Anda di halaman 1dari 46

TUGAS BESAR HIDROLOGI

PERENCANAAN SALURAN DRAINASE


PERUMAHAN TAMAN PERMAI BLOK A-H-K-J
KOTA MALANG

disusun sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah Hidrologi


yang diampu oleh Bu Ratih Indri Hapsari, ST., MT., Ph.D dan Pak Agus
Suhardono, ST., MT.

disusun oleh :
2BS-2 - Kelompok 11-12
Ranugrah Pamula P (1231310076)
Resty Rika P (1231310050)

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK SIPIL


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2014
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS BESAR

Telah diperiksa dan disetujui Laporan Tugas Besar hidrologi dengan Judul :
“Perencanaan Saluran Drainase Perumahan Taman Permai Blok A-H-K-J
Kota Malang”

Oleh :
Kelompok 11-12

Penyusun : 1. Ranugrah Pamula Priyoga (1231310076)


2. Resty Rika Primeswari (1231310050)
Kelas : 2 BS-2

Malang, Juli 2014


Menyetujui,

Dosen Pengajar I, Dosen Pengajar II,

Ratih Indri Hapsari, ST., MT., Ph.D. Agus Suhardono, ST., MT.
NIP. 197703062002122001 NIP. 196606081992031002

Page | i
Kata Pengantar

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kita panjatkan puja dan puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang yang telah melimpahkan rahmat dan memberikan kesehatan dan kesemptannya
kepada kita semua, terutama kepada penulis, sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan
laporan ini. Penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua, terutama
bagi penulis sendiri.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam penyusunan tugas besar ini, diantaranya :
1. Ibu Ratih Indri Hapsari. Selaku dosen mata kuliah Hidrologi.
2. Bapak Agus Suhardono. Selaku dosen mata kuliah Hidrologi dan dosen asistensi.
3. Teman – teman 2BS 2.
4. Beserta pihak-pihak yang secara tidak langsung membantu saya dalam penyelesaian
tugas ini.
Dalam laporan ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan baik berupa kata-
kata di dalam penulisannya ataupun isi yang penulis sajikan masih belum lengkap. Karena dalam
menyelesaikan laporan ini bukan semata-mata hanya dari do’a, tetapi juga kerjasama dari tim
penulis berupa curahan pemikiran, dan kerja sama.

Demikianlah pengantar dari kami dan apabila dalam penyusunan laporan ini terdapat
kesalahan perhitungan ataupun penulisan baik yang disengaja ataupun tidak saya selaku penulis
mohon maaf yang sebesar – besarnya. Sekian. Dan terima kasih.

Malang, 01 Juli 2014

Penyusun

Page | ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ................................................ i


KATA PENGANTAR ........................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................... 2
1.3 Batasan Masalah ........................................................... 2
1.4 Tujuan Penelitian ........................................................... 2
1.5 Manfaat Penelitian ......................................................... 2
1.6 Lokasi Studi .................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Drainase ........................................................ 4
2.2 Hierarki Drainase ............................................................ 4
2.3 Fungsi Drainase .............................................................. 6
2.4 Klasifikasi Drainase ........................................................ 6
2.5 Bentuk Saluran Drainase................................................. 8
2.6 Teknik Perhitungan Kebutuhan Drainase ....................... 10

BAB III PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN


3.1 Analisa Hidrologi ........................................................... 14
3.2 Analisa Debit .................................................................. 29
3.3 Analisa Dimensi Saluran ................................................ 31

BAB IV KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA ......................................................... 35

Page | iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada era globalisasi ini seiring dengan berkembangnya jumlah dan kegiatan
penduduk mengakibatkan semakin meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur yang
memadai sehingga dapat mendukung segala aktivitas mereka. Salah satu infrastruktur
yang dibutuhkan adalah saluran drainase. Saluran drainase mempunyai peran dalam
mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air dari proses alami (air hujan,
aliran dari sumber mata air dan proses dari kegiatan manusia). Apabila saluran drainase
dalam kondisi yang tidak baik maka aliran air yang mengalir akan tidak lancar.
Sehingga dapat terjadi genangan, sedangkan genangan yang dibiarkan akan
menimbulkan banjir. Secara umum drainase didefinisikan sebagai suatu tindakan teknis
untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari hujan, rembesan, maupun
kelebihan air irigasi dari suatu lahan tidak terganggu (Suripin, 2004:7).
Pertambahan penduduk di suatu perkotaan mengakibatkan meluasnya kawasan
permukiman dan sarana-sarana lainnya guna memenuhi kebutuhan dari penduduk. Oleh
karena hal tersebut, prasarana drainase sangat penting terutama di wilayah perkotaan
dengan memperhatikan lahan dan sistem drainase tersebut. Selain drainase berperan
sebagai saluran untuk mengalirkan air, juga berperan sebagai fasilitas pendukung dalam
menciptakan pola hidup bersih masyarakat sehari-hari. Untuk itu, dalam merencanakan
sistem drainase perlu adanya perencanaan yang baik agar dapat menjauhkan
masyarakat dari permasalahan terutama masalah banjir dan dapat meningkatkan pola
hidup yang sehat.
Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana
lingkungan (UU No.2 tahun 1992). Perumahan Taman Permai Kota Malang adalah
perumahan sebagai salah satu pertumbuhan fisik dalam suatu wilayah yang merupakan
kebutuhan dasar manusia yang dapat berfungsi sebagai saran produksi keluarga,
merupakan titik strategis dalam pembangunan manusia seutuhnya. Oleh karena itu,
perencanaan sistem drainase dalam Perumahan daerah studi perlu mendapat perhatian
yang penting guna terhindar dari bencana banjir atau genangan air hujan, serta
mendukung kehidupan manusia yang hidup bermukim di perumahan tersebut dengan

Page | 1
nyaman, sehat dan dapat berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam kehidupan
sehari-hari.
Pada umumnya konsep sistem drainase yang digunakan di daerah perkotaan adalah
sistem drainase konvensional yang mengarah pada pembuangan air limpasan hujan
secepat-cepatnya menuju main drain. Namun, dalam pembuangan air limpasan juga
perlu diperhatikan dengan kesesuaian keadaan lapangan yang ada. Berbagai hal tersebut
hal tersebut menjadi latar belakang untuk pembahasan pada laporan ini.

1.2 Rumusan Masalah


Masalah yang dapat dirumuskan dari latar belakang masalah di atas adalah
1. Bagaimana menentukan kondisi curah hujan rancangan?
2. Bagaimana menentukan waktu konsentrasi dan debit banjir rancangan?
3. Bagaimana merencanakan dimensi saluran tepi yang diperlukan sesuai dengan
kondisi kontur yang ada?

1.3 Batasan Masalah


Dalam penelitian ini agar masalah tidak melebar dan menjauh maka antar batasan
wilayah yaitu sebagai berikut:
a. Studi kasus dilakukan di Perumahan Taman Permai Kota Malang.
b. Saluran drainase yang dipantau sesuai dengan site plan dari Perumahan Taman
Permai Kota Malang.
c. Saluran drainase daerah studi berupa saluran terbuka.

1.4 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah :
Perencanaan sistem drainase Perumahan Taman Permai Blok A-H-K-J Kota Malang.

1.5 Manfaat Penelitian


Manfaat yang diharapkan muncul dari penelitian ini adalah :
a. Manfaat Teoritis.
Mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang teknik sipil sesuai dengan teori yang
didapat di bangku perkuliahan.

Page | 2
b. Manfaat Praktis.
Memberikan tambahan informasi pada warga Perumahan dalam sistem jaringan
drainase untuk perencanaan lebih lanjut.

1.6 Lokasi Studi

Gambar 1.1 Peta Perumahan

Page | 3
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Drainase


Drainase yang berasal dari bahasa Inggris yaitu drainage mempunyai arti mengalirkan,
menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum, drainase dapat didefinisikan sebagai
suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari air hujan,
rembesan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu kawasan atau lahan, sehingga fungsi kawasan
atau lahan tidak terganggu (Suripin, 2004).
Selain itu, drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah.
Jadi, drainase menyangkut tidak hanya air permukaan tapi juga air tanah.
Sesuai dengan prinsip sebagai jalur pembuangan maka pada waktu hujan, air yang mengalir di
permukaan diusahakan secepatnya dibuang agar tidak menimbulkan genangan yang dapat
mengganggu aktivitas dan bahkan dapat menimbulkan kerugian (R. J. Kodoatie, 2005).
Adapun fungsi drainase menurut R. J. Kodoatie adalah:
- Membebaskan suatu wilayah (terutama yang padat dari permukiman) dari genangan air, erosi,
dan banjir.
- Karena aliran lancar maka drainase juga berfungsi memperkecil resiko kesehatan lingkungan
bebas dari malaria (nyamuk) dan penyakit lainnya.
- Kegunaan tanah permukiman padat akan menjadi lebih baik karena terhindar dari
kelembaban.
- Dengan sistem yang baik tata guna lahan dapat dioptimalkan dan juga memperkecil
kerusakan-kerusakan struktur tanah untuk jalan dan bangunan lainnya.
Sistem drainase secara umum dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang
berfungsi untuk mengurangi dan atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan,
sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. (Suripin,2004).
Bangunan dari sistem drainase pada umumnya terdiri dari saluran penerima (interceptor
drain), saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran induk
(main drain), dan badan air penerima (receiving waters).

2.2 Hierarki Drainase


Berdasarkan dari segi fisik (hierarki susunan saluran), sistem drainase perkotaan dibagi
menjadi tiga saluran, yaitu :
1. Saluran Primer (Main Drain)

Page | 4
Saluran primer adalah saluran utama yang menerima aliran dari saluran sekunder.
Saluran primer relatif besar sebab letak saluran berada paling hilir.

Gambar 2.1 Saluran primer (main drain).


Sumber: Kambuaya, 2012

2. Saluran Sekunder (Conveyor)


Saluran sekunder adalah saluran terbuka atau tertutup yang menghubungkan saluran
tersier dengan saluran primer (dibangun dengan beton atau plesteran semen).

Gambar 2.2 Saluran sekunder (conveyor).


Sumber: Syaiful

3. Saluran Tersier (Collector)


Saluran tersier adalah saluran drainase untuk mengalirkan limbah rumah tangga ke
saluran sekunder, berupa plesteran, pipa dan tanah. Pada umumnya saluran tersier
merupakan saluran kiri dan atau kanan jalan perumahan.

Page | 5
Gambar 2.3 Saluran tersier (collector).
Sumber: www.poskotanews.com

2.3 Fungsi Drainase


Menurut Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan (2003), Drainase memiliki
fungsi, antara lain :
1. Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehingga tidak menimbulkan dampak
negatif.
2. Mengalirkan air permukaan kebadan air penerima terdekat secepatnya.
3. Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air
dan kehidupan akuatik.
4. Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah (konservasi air).

2.4 Klasifikasi Drainase


Menurut Sutikno et al. (2011), saluran untuk pembuangan air dapat diklasifikasikan
menjadi:
A. Saluran Air Tertutup
Saluran air tertutup terdiri dari:
1. Drainase bawah tanah tertutup, dimana drainase tersebut menerima air limpasan dari
daerah yang diperkeras maupan tidak diperkeras dan membawa air tersebut ke
sebuah pipa keluar dari sisi tapak (sambungan permukaan atau sungai), ke sistem
drainase kota. Keuntungan dari drainase bawah tanah tertutup, yaitu dapat
menampung volume dan kecepatan limpasan yang meningkat sehingga tidak
menyebabkan erosi dan kerusakan pada tapak.
2. Drainase bawah tanah tertutup dengan tempat penampungan pada tapak, di mana
drainase ini memiliki keuntungan seperti di atas, tetapi kerusakan di luar tapak lebih
dapat dihindari.

Page | 6
B. Saluran Air Terbuka
Saluran air terbuka merupakan saluran yang mengalirkan air dengan suatu permukaan
tak tertutup. Pada saluran terbuka jika ada sampah yang menyumbat dapat dengan mudah
untuk dibersihkan, namun bau yang ditimbulkan dapat mengganggu kenyamanan.
C. Saluran Alam
Saluran alam (natural) meliputi selokan kecil, kali sungai kecil, dan sungai besar sampai
saluran terbuka alamiah.
D. Saluran Terbuka Buatan
Saluran terbuka (artificial) seperti saluran pelayanan, irigasi, parit pembuangan, dan
lain-lain. Saluran terbuka buatan mempunyai istilah yang berbeda-beda antara lain:
1. Saluran (canal) biasanya panjang dan merupakan selokan landai yang dibuat di tanah,
dapat dilapisi pasangan batu, bukan beton, semen, kayu maupun aspal.
2. Talang (flume), merupakan selokan dari kayu, logam, beton atau pasangan batu,
biasanya disangga atau terletak di atas permukaan tanah, untuk mengalirkan air
berdasarkan perbedaan tinggi tekanan.
3. Got miring (chute), merupakan selokan curam.
4. Terjunan (drop), seperti got miring dimana perubahan tinggi air terjadi dalam jangka
pendek.
5. Gorong-gorong (culvert), selokan tertutup yang pendek dipakai untuk mengalirkan air
melalui tanggul jalan raya.
6. Terowongan air terbuka (open-flow tunel), selokan tertutup yang sangat panjang,
dipakai untuk mengalirkan air menembus bulit atau gundukan tanah.
E. Saluran Air Kombinasi
Saluran air kombinasi merupakan saluaran dimana lapisan air terbuka dikumpulkan
pada saluran drainase permukaan, sementara limpasan dari daerah yang diperkeras
dikumpulkan pada saluran drainase tertutup.

Page | 7
2.5 Bentuk Saluran Drainase
1. Trapesium
Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan dengan debit yang
besar. Sifat alirannya terus menerus dengan fluktuasi kecil. Bentuk saluran ini dapat
digunakan pada daerah yang masih tersedia cukup lahan.

Gambar 2.4 Bentuk saluran drainase trapesium.


Sumber: Sutikno et al, 2011

2. Kombinasi Trapesium dan Segi Empat


Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan dengan debit yang
besar dan kecil. Sifat alirannya berfluktuasi besar dan terus menerus tapi debit
minimumnya masih cukup besar.

Gambar 2.5 Bentuk saluran drainase kombinasi trapesium dan segi empat.
Sumber: Sutikno et al, 2011

3. Kombinasi Trapesium dan Setengah Lingkaran


Fungsinya sama dengan bentuk (2), sifat alirannya terus menerus dan berfluktuasi besar
dengan debit minimum kecil. Fungsi bentuk setengah lingkaran ini adalah untuk
menampung dan mengalirkan debit minimum tersebut.

Gambar 2.6 Bentuk saluran drainase kombinasi trapesium dan setengah lingkaran.
Sumber: Sutikno et al, 2011

Page | 8
4. Segi Empat
Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan dengan debit yang
besar. Sifat alirannya terus menerus dengan fluktuasi kecil.

Gambar 2.7 Bentuk saluran drainase segi empat.


Sumber: Sutikno et al, 2011

5. Kombinasi Segi Empat dan Setengah Lingkaran


Bentuk saluran segi empat ini digunakan pada lokasi yang mempunyai lahan terbatas.

Gambar 2.8 Bentuk saluran drainase kombinasi segi empat dan setengah lingkaran.
Sumber: Sutikno et al, 2011

6. Setengah Lingkaran
Berfungsi untuk menyalurkan limbah air hujan untuk debit yang kecil. Bentuk saluran
ini umum digunakan untuk saluran-saluran rumah penduduk dan pada sisi jalan padat
bangunan.

Gambar 2.9 Bentuk saluran drainase setengah lingkaran.


Sumber: Sutikno et al, 2011

Page | 9
2.6 Teknik Perhitungan Kebutuhan Drainase
1. Dimensi Saluran Drainase
a. Bentuk Saluran Segi Empat

A=bxy P = b x 2y

Keterangan :
A = Luas (m2)
P = Panjang (m)
b = Lebar (m)
y = Kedalaman saluran tergenang air (m)
b. Bentuk Saluran Lingkaran

Keterangan :
A = Luas (m2)
P = Panjang (m)
d = Tinggi saluran (m)
c. Bentuk Saluran Trapesium

A = (b + z y) y

Keterangan :
A = Luas (m2)
P = Panjang (m)
b = Lebar (m)
y = Kedalaman saluran tergenang air (m)
z = Kemiringan saluran
2. Debit Air Limpasan (Qlimpasan)
Debit air limpasan adalah volume air hujan per satuan waktu yang tidak mengalami
infiltrasi sehingga harus dialirkan melalui saluran drainase.

Qlimpasan = C . I . A

Page | 10
Keterangan :
Q = Debit aliran air limpasan (m3/detik)
C = Koefisien run off (berdasarkan standar baku)
I = Intensitas hujan (mm/jam)
A = Luas daerah pengaliran

a. Intensitas Hujan (I)


Curah hujan jangka pendek dinyatakan dalam intensitas per jam yang disebut
dengan intensitas curah hujan. Hujan dalam intensitas yang besar umumnya terjadi
dalam waktu pendek yang disebabkan oleh lamanya curah hujan dan frekuensi
kejadiannya. Intensitas curah hujan rata-rata digunakan sebagai parameter debit
banjir dengan menggunakan cara Rasional dan Storage Function. Berikut beberapa
macam rumus perhitungan curah hujan:
1) Menghitung Intensitas Hujan
Menurut Haryono (1999) selama waktu konsentrasi (I) dihitung dengan
menggunakan rumus Mononobe, yang merupakan dasar menentukan dalam
menentukan harga intensitas hujan, yaitu :

Keterangan
I = Intensitas curah hujan dalam mm/jam
R24 = Curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm)
Tc = Lamanya curah hujan (menit)
2) Metode Log Pearson Tipe III
a) Mengubah data curah hujan maksimum ke bentuk logaritma

x = log x

b) Menghitung harga rata-rata log X

Page | 11
Menghitung selisih antara logX dengan log Xrata-rata, mengkuadratkan selisih
antara logX dengan log Xrata-rata dan selisih antara logX dengan log Xrata-
rata dipangkatkan tiga.
1) Standart Deviasi

2) Koefisien Kemencengan

Setelah menghitung parameter statistiknya, kemudian menghitung hujan


rancangan dengan menggunakan metode Log-Person Tipe III, kemudian
menentukan tahun interval kejadian / kala ulang (Tr).
 Menghitung Prosentase Peluang Terlampaui

 Menentukan variabel standar (K) berdasarkan prosentase peluang dan


koefisien kemencengan (Cs) pada tabel distribusi Log-Person Tipe III.
c) Menghitung Hujan Rancangan (R)

Hasilnya di-antilog-kan. Setelah mengetahui hujan rancangan, selanjutnya


menghitung intensitas hujan pada tiap-tiap saluran di masing-masing
Catchment Area
d) Menghitung Waktu Curah Hujan

Keterangan:
L = Panjang saluran
s = Kemiringan saluran
Page | 12
3) Debit Air Maksimum Saluran (Qsaluran)

Qsaluran = 1/n, R2/3, S1/2

Untuk menghitung debit air maksimum saluran perlu diketahui terlebih dahulu
besar luas penampang basah saluran (Abasah) dan kecepatan aliran air (V).

4) Debit Air Maksimum (Qtotal)

Qtotal = Qlimpasan + Qrumah tangga


Keterangan :
Qtotal = Debit air maksimum
Qlimpasan = Debit air hujan yang harus dialirkan
Qrumah tangga = Debit air buangan rumah tangga

Page | 13
BAB III
PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Analisa Hidrologi


3.1.1 Data Curah Hujan

No Tahun Sta.Kedung Sta.Sambi Sta.Rejo


1 2011 97 73 83
2 2010 66 72 66
3 2009 71 99 92
4 2008 104 65 82
5 2007 79 63 90
6 2006 98 67 84
7 2005 80 64 100
8 2004 87 85 87
9 2003 71 95 94
10 2001 90 97 81

3.1.2 Uji Konsistensi Data Curah Hujan

 Uji Konsistensi Sta. Kedung terhadap Sta. Sambi dan Sta. Rejo
Kumulatif Rata2 Kumulatif Rata-
No Tahun S.Kedung S.Sambi S.Rejo x (mm)
S.Kedung Sambi&Rejo rata

1 2011 97 97 73 83 78 78 84,333
2 2010 66 163 72 66 69 147 68,000
3 2009 71 234 99 92 95,5 242,5 87,333
4 2008 104 338 65 82 73,5 316 83,667
5 2007 79 417 63 90 76,5 392,5 77,333
6 2006 98 515 67 84 75,5 468 83,000
7 2005 80 595 64 100 82 550 81,333
8 2004 87 682 85 87 86 636 86,333
9 2003 71 753 95 94 94,5 730,5 86,667
10 2001 90 843 97 81 89 819,5 89,333

Page | 14
Uji Konsistensi Data Sta. Kedung terhadap Sta. Sambi dan Sta. Rejo
1000
900 y = 1,0316x + 11,867
800 R² = 0,9966

700
600 Uji Konsistensi Sta.Kedung
500
400 Linear (Uji Konsistensi
Sta.Kedung)
300
200
100
0
0 200 400 600 800 1000

Perhitungan Kemiringan Garis

Kumulatif Kumulatif
Tahun x.y x.x
Kedung (y) Rata-rata (x)

2011 97 78 7566 6084


2010 163 147 23961 21609
2009 234 242,5 56745 58806,25
∑ 494 467,5 88272 86499,25
2009 234 242,5 56745 58806,25
2008 338 316 106808 99856
2007 417 392,5 163672,5 154056,25
2006 515 468 241020 219024
2005 595 550 327250 302500
2004 682 636 433752 404496
2003 753 730,5 550066,5 533630,25
2001 843 819,5 690838,5 671580,25
∑ 4377 4155 2570152,5 2443949

m1 m2 F
0,82730237 1,038126971 0,79691829
1,031582496

Page | 15
Tabel Hasil Koreksi

Kumulatif Kumulatif
Hasil
No Tahun S.Kedung S.Kedung Rata-rata
Koreksi
(y) (x)
1 2011 97 97 97 78
2 2010 66 66 163 147
3 2009 71 71 234 242,5
4 2008 104 107,285 341,285 316
5 2007 79 81,495 422,780 392,5
6 2006 98 101,095 523,875 468
7 2005 80 82,527 606,401 550
8 2004 87 89,748 696,149 636
9 2003 71 73,242 769,391 730,5
10 2001 90 92,842 862,234 819,5

Koreksi Uji Konsistensi Data Sta. Kedung terhadap Sta. Sambi


dan Sta. Rejo
900
800 y = 1,0602x + 7,2582
700 R² = 0,9965
600
Uji Konsistensi
500
Sta.Kedung
400
Linear (Uji Konsistensi
300
Sta.Kedung)
200
100
0
0 200 400 600 800 1000

 Uji Konsistensi Sta. Sambi terhadap Sta. Kedung dan Sta. Rejo

Kumulatif Rata2 Kumulatif Rata-


No Tahun S.Sambi S.Kedung S.Rejo x (mm)
S.Sambi Kedung&Rejo rata

1 2011 73 73 97 83 90 90 84,333
2 2010 72 145 66 66 66 156 68,000
3 2009 99 244 71 92 81,5 237,5 87,333
4 2008 65 309 107,285 82 94,642 332,142 83,667
5 2007 63 372 81,495 90 85,748 417,890 77,333
6 2006 67 439 101,095 84 92,548 510,437 83,000
7 2005 64 503 82,527 100 91,263 601,701 81,333
8 2004 85 588 89,748 87 88,374 690,074 86,333
9 2003 95 683 73,242 94 83,621 773,696 86,667
10 2001 97 780 92,842 81 86,921 860,617 89,333

Page | 16
Uji Konsistensi Data Sta. Sambi terhadap Sta. Kedung dan Sta.
Rejo
900
800 y = 0,8653x + 9,5127
700 R² = 0,9935
600
Uji Konsistensi
500
Sta.Sambi
400
Linear (Uji Konsistensi
300 Sta.Sambi)
200
100
0
0 200 400 600 800 1000

Perhitungan Kemiringan Garis

Kumulatif Kumulatif
Tahun x.y x.x
Sambi (y) Rata-rata (x)

2011 73 90 6570 8100


2010 145 156 22620 24336
2009 244 237,5 57950 56406,25
∑ 462 483,5 87140 88842,25
2009 244 237,5 57950 56406,2
2008 309 332,14 102631,9 110318,5
2007 372 417,88 155455,0 174631,8
2006 439 510,43 224081,9 260546,2
2005 503 601,70 302655,4 362043,6
2004 588 690,07 405763,7 476202,7
2003 683 773,69 528434,1 598604,9
2001 780 860,61 671281,1 740661,3
∑ 3918 4424,05 2448253,4 2779415,7

m1 m2 F
1,161458731 0,84586341 1,373104354
0,865272757

Page | 17
Tabel Hasil Koreksi

Kumulatif
Hasil Kumulatif
No Tahun S.Sambi Rata-rata
Koreksi Sambi (y)
(x)
1 2011 73 73 73 90
2 2010 72 72 145 156
3 2009 99 99 244 237,5
4 2008 65 56,243 300,243 332,142
5 2007 63 54,512 354,755 417,890
6 2006 67 57,973 412,728 510,437
7 2005 64 55,377 468,106 601,701
8 2004 85 73,548 541,654 690,074
9 2003 95 82,201 623,855 773,696
10 2001 97 83,931 707,786 860,617

Koreksi Uji Konsistensi Data Sta. Sambi terhadap Sta. Kedung


dan Sta. Rejo
800
700 y = 0,769x + 27,967
R² = 0,9915
600
500 Uji Konsistensi
400 Sta.Sambi
300 Linear (Uji Konsistensi
200 Sta.Sambi)

100
0
0 200 400 600 800 1000

 Uji Konsistensi Sta. Rejo terhadap Sta. Kedung dan Sta. Sambi
Rata2
Kumulatif Kumulatif Rata-
No Tahun S.Rejo S.Kedung S.Sambi Kedung&Samb x (mm)
S.Rejo rata
i
1 2011 83 83 97 73 85 85 84,333
2 2010 66 149 66 72 69 154 68,000
3 2009 92 241 71 99 85 239 87,333
4 2008 82 323 107,285 56,243 81,764 320,764 83,667
5 2007 90 413 81,495 54,512 68,004 388,767 77,333
6 2006 84 497 101,095 57,973 79,534 468,301 83,000
7 2005 100 597 82,527 55,377 68,952 537,253 81,333
8 2004 87 684 89,748 73,548 81,648 618,901 86,333
9 2003 94 778 73,242 82,201 77,722 696,623 86,667
10 2001 81 859 92,842 83,931 88,387 785,010 89,333

Page | 18
Uji Konsistensi Data Sta. Rejo terhadap Sta. Kedung dan Sta. Sambi
1000
900
800
700
600
500
Uji Konsistensi Sta.Rejo
400
300
200
100
0
0 200 400 600 800 1000

Perhitungan Kemiringan Garis

Kumulatif Kumulatif
Tahun x.y x.x
Rejo (y) Rata-rata (x)

2011 83 85 7055 7225


2010 149 154 22946 23716
2009 241 239 57599 57121
2008 323 320,76 103606,66 102889,3
∑ 796 798,76 191206,6 190951,3
2008 323 320,76 103606,6 102889,3
2007 413 388,76 160560,8 151139,9
2006 497 468,30 232745,8 219306,2
2005 597 537,25 320740,3 288641,2
2004 684 618,90 423328,5 383038,9
2003 778 696,62 541972,7 485283,6
2001 859 785,00 674323,5 616240,6
∑ 4151 3815,62 2457278,4 2246540,0

m1 m2 F
1,025670306 1,167538045 0,878489837
1,139332229

Page | 19
Tabel Hasil Koreksi

Hasil Kumulatif Kumulatif


No Tahun S.Rejo
Koreksi Rejo (y) Rata-rata (x)

1 2011 83 83 83 85
2 2010 66 66 149 154
3 2009 92 92 241 239
4 2008 82 82 323 320,7636544
5 2007 90 102,540 425,540 388,7672549
6 2006 84 95,704 521,244 468,3014345
7 2005 100 113,933 635,177 537,2534626
8 2004 87 99,122 734,299 618,9013934
9 2003 94 107,097 841,396 696,623028
10 2001 81 92,286 933,682 785,009969

Koreksi Uji Konsistensi Data Sta. Rejo terhadap Sta. Kedung dan
Sta. Sambi
1000

800

600

Uji Konsistensi Sta.Rejo


400

200

0
0 200 400 600 800 1000

Landasan Teori
Pengujian Konsistensi ini digunakan untuk menguji ketidakpanggahan antar data
pada stasiun itu sendiri. Perubahan atau pemindahan lokasi stasiun hujan, gangguan
lingkungan, ketidaksesuaian prosedur pengukuran seringkali menjadikan adanya
perubahan relatif terhadap nilai data hujan yang tercatat.
Prosedur yang digunakan oleh “U.S.Environmental Data Service” untuk melakukan
uji konsistensi data ini adalah menggunakan analisa kurva massa ganda sebagai berikut :
1. Menghitung hujan tahunan untuk masing–masing stasiun.
2. Menghitung rata-rata hujan tahunan untuk stasiun pembanding.
3. Menghitung komulatif hujan tahunan untuk stasiun yang akan diuji.
4. Menghitung komulatif hujan tahunan untuk stasiun pembanding.

Page | 20
5. Melakukan penggambaran dalam bentuk diagram pencar (scatter diagram) antara
stasiun yang akan diuji dan stasiun pembanding, Stasiun yang akan diuji pada sumbu Y
dan stasiun pembanding pada sumbu X.
6. Melakukan analisa terhadap konsistensi data hujan dengan cara membuat garis lurus
pada diagram pencar dan melakukan analisa menentukan apakah ada perubaan slope
atau tidak pada garis lurus yang dibuat pada diagram pencar, jika terjadi
perubaan slope , maka pada titik setelah mengalami perubaan perlu adanya koreksi
terhadap pencatatan data hujan dengan cara mengalikan dengan koefisien (K) yang
dihitung berdasarkan perbandingan slope setelah mengalami perubahan (S2) dan Slope
sebelum mengalami perubahan (S1) atau K = S2/S1.

Perbandingan Data Curah Hujan Daerah sebelum dan setelah dikoreksi


sebelum dikoreksi

No Tahun Sta.Kedung Sta.Sambi Sta.Rejo


1 2011 97 73 83
2 2010 66 72 66
3 2009 71 99 92
4 2008 104 65 82
5 2007 79 63 90
6 2006 98 67 84
7 2005 80 64 100
8 2004 87 85 87
9 2003 71 95 94
10 2001 90 97 81

setelah dikoreksi

No Tahun S.Kedung S.Sambi S.Rejo

1 2011 97,000 73,000 83,000


2 2010 66,000 72,000 66,000
3 2009 71,000 99,000 92,000
4 2008 107,285 56,243 82,000
5 2007 81,495 54,512 102,540
6 2006 101,095 57,973 95,704
7 2005 82,527 55,377 113,933
8 2004 89,748 73,548 99,122
9 2003 73,242 82,201 107,097
10 2001 92,842 83,931 92,286

Page | 21
3.1.3 Curah Hujan Daerah

Curah Hujan Daerah Metode Rata Rata Hitung

No Tahun S.Kedung S.Sambi S.Rejo x (mm)


1 2011 97,000 73,000 83,000 84,333
2 2010 66,000 72,000 66,000 68,000
3 2009 71,000 99,000 92,000 87,333
4 2008 107,285 56,243 82,000 81,842
5 2007 81,495 54,512 102,540 79,516
6 2006 101,095 57,973 95,704 84,924
7 2005 82,527 55,377 113,933 83,946
8 2004 89,748 73,548 99,122 87,473
9 2003 73,242 82,201 107,097 87,513
10 2001 92,842 83,931 92,286 89,687

Berdasarkan tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa :


1. Curah hujan rata-rata maksimum terjadi pada tahun 2001 dengan rata-rata curah hujan
sebesar 89,687 mm
2. Curah hujan rata-rata minimum terjadi pada tahun 2010 dengan rata-rata curah hujan
sebesar 68,000 mm

Curah Hujan Rancangan


Curah Hujan Rancangan Log Pearson Tipe III

Log x - Log (Log x- (Log x- Log


m x (mm) P (%) Log x
x` Log x`)2 x`)3
1 84,333 9,09 1,92600 0,00572 0,00003 0,00000
2 68,000 18,18 1,83251 -0,08777 0,00770 -0,00068
3 87,333 27,27 1,94118 0,02090 0,00044 0,00001
4 81,842 36,36 1,91298 -0,00730 0,00005 0,00000
5 79,516 45,45 1,90045 -0,01983 0,00039 -0,00001
6 84,924 54,54 1,92903 0,00875 0,00008 0,00000
7 83,946 63,63 1,92400 0,00372 0,00001 0,00000
8 87,473 72,72 1,94187 0,02159 0,00047 0,00001
9 87,513 81,81 1,94208 0,02179 0,00047 0,00001
10 89,687 90,90 1,95273 0,03245 0,00105 0,00003
Log x` 1,92028 0,01070 -0,00062
s 0,03449
Cs -2,0987334344

Page | 22
Perhitungan parameter statistik Log Pearson tipe III
 Nilai rata – rata
 log Xi
X =
n
19,20282
=
10
= 1,9202
 Standar Deviasi

 ( log Xi - log X ) 2
Sd ( log ) =
( n -1)

0,01070
=
( 10 - 1 )

= 0,03449
 Koefisien Kepencengan / kemiringan
n
n  ( log Xi - log X ) 3
i 1
Cs =
( n - 1 )( n - 2 )Sd 3
10 x ( - 0,0006 )
=
9 x 8 x 0,034493
= - 2,0987
 Koefisien Variasi
Sd
Cv=
X
0,03449
=
1,9202
= 0,01796
 Mencari nilai K berdasarkan tabel distribusi Log Pearson tipe III
Periode Ulang 5 tahun (P=20%)
Dari tabel :
Cs -2,0 G 0,777
Cs -2,2 G 0,752
Cs -2,0987334 G 0,7647

 Perhitungan curah hujan dengan cara analitis Log Pearson tipe III
Rumus :
Log XT = log X + G Sd ( log )
Page | 23
Log XT = 1,92028 + G 0,03449
= 1,947
XT = 88,441 mm

3.1.4 Uji Distribusi Curah Hujan Daerah


Landasan Teori
Pengujian Distribusi ini digunakan untuk untuk mengetahui apakah pemilihan distribusi
yang digunakan dalam perhitungan curah hujan rancangan diterima atau ditolak, maka
perlu dilakukan uji kesesuaian distribusi. Uji ini dilakukan secara horisontal dengan
menggunakan Metode Smirnov Kolmogorof dan vertikal dengan menggunakan
Metode Chi Square :
 Uji Smirnov-Kolmogorov
Landasan Teori
Pengujian kecocokan Smirnov – Kolmogorof sering juga disebut uji kecocokan ( non
parametik test ), karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu. Dan
pengujian ini dimaksudkan untuk mencocokkan apakah sebaran yang telah dibuat pada
perhitungan sebelumnya benar yaitu berupa garis yang telah dibuat pada kertas distribusi
peluang.
Adapun caranya, yaitu :
a. Mengurutkan data dan menentukan besarnya peluang dari masing masing data tersebut.
m.100%
P=
100
Dengan :
P = probabilitas (%)
m = nomor urut data
n = jumlah data
X1 = Pe (X1) ; X2 = Pe (X2) dst
b. Mengurutkan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data
(persamaan distribusinya).
X1 = Pt (X1) ; X2 = Pt (X2) dst
c. Dari kedua nilai peluang tersebut, kemudian kita menentukan selisih besarnya peluang
pengamatan dengan peluang teoritis.
Dmak = [Pe – Pt]
dengan,
Dmak = selisih maksimum antara peluang empiris dan teoritis.
Page | 24
Pe = peluang empiris ; Pt = peluang teoritis
d. Berdasarkan tabel nilai kritis uji ( Smirnov – Kolmogorov ), setelah itu kita bisa
menentukan Dkrt.
e. Bila D < Dkrt, maka distribusi teoritis atau sebaran yang telah digunakan / dibuat untuk
menentukan persamaan distribusi dapat diterima.
Tabel 1. Nilai kritis (Dkrt) untuk uji Smirnov – Kolmogorov

Tabel Pengujian Smirnov-Kolmogorov


(log Xi - log (log Xi - log
No Pe (x) XI log XI log Xi - log Xr G Pr (%) Pt (x) Pe(x)-Pt(x)
Xr)2 Xr)3
1 0,091 68,000 1,833 -0,085 0,007 -0,00061 -2,522 92,0564 0,0794 0,0115
2 0,182 78,476 1,895 -0,023 0,001 -0,00001 -0,674 80,4623 0,1954 -0,0136
3 0,273 82,099 1,914 -0,003 0,000 0,00000 -0,092 63,2936 0,3671 -0,0943
4 0,364 82,767 1,918 0,000 0,000 0,00000 0,013 59,8588 0,4014 -0,0378
5 0,455 83,986 1,924 0,007 0,000 0,00000 0,201 53,6611 0,4634 -0,0088
6 0,545 84,333 1,926 0,009 0,000 0,00000 0,254 51,9126 0,4809 0,0646
7 0,636 86,543 1,937 0,020 0,000 0,00001 0,588 31,9708 0,6803 -0,0439
8 0,727 86,563 1,937 0,020 0,000 0,00001 0,591 31,7774 0,6822 0,0450
9 0,818 87,333 1,941 0,024 0,001 0,00001 0,705 24,2928 0,7571 0,0611
10 0,909 88,910 1,949 0,032 0,001 0,00003 0,936 4,5623 0,9544 -0,0453
Jumlah 19,174 0,010 -0,001 Jumlah D maks 0,0646
Rata-rata 1,917 D krt a=5% 0,4090
Sd 0,03367
D maks < D krt, maka DITERIMA
Cs -2,04887

Perhitungan pengujian Smirnov-Kolmogorov


 Penentuan Dmaks :
Dari tabel diperoleh :
Dmaks = -0,0615
Untuk derajat kepercayaan 5% dan n = 10

Page | 25
Didapatkan nilai Dkrt = 0,4090 berdasarkan tabel nilai kritis Dkrt untuk uji smirnov-
kolmogorov.
Dan karena nilai D maks lebih kecil dari Dkrt ( -0,0615 < 0,4090 ) maka persebaran
yang telah digunakan untuk cara Weibull yaitu berupa garis lurus yang telah dibuat
dapat diterima dan dianggap benar untuk menentukan curah hujan rancangan pada
periode ulang tertentu untuk cara grafis.

 Uji Chi Square


Landasan Teori
Uji ini digunakan untuk menguji simpangan secara vertikal apakah distribusi
pengamatan dapat diterima secara teoritis. Pada penggunaan Uji Smirnov-Kolmogorov,
meskipun menggunakan perhitungan metematis namun kesimpulan hanya berdasarkan
bagian tertentu (sebuah variant) yang mempunyai penyimpangan terbesar, sedangkan
Uji Chi-Square menguji penyimpangan distribusi data pengamatan dengan mengukur
secara metematis kedekatan antara data pengamatan dan seluruh bagian garis persamaan
distribusi teoritisnya. Uji Chi-Square dapat diturunkan menjadi persamaan sebagai berikut
(Soewarno, 1995: 194):

dengan :
X2 = Chi-Square.
Ef = frekuensi (banyaknya pengamatan) yang diharapkan, sesuai dengan pembagian
kelasnya.
Of = frekuensi yang terbaca pada kelas yang sama.
Nilai X2 yang terhitung ini harus lebih kecil dari harga X2cr (yang didapat dari tabel Chi-
Square).
Derajat kebebasan ini secara umum dapat dihitung dengan :
DK = K – (P + 1)
dengan :
DK = derajat kebebasan.
K = banyaknya kelas.
P = banyaknya keterikatan atau sama dengan banyaknya parameter, yang untuk
sebaran Chi-Square adalah sama dengan 2 (dua).

Page | 26
Berdasarkan literatur di atas, pada uji Chi-Square menguji penyimpangan distribusi data
pengamatan dengan mengukur secara metematis kedekatan antara data pengamatan dan
seluruh bagian garis persamaan distribusi teoritisnya dengan niliai X2cr. Nilai X2cr untuk
uji Chi Square dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2 Nilai X2cr untuk uji Chi-Square

Tabel Pengujian Chi-Square

No Interval Hujan Oi Ei (Oi-Ei)2 x2

1 P =< 73,2275 1 2,5 2,25 0,900


2 73,228 < P < 83,683 3 2,5 0,25 0,100
3 83,683 < P < 88,910 5 2,5 6,25 2,500
4 P >= 88,910 1 2,5 2,25 0,900
Jumlah 10 10 11 4,400
2
Distribusi tidak dapat diterima x > x yaitu 4,400 > 3,841

Perhitungan pengujian Chi Square


 Penentuan jumlah kelas dengan persamaan Sturgest :
K = 1 + 3,22 log n
= 1+ 3,22 log 10
= 4,22  4
 Penentuan range atau jumlah kelas
R = nilai data terbesar – nilai data terkecil
Page | 27
= 88,910 – 68,000
= 20,91
 Penentuan interval kelas
R
I =
k
20,91
=
4
= 5,2275
 Pembagian Interval
Pi = nilai data terkecil + interval kelas
P1 = 68,000 + 5,2275
= 73,2275
P2 = 73,2275 + 5,2275
= 78,4555
P3 = 78,4555 + 5,2275
= 83,6825
P4 = 83,6825 + 5,2275
= 88,91
 Menentukan Ei (sebaran)
n
Ei =
k
10
=
4
= 2,5
 Mencari derajat kebebasan
Dk = k – (p+1)
= 4 – (2+1)
=1
P = 2 untuk distribusi normal
Dengan menggunakan derajat kepercayaan ( α ) = 5 % dan nilai Dk = 1 sehingga
berdasarkan tabel nilai kritis untuk distribusi chi - kuadrat ( uji satu sisi ) diperoleh nilai
derajat kepercayaan sebesar 3,841.
 Uji kecocokan
Untuk derajat kebebasan ( α ) = 5 %

Page | 28
X2 hitungan < X2 tabel
 ( Oi - Ei ) 2
= Ei < 3,841
11
= < 3,841
10
= 1,1 < 3,841
Jadi, dari hasil pengujian chi - kuadrat, maka persamaan log pearson tipe III yang
digunakan untuk cara analitis dianggap benar dan dapat diterima.

3.2 Analisa Debit


3.2.1 Jaringan Drainase
Kriteria Perencanaan Drainase
1. Ekonomis dan mudah perawatan
2. Aliran secara gravitasi
3. Kecepatan dibuat sesuai Vijin
4. Bahan saluran dengan pasangan
5. Memenuhi syarat hidrolis ; Fr < 1

3.2.2 Kriteria Perencanaan Debit


1. Luas permukaan daerah aliran
2. Jenis permukaaan tanah
3. Intensitas hujan yang terjadi
4. Nilai koefisien kekasaran pengaliran

Page | 29
3.2.3 Tabel Perhitungan dan Penjelasan
Tabel Analisa Debit
Saluran Elevasi Muka Tanah L.sal Lo (m) to (menit) td (mnt) tc (mnt) R24 I Luas Limpasan A koef. C Debit Limpasan Akumulasi Debit
No ∆H (m) Sloop M.T
Awal Akhir Awal Akhir Ld (m) Jalan Blok Jalan Blok Total to + td (mm/jam) (mm/jam) Jalan Blok Total Jalan Blok Rata-rata Q (m3/det) Q (m3/det)
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y
1 1 2 63,6 63,2 30 0,40 0,013 3,5 0 0,926 0 0,926 0,333 1,259 88,441 446,444 105 0 105 0,8 0 0,4 0,00521 0,00521
2 2 4 63,2 62,2 55 1,00 0,018 3,0 32,0 0,902 2,418 3,320 0,611 3,931 88,441 45,776 165 1760 1925 0,8 0,4 0,6 0,01469 0,01989
3 1 3 63,6 62,8 60 0,80 0,013 2,5 37,0 0,875 2,478 3,353 0,667 4,019 88,441 43,797 150 2220 2370 0,8 0,4 0,6 0,01730 0,01730
4 3 4 62,8 62,2 30 0,60 0,020 4,0 0 0,946 0 0,946 0,333 1,280 88,441 432,000 120 0 120 0,8 0 0,4 0,00576 0,02306
5 6 6A 62,4 62,1 30 0,30 0,010 4,0 13,0 0,946 2,081 3,027 0,333 3,360 88,441 62,659 120 390 510 0,8 0,4 0,6 0,00533 0,00533
6 6A 7 62,1 61,4 59 0,70 0,012 4,0 13,0 0,946 2,081 3,027 0,656 3,683 88,441 52,173 236 767 1003 0,8 0,4 0,6 0,00872 0,05700
7 7 8 61,4 60,9 34 0,50 0,015 4,0 0 0,946 0 0,946 0,378 1,324 88,441 403,489 136 0 136 0,8 0 0,4 0,00610 0,06310
8 6 5 62,4 61,5 36 0,90 0,025 4,0 0 0,946 0 0,946 0,400 1,346 88,441 390,280 144 0 144 0,8 0 0,4 0,00624 0,06934
9 5 8 61,5 60,9 94 0,60 0,006 6,5 20,0 1,026 2,236 3,262 1,044 4,307 88,441 38,149 611 1880 2491 0,8 0,4 0,6 0,01584 0,08518
10 4 6A 62,2 62,1 8 0,1 0,013 4,0 0 0,946 0 0,946 0,089 1,035 88,441 660,078 32 0 32 0,8 0,4 0,6 0,04295 0,04295

Keterangan
A No.urut M Total to
B No. patok saluran awal N td = (F/60*V)
C No. patok saluran akhir O tc = M + N
D Perhitungan elevasi awal P I = (R24/24)*(24/O) 2/3
E Perhitungan elevasi akhir Q Luas saluran (jalan) dari data peta
F Panjang saluran dari Data peta R Luas saluran (blok) dari data peta
G ΔH = E-D S Total luas saluran
H Sloop = G/F T Koefisien C untuk jalan dari Data tabel
I Lo (jalan) panjang saluran pada jalan dari Data peta U Koefisien C untuk blok dari Data tabel
J Lo (blok) panjang saluran pada blok dari Data peta V Rata-rata koefisien C
K to (jalan) = (2/3*3,28*I*(nd/√s))0,167 W (Z/(3600*1000))*V*S)
L to (blok) = (2/3*3,28*J*(nd/√s))0,167 X Akumulasi W

Page | 30
3.3 Analisa Dimensi Saluran
3.3.1 Kriteria Perencanaan Dimensi
1. Permukaan saluran : bata merah dengan spesi semen
2. Kecepatan aliran : V yang diijinkan 1,50 m/detik
3. Bentuk saluran : segi-4
4. Kemiringan saluran yang diijinkan : sampai dengan 2%
5. Angka kekasaran manning : dari Tabel manning, n = 0,015
6. Kondisi aliran : FR < 1, sub kritis
7. Debit (Q) hitungan > Debit (Q) saluran, Debit (Q) saluran = Debit (Q) akumulatif

Page | 31
3.3.2 Tabel Perhitungan dan Penjelasan
Tabel Perhitungan Dimensi Saluran
Saluran Debit Q Dimensi Saluran Sloop FR Debit Saluran Elevasi M.T Elevasi M.A Elevasi D saluran
No (m3/det)
FB
awal akhir (m3/det) A B Y P R M.Tanah Saluran FR Vexist FR Vijin FR awal akhir awal akhir awal akhir
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
1 1 2 0,00521 0,0200 0,2 0,10 0,4000 0,0500 0,0133 0,0763 0,6329 1,5145 0,6329 0,0127 0,0333 63,60 63,20 63,567 63,167 63,467 63,067
2 2 4 0,01989 0,0450 0,3 0,15 0,6000 0,0750 0,0182 0,0445 0,7908 1,2365 0,7908 0,0356 0,0500 63,20 62,20 63,150 62,150 63,000 62,000
3 1 3 0,01730 0,0450 0,3 0,15 0,6000 0,0750 0,0133 0,0445 0,6772 1,2365 0,6772 0,0305 0,0500 63,60 62,80 63,550 62,750 63,400 62,600
4 3 4 0,02306 0,0450 0,3 0,15 0,6000 0,0750 0,0200 0,0445 0,8293 1,2365 0,8293 0,0373 0,0500 62,80 62,20 62,750 62,150 62,600 62,000
5 6 6A 0,00533 0,0200 0,2 0,10 0,4000 0,0500 0,0100 0,0763 0,5481 1,5145 0,5481 0,0110 0,0333 62,40 62,10 62,367 62,067 62,267 61,967
6 6A 7 0,04828 0,0800 0,4 0,20 0,8000 0,1000 0,0119 0,0303 0,6701 1,0709 0,6701 0,0536 0,0667 62,10 61,40 62,033 61,333 61,833 61,133
7 7 8 0,05438 0,0800 0,4 0,20 0,8000 0,1000 0,0147 0,0303 0,7461 1,0709 0,7461 0,0597 0,0667 61,40 60,90 61,333 60,833 61,133 60,633
8 6 5 0,00624 0,0200 0,2 0,10 0,4000 0,0500 0,0250 0,0763 0,8666 1,5145 0,8666 0,0173 0,0333 62,40 61,50 62,367 61,467 62,267 61,367
9 5 8 0,02208 0,0800 0,4 0,20 0,8000 0,1000 0,0064 0,0303 0,4915 1,0709 0,4915 0,0393 0,0667 61,50 60,90 61,433 60,833 61,233 60,633
10 4 6A 0,04295 0,0800 0,4 0,20 0,8000 0,1000 0,0125 0,0303 0,6879 1,0709 0,6879 0,0550 0,066667 62,20 62,10 62,133 62,033 61,933 61,833

Ket : 4-6A = gorong-gorong

Keterangan
1 No.urut 12 FR Vexist = ((1/0,015)*(R^(2/3))*(M.Tanah^(1/2)))/SQRT(9,81*Y)
2 No. patok saluran awal 13 FR Vijin = 0,015/SQRT(9,81*Y)
3 No. patok saluran akhir 14 FR dipilih antara (12) dan (13)
4 Perhitungan akumulasi debit dari Tabel Analisa Debit 15 Debit saluran = Vexist * A
5 A = B*Y 16 FB = 1/3*Y
6 B ditentukan 17 Elevasi Muka Tanah awal dari Data sebelumnya
7 Y = B/2 18 Elevasi Muka Tanah akhir dari Data sebelumnya
8 P = 2Y * B 19 Elevasi Muka Air awal = Elevasi Muka Tanah awal - FB
9 R = A/P 20 Elevasi Muka Air akhir = Elevasi Muka Tanah akhir - FB
10 Muka Tanah = perhitungan sebelumnya 21 Elevasi Dasar Saluran awal = Elevasi Muka Air awal - Y
11 Sd sal = ((n*V)/R^(2/3))2 22 Elevasi Dasar Saluran akhir = Elevasi Muka Air akhir - Y

Page | 32
BAB IV
KESIMPULAN

Saluran drainase terbuka sering dijumpai di sepanjanjang jalan poros atau jalan utama.
Saluran Drainase yang terbuka banyak mengalami masalah salah satunya endapan
tanah, timbunan sampah, kontruksi bangunan yang kondisinya kurang baik, dan
kurangnya bangunan pelengkap. Sehingga timbul dampak dari masalah tersebut yaitu
genangan, banjir atau kapasitas saluran drainase tersebut kurang mencukupi untuk
menerima limpasan air hujan. Jika hal tersebut terus-menerus dibiarkan dan tidak ada
tanggapan baik dari pemerintah maupun kesadaran dari masyarakatnya sendiri, tidak
menutup kemungkinan akan menambah masalah genangan ataupun banjir. Maka dari itu,
kita perlu merencanakan kriteria saluran dengan baik agar tidak terjadi banjir yang dapat
menyebabkan masalah bagi penduduk sekitar kawasan daerah studi.
Dalam merencanakan drainase, hal-hal yang harus diperhatikan seperti saluran yang akan
direncanakan memiliki nilai ekonomis dan mudah dalam perawatannya. Selain itu
alirannya secara gravitas dan memenuhi syarat hidrolis yaitu Fr < 1.

Page | 33
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan. 2003. Panduan dan Petunjuk Praktis
Pengelolaan Drainase Perkotaan. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
Dr. Ir. Suripin, M. Eng (2004). Sistem Drainase Perkotaan Yang Berkelanjutan. Andi
Yogyakarta
Peraturan Mentri Pekerjaan Umum RI nomor 63/PRT/1993
Politeknik Negeri Malang. 2010. Dasar-Dasar Kerja Drainase.
Wesli. 2008. Drainase Perkotaan. Yogyakarta: Graha Ilmu

Page | 34
0
64.00

.000
63

01

K
02
64
.0
00

J
K

J
K

J
J
K

J
03
J
K

06
J
J
H

00
63.0 6A 04
H

05
A

0
62.00
H
A

0
62.00
H
A

61.000
H
A

H
A
A

07
H
A
A

08

61.000

K
NI
K N EGE R
I
JURUSAN TEKNIK SIPIL
M
TE

AL

PROGRAM STUDI BANGUNAN SIPIL


P OL I

ANG

POLITEKNIK NEGERI MALANG


GAMBAR : TUGAS BESAR HIDROLOGI
SITE PLAN
Semester IV

TAHUN 2014
Digambar Diperiksa Disetujui Jml lembar No Gambar Skala
1. Ranugrah Pamula P
1231310076
2. Resty Rika P Ratih Indri H. ST, MT Ratih Indri H. ST, MT
8 1 1 : 20
1231310050 NIP 132.299.716 NIP 132.299.716
+64.000

+63.000

+62.000

+61.000

+60.000
Elevasi Muka Tanah
63,47 63,57 63,6

63,07 63,17 63,2

62,00 62,15 62,2

(m)
Elevasi Muka Air
(m)
Elevasi Dasar Saluran
(m)
Saluran 1 2 4
Jarak (m) 30 55
Potongan Memanjang Saluran 1-2-4

K
NI
K N EGE R
I
JURUSAN TEKNIK SIPIL
M
TE

AL

PROGRAM STUDI BANGUNAN SIPIL


P OL I

ANG

POLITEKNIK NEGERI MALANG


GAMBAR : TUGAS BESAR HIDROLOGI
POTONGAN MEMANJANG SALURAN 1-2-4
Semester IV

TAHUN 2014
Digambar Diperiksa Disetujui Jml lembar No Gambar Skala
1. Ranugrah Pamula P H 1:2000
1231310076 8 2
2. Resty Rika P
1231310050
Ratih Indri H. ST, MT Ratih Indri H. ST, MT
NIP 132.299.716 NIP 132.299.716
V 1:50
+64.000

+63.000

+62.000

+61.000

+60.000
Elevasi Muka Tanah
63,47 63,57 63,6

62,60 62,75 62,8

62,00 62,15 62,2

(m)
Elevasi Muka Air
(m)
Elevasi Dasar Saluran
(m)
Saluran 1 3 4
Jarak (m) 60 30

Potongan Memanjang Saluran 1-3-4

K
NI
K N EGE R
I
JURUSAN TEKNIK SIPIL
M
TE

AL

PROGRAM STUDI BANGUNAN SIPIL


P OL I

ANG

POLITEKNIK NEGERI MALANG


GAMBAR : TUGAS BESAR HIDROLOGI
POTONGAN MEMANJANG SALURAN 1-3-4
Semester IV

TAHUN 2014
Digambar Diperiksa Disetujui Jml lembar No Gambar Skala
1. Ranugrah Pamula P H 1:2000
1231310076 8 3
2. Resty Rika P
1231310050
Ratih Indri H. ST, MT Ratih Indri H. ST, MT
NIP 132.299.716 NIP 132.299.716
V 1:50
+64.000

+63.000

+62.000

+61.000

+60.000
Elevasi Muka Tanah 60,63 60,83 60,9
62,27 62,37 62,4

61,13 61,33 61,4


61,97 62,07 62,1

(m)
Elevasi Muka Air
(m)
Elevasi Dasar Saluran
(m)
Saluran 6 6A 7 8
Jarak (m) 30 59 34
Potongan Memanjang Saluran 6-6A-7-8

K
NI
K N EGE R
I
JURUSAN TEKNIK SIPIL
M
TE

AL

PROGRAM STUDI BANGUNAN SIPIL


P OL I

ANG

POLITEKNIK NEGERI MALANG


GAMBAR : TUGAS BESAR HIDROLOGI
POTONGAN MEMANJANG SALURAN 6-6A-7-8
Semester IV

TAHUN 2014
Digambar Diperiksa Disetujui Jml lembar No Gambar Skala
1. Ranugrah Pamula P H 1:2000
1231310076 8 4
2. Resty Rika P
1231310050
Ratih Indri H. ST, MT Ratih Indri H. ST, MT
NIP 132.299.716 NIP 132.299.716
V 1:50
+64.000

+63.000

+62.000

+61.000

+60.000
Elevasi Muka Tanah
60,63 60,83 60,9
62,27 62,37 62,4

61,37 61,47 61,5

(m)
Elevasi Muka Air
(m)
Elevasi Dasar Saluran
(m)
Saluran 6 5 8
Jarak (m) 36 94
Potongan Memanjang Saluran 6-5-8

K
NI
K N EGE R
I
JURUSAN TEKNIK SIPIL
M
TE

AL

PROGRAM STUDI BANGUNAN SIPIL


P OL I

ANG

POLITEKNIK NEGERI MALANG


GAMBAR : TUGAS BESAR HIDROLOGI
POTONGAN MEMANJANG SALURAN 6-5-8
Semester IV

TAHUN 2014
Digambar Diperiksa Disetujui Jml lembar No Gambar Skala
1. Ranugrah Pamula P H 1:2000
1231310076 8 5
2. Resty Rika P
1231310050
Ratih Indri H. ST, MT Ratih Indri H. ST, MT
NIP 132.299.716 NIP 132.299.716
V 1:50
+64.000

+63.000

+62.000

+61.000

+60.000
Elevasi Muka Tanah
61,93 62,13 62,2

62,83 62,03 62,1

(m)
Elevasi Muka Air
(m)
Elevasi Dasar Saluran
(m)
Saluran 4 6A
Jarak (m) 8

Potongan Memanjang Saluran 4-6A

K
NI
K N EGE R
I
JURUSAN TEKNIK SIPIL
M
TE

AL

PROGRAM STUDI BANGUNAN SIPIL


P OL I

ANG

POLITEKNIK NEGERI MALANG


GAMBAR : TUGAS BESAR HIDROLOGI
POTONGAN MEMANJANG GORONG-GORONG 4-6A
Semester IV

TAHUN 2014
Digambar Diperiksa Disetujui Jml lembar No Gambar Skala
1. Ranugrah Pamula P H 1:2000
1231310076 8 6
2. Resty Rika P
1231310050
Ratih Indri H. ST, MT Ratih Indri H. ST, MT
NIP 132.299.716 NIP 132.299.716
V 1:50
Pagar Rumah

Pagar Rumah

20.0 20.0 63.60


63.57
3.0 20.0
20.0 62,80

10.0 62.75
63.47 5.0

15.0
20.0 62.60

20.0
20.0

Pagar Rumah 30.0

20.0 20.0 61,40

61.33 7.0

20.0

62.13 JURUSAN TEKNIK SIPIL


K N EG E R
NI I

M
TE

AL
PROGRAM STUDI BANGUNAN SIPIL

P OLI

A NG
POLITEKNIK NEGERI MALANG
20.0 GAMBAR : TUGAS BESAR HIDROLOGI
POTONGAN MELINTANG SALURAN
Semester IV

40.0 TAHUN 2014


Digambar Diperiksa Disetujui Jml lembar No Gambar Skala
1. Ranugrah Pamula P
1231310076
2. Resty Rika P Ratih Indri H. ST, MT Ratih Indri H. ST, MT
8 7 1 : 10
1231310050 NIP 132.299.716 NIP 132.299.716
62,10

62.03 7.0

20.0

61.83

20.0

20.0 40.0 20.0

NI
K N EG E R
I
JURUSAN TEKNIK SIPIL

M
TE

AL
PROGRAM STUDI BANGUNAN SIPIL

P OLI

A NG
POLITEKNIK NEGERI MALANG
GAMBAR : TUGAS BESAR HIDROLOGI
POTONGAN MELINTANG
Semester IV
GORONG-GORONG
TAHUN 2014
Digambar Diperiksa Disetujui Jml lembar No Gambar Skala
1. Ranugrah Pamula P
1231310076
2. Resty Rika P Ratih Indri H. ST, MT Ratih Indri H. ST, MT
8 8 1 : 10
1231310050 NIP 132.299.716 NIP 132.299.716