Anda di halaman 1dari 13

Nama

Desak Gede Dian Purnama Dewi

NIM

P07134014027

Semester

V (Lima)

Judul

Malaria Rapid Test

Hari, Tanggal :

Rabu, 05 Oktober 2016

Tempat

Laboratorium Imunoserologi JAK Poltekkes Denpasar

I. TUJUAN
Pemeriksaan imunokromatografi (rapid tes) untuk deteksi dan membedakan
secara kualitatif adanya antibodi spesifik terhadap P. falciparum (Pf. HRP-2) dan P.
vivax (pLDH).
II. METODE
Metode yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah immunokromatografi.
III.PRINSIP
Berdasarkan reaksi secara imunokromatografi antara antibodi monoclonal yang
terdapat pada membran tes dengan antigen Pf. HRP-2 dari P. falciparum dan antigen
pLDH dari P. vivax yang terdapat dalam darah pasien. Kemudian bergerak sepanjang
mebran lateral dan membentuk garis warna hitam secara kompleks antigen antibodi.
IV. DASAR TEORI
Malaria adalah penyakit yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh parasit dari
golongan protozoa yaitu Plasmodium sp. Parasit ini ditularkan oleh berbagai jenis
Anopheles. Setelah transmisi dari nyamuk, tahap sporozoit memasuki aliran darah
dan bermigrasi ke hati. Parasit tersebut menyerang sel hepatosit dan mengalami
proliferasi aseksual selama beberapa hari. Setelah sekitar 6-10 hari, hepatosit yang
terinfeksi pecah dan melepaskan puluhan ribu merozoit ke dalam aliran darah, dan
masing-masing merozoit mampu menginfeksi eritrosit. Plasmodium menjalani siklus
hidup 1-3 hari dan menginvasi eritrosit, waktu invasinya tergantung dari spesies
parasit. Pecahnya eritrosit yang terinfeksi diikuti dengan pelepasan antigen parasit
dan racun (Narayani, et al, 2014).
Pada tahun 2008, terdapat sekitar 190 hingga 311 juta kasus malaria di seluruh
dunia. Malaria masih menjadi salah satu penyakit menular yang paling sulit untuk

dikontrol. Dua spesies yang paling umum dari parasit yang menyebabkan malaria
adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Plasmodium falciparum
merupakan penyebab paling umum dari malaria dan paling banyak menyebabkan
komplikasi lain seperti anemia berat. Sedangkan penyakit malaria yang disebabkan
oleh P. vivax jarang menyebabkan anemia yang serius (Peter, et al, 2014).
Banyak upaya baru yang dilakukan untuk memberantas penyakit ini, insiden dan
prevalensi malaria tidak menurun dan memburuk dalam beberapa kejadian. Malaria
merupakan penyakit yang dapat disembuhkan. Awal diagnosis yang cepat dan akurat
diikuti oleh pengobatan yang tepat adalah kunci untuk manajemen penyakit yang dan
merupakan prinsip dasar dari kebijakan pengendalian malaria saat ini (Iqbal, et al,
2011).
Diagnosis dan pengobatan dini sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan
mortalitas kejadian penyakit ini, diagnosis yang cepat dan akurat malaria sangat
penting. Hapusan darah tipis dan tebal serta metode PCR merupakan gold standard
untuk pemeriksaan malaria, tapi waktu yang digunakan relatif lama dan
membutuhkan pelatihan staf dan instrument khusus. Oleh karena itu, tes
imunokromatografi efektif dan cepat dengan prosedur sederhana dikembangkan
untuk mendiagnosis malaria (Katharine, et al,2014).
V. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
1. Pipet disposable/ pipet kapiler
2. Yellow tip
3. Mikropipet
b. Bahan
1. Kaset pemeriksaan rapid tes malaria
2. Diluent
c. Sampel
Whole blood
VI. CARA KERJA
1. Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan, semua komponen
pemeriksaan dikondisikan pada suhu ruang (15 - 300C)
2. Kaset tes dikeluarkan dari kemasannya dan diletakkan pada tempat yang
bersih, datar, dan kering.

3. Sampel whole blood dipipet sebanyak 10 mikron dan dimasukkan pada


lubang spesimen yang bertanda S
4. Ditambahkan diluents sebanyak 3 tetes ke dalam lubang diluents yang
bertanda D.
5. Hasil dibaca dalam selang waktu 15 30 menit. Pembacaan hasil tidak boleh
lebih dari 30 menit .
VII.

INTERPRETASI HASIL
1. Negatif
: hanya terbentuk garis warna pada control C
2. Positif Pf HRP-II
: muncul garis warna pada T1 dan C
3. Positif pLDH
: muncul garis warna pada T2 dan C
4. Positif Pf HRP II dan pLDH: muncul garis warna pada T1, T2 dan C
5. Invalid
: tidak muncul garis warna pada control C

VIII. HASIL PENGAMATAN


Identitas sampel
Nama Pasien
: Made Wulan Kesumasari
Asal Sampel
: Mahasiswa Poltekkes Denpasar
Jenis Kelamin
: Perempuan
Umur
: 20 tahun
Sampel
: Whole blood kapiler
Hasil
: Negatif
Gambar Alat dan Bahan

( Lancet)

(Device test malaria rapid one step)


Ex : Maret 2016

( Alkohol swab)

(Assay diluents malaria rapid test)


Ex. 16 Maret 2016

Hasil Pemeriksaan Malaria Rapid Test

E
B

Keterangan :
A

: Terdapat garis berwarna hitam pada C line

: Tidak terdapat garis berwarna hitam T2 line

: Tidak terdapat garis berwarna hitam T1 line

: Tempat untuk meneteskan sampel darah

: Tempat untuk meneteskan diluent

Hasi
l

: Hanya terdapat satu garis berwarna merah yaitu pada control


line, maka hasil tersebut dapat diinterpretasikan negatif

IX. PEMBAHASAN
Malaria adalah penyakit infeksi disebabkan oleh parasit yang termasuk dalam
genus Plasmodium. Parasit ini dibawa dan ditularkan oleh nyamuk jenis Anopheles
kemudian memasuki aliran darah manusia dalam bentuk stadium sporozoit. Jenis
plasmodium yang umumnya menginfeksi manusia ada empat yaitu P. falciparum, P.

vivax, P. ovale, dan P. malariae. Infeksi malaria paling banyak disebabkan spesies P.
falciparum dan P. vivak. P. falciparum dapat menyebabkan penyakit demam tropikana
sedangkan P. vivak dapat menyebabkan demam tertian. Malaria merupakan penyakit
demam akut, dalam individu non-imun, gejala muncul 7 hari atau sampai 15 hari
setelah adanya gigitan nyamuk yang membawa parasit tersebut. Gejala yang
ditimbulkan dari penyakit ini adalah pembesaran limpa, anemia, dan berbagai
kumpulan gejala oleh karena pengaruhnya pada beberapa organ misalnya otak, hati
dan ginjal (Narayani, et al, 2014).
Menurut Iqbal, et al (2011), setiap tahun di Indonesia 230 juta orang secara
kolektif menderita setidaknya beberapa juta kasus malaria yang disebabkan oleh
keempat spesies Plasmodium manusia. Plasmodium falciparum tampaknya menjadi
spesies Plasmodium yang paling umum di Indonesia. Salah satu dokumen yang
dipublikasikan awal mengenai keberadaan P. falciparum di Indonesia adalah laporan
oleh Robert Koch pada tahun 1900 mengungkapkan kehadirannya di Ambarawa dan
Ungaran (Jawa Tengah) dan Tanjung Priok (Jakarta). Sejak itu, kehadiran parasit ini
telah tercatat 1.915 (81%) lokasi. Sebagian besar lokasi ini terletak di Papua (33%),
Sunda Kecil (29%) dan Sumatera (21%). Prevalensi median dari P. falciparum, 19002008, adalah 5% (mulai dari 0,03% menjadi 82%). Namun, prevalensi ini tidak
terdistribusi secara merata di seluruh kelompok pulau. Prevalensi lebih tinggi di
Kawasan Timur Indonesia (median: 6%, kisaran: 0,03-82%) daripada di seluruh
negara (median: 3%, kisaran: 0,1-72%). Setelah P. falciparum, P. vivax adalah yang
paling umum dari Plasmodium di Indonesia. Telah dilaporkan di 1786 lokasi (75%
dari semua survei). Dari jumlah tersebut, 32% berada di Papua, 29% di Nusa
Tenggara dan 23% di Sumatera. Prevalensi median dari P. vivax, antara tahun 1900
dan 2008, adalah 3% (rentang: 0,03-70%). Prevalensi ini tidak terdistribusi secara
merata di seluruh pulau. Prevalensi P. vivax di bagian timur Indonesia (median: 3%,
kisaran: 0,04-70%) lebih tinggi dari prevalensi di seluruh negara (median: 2,5%,
kisaran: 0,07-60%). Data dikumpulkan mengungkapkan bahwa infeksi P. falciparum
dan P. vivax sering terjadi bersama-sama (sympatrically) di Indonesia. Plasmodium
falciparum yang menginfeksi sel darah merah akan mensintesis beberapa protein

yang kaya histidin (HRPs) dan alanin, sedangkan pLDH adalah enzim glikolitik yang
dihasilkan oleh P. vivak dan jenis Plasmodium lainnya (Jessica Maltha, et al, 2014).
HRP2 adalah protein yang larut dalam air yang dihasilkan oleh trofozoit dan
gametosit muda (tapi tidak matang) dari P. Falciparum. Sedangkan pLDH diproduksi
oleh tahap aseksual dan seksual (gametosit) dari parasit malaria (Myat, et al, 2013).
HRP-2 dapat tinggal dalam darah selama 28 hari setelah memulai terapi antimalaria.
Hasil positif palsu dapat ditemukan pada pasien yang baru-baru ini dirawat karena
malaria. Sebaliknya, pLDH cepat dibersihkan dari darah setelah kematian parasit
(Katharine, et al,2014).
Untuk membantu menegakkan diagnosis pasien terhadap infeksi parasit malaria
dapat dilakukan dengan beberapa uji serologis.Adanya antigen malaria didalam tubuh
dapat dideteksi dengan menggunakan tes cepat secara imunokromatografi. Tes
diagnostk cepat (RDT) mendeteksi antigen parasit spesifik dalam setetes darah segar
melalui immunochromatography aliran lateral. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
saat ini terdaftar 96 tes kit komersial yang memenuhi standar ISO131485. RDT tidak
memerlukan laboratorium atau peralatan khusus, yang mudah digunakan dan dapat
memberikan hasil sebagai hasil positif atau negatif sederhana dan hasil dapat dilihat
dalam waktu 15 menit saja. Oleh karena itu, RDT secara umum cocok untuk daerah
terpencil dengan fasilitas terbatas dan staf yang relatif tidak terlatih. Namun RDT
memiliki keterbatasan yaitu perlu tetap kering dan jauh dari suhu ekstrem. RDT
mungkin gagal untuk mendeteksi malaria di mana keberadaan parasit sangat rendah
di dalam darah, misalnya pada anak anak muda yang memiliki sistem kekebalan
tubuh yang masih baik. Positif palsu mungkin terjadi karena adanya reaksi silang atau
gametocytaemia. Berbagai jenis RDT menggunakan berbagai jenis antibodi atau
kombinasi antibodi untuk mendeteksi antigen Plasmodium. Beberapa antibodi
bertujuan untuk mendeteksi spesies tertentu sementara yang lain seperti pan-malaria
yang bertujuan untuk mendeteksi semua jenis Plasmodium (Katharine, et al,2014).
Pemeriksaan mikroskopis Giemsa dengan sediaan tipis dan tebal merupakan
metode konvensional yang dianggap sebagai gold standard. Pemeriksaan
mikroskopis memberikan sensitivitas dan spesifisitas yang baik. Metode ini dapat
membedakan spesies parasit yang menginfeksi dan melihat tahap morfologi yang

penting dalam menilai tingkat keparahan penyakit. Infeksi dapat terlewatkan jika
slide tidak diperiksa dengan hati-hati, parasitemia sangat rendah mungkin terlewatkan
bahkan dengan kualitas mikroskop yang baik, batas deteksi mikroskopi tebal telah
diperkirakan sekitar empat sampai 20 parasit aseksual per uL, meski di bawah kondisi
lapangan ambang batas 50 sampai 100 parasit aseksual per uL lebih realistis.
Polymerase chain reaction (PCR), yang merupakan metode molekuler berdasarkan
amplifikasi DNA, adalah metode yang paling akurat untuk mendeteksi parasit dalam
darah. Dibandingkan dengan mikroskop, PCR kurang rentan terhadap kesalahan
pengamat dan lebih sensitif pada tingkat rendah parasitemia. Untuk PCR, batas
deteksi mungkin serendah 0.004 parasit aseksual per uL. PCR saat ini tidak tersedia
secara luas karena kendala logistik dan kebutuhan untuk teknisi terlatih khusus dan
laboratorium yang lengkap. Hal ini biasanya hanya digunakan untuk tujuan penelitian
(Katharine, et al,2014).
RDT dapat digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis sebelum memulai
pengobatan pada orang dengan gejala malaria, dimana faktor logistik dan biaya relatif
menunjukkan bahwa ini mungkin bermanfaat. Kegunaan RDT dalam peran ini akan
tergantung untuk sebagian besar pada akurasi mereka. Sensitivitas dan spesifisitas
ambang batas yang memutuskan apakah tes berguna dalam praktek akan tergantung
pada situasi berdasarkan wilayah geografis, dan nilai-nilai prediksi positif dan negatif
akan bervariasi dengan endemisitas (Katharine, et al,2014).
RDT terdiri dari strip nitroselulosa sebagian besar tertanam dalam kaset plastik.
Ketika darah dan buffer diteteskan, sel-sel darah merah yang segaris dan antigen
target mengikat antibodi tikus mendeteksi yang konjugasi emas koloid. Kompleks ini
bergerak lebih lanjut sepanjang strip nitroselulosa sampai mengikat antigen (oleh
motif lain) dengan menangkap antibodi tertanam sebagai garis melintang di strip
nitroselulosa. Akibatnya, emas koloid terkonsentrasi pada permukaan kecil dan
menjadi terlihat sebagai garis ungu-merah. Antibodi terkonjugasi non-bound bergerak
lebih lanjut sepanjang strip sampai mereka ditangkap oleh kambing antibodi antimouse, sehingga menghasilkan garis kontrol. Dua-band RDT terdiri dari garis kontrol
dan P. garis uji falciparum khusus yang menargetkan baik histidin kaya protein-2
(HRP-2) atau P. falciparum tertentu laktat dehidrogenase (Pf-pLDH). Tiga-band

display RDT tiga baris yaitu baris kontrol, garis P. falciparum-spesifik (deteksi HRP2 atau Pf-pLDH) baris ketiga mendeteksi P. vivax (oleh P. vivax- pLDH spesifik, PvpLDH ) atau antigen umum untuk semua empat spesies, baik aldolase atau pLDH
pan-Plasmodium-spesifik (pan-pLDH) (Marloes, et al. 2014).
Tujuan dari pemeriksaan secara imunokromatografi ini adalah untuk deteksi dan
membedakan secara kualitatif adanya antibodi spesifik terhadap P. falciparum (Pf.
HRP-2) dan P. vivax (pLDH). Kaset tes yang digunakan saat praktikum adalah
malaria (p.f/p.v) tri-line test dengan merck Mono. Kaset ini memiliki 3 garis penanda
yaitu garis C untuk control, garis T1 untuk mendeteksi antigen Pf.HRP-II yang
dimiliki oleh Plasmodium falcifarum dan garis T2 untuk mendeteksi antigen pLDH
yang dimiliki oleh Plasmodium vivax. Apabila dalam sampel pasien terdapat antigen
Pf.HRP-II maka kaset tersebut akan memunculkan dua buah garis warna pada C
dan T1, sedangkan apabila dalam sampel pasien terdapat antigen pLDH maka kaset
tes akan memunculkan dua buah garis warna yaitu pada C dan T2. Jika dalam
sampel pasien tidak mengandung antigen Pf.HRP-II maupunp LDH maka kaset tes
akan memunculkan satu garis warna pada C line saja.
Fungsi dari control line adalah untuk mengontrol prosedur pemeriksaan dan
keadaan dari kaset itu sendiri dan control line harus selalu muncul ketika melakukan
pemeriksaan. Apabila saat melakukan pemeriksaan tidak muncul garais berwarna
pada control line maka pemeriksaan tersebut dianggap gagal atau invalid. Garis
berwarna hitam pada tes akan terlihat sangat jelas jika kadar antigen mencukupi dan
tidak akan terlihat jelas apabila kadar antigen dalam sampel darah sangat rendah.
Kaset tes ini juga dilengkapi dengan diluents, fungsi dari diluents adalah untuk
membantu mengencerkan dan mempercepat proses aliran sampel dalam membrane
tes.
Kaset tes ini harus disimpan pada suhu 2 8oC dan tidak boleh dibekukan. Tes
device ini sangat sensitive terhadap panas dan kelembaban, oleh karena itu setelah tes
device ini dikeluarkan dari pembungkusnya maka harus segera digunakan dan
perhatikan juga batas kadaluarsa dari tes device. Penggunaan tes device yang
kadaluarsa akan mempengaruhi hasil pemeriksaan dan dapat memberikan interpretasi
yang salah (Insertkit,_).

Spesimen yang digunakan untuk pemeriksaan dapat berupa whole blood karena
yang dideteksi oleh test ini adalah antigen bukan antibodi. Antigen berada pada
permukaan eritrosit sedangkan antibodi berada pada serum atau plasma. Jika sampel
tidak segera dikerjakan maka harus disimpan dalam lemari pendingin dan dapat
ditambahkan dengan sodium azide 0,1% sebagai pengawet sampel. Tetapi sebaiknya
untuk pemeriksaan malaria ini menggunakan sampel yang masih segar untuk
mendapatkan hasil yang lebih akurat (Inserkit,_).
Pemeriksaan antigen malaria dilakukan dengan cara meyiapkan alat dan bahan
terlebih dahulu dan meletakkannya pada suhu ruang (15 30oC), langkah selanjutnya
adalah melakukan pengambilan darah kapiler yang ditampung dalam pipet
mikrokapiler. Pemeriksaan malaria juga dapat menggunakan darah dengan
antikoagulan EDTA apabila dibarengi dengan pemeriksaan darah lengkap dan
hapusan darah tipis dan tebal. Kemudian kaset tes dibuka dari pembungkusnya dan
diletakkan pada tempat yang datar dan kering. Kemudian teteskan sebanyak 1 tetes
darah (10 mikron darah) pada lubang yang bertanda S untuk sampel dan tambahkan
3 tetes diluents pada lubang yang bertanda D. Tes tersebut akan bekerja apabila
telah terlihat aliran berwarna yang bergerak sepanjang membrane. Pada saat
penetesan gunakan pipet sekali pakai untuk menghindari reaksi kontaminasi silang
(Insertkit,_).
Langkah terakhir adalah menginterpretasikan hasil pemeriksaan pada menit ke15. Dilarang menginterpretasikan hasil lebih dari 30 menit untuk menghindari
terjadinya kesalahan dalam pembacaan hasil (Insertkit,_). Berdasarkan praktikum
yang telah dilakukan, hasil uji antigen malaria rapid test pada sampel atas nama Made
Wulan Kesumasari menunjukkan hasil negatif yang ditandai dengan terbentuknya
satu garis warna hitam pada C line saja. Hal tersebut menandakan bahwa di dalam
darah pasien tidak terdapat antigen terhadap parasit Plasmodium falciparum dan
Plasmodium vivax.
X. SIMPULAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan antigen malaria rapid tes pada whole blood
probandus atas nama Made Wulan Kesumasari yang berasal dari Poltekkes Denpasar

didapatkan hasil negatif yang berarti bahwa dalam darah probandus tidak terdapat
antigen malaria baik itu P. falciparum dan P. vivax.

DAFTAR PUSTAKA
Iqbal R.F. Elyazar, et al. 2011. Malaria Distribution, Prevalence, Drug Resistance
and Control in Indonesia. [on;ine]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3075886/. [diakses :
08 Oktober 2016, 13.33 wita]
Insertkit._. Malaria (p.f/p.v) Tri-line Test. MonoTM
Jessica Maltha, et al. 2014. Accuracy of PfHRP2 versus Pf-pLDH antigen detection
by malaria rapid diagnostic tests in hospitalized children in a
seasonal hyperendemic malaria transmission area in Burkina Faso.
[online]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3896846/. [diakses :
08 Oktober 2016, 19.56 wita]
Katharine Abba, et al. 2014. Rapid diagnostic tests for diagnosing uncomplicated
non-falciparum or Plasmodium vivax malaria in endemic countries.
[online]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4453861/. [diakses :
08 Oktober 2016, 17.08 wita]
Marloes Heutmakers, et al. 2014. Evaluation of the rapid diagnostic test CareStart
pLDH Malaria (Pf-pLDH/pan-pLDH) for the diagnosis of malaria in
a reference setting. [online]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3464813/. [Diakses :
08 Oktober 2016, 14.23 wita]
Myat H. Nyunt, et al. 2013. Field evaluation of HRP2 and pan pLDH-based
immunochromatographic assay in therapeutic monitoring of

uncomplicated falciparum malaria in Myanmar. [online]. Tersedia :


https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3636062/. [diakses :
08 Oktober 2016, 14.28 wita]
Narayani Prasad, et al. 2014. A review of malaria transmission dynamics in forest
ecosystems. [online]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4057614/. [diakses :
08 Oktober 2016, 09.47 wita]
Peter D. Crompton, et al. 2014. Malaria immunity in man and mosquito: insights into
unsolved mysteries of a deadly infectious disease. [online]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4075043/. [diakses :
08 Oktober 2016, 11.00 wita]