Anda di halaman 1dari 20

BAB I

TINJAUAN TEORI
1. DEFINISI
Spirituality berasal dari bahasa latin spiritus yang berarti nafas atau
udara.spirit memberikan hidup,menjiwai seseorang. Spirit memberikan arti penting ke
hal apa saja yang sekiranya menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan seseorang
( Dombeck,1995).
Spirituality adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan,
pengalaman

hidup

kepercayaan

dan

nilai

kehidupan.

Spiritualitas

mampu

menghadirkan cinta, kepercayaan, dan harapan, melihat arti dari kehidupan dan
memelihara hubungan dengan sesama. (Perry Potter, 2003).
Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan
mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain, seni, musik,
literature, alam dan kekuatan yang lebih besr dari dirinya (Nanda, 2005).
2. PENYEBAB/ETIOLOGI
Menurut Vacarolis (2000) penyebab distres spiritual adalah sebagai berikut :
a.

Pengkajian Fisik Abuse

b.

Pengkajian Psikologis Status mental, mungkin adanya depresi, marah, kecemasan,


ketakutan, makna nyeri, kehilangan kontrol, harga diri rendah, dan pemikiran yang
bertentangan (Otis-Green, 2002).
Pengkajian Sosial Budaya dukungan sosial dalam memahami keyakinan klien

c.

(Spencer, 1998).
1. Faktor Predisposisi
Gangguan pada dimensi biologis akan mempengaruhi fungsi kognitif seseorang
sehingga akan mengganggu proses interaksi dimana dalam proses interaksi ini akan terjadi
transfer pengalaman yang penting bagi perkembangan spiritual seseorang.
Faktor predisposisi sosiokultural meliputi usia, gender, pendidikan, pendapatan,
okupasi, posisi sosial, latar belakang budaya, keyakinan, politik, pengalaman sosial, tingkatan
sosial.

2. Faktor Presipitasi
1

a. Kejadian Stresfull
Mempengaruhi perkembangan spiritual seseorang dapat terjadi karena perbedaan
tujuan hidup, kehilangan hubungan dengan orang yang terdekat karena kematian,
kegagalan dalam menjalin hubungan baik dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan
dan zat yang maha tinggi.
b. Ketegangan Hidup
Beberapa ketegangan hidup yang berkonstribusi terhadap terjadinya distres spiritual
adalah ketegangan dalam menjalankan ritual keagamaan, perbedaan keyakinan dan
ketidakmampuan menjalankan peran spiritual baik dalam keluarga, kelompok maupun
komunitas.
3. PATOFISIOLOGI
Berhubungan dengan tantangan pada sistem keyakinan atau perpisahan dari ikatan
spiritual sekunder akibat : kehilangan bagian atau fungsi tubuh, penyakit terminal,
penyakit yang membuat kondisi lemah, nyeri, trauma, keguguran, kelahiran, dan mati.
4. BATASAN KARAKTERISTIK
1. Hubungan dengan diri
a. Ungkapan kekurangan
1) Harapan
2) Arti dan tujuan hidup
3) Perdamaian/ketenangan
b. Penerimaan
c. Cinta
d. Memaafkan diri sendiri
e. Keberanian
1) Marah
2) Kesalahan
3) Koping yang buruk
2. Hubungan dengan orang lain
a. Menolak berhubungan dengan tokoh agama
b. Menolak interaksi dengan tujuan dan keluarga
c. Mengungkapkan terpisah dari sistem pendukung
d. Mengungkapkan pengasingan diri
3. Hubungan dengan seni, musik, literatur, dan alam
a. Ketidakmampuan untuk mengungkapkan kreativitas (bernyanyi, mendengarkan
musik, menulis)
b. Tidak tertarik dengan alam
c. Tidak tertarik dengan bacaan keagamaan
4. Hubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya
a. Ketidakmampuan untuk berdoa
b. Ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan
c. Mengungkapkan terbuang oleh atau karena kemarahan Tuhan
d. Meminta untuk bertemu dengan tokoh agama
2

e. Tiba-tiba berubah praktik agama


f. Ketidakmampuan untuk introspeksi
g. Mengungkapkan hidup tanpa harapan, menderita (Nanda Nic-Noc)
5. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
a. Ancaman kematian
b. Asing tentang diri sendiri
c. Asing tentang social
d. Kehilangan bagian tubuh
e. Kehilangan fungsi bagian tubuh
f. Kejadian hidup tidak terduga
g. Kelahiran bayi
h. Kematian orang terdekat
i. Kesepian
j. Menerima kabar buruk
k. Nyeri
l. Menjelang ajal, dll (Diagnosa Keperawatan, 2015-2017)

BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. X DENGAN DISTRESS SPIRITUAL
1) PENGKAJIAN
A. Identitas

: Umur menentukan peningkatan stress

B. RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan Utama : Biasanya yang dirasakan adalah pusing kepala
b. Riwayat kesehatan sekarang : Biasanya sejak kapan timbulnya stress tersebut
c. Riwayat kesehatan dahulu :

Biasanya memiliki riwayat penyakit yang sama atau


penyakit lain yang dideritanya

d. Riwayat kesehatan keluarga : Biasanya keluarga memiliki riwayat penyakit yang sama
atau penyakit lain yang diderita oleh anggota keluarga
yang lain baik bersifat genetik atau tidak
C. POLA FUNGSI KESEHATAN
1. Pola Manajemen Kesehatan dan Persepsi Kesehatan
a. Arti sehat dan sakit
b. Pengetahuan status kesehatan saat ini
c. Perlindungan terhadap kesehatan : Program skrining, kunjungan kepusat layanan
3

kesehatan, diet, latihan dan olahraga, manajemen, stress, factor ekonomi


d. Pemeriksaan diri sendiri : Riwayat, medis keluarga, pengobatan yang telah dilakukan
e. Perilaku untuk mengatasi masalah
f. Data pemeriksaan fisik yang berkaitan
2. Pola Nutrisi / Metabolisme
a. Menggambarkan masukan nutrisi & keseimbangan cairan
b. Intake nutrisi (frekuensi, jumlah & komposisi) : (Makan sehari berapa kali, jumlahnya
berapa porsi dalam satu kali makan, jenis makanan apa saja yang dimakan.)
c. Intake cairan (frekuensi, jumlah & jenis) : (Minum sehari berapa kali, jumlahnya berapa
porsi dalam satu kali makan, jenis minum apa yang diminum.)
d. Nafsu makan : (Baik, tidak ada, berlebihan, kurang, atau sedang)
e. Masalah dengan makan : (Ada atau tidak masalah dalam makan)
f. Makanan kesukaan : (Jenis makanan yang disukai)
g. Alergi makanan : (Mempunyai alergi makanan apa tidak)

3. Pola Eliminasi
a. Eliminasi Uri
Pola BAK (frekuensi, waktu, jumlah) : (BAK sehari berapa kali, kapan saja waktu untuk
BAK, jumlah BAK nya berapa ml)
Karakteristik (warna, kejernihan, bau, endapan) : (warna urin, jernih atau tidak, berbau
apa tidak, ada endapan atau tidak)
Faktor yang mempengaruhi BAK : (faktor yang mempengaruhi px untuk BAK apa saja)
Masalah eliminasi uri : (ada atau tidak)
b. Eliminasi Alvi
Pola BAB (frekuensi, waktu) : (BAB sehari berapa kali, kapan saja waktu untuk BAB)
Karakteristik keluaran feses (bau, jumlah) : (berbau apa tidak, jumlah BAB apa saja)
Masalah dengan BAB : (ada atau tidak)
Faktor yang mempengaruhi BAB : (faktoryang mempengaruhi px untuk BAK apa saja)
Penggunaan laksantif : (menggunakan atau tidak)
4. Pola Aktivitas Latihan
Pola aktifitas ysng dilakukan
a. Aktivitas diwaktu luang : (Aktivitas yang ada dalam waktu luang)
c. Masalah dalam aktivitas : (Ada masalah atau tidak dalam beraktivitas)
4

d. Penggunaan alat bantu : (Menggunakan alat bantu atau tidak)


e. Aktivitas sejak sakit : (Apa saja aktivitas pada saat sakit)
5. Pola Istirahat Tidur
a. Kebiasaan pola tidur (waktu, jumlah, kualitas) : (Kapan saja tidur, tidur berapa kali
sehari, sering terbangun atau tidak)
b. Dampak pola istirahat tidur terhadap aktivitas sehari hari : (Ada atau tidak dampak
yang dialami)
c. Kesulitan tidur : (Merasa kesulitan tidur atau tidak)
d. Alat bantu tidur : (Mengguanakan alat bantu tidur atau tidak)
6. Pola Kognitif Perseptual
a. Kemampuan panca indra (pendengaran, penglihatan, penciuman) : (Mamp mendengar,
melihat, mencium bau secara normal atau tidak)
b. Pemakaian alat bantu pendengaran, penglihatan : (Menggunakan alat bantu atau tidak)
c. Masalah perseptual : (Mempunyai masalah sensori perseptual)
d. Perubahan memori : (Selama sakit mengalami perubahan memori atau tidak)
e. Presepsi nyeri & penanganan nyeri (P,Q,R,S,T) : (Penyebab nyerinya apa, kualitas
nyerinya bagaimana, dibagian mana yang mengalami nyeri, skala nyerinya berapa, kapan
saja waktu yang dialami ketika nyeri)
7. Konsep Diri / Persepsi Diri
Konsep diri :
a. Body Image : (Merupakan gambaran tubuh atau diri ketika sakit)
b. Self Ideal : (Merupakan ideal diri ketika sakit)
c. Self Esteem : (Harga diri ketika sakit)
d. Role : (Peran selama sakit terganggu atau tidak)
e. Identitas : (Menjelaskan tentang identitas)
8. Pola Hubungan Peran
a. Keefektifan peran : (Selama sakit peran yang dilakukan efektif atau tidak)
b. Hubungan dengan orang terdekat : (Bagaimana hubungan dengan orang terdekat selam
sakit)
c. Efek perubahan peran terhadap hubungan : (Ada atau tidak efek perubahan peran
terhadap hubungan dengan orang sekitar)
9. Pola Seksualitas Reproduksi
a. Dampak sakit terhadap seksualitas : (Ada atau tidak dampak sakit terhadap seksualitas)
b. Riwayat haid : Masih mengalami haid apa tidak)
5

c. Tindakan pengendalian kelahiran : (Ada atau tidak tindakan yang dilakukan untuk
pengendalian kelahiran)
d. Riwayat penyakit hubungan seksual : (Punya atau tidak riwayat penyakit hubungan
seksual)
10. Pola Koping Toleransi Stress
a. Penggunaan sistem pendukung : (Sistem pendukung apa yang digunakan)
b. Stressor sebelum sakit :( (Adakah stres atau penyebab lain yang dapat menyebabkan
sakit)
c. Metode koping yang biasa digunakan : (Metode apa saja yang biasnya digunakan agar
tidak menyebabkan stres)
d. Faktor faktor yang mempengaruhu koping : (Apa saja faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi koping)
e. Efek penyakit terhadap tingkat stress : (Penyakit yang diderita menjadikan efek
peningkatan stres atau tidak)
f. Penggunaan alkohol & obat lain untuk mengatasi stress : (Apakah mengguanakan
alkohol dan obat lain untuk mengatasi stres)
11. Pola Nilai Kepercayaan
a. Agama : (Agama apa yang dianut)
b. Kegiatan keagamaan & budaya : (Ba gaimana kegiatan dalam keagamaan dan
budayanya selama sakit)
Pemeriksaan Fisik
1. Kepala dan Leher :
a. Rambut : Rambut bersih atau tidak, warna raambutnya apa, beruban atau tidak,
rambutnya rontok apa tidak, ada benjolan atau tidak.
b. Wajah : Bentuk wajahnya simetris apa tidak, ada lukaapa tidak.
c. Mata : Simetris atau tidak kanan dan kiri, konjungtiva berwarna merah mda, pucat, atau
icterus, sklera putih atau tidak,reaksi pupil bai atau tidak.
d. Hidung : Bersih atau tidak, terdapat serumen atau tidak.
e. Telinga : Simetris atau tidak, bersih atau tidak, terdapat lesi atau tidak.
f. Mulut : Mukosa bibir kering apa tidak, warna bibirnya apa, ada sariawan atau tidak.
g. Gigi : Ada gigi palsu apa tidak, jumlah gigi yang masih ada berapa, ada karies apa tidak
h. Leher : Ada benjolan atau tidak, edema atau tidak.
2. Pemeriksaan Thorak
6

a. Pulmonum
Inspeksi : Bentuk dada simetris atau tidak, frekuensi pernafasan dalam batas normal apa
tidak (normal: 16-20 kali/menit) pola pernafasan cupnca atau tidak, menggunakan alat
bantu pernfasan atau tidak
Palpasi : Tactil fremitus
Perkusi : Suara paru sonor, redup, pekak
Auskultasi : Suara nafas (vesikuler, bronkovesikuler, bronkhial), suara tambahan
(wheezing, ronkhi, dan lain-lain)
b. Jantung
Inspeksi : Bentuk precodium simetris atau tidak, perubahan bentuk seperti cekung dan
kembung, denyut appeks jantung normal berbentuk tonjolan kecil, denyut nadi ada dada
simetris atau tidak denyut vena pada dada dan punggung normalnya tidak terlihat
Palpasi : Denyut appeks jantung normal biasanya dipalpasi
Perkusi : Jantung kondisi normal bila luas kanan dan kiri seimbang
Auskultasi : Suara jantung normal bila tidak ada suara bising dan tidak terdengar melemah
c. Abdomen
Inspeksi : Bentuk abdomen simetris apa tidak, datar(flat), cekung, atau buncit, umbilicus
keluar atau tidak, ada luka atau tidak
Palpasi : Ada nyeri tekan apa tidak, ada pembesaran hepar atau tidak, terdapat apendisitis
atau tidak
Perkusi : Normal(timpani), pekak, atau redup
Auskultasi : Peristaltic usus, normalnya 5-35x/menit atau tiap 5-15 detik sekali.
d. Genetalia Anus :
Genetalia :
Pernah mengalami atau ada kelainan genetalia apa tidak, terpasang kateter apa tidak
Anus :
Pernah mengalami atau ada kelainan pada anus apa tidak
e. Ekstremitas : Kekuatan otot lemah apa tidak, kekuatan ototnya pada skala berapa
f. Integument : Turgor kulit baik apa tidak, sianosis apa tidak.
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Lab
b. Foto Rontgen
c. Usg
7

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system
pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi
ancaman kematian.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Intervensi
Rasional
1 Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakanBagi
klien
praktek atau ritual keagamaan atau spiritual yangmendapatkan
diinginkan bila yang memberi kesempatan pada klienpada
untuk melakukannya.

doa

yang

nilai
atau

tinggi
praktek

spiritual lainnya, praktek ini


dapat memberikan arti dan
tujuan dan dapat menjadi
sumber

kenyamanan

kekuatan.
2 Ekspesikan pengertian dan penerimaan anda tentangMenunjukkan
pentingnya keyakinan dan praktik religius ataumenilai
spiritual klien.

sikap

dapat

dan
tak

membantu

mengurangi kesulitan klien


dalam

mengekspresikan

keyakinan dan prakteknya.


3 Berikan prifasi dan ketenangan untuk ritual spiritual Privasi dan ketenangan
sesuai kebutuhan klien dapat dilaksanakan.

memberikan

lingkungan

yang memudahkan refresi


dan perenungan.
4 Bila anda menginginkan tawarkan untuk berdoaPerawat meskipun
bersama

klien

lainnya

atau

membaca

keagamaan.

yang

bukutidak menganut agama atau


keyakinan
dengan

yang
klien

sama
dapat

membantu klien memenuhi


kebutuhan spritualnya.
5 Tawarkan untuk menghubungkan pemimpin religiusTindakan
ini
dapat
atau

rohaniwan

rumah

sakit

untuk

mengatur membantu

kunjungan. Jelaskan ketidak setiaan pelayananmempertahankan

klien
ikatan
8

( kapel dan injil RS ).

spiritual dan mempraktikkan


ritual yang penting ( Carson
1989 ).

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PSIKOSOSIAL
A. PENGKAJIAN
I.

Data Demografi

a) Biodataklien
1. Nama

: Ny. B

2. Usia

: 35 tahun

3. Jenis Kelamin

: Perempuan

4. Bahasa Dominan

: Sunda

5. Status Perkawinan

: Menikah

6. Alamat

: TawangKulon, Tasikmalaya

7. Tanggal Masuk

: 10 Maret 2011

8. Tanggal Pengkajian

: 12 Maret 2011

9. Ruang Rawat

: R.3

10. Nomor Rekam Medik

: 130809

11. Diagnosa Medis

: Ca. Rahim

12. Riwayat Alergi

:-

13. Diet

: TKTP
9

b) Penanggungjawab
1.

Nama

: Tn. P

2.

Usia

: 40tahun

3.

JenisKelamin

: Laki-laki

4.

Pekerjaan

: Wiraswasta

5.

Hubungan dengan klien : Suami

II. Keluhan Utama


Klien mengeluh pusing, karena semalaman tidak bisa tidur memikirkan perdarahan yang
banyak dari vaginanya.

III. Penampilan Umum Dan Perilaku Motorik


1.

Fisik
a. Berat Badan

: 47 kg

b. Tinggi badan

: 156 cm

c. Tanda-tanda vital

: TD : 100/70mmhg,
RR : 16x/menit,

2.

: 40x/menit,

: 370C

Riwayat Pengobatan Fisik


Klien sudah pernah berobat kePuskesmas dan Pengobatan Alternatif.
IV. Faktor Predisposisi
Klien divonis menderita kanker rahim stadium IV B.
V. Faktor Presipitasi
Klien mengatakan tidak cukup uang untuk berobat ke rumah Sakit. Klien mengatakan
berat badannya cepat menurun dan tidak nafsu makan.
VI. Masalah Keperawatan
Cemas kematian
VII. Tingkat Ansietas
Tingkat ansietas klien berat ditandai dengan :
10

a.

Klien tampak sedih yang mendalam

b.

Klien tampak cemas

c.

Klien tampak pucat

d.

Klienterusmenanyakan

e.

Klientampakmurung

VIII. Riwayat Keluarga


Klien tinggal bersama suami dan seorang anak. Klien sudah berkeluargaselama 10
tahun. Menurut klien, keluarganya sangat harmonis dan belumpernah ada permasalahan
besar dalam keluarganya. Selain itu, klienmengatakan bahwa keluargnya selalu
malakukan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan bersama.

XI. Riwayat Sosial


a. Pola sosial
b. Menurut suami klien, klien merupakan seorang pribadi yang terbuka dan ramah.
Peran serta dalam kelompok baik selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang
diadakan oleh lingkungan setempat. Dalam melakukan hubungan dengan orang lain
klien mengaku tidak mengalami kesulitan.
c. Obat obatan yang Dikonsumsi
d. Klien mengaku pernah mengonsumsi obat-obatan herbal diluar resep dan saat ini
klien juga mengkonsumsi vitamin yang sudah diresepkan oleh dokter.
e. Klien mengatakan tidak pernah menggunakan obat-obatan dan alkohol untuk
mengatasi kecemasannya.
f. Status Mental dan Emosi
Penampilan
- Klien tampak pucat, ekspresi wajah sedih dan murung.
Tingkah laku
-Klien mengatakan tidak nafsu makan, karena memikirkan penyakit yang dideritanya.
-Dan klien pun selalu menanyakan tentang kematiannya.
Pola komunikasi
Dalam berkomunikasi, klien lebih sering diam.
Mood dan Afek
11

Klien merasa cemas dengan penyakit yang dideritanya dan selalu mengeluhakan
keadaannya.
Proses Pikir
Dalam proses pikir klien selalu memikirkan tentang apa yang akan

dialaminya

setelah mengalami kematian.


Persepsi
Klien mengalami penurunan perhatian
Kognitif
(a) Orientatif realita
- Waktu :
- Tempat :
- Orang :
- Situasi :
(b) Memori
Klien mampu mengingat pertanyaan yang diajukan oleh perawat dan segera
menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas

B.

Diagnosa Keperawatan
1. Ansietas/ ketakutan (individu , keluarga ) yang berhubungan diperkirakan dengan
situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan
kematian dan efek negatif pada pada gaya hidup.
2. Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi,
penurunan fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang lain.
3. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan
keluarga,takut akan hasil ( kematian ) dengan lingkungnnya penuh dengan stres
( tempat perawatan ).
4. Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system
pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam
menghadapi ancaman kematian.

12

KRITERIA HASIL
a) Klien atau keluarga akan :
1.

Mengungkapkan ketakutan yang berhubungan dengan gangguan.

2. Menceritakan pikiran tentang efek gangguan pada fungsi normal , tanggung


jawab peran dan gaya hidup.
b) Klien akan :
1.

Mengungkapkan kehilangan dan perubahan.

2.

Mengungkapkan perasaan yang berkaitan kehilangan dan perubahan.

3.

Menyatakan kematian akan terjadi.

Anggota keluarga akan Mempertahankan hubungan erat yang efektif, yang


dibuktikan dengan cara berikut:
1. Menghabiskan waktu bersama klien.
2. Memperthankan kasih sayang , komunikasi terbuka dengan klien.
3. Berpartisipasi dalam perawatan.
c) Anggota keluarga atau kerabat terdekat akan:
1. Megungkapkan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien.
2. Mengungkapkan kekawtirannnya mengenai lingkungan tempat perawatan.
3. Melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontiniu selama perawatan klien.
d) Klien akan mempertahankan praktik spritualnya yang akan mempengaruhi
penerimaan terhadap ancaman kematian.
C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa I
Ansietas / ketakutan ( individu , keluarga ) yang berhubungan dengan situasi yang tak
dikenal. Sifat kondisi yang tak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negative
pada gaya hidup.
Kriteria Hasil
Klien atau keluarga akan :
1

Mengungkapkan ketakutannya yang berhubungan dengan gangguan.

Menceritakan tentang efek gangguan pada fungsi normal, tanggung jawab, peran dan

gaya hidup
.
No

Intervensi

Rasional
13

1 Bantu klien untuk mengurangi ansietasnya Klien

yang

cemas

mempunyai

penyempitan lapang persepsi dengan

a. Berikan kepastian dan kenyamanan

penurunan kemampuan untuk belajar.

b. Tunjukkan perasaan tentang pemahmanAnsietas cendrung untuk memperburuk


dan empti, jangan menghindari pertanyaan masalah.
c. Dorong klien untuk mengungkapkanMenjebak
setiap

ketakutan

permasalahan

klien

yangpeningkatan

berhubungan dengan pengobatannya

pada

lingkaran

ansietas

tegang,

emosional dan nyeri fisik.

d. Identifikasi dan dukung mekanisme


koping efektif
2 Kaji tingkat ansietas klien : rencanakanBeberapa rasa takut didasari oleh
penyuluhan bila tingkatnya rendah atauinformasi yang tidak akurat dan dapat
sedang.

dihilangkan
informasi
ansietas

3 Dorong

keluarga

mengungkapkan

dan

teman

dengan
akurat.

berat

memberikan
Klien

atau

dengan

parah

tidak

menyerap pelajaran.
untukPengungkapan memungkinkan untuk

ketakutan-ketakutansaling

mereka.

berbagi

kesempatan

dan

memberiakan

untuk

memperbaiki

konsep yang tidak benar.


4 Berikan klien dan keluarga kesempatanMenghargai klien untuk koping efektif
dan penguatan koping positif.

dapat

menguatkan

renson

koping

positif yang akan datang.


Diagnosa II
Berduka yang berhubungan penyakit terminal dan kematian yang akan dihadapi penurunan
fungsi, perubahan konsep diri dan menark diri dari orang lain
Klien akan :
1. Mengungkapakan kehilangan dan perubahan.
2. Mengungkapakan perasaan yang berkaitan kehilangan dan perubahan.
3. Menyatakan kematian akan terjadi.
Anggota keluarga akan melakukan hal berikut :
mempertahankan hubungan erat yang efektif , yang dibuktikan dengan cara sbb:
a. Menghabiskan waktu bersama klien.
14

b. Mempertahankan kasih sayang , komunikasi terbuka dengan klien.


c. Berpartisipasi dalam perawatan.

No
1

Intervensi
Rasional
Berikan kesempatan pada klien danPengetahuan bahwa tidak ada lagi
keluarga

untuk

mengungkapkanpengobatan yang dibutuhkan dan bahwa

perasaan, didiskusikan kehilangan secarakematian

sedang

terbuka , dan gali makna pribadi darimenyebabkan


kehilangan.Jelaskan

bahwa

menanti

menimbulkan

dapat
perasaan

berdukaketidak berdayaan, marah dan kesedihan

adalah reaksi yang umum dan sehat.

yang dalam dan respon berduka yang


lainnya. Diskusi terbuka dan jujur dapat
membantu klien dan anggota keluarga
menerima dan mengatasi situasi dan

respon mereka terhadap situasi tersebut.


Berikan dorongan penggunaan strategiStategi koping fositif membantu
koping

positif

yang

terbukti

yangpenerimaan dan pemecahan masalah.

memberikan keberhasilan pada masa


3

lalu.
Berikan dorongan pada klien untukMemfokuskan pada atribut yang positif
mengekpresikan atribut diri yang positif. meningkatkan

penerimaan

diri

dan

penerimaan kematian yang terjadi.


Bantu klien mengatakan dan menerima Proses berduka, proses berkabung
kematian yang akan terjadi, jawab semuaadaptif tidak dapat dimulai sampai

pertanyaan dengan jujur.


kematian yang akan terjadi di terima.
Tingkatkan harapan dengan perawatanPenelitian menunjukkan bahwa klien
penuh

perhatian,

menghilangkansakit

ketidak nyamanan dan dukungan.

terminal

paling

menghargai

tindakan keperawatan berikut :


a. Membantu berdandan.
b. Mendukung fungsi kemandirian.
c.

Memberikan

obat

nyeri

saat

diperlukan dan
d.

Meningkatkan kenyamanan fisik

( Skoruka dan Bonet 1982 ).

15

Diagnosa III
Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan takut akan hasil
( kematian ) dan lingkungannya penuh stres ( tempat perawatan ).
Anggota kelurga atau kerabat terdekat akan :
1. Mengungkapkan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien.
2. Mengungkapkan kekhawatirannnya mengenai lingkungan tempat perawatan
3. Melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontiniu selama perawatan klien.

No Intervensi
Rasional
1 Luangkan waktu bersama keluarga atauKontak
orang

terdekat

klien

dan

pengertian yang empati.

yang

sering

dan

tunjukkanmengkmuikasikan sikap perhatian dan


peduli

dapat membantu

kecemasan

dan

mengurangi
meningkatkan

pembelajaran.
2 Izinkan keluarga klien atau orang terdekatSaling berbagi memungkinkan perawat
untuk

mengekspresikan

ketakutan dan kekawatiran.

perasaan,untuk mengintifikasi ketakutan dan


kekhawatiran kemudian merencanakan
intervensi untuk mengatasinya.
Informasi ini dapat membantu

3 Jelaskan lingkungan dan peralatan ICU


4 Jelaskan tindakan keperawatan danmengurangi ansietas yang berkaitan
kemajuan postoperasi yang dipikirkan dandengan ketidaktakutan.
berikan informasi
spesifik tentang
kemajuan klien.
5 Anjurkan untuk sering berkunjung danKunjungan dan partisipasi yang sering
berpartisipasi dalam tindakan perawatan. dapat meningakatkan interaksi keluarga
berkelanjutan.
6 Konsul dengan atau berikan rujukanKeluarga dengan

masalah-masalah

kesumber komunitas dan sumber lainnya. seperti kebutuhan financial , koping


yang tidak berhasil atau konflik yang

16

tidak

selesai

memerlukan

sumber-

sumber tambahan untuk membantu


mempertahankankan fungsi keluarga.
Diagnosa IV
Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari sistem pendukung
keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian
Klien akan mempertahankan praktik spritualnuya yang akan mempengaruhi penerimaan
terhadap ancaman kematian.
No Intervensi
Rasional
1 Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakanBagi
klien
praktek atau ritual keagamaan atau spiritual yangmendapatkan
diinginkan bila yang memberi kesempatan pada klienpada
untuk melakukannya.

doa

yang

nilai
atau

tinggi
praktek

spiritual lainnya, praktek ini


dapat memberikan arti dan
tujuan dan dapat menjadi
sumber

kenyamanan

kekuatan.
2 Ekspesikan pengertian dan penerimaan anda tentangMenunjukkan
pentingnya keyakinan dan praktik religius ataumenilai
spiritual klien.

sikap

dapat

dan
tak

membantu

mengurangi kesulitan klien


dalam

mengekspresikan

keyakinan dan prakteknya.


3 Berikan prifasi dan ketenangan untuk ritual spiritual Privasi dan ketenangan
sesuai kebutuhan klien dapat dilaksanakan.

memberikan

lingkungan

yang memudahkan refresi


dan perenungan.
4 Bila anda menginginkan tawarkan untuk berdoaPerawat meskipun
bersama

klien

keagamaan.

lainnya

atau

membaca

yang

bukutidak menganut agama atau


keyakinan
dengan

yang
klien

sama
dapat

membantu klien memenuhi


kebutuhan spritualnya.
5 Tawarkan untuk menghubungkan pemimpin religiusTindakan
ini
dapat
17

atau

rohaniwan

rumah

sakit

untuk

mengatur membantu

kunjungan. Jelaskan ketidak setiaan pelayananmempertahankan


( kapel dan injil RS ).

klien
ikatan

spiritual dan mempraktikkan


ritual yang penting ( Carson
1989 ).

D.

Implementasi

Diagnosa I
1. Membantu klien untuk mengurangi ansientasnya :
a. Memberikan kepastian dan kenyamanan.
b. Menunjukan perasan tentang pemahaman dan empati, jangan menghindari pertanyaan.
c.Mendorong klien untuk mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan
dengan pengobotannya.
d. Menditifikasi dan mendorong mekanisme koping efektif.
2. Mengkaji tingkat ansientas klien. Merencanakan penyuluhan bila tingkatnya rendah atau
sedang.
3. Mendorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan atau pikiran mereka.
4. Memberikan klien dan keluarga dengan kepastian dan penguatan prilaku koping positif.
5. Memberikan dorongan pada klien untuk menggunakan teknik relaksasi seperti paduan
imajines dan pernafasan relaksasi.
Diagnosa II
1. Memberikan kesempatan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan,
diskusikan kehilangan secara terbuka dan gali makna pribadi dari kehilangan. Jelaskan bahwa
berduka adalah reaksi yang umum dan sehat.
2. Memberikan dorongan penggunaan strategi koping positif yang terbukti memberikan
keberhasilan pada masa lalu.
3. Memberikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan atribut dari yang positif.
4. Membantu klien menyatakan dan menerima kematian yang akan terjadi, jawab semua
pertanyaan dengan jujur.
Meningkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian, menghilangkan ketidaknyamanan
dan dukungan.
Diagnosa III

18

1. Meluangkan waktu bersama keluarga/orang terdekat klien dan tunjukkan pengertian yang
empati.
2. Mengizinkan keluarga klien/orang terdekat untuk mengekspresikan perasaan, ketakutan
dan kekhawatiran.
3. Menjelaskan akan lingkungan dan peralatan itu.
4. Menjelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang dipikirkan dan
memberikan informasi spesifik tentang kemajuan klien.
5. Menganjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam tindakan keperawatan.
6. Mengkonsul atau memberikan rujukan ke sumber komunitas dan sumber lainnya.
Diagnosa IV
1. Menggali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktik atau ritual keagamaan
atau spiritual yang diizinkan bila ia memberikan kesempatan pada klien untuk melakukannya.
2. Mengekpresikan pengertian dan penerimaan anda tentang pentingnya keyakinan dan
praktik religius atau spiritual klien.
3. Memberikan privasi dan ketenangan untuk ritual, spiritual sesuai kebutuhan klien dan
dapat dilaksanakan.
4. Menawarkan untuk menghubungi religius atau rohaniwan rumah sakit untuk mengatur
kunjungan menjelaskan ketersediaan pelayanan misalnya : alquran dan ulama bagi yang
beragama islam
E. Evaluasi
a). Klien
1. Klien merasa nyaman (bebas dari rasa sakit) dan mengekpresikan perasaannya pada
perawat.
2. Klien tidak merasa sedih dan siap menerima kenyataan.
3. Klien selalu ingat kepada Allah dan selalu bertawakkal dan klien sadar bahwa setiap apa
yang diciptakan Allah SWT akan kembali kepadanya.
b). Keluarga Klien:
1. Keluarga dapat mengekspresikan perasaan-parasaan, seperti : sedih, marah, kehilangan, dll.
2. Dapat mengutarakan pengalaman-pengalaman emosionalnya.
3. Dapat melakukan kegiatan yang biasa dilakukannya.
4. Dapat membentuk hubungan baru dengan orang lain.

19

DAFTAR PUSTAKA

Wilkinson, Judith M. 2007, Diagnosa Keperawatan, Jakarta : EGC

Towarto, Wartonal, 2007, Kebutuhan Dasar & Proses Keperawatan Edisi 3,


Jakarta : Salemba Medika

Herdiman, T.Heather.2011. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi


2009-2011, EGC : Jakarta

Nanda 2005-2006, 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan, Jakarta : Prima


Medika

Perry, dkk. 2005. Buku saku : Keterampilan dan Prosedur Dasar. Jakarta :
EGC

20