Anda di halaman 1dari 38

OPERASI TEKNIK KIMIA I

PENCAMPURAN DAN
PENGADUKAN

DISUSUN OLEH :

NAMA

: NADYA DWI LARASATI

NIM

: 140140076

KELAS : A-2

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
LHOKSEUMAWE
2015

PENGADUKAN DAN PENCAMPURAN


(MIXING AND AGITATION)
Pengadukan (mixing) merupakan suatu aktivitas operasi pencampuran dua
atau lebih zat agar diperoleh hasil campuran yang homogen. Pada media fase cair,
pengadukan ditujukan untuk memperoleh keadaan yang turbulen (bergolak).
Pencampuran

merupakan

operasi

yang

bertujuan

mengurangi

ketidaksamaan kondisi, suhu, atau sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan.
Pencampuran dapat terjadi dengan cara menimbulkan gerak di dalam bahan itu
yang menyebabkan bagian-bagian bahan saling bergerak satu terhadap yang
lainnya, sehingga operasi pengadukan hanyalah salah satu cara untuk operasi
pencampuran. Pencampuran fasa cair merupakan hal yang cukup penting dalam
berbagai proses kimia. Pencampuran fasa cair dapat dibagi dalam dua kelompok.
Pertama, pencampuran antara cairan yang saling tercampur (miscible), dan kedua
adalah pencampuran antara cairan yang tidak tercampur atau tercampur sebagian
(immiscible). Selain pencampuran fasa cair dikenal pula operasi pencampuran fasa
cair yang pekat seperti lelehan, pasta, dan sebagainya; pencampuran fasa padat
seperti bubuk kering, pencampuran fasa gas, dan pencampuran antar fasa.
2.1

Tujuan Pencampuran
Tujuan dari proses pencampuran yaitu mengurangi ketidaksamaan atau

ketidakrataan dalam komposisi, temperature atau sifat-sifat lain yang terdapat


dalam suatu bahan atau terjadinya homogenisasi, kebersamaan dalam setiap titik
dalam pencampuran. Dampak dari hasil pencampuran adalah terjadinya
homogenitas, kebersamaan dalam setiap titik dalam pencampuran. Dampak dari
hasil pencampuran adalah terjadinya keadaan serba sama, terjadinya reaksi kimia,
terjadinya perpindahan panas, dan perpindahan massa. Dan dampak tersebut
merupakan tujuan akhir dari suatu proses pencampuran.

Dalam praktek, operasi mixing hampir selalu mempunyai multi fungsi


yaitu ketika proses dilakukan didalam tangki berpengaduk mekanis, pengaduk
menjalankan banyak tugas, sebagai contoh dalam tangki kristalisasi harus
memperhatikan bulk blending, heat transfer dan suspense kristal.
Dalam pencampuran dua jenis bahan atau lebih yang sebelumnya dalam
keadaan terpisah dihimpun dan disatukan sehingga diperoleh campuran yang
homogen dan mempunyai komposisi bahan seperti yang dikehendaki.
Homogen berarti untuk volume campuran yang sangat kecil pun,
komposisi tersebut sesuai dengan perbandingan bagian antar bahan yang
dimasukkan.
Pencampuran merupakan salah satu itu proses terpenting dalam industri kimia. Di
samping bahan-bahan yang diproses, sering pula bahan-bahan bakar harus
ditambahkan ke dalam campuran, contohnya bahan bakar dan udara.
Beberapa tujuan yang perlu diperhatikan pada proses pencampuran antara lain:
a.

Menghasilkan campuran bahan dengan komposisi tertentu dan homogen.

b.

Mempertahankan kondisi campuran selama proses kimia dan fisika agar


tetap homogen

c.

Mempunyai luas permukaan kontak antar komponen yang besar

d.

Menghilangkan

perbedaan

konsentrasi

dan

perbedaan

suhu,

mempertukarkan panas
e.

Mengeluarkan secara merata gas-gas dan uap-uap yang timbul.


Menghasilkan bahan setengah jadi agar mudah diolah pada proses selanjutnya,
atau menghasilkan produk akhir (produk komersial) yang baik.
Proses pencampuran yang banyak dilakukan di industri pangan antara lain:
a.

Pengadukan,

b.

Pendispersian,

c.

Pengemulsian, dan

d.

Pengadonan.

Beberapa contoh operasi pencampuran :


Klasifikasi
Pencampuran
Bahan terlarut

Proses yang
digunakan
Pengadukan

Contoh
- melarutkan gula, sirup
- menambahkan asam pada susu
- flavouring pada soft drink

Bahan tidak

Pengadukan

terlarut

- mencegah pemisahan krim susu


dalam tangki susu
- mencampur uap air dan minyak
pada pembuatan bahan untuk
margarin

Pengemulsian

- salad dressing
- milk dressing

Padatan di

Pendispersian

dalam larutan

- mayonnaise
- mencampur kristal gula dalam
susu kental manis
- mendispersikan tepung (susu

Pasta

Pengadonan

atau coklat) kedalam cairan


- pengadukan untuk membuat
adonan cake

2.2

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pencampuran Bahan


Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

proses

pencampuran,

pencampuran dan energi yang diperlukan untuk pencampuran adalah :


a.

Aliran

b.
c.

Ukuran partikel
Kelarutan

waktu

d.

Beberapa faktor lain yang mcmpengaruhi proses pencampuran adalah


misalnya: viskositas campuran (campuran yang viskos mengkonsumsi
energi yang besar), jenis bahan, urutan pengumpanan bahan, bahan
penolong.
Sebagai hasil pencampuran dapat terbentuk campuran heterogen. koloid

atau larutan sejati. Jika sebagian bahan tidak larut dalam bahan kedua yang
homogen, maka campuran tersebut dinamakan dispersi dan proses pencampuran
disebut pendispersian. Dalam dispersi terdapat bahan terdispersi yang disebut fasa
dispersi dan bahan pendispersi yang disebut fasa kontinu. Proses untuk
memperkecil ukuran fasa dispersi disebut homogenisasi.
2.3

Proses Pencampuran
Proses pencampuran dalam fasa cair dilandasi oleh mekanisme

perpindahan mementum di dalam aliran turbulen. Pada aliran turbulen,


pencampuran terjadi pada 3 skala yang berbeda, yaitu:
a. Pencampuran sebagai akibat aliran cairan secara keseluruhan (bulk flow) yang
disebut mekanisme konvektif
b. Pencampuran karena adanya gumpalan-gumpalan fluida yang terbentuk dan
tercampakkan di dalam medan aliran yang dikenal sebagai eddies, sehingga
mekanisme pencampuran ini disebut eddy diffusion
c. Pencampuran karena gerak molekular yang

merupakan

mekanisme

pencampuran difusi.
Ketiga mekanisme terjadi secara bersama-sama, tetapi yang paling
menentukan adalah eddy diffusion. Mekanisme ini membedakan pencampuran
dalam keadaan turbulen daripada pencampuran dalam medan aliran laminer.Sifat
fisik fluida yang berpengaruh pada proses pengadukan adalah densitas dan
viskositas.
Pengadukan dan pencampuran merupakan operasi yang penting dalam
industry kimia. Pencampuran (mixing) merupakan proses yang dilakukan untuk
mengurangi ketidakseragaman suatu sistem seperti konsentrasi, viskositas,
temperatur dan lain-lain. Pencampuran dilakukan dengan mendistribusikan secara

acak dua fasa atau lebih yang mula-mula heterogen sehingga menjadi campuran
homogen. Peralatan proses pencampuran merupakan hal yang sangat penting,
tidak hanya menentukan derajat homogenitas yang dapat dicapai, tapi juga
mempengaruhi perpindahan panas yang terjadi. Penggunaan peralatan yang tidak
tepat dapat menyebabkan konsumsi energi berlebihan dan merusak produk yang
dihasilkan. Salah satu peralatan yang menunjang keberhasilan pencampuran ialah
pengaduk.
Hal yang penting dari tangki pengaduk dalam penggunaannya antara lain :
1. Bentuk

: pada umumnya digunakan bentuk silindris dan bagian

2. Ukuran
3. Kelengkapannya

bawahnya cekung
: yaitu diameter dan tinggi tangki
: a. ada tidaknya baffle, yang berpengaruh pada pola alira di
dalam tangki
b. jacket atau coil pendingin/pemanas yang berfungsi
sebagai pengendali suhu
c. letak lubang pemasukan dan pengeluaran untuk proses
kontinu
d. kelengkapan

lainnya

seperti

tutup

tangki,

dan

sebagainya.
2.4

Jenis Jenis Pencampuran


1.

Pencampuran Bahan Padat-Padat

Pencampuran dua atau lebih dari bahan padat banyak dijumpai yang akan
menghasilkan produk komersial industri kimia. Contohnya Pencampuran bahan
pewarna dengan bahan pewarna lainnya atau dengan bahan penolong untuk
menghasilkan nuansa warna tertentu atau warna yang cemerlang. Alat yang
digunakan untuk pencampuran bahan padat dengan padat dapat berupa bejanabejana yang berputar, atau bejana-bejana berkedudukan tetap tapi mempunyai
perlengkapan pencampur yang berputar, ataupun pneumatik.

2.

Pencampuran Bahan Cair-Gas

Untuk proses kimia dan fisika tertentu gas harus dimasukkan ke dalam
cairan, artinya cairan dicampur secara sempurna dengan bahan-bahan berbentuk
gas. Contohnya Proses hidrogenasi, khorinasi dan fosfogensi, Oksidasi cairan oleh
udara (fermentasi, memasukkan udara kedalam lumpur dalam instalasi penjernih
biologis).
3.

Pencampuran Bahan Cair-Padat

Pada persiapan atau pelaksaan proses kimia dan fisika serta juga pada
pembuatan produk akhir komersial, seringkali cairan harus dicampur dengan
bahan padat. Pencampuran cairan dengan padatan akan menghasilkan suspensi.
Tetapi bila kelarutan padatan dalam cairan tersebut cukup besar akan terbentuk
larutan. Pelarutan adalah suatu proses mencampurkan bahan padat kedalam
cairan.
4.

Pencampuran Cair-Cair

Tujuan pencampuran cair-cair adalah untuk mempersiapkan atau


melangsungkan proses-proses kimia dan fisika serta juga untuk membuat produk
akhir yang komersil. Beberapa contoh pencampuran cair-cair adalah pada
pembuatan sirop, obat tetes dan larutan injeksi. Metode yang paling sering
digunakan untuk mencampur cairan dengan cairan ialah dengan metode turbulensi
didalam bejana pengaduk atau dalam suatu pencampur getar.
5.

Pencampuran Gas Padat

Pencampuran gas dengan bahan padat termasuk proses yang jarang


dilakukan. Proses tersebut digunakan misalnya pada pengangkutan puing secara
pneumatic, pada pembakaran serbuk pemadam api. Kebanyakan persoalannya
adalah bagaimana mendistribusikan bahan padat itu secara merata kedalam gas
yang mengalir kontinyu. Pada pencampuran gas dengan bahan padat akan
terbentuk debu maupun asap. Metode terpenting untuk mencampur gas dengan
bahan padat adalah dengan menggunakan aat penakar bahan padat dan
penyemburan dengan alat semprot.

6.

Pencampuran Gas Gas

Pencampuran gas dengan gas lain terutama dilakukan pada pembuatan


campuran bahan bakar yang berbentuk gas dalam alat pembakar dengangas
(misalnya campuran bahan bakar udara). Metode terpenting untuk mencampur
gas dengan gas adalah pencampuran dengan alat semprot atau injektor.
7.

Pencampuran Padat Gas

Pencampuran bahan padat dengan gas terjadi misalnya pada proses


pengeringan, pemanggangan ataupun pembakaran bahan-bahan padat. Permukaan
kontak bahan padat dengan gas selalu diusahakan seluas mungkin. Untuk maksud
ini bahan padat dialiri, ditembus atau dihanyutkan oleh gas, disemprotkan atau
difluidisasikan. alat yang digunakan untuk tujuan ini seringkali dikenal dengan
bejana unggun terdifusikan.
2.5

Macam macam alat pencampuran


Macam-macam alat pencampur antara lain:
1.

Alat pencampur liquid

Untuk pencampuran liquid, propeller mixer adalah jenis yang paling


umum dan memuaskan, alat ini terdiri dari tangki silinder yang dilengkapi dengan
propeller atau blender beserta motor pemutar, bentuk propeller, impeller, blender
dibesain sedemikian rupa untuk efektivitas pencampuran dan disesuaikan dengan
viskositas fluida. Pada jenis alat pencampur ini, diusahakan untuk menghindari
tipe aliran monoton yang berputar melingkari dinding yang sangat kecil
konstribusinya terhadap pengaruh pencampuran.
2.

Alat pencampur granula

Dalam pencampuran ini dapat digunakan ribbon blender dan double cone
mixer. Ribbon blender terdiri dari silinder horizontal yang didalamnya dilengkapi
dengan screw berputar. Double cone blender adalah alat pencampur yang terdiri
dari dua kerucut yang berputar pada porosnya, jika kerucut berputar maka tepung
granula berada di dalam granula yang berada di dalam volume kerucut akan

teragritasi dan tercampur. Pencampuran tipe ini memerlukan energi yang


dikonsumsi diubah menjadi panas yang dapat menyebabkan terjadinya kenaikan
suhu dari produk. Untuk menentukan jenis dari alat pencampur tergantung pada
jenis bahan yang akan dicampurkan (cair, padat, gas), kecepatan alat yang
diinginkan serta kekentalan dari suatu bahan tersebut.
Alat pencampur ini dikelompokkan menurut kekentalan yaitu:
a) Alat pencampur untuk bahan cair yang memiliki viskositas rendah-sedang
b) Alat pencampur untuk bahan cair yang memiliki viskositas tinggi-pasta
c) Alat pencampur untuk tepung kering atau padatan.
3.

Alat pencampur untuk tepung yang kering atau padatan

Dalam melakukan pencampuran dibutuhkan kecepatan dari suatu alat


pencampur.

Kecepatan

komponen-komponen

cairan

yang

dicampurkan

disebabkan oleh pengadukan dan kecepatan pengadukan terdiri dari:


a) Kecepatan radial yang berfungsi sebagai arah ke pengaduk
b) Kecepatan longitudinal, pararel dari pengaduk
c) Kecepatan rotasional tangensial ke pengaduk
2.6

Jenis Pengaduk
Pengaduk

dalam

tangki

memiliki

fungsi

sebagai

pompa

yang

menghasilkan laju volumetrik tertentu pada tiap kecepatan putaran dan input daya.
Input daya dipengaruhi oleh geometri peralatan dan fluida yang digunakan. Profil
aliran dan derajat turbulensi merupakan aspek penting yang mempengaruhi
kualitas pencampuran. Rancangan pengaduk sangat dipengaruhi oleh jenis aliran,
laminar atau turbulen. Aliran laminar biasanya membutuhkan pengaduk yang
ukurannya hampir sebesar tangki itu sendiri. Hal ini disebabkan karena aliran
laminar tidak memindahkan momentum sebaik aliran turbulen.
Pencampuran di dalam tangki pengaduk terjadi larena adanya gerak rotasi
dari pengaduk dalam fluida. Gerak pengaduk ini memotong fluida tersebut dan
dapat menimbulkan arus eddy yang bergerak keseluruhan sistem fluida tersebut.
Oleh sebab itu, pengaduk merupakan bagian yang paling penting dalam suatu
operasi pencampuran fasa cair dengan tangki pengaduk. Pencampuran yang baik
akan diperoleh bila diperhatikan bentuk dan dimensi pengaduk yang digunakan,

karena akan mempengaruhi keefektifan proses pencampuran, serta daya yang


diperlukan. Menurut aliran yang dihasilkan, pengaduk dapat dibagi menjadi tiga
golongan:
a. Pengaduk aliran aksial yang akan menimbulkan aliran yang sejajar dengan
sumbu putaran
b. Pengaduk aliran radial yang akan menimbulkan aliran yang berarah tangensial
dan radial terhadap bidang rotasi pengaduk. Komponen aliran tangensial
menyebabkan timbulnya vortex dan terjadinya pusaran, dan dapat dihilangkan
dengan pemasangan baffle atau cruciform baffle
c. Pengaduk aliran campuran yang merupakan gabungan dari kedua jenis
pengaduk di atas.
2.6.1

Model Pengadukan

1.

Pengaduk jenis baling-baling (Propeller)

Prinsip Kerja :
Baling-baling ini digunakan pada kecepatan berkisar antara 400 hingga
1750 rpm (revolutions per minute) dan digunakan untuk cairan dengan viskositas
rendah.

2.

Pengaduk Dayung (Paddle)

Prinsip Kerja :
Berbagai jenis pengaduk dayung biasanya digunakan pada kecepatan
rendah diantaranya 20 hingga 200 rpm. Dayung datar berdaun dua atau empat
biasa digunakan dalam sebuah proses pengadukan. Panjang total dari pengadukan
dayung biasanya 60 - 80% dari diameter tangki dan lebar dari daunnya 1/6 - 1/10
dari panjangnya.
Pengaduk dayung menjadi tidak efektif untuk suspensi padatan, karena
aliran radial bisa terbentuk namun aliran aksial dan vertikal menjadi kecil. Sebuah
dayung jangkar atau pagar, biasa digunakan dalam pengadukan. Jenis ini menyapu
dan mengeruk dinding tangki dan kadang-kadang bagian bawah tangki. Jenis ini
digunakan pada cairan kental dimana endapan pada dinding dapat terbentuk dan
juga digunakan untuk meningkatkan transfer panas dari dan ke dinding tangki.
Bagaimanapun jenis ini adalah pencampuran yang buruk. Pengaduk dayung sering
digunakan untuk proses pembuatan pasn kanji, cat, bahan perekat dan kosmetik.
3.

Pengaduk Turbin

Prinsip Kerja :

Pengaduk turbin adalah pengaduk dayung yang memiliki banyak daun


pengaduk dan berukuran lebih pendek, digunakan pada kecepatan tinggi untuk
cairan dengan rentang kekentalan yang sangat luas. Diameter dari sebuah turbin
biasanya antara 30 - 50% dari diamter tangki. Turbin biasanya memiliki empat
atau enam daun pengaduk.
Turbin dengan daun yang datar memberikan aliran yang radial. Jenis ini
juga berguna untuk dispersi gas yang baik, gas akan dialirkan dari bagian bawah
pengadukdan akan menuju ke bagian daun pengaduk lalu tepotong-potong
menjadi gelembung gas.
Pada turbin dengan daun yang dibuat miring sebesar 45 o, beberapa aliran
aksial akan terbentuk sehingga sebuah kombinasi dari aliran aksial dan radial akan
terbentuk. Jenis ini berguna dalam suspensi padatan kerena aliran langsung ke
bawah dan akan menyapu padatan ke atas. Terkadang sebuah turbin dengan hanya
empat daun miring digunakan dalam suspensi padat. Pengaduk dengan aliran
aksial menghasilkan pergerakan fluida yang lebih besar dan pencampuran per
satuan daya dan sangat berguna dalam suspensi padatan.
4.

Pengaduk Helical-Ribbon

Prinsip Kerja :
Jenis pengaduk ini digunakan pada larutan pada kekentalan yang tinggi
dan beroperasi pada rpm yang rendah pada bagian laminer. Ribbon (bentuk seperti
pita) dibentuk dalam sebuah bagian helical (bentuknya seperti baling-balling
helikopter dan ditempelkan ke pusat sumbu pengaduk). Cairan bergerak dalam
sebuah bagian aliran berliku-liku pada bagiam bawah dan naik ke bagian atas
pengaduk.

5.

Pengaduk (Agitator) tipe Jangkar /Anchor

Prinsip Kerja :
Pengaduk ini mirip dengan jangkar kapal, maka di sebut pengaduk
jangkar, Impeler tipe jangkar mampu menyapu permukaan dinding secara
menyeluruh dan meng-agitasi sebagian besar batch cairan melalui kontak fisik.
Dinding pencakar atau scraper dapat dipasang pada baling impeller
jangkar yang berfungsi untuk meningkatkan perpindahan panas melalui dinding
tangki pengolahan dan mencegah tidak lengketnya bahan baku pada dinding
tangki. Untuk menambah ratanya sistim pencampuran dapat di kombinasikan
dengan agitator ulir.
Pengaduk Jangkar yang dekat dengan impeler ini dapat disesuaikan
dengan kontur permukaan tangki pengolahan. Pengaduk Jangkar dapat di pakai
pada pencampuran dalam kondisi aliran laminar dan ditemui dalam aplikasi
viskositas tinggi. Impeller Jangkar digunakan untuk viskositas cairan antara 5.000
dan 100.000 cP.
2.6.2

Jenis Peralatan Pencampuran

1.

Dry Blending

Prinsip Kerja :

Ribbon blender terdiri dari palung horisontal berbentuk U dan agitator


yang terbuat dari inner dan outer helical ribbon yang menggerakkan bahan pada
arah yang berlawanan. Desain blender ini sangat efisien dan efektif untuk
pencampuran kering seperti pencampuran cake dan muffin, tepung, sereal, teh,
kopi dan campuran minuman lain termasuk minuman coklat dan minuman
berenergi. Ketika produk makanan pencampuran kering, sejumlah sedikit cairan
ditambahkan ke padatan dengan tujuan untuk melapisi atau mengabsorbsi warna,
pembumbuan, minyak dan cairan tambahan lainnya. Bahan cair ditambahkan
melalui charge port pada cover atau spray nozzle untuk aplikasi kritis.
2.

High Shear Mixers

Prinsip Kerja :
High Shear Mixer menggunakan pemasangan rotor atau stator yang
membangkitkan kebutuhan shear yang kuat untuk bahan padat murni dalam
persiapan dressing, saus dan pasta. Jenis alat ini juga digunakan dalam industri
makanan untuk produksi larutan sirup, emulsi dan dispersi minuman.

3.

Ultra-High Shear Mixing (Proses Kontinyu)

Prinsip Kerja :
Mempunyai kecepatan putar sampai 18000 ft/s, ultra-high shear mixer
ideal untuk emulsi dan dispersi yang membutuhkan homogenizer. Aplikasinya
antara lain pada saus, bumbu, dressing, konsentrat jus dan emulsi bumbu.
Kelebihan alat ini :
a.
Menyederhanakan proses, mengurangi pembersihan, penjalanan, dan
b.

penyeimbangan homogenizer.
Menaikkan input energi dan menghasilkan ukuran dropet minyak lebih

kecil.
c.
Pengontrolan shear
4.

High Viscosity Batch Mixing

Prinsip Kerja :
Menggunakan dual shaft dan triple shaft mixer dan digunakan pada
industri makanan pada proses batch dari aplikasi dari viskositas sedang sampai
viskositas tinggi seperti sirup permen, minuman, nutraceutical, saus, pasta,
mentega kacang, dan lain-lain. Untuk viskositas lebih tinggi, dibutuhkan
tambahan agitator untuk memperbaiki aliran bulk, mengantarkan bahan ke alat

berkecepatan tinggi dan secara konstan membuang produk dari dinding vessel
untuk transfer panas lebih baik.
5.

Double Planetary Mixing

Prinsip Kerja :
Ketika viskositas produk terus naik, sistem mixing multi agitator akan
secepatnya menghasilkan aliran yang dapat dikarakterisasi oleh anchor atau
dengan zona suhu tunggi dekat disperser dan pemasangan rotor atau stator.
Aplikasi makanan lainnya yang diproses melalui double planetary mixer termasuk
sirup, gel, makanan hewan, permen, dan formula viskos lainnya.
6.

High Speed Planetary Mixing

Prinsip Kerja :
Keuntungan beberapa bahan berviskositas tinggi dari hybrid planetary
mixer dimana menggabungkan mixing tradisional teliti dari planetary mixer
dengan menambahkan keuntungan disperser berkecepatan tinggi. Contoh aplikasi

yang diproses dalam hybrid planetary mixer adalah sosis berbungkus gel, larutan
getah viskos dan campuran tepung.
2.7

Kecepatan Pengaduk
Kecepatan pengaduk yang umumnya digunakan pada operasi industri

kimia adalah sebagai berikut :


a. Kecepatan tinggi, berkisar pada kecepatan 1750 rpm. Pengaduk dengan
kecepatan ini umumnya digunakan untuk fluida dengan viskositas rendah
misalnya air.
b. Kecepatan sedang, berkisar pada kecepatan 1150 rpm. Pengaduk dengan
kecepatan ini umumnya digunakan untuk larutan sirup kental dan minyak
pernis.
c. Kecepatan rendah, berkisar pada kecepatan 400 rpm. Pengaduk dengan
kecepatan ini umumnya digunakan untuk minyak kental, lumpur di mana
terdapat serat atau pada cairan yang dapat menimbulkan busa. Untuk menjamin
keamanan proses, pengaduk dengan kecepatan lebih tinggi dari 400 rpm
sebaiknya tidak digunakan untuk cairan dengan viskositas lebih besar dari 200
cP, atau volume cairan lebih besar dari 2000 L. Pengaduk dengan kecepatan
lebih besar dari 1150 rpm sebaiknya tidak digunakan untuk cairan dengan
viskositas lebih besar dari 50 cP atau volume cairan lebih besar dari 500 L.
Kecepatan pengaduk ditentukan oleh viskositas fluida dan ukuran geometri
sistem pengadukan.
2.8

Pola Aliran dalam Tangki Berpengaduk


Pada tangki berpengaduk, pola aliran yang dihasilkan bergantung pada

beberapa faktor antara lain geometri tangki, sifat fisik fluida dan jenis pengaduk
itu sendiri. Pengaduk jenis turbine akan cenderung membentuk pola aliran radial
sedangkan propeller cenderung membentuk aliran aksial. Pengaduk jenis helical
screw dapat membentuk aliran aksial dari bawah tangki menuju ke atas
permukaan cairan.
Pola aliran fluida di dalam tangki berpengaduk
a.

flat-blade turbine

b.
c.

marine propeller
helical screw
Pada dasarnya terdapat 3 komponen yang hadir dalam tangki berpengaduk

yaitu:
a. komponen radial pada arah tegak lurus terhadap tangkai pengaduk
b. komponen aksial pada arah sejajar (paralel) terhadap tangkai pengaduk
c. komponen tangensial atau rotasional pada arah melingkar mengikuti putaran
sekitar tangkai pengaduk.
Komponen radial dan tangensial terletak pada daerah horizontal dan
komponen longitudinal pada daerah vertikal untuk kasus tangkai tegak (vertical
shaft). Komponen radial dan longitudinal sangat berguna untuk penentuan pola
aliran yang diperlukan untuk aksi pencampuran (mixing action). Pengadukan pada
kecepatan tinggi ada kalanya mengakibatkan pola aliran melingkar di sekitar
pengaduk. Gerakan melingkar tersebut dinamakan vorteks. Vorteks dapat
terbentuk di sekitar pengaduk ataupun di pusat tangki yang tidak menggunakan
baffle. Fenomena ini tidak diinginkan dalam industri karena beberapa alasan.
Pertama: kualitas pencampuran buruk meski fluida berputar dalam tangki. Hal ini
disebabkan oleh kecepatan sudut pengaduk dan fluida sama. Kedua udara dapat
masuk dengan mudahnya ke dalam fluida karena tinggi fluida di pusat tangki
jatuh hingga mencapai bagian atas pengaduk. Ketiga, adanya vorteks akan
mengakibatkan naiknya permukaan fluida pada tepi tangki secara signifikan
sehingga fluida tumpah.

Upaya berikut ini dapat dilakukan untuk menghindari vorteks, yaitu:


1. menempatkan tangkai pengaduk lebih ke tepi (off-center)
2. menempatkan tangkai pengaduk dengan posisi miring
3. menambahkan baffle pada dinding tangki.
2.9

Laju dan Waktu Pencampuran (Rate & Time for Mixing)

Waktu pencampuran (mixing time) adalah waktu yang dibutuhkan


sehingga diperoleh keadaan yang serba sama untuk menghasilkan campuran atau
produk dengan kualitas yang telah ditentukan. Sedangkan laju pencampuran (rate
of mixing) adalah laju di mana proses pencampuran berlangsung hingga mencapai
kondisi akhir.
Pada operasi pencampuran dengan tangki pengaduk, waktu pencampuran
ini dipengaruhi oleh beberapa hal,
1. Yang berkaitan dengan alat, seperti:
a. ada tidalnya baffle atau cruciform baffle
b. bentuk atau jenis pengaduk (turbin, propeler, padel)
c. ukuran pengaduk (diameter, tinggi)
d. laju putaran pengaduk
e. kedudukan pengaduk pada tangki, seperti
f. jarak terhadap dasar tangki
g. pola pemasangannya :
1)
2)
3)
4)

center, vertikal
off center, vertical
miring (inciclined) dari atas
horisontal

h. jumlah daun pengaduk


i. jumlah pengaduk yang terpasang pada poros pengaduk
2. Yang berhubungan dengan cairan yang diaduk :
a. perbandingan kerapatan/ densitas cairan yang diaduk
b. perbandingan viskositas cairan yang diaduk
c. jumlah kedua cairan yang diaduk
d. jenis cairan yang diaduk (miscible, immiscible)
Untuk selanjutnya faktor-faktor tersebut dapat dijadikan variabel yang
dapat dimanipulasi untuk mengamati pengaruh setiap faktor terhadap karakteristik
pengadukan, terutama terhadap waktu pencampuran.

2.10

Kebutuhan Daya
Untuk melakukan perhitungan dalam spesifikasi tangki pengaduk telah

dikembangkan berbagai teori dan hubungan empiris. Para peneliti telah


mengembangkan beberapa hubungan empiris yang dapat memperkirakan ukuran
alat dalam pemakaian nyata atas dasar percobaan yang dilakukan pada skala
laboratorium. Perkiraan kebutuhan daya yang diperlukan untuk mengaduk cairan
dalam tangki pengaduk dapat dihitung atas dasar percobaan pada skala
laboratorium. Persyaratan penggunaan hubungan empiris tersebut adalah adanya:
1. Kesamaan geometris yang menentukan kondisi batas peralatan, artinya bentuk
kedua alat harus sama dan perbandingan ukuran-ukuran geometris
2. Kesamaan dinamik dan kesamaan kinematik, yaitu terdapat kesamaan harga
perbandingan antara gaya yang bekerja di suatu kedudukan (gaya viskos
terhadap gaya gravitasi, gaya inersia terhadap gaya viskos, dan sebagainya).
2.11

Pengadukan dan Pencampuran Pada Tangki Berpengaduk


Pengadukan adalah operasi yang menciptakan terjadinya gerakan dari

bahan yang diaduk seperti molekul- molekul, zat-zat yang bergerak atau
komponennya menyebar (terdispersi).

gambar 1. (Dimensi sebuah Tangki Berpengaduk)


dimana :
C = tinggi pengaduk dari dasar tangki
D = diameter pengaduk

Dt = diameter tangki
H = tinggi fluida dalam tangki
J = lebar baffle
W = lebar pengaduk
Pencampuran adalah operasi yang menyebabkan tersebarnya secara acak
suatu bahan ke bahan yang lain dimana bahan-bahan tersebut terpisah dalam dua
fasa atau lebih.
Proses pencampuran bisa dilakukan dalam sebuah tangki berpengaduk.
Hal ini dikarenakan faktor-faktor penting yang berkaitan dengan proses ini, dalam
aplikasi nyata bisa dipelajari dengan seksama dalam alat ini. Faktor-faktor yang
mempengaruhi

proses pengadukan dan pencampuran diantaranya adalah

perbandingan antara geometri tangki dengan geometri pengaduk, bentuk dan


jumlah pengaduk, posisi sumbu pengaduk, kecepatan putaran pengaduk,
penggunaan sekat dalam tangki dan juga properti fisik fluida yang diaduk yaitu
densitas dan viskositas. Oleh karena itu, perlu tersedia seperangkat alat tangki
berpengaduk yang bisa digunakan untuk mempelajari operasi dari pengadukan
dan pencampuran tersebut.
2.11.1 Dimensi dan Geometri Tangki
Kapasitas tangki yang dibutuhkan untuk menampung fluida menjadi salah
satu pertimbangan dasar dalam perancangan dimensi tangki. Fluida dalam
kapasitas tertentu ditempatkan pada sebuah wadah dengan besarnya diameter
tangki sama dengan ketinggian fluida. Rancangan ini ditujukan untuk
mengoptimalkan kemampuan pengaduk untuk menggerakkan dan membuat pola
aliran fluida yang melingkupi seluruh bagian fluida dalam tangki.

Persamaan (1) merupakan rumus dari volume sebuah tangki silinder. Sehingga
salah satu pertimbangan awal untuk merancang alat ini adalah dengan mencari
nilai dari diameter yang sama dengan tangki untuk kapasitas fluida yang
diinginkan dalam pengadukan dan pencampuran. Diameter tangki ditentukan

dengan persamaan (2). Tangki dengan diamter yang lebih kecil dibandingkan
ketinggiannya memiliki kecendrungan menambah jumlah pengaduk yang
digunakan.

dengan D = t
Rancangan dasar dimensi dari sebuah tangki berpengaduk dengan perbandingan
terhadap komponen-komponen yang menyusunnya ditunjukkan pada gambar 1.
Hubungan dari dimensi pada gambar 1 adalah :

Geometri dari tangki dirancang untuk menghindari terjadinya dead zone yaitu
daerah dimana fluida bisa digerakkan oleh aliran pengaduk. Geometri dimana
terjadinya dead zone biasanya berbentuk sudut ataupun lipatan dari dindingdindingnya.
2.11.2 Posisi Sumbu Pengaduk
Pada umumnya proses pengadukan dan pencampuran dilakukan dengan
menempatkan pengaduk pada pusat diameter tangki (center). Posisi ini memiliki
pola aliran yang khas. Pada tangki tidak bersekat dengan pengaduk yang berputar ditengah,
energi sentrifugal yang bekerja pada fluida meningkatkan ketinggian fluidapada dinding dan
memperendah ketinggian fluida pada pusat putaran. Pola ini biasa disebut dengan pusaran
(vortex) dengan pusat pada sumbu pengaduk. Pusaran ini akan menjadi semakin besar seiring
dengan peningkatan kecepatan putaran yang juga meningkatkan turbulensi dari fluida yang
diaduk. Pada sebuah proses dispersi gas-cair, terbentuknya pusaran tidak diinginkan.
Hal ini disebabkan pusaran tersebut bisa menghasilkan dispersi udara yang
menghambat dispersi gas ke cairan dan sebaliknya.

Gambar 3. (Posisi Center dari sebuah Pengaduk yang menghasilkan Vortex)


Salah satu upaya untuk menghilangkan pusaran ini adalah dengan merubah posisi sumbu
pengaduk. Posisi tersebut berupa posisi sumbu pengaduk tetap tegak lurus namun berjarak
dekat dengan dinding tangki (off center) dan posisi sumbu berada pada arah diagonal (incline).
Perubahan posisi ini menjadi salah satu variasi dalam penelitian yang dilakukan.
2.11.3 Sekat dalam Tangki
Sekat (baffle) adalah lembaran vertikal datar yang ditempelkan pada
dinding tangki. Tujuan utama menggunakan sekat dalam tangki adalah memecah terjadinya
pusaran saat terjadinya pengadukan dan pencampuran. Oleh karena itu, posisi
sumbu pengaduk pada tangki bersekat berada di tengah. Namun, pada umumnya
pemakaian sekat akan menambah beban pengadukan yang berakibat pada bertambahnya
kebutuhan daya pengadukan. Sekat pada tangki juga membentuk distribusi konsentrasi yang
lebih baik di dalam tangki, karena pola aliran yang terjadi terpecah menjadi empat bagian.
Penggunaan ukuran sekat yang lebih besar mampu menghasilkan pencampuran yang
lebih baik.

Gambar 4. (Pemasangan Baffle diharapkan mampu meningkatkan kualitas pencampuran)

Pada saat menggunakan empat sekat vertikal seperti pada gambar 4 biasa menghasilkan pola
putaran yang sama dalam tangki. Lebar sekat yang digunakan sebaiknya berukuran 1/12
diameter tangki.
2.11.4 Kebutuhan Daya Pengaduk
Parameter Hidrodinamika dalam Tangki Berpengaduk
Bilangan Reynold
Bilangan tak berdimensi yang menyatakan perbandingan antara gaya inersia dan
gaya viskos yang terjadi pada fluida. Sistem pengadukan yang terjadi bisa
diketahui bilangan Reynold-nya dengan menggunakan persamaan 3.

dimana :
Re = Bilangan Reynold

= densitas fluida

= viskositas fluida
Dalam sistem pengadukan terdapat 3 jenis bentuk aliran yaitu laminer, transisi dan
turbulen. Bentuk aliran laminer terjadi pada bilangan Reynold hingga 10,
sedangkan turbulen terjadi pada bilangan Reynold 10 hingga 104 dan transisi
berada diantara keduanya.
Bilangan Fraude
Bilangan tak berdimensi ini menunjukkan perbandingan antara gaya inersia
dengan gaya gravitasi. Bilangan Fraude dapat dihitung dengan persamaan
berikut :

dimana :
Fr = Bilangan Fraude
N = kecepatan putaran pengaduk

D = diameter pengaduk
g = percepatan grafitasi
Bilangan Fraude bukan merupakan variabel yang signifikan. Bilangan ini hanya
diperhitungkan pada sistem pengadukan dalam tangki tidak bersekat. Pada sistem
ini permukaan cairan dalam tangki akan dipengaruhi gravitasi, sehingga
membentuk pusaran (vortex). Vorteks menunjukkan keseimbangan antara gaya
gravitasi dengan gaya inersia.
2.12

Merawat Alat Pencampur

Untuk mendapatkan kerja yang efisien, bukan hanya kebutuhan daya yang
merupakan hal terpenting tetapi juga laju pencapaian derajat pencampuran yang
diinginkan serta perawatan yang terjadwal. Telah dibuktikan bahwa sangat sukar
untuk mendapatkan derajat pencampuran yang diingikan pada suatu waktu, dan
keputusan untuk menentukan kapan material tersebut sudah tercampur masih
tergantung kepada perkiraan, pengalaman dan keputusan operator serta kegiatan
perawatan yang terus menerus dilakukan.
Beberapa metode perawatan perlu diperhatikan agar pengadukan efektif
adalah berdasarkan :
1.

Laju dispersi pada suatu elektrolitnya

2.

Laju distribusi pada campuran pasir dalam air, dan

3.

Laju dissolusi padatan dalam zat pelarut yang berbeda.

Perawatan dilakukan sebagai berikut :


a.

Pengaduk dikondisikan dapat berputar sesuai dengan kondisi operasi yang

b.

diinginkan yaitu dengan jalan memberikan pelumas pada tangki pengaduk


Semua peralatan dijaga jangan cepat berkarat terutama yang terbuat dari
logam besi dengan jalan membersihkan dari karat dengan mengamplas dan

c.

memoles.
Pengoperasian alat dehumidifier untuk mengurangi kelembaban udara
dalam ruangan yang di dalamnya menyimpan peralatan pencampuran yang
rentan terhadap serangan korosi. Peralatan-peralatan pencampuran yang
rawan terhadap pengaruh korosi perlu disimpan di ruang tertutup, jauh dari

kemungkinan pencemaran udara akibat terlepasnya bahan-bahan korosif


d.

ke lingkungan.
Menutup alat sewaktu tidak dipergunakan untuk menghindari masuknya
debu-debu ke dalam alat. Perlu diketahui bahwa debu dapat tertempeli
polutan korosif yang apabila terbang terbawa udara dapat masuk ke dalam
alat dan menempelkan dirinya ke permukaan komponen-komponen
elektronik di dalam alat tersebut.

2.12

Contoh Soal dan Penyelesaiaannya

1.

Sebuah turbin berdaun rata dan mempunyai enam daun dipasang di pusat
tangki vertikal. Diameter tangki ialah 6 ft (1,83 m), diameter turbin 2 ft
(0,61 m) dan terletak 2 ft (0,61 m) dari dasar tangki. Lebar daun turbin 6
in. Tangki itu diisi sampai kedalaman 6 ft (1,83 m) dengan larutan soda
kaustik 50%, pada suhu 1500F dan viskositasnya ialah 12 Cp dan densitas
93,5 lb/ft3 (1498 kg/m3). Turbin itu beroperasi pada 90 put/min.
Tangkainya

bersekat.

Berapakah

daya

yang

mengoperasikan alat pencampur itu ?


Penyelesaian :
Da
n=

= 2 ft
90
60 = 1,5 put/det

= 12 x 6,72 x 10-4 = 8,06 x 10-3 lb/ft det


= 93,5 lb/ft3

= 32,17 ft/det2

Jadi,
NRe

D a 2 np

22 x 1,5 x 93,5
8,06 x 1 03

Untuk NRe = 69600, Np = 6,0


3
5
6,0 X 93,5 X 1, 5 X 2
P
=
32,17

= 69600

= 1883 ft-lbf/det

Kebutuhan daya ialah 1883/550 = 3,42 hp (2,55 kW)

diperlukan

untuk

2.

Berapakah daya yang diperlukan dalam bejana pada contoh no. 1 di atas
jika tangki itu tanpa sekat ?
Penyelesaian :
2

NFr

n Da
g

1,5 x 2
32,17

= 0,14

Konstanta a = 1,0 dan b = 40,0


m

1,0lo g10 69600


40,0

= -0,096

Angka daya untuk NRe = 69600 ialah 1,07, nilai Np setelah dikoreksi ialah
1,07 x 0,14-0,096 = 1,29
3

1,29 X 93,5 X 1, 5 X 2
32,17

= 406 ft-lbf/det

Kebutuhan daya ialah 406/550 = 0,74 hp (0,55 kW)


3.

Pencampur pada contoh no.1 di atas akan dipergunakan untuk


mencampurkan lateks karet yang viskositasnya 1200 P dan densitas 70
lb/ft3 (1120 kg/m3). Berapakah daya yang diperlukan ?
Penyelesaian :
Angka Reynoldsnya sekarang ialah
22 x 1,5 x 70
NRe = 1200 x 0,0672 = 5,2
Jadi, jauh di dalam daerah aliran laminar. Untuk NRe = 5,2, Np = 12,5
3

12,5 X 70 X 1,5 X 2
32,17

= 2940 ft-lbf/det

Daya yang diperlukan ialah 2940/550 = 5,35 hp (3,99kW)


Kebutuhan daya ini sama saja, baik tangki itu bersekat atau tidak. Pada
pencampur yang beroperasi pada angka Reynolds rendah tidak ada
gunanya memasang sekat, karena pada kondisi ini tidak akan ada
pembentukan vorteks.

4.

Sebuah bejana aduk, diameter 6 ft (1,83 m) dan kedalaman kerja 8 ft (2,44


m) digunakan untuk membuat lumpur fluorspar 150 mesh di dalam air
pada suhu 700F. Gravitasi spesifik zat padat itu ialah 3,18 dan lumpur itu
mengandung 25 persen bobot zat padat. Impeler yang diugunakan ialah
turbin berdaun empat miring, diameter 2 ft (0,61 m) dipasang 1,5 ft di atas
dasar bejana.
a. Berapakah kecepatan kritis pengaduk untuk mendapatkan suspensi
penuh, andaikan kecepatan ini sama dengan kecepatan untuk turbin
standar ?
b. Berapakah daya yang diperlukan ?
Penyelesaian :
Dt
Da

6
2

Dt
E

6
1,5

=3

Da = 2 ft = 61 cm

=4

= 7,5

= 0,98 cP

= 0,0098 cm2/det

Dp

= 0,0104 cm

= 980 x
0,25
0,75

= 100 x

a. nc =

7,5
6 10,85

2,18
1,0

= 2136 cm/det2

= 33,3

(0,0098)0,1 (0,0104)0,2 (33,3)0,13 (2136)0,45

= 2,86 put/det = 172 put/min


K T n Da
b. P =
gc
3

1
m

= densitas lumpur =

0,25
+0,75
3,18

= 1,207 g/cm3 = 75,2

lb/ft3
KT = 1,5
P

=
P
V

1,5 X 75,2 x 2,86 x 25


32,2 x 550

= 4,77 hp

4,77
226,2 f t x 7,48 gal/ f t 3
3

x 1000 = 2,82 hp/1000 gal

(0,56 kW/m3)
5.

Sebuah bejana aduk, diameter 6 ft (1,83 m) menggunakan turbin berdaun


lurus, enam daun, diameter 2 ft (0,61 m), terpasang pada jarak satu impeler
diameter di atas dasar bejana, dan berputar pada kecepatan 80 put/min.
Bejana itu dimaksudkan untuk digunakan dalam netralisasi larutan encer
NaOH dalam air pada 700F dengan asam nitrat (HNO3) pekat dalam
kuantitas yang secara stoikiometri ekivalen. Kedalaman akhir zat cair di
dalam bejana ialah 6 ft (1,83 m). Andaikan semua asam ditambahkan
sekaligus, berapa lama waktu diperlukan untuk menyelesaikan netralisasi
itu ?
Penyelesaian :
Kuantitas yang diperlukan ialah
D1 = 6 ft
Da = 2 ft
E = 2 ft
80
n = 60 = 1,333 put/det
Densitas zat cair

= 62,3 lb/ft3

Viskositas zat cair


: = 6,6 x 10-4 lb/ft-det
Angka Reynolds ialah :
22 x 1,333 x 62,3
D a 2 np
NRe =
=

6,60 x 1 04
Untuk NRe = 503000, ntT = 36
Jadi,

= 503000

tT
6.

36
1,333

= 27 det

Satu paket pengolahan air memiliki kapasitas pengolahan sebesar 270


m3/hari memiliki gravel-bed flokuator yang terdiri dari 5 bagian filter
berbentuk empat persegi panjang. Gravel memiliki porositas 0,4 dan suhu
air 200 C ( =

1,10 X 10-3 kg/m det, berat jenis =998 kg/m3).

Hitunglah :
1. Waktu flokulasi nominal dalam sistem
2. Gradien kecepatan dan Head loss untuk tiap liter.
Penyelesaian :

7.

rancanglah suatu flokulator kaal-bersekat (baffled channel) aliran


horizontal untuk mengolah air dengan kapasitas 10.000 m3 hari. Bak
flokulator dibagi dalam tiga ruang dengan gradien kecepatan masingmasing 50/detik; 35/detik ; 25/detik. Waktu flokulasi keseluruhan 21 menit
dan suh air 150 C. Dinding kanal memiliki nilai koefisien kekasaran o,3.
Panjang flokulator ditetapkan 10 m dan kedalaman kanal 1 m.
Penyelesaian :

8.

9.

Penyelesaian :

10.

Rancanglah suatu flokulator kenal bersekat (baffled channel) aliran


horizontal untuk mengolah air dengan kapasitas 12000 m3/hari. Bak

flokuator dibagi dalam tiga ruang dengan gradien kecepatan masing-masing


75/ detik, 35/ detik, dan 20/ detik. Waktu flokulasi keseluruhan 24 meit
dengan suhu air 250C. Dinding kanal memiliki nilai koefisien kekasaran f=
0,3. Panjang flokulator ditetapkan 12 m dan kedalaman kanal 1,2 m.
Penyelesaian :