Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Biologi berkembang dari hasil kerja para peneliti biologi, menggali
pengetahuan dari objek-objek biologi. Sebagai Objeknya adalah semua
makhluk hidup. Menggali ciri objek harus dilakukan dengan melakukan
pengamatan terhadap objek tersebut. Dengan demikian semua makhluk
dapat menjadi objek pengamatan
Secara garis besar, ada dua cara pengawetan obyek biologi, yaitu
pengawetan basah (herbarium basah) dan pengawetan kering (herbarium
kering). Pengawetan basah dilakukan dengan mengawetkan obyek biologi
dalam suatu cairan pengawet. Pengawetan kering dilakukan dengan
mengeringkan obyek biologi hingga kadar air yang sangat rendah, sehingga
organism perusak/penghancur tidak bekerja.
Pengawetan basah dilakukan bagi hewan tidak bercangkang yang
ukurannya relatif besar, direndam dalam larutan pengawet. Pengawetan
kering untuk organisme yang berukuran relatif besar biasanya dilakukan
dengan cara mengeringkan dengan sinar matahari atau dengan oven dan
selanjutnya agar lebih awet dapat disimpan dalam media pengawet resin
(Bioplastik). Obyek yang dapat dijadikan sebagai specimen utama dalam
pengawetan basah maupun kering merupakan objek biologi yang berukuran
kecil hingga yang berukuran besar.
Objek kita dapat menggali gejala-gejala, menemukan masalah dan
memecahkannya. Namun tidak semua objek dengan mudah kita temukan di
sekitar kita. Untuk objek hewan yang cukup langka, atau habitatnya jauh
(misal di pantai), maka dibutuhkan suatu koleksi awetan. Untuk koleksi
objek perlu diperhatikan kelengkapan organ tubuhnya, pengawetan dan
penyimpanannya. Koleksi objek harus memperhatikan pula kelestarian
objek tersebut. Perlu ada pembatasan pengambilan objek. Salah satunya
dengan cara pembuatan awetan. Pengawetan dapat dilakukan terhadap
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

objek tumbuhan maupun hewan. Pengawetan dapat dengan cara basah


ataupun kering. Cara dan bahan pengawetnya bervariasi, tergantung sifat
objeknya. Untuk organ tumbuhan yang berdaging seperti buah, biasanya
dilakukan dengan awetan basah.
Salah satu sampel yang digunakan sebagai objek pengawetan atau
herbarium basah yaitu spons. Spons merupakan kelompok porifera yaitu
hewan yang mempunyai tubuh berpori-pori atau saluran. Spesies ini
merupakan salah satu biota laut yang memiliki kandungan berbagai
metabolit sekunder diantaranya steroid, alkaloid, flavonoid, dan terpenoid
yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat.
Berdasarkan uraian tersebut, maka laporan ini akan membahas
proses pembuatan herbarium basah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pembuatan herbarium basah?
2. Bagaimana pembuatan herbarium basah pada sampel spons (Clatharia
sp)?
C. Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui cara pembuatan herbarium basah yang baik.
2. Untuk membuat herbarium basah pada sampel spons (Clatharia sp).
D. Prinsip Pembuatan Herbarium Basah
Sampel yang akan dibuat herbarium, dibersihkan dari sisa kotoran
dengan meggunakan pisau stenlis dan dicuci bersih dengan air mengalir
kemudian ditambahkan pengawet (etanol 70%) hingga sampel terendam
seluruhnya lalu diberikan keterangan pada bagian luar toples dari
klasifikasi, kandungan, dan manfaatnya dalam bidang kesehatan.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Herbarium Basah
Herbarium berasal dari kata hortus dan botanicus, artinya kebun
botani yang dikeringkan. Secara sederhana yang dimaksud herbarium
adalah koleksi spesimen yang telah dikeringkan, biasanya disusun
berdasarkan sistem klasifikasi. Fungsi herbarium secara umum antara lain
(Onrizal, 2005):
1. Sebagai pusat referensi; merupakan sumber utama untuk identifikasi
tumbuhan bagi para ahli taksonomi, ekologi, petugas yang menangani
jenis tumbuhan langka, pecinta alam, para petugas yang bergerak dalam
konservasi alam.
2. Sebagai lembaga dokumentasi merupakan koleksi yang mempunyai
nilai sejarah, seperti tipe dari taksa baru, contoh penemuan baru,
tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi dan lainlain.
3. Sebagai pusat penyimpanan data ahli kimia memanfaatkannya untuk
mempelajari alkaloid, ahli farmasi menggunakan untuk mencari bahan
ramuan untuk obat kanker, dan sebagainya.
Herbarium basah adalah specimen yang telah diawetkan dan
disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari berbagai macam zat dengan
komposisi yang berbeda-beda. Komponen utama yang digunakan dalam
pembuatan larutan pengawet itu antara lain adalah: alcohol, dan formalin
(Widhy, 2012).
Ada tiga langkah pokok pada pembuatan preparat hewan, yakni
(Al,Suyitno, 2004):
1. Mematikan Objek
2. Fiksasi
3. Pengawetan.
Untuk mematikan, hewan dimasukkan kebotol pembunuh. Untuk
hewan yang bergerak kuat perlu dilakukan anestesi dahulu. Ada banyak
macam larutan anestesi, Contoh, magnesium chloride (MgCl2), eter (untuk

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

membius) atau alkohol. Fiksasi dimaksudkan untuk menstabilkan protein


jaringan. Larutan fiksasi juga bermacam-macam, di antaranya formalin
(formaldehyde), larutan Viets, larutan Bouin (Al,Suyitno, 2004).
Cara membuat larutan fiksatif (Al,Suyitno, 2004):
1. Larutan Viets : campurkan alcohol 80% (6 bagian), dengan gliserin (11
bagian) dan asam asetat glacial (3 bagian)
2. Larutan Bouin : Asam asetat glasial (5 ml) ditambah dengan formalin
40 % (25 ml dan asam pikrat jenuh (75 ml)
Pengawetan merupakan tindak lanjut setelah proses fiksasi, agar
objek menjadi awet, tidak rusak jaringannya, tidak terjadi otolisis sel, dan
terhindar dari serangan bakteri dan jamur. Bahan pengawet yang mudah
adalah formalin (5 10 %), alcohol 70 %. Untuk menghindari kerusakan
jaringan, fiksasi dilakukan bertahap. Objek tidak langsung direndam dalam
alkohol 70 %, tetapi mulai dari kadar yang rendah (30 %) (Al,Suyitno,
2004).
Beberapa larutan awetan basah (Al,Suyitno, 2004):
1. Pengawet umum:
a. Formalin 40 % : air = 1 : 10 ( formalin 4 % )
b. Formalin 40 % 6 bagian
Asam asetat 40 %, 1 bagian
Alkohol 95 %, 20 bagian
Akuades 40 bagian
2. Pengawet Insekta:
a. Formalin 40 %, 40 bagian
b. Asam asetat 40 %, 20 bagian
c. Gliserin, 50 bagian
d. Akuadest, 280 bagian
B. Tinjauan tentang Spons
Spons merupakan kelompok porifera yaitu hewan yang mempunyai
tubuh berpori-pori atau saluran. Spons sebagai invertebrata laut multi sel
yang fungsi jaringan dan organnya sangat sederhana. Biota laut ini dikenal
dengan filter feeders, yaitu mencari makanan dengan mengisap dan
menyaring air melalui sel cambuk dan memompakan air keluar melalui
oskulum. Makanan spons berupa zooplankton atau hewan kecil dan bakteri
yang terbawa oleh arus serta masuk ke dalam tubuhnya (Amir, 1996).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

Gambar 1.1 Spons


Tubuh spons terdiri dari jelly seperti mesohyl terjepit di antara dua
lapisan tipis sel. Spons tidak memiliki saraf, pencernaan atau sistem
peredaran

darah.

mempertahankan

Sebaliknya,

aliran

air

sebagian

konstan

melalui

besar
badan

mengandalkan
spons

untuk

mendapatkan makanan dan oksigen ataupun untuk menghilangkan limbah


(Rosmiati dan Suryati, 2001). Larva spons dapat menyebar secara luas,
terbawa arus dan bergerak sangat aktif, tetapi setelah dewasa hidup melekat
dan menetap pada karang batu dan dasar laut.
1. Klasifikasi Spons Clathria Sp
Menurut (Hooper, 2002) spons Clathria Sp diklasifikasikan
sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Porifera

Kelas

: Demospongiae

Ordo

: Poecilose lerida

Famili

: Microcionidae

Genus

: Clathria

Spesies

: Clatharia sp

2. Morfologi Spons
Morfologi luar spons sangat dipengaruhi oleh faktor fisik,
kimiawi dan biologis lingkungannya. Spesimen yang berada di
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

lingkungan yang terbuka dan berombak besar cenderung mengalami


pertumbuhan yang pendek atau juga merambat. Sebaliknya spesimen
dan jenis yang sama pada lingkungan yang terlindung atau pada
perairan yang lebih dalam dan berarus tenang, pertumbuhannya
cenderung tegak dan tinggi. Pada perairan yang lebih dalam, spons
cenderung memiliki bentuk tubuh yang lebih simetris dan lebih besar
sebagai akibat dari lingkungan yang lebih stabil apabila dibandingkan
dengan jenis yang sama yang hidup pada perairan yang dangkal. Spons
pada jenis yang sama pertumbuhannya cenderung semakin besar dan
semakin tinggi dengan bertambahnya kedalaman laut (Amir, 1996).
Spons secara morfologi berbentuk sederhana seperti tabung
dengan dinding tipis tidak teratur serta tubuhnya berpori (ostium).
Spons membuat kerak pada batu, cangkang, tongkat atau tumbuhtumbuhan (Romimohtarto dan Juwana, 2001). Tubuh spons asimetri
(tidak beraturan), meskipun ada yang simetri radial, berbentuk seperti
tabung, vas bunga, mangkuk, atau tumbuhan, memiliki warna yang
bervariasi. Dahuri (2003) melaporkan beberapa jenis spons ada yang
bercabang seperti pohon, berbentuk seperti sarung tinju dan cawan
sedangkan yang lainnya berbentuk kubah. Spons banyak dijumpai di
laut dengan bentuk dan warna yang sangat beraneka dan sangat
menarik, hal ini disebabkan oleh zooxanthellae yang hidup dalam
jaringan tubuhnya. Spons yang hidup di lingkungan yang gelap akan
berbeda warnanya dengan spons sejenis yang hidup pada lingkungan
yang cerah.
Struktur tubuh spons terdiri dari tiga lapisan yaitu epidermis,
mesoglea dan endodermis. Epidermis merupakan lapisan luar yang
terdiri atas sel-sel epitelium berbentuk pipih (pinakosit). Pinakosit
berfungsi sebagai pelindung. Endodermis terdiri atas sel berflagela
yang berfungsi mencerna makanan dan bercorong yang disebut sel
leher atau koanosit. Struktur sel spons ditunjukkan pada berikut:

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

Gambar 1.2 Struktur Spons


Struktur Sel Spons a. Oskula, b. Sel penutup (pinakosit), c. Sel
amobosit, d. Sel pori (porosit), e. Pori saluran masuk (ostia), f. Telur, g.
Spikula triaxon, h. Mesohil, i. Sel mesenkim, j. Bulu cambuk (flagela),
k. Sel kolar (choanosit), 1. Sklerosit, m. Spikula monoaxon (Amir,
1996)
3. Reproduksi dan Daur Hidup Spons
Porifera berkembang biak secara aseksual maupun seksual.
Reproduksi yaitu terjadi dengan cara pembentukan umumnya
fragmentasi yaitu potongan-potongan dari spons yang patah dapat
hidup dengan cadangan makanan yang ada ditubuhnya kemudian
bergenerasi membentuk tunas baru untuk menjadi spons dewasa
(Bergquist, 1978). Cara reproduksi fragmentasi yang dapat ditiru untuk
membuat kultur spons.
4. Kandungan Kimia Spons
Callyspongia sp. merupakan salah satu jenis spons yang banyak
tumbuh di perairan Indonesia. Spesies ini merupakan salah satu biota
laut yang memiliki kandungan berbagai metabolit sekunder diantaranya
steroid, alkaloid, flavonoid, dan terpenoid yang nantinya dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku obat (Menggelea, F.P., dkk. 2015).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

Kandungan metabolit sekunder dari spons yang mengandung


alkaloid sebanyak 194 jenis; 151 jenis yang mengandung terpenoid,
dan 121 jenis mengandung steroid. Sebagian besar spons mengandung
alkaloid, lalu terpenoid, kemudian steroid. Setiap spons tidak selalu
memiliki kandungan metabolit sekunder yang sama dengan spons
lainnya demikian pula golongannya ada yang mengandung hanya
alkaloid saja, atau steroid saja, atau terpenoid saja, ataupun dua ataupun
ketiga-tiganya. Hal ini dapat dimengerti karena pembentukan metabolit
sekunder dalam spons sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya
(Bergman dan Feeney 1990, dalam Suparno, 2005).
5. Simbosis Spons dan Bakteri
Interaksi antara organisme yang hidup dilingkungan akuatik
sangat beragam dan peran penting pada interaksi tersebut dimainkan
oleh mikroorganisme. Mikroorganisme banyak yang ditemukan tumbuh
secara komensal di permukaan juga di dalam berbagai binatang
akuatik, beberapa diantaranya terdapat di organ pencernaannya dimana
sejumlah bakteri sering terdapat. Mikroorganisme dimakan dan
digunakan sebagai makanan oleh sejumlah hewan yang hidup baik itu
di sedimen maupun di perairan sehingga faktor nutrisi. Beberapa hewan
dapat hidup dengan sejumlah tetentu bakteri maupun fungi (Suparno,
2005).
Lubang yang porus pada spons mengandung sejumlah koloni
bakteri (Bertrand dan Vacelet, 1971 dalam Rheinhemer, 1991). Hasil
penelitian terhadap spons Microcionia prolifera, ditemukan bakteri dari
genus

Psedomonas,

Aeromonas,

Vibrio,

Achromobacter,

Flavobacterium dan Corynebacterium serta Micrococcus yang biasa


terdapat di perairan sekitarnya (Madri et al., dalam Rheinhemer, 1991,
dalam Suparno, 2005).
Pola makanan spons yang khas yaitu filter feeder (menghisap
dan menyaring) dapat memanfaatkan jasad renik disekitarnya sebagai
sumber nutrien diantaranya bakteri, kapang dan xooxanthela yang
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

hidup pada perairan tersebut. Sedangkan kapang, bakteri dan


xoxanthelae hidup dan berkembang biak dengan memanfaatkan nutrien
yang terdapat pada spons tersebut. Myers et al (2001) melaporkan
bahwa terdapat hubungan simbiotik antara spons dan sejumlah bakteri
dan alga, dimana spons menyediakan dukungan dan perlindungan bagi
simbionnya dan simbion menyediakan makanan bagi spons. Alga yang
bersiombiosis dengan spons menyediakan nutrien yang berasal dari
produk fotosintesis sebagai tambahan bagi aktifitas normal filter feeder
yang dilakukan sponge (Suparno, 2005).
Pembentukan senyawa bioaktif pada spons sangat ditentukan
oleh prekursor berupa enzim, nutrien serta hasil simbiosis dengan biota
lain yang mengandung senyawa bioaktif seperti bakteri, kapang dan
beberapa jenis dinoflagellata yang dapat memacu pembentukan
senyawa bioaktif pada hewan tersebut (Scheuer, 1978 dalam Suryati et
al, 2000). Senyawa terpenoid dan turunannya pada berbagai jenis
invertebrata termasuk spons atau beberapa spesies dinoflagellata dan
zooxanthelae yang memiliki senyawasenyawa yang belum diketahui,
yang

kemudian

diubah

melalui

biosintesis

serta

fotosintesis

menghasilkan senyawa bioaktif yang spesifik pada hewan tersebut


(Faulkner dan Fenical, 1977 dalam Suryati et al, 2000, dalam Suparno,
2005).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suryati et al
(2000), terhadap sejumlah spesies spons yang hidup di perairan
Spermonde, Sulawesi Selatan, kelimpahan kapang dan bakteri yang
bersimbiosis cukup bervariasi pada sponge seperti diperlihatkan pada
Tabel 2. Kelimpahan jenis bakteri yang diisolasi dari spons pada
umumnya didominasi oleh bakteri Aeromonas, Flavobacterium, Vibrio
sp, Pseudomonas sp. Acinebacter dan Bacillus sp (Suparno, 2005).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

10

HERBARIUM

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Gelas Kimia 1000 mL
b. Gelas Ukur 100 mL
c. Pisau Stenlis
d. Toples Kaca
2. Bahan
a. Etanol 70%
b. Kertas Saring
c. Lakban Hitam
B. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Diambil sampel spons yang akan dibuat herbarium, disimpan dalam
wadah penampung
3. Dibersihkan sisa kotoran karang yang melekat pada sampel dengan
meggunakan pisau stenlis dan dicuci bersih dengan air mengalir
4. Dimasukkan sampel kedalam toples kaca sesuai dengan ukuran sampel
yang diawetkan
5. Ditambahkan pelarut etanol hingga sampel terendam seluruhnya
6. Ditutup rapat toples, agar pelarut etanol tidak menguap
7. Diberikan keterangan pada bagian luar toples dari klasifikasi sampel
biota laut, kandungan, dan manfaatnya dalam bidang kesehatan.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

11

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

BAB IV
PEMBAHASAN
Herbarium basah atau yang juga disebut awetan basah adalah specimen
yang telah diawetkan dan disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari
berbagai macam zat dengan komposisi yang berbeda-beda. Sampel yang
digunakan sebagai pembuatan herbarium yaitu hewan spons.
Herbarium basah memiliki beberapa manfaat diantaranya sebagai pusat
referensi; sebagai lembaga dokumentasi yang mempunyai nilai sejarah; sebagai
pusat penyimpanan data ahli kimia memanfaatkannya untuk mempelajari
alkaloid, ahli farmasi menggunakan untuk mencari bahan ramuan untuk obat
kanker, dan sebagainya.
Spons merupakan kelompok porifera yaitu hewan yang mempunyai
tubuh berpori-pori atau saluran. Spons sebagai invertebrata laut multi sel yang
fungsi jaringan dan organnya sangat sederhana. Spons memiliki kandungan
beberapa metabolit sekunder diantaranya steroid, alkaloid, flavonoid, dan
terpenoid yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat.
Pada pembuatan herbarium basah dengan sampel hewan spons dibuat
menggunakan pengawet alcohol 70%. Pengambilan sampel dilakukan di Pulau
Bokori. Sampel yang diperoleh tidak langsung diberi pengawet, tetapi
dibersihkan dulu dari kotoran yang melekat pada sampel.
Ada beberapa langkah pembuatan herbarium basah diantaranya,
mematikan objek, fiksasi, dan pengawetan. Untuk hewan spons atau hewan
berpori yang dibuat herbarium basah pada proses mematikan bahan yang
digunakan yaitu alcohol 70%. Pada proses fiksasinya menggunakan alcohol
70%, untuk sampel hewan seharusnya difiksasi sebelum diawetkan. Hal ini
dimaksudkan untuk menstabilkan protein jaringan pada hewan. Pengawetan
merupakan tindak lanjut setelah proses fiksasi, agar objek menjadi awet, tidak
rusak jaringannya, tidak terjadi otolisis sel, dan terhindar dari serangan bakteri
dan jamur. Bahan awetannya menggunakan alcohol 70%. Kandungan alkohol
akan berubah, sehingga harus dilakukan penggantian alkohol secara rutin.
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

12

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

Penggunaan alcohol sebagai pengawet herbarium basah pada beberapa


sampel terutama sampel biota laut, memiliki kekurangan diantaranya dapat
melarutkan zat warna pada sampel, dan mengeluarkan isi dalam tubuh sampel.
Seharusnya penggunaan pengawet pada herbarium basah ini tidak boleh
mempengaruhi sifat fisika dan kimiawi sampel.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

13

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Herbarium basah adalah specimen yang telah diawetkan dan disimpan
dalam suatu larutan yang dibuat dari berbagai macam zat dengan
komposisi yang berbeda-beda.
2. Pada pembuatan herbarium spons saat proses mematikan objek, fiksasi,
dan pengawetan menggunakan alcohol 70%.
B. Saran
Untuk praktikum selanjutnya, disarankan untuk menggunakan
pengawet lain yang tidak bersifat mempegaruhi sampel baik secara fisika
maupun secara kimiawi.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

HERBARIUM

DAFTAR PUSTAKA
Al, Suyitno. 2004. Penyiapan Specimen Awetan Objek Biologi. Universitas
Negeri Yogyakarta
Amir, I. dan A. Budiyanto. 1996. Mengenal Spons Laut (Demospongiae)
Secara Umum. Oseana. 21. 15-31.
Faulkner, D. J., Sponges, Marine Natural Products, Serpps Institution,
University of Oceanografi, University of California, San Diego, 11,
1993, 231-247.
Jasin, M, Zoologi Invertabrata Untuk Perguruan Tinggi, cetakan keempat,
Penerbit Sinar Jaya, Surabaya, 1992, 89-102.
Kanagasabhapathy, M., Sasaki, H., Nakajima, K., Nagatan, K., and Nagata, S.
2005. Inhibitory Activities Of Surface Associated Bacteria From The
Marine Pseudocratina Purpurea. Microbes and Environtment. 20: 178185.
Menggelea, F.P., dkk. 2015. Uji Efek Antibakteri Jamur Endosimbion Spons
Laut Callyspongia Sp. terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa dan
Eschericia coli. Jurnal. Manado: Universitas Sam Ratulangi
Mokodompit, A., dkk, 2015. Uji Efektifitas Antibakteri Ekstrak Etanol Spons
Laut (Porifera:Demospongiae) terhadap bakteri Staphylococcus aureus
dan Escherchia coli. Jurnal. Gorontalo: Universitas Negeri Gorontalo
Onrizal. 2005. Teknik Pembuatan Herbarium. Universitas Sumatera Utara.
. http://ocw.usu.ac.id. Diakses 17 Oktober 2016
Stachowitsch, M, The Invertebrates, An Ilusctated Glosary, Department of
Marine Biology Institute of zoologi, Vienna, Austria, 1992, 13-18.
Suparno. 2005. Kajian Bioaktif Spons Laut (Porifera: Demospongiae) Suatu
Peluang Alternatif Pemanfaatan Ekosistem Karang Indonesia dalam
dibidang Farmasi. Makalah. Bandung: Institut Pertanian Bogor
Tjtrosoepomo, G. 2005. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

15