Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

Materi :
KESETIMBANGAN FASA
Oleh :
Kelompok

: 6 / Selasa Siang

Abdullah Malik Islam Filardli

NIM : 21030114120008

Ahmad Dzulfikar Fauzi

NIM : 21030114120030

Inaya Yuliandaru

NIM : 21030114130134

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II


Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro
Semarang
2015

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

Materi :
KESETIMBANGAN FASA
Oleh :
Kelompok

: 6 / Selasa Siang

Abdullah Malik Islam Filardli

NIM : 21030114120008

Ahmad Dzulfikar Fauzi

NIM : 21030114120030

Inaya Yuliandaru

NIM : 21030114130134

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II


Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro
Semarang
2015

ii

KESETIMBANGAN FASA
HALAMAN PENGESAHAN
1. Judul Praktikum
2. Kelompok
3. Anggota
1. Nama Lengkap
NIM
Jurusan
Universitas/Institut/Politeknik
2.

Nama Lengkap
NIM
Jurusan
Universitas/Institut/Politeknik

3. Nama Lengkap

: Kesetimbangan Fasa
: 6 / Selasa Siang
:
:
:
:

Abdullah Malik Islam Filardli


21030114120008
Teknik Kimia
Universitas Diponegoro

:
:
:
:

Ahmad Dzulfikar Fauzi


21030114120030
Teknik Kimia
Universitas Diponegoro

: Inaya Yuliandaru

NIM
: 21030114130134
Jurusan
: Teknik Kimia
Universitas/Institut/Politeknik : Universitas Diponegoro

Semarang, Mei 2015


Asisten Laboratorium PDTK II

NIM

PRAKATA
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa oleh karena
berkat dan rahmat-Nya praktikan dapat menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum
Dasar Teknik Kimia II. Oleh karena berkat dan rahmat-Nya pula praktikan dapat

Labolatorium Dasar Teknik Kimia ii

KESETIMBANGAN FASA
menyelesaikan delapan materi praktikum dengan baik dan lancar tanpa suatu
hambatan yang berarti.
Pada kesempatan ini praktikan ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen
yang membimbing selama Proses Praktikum Dasar Teknik Kimia II dan kesediaan
para dosen untuk memberi pretest materi sebelum praktikum. Praktikan
mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir Sribudiyati MT selaku penanggung jawab
Labolatorium Dasar Teknik Kimia, Wahyu Arga Utama selaku koordinator
assisten,dan selaku assisten laporan resmi ini yang dengan tulus dan setia
mendampingi dan membantu praktikan dalam proses Praktikum Dasar Teknik Kimia
II dari awal hingga akhir.
Laporan resmi praktikum dasar teknik kimia II ini berisi materi Analisa
Kesetimbangan Fasa. Laporan ini berisi hasil dari praktikum yang praktikan lakukan
di Praktikum Dasar Teknik Kimia II.
Praktikan berharap semoga laporan ini dapat berkenan di hati pembaca dan
bisa bermanfaat bagi pembaca serta memohon maaf apabila ada salah kata ataupun
hal-hal yang kurang berkenan di hati pembaca.

Semarang, Mei 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
PRAKATA
DAFTAR ISI

Labolatorium Dasar Teknik Kimia ii

Halaman
ii
iii
vi
iv

KESETIMBANGAN FASA
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
INTISARI
SUMMARY
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
I.2. Tujuan Percobaan
I.3. Manfaat Percobaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Pengertian
II.2. Indikator
II.3. Kurva Titrasi
II.4. Aplikasi di Dalam Industri
II.5. Fisis dan Chemist Reagen
II.6. Satuan Konsentrasi
II.7. Pembuatan Reagen
II.8. Karakteristik Sampel
II.9. Aplikasi Acidi Alkalimetri dalam Kehidupan Sehari-hari
BAB III METODE PERCOBAAN
III.1. Alat dan Bahan
III.1.1. Bahan
III.1.2. Alat
III.2.1. Gambar Alat
III.3.1. Fungsi Alat
III.3. Cara Kerja
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil Percobaan
IV.2. Pembahasan
IV.2.1. Alasan Na2CO3 yang Ditemukan Lebih Kecil
IV.2.2. Alasan NHCO3 yang Ditemukan Lebih Besar
IV.2.3. Kadar Asam dalam Sampel
IV.2.4. Grafik Hubungan Volume HCl dengan pH
BAB V PENUTUP
V.1. Kesimpulan
V.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Lembar Perhitungan Reagen
Laporan Perhitungan
LembarPerhitungan Grafik
Laporan Sementara
Lembar Kuantitas Reagen
Referensi Acidi Alkalimetri
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Identifikasi Campuran Bikaronat

vi
vii
vii
ix
1
1
1
1
2
2
4
5
6
7
10
10
11
14
16
16
16
16
16
18
18
20
20
20
20
22
24
25
28
28
28
29
A-1
B-1
C-1
D-1
E-1
F-1
Halaman
3

Tabel 2.2 Kandungan Strawberry

13

Tabel 4.1.Standarisasi HCl dengan Na2CO3

20

Labolatorium Dasar Teknik Kimia ii

KESETIMBANGAN FASA
Tabel 4.2.Standarisasi NaOH dengan HCl yang Terstandarisasi

20

Tabel 4.3.Kadar Na2CO3 dan NaHCO3 dalam Sampel

20

Tabel 4.4.Kadar Asam pada Cuka, Jeruk Nipis, dan Strawberry

20

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Skema Struktur Indikator BTB

Gambar 2.2. Skema Reaksi Pembentukan Phenolpthalein

Labolatorium Dasar Teknik Kimia ii

KESETIMBANGAN FASA
Gambar 2.3.Struktur Methyl Orange (Yellow) Pada Keadaan Basa

Gambar 2.4.Struktut Methyl Orange (Red) Pada Keadaan Asam

Gambar 3.1. Buret, statif, klem

17

Gambar 3.2.Erlenmeyer

17

Gambar 3.3.Corong

17

Gambar 3.4. Pipet Volum

17

Gambar 3.5. Pipet Ukur

17

Gambar 3.6. Pengaduk

17

Gambar 3.7. Beaker Glass

17

Gambar 3.8. Pipet Tetes

17

Gambar 3.9. Labu Takar

17

Gambar 3.10. Gelas Ukur

18

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Volume HCl vs pH sampel 1

25

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Volume HCl vs pH sampel 2

26

INTISARI
Asam basa merupakan parameter lingkungan yang sangat vital dalam
kehidupan sehari-hari kita. Zat tersebut dapat dinyatakan dalam derajat keasaman
(pH) atau derajat kebasaan (pOH). Konsentrasi asam maupun basa dalam kimia
analisa dapat dilakukan dengan titrasi secara cross check. Zat asam dapat diketahui

Labolatorium Dasar Teknik Kimia ii

KESETIMBANGAN FASA
kadarnya dengan menggunakan zat basa sebagai titran maupun sebaliknya. Hal
tersebut dapat dipelajari dalam acidi alkalimetri.
Titrasi adalah penentuan kadar suatu zat secara volumetric menggunakan
larutan lain yang telah diketahui kadarnya. Acidi alkalimetri merupakan salah satu
bentuk titrasi berdasarkan reaksi netralisasi antara zat titran dan yang dititrasi
Dalam analisa asam basa dikenal istilah TAT dan TE. TAT adalah keadaan dimana
indicator berubah warna dan titrasi dihentikan sedangkan TE adalah keadaan
dimana jumlah mol ekivalen zat titran sama dengan jumlah mol ekivalen zat titrat.
Indikator yang digunakan dalam acidi alkalimetri adalah BTB,PP, dan MO.
Pada percobaan acidi alkalimetri, bahan yang digunakan adalah boraks 0,1
N, NaOH, HCl, phenolphthalein, MO, asam asetat/asam cuka,strawberry, dan jeruk
nipis. Sedangkan alat yang dibutuhkan adalah buret, statif, klem, erlenmeyer,
corong, pipet volum, pipet ukur, pipet tetes, pengaduk, beaker glass, labu ukur, dan
gelas ukur. Yang pertama harus dilakukan adalah standarisasi HCl dengan Na 2CO3
0,1N untuk mencari normalitas HCl. Kemudian, NaOH distandarisasi menggunakan
HCl untuk menentukan normalitas NaOH. Setelah itu dihitung kadar Na 2CO3 dan
NaHCO3 dalam sampel dan kadar asam asetat pada cuka dan kadar asam askorbat
pada strawberry dan jeruk nipis.
Dari hasil standarisasi HCl dengan Na2CO3 0,1N diperoleh normalitas HCl
0,0862N dan hasil standarisasi NaOH dengan HCl diperoleh normalitas NaOH
0,07758N. Kadar Na2CO3 pada sampel 1 dan 2 praktis adalah 13.431,684 ppm dan
15.533,24 ppm sedangkan kadar teoritisnya 14.500 ppm dan 17.620 ppm. Kadar
NaHCO3 pada sampel 1 dan 2 praktis adalah 15.784,944 ppm dan 15.350,496 ppm
sedangkan kadar aslinya 13.120 ppm dan 12.640 ppm. Kadar asam pada asam cuka,
jeruk nipis, dan strawberry adalah 267.651.10-4 mol,3,1.10-4 mol, dan 4,6.10-4 mol
sedangkan kadar teoritisnya adalah 430.10-4 mol,2,8.10-4 mol, dan 3,2.10-4 mol.
Perbedaan kadar praktis dengan teoritis disebabkan galat karbonat dan perbedaan
TAT dengan TE.
Penentuan kadar Na2CO3 dan NaHCO3 dan kadar asam pada sampel
menunjukka hasil yang lebih kecil dari kadar asli. Hal ini disebabkan galat karbonat
dan perbedaan TAT dan TE.

SUMMARY
Acid-base is vital environmental parameters in our daily lives. The substance
can be expressed in the degree of acidity (pH) or the degree of alkalinity (pOH). The
concentration of acid or alkaline in chemical analysis can be performed by

Labolatorium Dasar Teknik Kimia ii

KESETIMBANGAN FASA
crosscheck titration. Acid consentration can be determined using alkaline
substances as titrant or so. It can be learned in acidi alkalimetry.
Titration is the determination of the levels of a substance in volumetric using
other known solution levels. Acidi alkalimetry is one form of titration by
neutralization reaction between substances titrant and titrated. In the analysis of
acid base,there is TAT an d TE. TAT is a state which the indicator changes color and
the titration is stopped while the TE is a state where the number of moles of titrant
equivalent substance is equal to the number of moles equivalent titrat substance.
Indicators that used in acidi alkalimetry is BTB, PP, and MO.
At experiment of acidi alkalimetry, the materials used are Na2CO3 0.1N NaOH,
HCl, phenolphthalein, MO, acetic acid/vinegar, strawberry, and lemon. While the
tool needed is a burette, stative, clamps, erlenmeyer, funnel, pipette volume,
measuring dropper, pipette,stirrer, glass beaker, flask, and a measuring cup. The
first thing to do is standardize HCl with Na2CO3 0,1N to seek normality of HCl. Then
standardize NaOH with HCl to determine the normality of NaOH. After that,
calculate Na2CO3 andNaHCO3 in the sample and then determine the concentration
of acetic acid in the vinegar and the levels of ascorbic acid in strawberry and lemon.
The result of standarditation HCl with Na2CO3 0,1N, normality of HCl
0,0862N and normality of NaOH is 0,07758N. Concentration of Na2CO3 in samples 1
and2 is 13431.684 and 15533.24 ppm while in the theory, concentration of Na 2CO3
is 14,500 ppm and 17,620 ppm. Concentration of NaHCO3 the sample 1 and 2 is
1578,9444 ppm and 15350.496 ppm while in the theory , concentration of Na 2CO3
is 13120 and 12640 ppm. Acidity in vinegar, lemon, and strawberry are 267.651.104
mole, 3,1.10-4 mole, and4,6.10-4mole while in the theory, the acidity is 430.10 -4,
2,8.10-4 mole, and 3,2.10-4mol . The difference of result of practical and the theory
caused of carbonate and TAT difference with TE.
Concentration of Na2CO3 and NaHCO3 and acid levels in the samples is smaller than
the original concentrations. This is caused an error carbonate and differences TAT
and TE.

Labolatorium Dasar Teknik Kimia ii

KESETIMBANGAN FASA
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Larutan adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu
komponen. Bila sistem hanya terdiri dari dua zat maka disebut larutan biner,
misalnya alkohol dalam air. Jika larutan diuapkan sebagian, maka mol fraksi dari
masing-masing penyusun larutan tidak sama karena volatilitas ( mudahnya
menguap ) dari masing-masing penyusunnya berbeda. Uap relatif mengandung lebih
banyak zat yang lebih volatil dari pada cairannya. Pada praktikum kesetimbangan
fasa mempelajari kesetimbangan antara fase uap dan fase cair dari suatu larutan. Dari
praktikum ini mahasiswa dapat mengetahui diagram komposisi versus suhu dengan
pengukuran nilai indeks bias. Aplikasi kesetimbangan fasa dalam industry kimia
adalah dalam proses destilasi yang sering digunakan untuk pemurnian etanol,
pemisahan solven serta proses pemisahan yang menggunakan perbedaan titik didih.
I.2. Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa diharapkan mampu memahami kesetimbangan antara dua fase
(uap-cair) dari sistem campuran (larutan) yang terdiri dari dua komponen.
2. Mahasiswa diharapkan mampu membuat diagram komposisi versus suhu
untuk larutan etanol-air.

I.3. Manfaat Praktikum


Setelah praktikum mahasiswa dapat memahami konsep kesetimbangan fase (uapcair) dari suatu sistem larutan yang terdiri dari dua komponen serta membuat dan
memahami diagram komposisi versus suhu .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Pengertian

Labolatorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
Larutan adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu
komponen. Bila sistem hanya terdiri dari dua zat maka disebut larutan biner,
misalnya alkohol dalam air. Menurut sifatnya dikenal larutan ideal dan non ideal.
Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik menarik antara molekul yang sejenis dan
tidak sejenis sama. Sedangkan larutan non ideal gaya tarik menarik antara molekul
yang sejenis maupun yang tidak sejenis berbeda.
Jika larutan diuapkan sebagian, maka mol fraksi dari masing-masing
penyusun larutan tidak sama karena volatilitas ( mudahnya menguap ) dari masingmasing penyusunnya berbeda. Uap relatif mengandung lebih banyak zat yang lebih
volatil dari pada cairannya. Hal ini dapat dilihat dari diagram kesetimbangan uap dan
cairan pada tekanan tetap dan suhu tetap.
Pada percobaan kesetimbangan fase dipelajari diagram komposisi suhu pada
tekanan tetap. Komposisi etanol dan air di fase uap (yi) dan cair (xi) pada berbagai
suhu. Komposisi ini kemudian dipakai untuk membuat diagram Komposisi versus
Suhu pada sistem larutan biner.
Distilasi digunakan untuk membuat diagram kesetimbangan fase antara uap
dengan cairan untuk sistem larutan biner ini.
II.2. Hukum Raoult
Tekanan uap komponen air dan etanol dari larutan ideal mengikuti Hukum Raoult :
PA = P0A XA ....................(1)
PB = P0B XB ....................(2)
Dengan :
PA = tekanan parsial Air
PB = tekanan parsial Etanol
P0A = tekanan uap murni Air pada suhu tertentu
P0B = tekanan uap murni Etanol pada suhu tertentu
XA = mol fraksi Air di dalam larutan
XB = mol fraksi Etanol di dalam larutan
Jika persamaan (1) dan (2) dimasukan ke persamaan Dalton, P = PA0 XA + PB0 XB,
maka diperoleh persamaan :
P = PA0 XA + PB0 XB ....................(3)
Dengan P adalah tekanan uap total dari sistem. Dalam larutan berlaku :

Labolatorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
XA + XB = 1 ....................(4)
Jika persamaan (4) dimasukan ke persamaan (3) diperoleh :
P = PB0 - ( PA0 PB0 ) XA ....................(5)
Hukum Raoult hanya dapat digunakan untuk larutan ideal atau larutan yang
sangat encer, karena pada larutan encer, hubungan antara jumlah zat terlarut dengan
tekanan uapnya merupakan fungsi linier (semakin banyak solute, maka tekanan uap
akan semakin kecil), sedangkan pada larutan yang tidak encer, hubungannya tidak
linier (pengaruh jumlah solute terhadap tekanan uap tidak tetap).
Dalam larutan yang mempunyai tekanan uap sistem yang lebih besar jika
dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan hukum Raoult
dikatakan sistem mempunyai deviasi positif (larutan non ideal), seperti ditunjukkan
pada gambar 1. Dikatakan deviasi negatif, jika tekanan uap larutan lebih rendah jika
dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan Hukum Raoult
seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.

Gambar 1. Diagram Suhu-Komposisi


Komposisi
Asam Formiat-Air

Gambar 2. Diagram Suhu-

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1. Alat dan Bahan
.1. Bahan dan Alat yang digunakan

Labolatorium Dasar Teknik Kimia II

Ethanol-Air

KESETIMBANGAN FASA
3.1.1 Bahan :
1. Etanol 120 ml
2. Air/Aquadest/Air demin 270 ml
3.1.2 Alat :
1. Labu destilasi
2. Thermometer
3. Pendingin Leibig
4. Thermostat
5. Erlenmeyer
6. Pipet
7. Refraktometer
3.2 Gambar Alat

8. Statif-klem
9. Waterbath
10 Kaki tiga
11. Heater
12 . Thermocouple
13. Adaptor
Keterangan :
1. Statif
2. Klem
3. Labu Destilasi
4. Thermostat
5. Termometer
6. Pendingin Leibig
7. Erlenmeyer
8. Adaptor

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Destilasi

9. Waterbath

10. Kaki Tiga


3.3 Cara Kerja
1. Membuat kurva standart hubungan komposisi etanol (larutan etanol-air)
11. Heater
versus indeks bias
danThermocouple
a. Menentukan densitas etanol dan air dengan menggunakan piknometer.
12. Aliran
air pendingin
b. Menentukan kadar etanol menggunakan tabel hubungan
densitas
dengan
masuk
kadar etanol.
c. Membuat larutan etanol-air pada berbagai komposisi.
d. Masing- masing larutan pada langkah d dilihat indeks biasnya dengan
refraktometer.
e. Dibuat kurva hubungan antara komposisi versus indeks bias
2. 100 ml air dimasukkan ke dalam beaker glass pirex 250 ml , dipanaskan
sampai mendidih dan dicatat titik didihnya.
3. Etanol dengan volume 75 ml dimasukkan ke dalam labu destilasi kosong,
dipanaskan menggunakan minyak yang dilengkapi dengan thermostat sampai
mendidih, kemudian dicatat suhu didihnya.
4. Labu destilasi tersebut didinginkan , lalu ditambahkan air dengan volume 25
ml ke dalam labu destilasi, selanjutnya dipanaskan sampai mencapai suhu
konstan dan catat titik didihnya , ambil cuplikan residu dan destilat untuk
diperiksa indeks biasnya masing-masing. Destilat yang telah diambil sedikit
untuk sampel dikembalikan lagi kedalam labu destilasi.

Labolatorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
5. Prosedur 4 dilakukan berulang-ulang sampai kadar etanol teknis terpenuhi.
6. Dibuat kurva hubungan suhu dengan komposisi etanol-aquadest/air demin/air.
Catatan : Komposisi etanol-air dapat dinyatakan dalam fraksi berat atau fraksi
mol.
3.4 Tabel Pengamatan
Tabel 1. Hubungan antara Komposisi Etanol (Larutan Etanol-Air) dengan Indeks
Bias
Komposisi Etanol
Volume Air (ml) Volume Etanol (ml) Indeks Bias
(% berat)

Tabel 2. Pengaruh Komposisi Umpan Destilasi


Volume Etanol
Volume Air
Suhu Didih
(ml)
(ml)
(oC)

Indeks Bias
Residu

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil Percobaan
IV.2. Pembahasan
.

Labolatorium Dasar Teknik Kimia II

Indeks Bias
Destilat

KESETIMBANGAN FASA

BAB V
PENUTUP
V.1. Kesimpulan
V.2. Saran

Labolatorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

DAFTAR PUSTAKA

Labolatorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
LEMBAR PERHITUNGAN REAGEN
Berat picnometer
= 16,335 gram
Berat picnometer + air = 41,852 gram
Massa air = 41,852 gr 16,335 gr
= 25,517 gram
T = 30 C = 995,647 kg/m3
= 0,995647 g/cm3
=

m
v

0,995647=

25,517
v

v = 25,63 ml
Massa etanol = 20,557 gram
m
20,577
etanol =
=
v
25,63
= 0,803 g/cm3
= 803 kg/m3
Kadar etanol (x)
= 795,40
x = 0,9075
= 807,52
x = 0,7959
yy1
x x 1
=
y 2 y 1 x 2x 1
803795,40
x0,9075
=
807,52795,40 0,79560,9075

0,67 v et
9,960,193 v et

0,1 =
v et = 1,4 ml
v air = 8,6 ml

20 % etanol
0,67 v et
9,960,193 v et

20% =

0,67 v et = (0,2)(9,96-0,193 v et)


0,67 v et = 1,992 0,0386 v et
0,7086 v et = 1,992
v et = 2,8 ml
v air = 7,2 ml
30 % etanol
0,67 v et
9,960,193 v et
0,67 v et = (0,3)(9,96-0,193 v et)
0,7279 v et = 2,988
30% =

v et = 4,1 ml
v air = 5,9 ml
40 % etanol

x = 0,84 x 100 %
x = 84 %
% W etanol
%W=

v . . x etanol
( . v et ) +( v aq )

10 % etanol
10 % =

v et ( 0,803 ) (0,84)
( 0,803 )( v et ) + ( 0,996 )(10v et )

40% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,4)(9,96-0,193 v et)


0,7472 v et = 3,984
v et = 5,3 ml
v air = 4,7 ml
50 % etanol
50% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,5)(9,96-0,193 v et)

Labolatorium Dasar Teknik Kimia ii

KESETIMBANGAN FASA
0,7665 v et = 4,98
v et = 6,5 ml
v air = 3,5 ml

80 % etanol
80% =

60 % etanol
60% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,6)(9,96-0,193 v et)


0,7858 v et = 5,976
v et = 7,6 ml
v air = 2,4 ml

0,67 v et = (0,8)(9,96-0,193 v et)


0,8244 v et = 7,968
v et = 9,7 ml
v air = 0,3 ml
84 % etanol
84% =

70 % etanol
70% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,7)(9,96-0,193 v et)


0,8051 v et = 6,972

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,84)(9,96-0,193 v et)


0,83212 v et = 3,984
v et = 10 ml
v air = 0 ml

v et = 8,7 ml
v air = 1,3 ml

Labolatorium Dasar Teknik Kimia ii

LEMBAR PERHITUNGAN
1. Standarisasi HCl dengan Na2CO3 0,1 N
V HCl
= 11,6 ml
( V . N ) Borak
N HCl
=
V HCl
10.0,1
=
11,6
= 0,0862 N
2. Standarisasi NaOH dengan HCl yang sudah distandarisasi
V NaOH
= 9 ml
( V . N ) HCl
N NaOH
=
V NaOH
9.0,0862
=
10
= 0,07758 N
3. Menentukan kadar Na2CO3 dan NaHCO3
a. Praktis
- Sampel 1
x = 14,7 ml
y = 36,5 ml
Kadar Na2CO3

2 x . N HCl. BM Na2 CO 3
2

2.14,7 .0 .0862 .106


2
= 13.431,684 ppm

Kadar NaHCO3 = (y-x).N HCl.BM NaHCO3 x


= (36,5-14,7).0,0862.84 x

1000
ppm
10

1000
ppm
10

1000
ppm
10
1000
ppm
10

= 15.784,944 ppm
- Sampel 2
x = 17 ml
y = 38,2 ml

2 x . N HCl. BM Na 2 CO 3
2
2.17 .0 .0862 .106
1000
x 10 ppm
2
= 15.533,24 ppm

1000
ppm
10

Kadar NaHCO3 = (y-x).N HCl.BM NaHCO3 x

1000
ppm
10

Kadar Na2CO3 =

= (38,2-17).0,0862.84 x

1000
ppm
10

= 15.350,496 ppm
b. Teoritis
- Sampel 1
Kadar Na2CO3
= 14.560 ppm
Kadar NaHCO3
= 13.120 ppm
- Sampel 2
Kadar Na2CO3
= 17.620 ppm
Kadar NaHCO3
= 12.640 ppm
c. % Error
- Sampel 1
Kadar Na2CO3

14.56013.431,684
x 100%
14.560
= 7,7 %
Kadar NaHCO3
15.784,94413.120
% Error =
x 100%
13.120
= 20,3 %
- Sampel 2
Kadar Na2CO3
17.62015.533,24
% Error
=
x 100%
17.620
= 11,8 %
Kadar NaHCO3
15.350,49612.640
% Error
=
x 100%
12.640
= 21,4 %
7,7 +203 + 11,8 + 21,4
% Error Rata-Rata =
4
= 15,3 %
% Error =

4. Mencari Kadar Asam


a. Praktis
- Cuka
V NaOH = 34,5 ml
( V . N ) NaOH
N asam =
x f pengenceran
V cuka
34,5.0,07758
=
. 10
10
= 2,67651 N
- JerukNipis
V NaOH = 0,4 ml
N asam

( V . N ) NaOH
x f pengenceran
V jeruk nipis
0,4.0,07758
=
. 10
10
= 0,031 N
=

= 3,1.10-4mol
- Strawberry
V NaOH = 0,6 ml
( V . N ) NaOH
N asam
=
V strawberry
0,6.0,07758
=
10
= 0,046 N
= 4,6.10-4mol

x f pengenceran
. 10

b. Teoritis
- Asam Cuka = 25%
M=

10. .
BM

10.25 .1,049
60,05

= 4,3 M
= 4,3 N
- JerukNipis
Kadar asam askorbat jeruk nipis (teoritis) =
Mol =

gr
BM

3050 mg
100 gram

3.102
176,12

= 1,7.10-4mol

Mol =

gr
=
BM

5.102
176,12

= 2,8.10-4mol
- Strawberry
Kadar asamaskorbat strawberry (teoritis) =
Mol =

gr
BM

56,7.103
176,12

= 3,2.10-4mol
c. % Error
- Asam Cuka
% Error =
-Jeruk Nipis

4,32,7
4,3

x 100% = 37,2%

56,7 mg
100 gram

% Error =

3,1.1042,8.104
2,8.104

x 100% = 10,7%

4,6.104 3,2.104
3,2.104

x 100% =

- Strawberry
% Error =

KESETIMBANGAN FASA
LEMBAR PERHITUNGAN GRAFIK
1. Hubungan % W etanol pada destilat dengan titik didihnya
% W etanol (x)
8
40
36,5
40
40
42

206,5

Titik didih (y)


68
73
79
81
83
85
469

x2
64
1600
1332,25
1600
1600
1764
7960,25

xy
544
2920
2883,5
3240
3320
3570
16477,5

(x)2 = 42642,5
m=
=

nxy xy
2
2
n x ( x )

( 6 )( 16477,5 ) (206,5)( 469)


( 6 ) ( 7960,25 )(42642,5)

= 0,3939
x 2 y xx
y
C =
2
2
n x ( x )
( 7960,25 )( 469 )(206,5)(16477,5)
=
( 6 ) ( 7960,25 )(42642,5)
= 64,61
y = mx + C
y = 0,3939x + 64,61

2. Hubungan % W etanol pada residu dengan titik didihnya


% W etanol (x)

Titik didih (y)

x2

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

xy

KESETIMBANGAN FASA

6,5
32
20
17
16,5
10

68
73
79
81
83
85

102

469

42,25
1024
400
289
272,25
100

2127,5

(x)2 = 10404
m=
=

nxy xy
n x 2 ( x )2

( 6 )( 7954,5 ) (102)(469)
( 6 ) ( 2127,5 )(10404)

= - 0,047
2

x y xx
y
C =
2
2
n x ( x )
( 2177,5 )( 469 )(102)(7954,5)
=
( 6 ) ( 2127,5 )(10401)
= 78,966
y = mx + C
y = -0,047x + 78,966

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

442
2336
1580
1377
1369,5
850

7954,5

KESETIMBANGAN FASA

LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II
MATERI :
KESETIMBANGAN FASA
GROUP: 6 / SELASA SIANG
NAMA :
ABDULLAH MALIK ISLAM FILARDLI
NIM : 21030114120008
AHMAD DZULFIKAR FAUZI
NIM : 21030114120030
INAYA YULIANDARU
NIM : 21030114130134

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG

I.ALAT DAN BAHAN


1.1 Bahan :
3. Etanol 120 ml
4. Air/Aquadest/Air demin 270 ml
1.2 Alat :
8. Labu destilasi
9. Thermometer
10. Pendingin Leibig
11. Thermostat
12. Erlenmeyer
Labolatorium
13. Pipet dasar teknik
14. Refraktometer

8. Statif-klem
9. Waterbath
10 Kaki tiga
11. Heater
12 . Thermocouple
13. Adaptor
kimia
II

KESETIMBANGAN FASA

II. CARA KERJA


7. Membuat kurva standart hubungan komposisi etanol (larutan etanol-air)
versus indeks bias
f. Menentukan densitas etanol dan air dengan menggunakan piknometer.
g. Menentukan kadar etanol menggunakan tabel hubungan densitas dengan
kadar etanol.
h. Membuat larutan etanol-air pada berbagai komposisi.
i. Masing- masing larutan pada langkah d dilihat indeks biasnya dengan
refraktometer.
j. Dibuat kurva hubungan antara komposisi versus indeks bias
8. 100 ml air dimasukkan ke dalam beaker glass pirex 250 ml , dipanaskan
sampai mendidih dan dicatat titik didihnya.
9. Etanol dengan volume 75 ml dimasukkan ke dalam labu destilasi kosong,
dipanaskan menggunakan minyak yang dilengkapi dengan thermostat sampai
mendidih, kemudian dicatat suhu didihnya.
10. Labu destilasi tersebut didinginkan , lalu ditambahkan air dengan volume 25
ml ke dalam labu destilasi, selanjutnya dipanaskan sampai mencapai suhu
konstan dan catat titik didihnya , ambil cuplikan residu dan destilat untuk
diperiksa indeks biasnya masing-masing. Destilat yang telah diambil sedikit
untuk sampel dikembalikan lagi kedalam labu destilasi.
11. Prosedur 4 dilakukan berulang-ulang sampai kadar etanol teknis terpenuhi.
12. Dibuat kurva hubungan suhu dengan komposisi etanol-aquadest/air demin/air.
Catatan : Komposisi etanol-air dapat dinyatakan dalam fraksi berat atau fraksi
mol.

III. HASIL PRAKTIKUM


3.1 Tabel Pengamatan
Tabel 1. Hubungan antara Komposisi Etanol (Larutan Etanol-Air) dengan Indeks
Bias
Komposisi Etanol
Volume Air (ml)
Volume Etanol (ml)
Indeks Bias
(% berat)

Labolatorium dasar teknik kimia II

KESETIMBANGAN FASA
0
10
20
30
40
50
60
70
80
84

10
8,6
7,2
5,9
4,7
3,5
2,4
1,3
0,3
0

0
1,4
2,8
4,1
5,3
6,5
7,6
8,7
9,7
10

Tabel 2. Pengaruh Komposisi Umpan Destilasi


Volume Etanol
Suhu Didih
Volume Air (ml)
(ml)
(oC)
75
0
68
75
25
73
75
50
79
75
75
81
75
100
83
75
125
85

1,33
1,336
1,337
1,3385
1,34
1,345
1,3392
1,3375
1,337
1,332

Indeks Bias
Residu
1,334
1,34
1,337
1,3368
1,3367
1,336

Indeks Bias
Destilat
1,335
1,339
1,3395
1,34
1,34
1,341

3.2 Hasil Perhitungan

Berat picnometer
Berat picnometer + air
Massa air

= 16,335 gram
= 41,852 gram
= (Berat picnometer + air) (Berat picnometer)
= 41,852 gram 16,335 gram
= 25,517 gram

T = 30 C = 995,647 kg/m3
= 0,995647 g/cm3
=

m
v

0,995647=

25,517
v

v = 25,63 ml
Massa etanol = 20,557 gram
m
20,577
etanol =
=
v
25,63
= 0,803 g/cm3 = 803 kg/m3
Kadar etanol (x)
= 795,40
x = 0,9075
= 807,52
x = 0,7959

Labolatorium dasar teknik kimia II

KESETIMBANGAN FASA
yy1
x x 1
=
y 2 y 1 x 2x 1
803795,40
x0,9075
=
807,52795,40 0,79560,9075
x = 0,84 x 100 %
x = 84 %
% W etanol
%W=

v . . x etanol
( . v et ) +( v aq )

10 % etanol
10 =

v et ( 0,803 ) (0,84)
( 0,803 )( v et ) + ( 0,996 )( 10v et )

0,1 =

0,67 v et
9,960,193 v et

v et = 1,4 ml
v air = 8,6 ml
20 % etanol
20% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,2)(9,96-0,193 v et)


0,67 v et = 1,992 0,0386 v et
0,7086 v et = 1,992
v et = 2,8 ml
v air = 7,2 ml

30 % etanol
30% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,3)(9,96-0,193 v et)


0,7279 v et = 2,988

Labolatorium dasar teknik kimia II

KESETIMBANGAN FASA
v et = 4,1 ml
v air = 5,9 ml
40 % etanol
40% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,4)(9,96-0,193 v et)


0,7472 v et = 3,984
v et = 5,3 ml
v air = 4,7 ml
50 % etanol
50% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,5)(9,96-0,193 v et)


0,7665 v et = 4,98
v et = 6,5 ml
v air = 3,5 ml
60 % etanol
60% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,6)(9,96-0,193 v et)


0,7858 v et = 5,976
v et = 7,6 ml
v air = 2,4 ml
70 % etanol
70% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,7)(9,96-0,193 v et)


0,8051 v et = 6,972
v et = 8,7 ml
v air = 1,3 ml

80 % etanol
80% =

0,67 v et
9,960,193 v et

Labolatorium dasar teknik kimia II

KESETIMBANGAN FASA
0,67 v et = (0,8)(9,96-0,193 v et)
0,8244 v et = 7,968
v et = 9,7 ml
v air = 0,3 ml
84 % etanol
84% =

0,67 v et
9,960,193 v et

0,67 v et = (0,84)(9,96-0,193 v et)


0,83212 v et = 3,984
v et = 10 ml
v air = 0 ml

PRAKTIKAN

MENGETAHUI
ASISTEN

NIM.

Labolatorium dasar teknik kimia II

KESETIMBANGAN FASA
LEMBAR KUANTITAS REAGEN
PRAKTIKUM KE

: VI

MATERI

: Kesetimbangan Fasa

HARI/TANGGAL

: Kamis, 8 april 2015

KELOMPOK

: 6/Selasa Siang

NAMA

: 1. Abdullah Malik Islam Filardli


2. DzulfikarFauzi
3. Inaya Yuliandaru

ASISTEN

KUANTITAS REAGEN

NO

JENIS REAGEN

KUANTITAS

NaOH 0,1 N

250 ml

HCl 37% ,

Asam cuka

20 ml

Jeruk nipis

20 ml

Strawberry

20 ml

= 1,19 gr/ml , 0,1 N

250 ml

TUGAS TAMBAHAN:
Cari sifat fisis dan kimia etanol, metanol dan air

CATATAN:

Bawa milimeter block dan


kapas

% W terakhir pada kurva standar

SEMARANG, , 9 APRIL 2015


ASISTEN

sesuai dengan kadar teknis yang


ditemukan
NIM.

Labolatorum Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
REFERENSI ACIDI ALKALIMETRI

http://kesehatan.gen22.net/2012/10/sumber-vitamin-c.html

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

http://catatankimia.com/987-045/2010/aplikasi_icidi_alkalimetri.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_asetat

Labolatorium dasar teknik kimia II

KESETIMBANGAN FASA

http://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/?page_id=183

JurnalUniversitas Sumatera Utara

Labolatorium dasar teknik kimia II

KESETIMBANGAN FASA

Labolatorium dasar teknik kimia II

Acidi Alkalimetri

NO

DIPERIKSA
TANGGAL

LEMBAR ASISTENSI
KETERANGAN

Laboratorium Dasar Teknik Kimia 1

TANDA TANGAN