Anda di halaman 1dari 10

MODUL 3

AMUK

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK IV
NERS B 2012

Karolina Samloy
Maful
Poniman
Anita Pasande
Marzuki
Santy Abduh
Ellyannur Asmar
Kiky Purwanto
Khaerani Darwis
Srikandi Yustianti S
Anriadi
Hermansyah M
Gradiana Grasa

C12112626
C12112627
C12112628
C12112629
C12112630
C12112631
C12112632
C12112633
C12112634
C12112649
C12112650
C12112651
C12112652

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR
2012
Skenario II
Laki-laki berusia 28 tahun masuk RSJ dengan keluhan klien selalu
meneriaki orang dan kadang melempari barang-barang dirumah tanpa
alasan yang jelas. Menurut keluarga hal ini sudah berlangsung selama
seminggu dan sebelumnya klien sering senyum-senyum dan berbicara
sendiri dikamarnya. Satu tahun yang lalu klien ditinggalkan oleh istrinya
karena selingkuh. Semenjak saat itu klien berubah pendiam dan tidak
ingin berbicara dengan orang lain. Klien pernah mencoba bunuh diri 2
bulan setelahnya. Selain itu penampilan klien tidak terurus.
Kalimat/ kata Kunci
-

Laki-laki usia 28 tahun


Masuk RSJ
Selalu meneriaki orang
Klien kadang melempari barang-barang tanpa alasan
Menurut keluarga hal ini berlangsung selama 1 minggu
Klien sebelumnya sering senyum-senyum dan berbicara sendiri

dikamarnya
1 tahun yang lalu klien ditinggalkan istrinya karena selingkuh
Klien berubah pendiam
Klien tidak ingin berbicara dengan orang lain
Klien pernah mencoba bunuh diri
Penampilan klien tidak terurus

Topic tree
definisi

Rentang
respon

etiologi
amuk

Manifestasi

askep

klinis

Pertanyaan penting
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Jelaskan definisi amuk


Jelaskan etiologi amuk
Jelaskan rentang respon
Sebutkan manifestasi klinis
Buatlah pohon masalah
Buatlah askep sesuai kasus

Pengertian
Perilaku

adalah

tingkah

laku

atau

sikap

seseorang

yang

dicerminkan seseorang sebagai kebiasaannya. Kemarahan adalah suatu


perasaan/emosi yang timbul sebagai reaksi terhadap kecemasan yang
meningkat

dan

dirasakan

sebagai

ancaman,

juga

merupakan

reaksi/ungkapan perasaan terhadap keadaan yang tidak menyenangkan


seperti kecewa, tidak puas, tidak tercapai keinginan (Dalami, Ernawati,
TIM. 2009).
Menurut Budi Anna Kelliat 2005, amuk merupakan kemarahan yang
paling maladaftip yang ditandai dengan perasaan marah dan bermusuhan
yang kuat disertai hilangnya kontrol individu dimana individu tersebut
dapat merusak dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan.
Kekerasan yaitu sering juga disebut gaduh-gaduh atau amuk.
Perilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara
menakutkan, memberi kata-kata ancaman-ancaman,melukai disertai

melukai pada tingkat ringan, dan yang paling berat adalah melukai/
merusak secara serius.

Rentang respon marah

Adaptif
Asertif
Asertif

Maladaptif
Frustasi

Pasif

Agresif

Violence

; mengemukakan pendapat/ ekspresi tidak senang/ tidak setuju


tanpa

menyakiti

lawan

bicara.

Hal

ini

menimbulkan

ketegangan.
Frustasi ; respon akibat gagal mencapai tujuan, kepuasan atau rasa
aman.

Individu

tidak

dapat

menunda

sementara

atau

menemukan alternative lain.


Pasif

; perilaku yang ditandai dengan perasaan tidak mampu untuk


mengungkapkan

perasaannya

sebagai

usaha

untuk

mempertahankan hak-haknya. Merasa kurang mampu, HDR,


pendiam, pemalu, sulit diajak bicara.
Agresif

; suatu perilaku yang menyertai marah merupakan dorongan


mental untuk bertindak dan masih terkontrol.

Violence ; rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan


control diri sehingga dapat merusak diri dan lingkungannya.

Etiologi

1. Kehilangan harga diri karena tidak dapat memenuhi kebutuhan


sehingga individu tidak berani bertindak, cepat tersinggung dan lekas
marah.
2. Frustasi akibat tujuan tidak tercapai atau terhambat sehingga individu
merasa cemas dan terancam. Individu akan berusaha mengatasi tanpa
memperhatikan hak-hak orang lain.
3. Kebutuhan aktualisasi diri yang tidak tercapai sehingga menimbulkan
ketegangan dan membuat individu cepat tersinggung.
Faktor predisposisi
a. Biologis
Dalam otak system limbic berfungsi sebagai regulator/pengatur
prilaku. Adanya lesi pada hipotalamus dan amigdala dapat
mengurangi atau meningkatkan perilaku agresif. Perangsangan
pada system neurofisiologis dapat menimbulkan respon-respon
emosional dan ledakan agresif. Penurunan norepinefrin dapat
menstimulasi perilaku agresif misalnya pada peningkatan hormone
testoteron atau progesterone. Pengaturan perilaku agresif adalah
dengan mengatur jumlah metabolism biogenic amino-norepinefrin.
b. Psikologis
Menurut Lorenz, agresif adalah pembawaan individu sejak lahir
sebagai

respon

pertengkaran

terhadap

dan

stimulus

permusuhan.

yang

diterima

berupa

Gagguan

ekspresi

marah

disebabkan karena ketidakmampuan menyelesaikan agresif yang


menyebabkan individu berprilaku destruktif. Menurut Freud, agresi
berasal

dari

rasa

frustasi

akibat

ketidakmampuan

individu

mencapai tujuan. Bila tidak mampu mengekspresikan perasaannya


individu akan marah pada dirinya. Frustasi dirasakan sebagai
ancaman yang dapat mencetuskan perilaku agresif.
c. Sosiokultural
Norma-norma cultural dpt digunakan untuk membantu memahami
ekspresi agresif. Teori lingkungan social mengemukakan bahwa
norma yang memperkuat perilaku disebabkan oleh ekspresi marah

yang dialami sebelumnya. Bila pribadi terganggu oleh kondisi social


maka responnya berupa agresif amuk.
Stressor presipitasi
a.
b.
c.
d.

Ancaman terhadap fisik; pemukulan, penyakit fisik


Ancaman terhadap konsep diri; frustasi, HDR
Ancaman eksternal; serangan fisik, kehilangan orang/benda berarti
Ancaman internal; kegagalan, kehilangan perhatian

Manifestasi Klinis
Respon marah dapat diungkapkan dengan cara:
1. Mengungkapkan secara verbal/langsung pada saat itu sehingga dapat
melegakan individu dan membantu orang lain untuk mengerti
perasaannya.
2. Menekan kemarahan atau pura-pura tidak marah. Hal ini mempersulit
diri dan mengganggu hubungan interpersonal.
3. Menentang atau melarikan diri. Cara ini

menimbulkan

rasa

bermusuhan dan bila dipakai terus menerus kemarahan dapat


diekspresikan pada diri sendiri atau orang lain sehingga akan tampak
sebagai psikosomatis atau agresi amuk.
Perubahan yang terjadi:
1. Fisiologi
Tekanan darah dan respirasi meningkat, napas dangkal, tonus otot
meningkat, muka merah, peningkatan saliva, mual, penurunan
peristaltic lambung atau perubahan kadar HCL lambung, fight atau
flight, peningkatan frekuensi berkemih, dilatasi pupil.
2. Emosi
Jengkel, labil, tidak sabar, ekspresi wajah tegang, pandangan tajam,
merasa tidak aman, bermusuhan, marah, bersikeras, dendam,
menyerang, takut, cemas, merusak benda.
3. Intelektual
Bicara mendominasi, bawel, berdebat, meremehkan, konsentrasi
menurun, persuasif.
4. Social
Menarik diri, sinis, curiga, agresif, mengejek, menolak, kasar, humor.

5. Spiritual
Ragu-ragu, moral bejat, maha kuasa, kebajikan.

Pohon masalah
defisit perawatan diri

Resiko bunuh diri efek


Perilaku kekerasan ... ..core problem
Gangguan persepsi sensori:
Halusinasi pendengaran
isolasi social..... causa
koping individu tidak efektif

Analisa data
Data

Problem
Perilaku kekerasan

Ds:
Keluarga

mengatakan

klien

selalu meneriaki orang dan


kadang melemparkan barang
di rumah tanpa alasan yang
jelas
Keluarga mengatakan Hal ini
sudah

berlangsung

selama

seminggu
DS :

Risiko bunuh diri

Keluarga mengatakan Klien


mencoba bunuh diri 2 bulan
setelahnya
Ds:

Gangguan

Keluarga mengatakan Klien Halusinasi


sering senyum senyum sendiri
Ds:
Keluarga mengatakan

persepsi

sensori

pendengaran

dan

penglihatan
Isolasi sosial : menarik diri

Klien

berubah pendiam dan tidak


ingin berbicara dengan orang
lain sejak setahun yang lalu
Do:

Devisit perawatan diri

Penampilan Klien tidak terurus

Informasi baru
Diagnose keperawatan yang bisa muncul (Budi Anna Keliat dkk, 2005):
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Resiko cedera
Perilaku kekerasan
Gangguan konsep diri: harga diri rendah
Gangguan pemeliharaan kesehatan
Deficit perawatan diri
Ketidakefektifan koping
Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik

Alternative diagnosis yang disarankan menurut Nanda Intervensi NIC,


Kriteria Hasil NOC, 2011:
1. Ansietas
2. Koping kelluarga, ketidakefektifan

3. Koping, ketidakefektifan
4. Harga diri rendah, kronis
5. Harga diri rendah, situasional
Sintesis dan analisis Informasi
Dalam kasus teori diagnose yang didapat adalah:
Perilaku kekerasan

Daftar pustaka
Budi Anna Keliat, dkk. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi
2. Jakarta:EGC.
Dalami, Ernawati, dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan jiwa, TIM. Jakarta: CV. Trans Info Medika.
Doenges, Marilyn E. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatrik, Edisi
3. Jakarta: EGC.
Marry C. Townsend. 2010. Buku Saku Diagnosis Keperawtaan Psikiatri.
Jakarta: EGC
Muhith Abdul & Nasir Abdul. 2011. Dasar dasar Keperawatan Jiwa;
Pengantar dan teori. Jakarta: Salemba Medika.
Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 5. Jakarta: EGC
Videbeck,Sheila.J. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Wilkinson, Judith M. dan Nancy R Ahern. 2011. Buku saku Diagnosa


Keperawatan, Diagnosis Nanda, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC,
Edisi 9. Jakarta: EGC.