Anda di halaman 1dari 3

Nama : Garry Kusuma

NPM : 1511031125

Pro dan Kontra Penerapan IFRS di Indonesia


IAI dalam program kerjanya telah menetapkan peta arah (roadmap) program konvergensi
IFRS terhadap PSAK yang dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama tahap adopsi (2008 2011)
yang meliputi Adopsi seluruh IFRS ke PSAK, persiapan infrastruktur yang diperlukan, evaluasi
dan kelola dampak adopsi terhadap PSAK yang berlaku. Kedua tahap persiapan akhir (2011)
yaitu penyelesaian infrastruktur yang diperlukan. Ketiga yaitu tahap implementasi (2012) yaitu
penerapan pertama kali PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS dan evaluasi dampak
penerapan PSAK secara komprehensif.
Tahap Adopsi

Tahap Persiapan Akhir (2011)

Tahap Implementasi (2012)

(2008-2010)
Adopsi seluruh IFRS ke Penyelesaian
PSAK
Persiapan

infrastruktur yang diperlukan


secara bertahap
Infrastruktur Penerapan
secara
bertahapEvaluasi dampak

yang dibutuhkan
Evaluasi

persiapanPenerapan PSAK berbasis IFRS

dan

beberapa PSAK berbasis IFRS

penerapan

PSAK secara komprehensif.

kelola

dampak adopsi terhadap


PSAK yang berlaku

Melalui roadmap yang telah ditetapkan oleh IAI, diharapkan agar para entitas,
pemerintah Indonesia dan setiap pelaku bisnis mampu mempersiapkannya dengan baik selain
DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan) pun melakukan tanggung jawabnya. Ketua IASB
sebelum masa jabatannya habis, mengemukakan ambisinya untuk menyelesaikan 10 program
kerja pada tahun 2010.
Indonesia telah mengadopsi IFRS secara penuh pada 2012, dengan menggunakan strategi
adopsi gradual strategy, adopsi IFRS yang dilakukan secara bertahap. Strategi ini digunakan

oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sasaran konvergensi IFRS tahun 2012, yaitu
merevisi PSAK agar secara material sesuai dengan IFRS versi 1 Januari 2009 yang berlaku
efektif tahun 2011/2012, Konvergensi IFRS di Indonesia dilakukan secara bertahap. Adapun
manfaat yang diperoleh dari konvergensi IFRS adalah memudahkan pemahaman atas laporan
keuangan dengan penggunaan SAK yang dikenal secara internasional, meningkatkan arus
investasi global melalui transparasi, menurunkan biaya modal dengan membuka peluang fund
raising melalui pasar modal secara global, menciptakan efesiensi penyusunan laporan keuangan.
Program konvergensi IFRS tentu akan menimbulkan berbagai dampak terhadap bisnis
antara lain:
1.

Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan akan lebih

2.
3.

mudah dikomunikasikan ke investor global.


Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan nilai wajar.
Disisi lain, kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-harga

4.

fluktuatif.
Smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunakan balance sheet approach dan

5.

fair value.
Principle-based standards mungkin menyebabkan keterbandingan laporan keuangan sedikit
menurun yakni bila penggunaan professional judgment ditumpangi dengan kepentingan

6.

untuk mengatur laba (earning management).


Penggunaan off balance sheet semakin terbatas.
Dalam beberapa hal penerapan IFRS di Indonesia menimbulkan beberapa kesulitan

dalam penerapannya. Sebagai contoh, di dalam IAS 16, standar internasional memperbolehkan
pengukuran aktiva tetap memakai revaluation model (ditahun berikutnya setelah aktiva di nilai
berdasarkan nilai perolehannya. Perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat menerapkan
revalution model (fair value accounting) dalam pencatatan PPE (Property, Plan, and Equipment)
mulai tahun 2008. Hal ini adalah perubahan yang cukup besar karena selama ini revalution
model belum dapat diterapkan di Indonesia dan hanya bisa dilakukan jika ketentuan pemerintah
mengijinkan.
Apa perbedaan historical cost yang selama ini sudah lebih dikenal oleh dengan
revalution model? Revaluation model memperbolehkan PPE dicatat berdasarkan nilai wajarnya.
Permasalahannya di Indonesia adalah sistem perpajakan yang tidak mendukung standar ini. Di
dalam peraturan perpajakan, revaluasi aset ke atas dikenai pajak final sebesar 10% dan harus
dibayar pada tahun tersebut (tidak boleh dicicil dalam 5 tahun misalnya) dan tidak menghasilkan

hutang pajak tangguhan yang bisa dibalik di tahun berikutnya bila nilai aktiva turun. Bayangkan
apabila perusahaan memutuskan memakai revalution model dan setiap tahun harga asetnya
meningkat, maka setiap tahun harus membayar pajak final. Padahal kenaikan harga aset tersebut
tidaklah membawa aliran kas masuk ke dalam perusahaan. Bila aturan perpajakan tidak
mendukung,maka dapat dipastikan perusahaan akan enggan menerapkan revaluation model.
Bukan hanya sistem pajaknya saja yang memberatkan, bila perusahaan memakai revaluation
model, maka siap-siap untuk keluar uang lebih banyak untuk menyewa jasa penilai. Hal ini
dikarenakan banyaknya aset tetap yang tidak memiliki nilai pasar sehingga ketergantungan
kepada jasa penilai (assessor) akan besar ntuk menilai aset-aset ini.
Jika ternyata nilai wajar yang ditetapkan penilai berbeda dengan nilai wajar yang
ditetapkan auditor dari akuntan publik, biasanya nilai wajar dari auditor yang akan dipakai.
Sistem pencatatan akuntansi juga sedikit lebih rumit daripada memakai historical cost. Ketika
perusahaan pertama kali berubah dari historical cost model ke revalution model, maka akumulasi
penyusutan dihapus dan beban penyusutan dihitung kembali berdasarkan nilai wajar yang baru.
Demikian selanjutnya apabila revaluasi menerbitkan nilai baru, maka beban penyusutan dihitung
kembali. Peraturan lain dari IAS 16 adalah bahwa penerapan nilai wajar tidak bisa diterapkan
oleh aktiva secara individu tapi harus secara keseluruhan dalam golongan aktivat tersebut.