Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Pengertian DHF
Demam dengue/DHF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue
haemoragic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri
sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan
diastesis haemoragic (Suhendro, dkk, 2007 : 1709).
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang
disebabkan oleh arbovirus (arthropodbom virus) dan ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes (Aedes albopictus dan Aedes aegypti) (ngastiyah,
2005 : 368)
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang
disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi
mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief
Mansjoer & Suprohaita; 2000; 419).
B. Etiologi
1. Virus dengue
Deman dengue dan demamm berdarah dengue disebabkan oleh
virus dengue, yang termasuk dalam genus flavivirus, keluarga
flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 mm
terdiri dari asam aribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x
106. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN4 yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue dan demam
berdarah dengue. Keempat serotipe ditemukan di Indonesia dengan
DEN-3 merupakan serotip terbanyak (Suhendro, 2007 : 1709).
Virus Dengue merupakan keluarga flaviviridae dengan empat
serotip (DEN 1, 2, 3, 4). Terdiri dari genom RNA stranded yang
dikelilingi oleh nukleokapsid. Virus Dengue memerlukan asam

nukleat untuk bereplikasi, sehingga mengganggu sintesis protein sel


pejamu. Kapasitas virus untuk mengakibatkan penyakit pada pejamu
disebut virulensi. Virulensi virus berperan melalui kemampuan virus
untuk :
a. Menginfeksi lebih banyak sel,
b. Membentuk virus progenik,
c. Menyebabkan reaksi inflamasi hebat,
d. Menghindari respon imun mekanisme efektor
2. Vektor
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui
vektor yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes
polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang
kurang berperan berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan
menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan
tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya
(Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420).
Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan
vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya
melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting
di daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural)
kedua nyamuk tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes
berkembang biak pada genangan Air bersih yang terdapat bejana
bejana yang terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang
terdapat di luar rumah di lubang lubang pohon di dalam potongan
bambu, dilipatan daun dan genangan air bersih alami lainnya ( Aedes
Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai menghisap darah
korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari dan senja
hari. (Soedarto, 1990 ; 37).
3. Host
Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya
maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak

sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue


yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. Dengue
Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah
mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi
ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi
yang mendapat infeksi virus dengue huntuk pertama kalinya jika ia
telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui
plasenta. (Soedarto, 1990 ; 38).
C. Klasifikasi
WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya
menjadi 4 golongan, yaitu :
1. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7
hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan
spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan
gusi.
3. Derajat III
Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan
cepat ( >120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( 120 mmHg ), tekanan
darah menurun, ( 120/80 120/100 120/110 90/70 80/70
80/0 0/0 )
4. Derajat IV
Nadi tidak teaba, tekanan darah tidak teatur (denyut jantung
140x/mnt) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak
biru.
D. Manifestasi Klinis
1. Demam : demam tinggi timbul mendadak, terus menerus, berlangsung
dua sampai tujuh hari turun secara cepat menuju suhu normal atau
lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsung demam, gejala gejala

klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. Nyeri punggung , nyeri


tulang dan persediaan, nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyetainya.
2. Perdarahan : perdarahan disini terjadi akibat berkurangnya trombosit
(trombositopeni) serta gangguan fungsi dari trombosit sendiri akibat
metamorfosis trombosit. Perdarahan dapat terjadi di semua organ yang
berupa:
a. Uji torniquet positif
b. Ptekie, purpura, echymosis dan perdarahan konjungtiva
c. Epistaksis dan perdarahan gusi
d. Hematemesis, melena
e. Hematuri
3. Hepatomegali :
a. Biasanya dijumpai pada awal penyakit
b. Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit
c. Nyeri tekan pada daerah ulu hati
d. Tanpa diikuti dengan ikterus
e. Pembesaran ini diduga berkaitan dengan strain serotipe virus
dengue
4. Syok : Yang dikenal dengan DSS , disebabkan oleh karena :
Perdarahan dan

kebocoran plasma didaerah intravaskuler melalui

kapiler yang rusak. Sedangkan tanda-tanda syok adalah:


a. Kulit dingin, lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki
b. Gelisah dan Sianosis disekitar mulut
c. Nadi cepat, lemah , kecil sampai tidak teraba
d. Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80
mmHg atau kurang dari 80 mmHg)
e. Tekanan nadi menurun (sampai 20mmHg atau kurang)
5. Trombositopeni: Jumlah trombosit dibawah 150.000 /mm3 yang
biasanya terjadi pada hari ke tiga sampai ke tujuh.
6. Hemokonsentrasi : Meningkatnya
indikator kemungkinan terjadinya syok.

nilai

hematokrit

merupakan

7. Gejala-gejala lain :anoreksi , mual muntah, sakit perut, diare atau


konstipasi serta kejang, penurunan kesadaran

E. Pemeriksaan dan Diagnosis


1. Uji Torniquet
Tes

tourniquet

merupakan

metode

(Rumpel-Lende)/
diagnostik

tes

klinis

kerapuhan
untuk

kapiler

menentukan

kecenderungan perdarahan pada pasien. Penilaian kerapuhan dinding


kapiler digunakan untuk mengidentifikasi trombositopinia. Metode ini
merupakan syarat diagnosis DBD menurut WHO.
2. Laboratorium
a. Hb dan PCV meningkat ( 20% )
b. Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )
c. Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder
d. Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali
( setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda
perbaikan ), Faal hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN,
creatinin serum.
e. Hemokonsentrasi yaitu terjadi peningkatan nilai hematokrit > 20
%. Meningginya hematokrit sangat berhubungan dengan
beratnya

renjatan.

Hemokonsentrasi

selalu

mendahului

perubahan tekanan darah dan nadi, oleh kerena itu pemeriksan


hematokrit secara berkala dapat menentukan sat yang tepat
penghentian pemberian cairan atau darah.
f. Trombositopenia, akan terjadi penurunan trombosit sampai
dibawah 100.000 mm3
g. Sediaan hapusan darah tepi, terdapat fragmentosit, yang
menandakan terjadinya hemolisis

h. Sumsum tulang, terdapatnya hipoplasi sistem eritropoetik


disertai hiperplasi sistem RE dan terdapatnya makrofag dengan
fagositosis dari bermacam jenis sel
i. Elektrolit, : hiponatremi (135 mEq/l). terjadi hiponatremi karena
adanya kebocoran plasma,anoreksia, keluarnya keringat, muntah
dan intake yang kurang
j. Hiperkalemi , asidosis metabolic
k. Tekanan onkotik koloid menurun, protein plasma menurun,
Serum transaminasi meningkat.
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :
1. Tirah baring atau istirahat baring.
2. Diet makan lunak.
3. Minum banyak (2 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis,
sirup dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal
yang paling penting bagi penderita DHF.
4. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali)
merupakan cairan yang paling sering digunakan.
5. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan)
jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.
6. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.
7. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen
8. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
9. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.
10. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan
tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk.
11. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam.
G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian

Pengkajian pada anak dengan Penyakit infeksi

Demam Berdarah

Dengue Menurut Nursalam 2005 adalah :


a. Identitas pasien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua,
pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua.
b. Keluhan utama
Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien Demam Berdarah
Dengue untuk datang ke Rumah Sakit adalah panas tinggi dan
anak lemah.
a. Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai
menggigil, dan saat demam kesadaran komposmentis. Turunnya
panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 dan anak semakin lemah.
Kadang-kadang disertai dengan keluhan batuk pilek, nyeri telan,
mual, muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri
otot dan persendian, nyeri uluh hati, dan pergerakan bola mata
terasa pegal, serta adanya manisfestasi perdarahan pada kulit, gusi
(grade 3 dan 4), melena, atau hematemesis.
b. Riwayat penyakit yang pernah diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada Demam Berdarah
Dengue, anak bisa mengalami serangan ulangan Demam
Berdarah Dengue dengan tipe virus yang lain.
c. Riwayat imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang

baik,

maka

kemungkinan akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.


d. Riwayat gizi
Status gizi anak yang menderita Demam Berdarah Dengue dapat
bervariasi. Semua anak dengan status gizi baik maupun buruk
dapat beresiko, apabila terdapat faktor predisposisinya. Anak
yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah,
dan napsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut, dan
tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka
anak dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status
gizinya menjadi kurang.
e. Kondisi lingkungan

Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan


yang kurang bersih (seperti air yang menggenang dan gantungan
baju di kamar).
f. Pola kebiasaan
1) Nutrisi dan metabolisme: frekuensi, jenis, pantangan, napsu
makan berkurang, napsu makan menurun.
2) Eliminasi atau buang air besar. Kadang-kadang anak
mengalami diare atau konstipasi. Sementara Demam Berdarah
Dengue pada grade III-IV bisa terjadi melena.
Eliminasi urine atau buang air kecil perlu dikaji apakah sering
kencing sedikit atau banyak sakit atau tidak. Pada Demam
Berdarah Dengue grade IV sering terjadi hematuria.
3) Tidur dan istirihat. Anak sering mengalami kurang tidur karena
mengalami sakit/nyeri otot dan persendian sehingga kuantitas
dan kualitas tidur maupun istirahatnya kurang.
4) Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri
dan

lingkungan

cenderung

kurang

terutama

untuk

membersikan tempat sarang nyamuk Aedes Aegypti.


5) Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta
upaya untuk menjaga kesehatan.
g. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan
perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan
tingkatan atau (grade) Demam Berdarah Dengue
1) Keadaan umum
Kesadaran : Composmentis, samnolen, koma (tergantung
derajat DHF)
TTV : Biasanya terjadinya penurunan
2) Kepala
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam
(flusy), mata anemis, hidung kadang mengalami perdarahan
(epistaksis) pada grade II, III, IV. Pada mulut didapatkan
bahwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi dan
nyeri telan. Sementara tenggorokan mengalami hiperemia
pharing (pada Grade II, III, IV).
3) Thorak

Paru : Pernafasan dangkal, pada perkusi dapat ditemukan


bunyi redup karena efusi fleura
Jantung : Dapat terjadi anemia karena ekurangan cairan
Abdomen : Nyeri ulu hati, pada palpasi dapat ditemukan
pembesaran hepar dan limpa
4) Ekstremitas : Nyeri sendi
5) Kulit : Ditemukan ptekie, ekimosis, purpura, hematoma,
hyperemia
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Nursalam 2005 diagnosa keperawatan yang muncul antara
lain:
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan
infeksi virus.
b. Nyeri berhubungan dengan gangguan metabolisme pembuluh
darah perifer.
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada napsu
makan.
d. Potensial

terjadi

perdarahan

berhubungan

dengan

trombositopenia.
e. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan
dengan permeabilitas kapiler, muntah dan demam.
f. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan
tubuh.
3. Intervensi
Rencana keperawatan Pada anak dengan penyakit infeksi Demam
Berdarah Dengue menurut Nursalam 2005, Wong Dona L 2003 dan
Doenges, Marilynn, E. dkk, 1999. adalah :
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan infeksi
virus.
Tujuan :Anak menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.
Kriteria hasil :Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal,
bebas dari kedinginan.
Intervensi Keperawatan

1) Observasi tanda-tanda vital : suhu, nadi, tensi dan pernapasan


setiap 3 jam atau sering lagi.
Rasional : Suhu 38,9-41,1oc menunjukkan proses penyakit
infeksius akut. Pola demam dapat membantu dalam diagnosis.
2) Berikan penjelasan mengenai penyebab demam atau
peningkatan suhu tubuh.
Rasional : Untuk memberikan pengetahuan pemahaman
tentang penyebab dan memberikan kesadaran kebutuhan
belajar.
3) Berikan penjelasan kepada keluarga

tentang hal-hal yang

dapat dilakukan untuk mengatasi demam.


Rasional : Perubahan dapat lebih tampak oleh orang terdekat,
meskipun adanya perubahan dapat dilihat oleh orang lain yang
jarang kontak dengan pasien.
4) Catatlah asupan dan keluaran cairan.
Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan baik
intake maupun output.
5) Anjurkan anak untuk banyak minum paling tidak 2,5 liter
tiap 24 jam dan jelaskan manfaat bagi anak.
Rasional : Untuk mempercepat proses penguapan melalui
urine dan keringat, selain itu dimaksudkan untuk mengganti
cairan tubuh yang hilang.
6) Berikan kompres dingin pada daerah axila dan lipatan paha.
Rasional : kompres air dingin dapat memberikan efek
vasodilatasi pembululuh darah.
7) Anjurkan agar anak tidak memakai selimut dari pakaian yang
tebal.
Rasional : Untuk memudahkan dalam proses penguapan.
8) Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai dengan
program dokter.
Rasional : Pemberian terapi cairan intravena untuk mengganti
cairan yang hilang dan obat-obatan sebagai preparat yang di
formulasikan untuk penurunan panas.
b. Nyeri berhubungan dengan gangguan metabolisme pembuluh
darah perifer.
Tujuan : Nyeri berkurang atau terkontrol
Kriteria hasil : Anak tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri

Intervensi keperawatan.
1) Kaji tingkat nyeri yang dialami anak dengan menggunakan
skala nyeri (0-10). Biarkan anak memutuskan tingkat nyeri
yang dialami. Tipe nyeri yang dialami dan respons anak
terhadap nyeri.
Rasional : Mengindikasi kebutuhan untuk intervensi dan juga
tanda-tanda perkembangan resolusi komplikasi.
2) Atur posisi yang nyaman dan usahakan situasi yang tenang.
Rasional : Posisi yang nyaman dan situasi yang tenang dapat
mengurangi rasa nyeri atau mengurangi stimulus nyeri.
3) Ciptakan suasana yang gembira pada anak, alihkan perhatian
anak dari rasa nyeri (libatkan keluarga) misalnya: membaca
buku, mendengar musik, dan menonton TV.
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri pada anak.
4) Berikan kesempatan pada anak untuk berkomunikasi dengan
teman-temannya atau orang terdekat.
Rasional : Dapat menguragi ansietas dan rasa takut, sehingga
mengurangi persepsi akan intensitas rasa sakit.
5) Berikan obat-obat analgetik (kolaborasi dengan dokter).
Rasional : Memberikan penurunan nyeri/tidak nyaman.
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada napsu makan.
Tujuan
: Anak menunjukkan tanda-tanda kebutuhan nutrisi
yang adekuat.
Kriteria hasil :

Anak mengkonsumsi jumlah makanan yang

adekuat.
Intervensi keperawatan
1) Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami
oleh anak.
Rasional : Untuk memberikan nutrisi yang optimal meskipun
kehilangan napsu makan serta memotivasi anak agar mau
makan.
2) Berikan makanan yang mudah ditelan, seperti bubur dan tim,
serta dihidangkan selagi masih hangat
Rasional : Memudahkan proses menelan dan meringankan
kerja lambung untuk mencerna makanan dan menghindari rasa
mual.

3) Anganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan


dengan teknik porsi kecil tetapi sering.
Rasional : karena porsi biasanya ditoleransi dengan lebih
baik.
4) Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, dan
dengan skala yang sama.
Rasional : Untuk membantu status nutrisi.
5) Mempertahankan kebersihan mulut pasien
Rasional : Untuk merangsang napsu makan.
6) Mempertahankan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk
penyembuhan penyakit.
Rasional : Untuk menghindari intoleransi makanan.
7) Jelaskan pada keluarga manfaat makanan/ nutrisi bagi anak
terutama saat sakit.
Rasional : Makanan merupakan penambahan tenaga bagi
orang sakit.
8) Catatlah jumlah/porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien
setiap hari.
Rasional : Untuk mengetahui jumlah intake makanan dan
penentuan dalam pemberian diet dan selanjutnya.
d. Potensial terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
Tujuan : tidak terjadi perdarahan
Kriteria hasil : Jumlah trombosit dalam batas normal.
Intervensi Keperawatan
1) Monitor penurunan trombosit yang di sertai dengan tanda
klinis
Rasional : Untuk mengetahui perkembangan penyakit apabila
terjadi perdarahan bawah kulit.
2) Monitor jumlah trombosit setiap hari
Rasional : Mengetahui nilai batas normal dan perkembangan
penyakit.
3) Berikan penjelasan mengenai pengaruh trombositopenia pada
pada anak.
Rasional : Penjelasan yang akurat tentang trombositopenia
merupakan faktor penyebab terjadinya syok apabila terjadi
penurunan trombosit yang hebat.
4) Anjurkan anak untuk banyak istirahat
5) Rasional : Memberikan relaksasi untuk anggota organ tubuh
serta membantu dalam proses penyembuhan.

e. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan


permeabilitas kapiler, muntah dan demam.
Tujuan : Anak menunjukkan terpenuhinya tanda-tanda kebutuhan
cairan.
Kriteria hasil :
Anak mendapatkan cairan yang cukup
Menunjukkan tanda-tanda hidrasi yang adekuat yang dibutuhkan
dengan tanda-tanda vital dan turgor kulit yang normal, membran
mukosa lembab.
Intervensi keperawatan
1) Monitor keadaan umum pasien
Rasional : Untuk mengetahui perkembangan penyakit.
2) Observasi tanda-tanda vital setiap 2-3 jam.
Rasional : Untuk meningkatkan hidrasi dan mencegah
dehidrasi.
3) Perhatikan keluhan pasien seperti mata kunang-kunang,
pusing, lemah, ekstremitas dingin dan sesak napas.
Rasional : Untuk mengetahui perubahan yang terjadi bila
adanya kekurangan cairan sehingga mendapatkan perawatan
lebih baik.
4) Mengobservasi dan mencatat intake dan output.
Rasional : Untuk menentukan status hidrasi
5) Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan
tubuh.
Rasional : Menentukan adanya ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit.
6) Monitor nilai laboratorium : elektrolit darah, serum albumin.
Rasional : Menentukan adanya ketidakseimbangannya cairan
dan elektrolit.
7) Mempertahankan intake dan output yang adekuat.
Rasional : Pemenuhan kebutuhan cairan menurunkan resiko
dehidrasi.
8) Monitor dan mencatat berat badan.
Rasional : merupakan indikator cairan dan nutrisi.
9) Pasang infus dan beri terapi cairan intravena jika terjadi
perdarahan (kolaborasi dengan dokter)
Rasional
: Pemberian infus dimaksudkan untuk mengganti
cairan yang hilang akibat kebocoran plasma

f. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan


tubuh.
Tujuan :
Anak mendapat istirahat yang adekuat
Kriteria hasil :
Anak melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan.
Kebutuhan istirahat anak terpenuhi.
Intervensi keperawatan
1) Bantulah anak untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
seperti: mandi, makan dan eliminasi, sesuai dengan tingkat
keterbatasan anak.
Rasional : Melindungi anak dari cedera selama melakukan
aktivitas dan memungkinkan penghematan energi atau
kelemahan tubuh.
2) Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan anak
Rasional : Bantuan keluarga membuat anak merasa aman
secara moril dan fisik serta membantu perawat dalam
memenuhi kebutuhan pasien.
3) Dekatkan dan siapkan alat-alat yang dibutuhkan di dekat anak
Rasional : Memudahkan
pasien
dapat
mengambil
keperluannya.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall.2000.Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktis klinis
edisi 6. Jakarta.EGC
Doengoes, Marilynn E, dkk.2000. Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:EGC.
Effendy, Christantie, (1995), Perawatan Pasien DHF, EGC ; Jakarta.
Hendarwanto, (1996), Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga, FKUI ; Jakarta.
Mansjoer, Arif, dkk.2001.Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta:Media Aeculapius
FKUI.
Soedarto.2002.Sinopsis Klinis Penyebab, Gejala Klinis Diagnosa Banding,
Diagnosa Laboratoris dan Terapi.Surabaya:Airlangga.University Press.
Sunaryo, Soemarno, (1998), Demam Berdarah Pada Anak, UI ; Jakarta.
Sunaryo, Soemarno, (1998), Demam Berdarah Pada Anak, UI ; Jakarta.

Suyono, Slamet, dkk.2001.Ilmu Penyakit Dalam jilid 1 edisi ketiga.Jakarta:Balai


Penerbit FKUI.