Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran atau substansi atau
masa zat suatu organisme, misalnya kita sebagai makhluk makro ini dikatakan
tumbuh ketika bertambah tinggi, bertambah besar atau bertambah berat. Pada
organisme bersel satu pertumbuhan lebih diartikan sebagai pertumbuhan koloni,
yaitu pertambahan jumlah koloni, ukuran koloni yang semakin besar atau subtansi
atau massa mikroba dalam koloni tersebut semakin banyak, pertumbuhan pada
mikroba diartikan sebagai pertambahan jumlah sel mikroba itu sendiri (Waluyo,
2005).
Dalam pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang
mencukupi serta kondisi lingkungan yang mendukung demi proses pertumbuhan
tersebut. Sehingga bisa dikatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan mikroba khususnya mikroba pada makanan, antara lain faktor
intrinsik (sifat fisik, kimia, dan struktur makanan), ekstrinsik (kondisi lingkungan
penyimpanan), implisit (interaksi dengan mikroba lain), dan pengolahan (proses
pengolahan makanan). Pengaruh faktor ini akan memberikan gambaran yang
memperlihatkan peningkatan jumlah sel yang berbeda dan pada akhirnya
memberikan gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya (Waluyo, 2005).
Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan suatu
hal yang penting untuk diketahui. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan mikroba sangat penting di untuk mengendalikan
pertumbuhan mikroba, adapun faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba
terdiri dari faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik meliputi pH, Aw,
potensial oksidasi-reduksi, kandungan nutrisi, kandungan senyawa anti mikrobia
dan stuktur biologi. Sedangkan faktor ekstrinsik meliputi temperatur, kelembapan
relatif lingkungan, dan susunan gas di lingkungan.
Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

pertumbuhan

mikroba

ini

dapat

dimanfaatkan untuk mengendalikan pertumbuhan mikroba seperti pH, Aktivitas


mikroorganisme secara signifikan dipengaruhi oleh pH, pH adalah parameter
untuk mengetahui intensitas tingkat kesamaan/kebasaan dari suatu larutan yang

dinyatakan dengan konsentrasi ion hidrogen terlarut. Mikroba yang ada disekitar
kita mempunyai syarat tumbuh yang berbeda-beda, agar mereka dapat tumbuh
dengan baik. Syarat tumbuh mikroba dapat berupa suhu maupun pH. untuk
pertumbuhan mikroba biasanya terdapat 3 pH pertumbuhan yaitu pH optimum,
pH maksimum dan pH minimum. Dari ketiga pH diatas biasanya pH yang paling
cocok untuk pertumbuhan mikroba disebut pH optimum. pH minimum merupakan
pH terendah dimana mikroba tidak dapat tumbuh, sedangkan pH maksimum
merupakan pH tertinggi dimana mikroba tidak dapat tumbuh, ketiga jenis pH
pertumbuhan itu sesuai dengan karakteristik kebutuhan mikroba untuk hidup pada
pH tertentu . Mikroba umumnya hidup pada pH netral (6,6-6,7), pH pertumbuhan
bakteri adalah 4,0-8,0 , kapang 1,5-12, sedangkan khamir mempunyai daerah pH
1,5-8,5. Berdasarkan daerah pH bagi kehidupannya, mikroba dibedakan menjadi 3
golongan, mikroba asidofil yaitu mikroba yang dapat tumbuh pada pH antara 2,05,0, mikroba mesofil yaitu mikrobayang dapat tumbuh pada pH antara 5,5-8,
mikroba alkalifil yakni mikroba yang dapat tumbuh pada pH antara 8,5-9,5. Nilai
pH merupakan faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim, dimana aktivitas
enzim ini akan maksimum pada kondisi pH optimum. Nilai pH sel
mikroorganisme dipengaruhi oleh pH lingkungan dimana mikroorganisme
tersebut hidup. Bila pH lingkungan tidak sesuai untuk aktivitas enzim secara
optimal, maka mikrobia tidak dapat melakukan metabolisme dengan baik.
Akibatnya mikrobia tidak dapat tumbuh dengan optimal. Untuk itulah dengan
adanya praktikum ini kita dapat mengetahui pengaruh pH (HCl, NaOH, Akuades)
terhadap pertumbuhan mikroba baik gram positif Bacillus cereus maupun bakteri
gram negatif E.coli.
Praktikum kali ini difokuskan kepada salah satu faktor intrinsik yaitu
pH. Pada medium diberikan kertas cakram yang mengandung larutan asam
organik, asam anorganik, dan basa dengan pH 3, 5, 7, dan 9 untuk diketahui
pengaruhnya terhadap pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negatif.
B. Tujuan

Mengetahui pengaruh pH terhadap pertumbuhan mikroba gram positif dan


negatif.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhubungan dengan berbagai macam


mikroorganisme yang dapat menginfeksi yang dapat membahayakan atau merusak
inang. Akan tetapi, agar dapat memahami lebih banyak masalah dalam
mendiagnosis

dan

pencegahan

infeksi,

maka

perlu

diketahui

bahwa

mikroorganisme tumbuh dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menunjang


pertumbuhannya (M. Natsir Djide, 2005).
Pertumbuhan adalah penambahan secara teratur semua komponen sel suatu
jasad. Pembelahan sel adalah hasil dari pertumbuhan sel. Pada jasad bersel
tunggal (uniseluler), pembelahan atau perbanyakan sel merupakan pertambahan
jumlah individu. Misalnya pembelahan sel pada bakteri akan menghasilkan
pertambahan jumlah sel bakteri itu sendiri. Pada jasad bersel banyak
(multiseluler), pembelahan sel tidak menghasilkan pertambahan jumlah
individunya, tetapi hanya merupakan pembentukan jaringan atau bertambah besar
jasadnya (Suharjono, 2006).
Seperti makhluk hidup pada umumnya, pertumbuhan mikroba tentunya
tidak lepas dari pengaruh lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi itu dapat
berupa faktor fisika, faktor kimia, maupun faktor biologi. Namun, pertumbuhan
mikroba ini tidak hanya dipengaruhi faktor lingkungan, tetapi juga mempengaruhi
keadaan lingkungan. Akibat ukurannya yang sangat mikroskopis, pertumbuhan
mikroba sangat tergantung pada keadaan sekelilingnya (Pelczar dan Chan, 2006).
Beberapa faktor abiotik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri,
antara lain: suhu, kelembaban, cahaya, pH, Aw dan nutrisi. Apabila faktor-faktor
abiotik tersebut memenuhi syarat, sehingga optimum untuk pertumbuhan bakteri,
maka bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak (Haastuti, 2008).
Medium harus mempunyai pH yang tepat, yaitu tidak terlalu asam atau
basa. Kebanyakan bakteri tidak tumbuh dalam kondisi terlalu basa, dengan
pengecualian basil kolera (Vibrio cholerae). Pada dasarnya tak satupun yang dapat
tumbuh baik pada pH lebih dari 8. Kebanyakan patogen, tumbuh paling baik pada
pH netral (pH7) atau pH yang sedikit basa (pH 7,4). Beberapa bakteri tumbuh

pada pH 6, tidak jarang dijumpai organisme yang tumbuh baik pada pH 4 atau 5.
Sangat jarang suatu organisme dapat bertahan dengan baik pada pH 4; bakteri
autotrof tertentu merupakan pengecualian. Karena banyak bakteri menghasilkan
produk metabolisme yang bersifat asam atau basa (Hafsah, 2009).
Mikroba pada umumnya hidup pada pH netral (6,6-7,5), namun setiap
mikroba mempunyai nilai pH minimum, pH optimum, dan pH maksimum. pH
pertumbuhan untuk bakteri adalah 4,0-8; kapang 1,5-12; sedangkan khamir
mempunyai daerah pH 1,5-8,5. Berdasarkan daerah pH bagi kehidupannya,
mikroba dibedakan menjadi 3 golongan yaitu:
-

mikroba asidofil, yaitu mikroba yang dapat tumbuh pada pH antara

2,0-5,0;
mikroba mesofil/neutrofil, yaitu mikroba yang dapat tumbuh pada pH

antara 5,5-8;
mikroba alkalifil, yaitu mikroba yang dapat tumbuh pada pH antara
8,5-9,5 (Waluyo, 2005).

Secara garis besar, bakteri dibagi menjadi dua kategori yaitu bakteri Gram
positif dan Gram negatif. Bacillus cereus merupakan salah satu contoh bakteri
Gram positif, dan Escherichia coli merupakan salah satu contoh bakteri Gram
negatif. Ciri-ciri bakteri Gram negatif adalah:
-

struktur dinding selnya tipis, sekitar 10-45mm, berlapis tiga atau multi

layer,
dinding

selnya

mengandung

lemak

lebih

banyak

(11-22%),

peptidoglikan terdapat dalam lapisan kaku sebelah dalam dengan


-

jumlah sedikit (10% dari berat kering), tidak mengandung asam laktat,
kurang rentan terhadap senyawa penisilin,
tidak resisten terhadap gangguan fisik (Waluyo,2005).

Sedangkan ciri-ciri bakteri Gram positif adalah:


-

struktur dinding selnya tebal, sekitar 10-50mm,


dinding selnya mengandung peptidoglikan yang tinggi (90% dari berat

kering,
sensitif terhadap penisilin,
biasanya dapat bersifat tahan asam (Hafsan, 2011).

Berikut merupakan tabel perkiraan nilai pH pertumbuhan bakteri pathogen


pada makanan menurut International Comission on Microbiological Specification
for Foods, 2004:
Tabel 1.1 Perkiraan Nilai pH Pertumbuhan Bakteri Patogen
Bakteri patogen
B. cereus
E. coli

pH minimum
4,9
4,4

Nilai pH
pH optimum
6,0-7,0
6,0-7,0

pH maksimum
8,8
9,0

Asam kuat seperti HCl memiliki pKa yang sangat rendah sehingga pada
pH diantara 3-6 (pH makanan yang normal) asam kuat akan terdisosiasi
sempurna. Disosiasi asam kuat ini akan meningkatkan konsentrasi H+ lingkungan
(pH makanan). pH makanan yang rendah ini penting bagi pengawetan makanan.
Meskipun asam kuat meningkatkan pH eksternal mikroba, namun tidak mampu
masuk kedalam sel mikroba. Sehingga kemampuan antimikroba dari asam kuat
disebabkan oleh:
-

denaturasi enzim ekstraselluler (terutama yang ada pada permukaan


membran sel, biasanya kemampuan katalitik membran akan hilang
sehingga metabolisme akan berhenti,

turunnya pH internal (ada permeasi proton H+) yang disebabkan


meningkatnya permeabilitas proton karena gradien pH yang terlalu
besar,

menurunnya aktivitas sistem transpor ion sehingga ion-ion esensial dan


nutrien tidak akan diserap oleh mikroba (Kusumaningrum, 2011).

Penghambatan oleh pH rendah dari ini dapat disebabkan oleh asam kuat
maupun asam lemah, dan akibat dari penghambatan ini dapat berupa penurunan
kecepatan pertumbuhan dan memperpanjang fase lag bakteri (fase adaptasi)
(Kusumaningrum, 2011).

Berbeda dengan asam kuat, didalam larutan asam lemah berada pada
keadaan kesetimbangan antara bentuk terdisosiasi dengan bentuk tidak
terdisosiasi. Bentuk terdisosiasi asam lemah memberikan efek penghambatan
mikroba sebagaimana asam kuat, sedangkan bentuk tidak terdisosiasi memiliki
mekanisme penghambatan yang berbeda. Bentuk tidak terdisosiasi ini merupakan
bentuk yang paling efektif menghambat mikroba, hal ini dikarenakan sifatnya
yang mudah masuk ke dalam sel mikroba dan menurunkan pH internal dari
sitoplasma mikroba. Bentuk tidak terdisosiasi asam lemah memiliki sifat yang
lebih lipofilik, yang menjadikannya lebih bebas masuk melalui membran (lipid
bilayer) sebagai fungsi adanya gradien konsentrasi. Setelah asam lemah tidak
terdisosiasi ini berada dalam sitoplasma yang memiliki pH diatas pKa asam
lemah, maka asam lemah akan segera terdisosiasi, melepaskan proton (H +), dan
akan segera meningkatkan pH internal dari sitoplasma. Penghambatan mikroba
oleh asam lemah ini disebabkan oleh:
-

kerusakan membran,

penghambatan reaksi metabolisme yang esensial,

stess dari homeostatis pH internal sel,

akumulasi anion sisa asam pada sitoplasma yang bersifat toksik,

menggangu sistem sintesis protein atau genetik (sintesis DNA/RNA),

kematian mikroba karena kehabisan ATP disebabkan penggunaan ATP


untuk menjalankan pompa proton dengan tujuan mengeluarkan H+ dari
dalam sel demi menjaga kesetimbangan homeostatis pH didalam sel
(Ray, 2005).

Efektivitas dari asam lemah menghambat mikroba sangat tergantung dari


nilai pKa asam lemah dan pH makanan. Pada pH makanan yang diatas pKa,
sebagian besar asam lemah berada pada keadaan terdisosiasi, sehingga pada pH

ini asam lemah tidak efektif sebagai pengawet. Sedangkan pada pH dibawah pKa,
sebagian besar asam lemah berada pada keadaan tidak terdisosiasi sehingga pada
pH dibawah pKa inilah asam lemah efektif sebagai pengawet. Sehingga semakin
tinggi pKa asam lemah serta semakin rendah pH makanan, maka efek pengawetan
asam lemah semakin baik (Ray, 2005).

III.
METODE
A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
- Cawan petri steril
- Pipet mikro
- Kertas saring Whatman (cakram)
- Jangka sorong
- Medium NA
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
-

E.coli
Bacillus cereus
HCL (pH 3 dan 5)
NaOH (pH 7 dan 9)

B. Prosedur Kerja
2 cawan petri steril disiapkan, masing-masing dimasukan 1
ml starter mikroba
Medium dimasukan ke dalam cawan petri steril dalam
keadaan hangat 45 0C.
Cawan diputar-putar untuk meratakan medium

Kertas cakram dicelupkan kedalam larutan per-pH tertentu


selama 10 menit lalu dikering anginkan dan dimasukan ke
dalam cawan petri yang telah diisi medium

Medium diinkubasi selama 48 jam pada suhu ruang dan


posisi cawan terbalik
Zona

bening

diamati

dan

dilakukan

pengukuran

penghambat antimikroba terhadap bakteri, pengamatan


dialukan 2 kali setelah 24 jam dan 48 jam

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil.
Waktu
pengamatan

Pengukuran Zona Bening


Bakteri

pH

3
E.coli
24 jam

Bacillu
s
cereus
E.coli

48 jam

Bacillu
s
cereus

5
7
9
3
5
7
9
3
5
7
9
3
5
7
9

0
0
0
0
1,4
0,3

II

III

Ratarata

0
0
0

0
0
0

0
0
0

1,2
0,3

1,4
0,2

1,33
0,26

0
0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

1,29
0,33
0
0

1,27
0,31
0
0

1,31
0,27
0
0

1,29
0,3
0
0

B. Pembahasan
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan mikroba antara
lain faktor abiotik yang meliputi temperatur, kelembaban, tekanan osmosis,
pengaruh pH, pengaruh logam berat serta pengaruh zat-zat kimia. Sedangkan
faktor biotik meliputi bebas hama serta asosiasi. Berdasarkan faktor-faktor
tersebut, maka dilakukanlah pengamatan tentang pengaruh pH, terhadap
pertumbuhan Mikroba. Perlu diketahui bahwa aktivitas kehidupan suatu jasad
memerlukan keadaan sekitar yang sesuai, yang dapat mempengaruhi sifat
morfologi dan fisiologi dari jasad akan menyesuaikan dengan keadaan sekitar
yang ada pada waktu itu.
Pada praktikum ini bertujuan untuk mengamati pengaruh dari pH terhadap
pertumbuhan dari mikroba, dengan menggunakan 3 jenis larutan untuk

menentukan pH, antara lain larutan HCl, NaOH dan Akuades. Larutan HCl
ditepatkan sampai pH 3 dan 5 sebagai pH asam, larutan NaOH ditepatkan sampai
pH 7 dan 9 sebagai pH basa , dan akuades sebagai pH netral.
Mikroba yang digunakan yaitu salah satu dari golongan Gram positif dan
negatif. B. cereus sebagai indikator dari Gram positif, sedangkan E. coli sebagai
indikator dari Gram negatif. Medium yang digunakan adalah medium NA.
Pengamatan pengaruh pH dilakukan selama 2x24 jam, dengan cara mengamati
zona bening yang ada pada sekitar kertas cakram. Adanya zona bening
menunjukkan bahwa tidak ada mikroba yang hidup atau tumbuh di zona tersebut,
sehingga ketika didapati zona bening pada kertas cakram dengan pH tertentu
berarti bahwa pH tersebut berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba.
Hasil pengamatan dapat dilihat pada tabel di atas, bahwa pada 24 jam
setelah inkubasi, diukur diameter zona bening tiga kali kemudian di rata-rata
kan, pada E.coli dengan kertas cakram yang direndam selama 10 menit dalam
larutan HCl pH 3 dan 5 setelah dikukur 3 kali didapatkan hasil secara
berurutan dari pengukuran pertama sampai dengan ketiga, sebagai berikut 0
cm, 0 cm dan 0 cm dengan rata-rata hasil 0 cm , pada E.coli dengan kertas
cakram yang direndam selama 10 menit dalam larutan NaOH pH 7 dan 9
setelah dikukur 3 kali didapatkan hasil secara berurutan dari pengukuran
pertama sampai dengan ketiga, sebagai berikut 0 cm, 0 cm dan 0 cm dengan
rata-rata hasil 0 cm, hal tersebut menunjukan bahwa pertumbuhan E.coli tidak
dipengaruhi atau terhambat oleh kondisi pH asam karena zona bening itu tidak
ada pada bagian cawan petri yang diletakan kertas cakram yang telah di
rendam dalam larutan HCl pH 3 dan 5 (asam), hasil dari pengamatan tersebut
tidak sesuai dengan literatur dari International Comission on Microbiological
Specification for Foods (2004), bahwa pH minimum pertumbuhan E. coli
adalah 4,4, pH maksimumnya adalah 9,0 dan pH optimum 6,0-7,0 . Dapat
dilihat dari tabel hasil pengamatan bahwa pada larutan HCl tidak terdapat zona
bening, yang berarti bahwa pertumbuhan E. coli tidak terhambat atau tetap
tumbuh pada medium di sekitar kertas cakram yang pH nya 3 dan 5.

Sedangkan pada larutan NaOH juga tidak terdapat zona bening yang berarti
bahwa pH 7 dan 9 tidak mempengaruhi pertumbuhan E. coli, karena pH
optimum pertumbuhan E. coli adalah 6,0-7,0, pH optimum bisa dikatakan
sebagai pH pertumbuhan mikroba, maka terjadi kesalahan sehingga tidak
sesuai dengan literature.
Hasil pengamatan pada bakteri Gram positif atau B. cereus, dapat
dilihat bahwa pada 24 jam setelah inkubasi, diukur diameter zona bening tiga
kali kemudian di rata-rata kan, pada B. cereus dengan kertas cakram yang
direndam selama 10 menit dalam larutan HCl pH 3 dan 5 setelah dikukur 3
kali didapatkan hasil secara berurutan dari pengukuran pertama sampai dengan
ketiga, sebagai berikut 1,4 cm, 1,2 cm, 1,4 cm dengan rata-rata hasil 1,33 cm.
pada B. cereus dengan kertas cakram yang direndam selama 10 menit dalam
larutan NaOH pH 7 dan 9 setelah dikukur 3 kali didapatkan hasil secara
berurutan dari pengukuran pertama sampai dengan ketiga, sebagai berikut 0
cm, 0 cm, 0 cm dengan rata-rata hasil 0 cm, hal tersebut menunjukan bahwa
B. cereus terhambat atau dipengaruhi pertumbuhannya pada pH asam karena
pada cawan yang telah diletakan kertas cakram yang direndam dalam larutan
HCl selama 10 menit terdapat zona bening dan pada kertas cakram yang
direndam dalam larutan NaOH tidak terapat zona bening. Hal ini sesuai
dengan

literatur

dari

International

Comission

on

Microbiological

Specification for Foods (2004), bahwa pH minimum pertumbuhan B. cereus


adalah 4,9, pH maksimumnya adalah 8,8 dan pH optimum 6,0-7,0 . Dapat
dilihat dari tabel hasil pengamatan bahwa pada larutan HCl terdapat zona
bening paling luas, yang berarti bahwa pertumbuhan B. cereus terhambat atau
tidak tumbuh pada medium di sekitar kertas cakram yang pH nya 3 dan 5.
Sedangkan pada larutan NaOH tidak terdapat zona bening yang berarti bahwa
pH 7 dan 9 tidak mempengaruhi pertumbuhan B. cereus,namun pH optimum
bisa dikatakan sebagai pH pertumbuhan mikroba, dengan kata lain mikroba
dapat tumbuh dengan baik pada pH optimumnya masing-masing mikroba.
Pada hasil pengamatan setelah di inkubasi selama 2x24 jam yang
terjadi pada E.coli dengan larutan HCl masih tidak terdapat zona bening.
Sedangkan pada B.cereus setelah di inkubasi selama 2x24 jam mengalami

penurunan jumlah zona bening pada cawan dengan perlakuan perendaman


kertas cakram pada pH dimana yang tadinya memiliki rata-rata 1,33 cm
menjadi 1,29 cm, pada pH 5 dimana zona bening bertambah dari rata-rata
0,26 cm menjadi 0,3 cm hal tersebut. Hal tersebut sesuai dengan literatur
Suharni (2009), enzim sistem transport elektron dan sisem transport nutrien
pada membran sel bakteri sangat peka terhadap konsentrasi ion hidrogen (pH).
Selama pertumbuhan, mikrobia dapat menyebabkan perubahan pH medium
sehingga tidak sesuai lagi untuk pertumbuhan.Oleh karena itu perlu diberi
bufer di dalam medium untuk mencegah perubahan pH
Baik pada B. cereus maupun E. coli seharusnya pertumbuhan
dipengaruhi oleh pH. E. coli dan B. cereus sama-sama memiliki pH minimum
sekitar 4 dan pH maksimum sekitar 8-9. Berdasarkan pengamatan, pada B.
cereus dengan HCL menunjukan adanya zona bening daripada zona bening
pada E. coli yang tidak terlihat sama sekali. Hal ini berbanding terbalik
dengan literature yang mengatakan bahwa bakteri Gram positif lebih tahan
terhadap asam, karena dinding sel bakteri Gram positif lebih tebal sehingga
bisa lebih tahan terhadap kondisi-kondisi ekstrim. Ketika pH basa, tidak
terlalu terlihat perbedaan antara zona bening E. coli dan B. cereus karena pH
maksimum kedua bakteri tersebut tidak berbeda jauh (8,8 dan 9,0)
(International Comission on Microbiological Specification for Foods, 2004).

V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum ini dampat disimpulkan bahwa:
- Pada bakteri E. coli tidak pernah terdapat zona bening pada pH asam
yang menunjukkan bahwa pH asam (3 dan 5) tidak mempengaruhi atau
-

menghambat pertumbuhan E. coli.


Pada bakteri E. coli tidak pernah terdapat zona bening pada pH basa yang
menunjukkan bahwa pH basa (7 dan 9) tidak mempengaruhi atau

menghambat pertumbuhan E. coli.


Pada bakteri B. cereus selalu terdapat zona bening pada pH asam yang
menunjukkan bahwa pH asam (3 dan 5) dapat mempengaruhi atau

menghambat pertumbuhan B. cereus.


Pada bakteri B. cereus tidak pernah terdapat zona bening pada pH basa
yang menunjukkan bahwa pH basa (7 dan 9) tidak mempengaruhi atau

menghambat pertumbuhan B. cereus.


B. Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya adalah:
- Sebaiknya praktikan lebih aseptis dan berhati-hati ketika menuangkan
-

bakteri dan mediumnya.


Sebaiknya kertas cakram yang digunakan tidak terlalu kering tetapi juga

tidak terlalu basah agar lebih terlihat pengaruhnya.


Sebaiknya praktikan mengetahui betul bagaimana pengukuran dengan
jangka sorong agar bisa lebih teliti sehingga tidak terjadi kesalahan dalam
pengukuran.

DAFTAR PUSTAKA
Haastuti, Utami Sri. 2008 .Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Hafsah. 2009. Mikrobiologi Umum. Makassar: UIN Alauddin Makassar,
Hafsan. 2011. Mikrobiologi Umum. Makassar: Alauddin University Press.
International Comission on Microbiological Specification for Foods. 2004.
Microbial ecology of foods. Volume 1, Factors Affecting Life and death
of microorganism.
Kusumaningrum, H.D. 2011. Effect of pH, Acid, and Low Temperature on
Microbial Growth: Mecanism and Application on Food Product.
Natsir Djide, M. 2005. Bakteriologi. Makassar: Fakultas MIPA Universitas
Hasanuddin
Pelczar, MJ dan ECS. Chan,. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi jilid II. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia (UI - Press).
Ray, B. 2005. Control by Low pH and Organic Acid di dalam: Fundamental Food
Microbiology, 3rd Eds. 35. 483-490. Boca Raton: CRC Press.
Suharjono. 2006. Mikrobiologi. Malang: Universitas Brawijaya.
Suharni, Theresia Tri dkk. 2008. Mikrobiologi Umum. Penerbit Universitas Atma
Jaya. Yogyakarta.
Waluyo, Lud.2005.Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press.