Anda di halaman 1dari 23

Tugas Akhir

BAB V
ANALISIS KUALITAS BATUGAMPING SEBAGAI BAHAN BANGUNAN
BERDASARKAN KUAT TEKAN

5.1. Latar Belakang


Keterlibatan geologi dalam pekerjaan konstruksi teknik sangat besar
terutama pada periode perencanaan dan pemeliharaan. Pada periode perencanaan
dilakukan studi geologi untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai
kondisi geologi daerah sekitarnya, yang mana kemudian dikembangkan jauh lagi
dalam tahapan berikutnya. Studi geologi ini antara lain meliputi pekerjaan
eksplorasi termasuk pengujian batuan sesuai dengan maksud dan tujuan, serta
pertimbangan kemudahan memperoleh material bangunan. Pada periode
pemeliharaan hasil dari pekerjaan konstruksi teknik ini, bukan hanya bangunan
buatan manusianya saja yang perlu diperhatikan tetapi juga harus diperhatikan
perkembangan keadaan alam atau tingkah laku bumi, sebagai contoh adalah
terjadinya erosi, longsoran, dan sebagainya.
Melihat singkapan batugamping pada daerah penelitian belum banyak
dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Pemanfaatan batugamping di daerah
penelitian oleh warga hanya digunakan untuk urukan jalan dan pondasi pembatas
jalan. Hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut karena berdasarkan pengamatan
lapangan batugamping daerah penelitian mempunyai tumbukan palu yang cukup
keras sehingga diperkirakan mempunyai nilai kuat tekan yang cukup untuk bahan
campuran beton bangunan.

81

Tugas Akhir

Berdasarkan data lapangan, hasil analisa petrografi dan peta geologi


daerah penelitian pada Satuan Batugamping Kalibeng cukup prospek dengan luas
penyebaran 8 % dari luas daerah penelitian. Untuk mengetahui kualitasnya
diperlukan adanya studi lebih lanjut mengenai batugamping tersebut sehingga
didapatkan kapasitas daya dukung batuannya sebagai bahan konstruksi teknik.
5.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penelitian ini adalah melakukan pengukuran atau pengujian
kuat tekan batugamping pada daerah penelitian. Dari hasil pengujian kuat tekan
maka akan diketahui tingkat ketahanan batugamping yang kemudian dapat
disesuaikan dalam pemanfaatannya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas batugamping
untuk konstruksi bahan bangunan. Berdasarkan hasil analisa kuat tekan maka
akan diketahui penggunaan yang tepat sebagai kontruksi bahan bangunan
(pondasi rumah, pengeras jalan, jembatan, jalan tol, dll), dengan memperhatikan
teknologi-teknologi pemanfaatan batugamping yang sudah ada.
5.3. Permasalahan dan Batasan Masalah
Sebagian daerah penelitian (8%) merupakan daerah dengan litologi
penyusun berupa batugamping. Pada daerah penelitian batugamping ini sudah
dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar tetapi hanya bersifat umum sehingga
peneliti merasa perlu untuk melakukan analisis pada batugamping di daerah
penelitian. Dari hasil data analisis diharapkan akan membantu masyarakat dalam

82

Tugas Akhir

memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitarnya terutama untuk bahan
bangunan.
Batasan masalah pada penelitian ini adalah mengetahui kualitas
batugamping untuk bahan konstruksi dengan uji kuat tekan. Dari hasil analisis
tersebut akan diperoleh nilai kuat tekan yang kemudian dikorelasikan dengan
Standard Direktorat Jenderal Bina Marga (1976).
5.4. Landasan Teori
5.4.1. Tinjauan Umum Batugamping
Batugamping adalah batuan sedimen yang mempunyai komposisi dominan
lebih dari 55% terdiri dari mineral karbonat. Proses pembentukannya dapat terjadi
secara insitu yang berasal dari larutan yang mengalami proses kimiawi maupun
biokimia, dimana pada proses tersebut organisme turut berperan. Selain itu
batugamping jua dapat terbentuk dari butiran rombakan yang mengalami
transportasi secara mekanik dan dapat juga terbentuk akibat proses diagenesa dari
batuan karbonat yang lain kemudian diendapkan pada suatu tempat.
Batugamping dengan komposisi utama mineral karbonat mempunyai
peranan yang sangat penting sebagai bahan bangunan. Batuan ini dibagi menjadi
dua golongan besar, yaitu batugamping klastik yang merupakan hasil sedimentasi
material rombakan dan batugamping non-klastik yang merupakan hasil dari
kegiatan organisme. Semua batugamping tersebut terbentuk dalam lingkungan
laut, sehingga pada umumnya mempunyai penyebaran yang luas dan tebalnya
mencapai ratusan meter.

83

Tugas Akhir

Kenampakan batugamping yang bertekstur klastik adalah berlapis,


terbentuk dari rombakan batugamping non-klastik dan selama proses sedimentasi
bahan itu mungkin tercampur dengan mineral lain sebagai akibatnya jenis
batugamping ini tingkat kemurniannya rendah. Sebaliknya batugamping non
klastik yang merupakan hasil kegiatan organisme kemurniannya tinggi, karena
pada pembetukkannya tidak tercampur dengan pengatur lain (Walker and Mutti,
1984). Berikut ini adalah beberapa klasifikasi batugamping:
1. Dunham (1962) membuat klasifikasi berdasarkan tekstur pengendapan, yaitu:
-

Tekstur sedimentasi

- Tekstur butir
- Ada/tidaknya kandungan lumpur karbonat
2. Folk (1962), membuat klasifikasi batugamping atas dasar genetik yaitu
kedudukan relatif dari allokimia, serta pembundaran dari allokimia.
3. Pettijohn (1975) membuat klasifikasi batugamping klastik atas dasar ukuran
butirnya, dapat dikatakan kalkarenit bila ukuran butirnya pasir, jika lebih besar
lagi disebut kalsirudit, dan bila ukurannya lempung disebut kalsilutit.
5.4.2. Test Kuat Tekan
Salah satu sifat teknis yang penting adalah test kuat tekan. Test kuat tekan
dimaksudkan untuk mengetahui titik hancur batuan (bahan) terhadap pemberian
tekanan maksimum. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengujian kuat tekan
dari batuan (Vutukuri et al dalam Brotodiharjo, 1979) adalah sebagai berikut:

1. Faktor dalam (intern) yang meliputi :

84

Tugas Akhir

a.

Mineralogi batuan ; Komposisi mineral pada batuan sangat


berpengaruh terhadap resistensi ataupun dalam uji kuat tekan batuan.
Mineral-mineral dengan tingkat kekerasan yang tinggi akan memiliki
resistensi yang juga tinggi.
Pada batuan sedimen yang mengandung banyak mineral kuarsa
sebagai semennya akan mempunyai harga kuat tekan yang lebih tinggi
dibandingkan batuan sedimen yang tidak mempunyai komposisi semen
dari mineral kuarsa. Semakin besar kandungan mineral kuarsanya
maka akan semakin tinggi harga kuat tekannya, sedangkan batuan
sedimen yang paling lemah adalah batuan sedimen dengan komposisi
mineral lempung sebagai semennya.

b.

Ukuran butir ; Semakin kecil ukuran butir suatu batuan maka akan
semakin tinggi nilai kuat tekannya.

c.

Porositas ; Harga kuat tekan batuan juga dipengaruhi oleh


porositasnya, semakin tinggi porositas maka harga kuat tekan batuan
semakin kecil. Hal ini disebabkan pada batuan berporositas tinggi
memiliki banyak ruang-ruang kosong yang menyebabkan nilai kuat
tekannya rendah.

d.

Pelapukan ; Suatu batuan akan memperlihatkan kuat tekan yang


semakin berkurang dengan bertambahnya tingkat pelapukan.

Faktor luar (ekstern) yaitu gaya gesekan antara bidang


plat penekan dengan ujung-ujung contoh batuan.

85

Tugas Akhir

Di dalam geologi, istilah batuan sebenarnya sudah mencakup batu dan


tanah. Hal ini berbeda dengan teknik sipil, karena sifat teknik dari batu berbeda
dengan sifat teknik dari tanah maka didalam istilah batu dan tanah perlu
dibedakan (Pangluar dan Nugroho, 1980). Selain itu Pangluar dan Nugroho
(1980) juga mengklasifikasikan kekuatan batuan berdasarkan tingkat kemudahan
pecahnya dengan menggunakan benda (Tabel 5.1), sedangkan Stapledon (1968)
dalam Brotodiharjo (1979) mengklasifikasi material batuan berdasarkan kekuatan
tekanannya (Tabel 5.2).
Menurut Peck dkk, (1974) batuan dimaksudkan sebagai agregasi alamiah
dari butir-butir mineral yang saling berhubungan erat dengan kohesi yang kuat
dan permanen, sedangkan Wesley (1977) dalam Brotodiharjo (1979) berpendapat
bahwa lapisan batuan umumnya merupakan lapisan yang homogen biasanya
mengandung rekahan-rekahan dan bidang pecahan (fractures). Di lain pihak
Standard Direktorat Jenderal Bina Marga (1976) berpendapat bahwa batuan yang
layak digunakan untuk bahan bangunan adalah batuan dengan kuat tekan sebagai
berikut:
1. Sebagai beton bangunan rumah minimal kuat tekannya 200 kg/cm2.
2. Sebagai beton jalan raya minimal kuat tekannya 350 kg/cm2.
3. Sebagai beton tiang panjang minimal kuat tekannya 500 kg/cm2.
4. Sebagai bahan landasan pacu pesawat terbang minimal memiliki kuat
tekan 1000 kg/cm2.

86

Tugas Akhir

Tabel 5.1. Klasifikasi kekuatan batuan (Pangluar dan Nugroho, 1980).


Kelas
1
2
3
4
5

Uji lapangan
Mudah dipotong dengan tangan.
Mudah pecah oleh pukulan ringan palu
geologi.
Pecah oleh pukulan keras palu geologi.
Sukar pecah oleh pukulan keras palu
geologi dan berbunyi nyaring.
Sukar pecah oleh pukulan palu geologi.

Istilah
Sangat lemah
Lemah
Sedang
Kuat
Sangat kuat

Tabel 5.2. Klasifikasi material batuan berdasarkan kekuatan tekanannya


(dikembangkan dari Stapledon, 1968 dalam Brotodiharjo, 1979).
Uncon Fined Compression Strength
Kg/cm2
70
70 200
200 700
70 1400
1400

Term
Very Weak (VW)
Weak (W)
Medium Strong (MS)
Strong (S)
Very Strong (VS)

Untuk pengaruh faktor dalam pada batuan adalah jenis dari batuan yang
akan diuji. Jenis dari batuan akan sangat berbeda kuat tekannya, misalnya batuan
beku memiliki kuat tekan yang lebih tinggi daripada batuan sedimen dan
seterusnya.
Menurut Zhanski (1954) dalam Brotodiharjo (1979), bahwa dengan
adanya gaya gesekan (fraction) yang terjadi antara bidang plat penekan dengan
ujung-ujung contoh batuan, maka harga kuat tekan yang ditentukan dapat
bertambah besar dari pada diuji tanpa gesekan. Demikian pula pecahnya contoh
batuan yang ditekan tanpa gaya gesekan akan lebih perlahan-lahan dari pada
contoh batuan yang ditekan dengan plat bergaya gesek.

87

Tugas Akhir

Tentang pengaruh bentuk contoh batuan terhadap kuat tekan, ada yang
mengatakan bahwa contoh berbentuk silinder selalu lebih besar kekuatan
tekannya dari pada contoh batuan yang berbentuk kubus, tetapi ada juga yang
menyatakan sebaliknya. Grovener dan Price (1963) dalam Brotodiharjo, (1979)
mengemukakan bahwa tidak ada perbedaan kuat tekan yang terjadi pada kedua
macam bentuk contoh batuan tersebut dan kalaupun ada perbedaan sangat kecil
sehingga dapat diabaikan.
Sifat material tumbukan palu dapat diketahui dengan uji lapangan melalui
cara sederhana yaitu metode uji tumbukan palu. Dari suara tumbukan batuan
dengan palu, pantulan dan bekas tumbukan palu, maka dapat diperkirakan
kekuatan dari suatu batuan (Matthewson, 1980) (Tabel 5.3).
Table 5.3. Uji Tumbukan Palu (Matthewson, 1980)
No
.
1.

Tumbukan keras, jelas pantulannya kuat,


tidak meninggalkan bekas

Skala Kekuatan
Luar biasa kuat
Sangat kuat

3.

Tumbukan keras, bergedebuk, terjadi


pantulan, sedikit berbekas atau sedikit
menimbulkan kerapatan
Tumbukan bergedebuk, tiada pantulan,
berbekas dan menimbulkan patahan

4.

Tumbukan bergedebuk, meninggalkan tapak


palu, terjadi keretakan

Cukup kuat

5.

Palu terbenam, terjadi keretakan

2.

5.5.

Pengamatan

Kuat

Lemah

Metode Penelitian
Uji kuat tekan dilakukan pada 3 contoh batuan dan yang harus dicatat pada

setiap test uji adalah beban dan kuat tekannya, dari hasil uji diperoleh variasi nilai

88

Tugas Akhir

kuat tekan dan beban dimana perbedaan tersebut terjadi karena adanya faktor
pelapukan, terdapatnya kekar dan faktor yang lainnya.
Dalam menganalisa kuat tekan di bagi menjadi beberapa tahap untuk
mendapatkan hasil yang sempurna. Tahap menganalisa kuat tekan tersebut
meliputi :
1. Tahap persiapan
2. Tahap pelaksanaan pengujian kuat tekan batuan
5.5.1. Tahap persiapan
Pada tahap persiapan ini ada beberapa hal yang harus dilakukan. Tahaptahap yang harus dilakukan pada tahap ini adalah :
1.

Pengambilan sempel.
Dalam pengambilan sampel harus melihat tingkat kesegaran batuannya.

Kesegaran batuan akan memberikan suatu kenampakan sifat fisik yang asli,
apabila batuan itu lapuk maka untuk hasil pengujian tidak maksimal.
Pengambilan sampel pada setiap sampel diusahakan pada tempat yang berbeda,
hal ini bertujuan agar didapat hasil rata - rata dari setiap unit sampel pada saat
dilakukan uji kuat tekan.
2. Alat yang digunakan dalam uji kuat tekan
Dalam pengujian kuat tekan diperlukan beberapa alat yang efisien
dalam mengetahui kekuatan batuan, antara lain : Mesin kuat tekan yang
kapasitasnya cukup untuk memberikan beban tegak secara terus-menerus dan
diperoleh laju tegang konstan sampai batuan pecah dalam waktu 5 - 15 menit.

89

Tugas Akhir

5.5.2. Tahap Pelaksanaan Pengujian Kuat Tekan Batuan


1.

Sampel yang talah diambil di lapangan, yang bentuknya tidak beraturan


dibentuk menjadi kubus agar memudahkan dalam uji kuat tekan (Gambar
5.1). Direktorat Jenderal Bina Marga (1976) telah menetapkan standar
ukuran 5 x 5 x 5 cm pada contoh batuan yang akan diuji dalam bentuk
kubus (Gambar 5.2).

Gambar 5.1. Proses pembentukan batugamping sebelum diuji kuat tekannya.

Gambar 5.2. Batugamping sebagai contoh test kuat tekan dengan ukuran tiap sisi
kurang lebih 5 cm (kubus).
2.

Letakkan contoh batuan pada bantalan baja di bawah piston tekan (Gambar
5.3).
Lakukan uji dengan menghidupkan alat uji, pada saat alat uji mulai bekerja

piston akan bergerak menekan contoh batuan dengan percepatan 2 4 kg/det 2.


Kemudian setelah mencapai beban maksimum maka contoh akan hancur (pecah)
dan nilai beban maksimum akan tercantum dalam grafik yang menunjukkan angka
90

Tugas Akhir

tertentu (dalam skala Kilogram) dan nilai kuat tekan juga akan merekam langsung
pada panel meter yang akan menunjukkan angka tertentu yang merupakan nilai
kuat tekannya.

Gambar 5.3. Uji kuat tekan sampel batuan.

5.6. Hasil Analisis


5.6.1. Lapangan
Berdasarkan data lapangan, hasil analisa petrografi dan peta geologi
daerah penelitian pada Satuan Batugamping Kalibeng cukup prospek dengan luas
penyebaran 8 % dari luas daerah penelitian (Gambar 5.4). Hasil uji tumbukan
palu pada batugamping daerah penelitian yang ada di daerah Banyumeneng dan
Kalikayen adalah tumbukan keras, bergedebuk, tidak terjadi pantulan, sedikit
berbekas atau sedikit menimbulkan kerapatan pada sampel 1 dan sampel 2,
sedangkan pada sampel 3 hasil uji tumbukan adalah tumbukan keras, bergedebuk,
terjadi pantulan, sedikit berbekas atau sedikit menimbulkan kerapatan.
Dari uji tumbukan palu dapat diketahui bahwa sampel 3 memiliki
kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sampel 1 dan sampel 2.

91

Tugas Akhir

Pengambilan sampel dilakukan di desa Kalikayen dan desa Banyumeneng, dengan


mengambil tiga sampel yaitu: sampel 1 (Gambar 5.5), sampel 2 (Gambar 5.6), dan
sampel 3 (Gambar 5.7).

Gambar 5.4. Peta lokasi pengambilan sampel batugamping.

Gambar 5.5. Singkapan batugamping di desa Banyumeneng (sampel 1).

92

Tugas Akhir

Gambar 5.6. Singkapan batugamping di desa Banyumeneng (sampel 2).

Gambar 5.7. Singkapan batugamping di desa Kalikayen (sampel 3).


5.6.2. Laboratorium
Kualitas batugamping yang dianalisis berdasarkan kuat tekannya secara
kualitatif dicirikan dengan tingkat pelapukan dan peretakan yang bervariasi. Dari
setiap yang diambil contoh batuannya sebagai bahan analisis dan dianggap setiap
contoh batuan yang diambil telah mewakili daerah tersebut dengan tingkat
pelapukan dan peretakan yang berbeda dengan daerah lainnya. Disini peneliti
mengambil 3 (tiga) contoh batuan untuk dianalisis.
Berdasarkan hasil pengujian kuat tekan contoh batugamping yang diteliti
didapatkan nilai kuat tekan yang bervariasi yaitu sebagai berikut : 256,99 kg/cm 2
93

Tugas Akhir

(sampel 1), 273,30 kg/cm2 (sampel 2) dan 287,50 kg/cm2 (sampel 3). Jika dilihat
dari masing-masing data hasil pengujian kuat tekannya, maka batugamping di
daerah penelitian termasuk dalam kisaran antara 200 700 kg/cm2 termasuk
cukup kuat (Medium Strong) (Stapledon, 1968 dalam Brotodiharjo, 1979).
5.7. Pembahasan
Ditinjau dari segi geologi Satuan Batugamping ini teletak di bagian utara
daerah penelitian dengan luas penyebaran 8 %, namun menarik untuk dipelajari
lebih jauh. Hal ini disebabkan batugamping yang tersingkap mempunyai ciri-ciri
berwarna segar putih kecoklatan dan warna lapuk coklat, tekstur klastik, struktur
masif, permeabel, porositas bagus, ukuran butir pasir sedang-kasar. Batugamping
ini menempati Satuan Geomorfologi Bergelombang Kuat-Struktural dan diduga
tersingkap sebagai akibat adanya sesar naik yang berarah baratlaut tenggara.
Hasil pemerian di lapangan batugamping ini bereaksi kuat dengan larutan
HCl sehingga diduga mengandung unsur karbonat yang cukup besar (>90%),
unsur-unsur karbonat tersebut sebagian besar berasal dari fosil foraminifera. Dari
data geologi regional pada batugamping ini terdapat fosil Pulleniatina primalis
dan Globigerinoides sicanus yang menunjukkan kisaran umur N18 (Miosen
akhir).
Dari hasil uji tumbukan palu pada batugamping daerah penelitian yang ada
di daerah Banyumeneng dan Kalikayen adalah tumbukan keras, bergedebuk, tidak
terjadi pantulan, sedikit berbekas atau sedikit menimbulkan kerapatan pada
sampel 1 dan sampel 2, sedangkan pada sampel 3 hasil uji tumbukan adalah
tumbukan keras, bergedebuk, terjadi pantulan, sedikit berbekas atau sedikit

94

Tugas Akhir

menimbulkan kerapatan. Dari data ini peneliti dapat mengetahui bahwa


batugamping di daerah penelitian memiliki kekerasan yang cukup kuat bahan
konstruksi menurut Matthewson, (1980).
Dalam analisa kuat tekan, setiap batuan memiliki harga kuat tekan yang
berbeda terutama batuan dengan mineral yang memiliki resistensi tinggi.
Stapledon, (1968) dalam Brotodihardjo, (1979) berpendapat bahwa pada
umumnya batuan beku memiliki harga kuat tekan yang lebih tinggi daripada
batuan sedimen, sedangkan batuan metamorf jenis sekis memiliki harga kuat
tekan yang rendah. Selain itu Stapledon, (1968) dalam Brotodihardjo, (1979) juga
mengatakan bahwa batuan sedimen yang mengandung kuarsa sebagai
penyemennya memiliki harga kuat tekan lebih tinggi dari batuan sedimen yang
tidak memiliki kuarsa sebagai semennya. Semakin besar mineral kuarsanya maka
semakin tinggi harga kuat tekannya, sedangkan yang paling rendah harga kuat
tekannya adalah batuan sedimen dengan mineral lempung sebagai semennya. Di
lain pihak Legget (1939) berpendapat bahwa adanya mineral kuarsa pada batuan
beku akan menghasilkan kekerasan yang tidak sama atau berbeda diantara
mineral-mineral penyusun batuan beku tersebut, dengan demikian apabila batuan
beku ini lapuk akan menghasilkan bahan semen yang sedikit dikarenakan kuarsa
tidak mudah lapuk. Hal inilah yang menyebabkan batuan beku memiliki kuat
tekan yang lebih tinggi daripada batuan sedimen. Dari hasil analisis petrografi
batugamping daerah penelitian tidak mengandung mineral kuarsa tetapi juga tidak
mengandung mineral lempung sebagai semennya. Oleh sebab itu batugamping
daerah penelitian memiliki kuat tekan menengah yang dikarenakan komposisinya

95

Tugas Akhir

berupa butiran dengan kekerasan yang hampir sama. Hal ini telah dibuktikan dari
hasil uji laboratorium yang mempunyai harga kuat tekan rata-rata 266,16 kg/cm 2.
Dari data harga kuat tekan dapat diketahui batugamping daerah penelitian dapat
dimanfaatkan untuk bahan konstruksi terutama sebagai alas bangunan dan
pembatas jalan.
Menurut Legget (1939) tidak adanya mineral kuarsa dan mineral
penyusunnya memiliki kekerasan yang hampir sama, maka batuan tersebut dapat
digolongkan batuan yang memiliki kualitas baik untuk bahan fondasi bangunan.
Dari hasil analisa kuat tekan diketahui batugamping daerah penelitian mempunyai
nilai kuat tekan menengah (medium strong), walaupun tidak mengandung mineral
kuarsa batugamping di daerah penelitian tersusun oleh komposisi yang dominan
berupa butiran (grain supported) yang berupa fosil (Gambar 5.8). Komposisi
dengan kekerasan yang hampir sama inilah yang menyebabkaan batugamping
daerah penelitian memiliki kuat tekan yang cukup kuat untuk bahan konstruksi.

Fosil

Gambar 5.8. Kenampakan fosil pada sayatan tipis petrografi, Lp 34.

96

Tugas Akhir

Ukuran butir batuan cukup berpengaruh terhadap kuat tekan suatu batuan.
Brace, (1961) dalam Brotodihardjo (1979) berpendapat bahwa semakin kecil
ukuran butir suatu batuan maka akan semakin tinggi nilai kuat tekannya Dalam
hal ini Brace tidak menyebutkan apakah ketentuan ini berlaku untuk semua jenis
batuan atau tidak. Berbeda dengan Oglesby (1975) yang berpendapat bahwa
tekstur suatu batuan dapat berpengaruh terhadap sifat mekaniknya, yang dimaksud
tekstur disini adalah hubungan antara mineral-mineral penyusun batuan. Oglesby
mengatakan batuan dengan butiran yang saling mengisi akan mempunyai keuletan
yang tinggi dan semakin ulet suatu batuan maka harga kuat tekannya juga
semakin besar. Pada batugamping daerah penelitian butiran tidak saling mengunci
sehingga tidak mempunyai keuletan yang tinggi, tetapi butiran yang hampir
seragam dengan kekerasan yang hampir sama menyebabkan batugamping daerah
penelitian memiliki harga kuat tekan yang cukup untuk bahan konstruksi.
Daerman, dkk (1978), mengatakan bahwa suatu batuan

akan

memperlihatkan kuat tekan yang semakin berkurang dengan bertambahnya tingkat


pelapukan, sedangkan Brace (1961) berpendapat bahwa yang mempengaruhi
harga kuat tekan adalah porositas batuan semakin tinggi porositas batuan maka
harga kuat tekannya semakin kecil.
Pada daerah penelitian pelapukan yang terjadi pada batugamping hanya
sedikit pada bagian atas (Gambar 5.9). Dalam pengambilan sampel peneliti
mengambil contoh batuan segar yang berada pada bagian bawah. Hal ini bertujuan
agar harga kuat tekan batuan yang akan dianalisis tidak terpengaruh oleh
pelapukan.

97

Tugas Akhir

Gambar 5.9. Pelapukan yang terjadi pada batugamping di desa Banyumeneng.


Selain faktor-faktor pada batuan yang mempengaruhi hasil uji kuat tekan
ada juga faktor lain, yaitu gaya gesekan antara bidang plat penekan dengan ujungujung contoh batuan, bentuk sampel batuan dan volume batuan. Pratt, dkk (1972)
meneliti pengaruh sisi panjang contoh berbentuk kubus terhadap kuat tekan, yang
memperlihatkan bahwa semakin panjang contoh semakin berkurang kuat
tekannya. Di lain pihak Lama & Gonano (1976) dalam Brotodihardjo (1979)
menyatakan bahwa ada pengaruh kuat tekan batuan terhadap volume contoh yaitu
semakin besar volume contoh semakin berkurang kuat tekannya, sedangkan
Fecker & Rengers (1971) menyatakan bahwa kekuatan geser semakin berkurang
dengan pengurangan kekasaran permukaan. Pada pengujian kuat tekan
batugamping daerah penelitian semua sisinya diratakan dan batugamping dibentuk
kubus dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm. Hal ini bertujuan untuk mendapat harga kuat
tekan yang maksimal. Permukaan yang tidak rata akan mempengaruhi hasil uji
kuat tekan karena alat uji akan membaca nilai kuat tekan pada hancuran

98

Tugas Akhir

permukaan yang tidak rata sebelum sampel batuan hancur secara keseluruhan.
Bentuk kubus dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm bertujuan agar harga uji kuat tekan
maksimal karena semakin besar ukuran volume sampel maka nilai kuat tekannya
akan semakin kecil.
Pemanfaatan Batugamping dapat digunakan sebagai bahan konstruksi
teknik. Di daerah penelitian hanya sedikit batugamping yang dimanfaatkan
sebagai bahan bangunan. Hal ini disebabkan masyarakat sekitar mengetahui kuat
tidaknya batugamping di daerah penelitian hanya secara umum, sehingga
pemanfaatannya kurang maksimal dan hanya digunakan untuk bahan urug jalan
(Gambar 5. 10) dan pondasi pembatas jalan (Gambar 5.11).
Batugamping pada daerah penelitian belum banyak dimanfaatkan oleh
masyarakat sekitar sehingga peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut. Selain itu
batugamping cukup prospek untuk dimanfaaatkan dengan luas penyebaran yaitu
8 % dari daerah penelitian dan keberadaannya yang tidak setempat-setempat
serta akses jalan yang mudah dijangkau oleh masyarakat.

99

Tugas Akhir

Gambar 5.10. Pemanfaatan batugamping untuk urug jalan, lensa menghadap ke


utara.

Gambar 5.11. Pemanfaatan batugamping untuk pembatas jalan desa, lensa


menghadap ke timur laut.
Berdasarkan data hasil analisis kuat tekan diketahui bahwa batugamping
di daerah penelitian layak digunakan untuk bahan konstruksi minimal untuk
bangunan rumah (Tabel 5.4). Hal ini dapat dilihat dari harga kuat tekannya yang
memenuhi syarat dari Standard Direktorat Jenderal Bina Marga (1976) yaitu:
1. Sebagai beton bangunan rumah minimal kuat tekannya 200 kg/cm2.
2. Sebagai beton jalan raya minimal kuat tekannya 350 kg/cm2.
3. Sebagai beton tiang panjang minimal kuat tekannya 500 kg/cm2.
4. Sebagai bahan landasan pacu pesawat terbang minimal memiliki kuat
tekan 1000 kg/cm2.
Table 5.4. Hasil uji analisis batugamping
n

Contoh batugamping

kg/cm2

o
100

Tugas Akhir

Sampel 1

256,99

Sampel 2

273,30

Sampel 3

287,50

Dari hasil analisis dapat dilihat kenaikan harga kuat tekan dari sampel 1
sampai sampel 3 (Tabel 5.5). Hal ini memperlihatkan adanya perbedaan resistensi
batugamping pada setiap sampel yang diambil, dari peta kontur dapat dilihat
semakin kearah barat batugamping semakin resisten. Hal ini juga dapat dilihat
pada lokasi pengambilan sampel 3 yang berada pada kontur lebih tinggi daripada
sampel 2, begitu juga dengan sampel 1 yang berada pada kontur lebih rendah dari
sampel 2.

Tabel 5.5. Nilai analisis kuat tekan sampel batugamping.


kg/cm
290

287.5

285
280
273.3

275

Kuat tekan
batugamping kg/cm

270

Garis yang
menunjukkan tingkat
kuat tekan

265
260

256.99

255
250
245
240

sampel 1

sampel 2

sampel 3

101

Tugas Akhir

Pada (Tabel 5.6) peneliti mencoba membandingkan hasil analisis kuat


tekan batugamping daerah penelitian dengan batuan beku andesit dan Batupasir.
Widodo dan Cahyadi (2011) melakukan uji kuat tekan batuan beku andesit di desa
Gerbosari Kulonprogo dan memperoleh harga kuat tekan rata-rata 1715,05
kg/cm2. Dari data tersebut Widodo dan Cahyadi menyimpulkan bahwa batuan
beku andesit di desa Gerbosari dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan baik
untuk pondasi kelas berat hingga ringan, tonggak dan batu tepi jalan, penutup
lantai atau trotoar, maupun sebagai batu hias atau batu temple, sedangkan Fauzan
(tidak dipublikasi, 2013) melakukan uji kuat tekan batupasir di daerah Ringinpitu
dan memperoleh nilai kuat tekan rata-rata 242,99 kg/cm 2 yang dapat disimpulkan
batupasir daerah Ringinpitu cukup layak untuk bahan konstruksi bangunan rumah.
Dari data di atas, batugamping daerah penelitian mempunyai nilai kuat
tekan yang jauh lebih rendah dengan harga kuat tekan rata-rata 266,16 kg/cm2
jika dibandingkan dengan nilai kuat tekan batuan beku dan mempunyai nilai kuat
tekan yang hampir sama dengan batupasir. Hal ini disebabkan komposisi mineral
pada batuan beku memiliki kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
batugamping daerah penelitian dan batupasir Ringinpitu, sehingga harga kuat
tekannyapun jauh lebih tinggi. Meskipun demikian batugamping daerah penelitian
masih layak digunakan untuk bahan bangunan terutama untuk bangunan rumah.
Table 5.6. Perbandingan harga kuat tekan batugamping daerah penelitian dengan
batuan beku andesit dan batupasir.

102

Tugas Akhir

kg/cm
2000
1800
1600
1400
1200
1000
800
600
400
200
0

1715.05

266.16

242.99

Nilai Kuat Tekan

103