Anda di halaman 1dari 15

ELEMEN RESPONSIVE SPACE

KAWASAN PEMERINTAHAN

OLEH:
1. RIKO JUANDA
NIM : D1091141001
2. M. IRVAN KURNIA
NIM : D1091141004
3. NADHILLA OKTAVIANTY
NIM : D1091141009
4. FILASIAS TIAR MARTIN
NIM : D1091141012
5. SIDIK PURNOMO
NIM : D1091141013
6. ATRIE VIRDUANI
NIM : D1091141032

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN SIPIL
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kota merupakan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan yang ditandai
dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata ekonomi
yang heterogen dan bercorak materialistis atau dapat pula diartikan sebagai
bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami
dbgan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dengan corak
kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan
daerah dibelakangnya (Bintarto), untuk mendapatkan sebuah kota yang
nyaman untuk ditempati oleh masyarakat tentunya dibutuhkan sebuah
perancangan kota yang baik.
Perancangan kota merupakan suatu proses yang memberikan arahan bagi
terwujudnya suatu lingkungan binaan fisik yang layak dan sesuai dengan
aspirasimasyarakat,kemampuan sumber daya setempat serta daya dukung
lahannya.Perancangan kota tidak akan terlepas dari rentetan kolektif memori
dari masa laluyang ditengarai menjadi urban heritage tourism (Widodo,
2004).Peninggalan sejarahdalam wujud artefak kota menjadi pusaka mampu
menciptakan keunikan sebuahtempat, membangun brand dan kondisi yang
kuat terhadap skala makro kota (Rossi,1982). Selain itu, peningkatan citra
dan identitas kota dengan pengenalan pada asetpusaka terbukti menumbuhkan
kebanggaan pada warganya sehingga memberisemangat pada komunitas
untuk lebih aktif membangun kotanya.
Kota tidak hanya mempunyai fungsi sebagai tempat permukiman
namun kota juga harus mempunyai fungsi-fungsi lainya agar dapat menunjang
aktifitas masyarakat di perkotaan tersebut, banyak fungsi perkotaan seperti
fungsi untuk pendidikan, sejarah, perdagangan, perkantoran dll. Sebagai
sebuah kota, Kota Pontianak sendiri sudah mempunyai kawasan-kawasan
yang mempunyai fungsi perkotaan, salah satunya fungsi perkantoran. Kota
Pontianak sendiri terdapat beberapa kawasan perkantoran yakni di jalan
Ahmad Yani, jalan Sultan Syarif Abdurahman, dan jalan Letnan Jendral
Sutoyo. Pada makalah ini akan membahas tentang kawasan perkantoran yang
berada di jalan Letnan Jendral Sutoyo dimana rata-rata gedung perkantoran
yang berada di sepanjang jalan Letjen Sutoyo ini terdiri dari kantor
Pemerintahan Kota. Namun apakah kondisi pada kawasan perkantoran ini
sudah sesuai dengan fungsinya, maka dari itu diperlukan adanya analisis lebih
lanjut mengenai kawasan pendidikan baru ini dengan menggunakan analisis 7
elemen responsive space.
1.2 Rumusan Masalah
1. Aspek apa saja yang termasuk dalam 7 elemen responsive space?
2. Bagaimana kondisi Kawasan Perkantoran berdasarkan analisis 7 elemen
responsive space?
1.3 Tujuan dan Sasaran
a. Tujuan

1. Untuk mengetahui elemen-elemen yang termasuk dalam 7 elemen


responsive space.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Kawasan Perkantoran
terhadap daerah disekitarnya.
b. Sasaran
1. Menjabarkan apa saja elemen-elemen dalam 7 elemen responsive
space.
2. Mengidentifikasi 7 elemen responsive space yang ada di Kawasan
Perkantoran.
3. Menganalisis 7 elemen responsive space yang ada di Kawasan
Perkantoran.

BAB II
GAMBARAN UMUM KAWASAN PERKANTORAN
2.1 Tinjauan Regional Kawasan
Indonesia terbagi menjadi 34 provinsi, salah satunya yaitu provinsi
Kalimantan Barat. Secara astronomis terletak di antara 20 08 Lintang Utara serta
30 05 Lintang Selatan dan 1080 0 Bujur Timur dan 114 10 Bujur Timur.
Berdasarkan letak astronomis maka daerah Provinsi Kalimantan Barat tepat
dilalui oleh Garis Khatulistiwa (garis Lintang 00). Karena kondisi ini, menjadikan
Provinsi Kalimantan Barat sebagai daerah yang beriklim tropis dengan suhu udara
dan kelembaban yang cukup tinggi. Provinsi kalimantan Barat memiliki ibukota
yaitu Kota Pontianak. Luas Kota Pontianak mencapai 107,82 km2, atau hanya
0,07% dari luas Kalimantan Barat. Secara administratif Kota Pontianak dibagi
menjadi enam kecamatan dan 29 (dua puluh sembilan) kelurahan. Kota Pontianak
juga berbatasan langsung dengan Kabupaten Kubu raya dan Kabupaten
Mempawah yang dapat menjalin kerjasama antar daerah tersebut. Wilayah Kota
Pontianak berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Kubu
Raya diuraikan sebagai berikut:
Bagian Selatan :Desa Sungai Raya Kecamatan Sungai Raya dan Desa Punggur
Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya
Bagian Timur :Desa Kapur Kecamatan Sungai Raya dan Desa Kuala Ambawang
Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya
Bagian Barat :Desa Pal IX dan Desa Sungai Rengas Kecamatan Sungai Kakap
Kabupaten Kubu Raya
Bagian Utara :Desa Wajok Hulu Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak dan
Desa Mega Timur dan Desa Jawa Tengah Kecamatan Sungai
Ambawang Kabupaten Kubu Raya
Kota Pontianak memiliki pengaruh yang besar pada daerah sekitar dimana
Kota Pontianak sebagai pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa, pendidikan
dan lain sebagainya. Kawasan pemerintahan yang dikembangkan di Kota
Pontianak merupakan pusat kegiatan administratif pemerintahan skala Kota,
Provinsi, maupun perwakilan dari pemerintah atasan yang sifatnya departemen.
Fungsi utamanya adalah melayani masyarakat kota dalam hal-hal yang bersifat
administratif pemerintahan dan kenegaraan. Kawasan pemerintah dalam kajian ini
juga termasuk kawasan pertahanan dan keamanan.
Kawasan pemerintahan yang terdapat di jalan Sutoyo berdasarkan RDTR Kota
Pontianak tahun 2013-2033 termasuk dalam BWP I yang memiliki peran Pusat
Pelayanan Pemerintahan Kota.
Berdasarkan Perda No. 3 Tahun 2013 tentang RTRW Kota Pontianak yang
terdapat bagian ketiga rencana pengembangan kawasan budidaya paragraph 3
pasal 25 yaitu :
Kawasan Peruntukan Perkantoran
(1) Kawasan peruntukan perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
huruf c terdiri dari:
a. perkantoran pemerintahan;dan

b. perkantoran swasta.
(2) Kawasan peruntukan perkantoran pemerintahan sebagaimana dikembangkan
di :
a. sekitar Jalan Sutoyo Kecamatan Pontianak Selatan;
b. sekitar Jalan Ahmad Yani Kecamatan Pontianak Tenggara dan Pontianak
Selatan;
c. sekitar Jalan Rahadi Usman dan Jalan Alianyang di Kecamatan Pontianak
Kota; dan
d. sekitar Jalan Sutan Syahrir Kecamatan Pontianak Kota dan Pontianak
Selatan.
(3) Kawasan peruntukan perkantoran swasta sebagaimana ayat 1 huruf b
dikembangkan secara merata di pusat pelayanan kota dan subpusat pelayanan
kota.

2.2

Gambaran Fungsi Kawasan


Kegiatan pemerintahan yang ada di Kota Pontianak terdiri dari kegiatan
pemerintahan berskala nasional, regional dan kota :
1. Perkantoran Pemerintah Tingkat Nasional : Perkantoran pemerintah pusat
berskala nasional yang berada di KotaPontianak seperti Stasiun Pengamat
Dirgantara LAPAN, yang sebaiknya tetap dapat dipertahankan di Pontianak,
agar bisa berafiliasi langsung dengan lembaga-lembaga pendidikan (tinggi)
yang ada di Kota Pontianak.
2. Pemerintahan Tingkat Provinsi dan Kota : Kota Pontianak mengemban
fungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Barat, maka fasilitas
pemerintahan di Kota Pontianak tidak hanya fasilitas pemerintahan Kota
Pontianak saja tetapi juga fasilitas pemerintahan Provinsi Kalimantan Barat.
Kawasan pemerintahan yang dikaji adalah kawasan Pemerintahan Kota
Pontianak yang berada di Jl. Sutoyo. Sebelah utara berbatasan dengan kawasan
GOR Pangsuma. Sebelah selatan berbatasan dengan Jl. Perdana, sebelah Barat
berbatasan dengan perumahan Jl. Purnama dan sebelah timur berbatasan dengan
Jl. A.YaniBerikut adalah peta kawasan pemerintahan Jl. Sutoyo.

Gambar 1 Peta Kawasan Pemerintah Sutoyo


Sumber : Dokumentasi Penulis

BAB III
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS 7 ELEMEN RESPONSIVE SPACE
1.

Permeabilitas
Sebuah kawasan dapat dikatakan sudah memiliki permeability yang baik jika
kawasan tersebut mudah diakses dari mana saja. Jalur atau jalan yang baik akan
memberikan kemudahan bagi para orang-orang yang berada di dalam mengetahui
dengan jelas rute-rute mana saja yang mereka lalui untuk menikmati setiap sudut
dan aspek yang ada dalam ruang publik itu sendiri. Tidak hanya bagi orang-orang
yang berada dalam ruang publik yang memiliki kemudahan akses, akan tetapi bagi
mereka yang akan masuk kedalam ruang publik pun mendapatkan
kemudahan.(Bentley, 1985)
Keterjangkauan pengguna untuk menuju kawasan perkantoran cukup mudah
karena kawasan perkantoran di Jl. Sutoyo dilewati oleh jalan arteri sekunder (Jl.
A.Yani) dan jalan kolektor primer (Jl. Johan Idrus). Permeability sudah terwujud
dengan banyaknya pilihan akses bagi pengguna ke dalam kawasan. Kawasan
dilewati rute transportasi umum seperti oplet, hanya saja peminat transportasi ini
terus berkurang dan hanya melewati Jl. A.Yani, tidak masuk ke Jl. Sutoyo.
2.

Keberagaman
Terdapatnya berbagai aktivitas yang ada di lingkungan sekitar lokasi
perkantoran di Jalan Sutoyo, hal itu menunjukkan adanya keberagaman dalam
penggunaan lahan di lokasi tersebut selain sebagai tempat perkantoran. Adanya
kegiatan atau aktivitas lain seperti aktivitas pendidikan dan perdagangan di
kawasan tersebut. Dalam lokasi perkantoran, mayoritas para karyawan atau
pegawainya tinggal diluar kawasan, sehingga dengan adanya kawasan
perdagangan tentu akan mempermudah pegawai untuk mencari makan pada saat
jam istirahat. Selain itu, terdapat pula kegiatan serta fasilitas peribadatan untuk
memenuhi kebutuhan pekerja yang bekerja di kawasan perkantoran di lokasi
tersebut.

3.

Kejelasan
A. Kondisi eksisting
Kawasan pemerintahan memiliki bentuk bangunan yang bervariasi.
Kawasan Pemerintahan di Jl. Letjen Sutoyo ini terdapat berbagai macam
jenis kawasan pemerintahan diantaranya Kantor Dinas Catatan Sipil Dan
Kependudukan, Kantor Inspektorat Kota, Kantor Kesatuan Bangsa dan
Perlindungan Masyarakat, Kantor Pemerintahan Kecamatan Pontianak
Selatan, Kantor Kelurahan Parit Tokaya, Kantor Tata Ruang, Kantor
Pertambangan dan lain sebagainya.
B. Hasil Analisis Kejelasan
1. Paths (Jalur Jalan)
Merupakan suatu jalur yang digunakan oleh pengamat untuk bergerak
atau berpindah tempat. Menjadi elemen utama karena pengamat
bergerak melaluinya pada saat mengamati kota dan disepanjang jalur
tersebut elemen-elemen lingkungan lainnya tersusun dan
dihubungkan. Path merupakan elemen yang paling penting dalam
image kota yang menunjukkan rute-rute sirkulasi yang biasanya
digunakan orang untuk melakukan pergerakan jaringan jalan yang
berada di lokasi Kawasan Pemerintahan adalah denan status Jalan
Kolektor Sekunder. Jalan utama yang diguanakan para pekerja menu
kawasan pemerintahan ini adalah Jalan Jend A. Yani 1. Untuk jalan
alternative lainnya bias melaui Jalan Sumatra dan Jalan Purnama.
2. Edges ( Batas Wilayah )
Edges merupakan batas dari suatu wilayah dapat berbentuk jaringan
jalan maupun ariss batas seperti anak sungai.
3. DISTRICTS
Merupakan suatu bagian kota mempunyai karakter atau aktivitas
khusus yang dapat dikenali. Jalan Letjen Sutoyo ini merupakan daerah
pinggiran kota.
4. NODES (Simpul/Pusat Kota)
Merupakan simpul atau lingkaran daerah strategis di mana arah atau
aktivitasnya saling bertemu dan dapat diubah ke arah atau aktivitas
lain. Node yang merupakan suquare dimana terdapat jalan masuk dan
keluar Pusat Perbelanjaan yaitu Ayani Mega Mall. Akan tetapi Ayani
Mega Mall terebut hanya beraktifitas dari jam 09.00-22.00
5. Landmark (tanda yang menonjol)
Merupakan simbol yang menarik secara visual dengan sifat
penempatan yang menarik perhatian. Biasanya landmark mempunyai
bentuk yang unik serta terdapat perbedaan skala dalam lingkungannya.
Beberapa landmark hanya mempunyai arti di daerah kecil dan hanya
dapat dilihat di daerah itu, sedangkan landmark lain mempunyai arti
untuk keseluruhan kota dan bisa di lihat dari manamana. Landmark adalah elemen penting dari bentuk kota karena
membantu orang mengenali suatu daerah. Selain itu landmark bisa
juga merupakan titik yang menjadi ciri dari suatu kawasan. Setiap

bangunan Pemerintahan mempunyai papan nama / plang nama yang


memudahkan orang untuk mengetahui Kawasan pemerintahan terebut.
4.

Kekuatan
a. Kondisi Existing
Kawasan perkantoran yang kami kaji berada di jl.Letjen Sutoyo, tak hanya
diisi dengan bangunan-bangunan perkantoran saja, namun terdapat juga
fasilitas pendukung lainya seperti rumah makan, berbagai jenis makanan
pun tersedia seperti rumah makan padang, rumah makan melayu, restoran,
bahkan rumah makan jepang, dan biasanya pengunjung dari rumah makan
ini adalah pegawai kantor yang sedang beristirahat pada siang hari maupun
sepulang kerja.
Selain rumah makan terdapat juga komplek Asrama Haji, dimana di dalam
komplek ini terdapat Mesjid, Aula, dan tempat penginapan yang
digunakan untuk orang yang menggunakan Aula nya, dan juga pada
kawasan ini terdapat persekolahan swasta Immanuel yang terdiri dari
jenjang pertama, dan ke atas, serta terdapat Perpustakaan Daerah yang tak
hanya menyediakan buku saja, namun menyediakan tempat untuk
bersantai dan juga layanan wifi yang digunakan bagi para pengunjung,
yang biasanya berasal dari kalangan mahasiswa. Terdapatnya berbagai
fasilitas penunjang yang ada di kawasan ini semakin mendukung kawasan
ini sebagai kawasan perkantoran, karena kawasan perkantoran tak hanya
semata-mata untuk bangunan perkantoran saja, namun juga dengan adanya
fasilitas lain membuat pegawai yang bekerja di kantor maupun masyarakat
yang mempunyai kepentingan di kantor tersebut merasa nyaman.
Selain itu intensitas keramaian pada kawasan ini tergolong sedang, hanya
pada jam dan kondisi tertentu saja terjadi keramaian, biasanya pada jamjam pulang sekolah, selain itu sirkulasi jalan yang ada tidak terlalu ramai
sehingga akses untuk menuju gedung-gedung perkantoran yang ada lebih
mudah.
b. Hasil Analisis
Pada kawasan perkantoran yang kami kaji, aktivitas dan kondisi yang ada
sudah cukup memadai, dimana pelayanan yang disediakan masing-masing
kantor yang ada cukup efisien dan efektif untuk masyarakat ataupun
pegawai kantornya sendiri, salah satu contohnya untuk penyediaan tempat
parkir untuk setiap gedung yang mencukupi sehingga tidak ada kendaraan
yang parkir di tepi jalan, selain itu penyediaan wifi yang tersedia di
Perpustakan Daerah juga menjadikan kawasan ini menjadi cukup efisien
dan efektif. Namun, mungkin kawasan yang dijadikan kawasan
perkantoran ini perlu memberikan sebuah papan nama yang diletakan di
jalan masuk melalu jalan Ahmad Yani ataupun jalan masuk melalui jalan
Sumatera, papan nama ini mencantumkan tentang gedung-gedung
perkantoran apa saja yang tersedia di kawasan ini, beserta arah/panah nya,
hal ini bertujuan agar masyarakat yang akan mengunjungi kawasan ini
dapat
dengan
mudah
mencapai
tujuan
nya.

5.

Visual
Kesesuaian visual berupa penafsiran tempat dan makna tempat. Sebagian
masyarakat tidak mengetahui tentang makna dan penafsiran dari adanya struktur
bangunan perkantoran di jalan Sutoyo. Kesesuaian visual yang dimaksud juga
berupa pandangan masyarakat terhadap kesesuaian bangunan perkantoran
dengan bangunan sekitarnya. Beberapa pendapat yang diberikan masyarakat yang
berada di sekitar kawasan perkantoran bahwa tidak adanya keterkaitan antara
bentuk bangunan dengan fungsi bangunan dan melambangkan budaya pontianak.
Pada dasarnya perkantoran ini di bangun secara permanent. Dari pendapat
masyarakat yang menyarankan agar bangunan ada berbentuk unsur-unsur budaya
pontianak.
6.

Kekayaan
a. Kondisi Eksisting
Kekayaan yang di maksud yaitu kekayaan tidak hanya dari indra visual,
tetapi juga dari indra gerakan, penciuman , pendengaran, dan peraba. Indra
gerakan berupa adanya rute yang dapat di tempuh dan di lewati untuk menuju
masuk ke lokasi tersebut. Pada Kawasan perkantoran di Pontianak Selatan mudah
dijangkau dan mempunyai banyak rute jalan masuk. Indra peraba yaitu perasaan
yang dirasakan oleh masyarakat yang tinggal disekitar lokasi maupun para
pegawai yang bekerja pada masing-masing kantor. Perasaan yang dirasakan setiap
orang pasti berbeda-beda, hal itu di karenakan latar belakang tujuan dan
kepentingan yang berebeda. Dalam hal ini penduduk yang tinggal disekitar lokasi
merasa sudah terbiasa dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Kendatipun bagi
para pegawai kantor pun juga merasakan hal yang sama, hanya bagi pegawai
barusaja yang merasa perlu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan yang baru.
Penduduk lain yang memiliki kepentingan mengunjungi beberapa kantor di lokasi
study, beberapa mengatakan merasakan suasana baru berkat adanya pembangunan
kantor baru serta peremajaan jalan dan bangunan kantor lama. Indra pendengaran,
apa yang akan kita dengar dari lokasi tersebut. Pada lokasi study, jika mendengar
dari penduduk adalah tempat yang akan dilakukan penghijauan dengan penataan
vegetasi dan sabuk hijau yang baik lagi. Indra penciuman disini merupakan
penyebaran isu, cerita, berita tentang lokai tersebut.
b. Hasil Analisis Kekayaan
1. Dari berbagai penjabaran yang ada mengenai kondisi eksisting di kawasan
perkantoran indra gerakan di lokasi tersebut, kondisi dari jalan/rute yang
ada sudah cukup baik, akan tetapi banyak dan dekatnya jarak tempat
memutar arah kendaraan ke jalur lain membuat sering terjadi kemacetan
pada waktu tertentu, dan kurang baiknya zona aman untuk memutar arah
kendaraan dikhawatirkan dapat menyebabkan laka lantas. Sebaiknya,
keadaan tersebut dapat diminimalisir dengan perbaikan dan penataan jalur
dan ruas jalan sehingga sirkulasi dan kenyamanan berkendara tetap terjaga.
2. Indra peraba yang dimaksud ialah bagaimana perasaan seseorang ketika
sedang berada di lokasi yang dirasakan setiap orang pasti berbeda-beda, hal
itu di karenakan latar belakang tujuan dan kepentingan yang berebeda.

Dalam hal ini penduduk yang tinggal disekitar lokasi merasa sudah terbiasa
dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Kendatipun bagi para pegawai
kantor pun juga merasakan hal yang sama, hanya bagi pegawai barusaja
yang merasa perlu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan yang baru.
Penduduk lain yang memiliki kepentingan mengunjungi beberapa kantor di
lokasi, beberapa mengatakan merasakan suasana baru berkat adanya
pembangunan kantor baru serta peremajaan jalan dan bangunan kantor
lama.
3. Selain itu, adanya indra pendengaran yang berkaitan dengan apa yang di
dengar ketika berada di kawasan tersebut. Kebisingan ataupun keributan
hanya terjadi pada pagi hari disebabkan adanya usaha perbengkelan motor
yang berada di sekitaran lokasi tersebut. Menjelang siang hingga sore,
tampaknya keriyuhan tersebut sudah mulai hilang karena tidak ada aktivitas
yang bersifat keramaian selain hanya bunyi kendaraan yang lewat saja.
4. Berkaitan dengan indra penciuman, selektif dengan indra gerakan, karena
bagaimana kondisi dari lokasi tersebut dapat menyimpulkan bagaimana isu
yang terjadi di lokasi tersbut. Mengenai indra penciuman, isu yang terjadi di
lokasi tersebut adalah akan dilakukan penghijauan dengan penataan
vegetasi dan sabuk hijau. Dengan adanya penataan vegetasi yang baik
tentuakan berdampak baik pula pada lingkungan sekitar kawasan
perkantoran karena dapat menghambat atau menahan kebisingan dan
mengurangi panasnya sinar matahari serta memperindah ruas jalan serta
memperindang jalur pedestrian.
7.

Personalisasi
a. Kondisi Eksisting
Personalisasi dalam hal ini merupakan cara mencapai lingkungan yang
berkarakter atau nilai-nilai identitas ruang/lingkungan. Pesonalisasi mempunyai
dua tipe yaitu dengan memperbaiki fasilitas dan mengubah citra tempat.
Memperbaiki fasilitas, tata guna yang berubah terkait watu. Pemakaian
lahan seabgai tempat kawasan perkantoran, sudahsngat tepat. Hanya
dilingkungan sekitarnya masihterdapat beberapa usaha perdagangan
yang dapat menimbulkan efek kurangnyaman, oleh karena itu perlu
adanya penataan lokasi tersebut.
Mengubah citra tempat, citra kawasan perkantoran perlu dikaji dan
ditata lebih baik
Tiga faktor yang berpengaruhi terhadap aspek pesonalisasi . Faktor yang
pertama berupa kondisi lahan yang berupa penguasaan atas tanah, faktor kedua
yaitu, tipe bangunan, pada kawasan perkantoran juga perlu mempertahankan nilai
budaya dan ekspresi sosok bangunannya. Ekspresi bangunan dapat berupa corak
bangunan yang mengambil unsur budaya setempat seperti bangunan dengan corak
khas suku Melayu maupun khas suku Dayak. Faktor terakhir yaitu teknologi.
Dalam usaha membangun, teknologi pasti diperlukan. Adanya teknologi,
diarahkan untuk memperbaiki serta mengembangkan kawasan perkantoran
dengan akses yang baik dan legkap.
b. Hasil Analisa Personalisasi

1. Mengenai ketiga faktor diatas, sebaiknya pada kondisi lahan di kawasan sekitar
adnaya peninjauan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang agar di
kawasan tersebut dapat ditata dengan baik.
2. terkait masalah ekspresi sosok bangunan, bangunan dapat ditata dan
direncanakan dengan corak bangunan yang mengambil unsur budaya setempat
seperti bangunan dengan corak khas suku Melayu maupun khas suku Dayak.
Tujuannya untuk dapat menjaga dan mempertahankan serta memperkenalkan
budaya sehingga selain dapat memberi keindahan estetika juga dapat menarik
perhatian masyarakat atau penduduk luar.
3. Teknologi perlu ditingkatkan untuk dapat mendukung etos kerja dari setiap
pegawai kantor, sehingga dalam bekerja dan melayani masyarakat dapat lebih
cepat dan baik. Teknologi juga harus berbasis lingkungan yang sehat, agar
terciptanya lingkungan yang asri dan harmonis.

DAFTAR PUSTAKA
Bentley, Ian, et al, (1985). Responsive Environments. The Architectureal Press,
London