Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN

DENGAN FRAKTUR FEMUR

oleh
Yulfa Intan Lukita, S.Kep
NIM 122311101034

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

LAPORAN PENDAHULUAN
FRAKTUR FEMUR
Oleh: Yulfa Intan Lukita, S.Kep
I. KONSEP PENYAKIT
a. Kasus
Fraktur Femur
b. Pengertian
Fraktur atau sering disebut patah tulang adalah terputusnya kontinuitas
jaringan tulang dan atau tulang rawan yang penyebabnya dapat dikarenakan
penyakit pengeroposan tulang diantaranya penyakit yang sering disebut
osteoporosis, biasanya dialami pada usia dewasa dan dapat juga disebabkan
karena kecelakaan yang tidak terduga. Fraktur adalah patah tulang, biasanya
disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut,
keadaan tulang itu sendiridan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan
apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price & Wilson, 2005).
Fraktur femur adalah suatu patahan kontinuitas struktur tulang femur
dikarenakan trauma langsung, trauma tidak langsung, faktor tekanan atau
kelelahan dan faktor patologik. Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas
batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas,
jatuh dari ketinggian) dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa.
Patah pada daerah ini dapat menimbulkan pendarahan yang cukup banyak

c.

Epidemiologi

Berdasarkan data yang diperoleh dari RS. Dr. Soeharso pada tahun 2007
didapatkan data bahwa angka kejadian fraktur femur mencapai 3215 kasus. Dari
sekian banyak fraktur femur yang terjadi di Amerika Serikat 10 % diantaranya
mengalami kekakuan dan menurut survei kesehatan nasional fraktur paling sering
dialami oleh laki-laki muda dan perempuan tua.
d. Etiologi

Smeltzer & Bare (2001) menyebutkan penyebab fraktur adalah dapat dibagi
menjadi tiga yaitu :
1. Cedera traumatik
a) cedera langsung, berarti pukulan langsung pada tulang sehingga
tulang patah secara spontan
b) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras dari otot yang kuat.
2. Fraktur patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit, dimana dengan
trauma minor dapat mengakibatkan fraktur, dapat juga terjadi pada
keadaan :
a) Tumor tulang (jinak atau ganas)
b) Infeksi seperti osteomielitis
c) Rakhitis, suatu penyakti tulang yang disebabkan oleh devisiensi
vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain.
3. Stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang
yang bertugas di kemiliteran.

e.

Klasifikasi
Penggolongan fraktur femur dapat dibagi menjadi beberapa kategori,

meliputi:
1. Fraktur Collum Femur
Fraktur Collum Femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya
seseorang terjatuh dengan posisi miring dan trokanter mayor langsung
terbentur pada benda keras seperti jalan. Pada trauma tidak langsung, fraktur
kolum femur terjadi karena gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai

bawah. Kebanyakan fraktur ini terjadi pada wanita tua yang tulangnya sudah
mengalami osteoporosis (Mansjoer, 2007).
2. Fraktur SubTrochanter Femur

Fraktur SubTrochanter Femur merupakan fraktur dimana garis patahnya


berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi
tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding
& Magliato, yaitu :
1) tipe 1, garis fraktur satu level dengan trochanter minor
2) tipe 2, garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter
minor
3) tipe 3, garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas
3.

trochanterminor
Fraktur Batang Femur
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat
kecelakaan atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat
menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita
menjadi shock. Salah satu klasifikasi fraktur batang femur berdasarkan
adanya lukayang berhubungan dengan daerah yang patah, meliputi:
1) Tertutup
2) Terbuka
Ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang
patah dengan lingkungan luar tubuh. Fraktur batang femur terbuka dibagi
dalam tiga derajat, yaitu:
a) Derajat I
Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya
diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.
b) Derajat II
Luka lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari
luar.
c) Derajat III
Luka lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang

4.

rusak (otot, saraf, pembuluh darah)


Fraktur Femur Suprakondiler
Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke
posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot otot
gastrocnemius. Fraktur supracondiler pada umumnya disebabkan oleh trauma

langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress
5.

valgus atau varus dan disertai gaya rotasi.


Fraktur Femur Interkondiler
Fraktur ini relatif jarang dan biasanya terjadi sebagai akibat jatuh dengan lutut
dalam keadaaan fleksi dari ketinggian. Permukaan belakang patella yang
berbentuk baji , melesak ke dalam sendi lutut dan mengganjal di antara kedua
kondilus dan salah satu atau keduanya retak. Pada bagian proksimal
kemungkinan terdapat komponen melintang sehingga didapati fraktur dengan
garis fraktur berbentuk seperti huruf T atau Y. Secara klinis, sendi lutut
bengkak akibat hemartrosis dan biasanya disertai goresan atau memar pada
bagian depan lutut yang menunjukkan adanya trauma. Pada fraktur jenis ini

6.

juga dapat mengakibatkan fraktur pada patella.


Fraktur Kondiler Femur
Mekanisme traumanya bisa kombinasi dari gaya hiper abduksi dan adduksi
disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas.

f.

Patofisiologi
Pada dasarnya penyebab fraktur itu sama yaitu trauma, tergantung dimana

fraktur tersebut mengalami trauma, begitu juga dengan fraktur femur ada dua
faktor penyebab fraktur femur, faktor-faktor tersebut diantaranya, fraktur
fisiologis merupakan suatu kerusakan jaringan tulang yang diakibatkan dari
kecelakaan, tenaga fisik, olahraga, dan trauma dan fraktur patologis merupakan
kerusakan tulang terjadi akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor
dapat mengakibatkan .
Fraktur ganggguan pada tulang biasanya

disebabkan oleh

trauma

gangguan adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan
metabolik dan patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik
yang terbuka ataupun tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan
pendarahan, maka volume darah menurun. COP atau curah jantung menurun maka
terjadi perubahan perfusi jaringan. Hematoma akan mengeksudasi plasma dan

poliferasi

menjadi edema lokal maka terjadi penumpukan didalam tubuh.

Disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai


kemungkinan

jaringan

lunak

yang

dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar dan

kerusakan jaringan lunak yang akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit.


Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur terbuka
atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan gangguan
rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi
masalah neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas
fisik terganggu. Pada umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup
akan dilakukan immobilitas yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang
telah dihubungkan tetap pada tempatnya sampai sembuh.

g.

Manifestasi klinis
Tanda dan gejala fraktur femur (Brunner & Suddarth, 2001) terdiri atas:
1) Nyeri
Nyeri yang terjadi terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen
tulang dimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan
bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
2) Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara tidak alamiah. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan
atau tungkai menyebabkan deformitas ekstremitas, yang bisa diketahui
dengan membandingkan dengan ekstremitas yang normal. Ektremitas tak
dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada
integritas tulang tempat melekatnya otot..
3) Pemendekan tulang
Terjadi pada fraktur panjang karena kontraksi otot yang melekat di atas
dan dibawah tempat fraktur.

Leg length discrepancy (LLD) atau perbedaan panjang tungkai bawah


adalah masalah ortopedi yang biasanya muncul di masa kecil, di mana dua
kaki seseorang memiliki panjang yang tidak sama. Penyebab dari masalah
Leg length discrepancy (LLD), yaitu osteomielitis, tumor, fraktur,
hemihipertrofi, di mana satu atau lebih malformasi vaskular atau tumor
(seperti hemangioma) yang menyebabkan aliran darah di satu sisi melebihi
yang lain. Pengukuran Leg length discrepancy (LLD) terbagi menjadi,
yaitu

true

leg

length

discrepancy

dan

apparent

leg

length

discrepancy.True leg length discrepancy adalah cara megukur perbedaan


panjang tungkai bawah dengan mengukur dari spina iliaka anterior
superior ke maleolus medial dan apparent leg length discrepancy adalah
cara megukur perbedaan panjang tungkai bawah dengan mengukur dari
xiphisternum atau umbilikus ke maleolus medial.

4) Krepitus tulang (derik tulang)


Krepitasi tulang terjadi akibat gerakan fragmen satu dengan yang lainnya.
5) Pembengkakan dan perubahan warna tulang
Pembengkakan dan perubahan warna tulang terjadi akibat trauma dan
perdarahan
mengikuti
fraktur.
terjadi setelah
Gambaryang
3. Cara
mengukur
Leg Tanda
length ini
discrepancy
(LLD)beberapa jam
atau hari.

h. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan rontgen : menetukan lokasi, luasnya fraktur, trauma, dan jenis
fraktur.

2) Scan tulang, temogram, CT scan/MRI :memperlihatkan tingkat keparahan


fraktur, juga dan mengidentifikasi kerusakan jaringan linak.
3) Arteriogram : dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler.
4) Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
multipel trauma) peningkatan jumlah SDP adalah proses stres normal
setelah trauma.
5) Kretinin : trauma otot meningkatkan beban tratinin untuk klien ginjal.
6) Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilingan darah, tranfusi
mulpel atau cedera hati (Lukman & Ningsih, 2009).
i.

Penatalaksanaan
Proses penyembuhan dapat dibantu oleh aliran darah yang baik dan stabilitas

ujung patahan tulang sedangkan tujuan penanganan pada fraktur femur adalah
menjaga paha tetap dalam posisi normalnya dengan cara reduksi tertutup dan
imobilisasi. Adapun prinsip penanganan fraktur menurut Smeltzer & Bare (2001)
meliputi :
a. Reduksi fraktur
Penyambungan kembali tulang penting dilakukan agar posisi dan rentang
gerak normal pulih. Sebagian besar reduksi dapat dilakukan tanpa intervensi
bedah (reduksi tertutup). Pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan
dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya (ujung-ujungnya saling
berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. Dan apabila diperlukan
tindakan bedah (reduksi terbuka) dengan pendekatan bedah fragmen tulang di
reduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, skrup, plat, paku atau
batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam
posisinya sampai penyembuhan tulang yang sulit terjadi. Alat ini dapat diletakkan
di sisi tulang atau dipasang melalui fragmen tulang atau langsung kerongga sum
sum tulang. Alat tersebut menjaga aproksimasi dan fiksasi yang kuat bagi fragmen
tulang.
b.

Imobilisasi Fraktur
Setelah fraktur di reduksi, fraktur tulang harus di imobilisasi, atau

dipertahankan dalam posisi dan kesejajarannya yang benar sampai terjadi

penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna.


Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin, atau
fiksator eksterna. Implant logam dapat digunakan untuk fiksasi interna yang
berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur.
c.

Fisioterapi dan mobilisasi


Fisioterapi dilakukan untuk mempertahankan supaya otot tidak mengecil dan

setelah fraktur mulai sembuh mobilisasi sendi dapat dimulai sampai ekstremitas
benar-benar telah kembali normal.
d. Analgetik
Analgetik diberikan untuk mengurangi rasa sakit yang timbul akibat trauma.
Nyeri yang timbul dapat menyebabkan pasien gelisah sampai dengan shock yang
biasanya di kenal dengan shock analgetik.

b. Clinical pathway
Kejadian patologik

Trauma
langsung

Absorbsi calsium
Rentan fraktur
Nyeri

Farktur
Pentalakasanaan

Perdarahan
Luka terbuka

Risiko Syok
Gangguan integritas kulit

Risiko Infeksi

Konservatif

Bidai

Gips

Tindakan bedah

Traksi

Pre Operasi
Kurang pengetahuan

Gangguan
mobilitas fisik

Gangguan perfusi
jaringan perifer

Cemas

Inta Operasi

Post Operasi

Risiko cidera
Perdarahan
Risiko Syok

Efek anastesi

Mual

Gangguan
termoregulasi

Hipotermi

c. Proses keperawatan
1. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Pada tahap pengkajian dapat dilakukan anamnesa/wawancara terhadap
pasien dengan fraktur femur yaitu :
1) Identitas pasien
a) Nama
: Nama pasien
b) Usia
: usia lebih dari 60 tahun dimana tulang sudah
mengalami osteoporotik, penderita muda ditemukan riwayat
mengalami kecelakaan, fraktur batang femur pada anak terjadi
karena jatuh waktu bermain dirumah atau disekolah
2) Riwayat keperawatan
a) Riwayat perjalanan penyakit
1. Keluhan utama klien datang ke RS atau pelayanan kesehatan :
nyeri pada paha
2. Apa penyebabnya, waktu : kecelakaan atau trauma, berapa
jam/menit yang lalu
3. Bagaimana dirasakan, adanya nyeri, panas, bengkak dll
4. Perubahan bentuk, terbatasnya gerakan
5. Kehilangan fungsi
6. Apakah klien mempunyai riwayat penyakit osteoporosis
b) Riwayat pengobatan sebelumnya
1. Apakan klien pernah mendapatkan pengobatan

jenis

kortikosteroid dalam jangka waktu lama


2. Apakah klien pernah menggunakan obat-obat hormonal,
terutama pada wanita
3. Berapa lama klien mendapatkan pengobatan tersebut
4. Kapan klien mendapatkan pengobatan terakhir
3) Pemeriksaan fisik
Mengidentifikasi tipe fraktur
a) Look (inspeksi) daerah mana yang terkena
1. Deformitas yang nampak jelas
1. Edema, ekimosis sekitar lokasi cedera
2. Laserasi
3. Perubahan warna kulit
4. Kehilangan fungsi daerah yang cidera
b) Feel (palpasi)
1. Bengkak, adanya nyeri dan penyebaran
2. Krepitasi
3. Nadi, dingin

4. Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur


c) Move (gerakan)
1. gerakan aktif sakit
2. gerakan pasif sakit
4) Pemeriksaan Penunjang
a) Foto Rontgen
1. Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara
langsung
2. Mengetahui tempat dan tipe fraktur
b) Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan
selama proses penyembuhan secara periodik
c) Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler
d) Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi)
atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ
jauh pada trauma multiple).

b.

Diagnosa keperawatan
1) Pre operasi
a. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot dan kerusakan sekunder
pada fraktur
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera jaringan
sekitar/fraktur
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan fraktur terbuka dan
kerusakan jaringan lunak
d. Ansietas berhubungan dengan prosedur pengobatan atau pembedahan
1) Intra operasi
Resiko syok hipovolomik berhubungan dengan perdarahan akibat
pembedahan
2) Post operasi
a. Nyeri berhubungan dengan proses pembedahan
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan post
pembedahan
d. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi

2. Intervensi
Diagnosa
Nyeri
akut
berhubungan
dengan
spasme
otot
dan
kerusakan
sekunder
pada fraktur

Hambatan

mobilitas

Waktu

NOC
NIC
Setelah
dilakukan
tindakan Pain Management
keperawatan selama 1 x 24 jam,
a. Kaji karakteristik pasien secara
nyeri yang dirasakan pasien
PQRST
berkurang dengan kriteria hasil :
Rasional : Membantu dalam menentukan
a. Mampu mengontrol nyeri (tahu
status nyeri pasien dan menjadi data
penyebab nyeri, mampu
dasar untuk intervensi dan monitoring
menggunakan teknik
keberhasilan intervensi
nonfarmakologi untuk
b. Lakukan manajemen nyeri sesuai
mengurangi nyeri)
skala nyeri misalnya pengaturan
b. Melaporkan bahwa nyeri
posisi fisiologis
berkurang dengan
Rasional : Meningkatkan rasa nyaman
menggunakan manajemen
dengan mengurangi sensasi tekan pada
nyeri
area yang sakit
c. Mampu mengenali nyeri
c. Ajarkan teknik relaksasi seperti nafas
(skala, intensitas, frekuensi
dalam pada saat rasa nyeri dating
dan tanda nyeri)
Rasional : Peningkatan suplai oksigen
d. Menyatakan rasa nyaman
pada area nyeri dapat membantu
setelah nyeri berkurang
menurunkan rasa nyeri
d. Beri kompres hangat pada area nyeri
Rasional : Meningkatkan respon aliran
darah pada area nyeri
e. Kolaborasi dengan pemberian analgesik
secara periodic
Rasional : Mempertahankan kadar obat
dan menghindari puncak periode nyeri
Setelah
dilakukan
tindakan NIC: exercise therapy (ambulation)

Paraf

fisik
berhubungan
dengan cedera jaringan
sekitar/fraktur

keperawatan selama 3x24 jam 1. Kaji kemampuan fungsional otot


diharapkan
pasien
mampu
Rasional : mengidentifikasi kekuatan
melakukan aktifitas fisik sesuai
/kelemahan dapat membantu memberi
dengan kemampuannya dengan
informasi yang diperlukan untuk
kriteria hasil:
membantu pemilihan intervensi
a. Peningkatan aktivitas pasien 2. Atur posisi tiap 2 jam, (supinasi,
b. Memperagakan penggunaan
sidelying) terutama pada bagian yang sakit
alat bantu untuk mobilisasi
Rasional : dapat menurunkan resiko
iskemia jaringan injury. Sisi yang sakit
biasanya kekurangan sirkulasi dan sensasi
yang buruk serta lebih mudah terjadi
kerusakan kulit/dekubitus.
3. Mulai ROM. Aktif/pasif untuk semua
ekstremitas . Anjurkan latihan meliputi
latihan otot quadriceps/gluteal ekstensi,
jari dan telapak tangan serta kali.
Rasional : meminimalkan atropi otot,
meningkatkan sirkulasi, membantu
mencegah kontraktur, menurunkan resiko
hiperkalsiurea dan osteoporosis pada
pasien dengan haemorhagic.
4. Tempatkan bantal di bawah aksila sampai
lengan bawah
Rasional : mencegah abduksi bahu dan
fleksi siku
5. Elevasi lengan dan tangan
Rasional : dapat meningkatkan aliran balik
vena dan mencegah terjadinya formasi

Resiko tinggi infeksi


berhubungan
dengan
fraktur terbuka dan
kerusakan
jaringan
lunak

edema.
6. Observasi sisi yang sakit seperti warna,
edema, atau tanda lain seperti perubahan
sirkulasi.
Rasional : jaringan yang edema sangat
mudah mengalami trauma, dan sembuh
dengan lama.
7. Kolarobarsi dengan ahli terapi fisik, untuk
latihan aktif, latihan dengan alat bantu dan
ambulasi pasien.
Rasional : program secara individual akan
sesuai dengan kebutuhan pasien baik dalam
perbaikan deficit keseimbangan , koordinasi
dan kekuatanRasional : memonitor status
infeksi
Setelah
dilakukan
tindakan a. Monitor tanda dan gejala infeksi sistenik
keperawatan selama 3 x 24jam,
dan lokal, Monitor kerentanan terhadap
resiko ineksi terkontrol
infeksi
a. Tidak ada tanda infeksi
Rasional :Untuk mencegah terjadinya
b. penyembuhan luka baik
infeksi
b. Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
Rasional : Mendeteksi adanya infeksi
c. Dorong masukkan nutrisi yang cukup,
masukan cairan, dan istirahat
Rasional : Nutrisi yang baik, cairan yang
cukup, serta istirahat yang cukup dapat
meningkatkan sistem imun tubuh
sehingga mencegah terjadiny infeksi.

d. Lakukan perawatan luka


Rasional : membersihkan luka untuk
mengurangi bakteri pada luka

d. Discharge planning
1) Persiapan perawatan di rumah
Hal yang harus dikaji meliputi tingkat pengetahuan klien dan keluarga dan
lingkungan rumah. Hal-hal yang memungkinkan jauh dan celaka harus
dihilangkan. Ruang harus bebas/minimal perabot untuk memudahkan klien
bergerak dengan alat bantu. Toilet duduk bisa disiapkan untu membantu
kemandirian klien dalam bereliminasi
2) Edukasi klien/keluarga
Klien dengan fraktur biasanya dipulangkan kerumah masih dalam keadaan
memakai balutan, splint, gips atau fiksasi eksternal. Perawa harus
menyiapkan

instruksi

verbal/tertulis

untuk

klien/keluarga/caregiver

bagaimana mengkaji dan merawat luka untuk meningkatkan penyembuhan


dan mencegah infeksi. Klien dan keluarga harus tahu bagaimana
komplikasi/tanda-tanda komplikasi dan dimana serta kapan harus
menemui atau kontak dengan tenaga kesehatan profesional
3) Latihan rehabilitasi pasien di rumah
Anjurkan pasien untuk berlatih ROM untuk menghindari kontraktur tulang