Anda di halaman 1dari 67

LIMBAH BAHAN

BERBAHAYA
DAN BERACUN(B3)
Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan
YME,karena atas berkat rahmat dan
hidayahnyalah kami selaku kelompok 12
dapat menyusun makalah yang
bertemakan LIMBAH BAHAN BERBAHAYA
DAN BERACUN(B3),dimana kami
mengambil salah satu pokok bahasan
dalam Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun(B3) yaitu mengenai Radioaktif
yang menjadi salah satu limbah yang
cukup berbahaya dan masuk kedalam
golongan Bahan Berbahaya dan
Beracun(B3) ini dapat diselesaikan
dengan sebagaimana mestinya.
Dalam makalah yang kami susun ini
terdapat beberapa materi tentang
mengenal Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun(B3) tersebut secara umum,baik
mengenal secara awal apa itu limbah,apaapa saja karakteristik limbah Bahan
Beracun Berbahaya(B3)

tersebut,bagaimana penggolongan Bahan


Berbahaya dan Beracun(B3),bagaimana
cara mengelola Bahan Bebahaya dan
Beracun(B3),serta penjelasan-penjelasan
lain yang masih berhubungan dan erat
kaitannya dalam mengenal Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun(B3),yang kian
hari menjadi salah satu materi yang
semakin menarik untuk didiskusikan.
Ucapan terimakasih yang dalam kami
tujukan kepada:
>Dosen pembimbing mata kuliah Kimia
Lingkungan,Ibu Nopi Stiyati P.,S.si,MT
yang telah membimbing dalam
pembuatan makalah ini.
>Para pengarang buku serta para
pembuat blog(Internet),yang sangat
membantu sebagai pencarian bahan
dalam pembuatan makalah ini,serta
>Pihak-pihak lain yang secara langsung
dan tidak langsung terlibat dalam
pembuatan makalah ini.
Makalah ini telah diusahakan untuk dapat
diselesaikan dengan sebaik
mungkin,namun kami sebagai penyusun
menyadari bahwa tidak ada karya yang
sempurna,untuk itu semua kritik dan
saran dari para pembaca sangat kami
harapkan,sebagai bahan untuk

penyempurnaan dimasa yang akan


datang.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para
pembaca serta mendapat Ridha disisi
Allah,dan dapat menjadi salah satu
referensi dalam ilmu pengetahuan.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR

. i
DAFTAR ISI

ii
A. PENDAHULUAN
Latar Belakang

. 1
Tujuan

2
Masalah

3
B. PEMBAHASAN
BAB 1 Mengenal Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3)
4

1.1 Pengertian Limbah B3


.
4
1.2 Sumber Limbah B3

. 4
1.3 Karakteristik B3

.. 5
1.4 Teknologi Pengolahan

5
BAB 2 Limbah B3 Radioaktif

. 9
2.1 Sumber Radiasi

.. 9
2.2 Radioaktifitas yang direkomendasikan
.. 11
2.3 Limbah Radioaktif

.. 12
BAB 3 Penggunaan Radioisotop
.
13
3.1 Radioisotop Digunakan sebagai
Perunut dan Sumber

Radiasi

. 13
3.2 Satuan Radiasi

. 14
3.3 Pengaruh Radiasi pada Materi
.. 15
3.4 Pengaruh Radiasi pada Makhluk Hidup
. 15
3.5 Radioaktif sebagai Perunut
. 16
3.6 Radioisotop sebagai Sumber Radiasi
. 18
BAB 4 Dampak Radioakti

.. 20
4.1 Apa itu Limbah Radioaktif
.
27
4.2 Ada Berapa Jenis Radioaktif
. 27
4.3 Asal Limbah Radioaktif
.
28
4.4 Cara Mengelola Limbah Radioaktif
28
BAB 5 Teknologi Pengolahan Limbah
31

5.1 Bahaya Limbah Radioaktif


.. 31
5.2 Pembuangan Limbah Radioaktif
Kelingkungan 32
5.3 Hubungan Limbah Radioaktif dengan
Limbah B3 . 32
5.4 Pihak yang Bertanggung Jawab dalam
Mengelola
Limbah B3

. 32
5.5 Dasar Hukum yang Mengatur Limbah
Radioaktif . 33
5.6 Biaya Pengolahan Limbah Radioaktif
. 33
C. PENUTUP
Kesimpulan

. 35
Saran

35
Daftar Pustaka
1.

A. Pendahuluan

Latar Belakang

Akhir-akhir ini makin banyak limbahlimbah dari pabrik,rumah


tangga,perusahaan, kantor-kantor,
sekolah dan sebagainya yang beripa
cair,padat bahkan berupa zat gas dan
semuanya itu berbahaya bagi kehidupan
kita.tetapi ada limbah yang lebih
berbahaya lagi yang disebut dengan
limbah B3(bahan berbahaya dan
beracun).Hal tersebut sebenarnya bukan
merupakan masalah kecil dan
sepele,karena apabila limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun(B3) tersebut
dibiarkan ataupun dianggap sepele
penanganannya,atau bahkan melakukan
penanganan yang salah dalam
menanganani limbah B3 tersebut,maka
dampak yang luas dari Limbah Bahan
Berbahaya dan beracun tersebut akan
semakin meluas,bahkan dampaknyapun
akan sangat dirasakan bagi lingkungan
sekitar kita,dan tentu saja dampak
tersebut akan menjurus pada kehidupan
makhluk hidup baik dampak yang akan
dirasakan dalam jangka pendek ataupun
dampak yang akan dirasakan dalam
jangka panjang dimasa yang akan
datang,dan kita tidak akan tahu seberapa
parah kelak dampak tersebut akan

terjadi,namun seperti kata pepatahLebih


Baik Mencegah Daripada Mengobati,hal
tersebut menjadi salah satu aspek
pendorong bagi kita semua agar lebih
berupaya mencegah dampak dari limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun
tersebut,ketimbang menyaksikan dampak
dari limbah B3 tersebut telah terjadi
dihadapan kita,dan kita semakin sulit
untuk menanggulanginya
Secara garis besar,hal tersebut menjadi
salah satu patokan bagi kita,bahwa segala
sesuatu yang terjadi merupakan tanggung
jawab kita bersama untuk
menanggulanginya,khususnya pada
masalah limbah Bahan Berbahaya
dan(B3) Beracun tersebut
Dan yang menjadi permasalahannya
sekarang adalah bagaimana cara
mengatasi ataupun menanggulangi
limbah Bahan Berbahaya dan Beracun(B3)
tersebut merupakan sesuatu yang
sebenarnya harus menjadi perhatian
khusus untuk pemerintah,dan bahka
menjadi salah satu hal yang juga patut
menjadi perhatian kita bersama.
Dalam pengelolaan limbah B3, identifikasi
dan karakteristik limbah B3 adalah hal
yang penting dan mendasar. Banyak hal

yang yang sebelumnya perlu diketahui


agar dalam penanggulangan limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun tersebut
menjadi tepat dan bukannya malah
menambahkan masalah pada limbah
Bahan Berbahaya dan
Beracun tersebut.Untuk itu pengenalan
secara umum mengenai limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun tersebut
sangatlah penting,baik dari segi
penanggulangannya pada suatu tempat
secara luas ataupun secara
khusus,mengetahui klasifikasi didalam
limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
tersebut,mengidentifikasi limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun tersebut,serat
hal-hal lain yang menjadi pendukung
dalam mengenal limbah B3 tersebut.
Tujuan
Makalah ini berisi tentang mengenal
Limbah B3,baik secara umum ataupun
pembahasannya secara khusus dalam
suatu pokok materi(dalam hal ini yang
dibahas secara khusus adalah
Radioaktif),dan juga bagaimana cara-cara
dalam pengelolaan Limbah B3
tersebut,dan dalam pembuatan makalah
ini memiliki tujuan antara lain:

1. Memberikan informasi kepada


pembaca tentang apa itu Limbah,serta
apa itu limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun(B3).
2. Mendeskripsikan secara sederhana
bagaimana mengenal dan cara dalam
pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun(B3)
3. Mengetahui Bagaimana dampak dari
limbah Bahan Beracun dan
Berbahaya(B3)tersebut dapat terjadi.
4. Mengetahui apa itu limbah bahan
Berbahaya dan Beracun(B3),khususnya
mengenai limbah B3 dalam
pembahasannya secara khusus mengenai
zat Radioaktif.
5. Mengetahui bagaimana cara
menanggulangi,mengetahui
karakteristik,serta penggolongan didalam
limbah B3.
6.Mengetahui dari mana saja Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun tersebut
bersumber.
7. Mengetahui dampak radioaktif
terhadap ekosistem.
8. Mengetahui dampak radioaktif
terhadap makhluk hidup.

9. Mengetahui bagaimana peran


radioisotope dalam kesehatan.
10. Mengetahui bagaimana mengelola
dan mengangkut limbah radioaktif.
Masalah
1. Apa itu Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun(B3)?
2.Bagaimana penanggulangan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun(B3)?
3.Apa saja golongan dalam Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun(B3)?
4.Apa saja klasifikasi dalam limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun(B3)?
5.Apa itu limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun(B3)khususnya pada Limbah
Radioaktif?
6.Darimana saja Limbah Bahan berbahaya
dan Beracun(B3) tersebut bersumber?
7. Apa yang dimaksud dengan radiasi ?
8. Apa saja sumber dari Radiasi tersebut ?
9.Apa dampak dan kegunaan dari
radioaktif ?
10.Bagaimana cara mengelola Limbah
Radioaktif ?
1.

B. PEMBAHASAN

Bab 1.Mengenal Limbah Bahan


Berbahaya dan Beracun(B3)
1.1
Pengertian Limbah B3
Pengertian limbah B3 berdasarkan
BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa
(limbah) suatu kegiatan proses produksi
yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun (B3) karena sifat
(toxicity,flammability, reactivity,
dan corrosivity) serta konsentrasi atau
jumlahnya yang baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat merusak,
mencemarkan lingkungan, atau
membahayakan kesehatan manusia.
1.2
Sumber Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun(B3)
Limbah B3 dari sumber tidak spesifik
Berasal bukan dari proses utamanya,
tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan
alat, pencucian, pencegahan korosi,
pelarut kerak, pengemasan, dll.
Limbah B3 dari sumber spesifik
Limbah B3 sisa proses suatu industri atau
kegiatan yang secara spesifik dapat
ditentukan berdasarkan kajian ilmiah.

Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat


diklasifikasikan menjadi:
Primary sludge, yaitu limbah yang
berasal dari tangki sedimentasi pada
pemisahan awal dan banyak
mengandung biomassa senyawa
organik yang stabil dan mudah
menguap.
Chemical sludge, yaitu limbah yang
dihasilkan dari proses koagulasi dan
flokulasi
Excess activated sludge, yaitu limbah
yang berasal dari proses pengolahan
dengan lumpur aktif sehingga banyak
mengandung padatan organik berupa
lumpur dari hasil proses tersebut.
Digested sludge, yaitu limbah yang
berasal dari pengolahan biologi dengan
digested aerobic maupun anaerobic di
mana padatan/lumpur yang dihasilkan
cukup stabil dan banyak mengandung
padatan organik.
1.3
Karakteristik B3
Secara konvensional terdapat 7 kelas
bahan berbahaya, yaitu:

Flammable (mudah terbakar), yaitu


bahan padat, cair, uap, atau gas yang
menyala dengan mudah dan terbakar
secara cepat bila dipaparkan pada
sumber nyala, misalnya: jenis pelarut
ethanol, gas hidrogen, methane.
Materi yang spontan terbakar, yaitu
bahan padat atau cair yang dapat
menyala secara spontan tanpa sumber
nyala, mislanya karena perubahan
panas, tekanan atau kegiatan oksidasi.
Explosive (mudah meledak), yaitu
materi yang dapat meledak karena
adanya kejutan, panas atau mekanisme
lain, misalnya dinamit.
Oxidizer (pengoksidasi), yaitu materi
yang menghasilkan oksigen, baik dalam
kondisi biasa atau bila terpapar dengan
panas, misalnya amonium nitrat dan
benzoyl perioksida.
Corrosive, bahan padat atau cair yang
dapat membakar atau merusak
jaringan kulit bila berkontak
dengannya.
Toxic, yaitu bahan beracun yang dalam
dosis kecil dapat membunuh atau

mengganggu kesehatan, seperti


hidrogen sianida.
Radioactive
1.4
Teknologi Pengolahan
Terdapat banyak metode pengolahan
limbah B3 di industri, tiga metode yang
paling populer di antaranya
ialah chemical
conditioning, solidification/Stabilization,
dan incineration.
1.

Chemical Conditioning

Salah satu teknologi pengolahan limbah


B3 ialah chemical conditioning. Tujuan
utama dari chemical conditioning ialah:
Menstabilkan senyawa-senyawa organik
yang terkandung di dalam lumpur
Mereduksi volume dengan mengurangi
kandungan air dalam lumpur
Mendestruksi organisme patogen
Memanfaatkan hasil samping
proses chemical conditioning yang
masih memiliki nilai ekonomi seperti
gas methane yang dihasilkan pada
proses digestion

Mengkondisikan agar lumpur yang


dilepas ke lingkungan dalam keadaan
aman dan dapat diterima lingkungan
Chemical conditioning terdiri dari
beberapa tahapan sebagai berikut:
1)
Concentratiothickening
Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi
volume lumpur yang akan diolah dengan
cara meningkatkan kandungan padatan.
Alat yang umumnya digunakan pada
tahapan ini ialah gravity
thickener dan solid bowl centrifuge.
Tahapan ini pada dasarnya merupakan
tahapan awal sebelum limbah dikurangi
kadar airnya pada tahapan dewatering selanjutnya. Walaupun tidak
sepopuler gravity
thickener dan centrifuge, beberapa unit
pengolahan limbah menggunakan
proses flotation pada tahapan awal ini.
2)
Treatment, stabilization,
andconditioning
Tahapan kedua ini bertujuan untuk
menstabilkan senyawa organik dan
menghancurkan patogen. Proses
stabilisasi dapat dilakukan melalui proses
pengkondisian secara kimia, fisika, dan
biologi. Pengkondisian secara kimia

berlangsung dengan adanya proses


pembentukan ikatan bahan-bahan kimia
dengan partikel koloid. Pengkondisian
secara fisika berlangsung dengan jalan
memisahkan bahan-bahan kimia dan
koloid dengan cara pencucian dan
destruksi. Pengkondisian secara biologi
berlangsung dengan adanya proses
destruksi dengan bantuan enzim dan
reaksi oksidasi. Proses-proses yang
terlibat pada tahapan ini
ialah lagooning, anaerobic
digestion, aerobic digestion, heat
treatment, polyelectrolite
flocculation, chemical conditioning,
dan elutriation.
3) De-wateringanddrying
De-watering and drying bertujuan untuk
menghilangkan atau mengurangi
kandungan air dan sekaligus mengurangi
volume lumpur. Proses yang terlibat pada
tahapan ini umumnya ialah pengeringan
dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan
adalah drying bed, filter
press, centrifuge, vacuum filter, dan belt
press.
4) Disposal
Disposal ialah proses pembuangan akhir
limbah B3. Beberapa proses yang terjadi

sebelum limbah B3 dibuang


ialah pyrolysis, wet air oxidation,
dan composting. Tempat pembuangan
akhir limbah B3 umumnya ialah sanitary
landfill, crop land, atau injection well.
1.

Solidification/Stabilization

Di samping chemical conditiong,


teknologi solidification/ stabilization juga
dapat diterapkan untuk mengolah limbah
B3. Secara umum stabilisasi dapat
didefinisikan sebagai proses pencapuran
limbah dengan bahan tambahan (aditif)
dengan tujuan menurunkan laju migrasi
bahan pencemar dari limbah serta untuk
mengurangi toksisitas limbah tersebut.
Sedangkan solidifikasi didefinisikan
sebagai proses pemadatan suatu bahan
berbahaya dengan penambahan aditif.
Kedua proses tersebut seringkali terkait
sehingga sering dianggap mempunyai arti
yang sama. Proses solidifikasi/stabilisasi
berdasarkan mekanismenya dapat dibagi
menjadi 6 golongan, yaitu:
1) Macroencapsulation, yaitu proses
dimana bahan berbahaya dalam limbah
dibungkus dalam matriks struktur yang
besar

2) Microencapsulation, yaitu proses yang


mirip macroencapsulation tetapi bahan
pencemar terbungkus secara fisik dalam
struktur kristal pada tingkat mikroskopik
3) Precipitation
4) Adsorpsi, yaitu proses dimana bahan
pencemar diikat secara elektrokimia pada
bahan pemadat melalui mekanisme
adsorpsi.
5) Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan
pencemar dengan menyerapkannya ke
bahan padat
6) Detoxification, yaitu proses mengubah
suatu senyawa beracun menjadi senyawa
lain yang tingkat toksisitasnya lebih
rendah atau bahkan hilang sama sekali
Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya
menggunakan semen, kapur (CaOH2),
dan bahan termoplastik. Metoda yang
diterapkan di lapangan ialah metoda indrum mixing, in-situ mixing, dan plant
mixing. Peraturan mengenai
solidifikasi/stabilitasi diatur oleh BAPEDAL
berdasarkanKep-03/BAPEDAL/09/1995 dan
Kep-04/BAPEDAL/09/1995.
1.

Incineration

Teknologi pembakaran (incineration )


adalah alternatif yang menarik dalam
teknologi pengolahan limbah. Insinerasi
mengurangi volume dan massa limbah
hingga sekitar 90% (volume) dan 75%
(berat). Teknologi ini sebenarnya bukan
solusi final dari sistem pengolahan limbah
padat karena pada dasarnya hanya
memindahkan limbah dari bentuk padat
yang kasat mata ke bentuk gas yang tidak
kasat mata. Proses insinerasi
menghasilkan energi dalam bentuk panas.
Namun, insinerasi memiliki beberapa
kelebihan di mana sebagian besar dari
komponen limbah B3 dapat dihancurkan
dan limbah berkurang dengan cepat.
Selain itu, insinerasi memerlukan lahan
yang relatif kecil.
Aspek penting dalam sistem insinerasi
adalah nilai kandungan energi (heating
value) limbah. Selain menentukan
kemampuan dalam mempertahankan
berlangsungnya proses pembakaran,
heating value juga menentukan
banyaknya energi yang dapat diperoleh
dari sistem insinerasi. Jenis insinerator
yang paling umum diterapkan untuk
membakar limbah padat B3 ialah rotary
kiln, multiple hearth, fluidized bed, open

pit, single chamber, multiple


chamber, aqueous waste injection,
dan starved air unit. Dari semua jenis
insinerator tersebut, rotary
kiln mempunyai kelebihan karena alat
tersebut dapat mengolah limbah padat,
cair, dan gas secara simultan.
Bab 2. Limbah bahan Berbahaya dan
Beracun ( B3) Radioaktif
Tahukah anda bahwa di sekitar kita
ternyata banyak sekali terdapat radiasi?
Disadari ataupun tanpa disadari ternyata
disekitar kita baik dirumah, di kantor,
dipasar, dilapangan, maupun ditempattempat umum lainnya ternyata banyak
sekali radiasi. Yang perlu diketahui
selanjutnya adalah sejauh mana radiasi
tersebut dapat berpengaruh buruk
terhadap kesehatan kita.
Radiasi dalam istilah fisika, pada dasarnya
adalah suatu cara perambatan energi dari
sumber energi ke lingkungannya tanpa
membutuhkan medium. Beberapa
contohnya adalah perambatan panas,
perambatan cahaya, dan perambatan
gelombang radio. Selain radiasi, energi
dapat juga dipindahkan dengan cara
konduksi, kohesi, dan konveksi. Dalam
istilah sehari-hari radiasi selalu diaso-

siasikan sebagai radioaktif sebagai


sumber radiasi pengion.
Secara garis besar ada dua jenis radiasi
yakni radiasi pengion dan radiasi bukan
pengion. Radiasi pengion adalah radiasi
yang dapat menyebabkan proses
terlepasnya electron dari atom sehingga
terbentuk pasangan ion. Karena sifatnya
yang dapat mengionisasi bahan termasuk
tubuh kita maka radiasi pengion perlu
diwaspadai adanya utamanya mengenai
sumber-sumbernya, jenis-jenis, sifat-nya,
akibatnya, dan bagaimana cara
menghindarinya.
2.1 Sumber Radiasi
Berdasarkan asalnya sumber radiasi
pengion dapat dibedakan menjadi dua
yaitu sumber radiasi alam yang sudah ada
di alam ini sejak terbentuknya, dan
sumber radiasi buatan yang sengaja
dibuat oleh manusia untuk berbagai
tujuan.
Sumber Radiasi Alam
Radiasi yang dipancarkan oleh sumber
radiasi alam disebut juga sebagai radiasi
latar belakang. Radiasi ini setiap harinya
memajan manusia dan merupakan radiasi
terbesar yang diterima oleh manusia yang
tidak bekerja di tempat yang

menggunakan radioaktif atau yang tidak


menerima radiasi berkaitan dengan
kedokteran atau kesehatan. Radiasi latar
belakang yang diterima oleh seseorang
dapat berasal dari tiga sumber utama
yaitu :
1. Sumber radiasi kosmis
Radiasi kosmis berasal dari angkasa luar,
sebagian berasal dari ruang antar bintang
dan matahari. Radiasi ini terdiri dari
partikel dan sinar yang berenergi tinggi
dan berinteraksi dengan inti atom stabil di
atmosfir membentuk inti radioaktif seperti
Carbon -14, Helium-3, Natrium -22, dan
Be-7. Atmosfir bumi dapat mengurangi
radiasi kosmik yang diterima oleh
manusia. Tingkat radiasi dari sumber
kosmik ini bergantung kepada ketinggian,
yaitu radiasi yang diterima akan semakin
besar apabila posisinya semakin tinggi.
Tingkat radiasi yang diterima seseorang
juga tergantung pada letak geografisnya.
2. Sumber radiasi terestrial
Radiasi terestrial secara natural
dipancarkan oleh radionuklida di dalam
kerak bumi. Radiasi ini dipancarkan oleh
radionuklida yang disebut primordial yang
ada sejak terbentuknya bumi.
Radionuklida yang ada dalam kerak bumi

terutama adalah deret Uranium, yaitu


peluruhan berantai mulai dari Uranium238, Plumbum-206, deret Actinium (U235, Pb-207) dan deret Thorium (Th-232,
Pb-208).
Radiasi teresterial terbesar yang diterima
manusia berasal dari Radon (R-222) dan
Thoron (Ra-220) karena dua radionuklida
ini berbentuk gas sehingga bisa menyebar
kemana-mana.
Tingkat radiasi yang diterima seseorang
dari radiasi teresterial ini berbeda-beda
dari satu tempat ke tempat lain
bergantung pada konsentrasi sumber
radiasi di dalam kerak bumi. Beberapa
tempat di bumi yang memiliki tingkat
radiasi diatas rata-rata misalnya Pocos de
Caldas dan Guarapari di Brazil, Kerala dan
Tamil Nadu di India, dan Ramsar di Iran.
3. Sumber radiasi internal yang berasal
dari dalam tubuh sendiri
Sumber radiasi ini ada di dalam tubuh
manusia sejak dilahirkan, dan bisa juga
masuk ke dalam tubuh melalui makanan,
minuman, pernafasan, atau luka. Radiasi
internal ini terutama diterima dari
radionuklida C-14, H-3, K-40, Radon, selain
itu masih ada sumber lain seperti Pb-210,
Po-210, yang banyak berasal dari ikan dan

kerang-kerangan. Buah-buahan biasanya


mengandung unsur K-40.
Sumber Radiasi Buatan
Sumber radiasi buatan telah diproduksi
sejak abad ke 20, dengan ditemuk-annya
sinar-X oleh WC Rontgen. Saat ini sudah
banyak sekali jenis dari sumber radiasi
buatan baik yang berupa zat radioaktif
dan sumber pembangkit radiasi (pesawat
sinar-X dan akselerator).
Radioaktif dapat dibuat oleh manusia
berdasarkan reaksi inti antara nuklida
yang tidak radioaktif dengan neutron atau
biasa disebut sebagai reaksi fisi di dalam
reactor atom. Radionuklida buatan ini bisa
memancarkan radiasi alpha, beta, gamma
dan neutron.
Sumber pembangkit radiasi yang lazim
dipakai yakni pesawat sinar-X dan
akselerator. Proses terbentuknya sinar-X
adalah sebagai akibat adanya arus listrik
pada filamen yang dapat menghasilkan
awan elektron di dalam tabung hampa.
Sinar-X akan terbentuk ketika berkas
elektron ditumbukan pada bahan target.
2.2 Radioaktifitas yang
Direkomendasikan

Berdasarkan ketentuan International


Atomic Energy Agency, zat radioaktif
adalah setiap zat yang memancarkan
radiasi pengion dengan aktifitas jenis
lebih besar dari 70 kilo Becquerel per
kilogram atau 2 nanocurie per gram.
Angka 70 kBq/kg atau 2 nCi/g tersebut
merupakan patokan dasar untuk suatu zat
dapat disebut zat radioaktif pada
umumnya. Jadi untuk radioaktif dengan
aktifitas lebih kecil dapat dianggap
sebagai radiasi latar belakang.
Besarnya dosis radiasi yang diterima oleh
pekerja radiasi tidak boleh melebihi 50
milisievert per tahun, sedangkan
besarnya dosis radiasi yang diterima oleh
masyarakat pada umumnya tidak boleh
lebih dari 5 milisievert per tahun.
Di Koran-koran dan televisi, kita sering
melihat artikel-artikel atau tayangan yang
berkaitan dengan nuklir, apakah itu
mengenai rencana pembangunan PLTN di
Muria atau mengenai kebocoran air
radioaktif dari PLTN Jepang setelah
diguncang gempa. Sering diberitakan pula
mengenai kecelakaan reaktor Chernobyl
di Uni Sovyet yang menyebabkan
kerusakan lingkungan, dan menyebabkan
penyebaran zat radioaktif kemana mana.

Juga bahaya-bahaya yang ditimbulkannya.


Apabila kita mendengar kata radiasi nuklir
atau unsur-unsur radioaktif pada
tayangan tersebut, yang terbayang dalam
benak kita adalah ledakan bom atom,
orang yang terkena kanker dan bayanganbayangan mengerikan lainnya. Padahal,
kalau kita membaca buku fisika atau
kimia mengenai radiasi nuklir dan partikel
radioaktif (radionuklida), kita akan tahu
bahwa sebenarnya yang kita makan, kita
hirup dan kita serap sehari-hari juga
mengandung hal-hal itu. Jadi radiasi nuklir
atau partikel radioaktif bukanlah sematamata sesuatu yang terpendam di bumi
dan diambil orang untuk membuat bom
atom atau untuk mencemari lingkungan
dengan air radioaktif, seperti yang banyak
dipropagandakan.
Gejala keradioaktifan (radioaktifitas)
pertama kali ditemukan secara tidak
sengaja oleh Henry Becquerel pada suatu
garam uranium. Selanjutnya Pierre &
Marry currie menemukan zat-zat
radioaktif lainnya yaitu polonium dan
radium. Zat-zat radioaktif adalah suatu
zat yang aktif memancarkan radiasi baik
berupa partikel maupun berupa
gekombang elektromagnetik.

2.3 Limbah radioaktif


Limbah radioaktif adalah bahan yang
terkontaminasi dengan radio isotop yang
berasal dari penggunaan medis atau riset
radio nukleida. Limbah ini dapat berasal
dari antara lain : tindakan kedokteran
nuklir,radio-imunoassay dan bakteriologis;
dapat berbentuk padat, cair atau gas.
Selain sampah klinis, dari kegiatan
penunjang rumah sakit juga menghasilkan
sampah non klinis atau dapat disebut juga
sampah non medis. Sampah non medis ini
bisa berasal dari kantor/administrasi
kertas, unit pelayanan (berupa karton,
kaleng, botol), sampah dari ruang pasien,
sisa makanan buangan; sampah dapur
(sisa pembungkus, sisa
makanan/bahanmakanan, sayur dan lainlain). Limbah cair yang dihasilkan rumah
sakit mempunyai karakteristik tertentu
baik fisik, kimia dan biologi. Limbah
rumah sakit bisa mengandung bermacammacam mikroorganisme, tergantung pada
jenis rumah sakit, tingkat pengolahan
yang dilakukan sebelum dibuang dan jenis
sarana yang ada (laboratorium, klinik dll).
Tentu saja dari jenis-jenis mikroorganisme
tersebut ada yang bersifat patogen.
Limbah rumah sakit seperti halnya limbah

lain akanmengandung bahan-bahan


organik dan anorganik, yang tingkat
kandungannya dapat ditentukan dengan
uji air kotor pada umumnya seperti BOD,
COD, TTS, pH, mikrobiologik, dan lain-lain.
Bab 3 Penggunaan Radioisotop
3.1 Radioisotop digunakan sebagai
perunut dan sumber radiasi
Dewasa ini, penggunaan radioisotop
untuk maksud-maksud damai (untuk
kesejahteraan umat manusia)
berkembang dengan pesat. Pusat listrik
tenaga nuklir (PLTN) adalah salah satu
contoh yang sangat populer. PLTN ini
memanfaatkan efek panas yang
dihasilkan reaksi inti suatu radioisotop ,
misalnya U-235. Selain untuk PLTN,
radioisotop juga telah digunakan dalam
berbagai bidang misalnya industri, teknik,
pertanian, kedokteran, ilmu pengetahuan,
hidrologi, dan lain-lain.
Pada bab ini kita akan membahas dua
penggunaan radioistop, yaitu sebagai
perunut (tracer) dan sumber radiasi.
Pengunaan radioisotop sebagai perunut
didasarkan pada ikataan bahwa isotop
radioaktif mempunyai sifat kirnia yang
sama dengan isotop stabil. Jadi suatu
isotop radioaktif melangsungkan reaksi

kimia, yang sama seperti isotop stabilnya.


Sedangkan penggunaan radioisotop
sebagai sumber radiasi didasarkan pada
kenyataan bahwa radiasi yang dihasilkan
zat radioaktif dapat mempengaruhi materi
maupun mahluk. Radiasi dapat digunakan
untuk memberi efek fisis: efek kimia,
maupun efek biologi. Oleh karena itu,
sebelum membahas pengunaan
radioisotop kita akan mengupas terlebih
dahulu tentang satuan radiasi dan
pengaruh radiasi terhadap materi dan
mahluk hidup.
3.2 Satuan Radiasi
Berbagai satuan digunakan untuk
menyatakan intensitas atau jumlah radiasi
bergantung pada jenis yang diukur.
1. Curie(Ci) dan Becquerrel (Bq)
Curie dan Bequerrel adalah satuan yang
dinyatakan untuk menyatakan keaktifan
yakni jumlah disintegrasi (peluruhan)
dalam satuan waktu. Dalam sistem satuan
SI, keaktifan dinyatakan dalam Bq. Satu
Bq sama dengan satu disintegrasi per
sekon.
1Bq = 1 dps
dps = disintegrasi per sekon

Satuan lain yang juga biasa digunakan


ialah Curie. Satu Ci ialah keaktifan yang
setara dari 1 gram garam radium, yaitu
3,7.1010 dps.
1Ci = 3,7.1010 dps = 3,7.1010 Bq
2. Gray (gy) dan Rad (Rd)
Gray dan Rad adalah satuan yang
digunakan untuk menyatakan keaktifan
yakni jumlah (dosis) radiasi yang diserap
oleh suatu materi. Rad adalah singkatan
dari 11 radiation absorbed dose. Dalam
sistem satuan SI, dosis dinyatakan dengan
Gray (Gy). Satu Gray adalah absorbsi 1
joule per kilogram materi.
1 Gy = 1 J/kg
Satu rad adalah absorbsi 10-3 joule
energi/gram jaringan.
1 Rd = 10-3 J/g
Hubungan grey dengan fad
1 Gy = 100 rd
3. Rem
Daya perusak dari sinar-sinar radioaktif
tidak saja bergantung pada dosis tetapi
juga pada jenis radiasi itu sendiri.
Neutron, sebagai contoh, lebih berbahaya
daripada sinar beta dengan dosis dan
intensitas yang sama. Rem adalah satuan
dosis setelah memperhitungkan pengaruh

radiasi pada mahluk hidup (rem adalah


singkatan dari radiation equiwlen for man)
3.3 Pengaruh Radiasi pada Materi
Radiasi menyebabkan penumpukan energi
pada materi yang dilalui. Dampak yang
ditimbulkan radiasi dapat berupa ionisasi,
eksitasi, atau pemutusan ikatan kimia.
Ionisasi: dalam hal ini partikel radiasi
menabrak elektron orbital dari atom atau
molekul zat yang dilalui sehinga terbentuk
ion positip dan elektron terion.
Eksitasi: dalam hal ini radiasi tidak
menyebabkan elektron terlepas dari atom
atau molekul zat tetapi hanya berpindah
ke tingkat energi yang lebih tinggi.
Pemutusan Ikatan Kimia: radiasi yang
dihasilkan oleh zat radioaktif rnempunyai
energi yang dapat mernutuskan ikatanikatan kimia.
3.4 Pengaruh Radiasi pada mahluk
hidup
Walaupun energi yang ditumpuk sinar
radioaktif pada mahluk hidup relatif kecil
tetapi dapat menimbulkan pengaruh yang
serius. Hal ini karena sinar radioaktif
dapat mengakibatkan ionisasi, pemutusan
ikatan kimia penting atau membentuk
radikal bebas yang reaktif. Ikatan kimia
penting misalnya ikatan pada struktur

DNA dalam kromosom. Perubahan yang


terjadi pada struktur DNA akan diteruskan
pada sel berikutnya yang dapat
mengakibatkan kelainan genetik, kanker
dll.
Pengaruh radiasi pada manusia atau
mahluk hidup juga bergantung pada
waktu paparan. Suatu dosis yang diterima
pada sekali paparan akan lebih berbahaya
daripada bila dosis yang sama diterima
pada waktu yang lebih lama.
Secara alami kita mendapat radiasi dari
lingkungan, misalnya radiasi sinar kosmis
atau radiasi dari radioakif alam.
Disamping itu, dari berbagai kegiatan
seperti diagnosa atau terapi dengan sinar
X atau radioisotop. Orang yang tinggal
disekitar instalasi nuklir juga mendapat
radiasi lebih banyak, tetapi masih dalam
batas aman.
3.5 Radioaktif Sebagai Perunut.
Sebagai perunut, radoisotop ditambahkan
ke dalam suatu sistem untuk mempelajari
sistem itu, baik sistern fisika, kimia
maupun sistem biologi. Oleh karena
radioisotop mempunyai sifat kimia yang
sama seperti isotop stabilnya, maka
radioisotop dapat digunakan untuk
menandai suatu senyawa sehingga

perpindahan perubahan senyawa itu


dapat dipantau.
A. Bidang kedokteran
berbagai jenis radio isotop digunakan
sebagai perunut untuk mendeteksi
(diagnosa) berbagai jenis penyakit
al:teknesium (Tc-99), talium-201 (Ti-201),
iodin 131(1-131), natrium-24 (Na-24),
ksenon-133 (xe-133) dan besi (Fe-59). Tc99 yang disuntikkan ke dalam pembuluh
darah akan diserap terutama oleh
jaringan yang rusak pada organ tertentu,
seperti jantung, hati dan paru-paru
Sebaliknya Ti-201 terutama akan diserap
oleh jaringan yang sehat pada organ
jantung. Oleh karena itu, kedua isotop itu
digunakan secara bersama-sama untuk
mendeteksi kerusakan jantung
1-131 akan diserap oleh kelenjar gondok,
hati dan bagian-bagian tertentu dari otak.
Oleh karena itu, 1-131 dapat digunakan
untuk mendeteksi kerusakan pada
kelenjar gondok, hati dan untuk
mendeteksi tumor otak. Larutan garam
yang mengandung Na-24 disuntikkan ke
dalam pembuluh darah untuk mendeteksi
adanya gangguan peredaran darah
misalnya apakah ada penyumbatan

dengan mendeteksi sinar gamma yang


dipancarkan isotop Natrium tsb.
Xe-133 digunakan untuk mendeteksi
penyakit paru-paru. P-32 untuk penyakit
mata, tumor dan hati. Fe-59 untuk
mempelajari pembentukan sel darah
merah. Kadang-kadang, radioisotop yang
digunakan untuk diagnosa, juga
digunakan untuk terapi yaitu dengan
dosis yang lebih kuat misalnya, 1-131
juga digunakan untuk terapi kanker
kelenjar tiroid.
B. Bidang lndustri
Untuk mempelajari pengaruh oli dan
afditif pada mesin selama mesin bekerja
digunakan suatu isotop sebagai perunut,
Dalam hal ini, piston, ring dan komponen
lain dari mesin ditandai dengan isotop
radioaktif dari bahan yang sama.
C. Bidang Hidrologi.
1.Mempelajari kecepatan aliran sungai.
2.Menyelidiki kebocoran pipa air bawah
tanah.
D. Bidang Biologis
1. Mempelajari kesetimbangan dinamis.
2. Mempelajari reaksi pengesteran.
3. Mempelajari mekanisme reaksi
fotosintesis.

3.6 Radioisotop sebagai sumber


radiasi.
A. Bidang Kedokteran
1) Sterilisasi radiasi.
Radiasi dalam dosis tertentu dapat
mematikan mikroorganisme sehingga
dapat digunakan untuk sterilisasi alat-alat
kedokteran. Steritisasi dengan cara
radiasi mempunyai beberapa keunggulan
jika dibandingkan dengan sterilisasi
konvensional (menggunakan bahan
kimia), yaitu:
a) Sterilisasi radiasi lebih sempurna dalam
mematikan mikroorganisme.
b) Sterilisasi radiasi tidak meninggalkan
residu bahan kimia.
c) Karena dikemas dulu baru disetrilkan
maka alat tersebut tidak mungkin
tercemar bakteri lagi sampai kemasan
terbuka. Berbeda dengan cara
konvensional, yaitu disterilkan dulu baru
dikemas, maka dalam proses pengemasan
masih ada kemungkinan terkena bibit
penyakit.
2) Terapi tumor atau kanker.
Berbagai jenis tumor atau kanker dapat
diterapi dengan radiasi. Sebenarnya, baik
sel normal maupun sel kanker dapat

dirusak oleh radiasi tetapi sel kanker atau


tumor ternyata lebih sensitif (lebih mudah
rusak). Oleh karena itu, sel kanker atau
tumor dapat dimatikan dengan
mengarahkan radiasi secara tepat pada
sel-sel kanker tersebut.
B. Bidang pertanian.
1) Pemberantasan homo dengan teknik
jantan mandul
Radiasi dapat mengakibatkan efek
biologis, misalnya hama kubis. Di
laboratorium dibiakkan hama kubis dalam
bentuk jumlah yang cukup banyak. Hama
tersebut lalu diradiasi sehingga serangga
jantan menjadi mandul. Setelah itu hama
dilepas di daerah yang terserang hama.
Diharapkan akan terjadi perkawinan
antara hama setempat dengan jantan
mandul dilepas. Telur hasil perkawinan
seperti itu tidak akan menetas. Dengan
demikian reproduksi hama tersebut
terganggu dan akan mengurangi populasi.
2) Pemuliaan tanaman
Pemuliaan tanaman atau pembentukan
bibit unggul dapat dilakukan dengan
menggunakan radiasi. Misalnya
pemuliaan padi, bibit padi diberi radiasi
dengan dosis yang bervariasi, dari dosis
terkecil yang tidak membawa pengaruh

hingga dosis rendah yang mematikan. Biji


yang sudah diradiasi itu kemudian
disemaikan dan ditaman berkelompok
menurut ukuran dosis radiasinya.
3) Penyimpanan makanan
Kita mengetahui bahwa bahan makanan
seperti kentang dan bawang jika disimpan
lama akan bertunas. Radiasi dapat
menghambat pertumbuhan bahan-bahan
seperti itu. Jadi sebelum bahan tersebut di
simpan diberi radiasi dengan dosis
tertentu sehingga tidak akan bertunas,
dengan dernikian dapat disimpan lebih
lama.
C. Bidang Industri
1) Pemeriksaan tanpa merusak.
Radiasi sinar gamma dapat digunakan
untuk memeriksa cacat pada logam atau
sambungan las, yaitu dengan meronsen
bahan tersebut. Tehnik ini berdasarkan
sifat bahwa semakin tebal bahan yang
dilalui radiasi, maka intensitas radiasi
yang diteruskan makin berkurang, jadi
dari gambar yang dibuat dapat terlihat
apakah logam merata atau ada bagianbagian yang berongga didalamnya. Pada
bagian yang berongga itu film akan lebih
hitam,

2) Mengontrol ketebalan bahan


Ketebalan produk yang berupa lembaran,
seperti kertas film atau lempeng logam
dapat dikontrol dengan radiasi. Prinsipnya
sama seperti diatas, bahwa intensitas
radiasi yang diteruskan bergantung pada
ketebalan bahan yang dilalui. Detektor
radiasi dihubungkan dengan alat penekan.
Jika lembaran menjadi lebih tebal, maka
intensitas radiasi yang diterima detektor
akan berkurang dan mekanisme alat akan
mengatur penekanan lebih kuat sehingga
ketebalan dapat dipertahankan.
3) Pengawetan hahan
Radiasi juga telah banyak digunakan
untuk mengawetkan bahan seperti kayu,
barang-barang seni dan lain-lain. Radiasi
juga dapat menningkatkan mutu tekstil
karena inengubah struktur serat sehingga
lebih kuat atau lebih baik mutu
penyerapan warnanya. Berbagai jenis
makanan juga dapat diawetkan dengan
dosis yang aman sehingga dapat
disimpan lebih lama.
Bab 4. Dampak Radioaktif
Pengertian atau arti definisi pencemaran
radioaktif adalah suatu pencemaran
lingkungan yang disebabkan oleh debu
radioaktif akibat terjadinya ledakan

reaktor-reaktor atom serta bom atom.


Yang paling berbahaya dari pencemaran
radioaktif seperti nuklir adalah radiasi
sinar alpha, beta dan gamma yang sangat
membahayakan makhluk hidup di
sekitarnya. Selain itu partikel-partikel
neutron yang dihasilkan juga berbahaya.
Zat radioaktif pencemar lingkungan yang
biasa ditemukan adalah 90SR merupakan
karsinogen tulang dan 131J. Tak bisa
dipungkiri, radioaktif yang dimanfaatkan
diberbagai industri termasuk di dunia
kedokteran, memiliki kegunaan yang luar
biasa efektif dan efisien. Namun kita pun
tak bisa menutup mata, dibalik berbagai
keuntungan positif penggunaan radioaktif,
kecelakaan pun kerap mengintai orangorang yang berurusan dengan zat itu.
Misalnya, berbagai keluhan dan penyakit
tertentu,hingga terjadinya kematian.
Menurut Arifin S Kurtiono, Sekretaris
Umum Bapeten (Badan Pengawas Tenaga
Nuklir-dulu lebih dikenal dengan nama
BATAN, dalam dunia kedokteran zat
radioaktif dimanfaatkan untuk therapy,
misalnya Tele-therapy dan Brachytherapy, serta Kedokteran Nuklir.
Pengertian Zat Radioaktif sendiri menurut
UU No. 10/1997 tentang

ketenaganukliran, adalah setiap zat yang


memancarkan radiasi pengion dengan
aktifitas jenis lebih besar dari 70kBq/Kg.
Sedangkan Limbah Radioaktif adalah zat
radioaktif dan bahan serta peralatan yang
telah terkena zat radioaktif atau menjadi
radioaktif, karena pengoperasian instalasi
nuklir yang tidak dapat digunakan lagi.
Kecelakaan akibat radiasi bisa terjadi
karena sumber radiasi (zat radioaktif
ataupun limbah radioaktif) yang
digunakan industri maupun rumah sakit
itu, hilang, dicuri, ataupun lepas dari
pengelolaan atau pengawasan yang
semestinya.
Hampir di seluruh dunia yang melakukan
kegiatan pemanfaatan radiasi, pernah
mengalami kecelakaan yang disebabkan
zat ataupun limbah radioaktif. Informasi
dari Bapeten menyebutkan, kecelakaan
radiasi terjadi pada fasilitas konversi JCO
(anak perusahaan Sumitomo Metal Mining
Co) Jepang, tepatnya di kota Tokaimura
pada 30 September 1999. Korban radiasi
tercatat 62 orang karyawan JCO, 7 orang
penduduk sekitar, dan menewaskan satu
orang.
Di Brazil, tahun 1985 perangkat Teletherapy yang terbengkalai karena

reruntuhan rumah sakit menyebabkan 4


korban jiwa dalam bulan pertama. Sekitar
112 ribu orang harus dimonitor (249
orang diantaranya telah tanah (setara
275 gerbong kereta) dan
puingnya3terkontaminasi), 3500 m harus
dipindahkan statusnya menjadi limbah
radioaktif yang berbahaya.
Beberapa kecelakaan akibat radioaktif
juga terjadi di San Salvador, El Savador
(1989), Soreq, Israel (1990), Hanoi,
Vietnam (1992), dan di San Jose,
Costarica (1996). Di Indonesia sendiri,
kecelakaan radiasi terjadi pada bulan
Januari 1998 di salah satu rumah sakit,
yang menewaskan satu orang.
Rumah sakit memang salah satu
pengguna cukup besar dalam
pemanfaatan tenaga nuklir. Data dari
Bapeten menunjukkan sebanyak 24
rumah sakit di Indonesia memanfaatkan
radiasi untuk radiodiagnosis
(pemeriksaan) dan radioterapi
(pengobatan). Beberapa bahan radioaktif
yang banyak digunakan rumah-rumah
sakit tersebut, adalah Co (Cobalt 60), Ra226, Cs-137, Ir-192, I-125, SR-90, Am-241,
I-153, dan lainnya.

Menurut Kepala Pusat Pengembangan


Pengelolaan Limbah Radioaktif (P2LPR)
BATAN Serpong Drs Gunanjar MSc, dari
24 rumah sakit yang memiliki bahan
radioaktif, baru sekitar 7 rumah sakit
yang limbahnya disimpan di tempatnya.
Beberapa rumah sakit masih menyimpan
limbah radioaktifnya di tempat
penyimpanan sementara di rumah sakit.
Meski penyimpanan sementara ini
tergolong cukup aman karena
mendapatkan perizinan dan pengawasan
ketat dari Bapeten, akan lebih baik jika
limbah radioaktif itu disimpan ditempat
semestinya yang aman dan terkelola
dengan baik.
Membahayakan Kesehatan Manusia
Meski manfaatnya sangat luas, tak
dipungkiri, tenaga nuklir juga memiliki
potensi bahaya yang tidak kecil bagi
kesehatan maupun keselamatan manusia.
Penyakit-penyakit yang timbul akibat
radiasi, misalnya kanker, leukimia,
rusaknya jaringan otak, serta kerugian
fisik lainnya.
International Atomic Energy Agency (IAEA)
dan World Health Organization (WHO),
memberikan informasi menarik tentang
luka yang akan timbul akibat terkena

radiasi. Disebutkan, luka radiasi tidak


memiliki tanda dan gejala yang khusus
sehingga sangatlah penting bagi
masyarakat atau dokter terutama dokter
umum untuk mengetahui efek dari
kecelakaan radiasi.
Dijelaskan IAEA dan WHO, bahwa
pancaran radiasi dapat berupa eksternal
ke tubuh, yakni pancarannya ke seluruh
tubuh atau terbatas untuk bagian besar
atau bagian kecil di anggota tubuh. Bisa
juga berupa internal karena kontaminasi
dengan material radioaktif, jika termakan,
terminum, terhirup, atau menempel di
dalam luka. Pancaran itu sendiri dapat
bersifat akut, berlarut-larut atau kecil,
tergantung pada dosis radiasinya.
Jenis pancaran radiasi yang mungkin
timbul dari sebuah kecelakaan, ada tiga
macam. Pertama, Pancaran Seluruh Tubuh
akibat penetrasi sumber radiasi yang
termasuk fase prodromal awal dengan
gejala, seperti mual, pusing, kemungkinan
demam, dan mencret serta diikuti oleh
sebuah periode laten dengan panjang
beragam. Kemudian diikuti dengan
periode kesakitan (illness) yang
dikarakteristikkan oleh infeksi,
pendarahan, dan gejala gastrointestinal.

Kedua, Pancaran Lokal. Pancaran ini


tergantung seberapa besar dosis yang
diterima dan biasanya memberikan tanda
dan gejala pada area yang terkena
pancaran berupa erythema, oedema,
desquamation kering dan basah,
blistering, pain, pembusukan, gangrene,
atau kerontokan rambut. Luka-luka kulit
lokal bertambah secara perlahan seiring
waktu, lazimnya minggu atau bulan, dan
jika dibiarkan akan menjadi sangat sakit.
Metode pengobatannya pun bukan
metode yang biasa.
Ketiga, Pancaran Tubuh Sebagian. Di sini
jenis dan efeknya tergantung pada dosis
dan volume bagian tubuh yang
mengalami pancaran radiasi. Biasanya tak
ada gejala awal jika mengalami
kontaminasi internal kecuali dosisnya
sangat tinggi atau berlebihan. Untuk
pancaran radiasi ini sangat jarang terjadi.
Pihak Terkait Harus Sepemahaman
Mengingat dampak yang ditimbulkan dari
kecelakaan radiasi sangat berbahaya,
semua pihak yang terkait dengan urusan
ketenaganukliran haruslah searah dan
sepemahaman. Catatan dari Bapeten
menjelaskan, kecelakaan-kecelakaan yang
terjadi akibat radioaktif, disebabkan

adanya kecerobohan operator ataupun


perangkat proteksi radiasi yang kurang
memadai dalam suatu fasilitas, sistem
pengawasan nasional yang tidak
mencukupi, serta kurangnya pengetahuan
masyarakat terhadap zat radioaktif dan
sumber radiasi.
Badan Tenaga Atom Internasional (BTAI)
sendiri mengeluarkan standar
keselamatan radiasi yang sangat lengkap
dan menyeluruh. Yang menarik adalah
semua pihak harus memahami 3 prinsip
dasar proteksi radiasi. Pertama,
pembenaran. Artinya, kegiatan yang
menggunakan zat radioaktif dan sumber
radiasi harus memiliki manfaat yang jauh
lebih besar dibandingkan dengan resiko
yang diterima. Kedua, optimisasi. Yaitu
penerimaan pancaran radiasi diusahakan
serendah-rendahnya dengan
mempertimbangkan faktor sosial
ekonomi. Ketiga, pembahasan.
Menentukan agar dosis radiasi total yang
diterima seseorang tidak boleh melebihi
angka yang ditetapkan badan pengawas.
Nilai batas dosis untuk pekerja radiasi
dalam standar yang disusun BTAI sendiri
diturunkan dari 50 mSv pertahun menjadi
20 mSv (rata-rata dalam 5 tahun). Dan

dalam satu tahun tidak boleh menerima


lebih dari 50 mSv. Untuk menjamin
keselamatan dan kesehatan pekerja serta
masyarakat dalam pemanfaatan tenaga
nuklir pada instalasi kesehatan, harus
diperhatikan antara lain persyaratan
desain, operasi, kalibrasi, dosimetri, dan
jaminan kualitas. Masyarakat disamping
pekerja mendapat perlindungan utama,
nilai batas dosis dalam suatu kelompok
kritis masyarakat diturunkan menjadi 1
mSv/tahun dari 5 mSv/tahun.
Tampaknya memang perlu disimak
sepenggal catatan yang ditulis Dahlia
Cakrawati dari Direktorat Peraturan
Keselamatan Nuklir. Jika kita memang
ingin bersama-sama mencegah
kecelakaan radiasi, maka itikad baik dan
kesungguhan dari pihak pemegang izin
maupun pengawas adalah mutlak. Di satu
sisi, aparat badan pengawas diwajibkan
dapat mengevaluasi dan menginspeksi
pemegang izin secara profesional,
objektif, dan bebas dari konflik
kepentingan. Di sisi lain, pihak pemegang
izin perlu berupaya semaksimal mungkin
untuk menerapkan budaya keselamatan
dan kualitas, serta melaksanakan
persyaratan perizinan.

Radioaktif bukanlah politik yang bisa


dibuat mainan dan guyonan. Keseriusan
untuk mengelolanya adalah sebuah
keharusan, sebab jutaan nyawa bisa
terancam karenanya. Bak pisau bermata
dua, di satu sisi radioaktif sangatlah
bermanfaat bagi kehidupan manusia, di
sisi lain mengundang resiko kecelakaan
yang sangat berbahaya. Sehingga,
sangatlah wajar jika Bapeten melakukan
langkah ketat dan taktis dalam soal
pengawasan radioaktif di berbagai
instansi terutama di rumah sakit.
Pengawasan tersebut meliputi
pengadaan, instalasi, pengoperasian,
pengolahan limbah sementara,
pengaturan, perizinan, dan inspeksi.
Tips untuk Para Dokter
Jika seorang dokter mendapatkan pasien
yang diduga kuat terkena kecelakaan
radiasi, langkah yang harus dilakukan
adalah:
Jika pasien memiliki luka atau kesakitan
yang konvensional, yang diperlukan
adalah tindakan dan perlakukan yang
normal. Perlu diketahui, bahwa radiasi
tidaklah secara cepat menghasilkan
gejala yang mengancam kehidupan.

Perlu diketahui juga, pasien yang


mengalami luka karena radiasi tidak
menimbulkan resiko bagi dokter.
Janganlah menyentuh terhadap benda
yang tidak terlalu dikenal milik pasien
dan pindahkan staf dan pasien ke
ruangan lain sampai sifat dari benda
tersebut ditentukan oleh petugas
proteksi radiasi.
Jika diduga adanya kontaminasi maka
singkirkan jauh-jauh bahan tersebut
dengan menggunakan prosedur isolasi.
Hubungi penanggung jawab radiasi
atau petugas proteksi radiasi untuk
memonitor bahan tersebut.
Lakukan pengujian darah secara
lengkap, ulangi setiap 4 sampai 6 jam
dalam sehari. Cari adanya penurunan
jumlah absolut lymphocyte jika
pancaran masih dini. Jika jumlah awal
sel darah putih dan angka partikel
secara abnormal rendah pada saat
yang sama, kemungkinan pasien telah
terpancar radiasi 3 atau 4 minggu lebih
awal.

Langkah terakhir, laporkan kepada


penanggung jawab kesehatan dan
petugas proteksi radiasi jika didiagnosa
atau diduga merupakan luka/efek dari
kecelakaan radiasi.
Apabila ada makhluk hidup yang terkena
radiasi atom nuklir yang berbahaya
biasanya akan terjadi mutasi gen karena
terjadi perubahan struktur zat serta pola
reaksi kimia yang merusak sel-sel tubuh
makhluk hidup baik tumbuh-tumbuhan
maupun hewan atau binatang.
Efek serta Akibat yang ditimbulkan oleh
radiasi zat radioaktif pada umat manusia
seperti berikut di bawah ini :
1. Pusing-pusing
2. Nafsu makan berkurang atau hilang
3. Terjadi diare
4. Badan panas atau demam
5. Berat badan turun
6. Kanker darah atau leukimia
7. Meningkatnya denyut jantung atau nadi
8. Daya tahan tubuh berkurang sehingga
mudah terserang penyakit akibat sel
darah putih yang jumlahnya berkurang
4.1 Apa itu limbah radioaktif ?
Ada beberapa pengertian limbah
radioaktif :

1. Zat radioaktif yang sudah tidak dapat


digunakan lagi, dan atau
2. Bahan serta peralatan yang terkena zat
radioaktif atau menjadi radioaktif, dan
sudah tidak dapat difungsikan. Bahan
atau peralatan tersebut terkena atau
menjadi radioaktif kemungkinan karena
pengoperasian instalasi nuklir atau
instalasi yang memanfaatkan radiasi
pengion.
4.2 Ada berapa jeniskah limbah
radioaktif ?
Jenis limbah radioaktif :
Dari segi besarnya aktivitas dibagi dalam
limbah aktivitas tinggi, aktivitas sedang
dan aktivitas rendah.
Dari umurnya di bagi menjadi limbah
umur paruh panjang, dan limbah umur
paruh pendek.
Dari bentuk fisiknya dibagi menjadi
limbah padat, cair dan gas.
4.3 Berasal darimanakah limbah
radioaktif ?
Limbah radioaktif berasal dari setiap
pemanfaatan tenaga nuklir, baik
pemanfaatan untuk pembangkitan daya
listrik menggunakan reaktor nuklir,

maupun pemanfaatan tenaga nuklir untuk


keperluan industri dan rumah sakit.
4.4 Bagaimana cara mengelola
limbah radioaktif ?
Limbah radioaktif dikelola sedemikian
rupa sehingga tidak membahayakan
masyarakat, pekerja dan lingkungan, baik
untuk generasi sekarang maupun
generasi yang akan datang. Cara
pengelolaannya dengan mengisolasi
limbah tersebut dalam suatu wadah yang
dirancang tahan lama yang ditempatkan
dalam suatu gedung penyimpanan
sementara sebelum ditetapkan suatu
lokasi penyimpanan permanennya.
Apabila dimungkinkan pengurangan
volume limbah maka dilakukan proses
reduksi volume, misalnya menggunakan
evaporator untuk limbah cair,
pembakaran untuk limbah padat maupun
cair yang dibakar, ataupun pemanfaatan
untuk limbah padat yang bisa
dimanfaatkan. Penyimpanan permanen
dapat berupa tempat di bawah tanah
dengan kedalaman beberapa ratus meter
untuk limbah aktivitas tinggi dan waktu
paruh panjang, atau dekat permukaan
tanah dengan kedalaman hanya beberapa
puluh meter untuk limbah aktivitas

rendah-sedang. Bahan radioaktif dapat


dihasilkan dari kegiatan nuklir maupun
kegiatan non-nuklir.
Dari kegiatan nuklir, karena berurusan
dengan penggunaan bahan radioaktif
maka sudah barang tentu limbah
radioaktif akan dihasilkan. Kegiatan nuklir
yang dimaksud antara lain seperti
pengoperasian reaktor riset,
pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga
Nuklir (PLTN) dan kegiatan daur-ulang
bahan bakar nuklir (BBN) bekas dan
dekomisioning instalasi/fasilitas nuklir.
Sedangkan yang bukan berasal dari
kegiatan nuklir atau biasa dikaitkan
dengan apa yang disebut dengan NORM
(Naturally Occurring Radioactive Material),
dan TENORM (Technologically-Enhanced
Naturally Occurring Radioactive Material).
NORM merupakan bahan radioaktif yang
sudah ada di alam yang secara sadar atau
tidak sadar merupakan bagian dari
kehidupan manusia. NORM terdapat di
mana-mana, karena hampir semua bahan
alami, baik dalam tubuh, makanan,
ataupun di lingkungan sedikit banyak
mengandung bahan radioaktif alami.
TENORM adalah bahan radioaktif yang
diambil dari alam (batuan, tanah, dan

mineral) dan terkonsentrasi atau naik


kandungan radioaktivitasnya sebagai
akibat dari kegiatan industri. TENORM
dijumpai di pertambangan uranium,
pabrik produksi pupuk fosfat, produksi
minyak dan gas, produksi energi
geotermal. Regulasi pengelolaan NORM
dan TENORM di beberapa negara maju
telah ditetapkan, namun belum ada
guideline dari IAEA.
Pengelolaan limbah radioaktif
dilaksanakan sebagai tindakan
pencegahan terhadap timbulnya bahaya
radiasi terhadap pekerja, anggota
masyarakat dan lingkungan hidup.
Pengelolaan limbah radioaktif adalah
pengumpulan, pengelompokan,
pengolahan, pengangkutan, penyimpanan
sementara dan penyimpanan lestari dan
pembuangan limbah (disposal). Dalam
pengelolaan limbah radioaktif sesuai
ketentuan yang berlaku diterapkan
program pemantauan lingkungan yang
dilaksanakan secara berkesinambungan,
sehingga keselamatan masyarakat dan
lingkungan dari potensi dampak radiologik
yang ditimbulkan selalu berada dalam
batas keselamatan yang

direkomendasikan secara nasional


maupun internasional.
Dalam pemanfatan iptek untuk berbagai
tujuan selalu ditimbulkan sisa
proses/limbah, karena efisiensi tidak
pernah mencapai 100%. Demikian juga
dalam pemanfaatan, pengembangan dan
penguasaan iptek nuklir selalu akan
ditimbulkan limbah radioaktif sebagai sisa
proses. Limbah radioaktif yang
ditimbulkan harus dikelola dengan baik
dan tepat agar tidak mencemari
lingkungan, karena berpotensi
mengganggu kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pengalaman di negara maju,
ditunjukkan bahwa pembersihan
lingkungan (clean up) akibat terjadinya
pencemaran oleh limbah radioaktif
membutuhkan biaya 10 sampai 100 kali
lebih besar dibandingkan bila biaya
pengelolaan limbah tersebut secara baik.
Dalam pemanfaatan iptek nuklir,
minimisasi limbah diterapkan mulai dari
perencanaan, pemanfaatan (selama
operasi) dan setelah masa operasi (pasca
operasi). Pada tahap awal/perencanaan
pemanfaatan iptek nuklir diterapkan azas
justifikasi, yaitu tidak dibenarkan
memanfaatkan suatu iptek nuklir yang

menyebabkan perorangan atau anggota


masyarakat menerima paparan radiasi
bila tidak menghasilkan suatu manfaat
yang nyata. Dengan menerapkan azas
justifikasi berarti telah memimisasi
potensi paparan radiasi dan kontaminasi
serta membatasi limbah serta dampak
lainnya yang akan ditimbulkan pada
sumbernya. Selain penerapan azas
justifikasi atas suatu pemanfaatan iptek
nuklir, pemanfaatan iptek nuklir tersebut
harus lebih besar manfaatnya
dibandingkan kerugian yang akan
ditimbulkannya, dan dalam pembangunan
dan pengoperasiannya harus mendapat
izin lokasi, pembangunan, dan
pengoperasian dari Badan Pengawas
(dalam hal ini BAPETEN di Indonesia).\
Limbah radioaktif yang ditimbulkan dari
pemanfaatan iptek nuklir umumnya
dikelompokkan ke dalam limbah tingkat
rendah (LTR), tingkat sedang (LTS) dan
tingkat tinggi (LTT). Pengelompokan ini
didasarkan kebutuhan isolasi limbah
untuk jangka waktu yang panjang dalam
upaya melindungi pekerja radiasi,
lingkungan hidup, masyarakat dan
generasi yang akan datang.
Pengelompokan ini merupakan strategi

awal dalam pengelolaan limbah radioaktif.


Sistem pengelompokan limbah di tiap
negara umumnya berbeda-beda sesuai
dengan tuntutan keselamatan/peraturan
yang berlaku di masing-masing negara.
Pengelompokan limbah dapat dilakukan
selain berdasarkan tingkat aktivitasnya,
juga dapat berdasarkan waktu paruh
(T1/2), panas gamma yang ditimbulkan
dan kandungan radionuklida alpha yang
terdapat dalam limbah. Di Indonesia,
sesuai Pasal 22 ayat 2, U.U. No. 10/1997,
limbah radioaktif berdasarkan
aktivitasnya diklasifikasikan dalam jenis
limbah radioaktif tingkat rendah (LTR),
tingkat sedang (LTS) dan tingkat tinggi
(LTT). Berdasarkan aktivitasnya
dikelompokkan menjadi
limbah aktivitas rendah (10-6Ci/m3 <
LTR < 10-3Ci/m3)
limbah aktivitas sedang (10-3Ci/m3 <
LTS < 104Ci/m3)
limbah aktivitas tinggi (LTT > 104Ci/m3)
Bab 5. Teknologi Pengolahan Limbah
Tujuan utama pengolahan limbah adalah
mereduksi volume dan kondisioning
limbah, agar dalam penanganan
selanjutnya pekerja radiasi, anggota
masyarakat dan lingkungan hidup aman

dari paparan radiasi dan kontaminasi.


Teknologi pengolahan yang umum
digunakan antara lain adalah:
Teknologi alih-tempat (dekontaminasi,
filtrasi, dll.)
Teknologi pemekatan (evaporasi, destilasi,
dll.)
Teknologi transformasi (insinerasi,
kalsinasi)
Teknologi kondisioning (integrasi dengan
wadah, imobilisasi, adsorpsi/absorpsi)
Limbah yang telah mengalami reduksi
volume selanjutnya dikondisioning dalam
matriks beton, aspal, gelas, keramik,
synrock, dan matrik lainnya, agar zat
radioaktif yang terkandung terikat dalam
matriks sehingga tidak mudah terlindi
dalam kurun waktu yang relatif lama
(ratusan/ribuan tahun) bila limbah
tersebut disimpan secara lestari/di
disposal ke lingkungan. Pengolahan
limbah ini bertujuan agar setelah
ratusan/ribuan tahun sistem disposal
ditutup (closure), hanya sebagian kecil
radionuklida waktu-paruh (T1/2) panjang
yang sampai ke lingkungan hidup
(biosphere), sehingga dampak radiologi
yang ditimbulkannya minimal dan jauh di

bawah NBD (nilai batas dosis) yang


ditolerir untuk anggota masyarakat.
5.1 Apa bahayanya limbah
radioaktif ?
Karena limbah memancarkan radiasi,
maka apabila tidak diisolasi dari
masyarakat dan lingkungan maka radiasi
limbah tersebut dapat mengenai manusia
dan lingkungan. Misalnya, limbah
radioaktif yang tidak dikelola dengan baik
meskipun telah disimpan secara
permanen di dalam tanah,
radionuklidanya dapat terlepas ke air
tanah dan melalui jalur air tanah tersebut
dapat sampai ke manusia.
Bahaya radiasi adalah, radiasi dapat
melakukan ionisasi dan merusak sel organ
tubuh manusia. Kerusakan sel tersebut
mampu menyebabkan terganggunya
fungsi organ tubuh. Disamping itu, sel-sel
yang masih tetap hidup namun
mengalami perubahan, dalam jangka
panjang kemungkinan menginduksi
adanya tumor atau kanker. Ada
kemungkinan pula bahwa kerusakan sel
akibat radiasi mengganggu fungsi
genetika manusia, sehingga keturunannya
mengalami cacat

5.2 Apakah limbah radioaktif yang


telah diolah bisa dibuang ke
lingkungan ?
Limbah radioaktif sebagian dapat dibuang
ke lingkungan apabila kandungannya
(konsentrasi dan radioaktivitasnya) telah
dibawah batas ambang yang ditetapkan
oleh Pemerintah (Badan Pengawas Tenaga
Nuklir, BAPETEN). Namun sebagian lagi
karena aktivitasnya dan umurnya panjang
maka harus disimpan dalam jangka yang
sangat panjang.
5.3 Adakah hubungan limbah
radioaktif dengan Limbah B3 ?
Sebenarnya definisi, limbah radioaktif
adalah bagian dari limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3), namun ada
kalanya sebagian masyarakat
membedakan kedua jenis limbah
tersebut. Menurut pandangan terakhir ini,
terdapat istilah mixed waste (limbah
campuran), yaitu limbah yang
mengandung campuran unsur radioaktif
sekaligus B3. Sebagai contoh, dalam
proses pembuatan bahan bakar uranium,
terdapat limbah yang mengandung asam
(B3) dan radionuklida sekaligus. Sehingga
dalam penanganannya, kedua sifat

bahaya tersebut (B3 dan radioaktif) harus


selalu dipertimbangkan.
5.4 Siapakah yang bertanggung
jawab mengelola limbah radioaktif ?
Pengelolaan limbah radioaktif
didefinisikan sebagai kegiatan
pengumpulan, pengangkutan,
pengolahan, penyimpanan sementara
serta penyimpanan secara permanen.
Apabila badan pengawas mengijinkan,
maka kegiatan pengelolaan tersebut
sebagian boleh dilaksanakan oleh pihak
penghasil limbah radioaktif, yaitu dari
pengumpulan sampai penyimpanan
sementara. Namun penyimpanan
permanen dilaksanakan oleh BATAN.
Apabila penghasil limbah radioaktif tidak
mampu melaksanakan kegiatan sebagian
pengelolaan tersebut, maka pengelolaan
limbah radioaktif sepenuhnya kewajiban
BATAN.
Badan yang melakukan pengawasan
adalah Badan Pengawas Tenaga Nuklir
(BAPETEN) yang terpisah dari badan
pelaksana (BATAN). Hal ini sesuai dengan
amanat UU No. 10 tahun 1997 tentang
Ketenaganukliran.

5.5 Adakah dasar hukum yang


mengatur mengenai limbah
radioaktif ?
Dasar hukum yang mengatur limbah
radioaktif adalah Undang-Undang No. 10
tahun 1997 tentang Ketenaganukliran,
serta Peraturan pemerintah No. 27 tahun
2002 tentang Pengelolaan Limbah
Radioaktif.
5.6 Berapakah biaya pengolahan
limbah Radioaktif ?
Biaya limbah tersebut sangat bergantung
pada jenis limbahnya. Terdapat perbedaan
biaya antara limbah radioaktif cair, padat
terbakar, padat terkompaksi dan
sebagainya.
Seluruh tarif tersebut telah ditetapkan
dalam Peraturan pemerintah No. 16 tahun
2001. Sebagai contoh biaya pengolahan
limbah radioaktif cair untuk aktivitas
rendah dan sedang adalah Rp. 7300,perliter, sedangkan limbah sumber bekas
jarum Ra-226 dari rumah sakit sebesar
Rp. 466.000,- perjarum.
Tarif tersebut secara periodik ditinjau dan
dimodifikasi sesuai dengan
perkembangan teknologi serta perubahan
ekonomi yang terjadi.

Berdasarkan penelitian yang telah


dilakukan bahwa daerah disekitar limbah
memilki jumlah cacahan permenit yang
lebih besar dibandingkan daerah bunker
ataupun daerah
alam terbuka.ini menunjukan bahwa
daerah disekitar limbah memiliki aktivitas
radioaktif yang cukup besar, daerah
disekitar bunker memiliki jumlah cacahan
permenit yang sama dengan daerah alam
terbuka. Pemantauan atau monitoring
terhadap nanturally occuring radioactive
materials atau sering disebut dengan
NORM dapat dilakukan salah satunya
dengan cara pengukuran konsentrasi
partikulat radioaktif diudara. Partikulat
radioaktif adalah partikel-partikel
radioaktif yang ada di alam yang
keberadaanya menyatu dengan udara,
seperti debu radioaktif. Pengukuran
konsentrasi partikulat radioaktif diudara
dapat diketahui dengan jalan melakukan
pencacahan terhadap suatu lokasi yang
akan diukur konsentrasinya, pencacahan
ini bertujuan untuk mengetahui cacahan
awal, waktu paro dan jenis dari suatu
radionuklida yang berada pada suatu
sampel penelitian. Hasil penelitian dapat
diperoleh kesimpulan yaitu Partikel

Radioaktif alam yang ditemukan


dikawasan BATAN Pasar jumat adalah Pb214 dan Bi-214 yang merupakan deret
Uranium yang mempunyai waktu paro
berumur pendek, Konsentrasi Partikulat
Radioaktif Pb-214 dan Bi-214 dilokasi
limbah memiliki aktifitas yang tinggi
dengan nilai KPR yang lebih besar
dibandingkan nilai KPR dilokasi yang
bunker dan alam terbuka, dan perubahan
konsentrasi NORM dipengaruhi oleh
aktifitas partikulat radioaktif alam yang
diakibatkan oleh TENORM yaitu adanya
sumber radioaktif. Tingkat radiasi untuk
daerah limbah, bunker, dan alam terbuka
tergolong rendah dengan demikian ketiga
daerah tersebut dinyatakan aman dari
radiasi. Berdasarkan hasil penelitian,
maka penelitian perlu dilakukan dilokasi
yang memiliki aktifitas yang radioaktifnya
besar misalnya di industri kilang minyak,
industri batu bara dan industri-industri
lain yang menghasilkan limbah radioaktif,
bagi masyarakat diharapkan untuk lebih
mengetahui tingkat radiasi bagi
kesehatan tubuh, dan bagi pemerintah
hendaknya memberi peringatan untuk
daerah yang memiliki tingkat energi
radiasi yang tinggi.

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Limbah Radioaktif adalah bahan yang
terkontaminasi dengan radio isotop yang
berasal dari penggunaan medis atau riset
radio nukleida.
Pengertian atau arti definisi pencemaran
radioaktif adalah suatu pencemaran
lingkungan yang disebabkan oleh debu
radioaktif akibat terjadinya ledakan
reaktor-reaktor atom serta bom atom.
Yang paling berbahaya dari pencemaran
radioaktif seperti nuklir adalah radiasi
sinar alpha, beta dan gamma yang sangat
membahayakan makhluk hidup di
sekitarnya.
Zat radioaktif dan radioisotop berperan
besar dalam ilmu kedokteran yaitu untuk
mendeteksi berbagai penyakit, diagnosa
penyakit yang penting antara lain tumor
ganas. Kemajuan teknologi dengan
ditemukannya zat radioaktif dan
radioisotop memudahkan aktifitas
manusia dalam berbagai bidang
kehidupan.
B. SARAN
Mengingat penjelasan-penjelasan dalam
makalah diatas sangat jauh dari

kesempurnaan,karena masih banyaknya


kekurangan,dan kurang merinci dan
lengkapnya materi yang dikutip atau
disampaikan,maka untuk masa-masa
yang akan datang semoga makalah ini
dapat lebih disempurnakan,dan lebih
mendalami serta memperinci materimaterinya lagi,sehingga makalah ini
dapat disajikan dengan lebih baik lagi.
Dan dari segi materi,berhubung kami
mengambil tema yaitu B3 atau Bahan
Berbahaya dan Beracun,maka selaku
penyusun kami berharap agar
penanganan Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun tersebut jangan dijadikan
masalah yang sepele,namun hal tersebut
tentunya dapat menjadi perhatian kita
bersama,bukan hanya pemerintah,tetapi
kita semua,karena apabila dampak dari
limbah Bahan Berbahaya dan beracun
tersebut telah menyebar luas,maka bukan
hanya satu ataupun dua orang yang akan
menerima akibatnya,tetapi juga akan
berpengaruh terhadap orang banyak
termasuk mungkin diri kita sendiri.Selain
itu:
1. Masalah zat radioaktif dan radioisotop
hendaknya tidak ditafsirkan sebagai satu
fenomena yang menakutkan.

2. Penggunaan radioaktif dan radioisotop


hendaknya dibarengi pengetahuan dan
teknologi yang tinggi.
3. Penerapan dalam diagnosa berbagai
penyakit hendaknya memikirkan efekefek yang akan ditimbulkan.
4. Diharapkan penggunaan zat radioaktif
dan radioisotop ini untuk kemakmuran
dan kesejahteraan umat manusia.