Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KERJA PRAKTEK

TROUBLE SHOOTING PADA POMPA ESP


DI PT. PERTAMINA EP ASSET 2 FIELD PENDOPO

Disusun Oleh:
MITRA ALDINO
ARDHIAN WICAKSONO

121.10.1144
121.10.1160

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND YOGYAKARTA
2016

3
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik,
serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kerja Praktek
ini sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta
seluruh keluarga dan sahabatnya yang selalu membantu perjuangan beliau hingga
akhir zaman. Dalam penyusunan Laporan Kerja Praktek ini, Penulis menyadari
laporan ini tidak akan selesai tanpa bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tiada hingganya kepada:
1. Secara khusus Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayah dan Ibu
yang penulis sayangi, atas doa dan dukungannya baik secara material dan
juga spiritual.
2. Bapak Idang Setyawan, ST,. selaku Pembimbing Lapangan di PT.
Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field.
3. Bapak Eko Yugi Priyatno selaku Asisstant Manager Fungsi Petroleum
Engineer di PT. Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field.
4. Bapak Heri Aminanto selaku Field Manager di PT. Pertamina EP Asset 2
Pendopo Field.
5. Bapak Ir. Inti Widi Prasetyanto selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktek.
6. Ibu Dr. Sri Mulyaningsih, S.T., M.T., selaku ketua Jurusan Teknik Geologi
Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta
7. Seluruh staf dan karyawan Fungsi Petroleum Engineering di PT. Pertamina
EP Asset 2 Pendopo Field.
8. Pihak - pihak terkait lainnya yang telah memberikan sumbangsihnya
kepada Penulis.
Penulis menyadari laporan Kerja Praktek ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka saran dan kritik yang konstruktif yang bersifat membangun
dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan selanjutnya.
Akhir kata semoga laporan Kerja Praktek ini dapat bermanfaat bagi Penulis dan
Pembaca.

4
Pendopo,

April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

5
HALAMAN JUDUL ....................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ILMIAH ............
KATA PENGANTAR .................................................................................
DAFTAR ISI ................................................................................................

i
ii
iii
Iv
V

DAFTAR GAMBAR .................................................................................... vii


DAFTAR TABEL .................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................
1.1. Latar Belakang Masalah ................................................................
1.2. Tujuan dan Manfaat .......................................................................
1.3. Batasan Masalah.............................................................................
1.4. Metode Penulisan ..........................................................................

viii
1
1
1
2
2

1.5. Sistematika Penulisan .................................................................... 2


BAB II TINJAUAN UMUM .....................................................................
2.1. Keadaan Umum PT. Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field.........
2.2. Sejarah PT. Pertamina EP Pendopo Field.....................................
2.3. Articifial Lift............................................................................
BAB III TINJAUAN KHUSUS ............................................................
3.1. Artificial lift............................................................................
3.2. Sejarah Singkat Electric Submersible Pump.................................
3.3. Electric Submersible
Pump...........................................................
3.4. Komponen Alat Electric Submersible Pump (ESP)

3.5. Prinsip Kerja ESP.


3.6. Keuntungan dan Kerugian dari Penggunaan pompa ESP
3.7. Permasalahan Pada Electric Submersible Pump (ESP).....

4
4
7
9
12
12
12
13
14
23
24
24

3.8. Ammeter Chart


27
Analysis
BAB IV KESIMPULAN .............................................................................. 35
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 36

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1

Peta Wilayah Kerja Pt. Pertamina Ep Pendopo Field Dan

Gambar 2.2

Lokasi Penelitian (Pertamina, 2016)..


Struktur Organisasi PT.PERTAMINA EP Pendopo Field
7
(Pertamina, 2016)

Gambar 2.2
Gambar 2.3

10
Electric Submersible Pump .................................................
Mekanisme Kerja Pompa Angguk. 11

Gambar 3.1

Pompa ESP. 13

Gambar 3.2.
Gambar 3.3.

Impeller dan diffuser 14


Wellhead atau Kepala Sumur.. 15

7
Gambar 3.4.
Gambar 3.5.
Gambar 3.6.

Transformer. 16
Variable Speed Drives (VSD) 16
Junction Box ... 17

Gambar 3.7.

Pump Unit... 18

Gambar 3.8.
Gambar 3.9.

Gas Separator. 19
Protector. 19

Gambar 3.10.

Electric Motor. 20

Gambar 3.11.

Pressure Sensing Instrument... 21

Gambar 3.12.
Gambar 3.13.
Gambar 3.14.

21
22
23

Gambar 3.17.

Bledder Valve..
Check Valve.
Advanced Gas-Handling Device..
Overload.
.
Underload

Gas Locking.

Gambar 3.18.

Gassy

32

Gambar 3.15.
Gambar 3.16.

29
30
31

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1

Ringkasan Sejarah PT. Pertamina Ep Pendopo Field................

BAB I
PENDAHULUAN

2
1.1. Latar Belakang
Suatu sumur dapat berproduksi dengan dua cara yaitu dengan metode
sembur alam (natural flow) atau dengan metode pengangkatan buatan (artificial
lift). Metode sembur alam merupakan suatu metode dimana tekanan reservoir
lebih tinggi dari tekanan hidrostatik dalam sumur sehingga fluida dari dalam
reservoir dapat mengalir hingga kepermukaan. Apabila sumur tersebut sudah
tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengalirkan fluida reservoir sampai ke
permukaan, dengan kata lain sudah tidak dapat mengalirkan fluida secara alami,
hal ini akan menyebabkan sumur tidak berproduksi lagi. Maka untuk menjaga
agar sumur tetap berproduksi diperlukan metode untuk pengangkatan buatan
(artificial lift).
PT. Pertamina EP Asset 2 Field Pendopo merupakan salah satu
perusahaan yang bergerak di bidang produksi. Dalam proses produksi kita ketahui
semakin lama produksi akan semakin mengalami penurunan yang di karenakan
tekanan reservoir semakin menurun sehingga di butuhkan metode pengangkatan
buatan atau Artificial lift. Peralatan dari pengangkatan buatan (Artificial lift) ini
berupa Electric Submersible Pump (ESP), Gas Lifting, Sucker Road Pump (SRP),
Progressive Cavity Pump (PCP) dll. Dengan adanya peralatan Artificial lift ini
maka dapat membantu meningkatkan laju produksi, dimana laju produksi yang
tadinya menurun dapat meningkat. Oleh karena itu, peralatan Artificial Lift ini
sangat di butuhkan dalam proses produksi.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari Kegiatan Kerja Lapangan di PT. Pertamina EP Asset 2
Field Pendopo yang kami lakukan antara lain adalah :
1. Mengetahui prinsip dan cara kerja dari pompa ESP pada sumur produksi
migas.

3
2. Untuk mengetahui jenis peralatan ESP baik diatas maupun dibawah
permukaan.
3. Mengetahui permasalahan (Troubleshoot) yang terjadi pada pompa ESP.
Adapun manfaat dari praktek kerja lapangan yang kami lakukan adalah :
1. Mahasiswa dapat mengenal susunan - susunan kerja di lingkungan
perusahaan sehingga dapat mengikutiapa yang dilakukan oleh perusahaan.
2. Mahasiswa dapat mengetahui apa itu Pompa ESP, Komponen Alat serta
Penanganannya.
1.3. Batasan Masalah
Pembahasan dalam laporan Praktek Kerja Lapangan ini terbatas hanya
membahas mengenai troubleshooting Pompa ESP
1.4. Metode Penulisan
Dalam

penulisan

laporan

Praktek

Kerja

Lapangan

ini

Penulis

menggunakan beberapa metode. Metode-metode tersebut yaitu metode studi


pustakaan atau studi literatur, pengambilan data dan informasi di sumur yang
terletak di Field Pendopo, metode observasi dan metode wawancara secara
langsung dari pembimbing lapangan ataupun karyawan yang menguasai
bidangnya masing-masing, serta melakukan tanya jawab sesuai dengan teori dan
pengalaman lapangan.
1.5. Sistematika Penulisan
Laporan praktek kerja lapangan ini terdiri dari 4 bab yaitu bab
pendahuluan, gambaran umum mengenai PT. Pertamina EP Asset 2 Field
Pendopo, tinjauan khusus dan kesimpulan. Untuk memudahkan dalam
pemahaman mengenai laporan praktek, berikut di rinci bahasan perbab :
1. Bab I Pendahuluan

4
Merupakan bab yang berisikan tentang pendahuluan yang didalamnya ada
Latar Belakang, Tujuan dan Manfaat, Batasan Masalah, Metode Penulisan
dan Sistematika Penulisan.
2. Bab II Tinjauan Umum
Merupakan bab tentang sekilas sejarah PT. Pertamina EP Asset 2 Field
Pendopo, profil perusahaaan,struktur organisasi perusahaan, visi dan misi
perusahaan, penerapan K3/HSE serta peraturan kerja perusahaan, wilayah
operasi, dan kondisi geologi lapangan di PT. Pertamina Ep Asset 2 Field
Pendopo.
3. Bab III Tinjauan Khusus
Berisi tentang tinjauan khusus yang didalamnya menjelaskan mengenai
troubleshooting Pompa ESP.
4. Bab IV Kesimpulan
Merupakan bab berisikan kesimpulan Praktek Kerja Lapangan yang telah
dilaksanakan.
BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1 Keadaan Umum PT Pertamina EP Asset 2
Field Pendopo merupakan salah satu dari empat field yang berada di
wilayah Asset 2 PT Pertamina EP. Wilayah kerja Field Pendopo merupakan
peninggalan PT Stanvac Indonesia (PTSI) yang telah dialihkan ke PT Pertamina
EP, anak perusahaan PT Pertamina (Persero). Field Pendopo merupakan salah satu
lapangan dengan jumlah produksi ekuivalen terbesar di antara lapangan PT
Pertamina EP lainnya.
Wilayah kerja PT Pertamina EP Field Pendopo secara administratif
masuk dalam lima Kabupaten.
1. Kabupaten Muara Enim (Timur)
2. Kabupaten Musi Rawas (Barat dan Selatan)
3. Kabupaten Musi Banyuasin (Utara)

5
4. Kabupaten Pali (Pusat)
5. Kabupaten Ogan Ilir (Jalur pipa)
Dalam menjalankan kegiatan dan operasinya PT. Pertamina EP Asset 2
Pendopo Field dipimpin oleh seorang Field Manager yang dibantu oleh
departemen-departemen lainnya.

Gambar 2.1.Peta Wilayah Kerja Pt. Pertamina Ep Pendopo Field Dan Lokasi Penelitian
(Sumber: Pertamina, 2016)

Fungsi atau kegunaan dari departemen yang ada di Pendopo Field yaitu :
1. Field manager
Berfungsi untuk mengkoordinir kegiatan engineering untuk optimalisasi
produksi sumur migas agar mencapai sasaran produksi yang telah
ditetapkan.
2. Operation Planning Asman
Berfungsi untuk menentukan jadwal - jadwal atau schedule yang akan
dilaksanakan untuk operasi kerja di area operasional Pendopo Field yang
bertujuan untuk mengkoordinir setiap kegiatan yang ada di Pendopo Field.
3. Petroleum Engineering Asman
Berfungsi bertanggung jawab untuk mampu meningkatkan produksi dan
juga agar produksi Pendopo Field tetap optimal sesuai dengan target
perusahaan.

6
4. Work Over/ Well Service Asman
Departemen ini berfungsi untuk melakukan pengawasan proses workover
maupun well service, dimana pengawas WO/WS bertanggung jawab
sepenuhnya atas perbaikan sumur produksi yang ada diwilayah kerja
operasional Pendopo Field dan juga melakukan pembuatan Sumur-sumur
baru yang akan dikembangkan.
5. Production Operation Asman
Departemen ini berfungsi untuk mempertahankan produksi yang sudah ada
ataupun meningkatkan produksi sesuai target yang di inginkan oleh
perusahaan.
6. RAM ( Reliability Availability Maintenance ) Departemen
Departemen ini berfungsi sebagai tempat penyediaan atau gudang suku
cadang ganti untuk peralatan pompa atas permukaan.
7.

HSSE ( Health safety security and environment )


Departemen ini berguna untuk mengatur dan mengawasi kegiatan
operasional di Pendopo Field agar nyaman dan pekerja merasa aman saat
berkerja di lingkungan operasional maupun dikantor.

8.

HR ( Human Resources )
Departemen ini berguna untuk membantu penerimaan berkas pertama kali
sebelum ke perusahaan seperti : Proposal TA dan PKL dan surat lamaran
perkerjaaan.

Finance Departement
Departemen ini berguna untuk menghitung mekanisme keuangan yang ada
di Pendopo Field.

10. Legal dan Relation Departement


Departemen ini berguna untuk mengatur persyaratan UU untuk melakukan
kegiatan operasional kerja di bidang migas dan juga berguna untuk
melakukan negosiasi dengan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
11. SCM ( supply chain management )

7
Departemen ini mengatur pensupply agar dapat melakukan kegiatan di
area operasional dan juga mengatur agar semua kebutuhan dalam kegiatan
terpenuhi tanpa terkecuali.
12. ICT ( Information Communication Technology )
Departemen ini berfungsi untuk mencari informasi tentang dunia migas
maupun teknologi-teknologi yang terbaru di gunakan pada perminyakan
dan juga menjalin komunikasi dengan perusahaaan ini untuk menjalin
kerjasama.

PENDOPO FM
HERI AMINANTO

HSSE ASSISTANT MANAGER


ADHY DEWAYANTO

SEKRETARY

YOGETAEKAS

OPERATING PLANNING ASSISTANT


ALIAKBAR
PRODUCTION
OPERATION ASSISTANT
MANAGER
AGUS PURWANTO
PETROLEUMMANAGER
ENGINEERING
ASSISTANT
MANAGER
RAM ASSISTANT
MANAGER
DARWISYAF DAUD
WORKOVER/ WELL SERVICES ASSISTANT MANAGER HERMAWAN
EKO YUGI PRIYATNO

HR ASSISTANT
FINANCE
MANAGER
ASSISTANT MANAGER
LEGAL & RELATION
ABDUL KARIM
ASSISTANT
SCMMANAGER
ASSISTANT MANAGERMUZAIFI
ICT ASSITANT MANAGER
HENRY A.Y
TUTI DWI P
ARIO DAMAR W

Gambar 2.1 Struktur organisasi PT Pertamina EP Asset 2 Field Pendopo

Field Pendopo memiliki berbagai struktur penghasil minyak dan struktur


penghasil gas. Struktur penghasil minyak tersebut melingkupi Jirak, Sopa dan
Benuang. Sedangkan struktur penghasil gas melingkupi Betung, Musi Barat dan
Musi Timur.

2.2. Sejarah PT. Pertamina EP Pendopo Field


Adapun sejarah PT. Pertamina EP Pendopo Field Pendopo selengkapnya
tertera pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Ringkasan Sejarah Pt. Pertamina Ep Pendopo Field
No
1

Waktu
24 April 1912

Keterangan
STANDARD OIL OF NEW JERSEY melalui
AMERICAN PETROLIUM COMPANY di
negeri Belanda membentuk NEDERLANDCHE
KOLONIE PETROLEUM MAATSCHAPIJ
(NKPM).
Menghasilkan produksi minyak 800 BOPD pada
lapisan yang paling dalam. Dengan puncak produksi

1916

20.000 BOPD pada tahun 1922 dengan kedalaman


2000 ft (sumur TAP 06). Untuk pemasaran dibentuk
NM.Koloniale PETROLEUM VERKOOP MIJ

1930

(KPVM).
Memulai aktivitasnya di Indonesia dalam usaha

1933

perminyakan,pada tahun menemukan sumur


minyak di lapisan dangkal Palembang di Talang

1936

Akar.

1947

Ditemukan ladang minyak Jirak


Ditemukan ladang minyak Benakat

9
7

1950
Ditemukan ladang minyak Raja dan Betun

1959
NKPM berubah menjadi STANDARD VACUUM

1961

PETROLEUM MAATSCHAPIJ (SVPM) &


KPVM menjadi STANDARD VACUUM SALES

10

25 September 1963

COMPANY (SVSC).
Ditemukan ladang minyak Karan, Deras, Tanim,

11

23 November 1969

Abah Kruh, Kaya


SCVC dirubah menjadi STANVAC INDONESIA

12

1972
SPVM dilebur menjadi PT. STANVAC

13

1976

INDONESIA (PTSI).

14

28 November 1983

Persetujuan dengan pemerintah Indonesia (PN


Permina) bahwa PTSI sebagai Kontraktor Bidang

15

16 September 1993

Usaha Produksi Minyak.

16

September 1995

Pemerintah Indonesia (PN Pertamina) merubah


bidang usaha PTSI hanya eksplorasi dan produksi

17

April 2002

saja.

18

17 Oktober 2005

PN.Pertamina mengadakan penandatanganan


kontrak dengan Pabrik Pupuk Sriwijaya (PUSRI)

19

1 Oktober 2009 hingga

untuk penyediaaan gas sebesar 26,3 MMCFD.

sekarang
Menjadi 45 MMCFD untuk kebutuhan PUSRI III &
IV.
PTSI menyerahkan lapangan minyak Old Area
Pendopo ke Pertamina (Pertamina UEP II) dengan
dipimpin oleh Kepala Lapangan Daerah (KLD).
Di alih kelolakan kepada PT.USTRAINDO dalam

10
bentuk Technical Assistance Contract (TAC).
Di alih kelolakan kembali ke Pertamina dengan
bentuk Organisasi Asset Prabumulih Barat.
Terjadi perubahan Organisasi dari Aset Prabumulih
Barat (APB) menjadi Area Operasi Barat.
Tanggal terjadi perubahan Organisasi AOB DOH
SBS menjadi 2 (dua) PT. PERTAGAS DOH SBS
dan PT. PERTAMINA EP DOH SBS.
Terjadi perubahan dan penamaan organisasi PT.
PERTAMINA EP REGION SUMATERA, yang
dibagi menjadi 4 Field yaitu Field Rantau, Field
Pangkalan Susu, Field Prabumulih, dan Pendopo
Field.

2.3 Artificial Lift


Artificial

lift

merupakan

sebuah

mekanisme

untuk

mengangkat

hidrokarbon, umumnya minyak bumi, dari dalam sumur ke atas permukaan. Ini
dikarenakan tekanan reservoir tidak cukup mampu tinggi untuk mendorong
minyak sampai ke atas permukaan maupun tidak ekonomis jika mengalir secara
alami. Artificial lift terdiri dari dua kelompok komponen : fasilitas permukaan (
surface facilities ) dan dalam sumur ( down hole facilities ).
1. Surface Facilities
Peralatan produksi permukaan merupakan peralatan yang berfungsi
sebagai pengangkut, pemisah, dan penimbun. Terdiri dari : well header,
gathering system, separator, treating facilities, oil storage, pump.
2. Down Hole Facilities
Peralatan bawah tanah terdiri dari, rangkaian pipa penyekat ( packer ) dan
peralatan pengontrol aliran, termasuk : casing, tubing, liner, packer, down
hole choke, sliding slide door, down hole safety valve, pompa dan lain
sebagainya.
Jenis-jenis artificial lift :

11
a. Electrical Submersible Pump
ESP adalah jenis pompa lain yang digunakan di Field Pendopo ini.
ESP menggunakan tenaga listrik yang digerakkan oleh motor untuk
beroperasi. Prinsip kerjanya adalah fluida akan masuk melalui lubang
intake yang kemudian akan diterima oleh stage pertama paling bawah
dari pompa, di mana satu stage terdiri dari satu diffuser dan satu
impeller. Fluida yang masuk akan diputar dengan kecepatan tinggi
oleh impeller, kemudian akibat dari gaya sentrifugal yang dihasilkan
oleh putaran impeller fluida akan terlempar keluar yang kemudian
ditangkap oleh diffuser. Oleh diffuser tenaga kinetik ini diubah
menjadi tekanan untuk mendorong fluida ke stage berikutnya. Proses
tersebut berlangsung secara terus menerus sampai fluida mencapai
permukaan.

Gambar 2.2 Electric Submersible Pump

Bagian-bagian pompa ESP antara lain adalah:

12

Motor

Seal Section/Protector

Intake

Gas Separator

Pump

Check valve dan drain valve atau bleeder valve

Vent box atau junction box

Switch board

Transformer

b. Gas Lifting
Gas lift adalah sistem gas lifting, menginjeksikan gas (umumnya gas
alam) ke dalam kolom minyak di dalam sumur sehingga berat
minyak menjadi lebih ringan dan lebih mampu mengalir sampai ke
permukaan.
c. Sucker Rod Pump
SRP merupakan salah satu teknik pengangkatan buatan atau artificial
lift yang paling umum dan banyak digunakan untuk membantu
mengangkat minyak dari sumur ke permukaan karena tenaga yang
dihasilkan dari sembur alami (natural flow) sudah tidak mampu untuk
mengangkat minyak. Untuk mengangkat minyak dari dalam sumur ke
permukaan pada SRP digunakan pompa dengan sambungan rod

13
(tangkai pompa). Gerakan putar dari prime mover yang telah
dikurangi jumlah putarannya oleh gear reducer, diubah menjadi gerak
naik turun oleh sistem pitman-crank assembly, kemudian gerakan naik
turun ini diteruskan melalui horse head dan dijadikan gerak lurus naik
turun (angguk) untuk menggerakan plunger yang tersambung oleh
rangkaian rod.
Adapun mekanisme kerja pompa angguk pada gambar di bawah :

Gambar 2.3 Mekanisme Kerja Pompa Angguk


BAB III
TINJAUAN KHUSUS
3.1

Artificial lift
Suatu sumur dapat berproduksi dengan dua cara yaitu dengan metode

sembur alam (natural flow) atau dengan metode pengangkatan buatan (artificial
lift). Metode sembur alam merupakan suatu metode dimana tekanan reservoir
lebih tinggi dari tekanan hidrostatik dalam sumur sehingga fluida dari dalam
reservoir dapat mengalir hingga kepermukaan. Apabila sumur tersebut sudah
tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengalirkan fluida reservoir sampai ke
permukaan, dengan kata lain sudah tidak dapat mengalirkan fluida secara alami,
hal ini akan menyebabkan sumur tidak berproduksi lagi. Maka untuk menjaga
agar sumur tetap berproduksi diperlukan metode pengangkatan buatan.
(Danar,Wijayanto.2006.Artificia Lift Sytem.Schlumberger Indonesia.). Artificial
lift Merupakan metoda pengangkatan buatan dengan menggunakan suatu
Peralatan untuk dapat mengalirkan fluida dari bawah sumur keatas permukaan. Di
Pertamina EP Asset 2 Field Pendopo ada 4 jenis artificial lift yang digunakan

14
untuk mengalirkan fluida kepermukaan diantara nya adalah Gas Lift, Sucker Rod
Pump (SRP), Hidrroulic pump unit (HPU), dan Electric submersible pump (ESP).
3.2

Sejarah Singkat Electric Submersible Pump


Pada tahun 1911, seorang kelahiran Rusia bernama Armais Arutunoff

menemukan teknologi motor listrik yang ditenggelamkan di dalam cairan air


sebagai penggerak pompa air (centifugal) untuk kepentingan militer. Setelah
peperangan selesai, Arutunoff membuat single stage centrifugal pump yang
digerakkan oleh motor listrik untuk kepentingan pertambangan, tidak lama
kemudian, dibuat multi stage pump (pompa bertingkat banyak) dimana motor
listriknya ikut ditenggelamkan di dalam cairan. Sejak saat itu muncul teknologi
pengangkatan buatan untuk memompakan cairan dari dalam sumur ke permukaan
dengan pompa centrifugal bertingkat banyak (multi stage) dengan nama REDA
Pump. REDA singkatan dari Russian Electro Dynamo of Arutonoff. Setelah lebih
dari 100 tahun sejak pertama kali Armais Arutunoff menemukan metode ESP ini,
sekarang ESP dipergunakan hampir diseluruh dunia dengan hasil yang sangat
memuaskan. Selama kurun waktu tersebut telah banyak berkembang perusahaanperusahaan yang membuat ESP dan dilakukan upaya-upaya penyempurnaan serta
pengembangan baik dalam hal pemilihan dan penggunaan material, metalurgi,
teknologi, daya tahan serta kemampuan produksinya. Semua itu dilakukan dalam
usaha untuk mencapai kinerja optimal dari sistem operasional ESP. (Brown, K.E.,
et al. 1980. The Technology of Artificial Lift Methods (Tulsa:Penwell Publishing),
Vol. 2,91.)

15

G
ambar 3.1 Pompa ESP
3.3

Electric Submersible Pump


Pompa Submersible disebut juga dengan Electrical Submersible Pump

adalah pompa sentrifugal bertingkat banyak multistage yang digunakam untuk


mendorong atau mengankat fluida keatas permukaan. ESP ini adalah pompa yang
dibuat atas dasar pompa sentrifugal bertingkat (stage) banyak dimana setiap
tingkat memiliki impeller, bagian berputar yang fungsinya memberikan kecepatan
terhadap cairan yang di pompakan dan diffuser adalah bagian yang diam berfungsi
mengubah tenaga yang berupa kecepatan tinggi menjadi kecepatan rendah tetapi
tidak memiliki tenaga tinggi. Pompa ESP secara keseluruhan dari pompa dan
motornya ditenggelamkan dalam cairan, pompa ini digerakan dengan motor listrik
melalui suatu poros motor yang memutar sudut-sudut impeller pompa. Perputaran
sudut-sudut itu menimbulkan gaya centrifugal yang digunakan untuk mendorong
fluida kepermukaan.

16

Gambar 3.2. Impeller dan diffuser


3.4

Komponen Alat Electric Submersible Pump (ESP)


Komponen Peralatan pompa esp dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu

Peralatan atas dan bawah permukaan.


A Peralatan Di Atas Permukaan
1. Wellhead
Wellhead adalah bagian dari casing string dan tubing string sebagai
penyanggah atau tempat dudukan casing dan tubing. Dan juga wellhead adalah
penahan rangkaian down hole ESP. Berdasarkan working pressure, wellhead dapat
dikelompokan :
a
b
c

Low Pressure Wellhead


Menahan tekanan tidak lebih dari 2000 psi
Medium Pressure Wellhead
Sanggup menahan tekanan sampai 5000 psi
High Pressure Wellhead
Sanggup menahan tekanan di atas 5000 psi working pressure
(10.000-20.000) .

17

Gambar 3.3. Wellhead atau Kepala Sumur


2. Transformer
Transformer adalah alat yang berfungsi sebagai pengubah tegangan
listrik/voltase dan bisa juga untuk menaikan tegangan atau menurunkan tegangan.
Pada Sumur SPA-30 besarnya tegangan Transformer sebesar 100 Kva.

18

Gambar 3.4. Transformer


3. Variable Speed Drives (VSD)
Variable Speed Drives adalah panel kontrol kerja di permukaan saat
pompa bekerja yang dilengkapi dengan motor controller, overload dan underload
protection serta alat pencatat (recording instrument) yang bisa bekerja secara
manual ataupun otomatis apabila terjadi penyimpangan atau Amchart. VSD juga
bisa berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan ESP.

19
Gambar 3.5. Variable Speed Drives (VSD)

4. Junction Box
Junction box ditempatkan di antara kepala sumur dan switchboard untuk
alasan keamanan. Gas dapat mengalir keatas melalui kabel dan naik ke permukaan
menuju switchboard, yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran, karena itu
kegunaan dari junction box ini adalah untuk mengeluarkan gas yang naik keatas
tadi. Junction box biasanya 15 ft (minimum) dari kepala sumur dan normalnya
berada diantara 2 sampai 3 ft di atas permukaan tanah.

Gambar 3.6. Junction Box


B Peralatan di Bawah Permukaan
Peralatan di bawah permukaan dari Electrical Submersible Pump terdiri
atas Pump Unit, GS (Gas Seperator), Intake, Protector, Motor, PSI (Pressure
Sensing Instrument) dan Electric Cable serta alat penunjang lainnya.
1

Pump unit.

Merupakan pompa centrifugal yang terdiri dari beberapa stages.Setiap


stages terdiri dari satu impeller bergerak (rotor) dan satu diffuser yang bersifat

20
diam (stator). Ukuran dari stage menentukan banyaknya fluida yang dapat
dipompakan, sedangkan jumlahnya akan menentukan total head capacity (daya
angkat/dorong) dan jumlahnya horse power yang diperlukan.
Prinsip kerja pompa ini adalah fluida yang masuk kedalam pompa melalui
intake akan diterima oleh stage paling bawah dari pompa, impeller akan
mendorongnya masuk, sebagai akibat proses centrifugal maka fluida tersebut akan
terlempar keluar dan diterima oleh diffuser.

Gambar 3.7. Pump Unit


2. Gas Separator
Gas Separator dipasang diantara pompa dan protector dengan cara
menyambungkan sumbunya (shaft) memakai coupling. Gas Separotor merupakan
saluran masuknya fluida dari dasar sumur ke pompa menuju permukaan Yang
berfungsi sebagai pemisah antara gas dan cairan.
Ada beberapa jenis intake yang sering dipakai, yaitu :
a

Standard Intake, dipakai untuk sumur dengan GLR rendah. Jumlah gas
yang masuk pada intake harus kurang dari 10% sampai dengan 15% dari
total volume fluida. Intake mempunyai lubang untuk masuknya fluida ke

21
pompa, dan dibagian luar dipasang selubung (screen) yang gunanya untuk
b

menyaring partikel masuk ke intake sebelum masuk kedalam pompa.


Rotary Gas Separator dapat dipasang untuk sumur-sumur dengan GLR
tinggi. Gas Separator jenis ini tidak direkomendasi untuk dipasang pada

sumur-sumur yang abrasive.


Static Gas Separator atau sering disebut Reverse Gas Separator, yang
dipakai untuk memisahkan gas hingga 20% dari fluidanya.

Gambar 3.8. Gas Separator


3. Protector
Protector sering juga disebut Seal Section. Alat ini berfungsi untuk
menahan masuknya fluida sumur kedalam motor atau mencegah fluida sumur
masuk kedalam motor. Secara umum protektor mempunyai 2 (dua) macam tipe,
yaitu Positive Seal atau Modular Type Protector dan Labyrinth Type
Protector.Panjang dari protector ini 6,7 ft

22

Gambar 3.9. Protector

4. Electric Motor.
Motor berfungsi untuk menggerakan pompa dengan cara mengubah
electrical energy menjadi mechanical energy. Energi ini menggerakan protector
dan pompa melalui shaft yang terdapat pada setiap unit yang dihubungkan dengan
coupling. Secara garis besar, motor ESP seperti juga motor listrik yang lain
mempunyai dua bagian pokok yaitu rotor dan stator. Rotor adalah susunan elemen
tipis yang berputar dan di tengah - tengah yang terdapat shaft. Jarak antara rotor
dengan stator sangat kecil yaitu 0.007 inch. Sedangkan stator adalah kumparan
kabel yang dipasang di bagian dalam body motor. Adapun cara kerja motor ESP
ini yaitu ketika stator yang di aliri listrik akan menginduksi rotor sehingga
berputar. Pada saat berputar, rotor akan terangkat dalam keadaan melayang
sedikit dari kedudukananya (thrust bearing) dan pada waktu yang sama, shaft
yang berada di tengah rotor akan memutar protector dan pompa.

23

Gambar 3.10. Electric Motor


5. Pressure Sensing Instruments
Pressure Sensing Instrument atau PSI adalah suatu alat yang mencatat
tekanan dan temperatur di dalam sumur. PSI Down Hole Unit, Dipasang dibawah
Motor Type Upper atau Center Tandem, karena alat ini dihubungkan pada Wye
dari Electric Motor yang seolah-olah merupakan bagian dari motor tersebut.

Gambar 3.11. Pressure Sensing Instrument

24
6. Bleeder Valve.
Bleeder valve dipasang satu joint di atas check valve, mempunyai fungsi
untuk mengosongkan kolom cairan di dalam tubing agar pada saat pencabutan
pompa tubing dalam keadaan kosong. Fluida akan keluar melalui bleeder valve.

Gambar 3.12. Bledder Valve


7. Check Valve
Check valve biasanya dipasang pada tubing (2-3 joint) di atas pompa.
Bertujuan untuk menjaga fluida tetap berada di atas pompa. Jika check valve tidak
dipasang maka kebocoran fluida dari tubing (kehilangan fluida) akan melalui
pompa yang menyebabkan aliran balik dari fluida naik ke atas, sebab aliran balik
(back flow) tersebut membuat putaran impeller berbalik arah, dan menghindari
debris turun ke pompa sewaktu sumur shut-in. Jadi umumnya check valve
digunakan agar tubing tetap terisi penuh dengan fluida sewaktu pompa mati dan
mencegah supaya fluida tidak turun ke bawah.

25

Gambar 3.13. Check Valve


8. Electric Cable
Kabel yang dipakai adalah jenis tiga konduktor. Fungsi utama dari kabel
tersebut adalah sebagai media penghantar arus listrik dari switchboard sampai ke
motor di dalam sumur. Kabel harus tahan terhadap tegangan tinggi, temperatur,
tekanan migrasi gas dan tahan terhadap resapan cairan dari sumur. Untuk itu maka
kabel harus mempunyai isolasi dan sarung yang baik, bagian dari kabel biasanya
terdiri dari Konduktor, Jaket dan Isolasi.
9. Advanced Gas-Handling Device (AGH)
Fungsi dari AGH ini sama seperti Gas Separator tempat masuknya fluida dan
untuk memisahkan gas dengan cairan. Tapi AGH ini pemisahan gasnya dirancang
lebih canggih daripada gas separator yang mampu memisahkan gas diatas 40 %,
hanya saja AGH ini Biayanya lebih mahal daripada gas separator.

26

Gambar 3.14. Advanced Gas-Handling Device


3.5

Prinsip Kerja ESP


Adapun prinsip kerja secara keseluruhan darielectric submersible pump

(ESP) sebagai berikut :


1 Electric power disuplai dari transformer (step down) melalui variable
speed drive (VSD) atau switchboard. Pada varriable speed drive (VSD)
2

semua kinerja dari kabel akan di kontrol dari monitor.


Power akan diteruskan dari variable speed drive (VSD) ke motor melalui

power cable yang terikat di sepanjang tubing.


Melalui motor electric power akan dirubah menjadi mechanical power

yaitu berupa tenaga putaran.


Putaran akan di teruskan ke protector dan submersible pump melalui shaft
yang di hubungkan dengan coupling. Pada saat shaft dari pompa berputar,
impeller akan ikut berputar dan mendorong fluida yang masuk melalui
pump intake atau gas separator ke permukaan.

Fluida yang di dorong bertahap akan memasuki tubing dan terus menuju
kepermukaan sampai ke gathering station.

27
3.6

Keuntungan dan Kerugian dari Penggunaan pompa ESP


Setiap Artificial Lift memiliki keuntungan dan kerugian begitu juga dengan

jenis ESP ini, Adapun Keuntungan dan kerugian Penggunaan pompa ESP adalah:
A. Keuntungan dari Penggunaan Pompa ESP :
1

ESP merupakan suatu metoda yang fleksibel untuk memproduksikan

minyak dalam kisaran luas yaitu dari laju alir rendah sampai tinggi.
Dapat menangani laju alir tinggi (>100.000 bbl/hari) dan water cut

tinggi
Umumnya biaya pengangkatan per barrel mengecil ketika laju alir

meningkat.
Tidak memiliki bagian bagian yang dapat bergerak di permukaan.

Dapat digunakan pada sumur miring atau horizontal.

B Kerugian penggunaan pada Pompa ESP :


1
2
3

Biaya awal sistem ini relatif tinggi.


Membutuhkan sumber listrik yang stabil dan memadai.
Kinerja pompa secara signifikan dipengaruhi oleh gas bebas dan
setelah batas tertentu penguncian gas (gas lock) dapat terjadi, sehingga
4

tidak cocok untuk sumur sumur ber GOR tinggi.


Untuk perbaikan berbagai komponen peralatan bawah permukaan,
membutuhkan pencabutan seluruh komplesi (kerja ulang).

Walau barbagai peralatan khusus terpasang, umur hidupnya


dipengaruhi oleh produksi pasir.

3.7

Permasalahan Pada Electric Submersible Pump (ESP)


Banyak permasalaha.-permasalahan sumur yang terjadi setelah diproduksi

dan ini akan mempengaruhi kinerja dari ESP. Untuk mengetahui permasalahan
pada ESP dapat dideteksi dengan menggunakan Ampchart. Permasalahanpermasalahan yang terjadi dapat disebabkan oleh :

Masalah dari Electrical (masalah kelistrikan)


Masalah dari mechanic.

Masalah dari reservoirnya sendiri.

28
A

Masalah dari Electrical


Adapaun beberapa masalah yang disebabkan oleh masalah kelistrikan

adalah :
1

Overload

Motor mengalami kelebihan beban, hal ini biasanya disebabkan oleh


Kepasiran, scale, Kabel rusak, ataupun Keltronik problem. Secara umum, untuk
mempermudah pendeteksian, overload diset dengan keadaan 120% dari
nameplate pada keltronik. jika bacaan keltronik melebihi atau sama dengan
kondisi ini, maka sumur akan secara otomatis mati.
Penyebab-penyebab ESP motor overload adalah :
a

Berat jenis fluida yang dipompakan bertambah (fluida bercampur


pasir atau Lumpur)

Kabel ESP rusak

Kalau motor mengalami underload terlalu lama karena underload


relay tidak bekerja akhirnya bisa overload

Terjadi kerusakan pada peralatan di dalam control panel

Pompa sendat diputar oleh motor


2

Underload

Motor tidak memompa cukup fluida, hal ini biasanya disebabkan oleh
Flow rate yang terlalu rendah, gassy problem, loss flow, mechanical problem,
ataupun reservoir problem. Secara umum, untuk mempermudah pendeteksian,
underload diset dengan keadaan 60% dari running ampere pada keltronik, jika
bacaan keltronik dibawah atau sama dengan kondisi ini, maka sumur akan secara
otomatis mati.
Penyebab-penyebab ESP motor underload adalah :
a

Produksi kecil

Produksi yang banyak membawa gas

Pompa kebesaran

29
d

Shaft protector dan pompa patah

Underload dan overload bisa dengan cepat diketahui oleh pumper operator di
lapangan dengan melihat ammeter chart pada control panel. Sedangkan
untuk mengetahui motor terbakar harus di cek oleh orang listrik. Kalau ESP
pump mati dalam keadaan

underload ia dapat hidup kembali secara

otomatis, sedangkan kalau matinya karena dalam keadaan overload tidak


mau secara otomatis. Bila operator menjumpai ESP pump mati dalam
keadaan overload, maka operator diminta agar jangan menghidupkannya
untuk menghindari kerusakan yang lebih serius, ia hanya dianjurkan untuk
memutar selector switch ke posisi OFF, seterusnya dilaporkan ke orang
listrik.
B

Masalah Mekanik
permasalahan yang diakibatkan dari masalah mekanik yaitu Shaft Patah.

Shaft patah Biasanya terjadi karena pompa medapatkan beban yang terlalu besar,
hal ini dapat terdeteksi dengan me-setting ampchart dengan nilai 40% dari
nameplate.
C

Masalah Pada Reservoir


Permasalahan yang diakibatkan dari masalah reservoirnya sendiri antara

lain :
1. Scale
Scale biasanya terjadi pada sumur dengan jenis reservoir karbonat
(CaCO3), scale dengan jumlah yang banyak dapat menyebabkan kerusakan yang
parah pada pompa. Beberapa masalah yang terjadi akibat scale antara lain
overload ini disebabkan karena scale tersebut menyumbat pompa sehinga pompa
memiliki beban yang berat, bahkan jika pompa tetap dipaksa beroperasi dengan
kondisi ini akan berakibat shaftnya patah.

30
2. Kepasiran
Ini desebabkan pasir yang dihasilkan reservoir sandstone ini biasanya
berupa fine grain yang lebih halus dibandingkan pasir biasa, dalam jumlah banyak
pasir dapat mengakibatkan korosi, dan juga menyumbat pompa sehingga
memberikan beban yang besar untuk pompa.
3. Gassy
Free gas mulai memasuki pompa dan terproduksi bersama dengan liquid
ataupun juga bisa disebabkan oleh adanya emulsi.
4. Gas Lock
Adanya akumulasi gas yang ada pada bagian atas production casing
sehingga menekan liquid yang akan masuk ke pump intake. hal ini dapat
terdeteksi pada ampchart dan juga adanya kenaikan tekanan pada tubing head.
Pada saat kami mengikuti proses pencabutan ESP pada rangkaian lama
ESP terdapat permasalahan yaitu Gas Lock pada gas separator yang di akibatkan
kapasitas gas lebih banyak dari fluida menyebabkan tekanan gas tinggi, akumulasi
gas yang berlebihan sehingga menyebabkan underload. Dan juga permasalahan
yang lain yaitu adanya problem Scale. Scale ini bisa menyebabkan Produksi pada
sumur ESP menurun dan bisa menyebabkan pompa stack/mati. Solusi dari
masalah ini yaitu unit ESP yang ada dibawah permukaan dicabut ke atas
permukaan dan diganti dengan peralatan yang baru terutama peralatan gas
separator diganti dengan AGH yang bisa mampu memisahkan gas dan cairan
walaupun kapasitas gas didalam sumur lebih banyak dari fluida dan sebelum
dilakukan instalasi ESP baru pada sumur tersebut dilakukan sirkulasi terlebih dulu
agar sumur bersih terhadap scale maupun kepasiran. .
3.8

Ammeter Chart Analysis


Salah satu alat yang paling bernilai untuk mendiagnosa masalah di

persoalan dalam lubang sumur adalah ampchart. Suatu kondisi yang dapat di
diagnosa dengan sebetulnya dapat mebantu untuk mengambil tindakan yang tepat

31
tanpa perlu mengangkat peralatan pompa ke permukaaan, atau bila harus
mengangkatnya, keputusan yang lebih baik telah dapat ditentukan sebelumnya.
Ampchart memang bukan alat diagnostik satu-satunya tetapi ampchart
lebih penting karena dapat menunjukan apa yang terjadi pada unit ini selama unit
ini berjalan. Ampmeter sendiri mempunyai suatu alat pencatat melingkar (round
recording chart) dengan sebuah pena yang bergerak masuk atau keluar
berdasarkan jumlah arus listrik.
Jika recording ammeter berfungsi dengan baik, maka dari panganalisaan
chart dapat diketahui beberapa masalah yang sedang terjadi pada unit pompa.
Pada beberapa contoh ammeter chart berikut ini dapat dilihat interpretasi dan
hubungannya

dengan

petunjuk

dalam

trouble

shooting.

Kondisi

yang

mempengaruhi kinerja ESP.


1 Overload
a Motor dikatakan overload apabila yang digunakan melebihi dari normal
running ampere. Pada kondisi overload kurva ampere dari motor akan
naik. Pada umumnya kondisi ini disebabkan oleh surface voltage,
karakteristik dari fluida sumur, dari kondisi motor. Apabila overload
control di-set dengan benar, maka secara otomatis pompa akan mati.
Sebaliknya apabila setting-nya ketinggian maka pompa akan hidup terus
b
c
d

sampai semua komponen dari rangkaian pompa rusak.


Section A
: kurva pada saat pompa start, ampere normal.
Section B
: pompa berjalan normal, ampere normal.
Section C
: menunjukan kenaikan ampere secara bertahap
Sampai akhirnya drop karena overload.

32

Gambar 3.15. Overload


2

Underload
Motor disebut underload apabila yang digunakan lebih rendah dari normal
running ampere. Pada umumnya kondisi ini terjadi karena fluid pump
(ketinggian fluida di atas pompa atau panjang pompa yang terendam oleh
fluida) terlalu rendah, dan ukuran pompa lebih besar dari yang dibutuhkan,
sehingga fluida yang dipompakan mengalir secara intermittent (terputusputus). Apabila setting dari underload control terlampau rendah, maka
akan terjadi overheat pada motor karena fluid passage sangat kecil
sehingga ampere akan naik sampai akhirnya komponen lain rusak. Contoh

a
b
c

dari chart kondisi underload pada ESP.


Section A
: kurva pada saat pompa dihdupkan, ampere normal.
Section B
: pompa berjalan normal, ampere normal.
Section C
: menunjukan penuruan ampere secara bertahap.
d Section D
: menunjukan kondisi tanpa load motor
hidup terus sampai panas dan akhirnya drop.

33

Gambar 3.16. Underload


3

Gas Locking
Keberadaan gas break-out pada fluid intake atau adanya gas yang
terkompres di dalam pompa akan menyebabkan seluruh rangkaian pompa
mengalami overheat karena tidak ada fluida yang dipompakan. Gas akan
keluar dari solution apabila tekananya lebih rendah dari buble point
pressure. Ini bisa bila fluid over pump tidak cukup.
Pada ESP, pada awalnya kurva ampere chart bergerak secara konstan
tetapi dengan terjadinya gas break-out akan menyebabkan kurva ampere
bergerak turun, kemudian bergerak secara tidak teratur (turun naik),
sampai akhirnya pompa mati.

34

Gambar 3.17. Gas Locking


Gassy
Kondisi ini biasanya terjadi pada sumur yang mengandung gas ringan (
associated gas), dimana minyak yang mengandung gas atau emulsi gas,
minyak atau air masuk kedalam pompa. Hal ini dapat diatasi dengan
memasang gas separator. Pada Chart di bawah ini terlihat kurva ampere
bergerak secara tidak teratur mulai dari awal

35

Gambar 3.18. Gassy


BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan selama praktek
kerja lapangan di PT. Pertamina EP Asset 2 Field Pendopo dan
penyusunan laporan ini maka dapatdisimpulkan beberapa hal sebagai
berikut :
1. Prinsip kerja pompa ESP yaitu Ketika listrik di suplai ke motor, maka
motor memutar shaft sampai ke pompa dan Impeller pun akan berputar
lalu fluida akan masuk melalui intake dan diterima oleh stage paling
bawah pompa lalu fluida menuju keatas untuk diproduksikan.
2. Peralatan yang digunakan pada pompa ESP ada 2 yaitu atas permukaan
dan bawah permukaan Atas permukaan yaitu Well Head, Transfomator,
VSD (Variable Speed Drives), Junction Box dan Generator. Sedangkan
bawah permukaan yaitu PSI (Pressure Sensing Instruments), Motor,
Protektor, Gas Separator, Check Valve, Bledder Valve, Kabel dan Pompa.
3. Permasalahan umum yang sering terjadi pada sumur ESP adalah
Overload, Underload, Gassy, Gas Lock

35
DAFTAR PUSTAKA
Danar,Wijayanto.2006. Artificial Lift Sytem.Schlumberger Indonesia.
Brown, K.E., et al. 1980. The Technology of Artificial Lift Methods (Tulsa:Penwell
Publishing), Vol. 2,91.
Ardiansyah, 2011. Kursus Dasar ESP : PT. EPSINDO JAYA PRATAMA