Anda di halaman 1dari 20

TUGAS 1

RK6112 PENGENDALIAN RANCANG KOTA

PRINSIP-PRINSIP DASAR PENGENDALIAN


RANCANGAN SPBU
(STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR UMUM)

Disusun oleh
Medhiansyah Putra Prawira
25615015

PROGAM MAGISTER RANCANG KOTA


SEKOLAH ARSITEKTUR PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

PRINSIP-PRINSIP DASAR PENGENDALIAN


RANCANGAN SPBU
(STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR UMUM)
Medhiansyah Putra Prawira, 25615015
Progam Studi Rancang Kota
Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, ITB
Email : medhiansyah@students.itb.ac.id
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) merupakan prasarana umum yang disediakan
distributor bahan bakar minyak (BBM). SPBU disediakan bagi masyarakat luas untuk memenuhi
kebutuhan bahan bakar. Dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi (PZ),
SPBU diklasifikasikan dalam zona budidaya yaitu perdagangan dan jasa. Oleh sebab itu SPBU
berfungsi sebagai kegiatan usaha yang bersifat komersial, tempat bekerja, tempat berusaha serta
fasilitas umum pendukungnya. Sebagai fasilitas yang berkaitan erat dengan kepentingan umum,
maka diperlukan prinsip-prinsip dasar dalam pengendalian rancangan SPBU. Perumusan prinsip
tersebut harus mempertimbangkan aspek apa yang harus dikendalikan (issues of concern) dan
komponen apa saja yang perlu dikendalikan (scope of issues). Selain itu juga perlu
dipertimbangkan sasaran dan aturan dasar pengendaliannya berdasarkan masing masing
komponen tersebut.
Kata kunci : SPBU, prinsip dasar pengendalian, perancangan kota
1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sejarah perkembangan SPBU tidak dapat dilepaskan dari ditemukannya minyak dan
kendaraan berbahan bakar gasolin. Pada saat itu para pengendara mulai berburu tempat
penjualan gasolin seperti toko serba ada ataupun toko besi yang menjual bahan bakar dan
pelumas. Tercatat pada tahun 1907, Standar Oil Co cikal bakal Chevron, mendirikan
sebuah SPBU di Seattle, California. Pada tahun 1919 berkembang menjadi 700 unit yang
tersebar di Washington, Oregon, California, Nevada dan Arizona.
Semakin meningkatnya sistem jalan raya maka semakin mendorong para pemilik kendaraan
untuk bepergian dengan jarak yang jauh. Hal tersebut berimplikasi pada penambahan
fasilitas kenyamanan di SPBU seperti ruang istirahat dan air minum dingin saat cuaca panas.
Fasilitas lainnya yang ditawarkan adalah fasilitas air bersih dan udara bagi ban kendaraan,
pemeriksaan oli dan pembersihan karburator. Perkembangan dari aspek tampilan juga
terjadi pada tahun tersebut, SPBU milik Standard Oil Co. mulai didesain untuk
menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar seperti pegunungan dan alam pedesaan
di Amerika Serikat bagian barat.
Di Indonesia, SPBU dikenal masyarakat dengan istilah Pom Bensin. Hal tersebut mengacu
pada SPBU yang dimiliki oleh Pertamina, sebagai BUMN yang bertugas mengelola
penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia. Selain Pertamina, terdapat 3 perusahaan
distributor BBM asing yang ada di Indonesia yaitu : Shell dari Belanda, Petronas dari
Malaysia dan Total dari Perancis.
Umumnya SPBU di Indonesia menyediakan layanan tambahan seperti musholla, pompa
angin dan toilet. Tidak jarang juga dilengkapi dengan minimarket dan ATM. Di beberapa
lokasi SPBU dijadikan sebagai meeting point atau tempat istirahat. Bahkan SPBU yang

terletak di jalan tol atau jalan antar kota, memiliki kedai kopi seperti Starbucks atau restoran
fast food dalam berbagai merek.

Gambar 1. Kebakaran di SPBU Cilandak


Sumber : Dinas Penanggulangan Kebakaran
dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta, 2016

Kebakaran yang terjadi di SPBU merupakan hal


yang paling sering kita saksikan. Baru baru
ini terjadi kebakaran SPBU di Jalan Raya
Cilandak Timur, Cilandak, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan (8 September 2016).
Kebakaran terjadi diduga karena percikan api
saat mesin dispenser mengisi bahan bakar
pada kendaraan. Kebakaran yang terjadi pada
pukul 09.45 WIB, dapat dengan mudah
dipadamkan
setengah
jam
kemudian.
Sedikitnya, 4 mobil pemadam kebakaran
dikerahkan untuk memadamkan kebakaran.
Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam
kejadian kebakaran ini namun menyebabkan
kerugian hingga 350 juta.

Tingginya resiko kebakaran yang terjadi di SPBU mengindikasikan apabila bahaya


kebakaran harus dikelola dengan baik dan terencana. Selain menerapkan sistem
manajemen kebakaran berdasarkan standar operasional yang berlaku juga diperlukan
perancangan SPBU yang memperhatikan unsur safety.
Permasalahan terkait lahan dan lokasi SPBU yang terkadang menyalahi aturan tata kota
juga sering terjadi. Selain itu permasalahan mengenai perijinan SPBU dan dampaknya
terhadap terhadap lingkungan juga tidak jarang ditemukan. Seharusnya dalam menentukan
lokasi SPBU, terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi antara lain : lokasi/tempat,
kepadatan jalan terhadap kendaraan lalu lintas, jumlah perindustrian pada daerah tersebut,
kelas jalan, jarak antara SPBU pada persekitaran jalan, sarana dan prasarana, luas SPBU
dan kelengkapan bahan bakar.
Banyaknya permasalahan terkait pendirian SPBU tersebut mengindikasikan apabila
diperlukan prinsip prinsip dasar pengendalian dan perancangan SPBU di Indonesia.
1.2 DESKRIPSI OBYEK
1.2.1 DEFINISI
Stasiun pengisian bahan bakar adalah tempat di mana kendaraan bermotor bisa
memperoleh bahan bakar. Di Indonesia, Stasiun pengisian bahan bakar dikenal dengan
nama SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Sedangkan di luar negeri, stasiun
pengisian bahan bakar dikenal dengan istilah gas station atau filling station merupakan
tempat yang menyediakan berbagai macam keperluan untuk kendaraan bermotor seperti
menjual bensin dan oli, komponen kendaraan serta reparasi untuk kendaraan. Stasiun
pengisian bahan bakar yang hanya menyediakan energi listrik disebut charging station.
Umumnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar menyediakan berbagai jenis bahan bakar
seperti : bensin, solar, E85, LPG dan minyak tanah.

1.2.2 KLASIFIKASI/TIPOLOGI
Di Indonesia, SPBU yang dikelola oleh Pertamina ada 3 jenis antara lain :
a. SPBU COCO (Company Owned Company Operated) artinya SPBU ini murni milik dan
dikelola oleh Pertamina Retail
b. SPBU CODO (Company Owned Dealer Operated) artinya SPBU ini milik swasta atau
perorangan yang bekerjasama dengan Pertamina Retail. SPBU jenis ini dibangun
berdasarkan persyaratan yang dimiliki Pertamina Retail.
c. SPBU DODO (Dealer Owned Dealer Operated) artinya SPBU ini murni milik swasta atau
perorangan dan segala hal tentang manajemen dikelola oleh swasta. SPBU ini
dibangun sebagai satu upaya untuk pengembangan jaringan SPBU dan dalam rangka
peningkatan pelayanan di SPBU melalui konsep Kerjasama Operasi (KSO)

Gambar 2. Jenis SPBU COCO, CODO, DODO di Indonesia

Ditinjau dari syarat dalam pembangunan sebuah SPBU, terdapat


antara lain:
No Komponen
Tipe A
Tipe B
Tipe C
1
Luas minimum (m2)
2.500
1600
1225
2
Lebar muka minimum (m)
30
25
20
3
Jumlah selang paling sedikit
26
20-26
16-20
4
Kapasitas tangki
160 kl
140 kl
100 kl

5 klasifikasi dalam SPBU


Tipe D
900
15
10-16
80 kl

Tipe E
700
10
10
60 kl

Ditinjau dari jenis pelayanannya, terdapat 3 jenis stasiun pengisian bahan bakar antara
lain:
a. Full service, petugas mengoperasikan pompa bensin, membersihkan kaca jendela
kendaraan, mengecek kondisi oli dan ban kendaraan serta melakukan transaksi
penjualan.
b. Minimum service, petugas hanya mengoperasikan pompa bensin
c. Self-service, pembeli mengerjakan seluruh aktivitas mulai dari mengoperasikan pompa
bensin hingga melakukan transaksi pembayaran. Biasanya stasiun pengisian bahan
bakar ini dilengkapi dengan penanda yang befungsi sebagai informasi dan prosedur
untuk memudahkan pembeli.
d. Unmanned, menggunakan sistem pembayaran kartu langsung ke mesin pompa bensin

1.2.3 PERSOALAN SAAT INI ATAU YANG AKAN MUNCUL


Permasalahan permasalahan yang berkaitan dengan pengendalian rancangan SPBU
adalah sebagai berikut :
a. Belum lengkapnya peraturan yang khusus mengatur pendirian SPBU
Sebagian besar peraturan yang mengatur tentang SPBU berkaitan dengan perijinan
dalam mendirikan SPBU. Peraturan tersebut hanya bersifat administratif yang
mengharuskan calon mitra melengkapi beberapa jenis izin seperti izin peruntukan
penggunaan tanah (IPPT), izin gangguan (HO), izin mendirikan bangunan (IMB) dan
dokumen pengelolaan lingkungan hidup. Peraturan yang bersifat konteks kawasan
seperti titik lokasi SPBU, jarak antar SPBU, pengaruh terhadap kepadatan dan kelas
jalan, sarana dan prasarana, keberadaan kawasan lain (industri, pemerintahan,
militer, bandara udara, permukiman, heritage) di sekitar SPBU serta kesesuaian SPBU
dengan peruntukan lahan dalam rencana tata ruang belum dijelaskan secara detail
dalam peraturan peraturan terkait SPBU yang sudah ada.
b. Antrian panjang yang seringkali terjadi di SPBU
Kondisi harga minyak yang fluktuatif berimplikasi pada pasokan bahan bakar di SPBU.
Keterlambatan pasokan hingga tidak adanya pasokan bahan bakar serta kondisi
menjelang kenaikan harga bahan bakar seringkali menyebabkan antrian kendaraan di
setiap SPBU. Hal tersebut seringkali menyebabkan gangguan terhadap arus lalu lintas
dan kemacetan pada beberapa ruas jalan
c. Pembangunan titik/lokasi SPBU yang sering menyalahi aturan (ruang terbuka
hijau/permukiman)
Banyaknya SPBU yang dibangun di lokasi yang tidak sesuai dengan peruntukannya.
Di Jakarta dilakukan penertiban SPBU yang terletak di Jalur Hijau, penertiban
dilakukan untuk menambah ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) di DKI Jakarta.
Hal ini mengacu pada SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 728 tahun 2009 tentang
penertiban SPBU yang beroperasi di jalur hijau, taman, ruang terbuka hijau dan
damija.
Pro kontra keberadaan SPBU yang berada terletak di dekat permukiman warga. Dari
aspek keselamatan, keberadaan SPBU di dekat permukiman dianggap berpotensi
membahayakan keselamatan warga sekitar karena ancaman bahaya ledakan yang
kerap terjadi. Selain menyalahi tata ruang, kehadiran SPBU dianggap mengancam
kehidupan warga. Sebagian besar kasus pendirian SPBU di wilayah permukiman tidak
melibatkan masyarakat dalam perencanaannya.
d. Aspek keselamatan dan keamanan terhadap isu kebakaran
Tingginya resiko kebakaran pada SPBU karena berhubungan dengan bahan bakar
seperti bensin dan solar. Seringkali kebakaran yang terjadi SPBU menyebabkan korban
jiwa maupun kerugian material. Sehingga bahaya kebakaran di SPBU harus dikelola
dengan baik dan terencana melalui sistem manajemen kebakaran yang baik maupun
prinsip-prinsip dasar pengendalian SPBU yang menerapkan aspek keselamatan dan
keamanan.
e. Aspek kesehatan dan lingkungan
Dari aspek kesehatan, pembangunan dan pengoperasian SPBU dianggap dapat
menimbulkan pencemaran air dan udara yang pada akhirnya akan menimbulkan
gangguan kesehatan. Dari berbagai penelitian yang dilakukan, orang yang tinggal

f.

dekat lokasi SPBU dapat terkena penyakit leukemia akut karena menghirup uap yang
dihasilkan oleh bensin.
Sedangkan dari aspek lingkungan, bocornya pipa bensin menimbulkan pencemaran
sumber air tanah. Beberapa kasus yang terjadi di Indonesia, kebocoran tangki BBM
mengakibatkan tercemarnya beberapa air sumur masyarakat sekitar.
Tren perkembangan SPBU
Tren perkembangan SPBU yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengisian
bahan bakar minyak untuk kendaraan. Namun mengalami beberapa penambahan
fungsi seperti minimarket, restoran, masjid, rest area, meeting area hingga menjadi
kawasan komersial.

Gambar 3. Penambahan fasilitas berupa masjid dan restoran


yang semakin banyak ditemui di SPBU

Berbagai fungsi dan fasilitas yang ada di SPBU secara tidak langsung memerlukan
pengaturan khusus. Dalam hal ini belum ada pengaturan khusus di Indonesia terkait
berbagai macam fasilitas yang ada di SPBU. Hal ini dikarenakan fasilitas fasilitas
yang ada di SPBU merupakan fasilitas yang bersifat umum dan menyangkut
kepentingan publik sehingga harus diperhatikan betul aspek keselamatan, keamanan,
kenyamanan, kesehatan, kemudahan hubungan dan estetika dalam perencanaannya.

Gambar 4. SPBU MURI di Tegal yang memiliki kolam renang indoor

g. Perancangan SPBU yang harus mempertimbangkan konteks kawasan sekitar


Tidak jarang ditemukan SPBU yang terletak di kawasan cagar budaya, sehingga
diperlukan perancangan yang harus memperhatikan konteks kawasan sekitar. Di
Surabaya, terdapat SPBU yang terletak di kawasan cagar budaya yaitu di Jalan

Bubutan dan Jalan Pahlawan. Sehingga diperlukan kajian atau prinsip pengendalian
SPBU yang diharapkan tidak merusak streetscape maupun fungsi kawasan terutama
di kawasan cagar budaya.

Gambar 5. SPBU Jl. Bubutan dan Jl. Pahlawan di Surabaya

2 ESENSI PENGENDALIAN
2.1 MENGAPA PERLU DIKENDALIKAN
Rancangan dan pembangunan SPBU perlu dikendalikan dengan pertimbangan sebagai
berikut:
a. Perkembangan SPBU yang kedepannya tidak hanya berfungsi sebagai stasiun pengisian
bahan bakar saja namun berkembang dengan penambahan berbagai macam fasilitas
seperti: minimarket, restoran, masjid, rest area, meeting area hingga menjadi kawasan
komersial. Sehingga fokus terhadap kepentingan umum (public interest) seperti
keamanan, kesehatan, keselamatan, kenyamanan, estetika, kemudahan akses harus
diutamakan dalam pengendaliannya
b. Terdapat potensi konflik antara kepentingan individu dengan hak-hak publik. Dasar
pendirian SPBU adalah fasilitas jasa yang umumnya dimiliki oleh badan usaha sehingga
seringkali hanya fokus untuk mengejar keuntungan. Hal ini rawan bertentangan dengan
pemenuhan hak publik seperti pendirian SPBU yang tidak memperhatikan kaidah
lingkungan sekitar, pencemaran lingkungan, gangguan kepada masyarakat hingga
kemacetan dan antrian kendaraan bermotor.
c. Tujuan umum (public purpose) yang harus diutamakan. SPBU merupakan prasarana
umum yang berfungsi memberikan pelayanan kepada masyarakat luas terkait
kebutuhan bahan bakar. Oleh sebab itu dalam implementasinya SPBU harus
mengutamakan aspek fungsional, teknis dan estetika yang mengacu pada kepentingan
masyarakat
d. Tren peningkatan jumlah SPBU dikarenakan prospek bisnisnya yang menjanjikan. Hal
ini berimplikasi pada potensi penyelewengan pendirian SPBU di beberapa lokasi seperti:
pendirian SPBU yang tidak sesuai peruntukan lahannya (permukiman dan ruang terbuka
hijau). Oleh sebab itu dibutuhkan pengendalian dalam proses perencanaan SPBU
kedepannya
e. Isu keamanan, keselamatan dan kesehatan dalam perencanaan SPBU. Potensi resiko
kebakaran, pencemaran lingkungan hingga dampak terhadap kesehatan yang tinggi
dalam SPBU. Sehingga diperlukan pengendalian dalam proses perencanaannya.

2.2

DAMPAK BILA TIDAK DIKENDALIKAN


Apabila perancangan dan pembangunan SPBU tidak dikendalikan, maka dapat
menyebabkan dampak sebagai berikut:
a. Antrian kendaraan bermotor pada SPBU sehingga menyebabkan gangguan arus lalu
lintas di sekitarnya. Hal ini dipicu oleh isu kenaikan BBM dan kelangkaan pasokan bahan
bakar minyak.
b. Sirkulasi keluar masuk kendaraan di dalam SPBU yang tidak teratur. Tercampurnya jalur
sirkulasi untuk kendaraan truk tangki pengisi BBM dengan kendaraan umum milik
konsumen sehingga dapat menyebabkan antrian atau tundaan.
c. Lokasi SPBU yang terkadang tidak sesuai dengan peruntukan lahannya. Lokasi SPBU
yang terletak di daerah permukiman atau ruang terbuka hijau (jalur hijau, taman dan
damija)
d. Pembangunan SPBU yang tidak mempertimbangkan konteks kawasan di sekitarnya.
Keberadaan SPBU yang terletak dekat dengan kawasan militer, industri, pemerintahan,
bandara, permukiman dan kawasan cagar budaya.
e. Rendahnya tingkat keselamatan, keamanan dan kesehatan pada SPBU. Hal tersebut
dapat memicu potensi resiko kebakaran, pencemaran lingkungan dan gangguan
terhadap kesehatan.
f. Jarak antar SPBU yang berdekatan. Hal ini dikarenakan tidak adanya pengaturan yang
khusus mengatur lokasi dan titik titik penempatan SPBU.
g. Rancangan SPBU yang tidak baik, seperti kurangnya sarana prasarana, tidak adanya
kemudahan hubungan antar fungsi satu dengan fungsi lainnya hingga elemen estetika
(warna, tekstur, desain, pola dan kedetailan) yang kurang diperhatikan.

2.3

TUJUAN DAN MANFAAT YANG DIHARAPKAN


Tujuan pengendalian rancangan SPBU adalah terwujudnya suatu rancangan SPBU yang
baik dan memperhatikan kesesuaian lahan, konteks kawasan sekitarnya, mengutamakan
kepentingan umum serta menerapkan aspek fungsional dan estetika (keselamatan,
keamanan, kenyamanan, kesehatan, kemudahan hubungan dan estetika). Sebagai bagian
dari prasarana umum yang memberikan pelayanan kepada masyarakat terkait kebutuhan
bahan bakar sudah seharusnya SPBU harus dirancang dan didesain dengan baik.
Manfaat pengendalian rancangan SPBU bagi publik adalah sebagai berikut:
a. Mengurangi konflik sirkulasi antara kendaraan umum dengan kendaraan operasional
BBM (truk tangka BBM)
b. Mendorong perancangan SPBU yang telah mengimplementasikan aspek keamanan,
keselamatan dan kesehatan dalam sistem manajemen maupun rancangannya. Hal ini
untuk meminimalisir resiko kebakaran, pencemaran lingkungan serta isu keselamatan
dan kesehatan kerja bagi karyawan
c. Mendorong perancangan SPBU yang memperhatikan kepentingan umum (public
interest) yang berkaitan dengan aspek fungsional, teknis, estetika dan kenyamanan.
Manfaat pengendalian rancangan SPBU bagi pemerintah adalah dapat memberikan
masukan bagi pemerintah kota sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan
pengendalian pembangunan SPBU yang meliputi:

a. Menetapkan standar untuk pengaturan letak dan lokasi SPBU agar sesuai dengan
peruntukan lahannya, konteks kawasan sekitar dan tidak mengganggu aktivitas di
sekitarnya
b. Menetapkan kriteria dalam pembangunan SPBU yang meliputi sarana dan prasarana,
luas SPBU, sirkulasi keluar masuk kendaraan hingga elemen arsitektural seperti warna,
tekstur, pola, desain dan tingkat kedetailan.
c. Menetapkan kriteria untuk pendirian SPBU yang mempertimbangkan aspek lingkungan,
gangguan terhadap masyarakat serta pengaruh kepadatan dan kelas jalan di sekitarnya
d. Membantu mengidentifikasi permasalahan permasalahan yang berkaitan dengan
perancangan dan pembangunan SPBU
3 RUMUSAN PRINSIP NORMATIF PENGENDALIAN
3.1 PERTIMBANGAN DASAR PENGENDALIAN
Dasar pertimbangan yang berkaitan dengan pengendalian SPBU ini adalah sebagai berikut:
a. Pertimbangan akan aspek keamanan, keselamatan dan kesehatan pada masyarakat
b. Pertimbangan akan isu lingkungan alam, lingkungan fisik maupun lingkungan sosial
c. SPBU sebagai fungsi kegiatan jasa yang berfungsi melayani kebutuhan masyarakat akan
bahan bakar namun saat ini mengalami perkembangan menjadi fungsi kegiatan
komersial dan publik dengan penambahan beberapa fasilitas pendukung yang bersifat

amenities
d. Keharmonisan desain SPBU dengan konteks kawasan di sekitarnya
3.2

KRITERIA / ASPEK YANG HARUS DIKENDALIKAN


Kriteria pengendalian atau aspek yang harus dikendalikan (issues of concerns) adalah
sebagai berikut:
a. Keselamatan (safety)
Aspek keselamatan meliputi material maupun struktur konstruksi bangunan dalam SPBU
yang aman dalam mendukung beban dan tahan api dalam upaya menanggulangi resiko
kebakaran. Selain itu penyediaan jalur evakuasi dan titik kumpul darurat (assemble point)
bagi masyarakat ketika terjadi kebakaran, sarana dan prasarana pemadam kebakaran
hingga rambu peringatan. Pertimbangan penempatan peralatan SPBU (dispenser, titik
pengisian, pemipaan dan sebagainya) terhadap fasilitas umum/komersial (rumah makan,
masjid, minimarket, bengkel dan sebagainya). Pertimbangan lokasi dan peralatan SPBU
terhadap lingkungan di sekitarnya (kedekatan dengan bangunan, saluran bawah tanah,
lalu lintas umum). Pertimbangan penyediaan tingkat pencahayaan pada sirkulasi di dalam
dan di luar SPBU untuk mencegah tabrakan.
b. Keamanan (security)
Aspek keamanan yaitu mampu menjamin dan mencegah kemungkinan terjadinya tindak
kriminal pada pengguna maupun pekerja SPBU
c. Kesehatan (healthy)
Aspek kesehatan meliputi kondisi SPBU harus bersih, mempunyai sirkulasi udara yang
baik dan mempunyai pencahayaan alami dan buatan yang memadai.
d. Kemudahan hubungan (access)
Aspek kemudahan hubungan meliputi akses ke, dari dan internal dalam SPBU, hubungan
antar ruang dan bangunan dalam SPBU (fasilitas pengisian SPBU, fasilitas komersial dan

fasilitas umum), akses evakuasi dalam keadaan darurat serta kelengkapan sarana dan
prasarana dalam SPBU
e. Kenyamanan (amenity)
Aspek kenyamanan yaitu kondisi SPBU harus mampu memberikan kenyamanan bagi
penggunanya yang meliputi kenyamanan visual, suasana maupun gerak (ketersediaan
parkir yang nyaman, sirkulasi kendaraan yang baik, kelengkapan fasilitas dan utilitas
pendukung serta keberadaan vegetasi)
f. Estetika (aesthetics)
Aspek estetika yaitu SPBU harus mampu mempertahankan dan meningkatkan keindahan
serta kualitas lingkungan visual dan menciptakan keharmonisan dengan kawasan
sekitarnya. Aspek ini juga berkaitan dengan elemen arsitektural seperti desain bangunan,
warna, pola, tekstur, material dan tingkat kedetailan.
4 RUMUSAN KOMPONEN YANG HARUS DIKENDALIKAN
4.1 KOMPONEN DAN SASARAN PENGENDALIAN
Kriteria pengendalian (issue of concerns) dari pembangunan rancangan SPBU memiliki
beberapa komponen yang harus dikendalikan (scope of issues). Berikut merupakan
komponen dan sasaran pengendalian dari SPBU antara lain:
Tabel 1. Komponen dan sasaran pengendalian

Issue of
concerns
Keselamatan

Scope of issues
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Keamanan
Kesehatan

Kemudahan
hubungan

l.
m.
a.
b.
a.
b.

Perijinan SPBU
Penempatan/lokasi SPBU
Penempatan peralatan SPBU
Material bangunan
Struktur bangunan
Tata letak bangunan
Jalur evakuasi
Titik kumpul darurat
Rambu peringatan
Sarana dan prasarana
kebakaran
Sarana dan prasarana
lindungan lingkungan
Kondisi SPBU
Pencahayaan
Pencahayaan
Sistem keamanan
Pencahayaan
Vegetasi

a. Penempatan/lokasi SPBU
b. Penempatan peralatan SPBU

Sasaran Pengendalian
SPBU dirancang untuk menjamin
keselamatan
pengguna
dan
lingkungan sekitarnya

SPBU dirancang memberikan rasa


aman bagi penggunanya
SPBU dirancang agar dapat memiliki
kondisi dan iklim yang sehat
sehingga berdampak positif bagi
pengguna
maupun
lingkungan
sekitarnya
Efektifitas dan efisiensi baik dalam
bangunan, ruang dan sirkulasi

Issue of
concerns

Kenyamanan

Estetika

Scope of issues
c. Intensitas pemanfaatan
lahan
d. Jarak antar bangunan
e. Jumlah lajur
f. Lebar pintu/sirkulasi keluar
masuk kendaraan
a. Desain bangunan
b. Jumlah lajur
c. Parkir
d. Jarak antar bangunan
e. Sarana dan prasarana
pendukung (amenities)
f. Vegetasi
a. Desain/bentuk bangunan
b. Peralatan SPBU
c. Warna bangunan
d. Fasade bangunan
e. Elemen bangunan
f. Massa bangunan
g. Material bangunan

Sasaran Pengendalian
sehingga SPBU
secara maksimal

dapat

berfungsi

SPBU
dirancang
agar
dapat
memberikan kenyamanan visual,
suasana
maupun
gerak
bagi
pengguna di dalamnya

SPBU
dirancang
dengan
pertimbangan estetika sehingga
dapat menciptakan keharmonisan
visual dengan kawasan sekitarnya

4.2

KRITERIA DAN INDIKATOR PENGENDALIAN DARI MASING MASING KOMPONEN


Penentuan kriteria dan indikator pengendalian sangat berkaitan dengan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya untuk
masing- masing komponen. Dalam hal ini rumusan indikator mengacu pada standar.
Tabel 3. Indikator pengendalian masing-masing komponen

Issue of concerns

Scope of issues

Keselamatan

Perijinan SPBU
Penempatan/lokasi SPBU
Penempatan peralatan SPBU
Material bangunan
Struktur bangunan
Tata letak bangunan
Jalur evakuasi
Titik kumpul darurat
Rambu peringatan
Sarana dan prasarana kebakaran
Sarana dan prasarana lindungan
lingkungan
Kondisi SPBU
Pencahayaan

Keamanan

Pencahayaan
Sistem keamanan

Kesehatan
Kemudahan
hubungan

Pencahayaan
Vegetasi
Penempatan/lokasi SPBU
Penempatan peralatan SPBU

Indikator
Peruntukan pembangunan lahan untuk SPBU harus mengacu pada
peruntukan lahan yang sesuai dan tidak menganggu lingkungan sekitarnya
Penempatan lokasi SPBU yang menjamin keselamatan bagi pengguna dan
lingkungan sekitarnya
Penempatan peralatan SPBU yang mempertimbangkan aspek keselamatan
Material bangunan SPBU yang menggunakan bahan tahan api dan tidak
mudah terbakar
Struktur bangunan SPBU yang mampu menahan beban dan tahan api
Tata letak bangunan yang mempertimbangkan aspek keselamatan
Penyediaan jalur evakuasi sebagai antisipasi apabila terjadi kebakaran
Penyediaan titik kumpul darurat sebagai antisipasi apabila terjadi
kebakaran
Rambu peringatan yang jelas, mudah dibaca dan informatif
Penyediaan sarana dan prasarana kebakaran untuk mengantisipasi bahaya
kebakaran
Penyediaan sarana dan prasarana lindungan lingkungan untuk
mengantisipasi bahaya pencemaran lingkungan
Kondisi SPBU yang bersih untuk meminimalisir bahaya kebakaran
Pencahayaan yang memadai di dalam dan luar SPBU untuk mencegah
kecelakaan kerja dan tabrakan
Pencahayaan yang memadai di SPBU untuk meminimalisir tindakan
kriminalitas
Sistem keamanan yang melindungi pengguna maupun lingkungan dalam
SPBU
Pencahayaan alami dan buatan yang memadai di dalam SPBU
Vegetasi di dalam lingkungan SPBU untuk meredam kebisingan
Lokasi SPBU yang mudah dicapai
Penempatan peralatan SPBU yang memudahkan operasional SPBU

Issue of concerns

Scope of issues
Intensitas pemanfaatan lahan
Jarak antar bangunan
Jumlah lajur

Kenyamanan

Lebar pintu/sirkulasi keluar masuk


kendaraan
Desain bangunan
Parkir
Sarana dan prasarana pendukung

(amenities)
Estetika

4.3

Vegetasi
Desain/bentuk bangunan
Peralatan SPBU
Warna bangunan
Fasade bangunan
Elemen bangunan
Massa bangunan
Material bangunan

Indikator
Effektivitas dalam KDB, KLB dan ketinggian
Jarak antar bangunan dalam SPBU yang tidak terlalu jauh sehingga antar
satu bangunan dengan yang lain mudah diakses pengguna
Jumlah lajur yang memadai sehingga mampu melayani jumlah kendaraan
di dalam SPBU
Lebar sirkulasi keluar masuk kendaraan yang optimal di SPBU sehingga
menghindari konflik dan antrian kendaraan
Desain bangunan yang membuat nyaman pengguna
Parkir yang nyaman dan luas sehingga membuat nyaman pengguna
Sarana dan prasarana pendukung yang disediakan membuat betah bagi
pengguna yang beraktivitas
Keberadaan vegetasi yang membuat nyaman pengguna
Bentuk bangunan selaras dengan karakter lingkungan sekitar
Desain peralatan SPBU yang dibuat selaras dengan lingkungan sekitar
Warna bangunan selaras dengan karakter lingkungan sekitar
Fasade bangunan selaras dengan karakter lingkungan sekitar
Elemen bangunan selaras dengan karakter lingkungan sekitar
Massa bangunan yang mengedepankan aspek estetika kawasan
Material bangunan yang mampu memperkuat karakter lingkungan
sekitarnya

ATURAN DASAR PENGENDALIANNYA


Penentuan aturan dasar pengendalian mengacu pada kriteria dan indikator untuk masing-masing komponen

Issue of concerns

Scope of issues

Keselamatan

Perijinan SPBU

Tabel 4. Aturan dasar pengendalian masing-masing komponen


Indikator
Mengacu pada Peraturan Zonasi sebagai instrumen dalam pengendalian pemanfaatan ruang, maka dalam
pembangunan SPBU harus melihat tabel Pelaksanaan Kegiatan dalam Sub Zona, dimana saja sub zona yang
diperbolehkan, diizinkan terbatas, diizinkan bersyarat, diizinkan terbatas dan bersyarat dan tidak diizinkan.
Setiap badan yang melakukan pembangunan dan pengoperasian SPBU harus memiliki dokumen Upaya Pengelolaan
Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) SPBU, sebagai persyaratan permohonan Izin
Mendirikan Bangunan (IMB)

Issue of concerns

Scope of issues

Indikator
Rencana pembangunan dan pengoperasian SPBU harus diumumkan kepada masyarakat di sekitar lokasi SPBU
dalam radius paling sedikit 30 m
Rencana pembangunan dan pengoperasian SPBU harus mendapat persetujuan tertulis dari masyarakat di sekitar
lokasi SPBU sebagai persyaratan permohonan RTLB

(Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.34 Tahun 2014 tentang Tata Cara Penetapan Lokasi SPBU)
Penempatan/lokasi
SPBU

Pembangunan SPBU diizinkan di lokasi dengan kondisi yang memungkinkan untuk pembangunan SPBU. Kondisi
yang dimaksud harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Tidak menghambat sirkulasi lalu lintas
b. Agar tidak menghambat sirkulasi lalu lintas diharuskan dibuat jalur perlambatan
c. Tidak berdampak pada penurunan kualitas lingkungan
Lokasi SPBU diperkenankan berada di sisi jalan dan persimpangan jalan, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Lokasi SPBU yang berada di sisi jalan (bukan persimpangan) harus berjarak paling sedikit 45 m dari
persimpangan jalan dan /atau
b. Lokasi SPBU yang berada tepat di persimpangan jalan harus memiliki pintu masuk dan keluar yang berada
pada setiap ruas jalan di persimpangan tersebut
Jarak antar SPBU dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Jarak antar SPBU pada jalan searah paling sedikit 1.500 m, terkecuali SPBU yang menjual khusus gas
b. Jarak antar SPBU sebagaimana dimaksud tidak terpisah persilangan jalan eksisting dengan lebar paling sedikit
12 m
Ketentuan dimensi jalan untuk SPBU sebagai berikut:
a. Lebar jalan eksisting dari pagar ke pagar untuk SPBU Tipe A, Tipe B, Tipe C dan Tipe D adalah 12 m
b. Lebar jalan eksisting dari pagar ke pagar untuk SPBU Tipe E adalah 10 m

Penempatan
peralatan SPBU

Untuk menghindarkan bahaya kebakaran, maka tangki BBM yang dibangun harus ditempatkan pada jarak yang
aman. Tangki tangki penimbunan BBM maupun non BBM harus dikelompokkan dalam daerah kelompok tangka

(Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.34 Tahun 2014 tentang Tata Cara Penetapan Lokasi SPBU)

(tank farm)

Pipa-pipa yang ditempatkan di bawah tanah yang melintasi jalan raya, jalan kereta api atau tempat lain yang
diperkirakan akan mendapatkan beban yang berat harus diberikan perlindunagn yang secukupnya

(Buku Panduan K3LL Pertamina)

Peletakan tangki pendam harus berada di dalam DP dan tidak diperkenankan berada diantara GSJ dan GSB serta
memenuhi syarat dalam jarak aman

(Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.34 Tahun 2014 tentang Tata Cara Penetapan Lokasi SPBU)
Material bangunan

Ketentuan untuk kanopi adalah sebagai berikut:


a. Ceiling kanopi tidak harus menggunakan bahan yang bertekstur atau flat, tidak diperbolehkan menggunakan
material yang mengkilat atau bisa memantulkan cahaya

Struktur bangunan

Ketentuan untuk kanopi adalah sebagai berikut :

(Standar Bangunan PT. Pertamina)

Issue of concerns

Scope of issues

Indikator
a. Integrasi antara kanopi tempat pompa bensin dan bangunan diperbolehkan
b. Ketinggian ambang kanopi dihitung dari titik terendah kanopi tidak lebih dari 139. Ketinggian keseluruhan
kanopi tidak lebih dari 17

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Tata letak
bangunan

Bangunan bangunan kantor administrasi harus berada dalam suatu daerah yang aman. Sebaiknya ditempatkan
di dekat pintu keluar/masuk utama yang dapat dicapai dari jalan besar, agar pengunjung kantor tidak akan
melewati daerah kerja berbahaya dari Instalasi Depot
Bangunan-bangunan kerja yang meliputi gudang, bengkel, laboratorium, bangkal pengisian dan rumah rumah
pompa tata letaknya harus diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan kelancaran operasional serta tidak
menghalangi di dalam usaha penanggulangan bahaya kebakaran dan pencegahan merambatnya api ke bangunan
lainnya.

(Buku Panduan K3LL Pertamina)


Jalur evakuasi
Titik kumpul darurat
Rambu peringatan

SPBU harus menyediakan jalur evakuasi yang jelas dan mudah dijangkau ketika sewaktu waktu terjadi bahaya
kebakaran dan ledakan
SPBU harus menyediakan titik kumpul darurat yang jelas dan mudah dijangkau ketika sewaktu waktu terjadi
bahaya kebakaran dan ledakan
Pembuat rambu-rambu, tanda-tanda sesuai dengan standardisasi dari Pertamina/Badan Usaha yang mendapat izin
usaha niaga dari Dirjen Minyak dan Gas Bumi

(Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.55 Tahun 2008 tentang Persyaratan Teknis Pembangunan Instalasi
SPBU)

Rambu-rambu standar PT.Pertamina


a. Dilarang merokok
b. Dilarang menggunakan telepon seluler
c. Jagalah kebersihan
d. Tata cara penggunaan alat pemadam kebakaran

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Sarana dan
prasarana
kebakaran

Peralatan proteksi dan pemadam kebakaran yang harus disediakan


a. Alat pemadam api ringan
b. Hose reels
c. Absorbent
d. Hidran
Keberadaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) terdiri dari Dry Chemical Powdertipe portable kapasitas 6 kg s.d 9
kg, ditempatkan pada setiap tiang kanopi, kios/kantor dan gedung pendukung sesuai ketentuan, serta beroda
ukuran 60 kg s.d 70 kg dengan jumlah sesuai luas dan sarana atau ketentuan yang berlaku dan jenis CO 2 untuk
ruang genset atau ruang listrik, dengan standar NPFA
Pasir kering beserta bak

Issue of concerns

Scope of issues
Sarana dan
prasarana lindungan
lingkungan

Indikator

(Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.55 Tahun 2008 tentang Persyaratan Teknis Pembangunan Instalasi
SPBU)
Setiap SPBU diharuskan memiliki prasarana berikut :
a. Instalasi pengolahan limbah
b. Instalasi oil catcher dan well catcher
Saluran yang digunakan untuk mengalirkan minyak yang tercecer di area SPBU ke dalam tempat penampungan
c. Instalasi sumur pantau
Sumur pantau dibutuhkan untuk memantau tingkat polusi terhadap air tanah di sekitar bangunan SPBU yang
disebabkan oleh kegiatan usaha SPBU
d. Saluran bangunan/drainase sesuai dengan pedoman PT. Pertamina

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Kondisi SPBU

Kebersihan areal SPBU beserta kelengkapannya harus selalu terpelihara, dan terjaga. Setiap ceceran minyak harus
segera dibersihkan.

(Buku Panduan K3LL Pertamina)


Pencahayaan

SPBU memiliki lampu penerangan yang menerangi seluruh area dan jalur pengisian BBM
Papan penunjuk SPBU sebaiknya berlampu agar keberadaan SPBU mudah dilihat oleh pengendara

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Keamanan

Pencahayaan

Di lokasi penerimaan/pembongkaran BBM dan pelayanan umum harus tersedia penerangan yang cukup tapi aman.
Penerangan tersebut tidak kurang dari 10 lux
Pada bagian atas bangunan dispenser harus dilengkapi dengan penerangan tidak kurang dari 100 lux

(Buku Panduan K3LL Pertamina)


Sistem keamanan

Setiap SPBU diharuskan memiliki sistem keamanan sebagai berikut:


a. Memiliki pipa ventilasi tangka pendam
b. Memiliki ground point/strip tahan karat
c. Memiliki dinding pembatas/pagar pengamanan
d. Terdapat rambu-rambu tanda peringatan

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Kesehatan

Pencahayaan
Vegetasi

Kemudahan
hubungan

Penempatan/lokasi
SPBU

SPBU harus memiliki pencahayaan dan penghawaan alami yang baik


Batas lingkungan (buffer zone)
Untuk mencegah atau memperkecil timbulnya dampak negative terhadap lingkungan akibat kegiatan penerimaan,
penimbunan dan penyaluran BBM seperti kebisingan dan penyebaran uap Hidrokarbon terhadap lingkungan
sekitarnya, maka diperlukan suatu daerah penyangga yang ditanami pepohonan dengan lebar minimal 15 meter

(Buku Panduan K3LL Pertamina)

Agar mudah diakses maka, SPBU harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Lokasi SPBU yang berada di sisi jalan (bukan persimpangan) harus berjarak paling sedikit 45 m dari
persimpangan jalan dan /atau

Issue of concerns

Scope of issues

Penempatan
peralatan SPBU
Intensitas
pemanfaatan lahan

Indikator
b. Lokasi SPBU yang berada tepat di persimpangan jalan harus memiliki pintu masuk dan keluar yang berada
pada setiap ruas jalan di persimpangan tersebut
c. Lokasi SPBU tipe A, B, C, D harus terletak di kelas jalan dengan lebar minimal 12 m dan SPBU tipe E terletak
di kelas jalan dengan lebar minimal 10 m (kelas jalan arteri)
Tata letak sistem perpipaan harus memperhatikan kemudahan dari segi operasi dan perawatan serta inspeksinya

(Buku Panduan K3LL Pertamina)

KDB paling banyak adalah 60% dengan penyesuaian terhadap lingkungan


Fasilitas penunjang SPBU yang diperkenankan paling banyak 20% dari KLB yang ditetapkan
Ketinggian fasilitas penunjang SPBU diperkenankan paling banyak 20% dari KLB yang ditetapkan
Ketinggian fasilitas penunjang SPBU paling banyak 2 lantai

(Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.34 Tahun 2014 tentang Tata Cara Penetapan Lokasi SPBU)
Jarak antar
bangunan
Jumlah lajur

Bangunan yang bersifat operasional dalam SPBU harus terhubung satu sama lain, sehingga memudahkan
operasional SPBU. Sedangkan bangunan yang bersifat komersial dan publik diusahakan mengelompok berada
dalam satu kawasan dan terpisah dari bangunan operasional SPBU
Jumlah lajur masuk minimum 2 (dua) lajur
Lajur keluar minimum 3 (tiga) lajur atau sama dengan lajur pengisian BBM

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Lebar pintu/sirkulasi
keluar masuk
kendaraan

Jalan keluar masuk mudah untuk berbelok ke tempat pompa dan ke tempat antrian dekat pompa, mudah pula
untuk berbelok pada saat keluar dari tempat pompa tanpa terhalang apa-apa dan jarak pandang yang baik bagi
pengemudi pada saat kembali memasuki jalan raya.
Pintu masuk dan keluar dari SPBU tidak boleh saling bersilangan
Lebar pintu masuk dan keluar minimal 6 m

(Standar Bangunan PT. Pertamina)

Pintu masuk dan keluar SPBU tidak boleh saling bersilangan


Jumlah lajur masuk dan keluar paling sedikit 2 lajur
Lebar lajur sebagaimana dimaksud paling sedikit 7 m untuk SPBU tipe A, tipe B, Tipe C dan Tipe D
Lebar lajur sebagaimana dimaksud paling sedikit 3 m untuk SPBU tipe E

(Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.34 Tahun 2014 tentang Tata Cara Penetapan Lokasi SPBU)
Kenyamanan

Desain bangunan

Bangunan harus adaptif terhadap panas matahari dan pantulan sinar matahari dengan merancang sirip penangkal
sinar matahari dan jalur pejalan kaki/trotoar yang tertutup dengan atap

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Parkir

Tersedia lahan parkir yang memadai untuk pengunjung disesuaikan dengan sarana dan prasarana pendukung yang
ada di dalam SPBU. Diusahakan lahan parkir tersebut tidak bercampur antara lahan parkir untuk kendaraan umum
dan kendaraan operasional SPBU (truk tangki BBM)

Issue of concerns

Scope of issues
Sarana dan
prasarana
pendukung

(amenities)

Indikator
Fasilitas umum berupa :
c. Toilet
d. Mushola
e. Lahan parkir

(Standar Bangunan PT. Pertamina)

Ruang peraga, WC dan kamar mandi harus selalu dalam keadaan baik dan bersih
Harus disediakan bak sampah yang mencukupi
Oil catcher dan saluran air haru selalu dalam keadaan bersih dan lancar serta berfungsi dengan baik

(Buku Panduan K3LL Pertamina)


Estetika

Vegetasi
Desain/bentuk
bangunan
Peralatan SPBU

Tanaman penghijauan harus selalu terpelihara dan terawat


Desain bangunan harus disesuaikan dengan karakter lingkungan sekitar (contoh: letak pintu masuk, pintu keluar
dan lain-lain)
Desain bangunan SPBU harus disesuaikan dengan bangunan di lingkungan sekitar yang dominan

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Ketentuan untuk pump island adalah sebagai berikut:
a. Desain pump island harus terintegrasi dengan struktur lainnya dalam lokasi, yaitu dengan menggunakan
warna, material dan detail arsitektur yang harmonis
b. Minimalisasi warna dari komponen-komponen pump island, termasuk dispenser, bollard dan lain-lain

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Warna bangunan
Fasade bangunan

Warna bangunan dalam SPBU harus disesuaikan dengan karakter lingkungan disekitarnya
Arsitektur bangunan sarana pendukung harus terintegrasi dengan bangunan utama
Seluruh fasade bangunan harus mengekspresikan detail dan karakter arsitektur yang konsisten

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Elemen bangunan

Variasi bentuk dan garis atap yang menarik


Elemen bangunan yang adaptif terhadap iklim dan lingkungan (sirip penangkal sinar matahari, jendela yang
menjorok ke dalam dan penggunaan material dan tekstur yang tepat)

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Massa bangunan

Bangunan dibagi bagi menjadi komponen yang berskala lebih kecil untuk menghindari bentuk massa yang terlalu
besar

(Standar Bangunan PT. Pertamina)


Material bangunan

Material bangunan di dalam SPBU harus menyesuaikan dengan karakter lingkungan di sekitarnya

KESIMPULAN
Dari pembahasan mengenai prinsip dasar pengendalian rancangan SPBU, terdapat beberapa
kesimpulan yang dapat diambil :
a. SPBU yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengisian bahan bakar minyak untuk
kendaraan. Namun mengalami beberapa penambahan fungsi yang bersifat umum seperti
minimarket, restoran, masjid, rest area, meeting area hingga menjadi kawasan komersial.
Sehingga secara tidak langsung memerlukan pengaturan khusus dalam rancangan
pengendaliannya.
b. Prinsip dasar pengendalian rancangan SPBU harus mempertimbangkan aspek apa yang
harus dikendalikan (issues of concern) yang meliputi keselamatan, keamanan, kesehatan,
kemudahan akses, kenyamanan dan estetika dan komponen apa saja yang perlu
dikendalikan (scope of issues).
c. Prinsip dasar pengendalian rancangan SPBU tersebut mengadopsi beberapa aturan,
kriteria dan standar perencanaan dari beberapa peraturan di Indonesia

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Sejarah SPBU Pertama di Indonesia. Diakses pada tanggal 5 November 2016 pukul
15.00.
Sumber:
http://menujuhijau.blogspot.co.id/2011/01/sejarah-spbu-pertamaindonesia.html.
Anonim. 2011. Pembangunan SPBU di Wilayah Permukiman Resahkan Warga. Diakses pada
tanggal
6
November
2016
pukul
12.47.
Sumber:
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4eb9791b61fd6/spbu-di-wilayah-pemukimanresahkan-warga.
Anonim. 2009. SPBU di Jalur Hijau akan Dibongkar. Diakses pada tanggal 6 November 2016 pukul
12.30. Sumber: http://www.republika.co.id/berita/shortlink/62282
Buku Panduan K3LL Revisi 3. Pertamina: Direktorat Pemasaran dan Niaga K3LL & MM
Farhan, Afif. 2012. Mantap! Ada Kolam Renang di SPBU ini. Diakses pada tanggal 6 November
2016
pukul
13.07.
Sumber:
http://travel.detik.com/read/2012/08/10/125142/1988250/1383/mantap-ada-kolam-renangdi-spbu-ini.
Keputusan Menteri ESDM Nomor 1454 K/30/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis
Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang Minyak dan Gas Bumi Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral
Risdiyanta. 2010. Membedah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia. Forum
Teknologi Vol. 04 No. 3
Prehanto, Dedy Rahman. 2015. Sistem Pendukung Keputusan Menentukan Lokasi SPBU Berbasis
Web (Studi Kasus: SPBU 54.61126 Jln. Raya Benjeng Gresik). Jurnal Manajemen Informatika
Vol 04 No. 2 Tahun 2015. Universitas Negeri Surabaya.
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.34 Tahun 2014 tentang Tata Cara Penetapan Lokasi
Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.55 Tahun 2008 tentang Persyaratan Teknis
Pembangunan Instalansi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)
Standar Operasi dan Prosedur Pengelolaan SPBU Pertamina

Sahrir, Herry. 2012. Studi Penyusunan Sistem Pemeringkatan SAFE (Safety Assesment of Fire

and Explosion) untuk Menilai Tingkat Keselamatan terhadap Kebakaran dan Ledakan di SPBU.

Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia


Septiyanto, Dwi. 2016. Pemicu Kebakaran SPBU Cilandak Korsleting Listrik Mesin Pompa Bensin.
Diakses
pada
tanggal
5
November
2016
pukul
19.45.
Sumber:
http://www.jakartafire.net/news/detail/4837/pemicu-kebakaran-spbu-cilandak-korsletinglistrik-mesin-pompa-bensin.
Pertamina. 2015. Bangunan SPBU berdasarkan Standar PT. Pertamina. Diakses pada tanggal 5
November 2016 pukul 07.34. Sumber: http://spbu.pertamina.com.
Wikipedia. 2015. Stasiun Pengisian Bahan Bakar. Diakses pada tanggal 5 November 2016 pukul
19.15. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_pengisian_bahan_bakar