Anda di halaman 1dari 7

APLIKASI MINYAK NILAM SEBAGAI BAHAN ADITIF

SABUN TRANSPARAN ANTISEPTIK


Syafruddin dan Eka Kurniasih
Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Email : echakurniasih@yahoo.com
Abstrak
Sabun transparan adalah sabun mandi dengan tampilan transparan, menghasilkan busa lebih
lembut dikulit dan penampakannya lebih berkilau dibandingkan jenis sabun lainnya.
Berdasarkan penelitian terhadap bioktifitasnya, ternyata minyak nilam memiliki kandungan
antibakteri, dan anti radang. Salah satu bentuk sediaan yang tepat untuk memformulasikan
minyak nilam untuk antiseptik adalah berupa sabun transparan. sebagai asam lemak dari
formula sabun transparan digunakan asam stearat dan sumber asam laurat digunakan minyak
kelapa. Proses yang digunakan untuk sabun transparan antiseptik yaitu dengan reaksi
saponifikasi selama 2 jam dengan temperatur 70-80oC, dengan variasi minyak nilam 3%, 6%,
9 % (b/b) sebagai bahan aditifnya dan memvariasikan jenis basa NaOH dan KOH. Dari hasil
analisa diketahui kandungan asam lemak bebas terendah sebesar 0,56% pada formulasi sabun
transparan 3 % menggunakan basa NaOH, nilai ini telah memenuhi standar SNI 06-35321994 sebagai sabun mandi dengan bilangan asam < dari 2,5 %, untuk pH diperoleh nilai
sebesar 10,5 dengan ketinggian busa dalam sebesar 3,5 cm.
Kata kunci : minyak nilam, saponifikasi, sabun transparan, antiseptik, minyak kelapa

Abtract
Transparent soap is soap with a transparent display, produce more foam soft skin and shinier
appearance than other types of soap. Based on a study of bioktifitasnya, patchouli oil turns
contains antibacterial, and anti-inflammatory. One of the dosage form appropriate to
formulate patchouli oil for antiseptic is in the form of transparent soap. as the fatty acids of
the formula used transparent soap stearic acid and lauric acid source used coconut oil. The
process used to transparently antiseptic soap is the saponification reaction for 2 hours at a
temperature of 70-80oC, with variations of patchouli oil 3%, 6%, 9% (w / w) as aditifnya
materials and varying types of NaOH and KOH. From the analysis of known low free fatty
acid content of 0.56% to 3% transparent soap formulations using NaOH, the value is in
compliance with ISO standards 06-3532-1994 as soap with acid value <than 2.5%, for pH
obtained a value of 10.5 with the foam height of 3.5 cm.
Keywords: patchouli oil, saponification, transparent soap, antiseptic, coconut oil

I. PENDAHULUAN
Sabun pertama kali ditemukan oleh
orang Mesir kuno beberapa ribu tahun
yang lalu. Pembuatan sabun oleh suku
bangsa Jerman dilaporkan oleh Julius
Caesar.
Teknik
pembuatan
sabun
dilupakan orang dalam zaman kegelapan
(dark ages), namun ditemukan kembali
selama Renaissance. Penggunaan sabun
mulai meluas pada abad ke -18. Dewasa ini
sabun dibuat praktis sama dengan teknik
yang digunakan pada zaman yang lampau.
Lelehan lemak sapi atau lemak lain
dipanaskan dengan
lindi (natrium
hidroksida) dan karenanya terhidrolisis
menjadi gliserol dan garam natrium dari
asam lemak. Dulu digunakan abu kayu
(yang
mengandung
basa
seperti
kaliumkarbonat) sebagai ganti lindi (lye).
(Katimah, 2010).
Sabun dihasilkan oleh proses
saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi
asam lemak dan gliserol dalam kondisi
basa. Kondisi basa diperoleh dari NaOH
dan KOH. Asam lemak yang berikatan
dengan natrium atau kalium inilah yang
kemudian dinamakan sabun. Sehingga
sabun dikatakan sebagai salah satu garam
basa dari berbagai lemak. Bahan
pembuatan sabun pada umumnya terdiri
dari atas dua jenis, yaitu bahan baku dan
bahan pendukung. Sabun umumnya dikenal
dalam dua wujud, sabun cair dan sabun
padat. Perbendaan utama dari kedua wujud
sabun ini adalah alkali yang digunakan
dalam reaksi pembuatan sabun. Sabun
padat menggunakan natrium hidroksida
(NaOH)
sedangkan
sabun
cair
menggunakan kalium hidroksida (KOH)
sebagai alkali. Selain itu, jenis minyak yang
digunakan juga mempengaruhi wujud
sabun yang dihasilkan. Minyak kelapa yang
menghasilkan sabun yang lebih keras
daripada jenis minyak lainnya (Litro,
2010). Bahan baku dalam pembuatan sabun
adalah minyak, lemak dan senyawa alkali
(basa). Bahan pendukung dalam pembuatan
sabun digunakan untuk menambah kualitas
produk sabun, baik dari nilai guna maupun
dari daya tariknya. Bahan pendukung yang

umum digunakan dalam pembuatan sabun


diantaranya natrium klorida, natrium
posfat, parfum, zat antiseptik dan pewarna.
Dalam penelitian ini dikembangkan
penggunaan zat aditif minyak nilsebagai zat
antiseptik untuk menghansilkan sabun
transparan antiseptik.
II.TINJAUAN PUSTAKA
Sabun transparan adalah sabun
mandi yang berbentuk batangan dengan
tampilan transparan, menghasilkan busa
lebih lembut dikulit dan penampakannya
lebih berkilau dibandingkan jenis sabun
lainnya. Tampilan sabun transparan yang
menarik mewah dan berkelas menyebabkan
sabun transparan dijual dengan harga yang
relatif lebih mahal. Dikatakan sabun
mewah karena baik sekali untuk tubuh
terutama untuk sabun muka. Hal ini
dikarenakan dalam kandungan sabun
transparan
ini
banyak
terkandung
mousturiser (pelembab) yang sangat
dibutuhkan oleh kulit kita sehingga
menghindari kulit kering. (Hambali, 2006)
Sabun antiseptik adalah sabun yang
dapat menghambat pertumbuhan dan
membunuh mikroorganisme berbahaya
(patogenik) yang terdapat pada permukaan
tubuh luar mahluk hidup. Secara umum,
antiseptik berbeda dengan obat-obatan
maupun disinfektan. Obat-obatan seperti
antibiotik
misalnya,
membunuh
mikroorganisme secara internal, sedangkan
disinfektan berfungsi sebagai zat untuk
membunuh mikroorganisme yang terdapat
pada benda yang tidak bernyawa. Diantara
zat antiseptik yang umum digunakan
diantaranya adalah alkohol, iodium,
hidrogen peroksida dan asam borak.
Kekuatan masing-masing zat antiseptik
tersebut berbeda-beda. Ada yang memiliki
kekuatan yang sangat tinggi, ada pula yang
bereaksi dengan cepat ketika membunuh
mikroorganisme.(Fitriati, 2010)
2.1 Mekanisme Kerja Sabun
Sabun memiliki kemampuan untuk
mengemulsi kotoran berminyak sehingga
dapat dibuang dengan pembilasan.

Kemampuan ini disebabkan oleh dua sifat


sabun adalah :
1. Rantai hidrokarbon sebuah molekul
sabun larut dalam zat non-polar, seperti
tetesan-tetesan minyak.
2. Ujung anion molekul sabun, yang
tertarik pada air, ditolak oleh ujung
anion molekul-molekul sabun yang
menyembul dari tetesan minyak lain.
Karena tolak-menolak antara tetes
sabun-minyak, maka minyak itu tidak
dapat saling bergabung tetapi tetap
tersuspensi. (Fessenden,1992)

2.2 Saponifikasi
Saponifikasi adalah reaksi yang
terjadi ketika minyak atau lemak dicampur
dengan larutan alkali. Dengan kata lain
saponifikasi adalah proses pembuatan
sabun
yang
berlangsung
dengan
mereaksikan asam lemak dengan alkali
yang menghasilkan air serta garam karbonil
(sejenis sabun). Sabun merupakan salah
satu bahan yang digunakan untuk mencuci
baik pakaian maupun alat-alat lain. Alkali
yang biasanya digunakan adalah KOH.
Ada dua produk yang dihasilkan
dalam proses ini, yaitu sabun dan gliserin.
Secara teknik, sabun adalah hasil reaksi
kimia antara asam lemak dan alkali. Selain
C12 dan C16, sabun juga disusun oleh
gugusasam karboksilat. Hidrolisis ester
dalam suasana basa bisa disebut juga
saponifikasi.

Klasifikasi Sabun
Pada perkembangan selanjutnya bentuk
sabun menjadi bermacam-macam, yaitu:
1. Sabun cair
2. Sabun lunak
3. Sabun keras
4. Sabun padat (batangan) dapat
dibedakan atas tiga jenis yaitu :
Sabun opaque (tidak transparan)
Sabun
transluecent
(agak
transparan)
Sabun transparan (transparan)
2.4 Minyak Nilam
Minyak nilam merupakan salah satu
komoditi non migas yang belum dikenal
secara meluas di Indonesia, tapi cukup
popular di pasaran Internasional. Indonesia
merupakan penghasil minyak nilam
terbesar di dunia yang setiap tahunnya
memasok 70% - 90% kebutuhan dunia.
Ekspor nilam Indonesia berfluktuasi
dengan laju peningkatan ekspor sekitar 6%
per tahun atau sebesar 700 ton sampai 2.000
ton minyak nilam per tahun. Prospek
industri minyak atsiri sebetulnya cukup
cerah, karena bahan bakunya tersedia
didalam negeri. Sayangnya produktivitas
daun nilam kering Indonesia hanya dua
sampai tiga ton per hektar per tahun.
Artinya produktivitas dibawah 30%.

Banyak faktor yang membuat


rendahnya produksi dan mutu nilam
Indonesia, selain masalah teknologi,
budidaya yang tidak intensif, bibit kurang
baik juga cara penanganan bahan baku dan
penyulingan.
Tabel 2.1 Kandungan Minyak Nilam
beberapa senyawa, antara lain :
Komposisi
Persentase (%)
Benzaldehid
2,34
Kariofilen
17,29
a-patchoulien
28.28
Buenesen
11,76
Patchouli alcohol 40,04
Sumber : (Aisyah, 2008)
Minyak nilam terdiri dari campuran
persenyawaan terpen dengan alkoholalkohol, aldehid, dan ester-ester yang
memberikan bau khas, misalnya patchouli
alcohol.

Gambar 2.1 Daun Nilam

Patchouli
alkohol
merupakan
seskuiterpen alkohol yang dapat diisolasi
dari minyak nilam, tidak larut dalam air,
larut alam alkohol, eter atau pelarut
organik yang lain, mempunyai titik didih
140oC pada 8 mmHg, Kristal berwarna
putih dengan titik lebur 56oC. (Aisyah,
2008)

III. Metode Penelitian


3.1 Bahan
Bahan dalam penelitian ini adalah minyak
kelapa, minyak nilam, NaOH, KOH, asam
stearate, asam sitrat, gliserin, etanol 96%,
NaCl, gula pasir

3.2 Variabel Tetap


a. Asam sterat
b. Gliserin
c. Etanol
d. Natrium hidroksida
e. Kalium hidroksida
f. Gula pasir
g. Asam sitrat
h. Natrium klorida
i. Minyak Kelapa
j. Aquadest

(b/b)
(b/b)
(b/b)
(b/b)
(b/b)
(b/b)
(b/b)
(b/b)
(b/b)

3.3 Variabel Bebas


a. Minyak nilam: 3 %, 6 %, 9 % (b/b)
b. Jenis Basa : KOH dan NaOH
3.4 Variabel Terikat
a. Asam Lemak Bebas
b. pH
c. Tinggi busa
d. Transparansi

Gambar 2.2 Minyak Nilam

:5%
: 14 %
: 14 %
: 20 %
: 20 %
:3%
:5%
:5%
: 10 %
: 4%

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Pengaruh Persentase Minyak Nilam
Terhadap Asam Lemak Bebas
Untuk analisa bilangan asam
digunakan larutan KOH 0,1 N Sebagai
penetral asam lemak bebas. Hasil analisa
asam lemak bebas pada sabun jenis basa
NaOH yang terbaik diperoleh pada
formulasi minyak nilam 3 % yaitu sebesar
0,56 dan pada jenis basa KOH sebesar 0,61.
Dari hasil analisa asam lemak bebas, sabun
transparan tersebut memenuhi SNI 063532-1994 yaitu dengan nilai < dari 2,5%.
Tetapi asam lemak bebas pada jenis basa
NaOH yang memberikan terendah dan
paling baik. Semakin tinggi asam lemak
pada sabun maka makin rendah kualitas
sabun yang dihasilkan sebab nilai asam
lemak bebas yang tinggi (>2,5%)
menunjukkan banyaknya asam lemak yang
tidak berikatan membentuk sabun.

persentase minyak nilam(%)

Asam Lemak Bebas (%) NaOH


Asam Lemak Bebas (%) KOH

1.2

0.84

1.22

0.56
0.61

Gambar 4.1 Grafik Pengaruh Persentase


Minyak Nilam Terhadap Asam Lemak
Bebas

4.2 Pengaruh Persentase Minyak Nilam


Terhadap pH
Pada analisa pH diperoleh pH
terbaik pada formulasi persentase minyak
nilam 3% menggunakan basa NaOH
sebesar 10,5 dengan formulasi yang sama
menggunakan basa KOH sebesar 10,4 dari
grafik dapat dilihat bahwa semakin tinggi
persentase dari minyak nilam maka
semakin tinggi pula pH yang diperoleh.
pH KOH

Formulasi minyak nilam (%)

3.5 Prosedur
1. Panaskan 3 % minyak nilam dan 10
% minyak kelapa, dan asam stearat
sampai suhu 70-80oC
2. Masukkan KOH atau NaOH yang
telah dilarutkan dengan aquadest
3. Panaskan pada temperatur 70-80oC
sambil di aduk sampai proses
saponifikasi sempurna
4. Tambahkan asam sitrat dan NaCl
sampai larut, dilakukan pengadukan
selama 1 jam
5. Setelah itu tambahkan C2H5OH
dan C3H8O3 sambil di aduk
6. Lakukan pencampuran selama 1
jam sampai campuran menjadi
homogen
7. Setelah total reaksi, tambahkan
gula pasir sampai batas waktu 1 jam
8. Tuangkan campuran kedalam
cetakan dan diamkan selam 24 jam
hingga sabun mengeras
9. Keluarkan sabun yang sudah
mengeras dari cetakan
10. Lakukan analisa bilangan asam,
tinggi busa, transparansi, pH

pH NaOH
11.5

11.2
10.9
11

10.4
10.5

Gambar 4.2 Grafik Pengaruh Persentase


Minyak Nilam Terhadap pH
Diketahui, bahwa bahan aditif yang
digunakan berupa minyak nilam dapat
mempengaruhi pH terhadap sabun yang
dihasilkan, hal ini dimungkinkan oleh

1.8

adanya kandungan patchouli alkohol yang


merupakan
golongan
hidrokarbon
beroksigen yang mempunyai hidroksil
OH.(Aisyah, 2008). Bila dibandingkan
dengan sabun komersial (pH 6-9,5) yang
ada dipasaran, pH dari sabun transparan
dengan bahan aditif minyak nilam ini
mendekati standar komersial.
4.3 Pengaruh Persentase Minyak Nilam
Terhadap Tinggi Busa
Untuk pengukuran tinggi busa pada
sabun transparan menggunakan basa NaOH
dan minyak nilam 3 % diperoleh tinggi
busa sebesar 3,5 cm, Dari gambar 4.3
diketahui bahwa semakin tinggi persentase
minyak nilam, maka tinggi busa semakin
meningkat. Sedangkan untuk jenis basa
KOH diperoleh hasil yang sama yaitu
semakin tinggi persentase minyak nilam,
semakin pula tinggi busa yang dihasilkan.
Tetapi dari kedua jenis basa tersebut, basa
KOH memberikan hasil pengukuran tinggi
busa tertinggi yaitu 5 cm.
Hal ini
disebabkan oleh fasa dari sabun dengan
basa KOH yang berupa gel, sehingga lebih
mudah membentuk busa.
Apabila dibandingkan dengan
sabun komersial yang ada dipasaran, sabun
transparan menggunakan bahan aditif
minyak nilam dengan basa NaOH cukup
mendekati standar komersial. Sabun
transparan komesrsial yang saat beredar
dipasaran memilki tinggi busa 2,5 cm.

4.4 Pengaruh Persentase Minyak


Nilam Terhadap Transparansi
Pengukuran transparansi pada sabun
secara organoleptik diantaranya adalah
: sabun opaque (tidak transaparan),
sabun transluecent (agak transparan)
dan sabun transparan (transparan).
sabun yang menggunakan basa NaOH
diperoleh dalam bentuk batang (bar),
dan memperoleh transparansi yang
berbeda-beda. Untuk formulasi minyak
nilam 3% diperoleh sabun transluecent
dan untuk formulasi 6%, 9% diperoleh
sabun opaque.
Hal ini menunjukkan semakin
tinggi persentase minyak nilam tingkat
transparansi sabun yang dihasilkan
semakin rendah. Hal ini disebabkan
dengan
meningkatnya
persentase
minyak nilam, warna sabun semakin
gelap sehingga tingkat transparansi
semakin berkurang. Untuk jenis basa
KOH sabun yang dihasilkan tidak
berbentuk batang melainkan bentuk gel
dan tidak ada yang transparan.

Formulasi minyak nilam (%)

tinggi Busa (Cm) KOH


tinggi Busa (Cm) NaOH

9
6
3

3.9
3.7
3.5

5
4.8
4.5

Gambar 4.3 Grafik Pengaruh Persentase


Minyak Nilam Terhadap Tinggi Busa

Gambar 4.5 Sabun Transparan (NaOH, 3%


minyak nilam)
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Yuliani. 2008. Komposisi Kimia
Dan Sifat AntiBakteri Minyak
Nilam. Majalah Farmasi Indonesia.
Fakultas Teknologi Pertanian UGM
Yogyakarta, Volume 19, Nomor 3

Bul, Litro. 2010. Formula Sabun


Transparan Antijamur Dengan
Bahan Aktif Ekstrak Lengkuas.
Jurnal Teknologi Industri. Fakultas
Teknologi IPB, Volume 21, Nomor
2
Chusnul, Katimah. 2010. Pabrik Sabun
Dari Minyak Dedak Padi Dengan
Proses Kontinyu. Tugas Akhir.
Institut Teknilogi Sepuluh
November
Fitriati, Nur.2010. Pembuatan Sabun
Antiseptik. Jurnal Teknik Industri
Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Volume 3. Nomor 56

Fessenden, Ralp, J. Joan S.Fessenden.


1999. Kimia Organik. Penerbit
Erlangga. Jakarta
Hambali, Erliza. 2006. Aplikasi
Dietanolamida Dari Asam Laurat
Minyak Inti Sawit Pada Pembuatan
Sabun Transparan. Jurnal Teknologi
Industri Pertanian. Fakultas
Teknologi Pertanian IPB. Volume
15, Nomor 2