Anda di halaman 1dari 5

Interpretasi energi pengendapan dan viskositas

fluida pada daerah


penilitian dapat ditunjukkan dari persebaran data ukuran butir berupa
mean,sortasi, skewness, dan kurtosis. Dari 6 stasiun pengamatan didapatkan
nilai mean 0.73 hingga 1.92
dan skewnees 1.964 hingga 1.066 yang
menunjukkan semakin jauh butir sedimen yang terendapkan maka semakin
halus ukurannya hal ini menunjukkan bahwa energi pengendapan berkurang
dengan bertambahnya jarak suatu tempat dari hulu sungai. Selain itu untuk
sortasi mempunyai nilai 2.074 (very porrly sorted) hingga 0.967 (moderately
sorted) sedangkan untuk nilai kurtosis menunjukkan 1.12 ( leptokurtic) hingga
4.22 ( extremely leptokurtic) yang sama-sama menunjukkan bahwa semakin
jauh pemihalan dari sedimen seukuran semakin baik. Akan tetapi dalam satu
stasiun pengamatan dapat terlihat bahwa terdapat 2 litologi dengan ukuran
yang berbeda dan mempunyai fabric yang floating mass, dimana butir sedimen
lebih besar dapat mengambang diantara sedimen dengan butir lebih halus, hal
ini mengindikasikan terjadinya mekanisme transportasi yang dikontrol oleh fluida
dengan viskositas tinggi.
Dari hasil pengeplotan pada diagram Hjulstrom didapatkan bahwa
sedimen berukuran pasir dengan keadaan sungai setiap stasiun pengamatan
akan mengalami transportasi secara suspended load .Sedangkan untuk butir
sedimen kerakal akan mengalami deposisi setelah tertranportasi secara bedload.
Suspended load adalah proses transportasi dimana butir sedimen malayang
pada tubuh air tanpa kontak dengan dasar sungai, hal ini menyebabkan bahwa
proses abrasi pada butir sedimen akan sangat sedikit terjadi.Bedload adalah
proses trasportasi sedimen dimana butir sedimen kontak dengan dasar sungai,
proses ini terbagi atas sliding , rolling, dan saltasi , maka tentu saja proses ini
akan sangat besar tingkat abrasi butirnya karena butir melakukan gesekan
dengan dasar sungai sehingga akan dapat merubah morfologi butir secara
signifikan.
Mekanise transportasi yang terjadi pada Sungai Progo dapat terlihat dari
bentuk butir sedimen yang mendominasi yaitu bentuak equant dan oblate untuk
sedimen ukuran kerakal sedangkan untuk sedimen ukuran pasir adalah bladed
dan equant. Bentuk butir equant adalah bentuk butir yang memiliki
perbandingan antara sumbu terpanjang ,menengah , dan terpendeknya hampir
sama, oblate adalah bentuk dengan perbandingan sumbu terpanjang dan
menengah nya hampir sama tetapi sumbu terpendeknya sangat jauh berbeda
sedangkan bladed adalah bentuk yang mempunyai perbandingan antara ketiga
sumbu yang sangat jauh berbeda. Namun bentuk butir sedimen tidak dapat
terlalu menggambarkan proses sedimentasi yang terjadi. Bentuk butir juga dapat
berasal dari bentuk awal sedimen ketika terpecah dari batuan induknya seperti
butiran sedimen pasir yang didominasi oleh mineral akan sangat dikontrol oleh
bentuk kristal mineralnya..
Tingkat derajat kebolaan butir sedimen berpengaruh terhadap kecepatan
pengendapan, bentuk butir sedimen yang spheris akan lebih cepat mengalami
pengendapan dibandingkan dengan butir sedimen yang tidak spheris. Hal ini
terlihat pada data bahwa pada stasiun pengamatan yang lebih dekat dengan

hulu lebih di dominasi oleh very equant sedangkan semakin jauh dari hulu
terlihat bahwa tingkat kebolaannya menurun menjadi very elongate dan sanngat
mendominasi jika dikelompokkan menurut Sneed and Folk (1958) , berbeda
dengan pengelompokkan Krumbein (1941). Untuk butir sedimen dengan ukuran
pasir sendiri tingkat kebolaan butir sedimen terlihat sangat bervariasi, hal ini
dikarenakan bentuk awal sedimen yang bervariasi dan mekanisme transportasi
yang suspense sehingga tidak banyak merubah bentuk sedimen dari sejak awal.
Untuk mengetahui mekanisme transportasi dari sedimen, akan menjadi
sangat lebih baik jika kita mengacu kepada roundness dari butir sedimen
tersebut.Roundness suatu sedimen sangat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu
ukuran butir,proses transportasi dan jarak transportasi,dan komposisi butiran.
Sedimen yang tertrasportasi secara bedload akan mempunyai tingkat
kebundaran yang baik seiring jarak yang ditempuhnya. Semakin jauh maka akan
semakin rounded.Jika dilihat dari data sedimen kerakal yang tertransportasi
secara bedload, terbukti bahwa peningkatan jumlah butir sedimen yang rounded
dari hulu ke hilir dan pengurangan dari sedimen yang mempunyai kebundaran
yang angular. Sedangkan pada butir sedimen pasir terlihat bahwa data yang
acak karena memang pada saat transportasi , butir tidak banyak mengalami
abrasi. Akan tetapi selain proses transportasi, seperti yang kita ketahui bahwa
tingkat keresistenan/komposisi suatu butir sedimen/ mineral juga sangat
berpengaruh. Butir sedimen dengan tingkat keresistenan tinggi akan lebih sulit
terubah dibanding sedimen dengan tingkat keresistenan yang rendah. Sehingga
dapat kita lihat bahwa kuarsa akan cenderung lebih mempertahankan bentuk
awalnya dibanding dengan mineral lain yang tidak resisten seperti feldspar,litik,
ataupun piroksen.
Relief Topografi juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
melimpahnya komposisi dan morfologi butir sedimen tertentu pada suatu
cekungan. Ketika kita mempunyai relief topografi yang tinggi, kita akan
mempunyai slope yang lebih besar dengan jarak transportasi yang dekat yang
berarti butir sedimen akan mempunyai bentuk yang lebih angular dibanding
relief topografi yang rendah karena jarak transportasi yang cukup jauh . Relief
topografi yang tinggi juga akan memberikan suplai berbagai jenis mineral dari
batuan segar walaupun tingkat pelapukannya yang tinggi, relief tinggi akan
memasok lebih banyak butir mineral tidak resisten dibanding relief topografi
yang rendah dimana hanya ada mineral-mineral resisten saja. Berdasarkan fakta
tersebut, daerah penelitian dapat disimpulkan dengan banyaknya mineralmineral tidak resisten disetiap stasiun seperti feldspar dan piroksen serta
dominasi tingkat kebundaran yang angular subangular dapat disimpulkan
bahwa topografi sumber dari sedimen mempunyai relief tinggi. Hal ini dapat
diketahui dengan sumber sedimen yang berada pad Gunung Merapi, Gunung
Merbabu, dan Gunung Sumbing yang mempunyai relief tinggi serta masih
beraktifitas aktif sampai saat ini.
Analisis sumber/provenance pada Sungai Progo dilakukan dengan
pengeplotan mineral ringan seperti Qt = Kuarsa total , F = Feldspar , dan L =
Litik pada diagram Dickinson & Suczek (1979) didapatkan bahwa batuan asal

sedimen berasal dari dissected arc yang dapat diinterpretasikan bahwa sebagai
hasil dari material gunung api yang berderet pada island arc yang masih aktif
Gunung Sumbing,Gunung Merbabu dan Gunung Merapi dan juga berasal dari
gunungapi yang sudah tidak aktif dan tererosi seperti Gunug Menoreh.
Disamping itu juga dilakukan penentuan paleoiklim yang didsarkan dari
komposisi yang sama dan kemudian dilakukan plottingan pada segitiga Suttner
dkk (1981) didapatkan bahwa sebagian besar sedimen berasal dari batuan induk
berupa batuan beku plutonik yang terbentuk ketika iklim sedang kering. Untuk
tipe provenance sendiri dilihat dari jumlah komposisi dominan pada setiap
stasiun pengamatan bahwa sedimen berasal dari batuan beku intermediate dan
juga dari batuan beku mafic. Hal ini terlihat ketika ditemukan kandungan kuarsa
yang cukup melimpah dan mineral seperti piroksen dan magnetit yang
menunjukkan bahwa provenance dari batuan sedimen berasal dari batuan beku
intermediate dan mafic.
Kelimpahan masing-masing jenis partikel sedimen disetiap lokasi
bergantung pada ketersediaan jenis partake tersebut didaerah asalnya/batuan
asal , durabilitas mekanik partikel yang berhubungan dengan ketahanan mineral
tersebut terhadap abrasi yang terkait dengan bidang lemah sepanjang tubuh
mineral yaitu bidang belahan, stabilitas kimiawi dari partakel yang berhubungan
dengan komposisi partikel terhadap respon pelarutan, pelapukan, transportasi,
deposisi maupun selama diaganesis, dan yang terakhir adalah proses
sedimentasi yang telah banyak dijelaskan diatas. Kelimpahan dari mineral kuarsa
, magnetit, piroksen , dan feldspar yang sangat melimpah pada Sungai Progo
dapat dihubungkan dengan provenance yang berasal dari gunung-gunug di hulu
sungai ini yang mempunyai sifat magma yang andesitic dan juga basaltic.
Sangat melimpahnya kuarsa berhubungan dengan durabilitas serta stablitas
kimiawi dari kuarsa itu sendiri, ikatan kimiawi yang tetrahedral memnyebabkan
setiap unsur mempunyai ikatan yang sangat kuat serta tidak adanya bidang
lemah (belahan) pada kuarsa juga membuat mineral ini menjadi sangat tahan
terhadap proses alterasi dan dapat terawetkan dengan baik. Tapi bagaimana
dengan piroksen, magnetit , dan juga feldspar? Mineral-mineral yang tergolong
tidak resisten ini juga dapat ditemukan di sepanjang Sungai Progo baik hulu
maupun hilir dengan jumlah yang tidak sedikit. Jika kita bicara soal durabilitas
dari minera-mineral ini yang mempunyai komposisi kimiawi yang bisa dikatakan
kurang stabil atau tidak sestabil kuarsa serta semua mineral ini juga mempunyai
bidang lemah yaitu belahan faktor sehingga kita berfikir tentang kelimpahan
yang dapat dikatakan melimpah, maka jawabannya adalah seperti yang telah
dijelaskan diatas bahwa selain faktor-faktor diatas, terdapat faktor lain yaitu
iklim dan relief dari daerah asal partikel . Kehadiran dari mineral-mineral yang
dapat dikatakan kurang stabil ini disebabkan oleh relief daerah asal yang tinggi,
walaupun proses pelapukan berlangsung intensif tetapi suplai partikel ini selalu
terjaga dari sumbernya yang mempunyai relief yang tinggi sehingga kita bisa
mendapatkan mineral-mineral ini diberbagai tempat.
Proses analisis dari butir sedimen yang dilakukan pada Sungai Progo tidak
lepas dari beberapa anomali-anomali ,yaitu:

1. Hadirnya ukuran butir kerakal dan pasir sangat halus pada tempat yang
sama dan distribusi dari sedimen ukuran kerakal yang sampai ke daerah
hilir padahal kecepatan pada daerah hilir sangat kecil untuk dapat
menyebabkan sedimen tertransportasi. Hal ini kemungkinan disebabkan
adanya mekanisme transportasi dengan viskositas fluida yang tinggi yang
bisa jadi disebabkan oleh banjir lahar dingin atau banjir biasa yang
menyebabkan pencampuran ukuran butir.
2. Ditemukannya mineral-mineral kuarsa bersamaan hadirnya dengan
mineral piroksen dalam jumlah yang tidak sedikit, hal ini mengindikasikan
bahwa sumber sedimen yang berbeda atau kuarsa yang terendapkan
pada Sungai Progo bukan kuarsa yang berasal dari periode yang sama
selain itu sumber sedimen yang berbeda juga mempengaruhi
melimpahnya suatu partikel ditempat-tempat tertentu da juga
mempengarhu morfologi butirnya.
3. Fluktiatifnya nilai roundness,skewness,kurtosis,dan ukuran butir sedimen
disetiap stasiun pengamatan 1 dengan yang lain sehingga hasil
pemaparan membentur dengan beberapa teori. Hal ini dikarenakan
adanya proses antropogenik yang ikut serta seperti adanya SABO DAM
dan proses penambangan pasir batu disepanjang tubuh sungai yang
mempengaruhi kedalaman dan kecepatan aliran sungai.

Sedimen pada Sungai Progo yang melimpah memiliki potensi yang sangat
besar. Potensi ini terliha sudah mulai digunakan oleh masyarakat sekitar, yaitu
tambang pasir batu. Penambangan yang terlihat disepanjang tubuh sungai
terlihat dalam skala yang kecil bahkan juga dalam skala yang besar. Kandungan
sedimen Sungai Progo yang mengandung magnetit juga dapat dimanfaatkan
masyarakat selain untuk bahan bangunan, juga dapat bermanfaat untuk
pembentukan besi karena mengandung banyak sekali magnet. Akan tetapi,
proses penambangan yang terlalu intensif dapat merusak lingkungan. Contohnya
saja, penambangan sedimen yang terlalu banyak dapat menyebabkan semakin
dalamnya tubuh sungai sehingga akan mengakibatkan sungai tidak dalam
keadaan seimbang sehingga akan mengerosi daerah daerah disepanjang Sungai
yang dapat mengakibatkan longsor pada area sepanjang tubuh sungai yang
merupakan permukiman warga.

1. Endapan sedimen sepanjang stasiun pengamatan pada Sungai Progo


memiliki rerata coarse sand medium sand,dengan sortasi dari hulu ke
hilir very poorly sorted moderately sorted ,skewness didominasi oleh
very fine skewed dari hulu ke hilir berkurang nilainya, dan nilai dari
kurtosis berkisar antara leptokurtic extremely leptokurtic.

2. Bentuk kerakal di dominasi oleh oblate dan equant, tingkat kebolaan pada
hulu didominasi oleh very elongate sedangkan hilir very equant dengan
nilai kebundaran kerakal dari angular hingga rounded. Sedangkan bentuk
butir pasir didominasi oleh bladed dan equant , tingkat kebolaan dan
tingkat kebundaran yang beragam dikarenakan mekanisme transportasi
yang suspended load.
3. Disepanjang sungai , butir pasir ditransportasikan secara suspended load ,
sedangkan kerakal ditransportasikan secara bedload yaitu rolling, sliding
dan saltasi.
4. Tipe batuan asal sedimen pada Sungai Progo berasal dari dissected arc
dan terbentuk pada saat kondisi iklim sedang kering. Provenance dari
sedimen pada Sungai Progo berasal dari batuan beku mafic dan
intermediet yang merupkan hasil erupsi Gn. Merbabu,Sumbin, dan Merapi
serta hasil erosi Gn. Menoreh.