Anda di halaman 1dari 30

DASAR ( STOIKIOMETRI )

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. DASAR TEORI
Reaksi kimia biasanya antara dua campuran zat, bukannya antar dua zat murni. Suatu bentuk yang
paling lazim dan campuran adalah larutan reaksi kimia tlah mempengaruhi kehidupan kita. Di alam
sebagian besar reaksi berlangsung dalam larutan air. Sebagai contoh cairan tubuh kita, tumbuhan
maupun hewan, merupak larutan dari berbagai jenis zat. Dalam tanah pun reaksi pada umumya
berlangsung dalam lapisan tipis lerutan yang diabsorbsi pada padatan.
Adapun contoh di kehidupan kita sehari-hari yang menggunakan reaksi kimia seperti, makanan
yang kita konsumsi setiap saat setelah dicerna diubah menjadi tenaga tubuh. Nitrogen dan hydrogen
bergabung membentuk ammonia yang digunakan sebagai pupuk. Bahan bakar dan plastik dihasilkan
oleh minyak bumi, pati tanaman dalam daun disintesis dan dan O oleh pengaruh sinar matahari.
Pelajaran yang berkaitan dengan reaksi kimia lazim dikenal sebagi stokiometri. Stokiometri adalah
bagian ilmu kimia yang mempelajar hubungan kunatitatif antara zat yang berkaitan dalam reaksi kimia.
Bila senyawa dicampur untuk bereaksi maka sering tercampur secara kuantitatif stokiometri,
artinya semua reaktan habis pada saat yang sama. Namun demikian terdapat suatu reaksi dimana salah
satu reaktan habis, sedangkan yang lain masih tersisa. Reaktan yang habis disebut pereaksi pembatas.
Dalam setiap persoalan stokiometri, perlu untuk menentukan reaktan yang mana yang terbatas untuk
mengetahui jumlah produk yang dihasilkan. Oleh karena itu percobaan ini dilakukan. Diharapkan kita
mengerti tentang pereaksi pembatas dan pereaksi sisa.
1.2.

Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui titik maksimum dan titik minimum NaOH-HCl
Untuk mengetahui titik maksimum dan titik minimum dari campuran NaOH Untuk menetukan reaksi stokiometri dan non stokiometri

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian stoikiometri
Reaksi kimia telah mempengaruhi kehidupan kita. Sebagai contoh : makanan yang kita konsumsi
setiap saat setelah dicerna berubah menjadi tenaga tubuh. Nitrogen dan Hidrogen bergabungn
membentuk ammonia yang digunakan sebagai pupuk, bahan bakar dan plastic dihasilkan dari minyak
bumi. Pati dalam tanaman dalam daun disintetis dari CO 2 dan H2O oleh pengaruh energi matahari. Jadi
dapat dikatakan bahwa stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari kuantitas produk dan reaktan dalam
reaksi kimia (Chang, 2003). Dengan kata lain stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut
hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi (Syukri S, 1999).
2.2. Hukum-hukum dasar ilmu kimia
2.2.1. Hukum kekekalan massa
Hukum kekekalan massa ditemukan oleh Antonio Lauren Lavoisier (1785) yang berbunyi massa
zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama. Contoh larutan A terdiri dari perak nitrat 3,40 gram dan
25 ml air ditambahkan kedalam larutan B yang terdiri dari 3,92 gram kalium kromat dan 25 ml air.
Pada pencampuran ini terjadi reaksi dan menghasilkan endapan coklat. Setelah selesai dan ditimbang
ternyata bobot campuran larutan A dan B itu tetap, yaitu 57,32 gram.
Berdasarkan hukum kekekalan massa cacah atom tiap unsur ( bersenyawa atau bebas) yang ada
disebelah kiri tanda panah persis sama dengan cacah atom tiap unsur atau senyawa yang ada disebalah
kanan.
2.2.2. Hukum perbandingan tetap
Setelah munculnya hukum kekekalan massa, maka sekitar tahun 1800 Josep Louis Proust
melakukan penelitian tentang hubungan massa unsur-unsur yang membentuk senyawa. Hasil
penelitannya menunjukkan perbandingan massa unsur-unsur yang menbentuk suatu senyawa tetap.
Kemudian lahir hukum proust atau hukum perbandingan tetap yang berbunyi: setiap senyawa
terbentuk dari unsur-unsur dengan perbandingan tetap.
2.2.3. Hukum perbandingan ganda
John Dalton tahun 1804 adalah orang yang pertama kali meneliti kasus adanya perbandingan
tertentu suatu unsur-unsur yang dapat membentuk senyawa lebih dari satu, yang dikenal dengan nama

hukum perbandingan tetap.Hukum Perbandingan Ganda berbunyi; bila dua macam unsur yang sama
banyaknya, massa unsur berikutnya dalam senyawa-senyawa itu akan berbanding sebagai bilangan
bulat positif dan sederhana.
Contoh: pada senyawa antara nitrogen dan oksigen.
Senyawa
Bobot (gram)
Perbandingan massa oksigen
untuk massa nitrogen tetap
Nirogen
Oksigen
Nitrogen monoksida

14

16

1 x 16

Nitrogen dioksida

14

32

2 x 16

Nitrogen trioksida

14

40

3 x 16

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa untuk massa nitrogen tetap maka perbandingan oksigen
dari ketiga tersebut adalah; 1 : 2 : 3
2.2.4. Hukum perbandingan volume
Hubungan antara volume dari gas-gas dalam reaksi kimia telah diselidiki oleh Joseph Louis GayLussac dalam tahun 1905. Hasil penelitian ini lahir hukum perbandingan tetap yang berbunyi: volume
gas-gas yang bereaksi, volume gas-gas hasil reaksi , bila diukur pada suhu dan tekanan yang tetap akan
berbanding sebagai bilangan bilangan bulat dan sederhana.
2.2.5. Hukum Avogadro
Avogadro sangat tertarik mempelajari sifat gas dan pada tahun 1911 avogadro membuat hipotesis
Avogadro yang berbunyi: pada suhu dan tekanan yang tetap, semua gas yang volumenya sama akan
mengandung mokelul yang sama cacahnya (Syukri S 1999).
2.3. Persamaan kimia
Persamaan kimia terdiri dari tiga hal yaitu pereaksi, anak panah dan hasil reaksi. Pereaksi adalah
zat mula-mula yang terdapat sebelum terjadi reaksi. Hasil reaksi adalah zat apa saja yang dihasilkan
selama reaksi kimia berlansung. Suatu reaksi kimia berimbang menujukkan rumus pereaksi kemudian
anak panahdan hasil reaksi dengan jumlah atom dikiri dan di kanan anak panah sama.
Persamaan kimia memberikan dua macam informasi penting yaitu tentang sifat reaktan dan
produk. Sifat reaktan dan produk harus ditentukan secara percobaan. Persamaan reaksi sering
ditunjukkan keadaan fisika reaktan dan produk (Sastrohamidjojo H, 2000).
Keadaan

Symbol

Padat

(p)

Cair

(c)

Gas

(g)

Larutan berair

(aq)

2.3.1. Penulisan rumus kimia

a.
b.
c.
2.3.2.
1.
2.

Rumus suatu zat menyatakan banyaknya atom yang menyusun zat tersebut. Ada beberapa jenis
rumus antara lain:
Rumus Unsur
Rumus unsur kebanyakan unsur ditulis berdasarkan lambangnya baik yang monoatomik seperti Na, Ca,
dan Fe, diatomik seperti; H2, Cl2, dan F2, maupun berupa poliatomik seperti S8 dan P4.
Rumus Empiris
Rumus empiris menyatakan perbandingan bilangan bulat terkecil dari atom-atom yang membentuk
suatu senyawa, misalnya H2O2 mempunyai rumus empiris HO
Rumus molekul
Rumus molekul menyatakan banyaknya atom yang sebenarnya yang terdapat dalam molekul atau
satuan terkecil dari suatu senyawaan.
Menulis persamaan berimbang
Untuk menulis suatu persamaan dapat dilakukan dengan dengan tiga cara yaitu sebagai berikut :
Tulis nama pereaksi, kemudian anak panah, dan kemudian hasil reaksi, (Metana + Oksigen karbon
dioksida + air)
tulis ulang setiap pernyataan itu dengan menggunakan rumus tiap zat, (CH4 + O2 CO2 + H2O)

3. berimbangkan persamaan dengan memilih koefisien bilangan bulat yang sesuai untuk setiap rumus,
(CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O)
Apabila satuan rumus telah dikenali, ini merupakan cara sederhana untuk menentukan bobot
rumus suatu senyawa. Bobot rumus adalah masa dari satuan rumus relatif terhadap massa yang
ditentukan. 1200000 untuk atom karena bobot atom juga relatif terhadap , bobot rumus dapat
ditentukan dengan penjumlahan bobot atom-atomnya. Bilasuatu senyawa menganding molekulmolekul diskrit, dapat juga didefinisikan bobot molekulnya. Bobot molekul adalah massa dari sebuah
molekul terhadap massa yang ditentukan 1200000 untuk satuan atom (Ralph Petrucci, 1987).
Bobot satu mol suatu zat disebut bobot molar. bobot molar dalam gram suatu zat secara numeris
sama dengan bobot molekul dalam satuan massa atom. Untuk menafsirkan persamaan kimia dalam
kuantitas zat yang dapat dipelajari dilaboratorium mula-mula semua kuantitas dinyatakan dalam mol.
Hampir selalu terlalu terdapat pereaksi yang kurang banyak ketimbanag yang dibutuhkan agas
semua pereaksi bersenyawa. Pereaksi pembatas adalah zat yang habis bereaksi saat reaksi kimia.
Pereaksi sisa adalah zat yang masih tertinggal / bersisa pada reaksi kimia. Perhitungan yang didasarkan
persamaan harus dimulai dari banyaknya pereaksi pembatas (keenan, 1984).
Mol dari suatu zat adalah banyaknya susatu zat yang mengandung 6,022 1023 satuan. Konsep mol
sangatlah penting dalam ilmu kimia karena berguna dalam menentukan jumlah partikelzat jika
diketahui massa dan massa relatif. Dalam perhitungan hubungan antara massa dengan mol adalah

Keterangan : n = jumlah mol (mmol)


M = massa zat (M)
V = volume zat (ml)
Konsep mol juga terdapat pada gas dan suhu dengan tekanan yang sama. Persamaan ini dikenal dengan
persamaan gas ideal yang dinyatakan sebagai

atau

Keterangan : T = suhu
n = jumlah mol
P = tekanan gas
V = volume
R = tetapan gas (0,082)
Terdapat banyak metode untuk menentukan presentase bobot dari unsur-unsur yang berbeda dalam
suatu senyawa. Metode ini beraneka ragam tergantung pada mecam senyawa dan unsur yang
menyusunnya. Dua metode klasik yaitu :
a. Metode analisis pengendapan dapat digunakan bila berbentuk senyawa yang sedikit sekali larut.
Misalnya suatu senyawa baru mengandung perak, maka dapat dilarutkan. Persentase perak dapat
dihitung dengan :

atau

b. Metode analisis pembakaran digunakan secara meluas. Jika suatu zat mengandung karbon dan
hydrogen. Contoh senyawa itu setelah ditimbang dapat dibakar dalam suatu tabung tertutup dalam
suatu aliran oksigen, untuk menghasilkan karbon dioksida dan air. Produk pembakaran dikeluarkan dari
tabung dengan aliran oksigen kedalam 2 bahan penyerap, satu penyerap air dan lainnya menyerap
karbon dioksida (Keenan, 1984)
Dengan mengetahui beberapa sifat jenis reaksi, kita dapat menerangkan reaksi-reaksi kimia lebih
mudah untuk dipahami. Jenis-jenis reaksi kimia antara lain :
1. Reksi pembakaran adalah suatu reaksi dimana unsur atau senyawa bergabing dengan oksigen
membentuk senyawa yang mengandung oksigen sederhana. Misalnya (CO2, H2O, dan lain-lain)
2. Reaksi penggabungan (sintesis) adalah suatu reaksi dimana sebuah zat yang lebih kompleks terbentuk
dari dua atau lebih zat yang lebih sederhana (baik unsur maupun senyawa).
3. Reaksi penguraian adalah suatu reaksi dimana suatu zat dipisah menjadi zat-zat yang lebih sederhana.

4. Reaksi penggantian adalah suatu reaksi dimana sebuah unsur memindahkan unsur lain dalam suatu
senyawa.
2.4. Persamaan Reaksi Setara
Persamaan reaksi setara adalah persamaan yang menunjukkan jumlah atom yang sama antara
reaktan maupun produk. Contohnya :
H2 + 1/2O2 H2O
Jumlah atom hydrogen dan oksigen dalam reaktan maupun produk adalah sama.
2.4.1. Hukum boyle
Hukum boyle berbunyi pada suhu dan jumlah mol yang sama, maka hasil kali tekanan dan volume
selalu sama.
Keterangan : P = tekanan zat
V = volume zat
2.4.2. Hukum Boyle Gay Lussac
Hukum Boyle Gay Lussac berbunyi : untuk gas dengan massa tertentu, massa hasil kali volume
dengan tekanan dibagi oleh suhu yang diukur dalam Kelvin adalah tetap. Untuk gas-gas yang
jumlahnya sama, maka berlaku :

2.4.3. Hukum Dalton


Hukum Dalton berbunyi : tekanan total dari campuran berbagai macam gas sama dengan jumlah
tekanan parsial dan gas-gas yang saling bercampur tersebut.

Ptotal = P1 + P2 + P3

Ada dua jenis reaksi kimia yang dibedakan berdasarkan pana, yaitu :
Reaksi eksoterm
Reaksi eksoterm adalah reaksi kimia yang melepas kalor. Kalor yang berpindah dari system ke
lingkungan. Perubahan entalpi bernilai negative.
Reaksi endoterm
Reaksi endoterm adalah reaksi kimia yang menyerap kalor. Kalor berpindah dari lingkungan ke system.
Perubahan entalpi bernilai positif.

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1.
3.1.1.
3.1.2.
3.2.
3.2.1.
-

Alat dan Bahan


Alat-alat
Gelas kimi 100 ml
Termometer
Gelas ukur 25 ml
Pipet tetes
Bahan-bahan
Larutan NaOH 1 M
Larutan HCL 1 M
Larutan 1 M
Akuades
Tisu
Prosedur Percobaan
Sistem NaOH HCL
Dituang 2 ml NaOH 1 M kedalam gelas kimia
Diukur suhu NaOH menggunakan termometer
Dicuci/dibersihkan termometernya
Dituang 6 ml HCL kedalam gelas ukur
Diukur suhu HCL

3.2.2.
-

Dibersihkan kembali termometernya


Digabungkan larutan NaOH dengan HCL ke dalam gelas kimia
Diukur suhu campurannya
Dilakukan kembali langkah itu pada 4 ml NaOH dan 4 ml HCL, lalu 6 ml NaOH dan 2 ml HCL
Sistem NaOH Dituang 2 ml NaOH 1 M kedalam gelas kimia
Diukur suhu NaOH menggunakan termometer
Dibersihkan termometernya
Dituang 6 ml kedalam gelas ukur
Diukur suhu
Dibersihkan kembali termometernya
Digabungkan larutan NaOH dengan ke dalam gelas kimia
Diukur suhu campurannya
Dilakukan kembali langkah itu pada 4 ml NaOH dan 4 ml , lalu 6 ml NaOH dan 2 ml

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
4.2.1. Stokiometri sistem NaOH HCL
No. NaOH 1 M HCL 1 M

campuran

2 ml

6 ml

30

30

30,6

4 ml

4 ml

30,5

29,5

32,1

6 ml

2ml

29

29

31

1M

NaOH

campuran

2 ml

6 ml

30

30

30,6

4 ml

4 ml

30,5

29,5

32,1

6 ml

2ml

29

29

31

Reaksi dan Perhitungan


Reaksi
NaOH + HCL NaCL + O
2NaOH +
+O
Perhitungan
Sistem stokiometri NaOH + HCL
Diketahui :
V NaOH
V HCL
M NaOH
M HCL

HCL

4.2.2. Stokiometri sistem NaOH No. NaOH 1 M

4.2.
4.2.1.
4.2.2.1.
4.2.2.2.
4.2.2.
4.2.2.1.

NaOH

: 2 ml
: 6 ml
:1M
:1M

Ditanya :
Pereaksi pembatas
Pereaksi sisa
Jawab :

Diketahui :
V NaOH
V HCL
M NaOH
M HCL

: 4 ml
: 4 ml
:1M
:1M

Ditanya :
Pereaksi pembatas
Pereaksi sisa
Jawab :

Diketahui :
V NaOH
V HCL
M NaOH
M HCL

: 6 ml
: 2 ml
:1M
:1M

Ditanya :
Pereaksi pembatas
Pereaksi sisa
Jawab :

4.2.2.2. Stokiometri sistem NaOH +


Diketahui :
V NaOH
V
M NaOH
M

: 2 ml
: 6 ml
:1M
:1M

Ditanya :
Pereaksi pembatas
Pereaksi sisa
Jawab :

Diketahui :
V NaOH
V
M NaOH
M :1M

: 4 ml
: 4 ml
:1M

Ditanya :
Pereaksi pembatas
Pereaksi sisa
Jawab :

Diketahui :
V NaOH
V
M NaOH
M

: 6 ml
: 2 ml
:1M
:1M

Ditanya :
Pereaksi pembatas
Pereaksi sisa
Jawab :

4.3. Grafik
4.2.1. Grafik Stokiometri Sistem NaOH - HCL

4.2.2. Grafik Stokiometri Sistem NaOH - H2SO4

4.4. Pembahasan
Stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat
dalam reaksi. Reaksi stoikiometri adalah suatu reaksi kimia dimana pereaksi dalam reaksi tersebur
habis bereaksi, sehingga tidak ada mol sisa dalam pereaksi atau tidak ada pereaksi pembatas. Dala
suatu reaksi juga terdapat reaksi eksoterm dan endoterm. Reaksi eksoterm apabila kalor berpindah dari
system ke lingkungan sehingga suhu disekitar larutan menjadi panas sedangkan reaksi endoterm adalah
apabila kalor berpindah dari lingkungan ke sisitem, sehingga suhu system menjadi lebih dingin.
Apabila suatu larutan berbeda dicampurkan biasanya terjadi perubahan sifat fisik, seperti
perubahan warna, suhu, bentuk, dan lain lain. Dalam parktikum ini yang dibahas adalah perubahan
suhu. Suhu terendah dari suatu campuran disebut titik minimum sedangkan suhu tertinggi dari suatu
campuran disebut titik maksimum. Biasanya titik maksimum didapat apabila reaksi tersebut adalah
stoikiometri.
Dalam suatu reaksi tidak semua reaktan habis. Terkadang dijumpai salah satu reaktan habis
bereaksi duluan sehingga membatasi berlanjutnya reaksi, pereaksi ini disebut pereaksi pembatas. Dari
adanya pereaksi pembatas maka terdapat reaksi yang belum bereaksi karena pereaksi yang lain sudah
habis duluan, pereaksi yang bersisa ini disebut pereaksi sisa.
Percobaan pertama dilakkan dengan 3 perlakuan yang berbeda. Perlakuan pertama yaitu dengan
mencampurkan 2 ml NaOH 2 M dan 6 ml HCL 1 M dengan pengukuran thermometer didapat suhu
NaOH adalah 30 , suhu HCL adalah 30 dan suhu campuran adalah 30,6 . Reaksi ini termasuk reaksi
non stoikiometri karena NaOH telah habis bereaksi duluan dan HCL masih barsisa. Atau NaOH
merupakan pereaksi pembatas dan HCL merupakan pereaksi sisa. Pada perlukuan yang kedua yaitu
dengan mencampurkan 4 ml NaOH 1 M dan 4 ml HCL 1 M dalam pengukuran menggunakan
thermometer didapat suhu NaOH = 30 , suhu HCL adalah 29,5 , dan suhu campurannya adalah 32,1 .
Reaksi ini termasuk dalam reaksi stoikiometri karena kedua reaktan habis bereaksi. Dan pada
perlakuan yang ketiga yaitu dengan mencampurkan 6 ml NaOH dan 2 ml HCL. Dalam pengukuran
menggunakan thermometer didapat suhu NaOH = 29 , suhu HCL = 29 sedangkan suhu campurannya
adalah 31 reaksi inimerupakan reaksi non stoikiometri karena terdapat pereaksi pembatas dan pereaksi
sisa. Dimana pereaksi pembatasnya adalah HCL dan pereaksi sisanya adalah NaOH. Dari percobaan
pertama didapat titik maksimumnya 32,1 yaitu pada saat keadaan reaksi stoikiometri dan didapat titik
minimumya 30,6 .
Percobaan di atas menggunakan reagen NaOH yang bersifat basa dan larutan HCL yang bersifat
asam yang apabila kedua larutan dicampurkan akan didapat garam NaCl yang kemudian diukur
suhunya menggunakan thermometer agar dapat diketahui suhu setelah dicampurkan kemudian diaduk
agar kedua larutan dihomogenkan. Pada pembuatan larutan 1 M digunakan akuades untuk
mengencerkan larutan.
Pada percobaan kedua digunakan reagen NaOH 1 M yang bersifat basa dan yang bersifat asam.
Yang apabila dicampurkan akan menjadi garam dan juga digunakan akuades untuk mengencerkan
larutan NaOH dan menjadi 1 M. percobaan kedua dilakukan dengan mencampurkan larutan kemudian
diaduk agar larutan menjadi homogen kemudian diukur suhunya agar dapat diketahui tinggi suhunya.
Percobaan kedua juga dilakukan tiga perlakuan berbeda yang pertama yaitu mencampukan 2 ml NaOH
dengan 6 ml dan didapat suhu NaOH adalah 28 , suhu dan suhu campurannya reaksi ini termasuk
dalam reaksi non stokiometri karena terdapat NaOH sebagai pereaksi pembatas dan sebagai pereaksi
sisa. Perlakuan kedua adalah dengan mencampurkan 4 ml NaOH dan 4 ml dan didapat suhu NaOH
adalah , suhu adalah dan suhu campurannya adalah . Reaksi ini juga termasuk dalam reaksi non
stokiometri karena terdapat NaOH sebagai pereaksi pembatas dan sebagai pereaksi sisa. Pada
perlakuan ketiga dicampurkan 6 ml NaOH dan 2 ml dan didapat suhu NaOH adalah , suhu adalah dan
suhu campurannya adalah . Reaksi ini juga merupakan reaksi non stokiometri karena terdapat NaOH
sebagai pereaksi dansebagai pereaksi pembatas. Dan pada percobaan kedua ini didapat titik
maksimumnya adalah dan titik minimumnya adalah .
Dari kedua percobaan diatas dapat kita buat garfik suhu terhadap jumlah volume masing masing
reagen. Pada grafik 4.3.1 dapat kita lihat apabila semakin banyak pereaksi yang beraksi atau semakin
sedikit pereaksi yang bersisa maka perubahan suhu semakin tinggi sehingga pada percampuran 4 ml
NaOH 1 M dan 4 ml HCL 1 M merupakan suhu tertinggi karena reaksi tersebut merupakan reaksi

stoikiometri. Dan pada grafik 4.3.2 juga membuktikan semakin sedikit konsentrasi pereaksi sisa
semakin tinggi perubahan suhunya. Dan didapat tertinggi pada campuran 6 ml NaOH dan 2 ml .
Dalam praktikum ini terdapat beberapa factor kesalahan yang membuat hasil percobaan kurang
akurat yaitu ketika pengukuran suhu menggunakan thermometer.Thermometer mengenai dinding gelas
kimia dan tangan pada saat memegang thermometer kurang ke atas, selain itu suhu ruangan yang
kurang stabil serta pipet yang digunakan telah di gunakan pada larutan.
Dalam percobaan reagen dimasukkan kedalam gelas kimia, di ukur sesuai volume yang
diperlukan. Dan diukur menggunakan thermometer, hal ini berfungsi agar mendapatkan suhu yang
akurat dari masing masing reagen dengan volume yang berbeda. Lalu reagen dicampur dan
diguncang sedikit agar reagennya tercampur. Kemudian diukur suhu campurannya dengan thermometer
agar dapat diketahui suhu campuran tertinggi dan dapat ditentukan yang stoikiometri.

BAB 5
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
- Titik maksimum dari campuran NaOH HCL adalah , sedangkan titik minimum dari
campuran NaOH HCL adalah .
- Titik maksimum dari campuran NaOH adalah , sedangkan titik minimum dari campuranNaOH
adalah
- Reaksi stokiometri adalah reaksi yang pereaksinya habis bereaksi membentuk hasil reaksi/produk.
Contohnya pada stokiometri sistem NaOH HCL. Pada NaOH 4 ml dalam 1 M dan HCL 1 M pada 4
ml. sedangkanreaksi non stokiometri adalah reaksi yang pereaksinya tidak habis bereaksi membentuk
hasil reaksi / produk. Contohnya pada stokiometri sistem NaOH .
5.2. Saran
Sebaiknya bahan-bahan yang diujikan ditambah agar praktikan dapt mengetahui perbandingan laju
reaksi dari larutan lainnya seperti dan .

DAFTAR PUSTAKA
Keenan. 1984. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga
Petrucci., Ralp. 1987. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga
S, syukri. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: ITB
Sastrohamidjojo, H. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta: UGM
http://www.slideshare.net/setyawatiDK/resensi-33680646

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR
STOIKIOMETRI

OLEH:

NAMA
NIM

: JUMRAN
: 20600113036
GOLONGAN : D
KELOMPOK : 2
ASISTEN

: TAZKIYATUN NAFSI

LABORATORIUM KIMIA DASAR


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2013

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita selalu menjumpai hal-hal yang berkaitan
dengan stoikiometri, baik yang terdapat di alam,laboratorium,industry atau pabrik,
maupun dilingkungan sekitar kita. Salah satu contoh stoikiometri yang ada di lingkungan
kita misalnya, makanan yang kita konsumsi setiap hari setelah dicerna dan diubah
menjadi tenaga bagi tubuh. Contoh lain misalnya seorang ibu rumah tangga yang
mempunyai hobby menanam bunga anggrek dan tanaman hias lainnya, dia ingin
menyemprot tanaman kesayangannya dengan pupuk langsung kedaunnya, hal ini
membuat dia harus membuat larutan dengan konsentrasi tertentu.
Adapun yang dapat kita temukan dialam misalnya, nitrogen dan hydrogen
bergabung membentuk ammonia yang digunakan sebagai pupuk dan bahan bakar yang
dihasilkan oleh minyak bumi, ada pula beberapa bahan baku yang diperlukan jika kita
ingin memperoleh jumlah atau hasil tertentu, contoh pada industry atau pabrik
pertambangan yang dapat menjelaskan kualitas bijih, karena persen komposisi massa
dari unsure-unsur dalam senyawa dapat dihitung dengan cepat. Ini juga termasuk dalam
hukum ilmu kimia tentang hukum perbandingan massa. Selain itu contoh lain tentang
stoikiometri misalnya hubungan perbandingan antara pria dan wanita dalam perlombaan
dansa disebuah klub, jika ada empat belas orang pria dan hanya Sembilan orang wanita
maka hanya Sembilan pasangan yang akan terjadi antara pria dengan wanita yang dapat
bertanding dan lima orang pria akan tersisa tanpa pasangan, jadi jumlah wanita
membatasi jumlah pria serta ada beberapa pria yang berlebihan jumlahnya.
Oleh karena itu, berdasarkan uraian diatas maka dengan melakukan praktikum
dengan judul percobaan stoikiometri mempunyai tujuan agar praktikan mampu
mengetahui dan menentukan titik stoikiometri sistem NaOH dan H 2SO4.

B.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada percobaan ini adalah Bagaimana cara menentukan titik
stoikiometri sistem NaOH dan H2SO4 ?

C.

Tujuan
Tujuan diadakan percobaan ini adalah Untuk mengetahui cara menentukan titik
stoikiometri sistem NaOH dan H2SO4.

D.

Waktu dan Tempat


Pada praktikum ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal

: Sabtu / 28 Desember 2013

Waktu

: 11.30 s.d 01.00 WITA

Tempat

: Laboratorium Kimia
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

UIN Alauddin Makassar

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Ilmu kimia adalah ilmu yang berdasarkan percobaan. Setelah mempelajari


beberapa teori, seseorang dapat menuliskan rumus atau senyawa, misalnya BaSO 4 untuk
barium sulfat. Demikian pula anda dengan mudah menuliskan suatu senyawa.
Dalam percobaan ini akan dipelajari salah satu cara yang mudah untuk
menentukan stoikhiometri suatu reaksi. Dasar dari percobaan ini adalah metoda variasi
kontinu yang dilakukan dengan cara deretan pengamatan kuantitas total yang sama
tetapi masing-masing kuantitas pereksinya bereaksi. Sifat sistem yang dapat diamati
antara lain : massa, volume, temperature, dan daya serap. Oleh karena kuantitas
pereaksi

berlainan,

perubahan

harga

dari

sifat

sistem

dapat

digunakan

untuk

meramalkan stoikhiometri sistem. Bila sifat sistem dialurkan terhadap kuantitas


pereaksinya, akan diperoleh suatu stoikhiometri sistem yakni menyatakan perbandingan
komposisi pereksi-pereaksi dalam senyawa. Sebagai contoh pengamatan massa endapan
yang terbentuk dari hasil antara AgNO 3 diperoleh kurva yang terbentuk seperti kurva
dibawah ini. [1]

A. Pengertian Stoikhiometri
Kata stoikhiometri berasal dari bahasa yunani yaitu stoicheion, yang artinya unsur
dan metron yang artinya mengukur. Dari literatur, stoikhiometri artinya mengukur unsurunsur. Istilah ini umumnya digunakan lebih luas yaitu meliputi bermacam pengukuran
yang lebih luas dan meliputi perhitungan zat dan pencampuran kimia.
Stoikhiometri adalah ilmu yang mempelajari kuantitas produk dan reaktan dalam
reaksi kimia. Perhitungan stoikhiometri paling baik dikerjakan dengan menyatakan
kuantitas yang diketahui dan yang tidak diketahui dalam mol dan kemudian bila perlu
dikonversi menjadi satuan lain. Pereaksi pembatas adalah reaktan yang ada dalam
jumlah stoikhiometri terkecil. Reaktan ini membatasi jumlah produk yang dapat dibentuk.
Jumlah produk yang dihasilkan dalam suatu reaksi (hasil sebenarnya) mungkin lebih kecil
dari jumlah maksimum yang mungkin diperoleh.

B.

Hukum-Hukum dasar ilmu kimia


Menurut MKU-IAD UNHAS. 2008. Kimia dasar, yaitu :
1. Hukum kekekalan massa
Penelaahan reaksi kimia secara kuantitatif dapat memberi

informasi

tentang

perubahan kimia yang mungkin terjadi. Pada kondisi normal, suhu 25oC, tekanan 1 atm
perubahan kimia juga disertai dengan perubahan massa yang berubah menjadi energi
tetapi karena perubahan massa ini kecil sekali, perubahan dapat diabaikan. Peristiwa ini
sesuai dengan hukum kekekalan massa, yaitu massa zat sebelum dan sesudah reaksi
sama.[2]

Contoh :
Larutan A terdiri dari 3,40 gram perak nitrat dan 25 gram air ditambahkan
kedalam larutan B yang terdiri dari 3,92 kalium kromat dan 25 gram air. Pada
pencampuran ini terjadi reaksi dan menghasilkan endapan coklat. Setelah reaksi selesai
dan ditimbang ternyata berat campuran larutan A dan B itu tetap, yaitu 57,32 gram.
Gambaran diatas dapat diringkaskan seperti reaksi berikut :
2AgNO3 + K2CrO4
Ag2CrO4 + 2 KNO3
Berdasarkan hukum kekekalan massa nampak disini bahwa jumlah atom tiap unsur
(bersenyawa atau bebas) yang ada disebelah kiri tanda panah persis sama dengan
jumlah atom tiap unsur yang ada disebelah kanan tanda panah.
2.

Hukum perbandingan tetap


Setelah diketahui adanya hubungan antara massa zat sebelum dan sesedah reaksi
kimia, dengan munculnya hukum kekekalan massa, maka pada tahun 1799 jossep lowwis
proust melakukan penelitian hubungan massa unsur-unsur yang membentuk suatu
senyawa.

Hasil

penelitiannnya

menunjukan

bahwa

senyawa

yang

mengandung unsur-unsur penyusunan dalam perbandingan yang sama.

sama

selalu

Sususnan unsur-unsur dalam suatu senyawa dapat ditentukan dengan cara analisis
kimia,

berdasarkan

hasil

analisis

itu

dapat

ditentukan

rumus kimia

dari

yang

bersangkutan. Sebagai contoh senyawa besi solpida, dimana perbandingan massa besi
dan belerang

tetap yaitu 7 : 4. Contoh lain misalnya air yang perbandingan massa hidrogen dan
oksigen juga tetap yaitu 1 : 8. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, proust
mengusulkan suatu hukum yang kemudian dikenal dengan istilah hukum proust (hukum
perbandingan tetap).
3.

Hukum perbandingan ganda


Pecobaan-percobaaan yang dikembangkan setelah adanya hukum kekekalan
massa dan perbandingan tetap ini menunjukan bahwa ada beberapa pasangan unsurunsur yang membentuk suatu senyawa dengan lebih dari satu macam perbandingan
massa yang tetap.
John dalton adalah orang yang pertama kali meneliti kasus tersebut dalam tahun
1804. Sebagai gambaran atas temuan john dalton itu, misalnya senyawa CO dan CO 2.
Pada senyawa Co dan CO2 perbandingan massa karbon dan oksigen adalah 3 : 4,
sedangkan pada senyawa CO 2 perbandingan massa antara karbon dan oksigen adalah 3 :
8. Data ini menunjukan bahwa perbandingan massa oksigen dalam senyawa CO dan CO2
dengan massa karbon yang sama adalah 4 : 8 atau 1 : 2 .

4.

Hukum perbandingan volume


Hubungan antara volume-volume dari gas-gas dalam reaksi kimia telah diselidiki
oleh joseph louis gay-lussac dalam tahun 1905. Konsep hubungan antara volume gas-gas
yang bereaksi dengan volume gas-gas yang dihasilkandari reaksi tersebut sangat
berguna untuk menjelskan tentang proses reaksi kimia yang terjadi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa volume-volume gas yang bereaksi


dan gas hasil reaksi, bila diukur pada suhu tekanan yang sama akan berbanding sebagai
bilangan yang bulat dan sederhana.
5.

Hukum Avogadro
Pada tahun 1911, amadeo dan avogadro membuat hipotesis untuk menjelaskan
bagaimana gas-gas itu bereaksi seperti apa yang diungkapkan oleh gay lussac. Hipotesisi
yang diajukan oleh avogadro adalah pada suhu dan tekanan tetap, semua gas yang
volumenya sama akan mengandung molekul yang sama jumlahnya. Dengan demikian
perbandingan volum sama dengan perbandingan molekul.

-Bobot Atom (Atomic Weights)


Atom begitu kecil sehingga sukar untuk membandingkan dengan benda apa saja
yang kita kenal. Dengan tiga angka bermakna, bobot sebuah atom hidrogen 1,67x10 -24 g,
bobot ato karbon 1,99x10 -23 g, dan bobot atom oksigen 2,66x10 -23 g. Penggunaan

bilangan

yang

begitu

kecil

untuk

menyatakan

bobot

atom-atom

ini

sangatlah

merepotkan. Daftar lengkap bobot atom unsur terdapat dalam halaman sampul belakang
dalam dari buku ini. Bobot atom relatif ini berbanding lurus dengan bobot sebenarnya
atom-atom itu.

-Bobot Molekul
Bobot molekul suatu zat ialah jumlah bobot (dari) atom-atom yang ditunjukkan
dalam rumusnya. Contoh menggambarkan perhitungan bobot molekul. Bobot molekul
beberapa zat, adalah sebagai berikut: [3]

a.

Semua harga dibulatkan ke tiga angka di belakang koma desimal, setelah

menggunakan bobot atom yang tercantum dalam halaman sampul belakang dalam.

Hitung bobot molekul hidrogen sulfar, H2SO4, dari bobot atom berikut: H, 1, 0075 sma;
0,15,999 sma ; dan S, 32,06 sma.

Larutan dalam satu molekul H2SO4,


Bobot H = 2 X 1,0079 sma = 2,0158 sma
Bobot O = 4 X 15,199 sma = 63,996 sma
Bobot S = 1 X 32,06

sma = 32,06 sma

Bobot satu molekul H2SO4 = 98,0718 = 98,07 sma


Suatu reaksi berimbang merupakan dasar untuk menghitung hubungan bobot pereaksi
dan hasil-reaksi. Sesuai hukum pelestarian massa, bobot total pereaksi sama dengan
bobot total hasil-reaksi dalam suatu persamaan berimbang. Perhatikan persamaan dalam
contoh 2.1, misalnya:

2AI
2 satuan

3Br2

3 satuan

2 satuan

2(26,98) sma + 3(26,98) sma


53,96 sma

2AlBr3

2(26,98 + 3(79,904)} sma

479,42 sma
533,38 sma

533,38 sma
=

533,38 sma

Dengan ditafsirkan demikian, persamaan itu menunjukkan hubungan bobot bila dua atom
aluminium bereaksi dengan tiga molekul brom.

Atom-atom begitu kecil sehingga tidak mungkin dalam karya laboratorium biasa
mempelajari reaksi antara hanya dua atom, atau bahkan antara 2000 atom. Kuantitas
sesedikit itu tak dapat ditimbang pada neraca yang peka sekalipun.magar dapat
menggunakan persamaan untuk memberikan banyaknya zat dengan mana orang dapat
benar-benar bekerja di laboratorium, ahli kimia menemukan suatu satuan yang disebut
mol.

Bobot atom karbon dengan empat angka bermakna ialah 12,01 sma. Berapa
banyak atom karbon dalam 12,01 g karbon? Metode eksperimen modern membuktikan
bahwa banyak atom itu adalah 6,022 X 10 . bilangan raksasa ini disebut bilangan
Avogadro, untuk memperingati jasa Amadeo Avogadro, rekan se zaman Dalton yang
cerdas. Bobot 6,022 X 10 atom oksigen ialah 16,00 g; bobot 16,022 X 10 molekul
karbon monoksida, C, ialah 28,01 g; dan bobot molekul karbon dioksida CO2, ialah 44,01
g. Mol dari suatu zat ialah banyaknya zat itu yang mengandung 6,22 X 10 satuan.

Bobot satu molekul suatu zat bobot Molar.bobot molar dalam gram suatu zat
secara numeris sma dengan bobot molekul dalam satuan massa atom. Bobot molekul
asam sulfat. H2SO4, yang dihitung dalam contoh 2,4, ialah 98,07 sma. Untuk
menyatakan bobot molar H2SO4, yang harus dilakukan ialah mengubah satuan dari
satuan massa atom menjadi satuan gram. Jadi bobot molarnya ialah 98,07 g. [4]

BAB III
METODOLOGI EXPERIMEN

A. Alat dan Bahan


1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
a)
b)
c)
d)
e)

Batang pengaduk
Gelas kimia 25 mL
Gelas Kimia 50 mL
Gelas kimia 10 mL
Pipet Volum 50 mL

1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1 buah

f) Pipet Volum 20 mL
g) Termometer
2.

1 buah
1 buah

Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. H2SO4
2. NaOH

B.

0,5 M
1M

50 mL
50 mL

Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut:

Tahap 1
1.

Memasukkan 20 mL NaOH 1M kedalam gelas kimia dan mencatat temperaturnya (suhu

2.
3.

awal).
Menyiapkan 5 mL H2SO4 0,5 M (yang sudah diketahui suhunya).
Menuangkan secara perlahan (sambil mengaduk) larutan H 2SO4 kedalam gelas kimia

yang berisi larutan NaOH.


4. Mencatat suhu optimum (suhu akhir) dari pencampuran tersebut.

5.

Mengerjakan langkah 1 sampai 4 diatas sebanyak 3 kali dan menghitung suhu rata-rata

6.

tahap 1,2,3 dan 4.


Memasukkan 15 mL NaOH 1M kedalam gelas kimia dan mencatat temperaturnya (suhu

7.
8.

awal).
Menyiapkan 10 mL H2SO4 0,5 M (yang sudah diketahui suhunya).
Menuangkan secara perlahan (sambil mengaduk) larutan H 2SO4 kedalam gelas kimia

yang berisi larutan NaOH.


9. Mencatat suhu optimum (suhu akhir) dari pencampuran tersebut.
10. Memasukkan 10 mL NaOH 1M kedalam gelas kimia dan mencatat temperaturnya (suhu
awal).
11. Menyiapkan 15 mL H2SO4 0,5 M (yang sudah diketahui suhunya).
12. Menuangkan secara perlahan (sambil mengaduk) larutan H 2SO4 kedalam gelas kimia
yang berisi larutan NaOH.
13. Mencatat suhu optimum (suhu akhir) dari pencampuran tersebut.
14. Memasukkan 5 mL NaOH 1M kedalam gelas kimia dan mencatat temperaturnya (suhu
awal).
15. Menyiapkan 20 mL H2SO4 0,5 M (yang sudah diketahui suhunya).
16. Menuangkan secara perlahan (sambil mengaduk) larutan H 2SO4 kedalam gelas kimia
17.
18.
19.
20.
21.

yang berisi larutan NaOH.


Mencatat suhu optimum (suhu akhir) dari pencampuran tersebut.
Buat kurva antara suhu rata-rata vs volume H 2SO4 atau volume NaOH.
Tentukan titik stoikhiometri.
Tuliskan reaksi yang terjadi.
Tentukan konsentrasi hasil reaksi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Hasil Pengamatan
Suhu Awal (C)

Suhu

Volume (mL)

akhir

Suhu (C)

(C)
TO-1

TO-2

TO

TA-1

TA-TO

ratarata
NaOH

H2SO4

20

30

31

30,5

32

1,5

15

10

30

30

30

32

10

15

31

31

31

33

20

30

30

30

33

Tabel 4.1 ( Pengamatan suhu larutan NaOH dan H 2SO4 )


2. Grafik
Grafik antara suhu rata-rata vs volume H2SO4 atau volume NaOH adalah:

Grafik 4.1 (Hubungan volume H2SO4)


3. Analisis Data
Analisis data yang diperoleh adalah sebagai berikut :
Volume NaOH yang diperoleh pada titik stoikiometri adalah 10 mL, maka molnya.
Mol NaOH

= M V
=1M10 mL
=10 mmol

=10.10-3 mol
Karena 1 mol H2SO4 ekuivalen dengan 2 mol Na2SO4 maka
Mol H2SO4 =1/2 10 mol
=5 m mol
=5.10-3 mol
3. Reaksi
2NaOH + H2SO4 Na2SO4 + 2H2O

B.

Pembahasan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka diperoleh titik stoikiometri
dengan membuat kurva dan titik tertinggi stoikiometri yang diperoleh adalah

1.

Tahap 1
Pada tahap ini volume NaOH 20 mL dengan suhu awal 30C dan volume H 2SO4 5
mL dengan suhu awal 31C diperoleh TO rata-rata 30,5C setelah dicampur dan diukur
suhu akhirnya yaitu 32 TA-TO = 1,5C.

2.

Tahap 2
Pada tahap ini volume NaOH 15 mL dengan suhu awal 30C dan volume H 2SO4 10
mL dengan suhu awal 30C diperoleh TO rata-rata 30C setelah dicampur dan diukur
suhu akhirnya yaitu 32 TA-TO = 2C.

Pada tahap ini volume NaOH 10 mL dengan suhu awal 31C dan volume H 2SO4 15
mL dengan suhu awal 31C diperoleh TO rata-rata 31C setelah dicampur dan diukur
suhu akhirnya yaitu 33 TA-TO = 2C.
Pada tahap ini volume NaOH 5 mL dengan suhu awal 30C dan volume H 2SO4 20
mL dengan suhu awal 30C diperoleh TO rata-rata 30C setelah dicampur dan diukur
suhu akhirnya yaitu 33 TA-TO = 3C.
Pada percobaan ini ada beberapa hal yang mempengaruhi mengapa perubahan
suhu pada setiap tahap percobaan berbeda-beda dan bahkan penunjukan skala
thermometer terkadang tidak bergerak atau tetap pada keadaan semula, hal ini terjadi
karena adanya pengaruh suhu ruangan pada saat melakukan praktikum dan pada saat
mencuci gelas kimia yang masih belum kering atau masih terdapat air, selain itu pada
saat proses pengisapan larutan melalui pipet isap terkadang melampaui batas skala
ukuran yang telah ditentukan karena pada saat dihisap kita tidak bisa dengan tepat

sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Sehingga hal ini mempengaruhi larutan karena
kadang terlalu banyak sehingga penunjukan suhunya juga kadang tidak stabil, selain itu
dalam membaca skala juga terkadang praktikan mempunyai kesalahan dalam membaca
skalanya karena pandangan mata tidak tepat tegak lurus dengan objek yang akan
diamati. Titik stoikiometri.

BAB V
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah bahwa titik stoikhiometri
larutan H2SO4 berada pada titik (20,3).

B.
1.

Saran
Saran yang dapat saya asumsikan setelah percobaan ini adalah sebagai berikut :
Sebelum melakukan praktikum, praktikan harus menguasai materi yang berhubungan

2.
3.

dengan praktikum.
Praktikan harus teliti dalam menggunakan alat dan bahan.
Diharapkan agar praktikan menjaga kebersihan laboratorium sebelum dan sesudah
praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Charles w, Keenan. 1984. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Jakarta: ANDI.
Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga.
Dosen Kimia Dasar UNHAS,. 2008. Kimia UNHAS. Makassar: UNHAS.
Tim Dosen UIN. 2013. Praktikum Kimia Dasar. Makassar: Press UIN Alauddin Makassar.
http://semuacoretankuliah.blogspot.com

http://fisika-atom.blogspot.co.id/2014/03/contoh-laporan-stoikiometri.html
http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&ved=0CCYQFjABahUKEwjTnnns_vHAhUHGY4KHXPyCmc&url=http%3A%2F%2Fjurnal-online.um.ac.id%2Fdata
%2Fartikel
%2Fartikel7F7F118BC926A07FFCA0AACAABEF48BC.pdf&usg=AFQjCNGgSG9eyX_C1VsBV
2ur9LzoNXwHhw&sig2=5uwGu5gpdp6iIO-NO8XA2Q

Teori adalah seperangkat konsep, defenisi dan proposisi yang berusaha menjelaskan hubungan
sistematis suatu fenomena, dengan cara memerinci hubungan sebab-akibat yang terjadi.
Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti.
Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut
Hukum ilmiah merupakan sebuah konsep yang berhubungan dengan teori ilmiah. Sedangkan teori ilmiah
yang bergantung pada sebuah prinsip sederhana sering di sebut sebagai hukum ilmiah. Sebagai contoh
adalah umum untuk menemukan referensi terhadap hukum grafitasi, hukum seleksi atam, ataupun
hukum termodinamika.

Hukum ilmiah
Hukum ilmiah adalah suatu pernyataan fakta yang bertujuan untuk menggambarkan kejadian atau
kejadian-kejadian dengan term yang jelas. Biasanya diterima secara benar dan universal. Kadang
merupakan sebuah persamaan matematis. Hukum adalah generalisasi dari observasi-observasi. Hukum
Ilmiah menggambarkan tapi tidak menjelaskannya. Untuk membedakan antara hukum dan teori adalah
bahwa hukum tidak menjelaskan mengapa. Contohnya adalah hukum gravitasi Newton. Dia bisa
memprediksi sifat benda jatuh tapi tidak menjelaskan kenapa.
Hipotesis
Adalah perkiraan kaum terpelajar mengenai observasi. Hipotesis adalah ide atau preposisi yang bisa
dites dengan observasi atau eksperimen. Itu adalah penjelasan rasional dari sebuah kejadian atau
fenomena berdasar dari pengamatan, namun belum dibuktikan. Biasanya hipotesis bisa di dukung atau
disangkal melalui eksperimen dan observasi, Hipotesis bisa dibuktikan salah, tapi tidak bisa dibuktikan
benar. Agar bisa menjadi ilmiah hipotesis haruslah Falsifiable, artinya harus bisa dibuktikan salah.
Teori
Teori ilmiah merangkum hipotesis atau hipotesis-hipotesis yang telah didukung dengan tes yang
berulang. Teori valid selama tidak ada bukti yang melawannya. Karena itu teori bisa dibuktikan salah.
Teori juga bisa dikatakan hipotesis yang diterima. Jerry Wilson dalam Wilstar.com menyatakan bahwa
perbedaan terbesar antara hukum dan teori adalah bahwa teori lebih komplek dan dinamis. Hukum
menggambarkan sebuah aksi, sementara teori menjelaskan menjelaskan selurug grup atau fenomena
terkait

PENGAMATAN ILMIAH
LAPORAN PENDAHULUAN
PRAKTIKUM KIMIA DASAR I
I. NOMOR PERCOBAAN : I
II. NAMA PERCOBAAN : PENGAMATAN ILMIAH
III. TUJUAN PERCOBAAN:
1. Memperoleh pengalaman dalam mencatat dan menjelaskan pengamatan dalam
percobaan.
2. Mengembangkan keterampilan dalam menangani alat kaca dan memindahkan bahan
kimia padat maupun cairan.
3. Membiasakan diri dengan tata cara kesempatan kerja dilaboratorium.
IV. DASAR TEORI
Ilmu kimia mempelajari bangun (struktur) mareri dan perubahan-perubahan yang dialami
materi ini dalam proses alamiah maupun eksperimen yang direncanakan. Seperti dalam
semua ilmu pengetahuan alam orang terus menerus membuat pengamatan dan
mengumpulkan fakta yang kemudian dicatat dengan cermat sampai dibuat kesimpulan.
Sebelum menarik kesimpulan, data hasil observasi yag banyak diringkas menjadi saatu
peryataan singkatyang disebut hukum. Hukum dan fakta yang ada dijelaskan dengan
bantuan hipotesis atau suatu teori yang dirancang untuk menyarankan mengapa atau
bagaimana suatu hal dapat terjadi.
Semua hal ini jika disimpulkan meupakan suatu prosedur yang disebut penelitian ilmiah
yang melibatkan tiga langkah utama yaitu :
1. Pelakasanaa percobaan dan mengumpulkan data.
2. Mengajukan hipotesis untuk menghubungkan dan menjelaskan data yang ada.
3. Mengajukan teori.
Hipotesis yang diajukan kadang-kadang terbukti tidak terlalu sesuai dengan keadaan
yang nyata dan terjadi, walaupun tak segera ditolak. Hal ini terjadi karena banyak para
ilmuan kimia yang enggan untuk meninggalkan teori lama untuk menganut dan
mengembangkan teori yang baru yang oleh mereka dikatakan masih banyak hal-hal
dialam yang samar-samar dan tidak jelas. Oleh sebab itu hipotesis dapat ditolak, diubah
atau walaupun jarang, sesudah diuji seksama, bahakan menjadi hokum atau teori ilmiah.
Mari kita lihat cara mengajukan hipotesis.
Merkuri oksida yaitu serbuk jingga, dimasukan dalam tabung reaksi dan dipanaskan
selama dua menit. Batang korek api dinyalakan kemudian dipadamkan. Batang korek api
yang masih yang masih membara lalu didekatkan pada mulut tabung.
(Bakti,Rivai.Pnuntun Praktikum Kimia Dasar I.2010.hal:11-12)
Pengamatan Hipotesis
Logam keperakan terbentuk dibagian tabung reaksi.
Batang korek api menjadi menyala. Merkuri dan oksigen dihasilkan dari pemanasan
merkuri oksida.

Ilmu kimia mempelajari bangun (struktur) dan perubahan-perubahan yang dialami materi
ilmiah dalam proses ilmiah maupun eksperimen yang direncanakan suatu keterangan
yang memungkinkan terjadinya suatu perubahan kejadian yang tampak disebut hipotesis
yang menyelidiki apakah resipien kurang mudah dibuat peka terhadap DNFD (Dinitro

flouro benzena) yaitu zat kimia molekul sedrhana, bila kita teteskan DNFD dilarutkan
dalam aseton dan minyak zaitun pada seekor tikus hanya sedikit perubahan yang
nampak maka hewan tersebut peka terhadap zat kimia, para peneliti memutuskan untuk
mencoba dua kemungkinan yang berlainan yaitu :
1. Serum darah
2. Sel- sel yang diambil dari simpul limpa hewan-hewan toleran.
Mereka berfikir bahwa sepresis hipotesis mungkin suatu substansi yang dapat larut dan
zat ini dapat masuk kedalam darah sebagian mungkin lain agen supresif itu bias jadi
kemungkinan sekumpulan sel dalam sistem yang sama (sistem imun) yang menimbulkan
alergi karena simpul limpa pada tubuh itu merupakan bagian-bagian aktif sel imun dalam
tubuh mereka mengutuskan untuk menguji sel simpul limpa akan kemampuan
merangsang toleransi DNFD.
Makalah dalam ilmu hayati biasanya mengikuti rencana organisasi yang berlaku. Makalah
itu dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
1. Pendahuluan
Pendahuluan membuat acuan tentang laporan-laporan terdahulu mengenai hal ini. Dan
ilmu lain yang berguna sebagai landasan bagi kerja yang sedang dilaksanakan.
2. Bahan dan Metode
Pada bagian ini dibahas bahan-bahan yang dipakai semua yang diikuti. Tujuan bagian ini
adalah mengemukakan semua rincian yang perlu bagi para peneliti laboratorium lain
agar dapat mengulangi percobaan ini secara tepat.
3. Hasil
Disinilah para penulis melaporkan apa-apa yang terjadi dalam percobaannya. Laporan ini
dikemukakan secara verbal dan biasanya dilengkapi grafik, tabel, dan sebagainya.
4. Pembahasan
Dalam hal ini para penulis mengutarakan apa yang mereka anggap penting dalam
percobaan dalam percobaan yang dilakukannya. Disinilah untuk tempat pembuktian
bahwa hasil yang diperoleh itu sesuai atau tidakdengan hipotesa-hipotesanya.
5. Prakata
Pada bagian ini, para penulis megatakan semua rasa terima kasihnya kepada semua
pihak yang telah membantunya.
6. Refrensi
Bagian ini mengcangkup seluruh daftar kerja ilimiah terdahulu yang terjadi yang menjadi
acuan tubuh utama makalahnya.
7. Ringkasan dan Ikhtisar
Bagian ini mengcangkup bagian-bagian terdahulu ini acap kali dibuat dibagian muka
makalah.
(http://www.chem-is-try/makalah-ilmiah.org)
Ciri yang paling khas pada ilmu pengetahuan adalah keterulangannya. Jika para ilmuan
tidak dapat menduplikasikan hasil-hasil pertamanya, mereka terpaksa berkesimpulan
bahwa hasil pertamanya tidak berlaku. Biasanya menyebabkan adalah suatu faktor yang
tidak dikenal dan karrena itu tidak terkendali dalam percobaannya. Inilah sebabnya para
ahli ilmuan biasanya melakukan percobaaan berulang kali sebelum melaporkan dalam
makalah ilmiah.
Langkah-langkah dalam pengamatan ilmiah :

1. Menyadari adanya masalah.


2. Penarikan hipotesa (dugaan sementara).
3. Perencanaan percobaan
4. Pelaksaan percobaan.
5. Pengumpulan data hasil percobaan.
6. Penarikan kesimpulan.
Jarang sekali temuan ilmiah berkembang sepenuhnya. Bila dapat mungkin akan tercipta
suatu revolusi yang dilakukan para ilmuan dengan cara mencerap dunia sekitarnya dan
akan terbuka kawasan yang sama sekali baru bagi para peneliti ilmiah. Teori Darwin
tentang evolusi dan hokum mendel tentang pewarisan sifat merupakan conoh-contoh
mengenai perkembangan revolusioner seperti ini. Semua karya ilmiah dimulai dengan
alam pengamatan : fakta dengan alam. Usaha untuk menerangkan bagaimana faktafakta itu seperti adanya disebut hipotesis.
Dalam metode ilmiah terdapat dua (2) metode yaitu : metode ibduktif dan metode
deduktif.
1. Metode induktif adalah metode yang paling banyak ditulis dalam buku-buku teks sains
seperti yang dijelaskan diatas.
Langkah-langkah metode induktif :
1. Mmenbuat observasi secara teliti.
2. Mencatat berbagai fakta secara tepat.
3. Mengorganisasikan pengamatan.
4. Menganalisis informasi serta menemukan keteraturan.
5. Membuat kesimpulan berdasarkan bukti pengamatan
6. mengembangkan teori.
7. menggunakan teori untuk membuat pikiran baru.
Melalui metode induktif, kita menganggap bahwa pengetahuan baru akan muncul secara
langsung dari pengamatan dan klaim pengetahuan ini dapat diperiksa atau divalidasi
dengan merencanakan dan melakukan pengamatan lainnya. Tetapi metode lainnya yaitu:
metode dedukdif mempunyai pandangan berbeda terhadap metoda ilmiah. Metoda ini
melihat bahwa sains justru dimulai dari masalah. Kemudian suatu dugaan atau hipotesis
yang masuk akal dibuat sebagai kemungkinan jawabannya.
Tahap kedua dari metode deduktif adalah tahapan rasional atau deduktif. Hipotesis
haruslah diperiksa atau diuji inilah suatu tahapan yang merupakan sifat utama dari sains.
Langkah pengujian termasuk didalamnya pengamatan percobaan tertentu, desain
percobaannya serta pelaksanaanya. Cara lainnya adalah dengan pengujian secara
partikal atau teoritis suatu hipotesis dengan pengetahuan lain yang sudah terbukti sah.
(http://wiki/pengamatan-ilmiah.org)

ALAT DAN BAHAN


1. Gula pasir
2. Gelas piala
3. Asam sulfat pekat
4. Amonium klorida

5. Air
6. Paku besi dan sekeping logam kalsium
7. Larutan tembaga (II) sulfat
8. Merkuri (II) nitrat
9. Larutan kalium iodide
10. Gelas ukur

PERTANYAAN PRAPRAKTEK
1. Bagaimana cara mengamati reaksi yang menghasilka gas, cairan, padatan?
Jawab :
a. Gas : - melihat golongannya.
- melihat tanda reaksi.
- mencium baunya.
- mengeluarkan gelembung gas bila dicampur denga reaksi lain.
b. Cairan : - melihat tanda dibawah reaksi.
- apabila dipanaskan menghasilkan uap dan melihat warna larutannya.

c. Padatan : - melihat tanda kurung dibawah reaksi.


- apabila dibakar menghasilkan bau.
- melihat endapan pada larutannya.
2. Mana dari bahan kimia berikut yang perlu dilakukan dengan hati-hati dan sebutkan
bahayanya : Alkohol, Amonium, Kalsium klorida, Bahan kimia organik, dan air suling?
Jawab :
a. Alkohol : bila alkohol : bila alkohol kaya, beracun,dapat menimbulkan kebutaan.
b. Amonium nitrat : bila terkena jaringan kulit akan terasa pedihl dan panas.
c. Kalsium klorida : bila terkena jaringan kulitakan tersa gatal-gatal dan merah.
d. Bahan kimia organik : bila zat ini masuk kedalam sel darah akan menyebabkan
kematian.
e. Air suling : kalau diminum akan membuat badab lemas.

PEMBAHASAN
Ilmu kimia merupakan ilmu yang mempelajari tentang bangun (struktur) materi dan
perubahan-perubahan yang dialami materi ilmiah dalam proses ilmiah maupun
eksperimen yang direncanakan. Dalam percobaan ini bertujuan agar dapat memperoleh
penglaman dalam melakukan percobaan ilmiah, dan agar dapat menggunakan alat-alat
kimia dengan benar dan dapat menggunakan dan memindahkan bahan-bahan kimia ang
padat maupun yang berbentuk cairan, dapat membiasakan diri dengan tata cara
menggunakan alat keselamatan dilaboratorium seperti jas lab, untuk melindungi tubuh
dari zat kimia yang berbahaya dan sarung tangan untuk melindungi tangan bila
ttersentuh dengan zat kimia dan maskerkarbon untuk melindungi pernapasan agar tidak

terhisap atau terhirup uap zat kimia atau bau suatu zat kimia yang berbahayayang dapat
mengganggu pernapasan pada saat bekerja di laboratorium.
Dalam percobaan pengamatan ilmiah bertujuan agar dapat memberikan hipotesa atau
dugaan sementara sebelum menarik kesimpulan. Hipotesa kadang-kadang tidak sesuai
dengan sebenarnya.
Pada percobaan ini telah dilakukan pencampuran ammonium klorida dengan air suling
menghasilkan suhu yang dingin diujunng tabung reaksi. Hal tersebut disebabkan
ammonium klorida bereaksi dengan air, dan sukar bereaksi sehingggs terjadi reaksi
endoterm (penyerapan energy dari lingkungan ke system) sehingga menghasilkan suhu
yang dingin. Pada pencampuran kalsium klorida dan air menghasilkan suhu panas, hal ini
disebabkan pada campuran tersebut terjadi reaksi eksoterm (penyerapan energy dari
system ke lingkungan) sehingga entalpinya bernilai negatif.
Lalu pencampuran logam Ca dengan air. Dalam pengamatan terdapat gelumbung dari
campuran tersebut. Disebabkan logam Ca merupakan logam yang aktif dibandingkan
logam paku sehingga mengasilkan gelembung yang merupakan gas hydrogen (H). Dan
pencampuran logam paku dengan air (aquades) dari hasil pengamatan tidak terjadi
reaksi (paku tidak berkarat) disebabkan paku tidak mudah bereaksi dengan air sehingga
tidak mengalami perkarat (korosi).
Dan pada campuran paku dengan tembaga (II) sulfat dari hasil pengamatan terjadi
perkarattan pada paku, disebabkan pada campuran paku dengan tembaga (II) sulfat
teradi reaksi proses oksida dan reduksi.
Pada percobaan kali ini analisa yang digunakan merupakan analisa kualitatif. Analisa
kualitatif merupakan analisa yang dilihat dari perubahan fisik dari suatu percobaan yang
diamati atau suatu larutan.

KESIMPULAN
1. Perubahan yang terjadi pada pengamatan ilmiah ini merupakan perubahan kimia.
2. Reaksi eksoterm pada umumnya pada umumnya lebih hebat jika dibandingkan dengan
reaksi endoterm.
3. Hipotesis merupakan suatu pertanyaan yang belum tentu terbukti kebenaranya.
4. Untuk membuktikan suatu hipotesis diperlukan percobaan dan pengamatan terhadap
percobaan tersebut.
5. Pengamatan merupakan salah satu cara untuk mengambil suatu kesimpulan untuk
menghasilkan pemikiran yang baru.

DAFTAR PUSTAKA
Rivai,Bakti,dkk.2010.Penuntun Praktikum Kimia Dasar I.Uiversitas Sriwijaya:Indralaya.
Anonim.2010.http://wiki/pengamatan-ilmiah .org. Di akses pada tanggal 22 November
2010 jam 20.00 WIB.
Anonim.2010.http://www.chem-is-try/makalah-ilmiah.org.
November 2010 jam 20.15 WIB.

diakses

pada

tanggal

Diposkan oleh Eiffel Ostan Jeski Gultom di 11.26


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

22

Reaks
i:
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Mom

Forever

Pengikut
Arsip Blog

2012 (12)

2011 (15)
o

Mei (13)

ANALISA KUALITATIF GUGUS FUNGSI ALKOHOL

ANALISA UNSUR

KELARUTAN

PEMBUATAN N-BUTIL BROMIDA

REKRISTALISASI

UJI MOLEKUL HAYATI

ANALISIS MELALUI PENGENDAPAN

PEMBUATAN ESTER

PENETAPAN MASSA MOLAR BERDASARKAN PENURUNAN TITIK ...

VOLUMETRI

STRUKTUR SENYAWA

RUMUS EMPIRIS SENYAWA

PENGAMATAN ILMIAH

Februari (2)

2010 (4)

Mengenai Saya

Eiffel Ostan Jeski Gultom


Lihat profil lengkapku

Template Watermark. Diberdayakan oleh Blogger.


http://eiffelgultom.blogspot.co.id/2011/05/pengamatan-ilmiah.html