeliminasi kuman, bakterial dan berbagai jasad renik. Pada
umumnya ketika diberikan, maka yang bersangkutan sedang diserang oleh
jenis kuman, bakterial atau jasad renik tertentu. Antibiotik biasanya memiliki
daya basmi terhadap jenis kuman tertentu, atau bakterial tertentu termasuk
jasad renik, disamping juga memiliki daya basmi bagi jenis yg memang
berlaku umum (Dewi, 2009).
Tetrasiklin merupakan salah satu obat antimikroba yang menghambat
sintesis protein mikroba. Untuk kehidupannya, sel mikroba perlu mensintesis
berbagai protein. Sintesis protein berlangsung di ribosom, dengan bantuan
mRNA dan tRNA. Pada bakteri, ribosom terdiri atas atas dua subunit, yang
berdasarkan konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 30S dan 50S.
untuk berfungsi pada sintesis protein, kedua komponen ini akan bersatu pada
pangkal rantai mRNA menjadi ribosom 70S (Karlina, 2009).
Antibiotika terbagi menjadi beberapa golongan yaitu :
1. Golongan Beta Laktam
Terbagi menjadi derivat penisilin dan sefalosforin. Kerjanya menghambat
pembentukkan dinding sel bakteri. Contohnya : penisilin.
2. Golongan Amoniglikosida
Kerjanya menghambat sintesa protein sel bakteri. Contohnya

Strepromisin, gentamisin.
3. Golongan Makroloda
Menghambat sintesa protein sel bakteri. Contohnya : Eritromisin.
4. Golongan Tetrasiklin
Kerjanya menghambat sintesa protein sel bakteri. Contohnya : Tetrasiklin.
5. Golongan lainnya
Kloramfenikol : untuk penyakit typus.
Rifampisin : untuk TBC (Wahyuni, 2005).

Berdasarkan ketahanan suatu mikroba terhadap antibiotika, maka


antibiotika dapat digolongkan menjadi :
a. Bakteriostatik, yaitu antibiotika yang menghambat pertumbuhan
bakteri.
b. Bakteriosida, yaitu antibiotika yang membunuh bakteri (Wahyuni,
2005).
Minimum

Inhibitory Concentration

(MIC)

didefinisikan

sebagai

konsentrasi terendah antimikroba yang akan menghambat pertumbuhan


mikroorganisme yang terlihat setelah semalam diinkubasi. MIC digunakan
oleh laboratorium diagnostik, terutama untuk konfirmasi perlawanan, namun
paling sering sebagai alat riset untuk menentukan in-vitro aktivitas
antimikroba baru, dan data dari studi tersebut telah digunakan untuk
menentukan MIC breakpoints (Andrews, 2001).
Konsentrasi minimun penghambatan atau lebih dikenal dengan MIC
(Minimum Inhibitory Concentration) adalah konsentrasi terendah dari
antibiotika atau antimikrobial yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba
tertentu. Nilai MIC adalah spesifik untuk tiap-tiap kombinasi dari antibiotika
dan mikroba (Greenwood, 1995).
MIC dari sebuah antibiotika terhadap mikroba digunakan untuk
mengetahui sensitivitas dari mikroba terhadap antibiotika. Nilai MIC
berlawanan dengan sensitivitas mikroba yang diuji. Semakin rendah nilai
MIC dari sebuah antibiotika, sensitivitas dari bakteri akan semakin besar.
MIC dari sebuah antibiotika terhadap spesies mikroba adalah rata-rata MIC
terhadap seluruh strain dari spesies tersebut. Strain dari beberapa spesies
mikroba adalah sangat berbeda dalam hal sensitivitasnya (Greenwood, 1995).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ukuran zona penghambatan
dan harus dikontrol adalah :
a. Konsentrasi mikroba pada permukaan medium. Semakin tinggi
konsentrasi mikroba maka zona penghambatan akan semakin kecil.
b. Kedalaman medium pada cawan petri. Semakin tebal medium pada
cawan petri maka zona penghambatan akan semakin kecil.

c. Nilai pH dari medium. Beberapa antibiotika bekerja dengan baik


pada kondisi asam dan beberapa basa kondisi alkali/basa.
d. Kondisi aerob/anaerob. Beberapa antibakterial kerja terbaiknya pada
kondisi aerob dan yang lainnya pada kondisi aerob (Greenwood,
1995)

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak,


tidak berspora dan mampu membentuk kapsul, berbentuk kokus dan tersusun
seperti buah anggur. Ukuran Staphylococcus berbeda-beda tergantung pada
media

pertumbuhannya.

Apabila

ditumbuhkan

pada

media

agar,

Staphylococcus memiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna


kuning. Dinding selnya mengandung asam teikoat, yaitu sekitar 40% dari
berat kering dinding selnya. Asam teikoat adalah beberapa kelompok antigen
dari Staphylococcus. Asam teikoat mengandung aglutinogen dan Nasetilglukosa (Todar, 2002).
Staphylococcus aureus adalah bakteri aerob dan anaerob, fakultatif yang
mampu menfermentasikan manitol dan menghasilkan enzim koagulase,
hyalurodinase, fosfatase, protease dan lipase. Staphylococcus aureus
mengandung lysostaphin yang dapat menyebabkan lisisnya sel darah merah
(Todar, 2002).
Suhu optimum untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 35o
37o C dengan suhu minimum 6,7o C dan suhu maksimum 45,4o C. Bakteri
ini dapat tumbuh pada pH 4,0 9,8 dengan pH optimum 7,0 7,5.
Pertumbuhan pada pH mendekati 9,8 hanya mungkin bila substratnya
mempunyai komposisi yang baik untuk pertumbuhannya. Bakteri ini tidak
dapat tumbuh pada media sintetik yang tidak mengandung asam amino atau
protein (Schlegel, 1994).
Staphylococcus aureus hidup sebagai saprofit di dalam saluran-saluran
pengeluaran lendir dari tubuh manusia dan hewan-hewan seperti hidung,
mulut dan tenggorokan dan dapat dikeluarkan pada waktu batuk atau bersin.
Bakteri ini juga sering terdapat pada pori-pori dan permukaan kulit, kelenjar

keringat dan saluran usus. Selain dapat menyebabkan intoksikasi, S. aureus


juga dapat menyebabkan bermacam-macam infeksi seperti jerawat, bisul,
meningitis, osteomielitis, pneumonia dan mastitis pada manusia dan hewan
(Schlegel, 1994).
Staphylococcus aureus (S. aureus ) merupakan salah satu penyebab
utama mastitis pada sapi perah yang menimbulkan kerugian ekonomi yang
cukup besar akibat penurunan produkai susu. Berdasarkan uji sensitifitas
terhadap berbagai antibiotic diketahui bahwa sebagian besar S. aureus telah
resisten terhadap oksasilin (87,5%) dan eritromisin (71,97%) dan ada
beberapa isolate yang juga resisten terhadap tetrasiklin (37,46%), ampisillin
(25%) dan gentamisin (21,87%) (Salasia dkk, 2005). Berdasarkan sifat
resistensi S. aureus terhadap antibiotik tersebut, menunjukkan bahwa
pengobatan mastitis dengan berbagai antibiotik tidak efektif lagi, sehingga
perlu dilakukan upaya pencegahan secara tepat. Sebagaimana antibiotik,
maka antiseptika atau desinfektan juga bisa menyebabkan resistensi bakteri,
sehingga perlu dipikirkan untuk mengganti dengan antiseptika atau
desinfektan lain (Rahayu, 2007).
IV. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Erlenmeyer
b. Inkubator
c. Kapas
d. Korek api
e. Label
f. Labu Ukur 100 ml
g. Ose Bulat
h. Pembakar Spirtus
i. Rak Tabung Reaksi
j. Tabung Reaksi
k. Volume Pipet

2. Bahan
a. Aquades steril
b. Etanol 95%
c. Nutrient Broth (NB)
d. Nutrient Broth (NB) Double Strength
e. Obat Antibiotik Tetrasiklin
f. Suspensi Bakteri Staphylococcus aureus
3. Gambar Alat

V. Prosedur
Dimasukkan obat tetra siklin 250 mg ke dalam labu ukur, dilarutkan
dengan sedikit etanol 95%. Kemudian ditambahkan air suling steril sampai
tanda batas 100 ml. Jika sediaan uji berbentuk padat, digerus dahulu dalam
mortir, sebelum dimasukan dalam labu ukur.
Dilakukan perhitungan pengenceran antibiotik dari konsentrasi 2500
g/ml menjadi 250 g/ml lalu diencerkan lagi menjadi 100 g/ml.

Kemudian dihitung konsentrasi campuran pada masing- masing tabung


besar dan tabung-tabung kecil, yakni di dapat konsentrasi 50 g/ml, 25
g/ml, 12,5 g/ml, 6,25 g/ml, dan 3,125 g/ml.
Dibuat pengenceran bertingkat larutan antibiotik dengan air suling steril
dalam tabung-tabung reaksi besar. Lalu diisi tabung reaksi kecil pertama
dengan 1 ml NB double strength, sedangkan tabung-tabung reaksi selanjutnya
dengan 1 ml NB biasa. Kemudian dipipet 1 ml hasil pengenceran antibiotik
terakhir ke dalam tabung reaksi dengan konsentrasi 50 g/ml berisi NB,
dikocok sampai homogen, lalu pipet 1 ml campuran dari tabung 50 g/ml ke
tabung dengan konsentrasi 25 g/ml, kocok sampai homogen, dulangi
langkah tersebut ke tabung 12,5 g/ml, 6,25 g/ml, 3,125 g/ml dan terakhir
dipipet ke tabung NB Double Strength.

Setelah pengenceran ditambahkan 1 ose bakteri Staphylococcus aureus


ke dalam masing-masing tabung kecil, dikocok sampai homogen. Kemudian
membuat kontrol positif dan negatif. Kontrol positif di lihat dari suspensi
bakteri Staphylococcus aureus ( 1 ml NB + 1 ose bakteri Staphylococcus
aureus ) sedangkan kontrol negatif hanya 1 ml NB saja dalam tabung reaksi.
Diinkubasikan semua tabung kecil pada suhu 37oC selama 18-24 jam,
lalu diamati kekeruhan yang terjadi dan dibandingkan dengan kontrol positif
dan negatif. Ditentukan dimana MIC nya (MIC terletak pada tabung bening
yang terakhir, atau sebelum tabung keruh pertama).

VI. Data Pengamatan dan Perhitungan


1. Data pengamatan
N

Perlakuan

Hasil

o
1

Pengenceran antibiotik
konsentrasi 2500 g/ml menjadi
250 g/ml dengan cara 1ml
antibiotik + 9ml aquades steril.

Pengenceran antibiotik
konsentrasi 250 g/ml menjadi
100 g/ml dengan cara 1ml
antibiotik + 1,5ml aquades steril.

Hasil pengenceran 100 g/ml di

Setelah inkubasi

pipet sebanyak 1 ml kedalam

Hasilnya (-) yaitu tidak ada

tabung reaksi yang berisi NB

pertumbuhan bakteri

konsentrasi 50 g/ml. Kemudian


di tambah 1 ose bakteri*. Lalu di

inkubasi

Dari tabung konsentrasi 50 g/ml

Setelah inkubasi

diambil 1 ml lalu di masukan ke

Hasilnya (-) yaitu tidak ada

tabung konsentrasi 25 g/ml.

pertumbuhan bakteri

Kemudian di tambah 1 ose


bakteri*. Lalu di inkubasi

Dari tabung konsentrasi 25 g/ml

Setelah inkubasi

diambil 1 ml lalu di masukan ke

Hasilnya (-) yaitu tidak ada

tabung konsentrasi 12,5 g/ml.

pertumbuhan bakteri

kemudian di tambah 1 ose


bakteri*. lalu di inkubasi

Dari tabung konsentrasi 12,5

Setelah inkubasi

g/ml diambil 1 ml lalu di

Hasilnya (-) yaitu tidak ada

masukan ke tabung konsentrasi

pertumbuhan bakteri

6,25 g/ml. Kemudian di tambah


1 ose bakteri*. Lalu di inkubasi

Dari tabung konsentrasi 6,25

Setelah inkubasi

g/ml diambil 1 ml lalu di

Hasilnya (-) yaitu tidak ada

masukan ke tabung konsentrasi

pertumbuhan bakteri

3,125 g/ml. Kemudian di


tambah 1 ose bakteri*. Lalu di
inkubasi

Dari tabung konsentrasi 3,125

Setelah inkubasi

g/ml diambil 1 ml lalu di

Hasilnya (-) yaitu tidak ada

masukan ke tabung NB Double

pertumbuhan bakteri

Strength. Kemudian di tambah 1


ose bakteri*. Lalu di inkubasi

Kontrol positif yaitu suspensi


bakteri (NB + bakteri
Staphylococcus aureus )

10

Kontrol negatif yaitu 1ml NB


tanpa penambahan bakteri dan
antibiotik

* (Setelah pengenceran bertingkat 50 g/ml sampai 3,125 g/ml baru di


tambah 1 ose bakteri dan di inkubasi).
2. Data Perhitungan
a. Antibiotik
250 mg/100 ml (antibiotik dilarutkan dengan aquades sebanyak 100 ml)
=

250
100

1000 = 2500/ (convert mg g)

b. Pengenceran antibiotik 2500 g/ml menjadi 250 g/ml.


V1

N1

= V2 N2

1 ml 2500 g/ml = V2 250 g/ml


2500 g /ml

V2

V2

= 10 ml ( 1ml antibiotik + 9 ml aquades steril)

250 g /ml

c. Pengenceran antibiotik 250 g/ml menjadi 100 g/ml.


V1

N1

= V2 N2

1 ml 250 g/ml = V2 100 g/ml


250 g /ml

V2

= 100 g /ml

V2

= 2,5 ml ( 1ml antibiotik + 1,5 ml aquades steril)

VII. Pembahasan
Percobaan kali ini bertujuan untuk menentukan Minimum Inhibitory
Concentration ( MIC ) sediaan Tetrasiklin terhadap bakteri Staphylococcus
aureus dengan menggunakan metode MIC cair pada media Nutrien Broth.
Uji aktivitas antibakteri ini digunakan untuk menentukan nilai MIC
(Minimum Inhibitory Concentration). Nilai MIC dapat diartikan sebagai
konsentrasi terkecil dari suatu bahan yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroba sebesar 90% selama inkubasi 24 jam (Zuraida, 2009).
Tetrasiklin yang akan digunakan berupa larutan antibiotik berwarna
kuning, sebelumnya telah diencerkan di dalam labu ukur 100 mL.
Pengenceran tetrasiklin pada labu ukur ini bertujuan untuk mendapatkan
konsentrasi yang diinginkan, yaitu sebesar 2500 g/ml, dan selanjutnya bisa
dibuat variasi konsentrasi yang diinginkan.
Kemudian dilakukan pengenceran antibiotik secara bertingkat untuk
memperoleh konsentrasi yang diinginkan. Dosis tengah suatu antibiotik
menjadi acuan

dalam

pengenceran ini. Pengenceran bertingkat ini

dilakukan karena pada umumnya suatu antimikroba memiliki MIC yang


sangat kecil dalam tiap milinya yaitu dalam g. Konsentrasi yang kecil ini
menyulitkan dalam hal penimbangan. Pada pengenceran bertingkat ini,
digunakan aquadest steril untuk menghindari kontaminasi.
Dalam praktikum ini Staphylococcus aureus menggunakan metode
kontak di dalam Nutrient Agar. Nutrien agar adalah kaldu nutrisi gel dengan
penambahan 2% agar. Semipadat Nutrient Agar adalah kaldu nutrisi yang
mengandung 0,4% agar. Double Strength Nutrient Agar mengikuti formula
yang sama seperti nutrien agar namun volume air berkurang pada 500 ml .
Nutrient Brooth Double dan Triple digunakan dengan air dalam jumlah
besar sehingga kekuatan utama media setelah penambahan sampel tidak
berubah kurang dari kekuatan standar MacConkey. Dalam praktiknya hanya
diperlukan untuk menginokulasi dalam jumlah terbatas air (Cowan, 2004).

Pertama dilakukan pelarutaan sediaan uji, dalam percobaan kali ini


digunakan tetrasiklin, dalam methanol. Setelah itu ditambahkan pengencer
sampai akhir yaitu aquadest steril sampai tanda batas. Pada saat melarutkan,
harus dilakukan dengan kuantitatif agar konsentrasinya tepat. Kemudian,
dilakukan penentuan konsentrasi pengenceran yang dibutuhkan .Hal ini
diperlukan karena untuk penentuan MIC, kita harus mengetahui konsentrasi
mediumnya. Pengenceran dilakukan berdasarkan rumus pengenceran:
=
Keterangan:
V1

: volume awal larutan.

M1

: konsentrasi awal larutan.

V2

: volume yang ingin dibuat.

M2

: konsentrasi yang ingin dibuat.

Pertama dihitung besar pengencaran untuk mendapatkan tetrasiklin


yang berkonsentrasi 50 g/ml dengan 3 kali pengenceran. Setelah dihitung,
untuk pengenceran pertama, 1 mL tetrasiklin (2500 g/ml) dari labu ukur
dicampurkan dengan 9 mL aquadest steril pada tabung reaksi besar I
sehingga diperoleh campuran dengan konsentransi tetrasiklin sebesar 250
g/ml (pengenceran 10 kali). Selanjutnya dari tabung reaksi I ini dipipet
campuran sebanyak 1 mL, dimasukkan ke dalam tabung reaksi besar II dan
ditambahkan 1,5 mL aquadest steril ke dalamnya sehingga tetrasiklin pada
tabung reaksi besar II konsentrasinya menjadi 100 g/ml (pengenceran 2,5
kali). Jadi, konsentrasi 100 g/ml merupakan konsentrasi pertama yang akan
divariasikan untuk menentukan MIC dari tetrasiklin terhadap bakteri
Staphylococcus aureus.
Kemudian digunakan 6 tabung reaksi kecil yang telah disediakan,
dimana tabung 1 berisi 1 ml nutrient broth double strength dan lima tabung

reaksi lainnya masing-masing berisi 1 ml nutrient broth single strength.


Perbedaan nutrient broth double strength dan single strength terletak pada
banyak nutrisi yang terdapat di dalamnya. Nutrient broth double strength
mempunyai jumlah nutrisi 2 kali lebih banyak daripada single strength.
Tujuan penggunaan nutrient broth double strength pada tabung reaksi 1
adalah agar konsentrasi nutrisi pada tiap tabung reaksi kecil setelah
dilakukan pengenceran tetap sama, sehingga tidak ada tabung reaksi kecil
yang kekurangan nutrisi.
Dari tabung reaksi besar II yang mempunyai konsentrasi tetrasiklin
100 g/ml, dipipet 1 ml ke dalam tabung reaksi kecil 1 yang sudah berisi 1
ml NB double strength sehingga konsentrasi tetrasiklin dalam tabung 1
menjadi 50 g/ml karena sudah bercampur dengan NB 1 ml. Kemudian
dipipet 1 ml larutan dari tabung 1 ke dalam tabung 2 yang berisi NB single
strength sehingga tertrasiklin pada tabung 2 berkonsentrasi 25 g/ml.
Setelah itu dipipet 1 ml larutan dari tabung 2 ke dalam tabung 3 yang berisi
NB single strength sehingga tertrasiklin pada tabung 3 berkonsentrasi 12,5
g/ml. . Kemudian dipipet 1 ml larutan dari tabung 3 ke dalam tabung 4
yang berisi NB single strength sehingga tertrasiklin pada tabung 4
berkonsentrasi 6,25 g/ml. .Kemudian dipipet 1 ml larutan dari tabung 4 ke
dalam tabung 5 yang berisi NB single strength sehingga tertrasiklin pada
tabung 5 berkonsentrasi 3,125 g/ml. Kemudian dipipet 1 ml larutan dari
tabung 5 ke dalam tabung 6 yang berisi NB single strength sehingga
tertrasiklin pada tabung 6 berkonsentrasi 1,5625 g/ml. Agar volume dalam
tiap-tiap tabung reaksi kecil sama yaitu 1 ml, maka larutan pada tabung
reaksi 6 harus dibuang sebanyak 1 ml. Pada tabung reaksi kecil terakhir, 1
ml campuran dibuang, agar tidak mempengaruhi pengamatan dengan
volume yang berbeda dari tabung-tabung yang lain. Hal ini harus dilakukan
dengan kuantitatif dan dengan aseptis, yaitu didekatkan dengan api agar
terhindar oleh kontaminan bakteri luar selain bakteri yang digunakan
sehingga dapat membuat penyimpangan hasil percobaan. Namun dalam

praktiknya, ada prosedur yang kurang tepat yaitu


mengasumsikan tabung reaksi yang berisi

praktikan salah

DS sehingga pada saat

pengambilan antibiotik dari pengenceran tabung besar II dengan konsentrasi


100 g/ml dipipet 1 mL dan dimasukkan ke dalam tabung DS dan dilakukan
pengenceran bertingkat hingga tabung reaksi 6 yang berisi konsentrasi 3,125
g/ml yang konsentrasi sebenarnya hingga 1,5625 g/ml. Sehingga
pengenceran DS dilakukan diakhir prosedur pengenceran yang seharusnnya
dilakukan di awal karena memiliki konsentrasi 2 kali lebih banyak dari
single strength sehingga akan mempengaruhi hasil. Hal lain yang harus
diperhatikan adalah pada saat pengambilan campuran, tabungnya harus
dikocok supaya homogen, sehingga campuran yang diambil konsentrasinya
sesuai karena sudah homogen.Pada tabung reaksi kecil terakhir, 1 ml
campuran dibuang, agar tidak mempengaruhi pengamatan dengan volume
yang berbeda dari tabung-tabung yang lain. Hal ini harus dilakukan dengan
kuantitatif dan dengan aseptis, yaitu didekatkan dengan api bertujuan untuk
menghindari adanya kontaminan bakteri luar selain bakteri yang digunakan
sehingga dapat membuat penyimpangan hasil percobaan. Hal lain yang
harus diperhatikan adalah pada saat pengambilan campuran, tabungnya
harus dikocok supaya homogen, sehingga pada yang pengambilan, diambil
campuran yang konsentrasinya sesuai karena sudah homogen.
Setelah didapatkan variasi konsentrasi tertrasiklin yang diinginkan,
pada keenam tabung dimasukkan 1 ose bakteri Staphylococcus aureus,
tabung dikocok sampai homogen. Media pertumbuhan bakteri harus dibuat
dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, karena untuk menghitung
MIC diukur dari media bening (konsentrasi tinggi) yang ditandai tidak
adanya pertumbuhan bakteri dan dari media keruh (konsentrasi remdah)
dilihat dari adanya pertumbuhan bakteri. Setiap antibiotik mempunyai kerja
yang spesifik untuk menghambat atau membunuh bakteri tertentu, hal ini
dinamakan drug of choice. Bakteri Staphylococcus aureus digunakan
untuk menguji MIC dari tetrasiklin karena tetrasiklin merupakan drug of

choice yang spesifik untuk bakteri Staphylococcus aureus. Ketika hendak


mengambil dan memasukkan bakteri ke dalam tabung, ose harus dipanaskan
terlebih dahulu sampai berpijar supaya ose steril. Setelah dipanaskan, ose
tidak boleh langsung dicelupkan pada biakan bakteri tetapi harus ditunggu
sebentar supaya bakteri tidak mati karena ose yang terlalu panas. Prosedur
ini dilakukan setiap kali akan memasukkan bakteri ke dalam masing-masing
tabung untuk menjaga kondisi steril maupun mencegah kontaminan yang
mengkontaminasi. Pada pengambilan suspensi bakteri, suspensi bakteri
tersebut harus dikocok dahulu agar homogen. Setelah digunakan, kawat ose
harus difiksasi kembali agar tidak mengkontaminasi yang lain.
Tabung yang masing-masing telah berisi Staphylococcus aureus,
kemudian diinkubasikan pada suhu 370C selama 18-24 jam di dalam
inkubator. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan
perkembangan bakteri pada waktu yang diinginkan sesuai dengan fasa
logaritmik bakteri, dimana terjadi

pertumbuhan bakteri secara optimal

sehingga kekuatan bakteri berada pada titik tersebut juga maksimal (Pelczar,
1986).
Setelah 18-24 jam, tabung reaksi yang diinkubasikan diamati. Dari
hasil pengamatan terlihat semua tabung reaksi bening, tidak ada kekeruhan
sama sekali.Hal ini menunjukkan bahwa tidak ditemukannya MIC atau
konsentrasi hambat minimum pada tetrasiklin yang berkonsentrasi 50 g/ml
dalam percobaan kali ini. Hal ini bisa saja disebabkan oleh beberapa hal
faktor yang pertama dikarenakan konsentrasi antibiotik tetrasiklin yang
digunakan terlalu besar. Menurut literature, seharusnya konsentrasi
antibiotik tetrasiklin yang digunakan dalam menentukan MIC yaitu kisaran
0,24 g/ml (Depkes RI, 1995),

sedangkan pada prosedur konsentrasi

terendah yang digunakan hanya sampai 3,125 g/ml, hal tersebut membuat
bakteri tidak mampu melakukan perlawanan terhadap besarnya konsentrasi
antibiotik tetrasiklin Faktor kedua yaitu karena ose yang digunakan untuk
mengambil suspensi bakteri masih panas akibat fiksasi sehingga bakteri

yang akan ditumbuhkan pada larutan media dan antibiotik sudah mati.
Faktor terakhir yaitu karena adanya kesalahan prosedur yang dilakukan
praktikan. Pada saat dilakukannya praktikum penentuan MIC, praktikan
terlebih dahulu memasukkan larutan antibiotik tetrasiklin yang telah
diencerkan dengan konsentrasi 100 g/ml ke dalam tabung reaksi 1 yang
berisi media cair NB single strength sehingga konsentrasi antibiotik
tetrasiklin menjadi 50 g/ml. Seharusnya larutan antibiotik tetrasiklin yang
telah diencerkan dengan konsentrasi 100 g/ml dimasukkan terlebih dahulu
ke dalam tabung reaksi yang berisi media cair NB double strength. Dan
pada tabung reaksi terakhir yaitu tabung reaksi yang berisi media cair NB
single strength dengan konsentrasi 3,125 g/ml dibuang sebanyak 1 mL
karena penentuan MIC dilakukan dengan membandingkan sehingga setiap
tabung reaksi harus diperlakukan sama.

VIII. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dalam penentuan MIC menggunakan
larutan antibiotik tetrasiklin dan bakteri Staphylococcus aureus serta media
cair nutrien broth dihasilkan MIC < 3,125 g/ml dikarenakan pada
konsentrasi 50 g/ml sampai 3,125 g/ml tidak didapatkan pertumbuhan
bakteri yang ditandai dengan tidak adanya kekeruhan.

DAFTAR PUSTAKA

Andrews, J. M. (2001). Determination of minimum inhibitory concentrations.


Journal of antimicrobial Chemotherapy, 48(suppl 1), 5-16.
Anton, W. 2008. Mikrobiologi Umum. Malang : Universitas Brawijaya
Cowan, S. T., & Steel, K. J. (2004). Cowan and Steel's manual for the
identification of medical bacteria. G. I. Barrow, & R. K. A. Feltham (Eds.).
Cambridge university press.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan.
Dewi. 2009. Jangan Sembarangan Menggunakan Antibiotik. Available online at
http://dewi.students-blog.undip.ac.id/tag/antibiotik/
Greenwood. 1995. Antibiotics Susceptibility (Sensitivity) Test, Antimicrobial and
Chemoteraphy. Mc Graw Hill Company, USA.
Karlina. 2009. Farmakokinetika Klinik Tetrasiklin. Available online at
http://yosefw.wordpress.com/2009/03/19/farmakokinetika-klinik-tetrasiklin/
Lay. B. W. 1994. Analisis Mikrobiologi da Laboraorium. Raja Grafindo Persada:
Jakarta
Pelczar, M.J. dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jilid I dan II.
Diterjemahkan oleh R.S. Hadioetomo dkk. UI Press, Jakarta.
Rahayu, I. D. (2007). The sensitivity of Staphylococcus aureus as Mastitis
Pathogen Bacteria. Jurnal Protein, Vol 14, No 1, pp : 31-36.
Sacher, R. A., McPherson, R. A., Campos, J. M., & Widmann, F. K.
(2000).Widmann's clinical interpretation of laboratory tests. FA Davis.
Schlegel HG dan Schmidt K. 1994. Mikrobiologi Umum Edisi ke kenam. Alih
Bahasa: Baskoro T. UGM-Press: Yogyakarta.
Todar, K. 2002. Staphylococcus. Available online at http://www.bact.wisc.edu/.

Wahyuni, AETH., Wibawan, WT dan Wibowo, MH., 2005. Karakterisasi


Hemaglutinin

Streptococcus

agalactiae

dan

Staphylococcus

aureus

Penyebab Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah. J. Sain Vet. Vol 2. Th 2005.
Zuraida, I., Hasbullah, R., Sukarno, S., Budijanto, S., Prabawati, S., & Setiadjit, S.
(2009). Aktivitas antibakteri asap cair dan daya awetnya terhadap bakso
ikan. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 14(1).

Beri Nilai