Anda di halaman 1dari 29

TUGAS MATA KULIAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN BAYI dan ANAK

PERKEMBANGAN EMOSI, SOSIAL, DAN KEPRIBADIAN


PADA MASA KANAK KANAK AWAL

Oleh :
Nama : Shirley Angeline Kusuma
NIM : 16.E2.0012

MAGISTER SAINS PSIKOLOGI UNIKA SOEGIJAPRANATA


SEMESTER GASAL 2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN

I.

Latar Belakang
Usia 3 6 tahun atau yang oleh Papalia dan juga Santrock dalam bukunya masing

masing menyebutnya sebagai Masa Kanak kanak Awal (Papalia, 2013, h. 378, Santrock,
2011, h.278, h. 25), merupakan masa di mana kehidupan emosi dan kepribadian
memperlihatkan perkembangan yang berarti. Cakrawala dunia semakin terbuka lebar, dulunya
dunia mereka hanyalah ibu pada masa bayi dan kemudian ibu dan ayah pada periode
perkembangan selanjutnya, namun pada masa kanak kanak awal kawan kawan sebaya
mulai berperan dalam perkembangan anak anak dan mengisi kehidupan mereka sehari hari.
Dengan semakin banyaknya orang orang yang ditemui pada masa kanak kanak awal ini,
maka periode ini juga merupakan periode perkembangan yang sangat krusial dalam
perekembangan psikososial anak. Menurut Papalia (Papalia, 2013, h. 378) perkembangan
emosional anak dan pembentukan diri manusia berasal dari pengalaman di masa kanak kanak
awal ini dan akan terus berkembang sampai kepada periode periode perkembangan
berikutnya.
Banyak hal berkaitan dengan pemahaman diri sendiri dan perasaan perasaan mereka
akan mulai berkembang di masa ini, demikian juga pemahaman mengenai identitas sebagai
perempuan atau laki laki mulai muncul dan mempengaruhi perilaku mereka, dan juga
aktivitas aktivitas dan pola bersosialisasi juga mengalami perubahan, dari situ kita juga bisa
mempelajari pengaruh apa saja yang menjadi penyebab perubahan perilaku, cara bersosilisasi
dan perkembangan emosi kanak kanak awal. Untuk memahami perkembangan emosi dan
sosial pada masa kanak kanak awal tersebut, maka dalam makalah ini kita akan membahas
mengenai :
1. Bagaimana Perkembangan Emosi pada masa kanak kanak awal
2. Bagaimana perkembangan sosial masa kanak kanak awal?
3. Faktor faktor apa saja yang mempengaruhi perekembangan sosial emosional masa
kanak kanak awal?
4. Bagaimana pola bermain masa kanak kanak awal?
5. Pola asuh yang bagaimana yang diterapkan pada masa kanak kanak awal?

BAB II
PEMBAHASAN

I.

Perkembangan Emosi dan Kepribadian


Menurut Crow & Crow (1958) dalam (Perkembangan Peserta Didik
(2002:149)) pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian
dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud tingkah laku
yang nampak.
Pada periode perkembangan kanak kanak awal ini merupakan saat
ketidakseimbangan dimana anak mudah terbawa ledakan-ledakan emosional sehingga
sulit di bimbing dan diarahkan. Menurut Hurlock (1980, h. 114) perkembangan emosi
ini mencolok pada saat anak berusia 2,5-3,5 tahun dan 5,5-6,5 tahun, dengan diawali
oleh adanya emosi dasar (Papalia, 2013, h.265) atau yang disebut Santrock dengan
emosi primer (Santrock, 2011, h. 206) yaitu yang mencakup terkejut, tertarik, gembira,
marah, sedih, takut, dan jijik. Dari tujuh emosi dasar pada bayi tersebut, anak anak
awal mengalami perkembangan emosi yang lebih kompleks lagi dengan karakteristik
sebagai berikut :

1) Ciri Khas Penampilan Emosi Anak (Hurlock, 1978, h. 214)

a. Emosi yang kuat


Anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh
maupun yang serius.

b. Emosi seringkali tampak


Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi mereka meningkat dan mereka
menjumpai bahwa ledakan emosional seringkali mengakibatkan hukuman, mereka
belajar untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi.
Kemudian mereka mengekang ledakan emosi mereka dan bereaksi dengan cara
yang lebih dapat diterima.

c. Emosi bersifat sementara


Peralihan yang cepat pada anak-anak kecil dari tertawa kemudian menangis, atau
dari marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang merupakan akibat dari
3

3 faktor; membersihkan system emosi yang terpendam dengan ekspresi terus


terang; kekurangsempurnaan pemahaman terhadap situasi karena ketidakmatangan
intelektual dan pengalaman yang terbatas; dan rentang perhatian yang pendek
sehingga perhatian itu mudah dialihkan. Dengan meningkatnya usia anak, emosi
mereka menjadi lebih menetap.

d. Reaksi mencerminkan individualitas


Semua bayi yang baru lahir pola reaksinya sama. Secara bertahap, dengan adanya
pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai macam
emosi semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan
jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis dan anak
lainnya mungkin akan bersembunyi dibelakang kursi atau dibalik punggung
seseorang.

e. Emosi berubah kekuatannya


Dengan meningkatnya usia anak, pada usia tertentu emosi yang sangat kuat
berkurang kekuatannya, sedangkan emosi lainnya yang tadinya lemah berubah
menjadi kuat. Variasi ini sebagian lagi oleh perkembangan intelektual, dan sebagian
lainnya oleh perubahan minat.

f. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku


Anak-anak mungkin tidak memperhatikan reaksi emosi mereka secara langsung,
tetapi mereka memperlihatkan secara tidak langsung melalui kegelisahan,
melamun, menangis, kesukaran berbicara, dan tingkah yang gugup seperti
menggigit kuku dan menghisap jempol.

2) Pengenalan Diri (Self Recognition)


Di masa kanak kanak awal, perkembangan sosio emosi anak anak kecil ditandai
oleh sejumlah perubahan. Perkembangan pikiran serta pengalaman emosi yang terjadi
menghasilkan kemajuan yang nyata dalam perkembangan diri, kematangan emosi,
pemahaman moral, serta kesadaran gender. Selama tahun kedua dari kehidupannya seorang
anak memperlihatkan kemajuan yang berarti dalam pengenalan dirinya (self recognition). Di
masa kanak kanak awal, anak anak berkembang sedemikian rupa sehingga mereka mampu
menambah pengenalan dirinya.
4

Dalam teori Erick Erickson mengenai delapan tahapan perkembangan psikososial


manusia, masa kanak kanak awal berada pada tahapan inisiatif vs rasa bersalah. Pada
tahapan ini, anak anak menjadi lebih yakin bahwa mereka adalah diri mereka sendiri;
selama masa kanak kanak awal, mereka mulai menemukan pribadi yang diinginkan. Secara
intensif mereka mengidentifikasi kepada orangtuanya yang hampir selalu terlihat kuat dan
cantik; meskipun seringkali tidak masuk akal, tidak sependapat, dan kadangkala
membahayakan. Selama kanak kanak awal, anak anak menggunakan keterampilan
perseptual, motorik, kognitif, dan bahasa untuk melakukan sesuatu. Mereka memiliki
kelebihan energi yang memungkinkan mereka melupakan kegagalan kegagalannya dengan
cepat dan mendekati area area baru yang terlihat menarik- bahkan meskipun area area itu
terlihat berbahaya tanpa kekurangan energi dan rasa keterarahan yang meningkat. Pada
tahap ini, dengan inisiatifnya sendiri, anak anak dengan gembira bergerak menuju dunia
sosial yang lebih luas. Inisiatif ini dipimpin oleh suara hati (conscience). Inisiatif dan antusias
mereka tidak hanya memberi reward, namun juga rasa bersalah, yang dapat menurunkan
penghargaan diri (Santrock, 2012).

3) Pemahaman Diri dan Memahami Orang lain


Sebuah hasil penelitian terbaru mengungkapkan bahwa anak kecil lebih paham secara
psikologis kepada diri sendiri dan orang lain daripada yang selama ini dibayangkan
(Carpendale & Lewis, 2011; Hughes & Ensor, 2010; Thompson & Virmani,2010 dalam
Santrock, 2011, h. 279) Meningkatnya pemahaman psikologis ini mencerminkan kerumitan
psikologis seorang anak.

a) Pemahaman Diri
Erickson dalam teorinya mengenai masa kanak kanak awal menggambarkan
bahwa seorang anak kecil telah mulai mengembangkan pemahaman diri (self
understanding), yang merupakan representasi dari diri, substansi dan isi dari konsepsi
diri. Meskipun bukan merupakan identitas personal yang menyeluruh, pemahaman diri
menyediakan pondasi yang rasional. Pemahaman diri awal mencakup pengenalan diri.
Di masa kanak kanak awal, anak anak kecil berpikir bahwa diri dapat dideskripsikan
menurut berbagai karakteristik material, seperti ukuran, bentuk, dan warna. Mereka
membedakan dirinya dari orang lain melalui berbagai atribut fisik dan material, seperti
warna rambut, tinggi badan, dan materi yang dipakai atau yang dimiliki, serta aktivitas
fisik, sampai ketika berusia 4 atau 5 tahun, di mana mereka mendengar orang lain
5

menggunakan sifat psikologis dan istilah istilah emosi, mereka mulai memasukkan
istilah dan sifat itu dalam penjelasan mengenai mereka sendiri (Marsh, Ellis, & Craven,
2002 dalam Santrock 2011, h. 279). Jadi, dalam suatu deskripsi diri, seorang anak
berusia 4 tahun mungkin akan berkata, Saya tidak takut, saya selalu bahagia.
Deskripsi diri seorang anak kecil biasanya positif secara tidak realistis, seperti
yang tercermin dalam komentar seorang anak berusia 4 tahun yang mengatakan bahwa
ia anak pintar hanya dari satu perilaku ketika ia membuang sampah pada tempatnya
misalnya. Anak anak mengekspresikan optimism ini karena mereka belum dapat
membedakan antara kompetensi yang diinginkan dengan pemahaman kompetensi yang
sebenarnya. Anak anak juga cenderung menyamakan kemampuan dan usaha (berpikir
bahwa perbedaan kemampuan dapat diubah dengan mudah sebagaimana perbedaan
usaha), mereka tidak melakukan perbandingan sosial spontan terhadap kemampuan
mereka dengan kemampuan orang lain, dan cenderung membandingkan kemampuan
mereka pada usia yang lebih kecil.
Jadi dapat disimpulkan bahwa karakteristik pemahaman diri kanak kanak awal
adalah :
i.

Mendeskripsikan diri menurut gambaran tubuh, kepemilikan material, serta


aktivitas fisik.

ii.

Mulai memasukkan istilah istilah emosi dan sifat psikologis dalam


penjelasan mengenai diri sendiri ketika berusia 4 sampai 5 tahun.

iii.

Deskripsi diri bersifat positif/optimis nonrealistis.

iv.

Cenderung menyamakan kemampuan dan usaha.

v.

Tidak melakukan perbandingan sosial spontan terhadap kemampuan diri


dengan kemampuan orang lain, namun membandingkannya dengan
kemampuan ketika masih lebih kecil.

b) Memahami Orang Lain


Dalam pembahasan mengenai perkembangan fisik dan kognitif masa kanak
kanak awal, terdapat theory of mind (Gelman, 2009 dalam Santrock, 2012, h.259) yang
menyatakan bahwa pikiran kanak kanak awal mencakup pemahaman bahwa orang
lain juga memiliki emosi dan keinginan. Mereka mulai mampu menjelaskan diri mereka
senidri dalam istilah istilah psikologis dan mereka juga mulai mampu
mempersepsikan orang lain demikian, contohnya, ketika mereka menyampaikan
mengenai gurunya yang baik sekali atau mengenai temannya yang sedih.
6

Perkembangan emosi yang penting pada kanak kanak awal adalah pemahaman
bahwa seseorang tidak selalu memberikan laporan akurat tentang keyakinannya (Gee
& Heyman, 2007, dalam Santrock, 2012, h.280). Hal ini dapat diketahui oleh peneliti
ketika seorang anak usia 4 tahun mengerti seseorang mungkin akan membuat
pernyataan yang tidak benar untuk memperoleh apa yang diinginkan atau menghindari
masalah.
Aspek lainnya dalam memahami orang lain meliputi pemahaman tentang
komitmen bersama. Jadi dapat disimpulkan bahwa aspek aspek yang dimiliki oleh
kanak kanak awal mengenai memahami orang lain adalah sebagai berikut :
i.

Kanak kanak awal dapat memahami emosi orang lain dan menjelaskannya
dalam istilah sifat sifat psikologis.

ii.

Kanak kanak awal dapat memahami adanya presentasi emosi yang tidak
asli atau tidak sesuai dengan yang sesungguhnya dari orang lain.

iii.

Kanak kanak awal memahami mengenai komitmen bersama.

4) Pola pola Emosi yang Umum pada Masa Kanak kanak Awal
Anak anak sebenarnya mengalami hampir semua jenis emosi yang secara normal
dialami oleh orang dewasa, yang membedakan adalah rangsangan yang membangkitkan
emosi dan cara anak mengungkapkan emosi. Pola pola emosi yang berhubugnan dengan
rasa takut seperti khawatir, was was, dan malu tidak termasuk pada pola emosi yang umum
pada masa kanak kanak awal, karena daianggap belum terlalu penting sampai akhir masa
kanak kanak, dimana hubungan dengan teman teman sebaya dan orang orang dewasa
di luar rumah lebih sering terjadi dan lebih mencolok daripada dalam awal masa kanak
kanak.
Berikut ini adalah daftar pola pola emosi yang pada umumnya muncu pada masa
kanak kanak awal :
a)

Amarah
Marah sering terjadi sebagai reaksi terhadap frustasi, sakit hati dan merasa
terancam. Menurut Hurlock reaksi marah pada umumnya bias di bedakan menjadi
2 kategori besar yaitu, Marah yang implusif ( agresi ) dan Marah yang terhambat
( dikendalikan ). Diungkapkan dengan ledakan amarah yang ditandai dengan
menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat lompat atau memukul.

b)

Takut
Reaksi takut pada mulanya adalah panik, kemudian menjadi lebih khusus seperti
lari, menghindar, dan bersembunyi, menangis dan menghindari situasi yang
menakutkan. Menurut Hurlock berkenaan dengan rasa takut ia mengemukakan
adanya reaksi emosi yang berdekatan dengan reaksi takut, yaitu shyness atau rasa
malu ,embarrassment, khawatir, anxiety atau cemas.

Shyness atau malu adalah reaksi takut yang di tandai dengan rasa segan
berjumpa dengan orang yang di anggap asing.

Embarrasment ( merasa sulit, tidak mampu, atau malu melakukan sesuatu )


merupakan reaksi takut akan penilaian orang lain pada dirinya.

Khawatir timbul disebabkan oleh rasa takut yang dibentuk oleh pikiran anak
sendiri

Anxiety ( cemas ) adalah perasaan takut sesuatu yang tidak jelas dan
dirasakan oleh anak sendiri karena sifatnya subjektif.

c)

Cemburu
Merupakan

reaksi

Hurlock(1991)

normal

terhadap hilangnya

kasih

sayang.

Menurut

reaksi ini meliputi pengunduran diri kearah bentuk perilaku

yang infantile seperti : mengompol, mengisap jempol, makan makanan yang anehaneh, kenakalan yang umum, perilaku merusak.

d)

Ingin Tahu
Rasa ingin tahu yang besar merupakan perilaku khas anak pra sekolah. Bagi mereka
kehidupan ini sangat ajaib dan menarik untuk dieksplorasi, bisa juga mengenai
tubuhnya sendiri dan orang lain. Reaksi pertama adalah dalam bentuk penjelajahan
sensomotorik; kemudian sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman ia
bereaksi dengan bertanya.

e)

Iri hati
Iri hati pada saat anak merasa tidak memperoleh perhatian yang diharapkan
sebagaimana yang diperoleh orang lain karena kemampuan atau benda menarik
lainnya.

Diungkapkan

dengan

mengeluh

tentang

barangnya

sendiri,

mengungkapkan keinginan untuk memiliki barang seperti yang dimiliki orang lain
atau dengan mengambil benda yang menimbulkan iri hati.

f)

Gembira
Anak gembira karena sehat, situasi yang tidak sesuai, bunyi yang tiba tiba atau
yang tidak diharapkan, bencana yang ringan, membohongi orang lain dan berhasil
melakukan tugas yang diangap sulit. Mereka mengungkapkan kegembiraannya
dengan tersenyum, tertawa, bertepuk tangan, melompat lompat atau memeluk
benda atau orang yang membuatnya bahagia.

g)

Sedih
Perasaan sedih adalah emosi yang didorong oleh perasaan kehilangan atau
ditinggalkan terutama oleh orang yang disayanginya. Secara khas anak
mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat
terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan.

h)

Kasih sayang
Anak

anak

belajar

mencintai

orang,

binatang,

atau

benda

yang

menyenangkannya, ketika masih kecil, kanak kanak menyatakannya secara fisik


dengan memeluk, menepuk, dan mencium objek kesayangannya.

Santrock (2012, h.280) menambahkan munculnya emosi sadar diri yang berupa rasa
bangga, rasa malu, rasa bersalah yang mulai berkembang dengan diawali adanya
kesadaran diri atau self awareness yang mulai muncul di sekitar usia 18 bulan. Selama masa
kanak kanak awal emosi seperti rasa bangga dan rasa bersalah menjadi lebih umum,
dimana mereka dipengaruhi oleh respons respons orangtua terhadap tingkah laku anak.
Hal ini seusai dengan teori Erick Erickson mengenai tahapan perkembangan sosial yang
menyatakan bahwa anak usia 2- 3 tahun berada pada tahapan perkembangan Kanak kanak
Awal dimana mereka mengalami konflik antara elemen sintonik Otonomi dan elemen
distonik rasa bersalah, karena adanya penyesuaian psikoseksual Otot-Uretral-Anal, dimana
anak belajar mengendalikan tubuh mereka berkaitan dengan kebersihan dan pergerakan,
lebih dari sekedar waktu untuk pelatihan penggunaan toilet (toilet training), namun juga
waktu untuk belajar jalan, berlari, memeluk orangtua, berpegangan pada mainan atau objek
lain. Dengan aktivitas aktivitas ini, anak anak nampak sedang menunjukkan
9

kecenderungan menjadi keras kepala. Mereka mungkin menahan atau menghilangkan feses
mereka sesuai keniginan mereka sendiri saja, meringkuk pada ibu mereka atau tiba tiba
menjauhi mereka, dan senang mengumpulkan barang atau tiba tiba menghancurkannya.
Kanak kanak awal adalah masa kontradiksi, masa pemberontakan yang bersikeras
dan kepatuhan yang lembut, masa pengungkapan diri yang impulsif dan penyimpangan
yang kompulsif, masa kerja sama yang penuh cinta dan penolakan penuh kebencian.
Desakan yang bersikeras dan dorongan yang berlawanan ini memicu krisis psikososial
utama masa kanak kanak yaitu otonomi versus rasa malu dan ragu (Erikson dalam Feist,
2010).
Sementara pada usia 3 5 atau 6 tahun Erikson menyebutkn bahwa seorang anak
berada pada tahapan perkembangan Usia Bermain dimana seorang anak memiliki Gaya
Penyesuaian psikoseksual Lokomotor Genital, yang paralel dengan fase falic pada
tahapan perkembangan psiskoseksual Freud. Freud menempatkan Oedipus Complex sebagai
inti dari fase alat kelamin, namun Erikson percaya bahwa Oedipus Complex hanya salah
satu perkembangan penting selama usia bermain. Erikson menyatakan bahwa selain
mengidentifikasikan diri dengan orangtua mereka, anak anak usai prasekolah
mengembangkan daya gerak, keterampilan berbicara, keingintahuan, imajinasi, dan
kemampuan untuk menentukan tujuan.
Oedipus Complex, menurut Erikson, merupakan suatu drama khayalan yang
dimainkan dalam imajinasi anak anak karena adanya pengertian yang mulai meningkat
akan konsep dasar seperti reproduksi, pertumbuhan, masa depan, dan kematian. Seorang
anak mungkin bermain peran sebagai ibu, ayah, istri, suami, namun bukan hanya merupakan
ungkapan gaya genital, tetapi juga sebagai manifestasi dari berkembang pesatnya
kemampuan lokomotor. Seorang anak perempuan mungkin merasa iri pada anak laki laki,
bukan karena anak laki laki memiliki penis (penis envy), namun karena masyarakat
memberikan lebih banyak hak prerogatif pada anak anak yang memiliki penis (laki laki).
Seorang anak laki laki mungkin memiliki kecemasan akan kehilangan sesuatu, namun
kecemasan ini tidak hanya mengacu pada penis, namun juga bagian tubuh lain.
Ketertarikan akan aktivitas genital diiringi dengan meningkatnya sarana daya gerak
mereka. Mereka sekarang dengan mudahnya bergerak, berlari, melompat, dan memanjat
tanpa usaha yang berat dan permainan mereka menunjukkan inisiatif serta imajinasi.
Keinginan awal ini berkembang selama tahapan sebelumnya, sekarang berkembang menjadi
aktivitas

dengan tujuan. Kemampuan kognitif anak memungkinkan mereka untuk

menghasilkan khayalan terperinci yang tidak hanya mencakup khayalan Oedipal, namun
10

juga mencakup gambaran, seperti ketika mereka besar nanti, untuk menjadi seorang
pemimpin, seorang tentara, seorang dokter,dsb. Akan tetapi khayalan khayalan ini juga
menghasilkan rasa bersalah sehingga berkontribusi pada krisis psikososial pada usia
sekolah, yang dinamai inisiatif versus rasa bersalah.

5) Bahaya dalam Perkembangan Emosi (Hurlock, 1978)


Emosi memerankan peran yang sangat penting dalam menyesuaikan pribadi dan sosial
yang akan dilakukan anak, tidak hanya dalam masa kanak kanak saja tetapi sampai mereka
menjadi remaja dan tumbuh menjadi dewasa, oleh karenanya perkembangan emosi mereka
harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan penyesuaian yang baik.
Dasar dari berbagai pola emosi terletak pada awal kehidupan, maka tahun tahun awal
kehidupan adalah periode yang penting dalam menentukan bentuk pola itu dan segala hal yang
mengganggu perkembangan emosi yang baik akan menghambat penyesuaian yang dilakukan
anak. Terdapat beberapa bahaya dalam perkembangan emosi pada masa kanak kanak, yaitu
: keterlantaran emosi, terlalu banyak kasih sayang, dominasi dari munculnya emosi yang tidak
menyenangkan, emosionalitas yang meninggi, kegagalan belajar mengendalikan emosi,
kegagalan belajar toleransi emosi, dan halangan katarsis emosi, dalam makalah ini akan
dibahas lebih dalam mengenai emosionalitas yang meninggi.
Suatu emosi mungkin dialami secara lebih sering dan lebih kuat pada saat tertentu daripada
saat lainnya. Emosionalitas yang meninggi berarti suatu frekuensi dan intensitas pengalaman
emosional di luar ukuran yang normal, dalam keadan ini mereka akan bereaksi secara
berlebihan. Jika sebagian besar emosi yang paling sering dialami dan paling kuat adalah yang
tidak menyenangkan seperti kemarahan, ketakutan, kecemburuan, atau rasa iri, maka seseorang
dikatakan berada dalam keadaan disequilibrium atau tidak seimbang, antara lain uring
uringan, kesal, dan sedih. Jika tidak ada emosionalitas yang meninggi, yaitu jika emosi dalam
keadaan tenang, maka seseorang dikatakan berada dalam keadaan equilibrium atau seimbang.

Emosionalitas yang meninggi dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut :


a) Kondisi Fisik
Apabila kondisi keseimbangan tubuh terganggu karena kelelahan kesehatan
yang buruk atau perubahan yang berasal dari perkembangan maka mereka akan
mengalami emosi yang sangat meningkat.
i.

Kesehatan yang buruk, disebabkan oleh gizi yang buruk, gangguan


pencernaan atau penyakit.
11

ii.

Kondisi yang merangsang seperti kaligata atau eksim. Setiap gangguan


kronis seperti asma atau penyakit kencing manis.

b) Kondisi psikologis
Kondisi psikologis dapat mempengaruhi emosi antara lain tingkat inteligensi,
tingkat aspirasi dan kecemasan berikut adalah penjelasannya :
i.

Perlengkapan intelektual yang buruk. Anak yang tingkat intelektualnya


rendah, rata rata mempunyai pengendalian emosi yang kurang
dibandingkan dengan anak yang pandai pada tingkat umur yang sama.

ii.

Kegagalan mencapai tingkatan aspirasi, kegagalan yang berulang ulang


dapat mengakibatkan timbulnya keadaan cemas sedikit atau banyak.

iii.

Kecemasan setelah pengalaman emosi tertentu yang sangat kuat,sebagai


contoh akibat lanjutan dari pengalaman yang menakutkanakan sebagai
contoh akibatkan anak takut kepada setiap situasi yang dirasakan
mengancam

c) Kondisi lingkungan
Ketegangan yang terus menerus, jadwal yang ketat, dan terlalu banyaknya
pengalaman menggelisahkan yang merangsang anak secara berlebihan akan
berpengaruh pada emosi anak . Berikut penjelasannya :
i.

Ketegangan yang disebabkan oleh pertengkaran dan perselisihan yang terus


menerus. Pertengkaran atau perselisihan dalam konteks interaksi
sosial,sebetulnya wajar, tetapi jika terus menerus akan mengakibatkan
timbulnya emosi dan akibatnya merusak hubungan sosial yang
wajar,kekesalan yang amat kuat akan menimbulkan keinginan anak melukai
orang yang berselisih dengannya.

ii.

Kekangan yang berlebihan serta disiplin yang otoriter. Disiplin ini apabila
dipaksakan akan menimbulkan dampak buruk bagi pihak yang dikenalnya,
lama kelamaan akan timbul keinginan orang tersebut untuk memberontak
dan keluar dari aturan norma atau aturan yang ada tersebut.

iii.

Sikap orang tua yang selalu mencemaskan atau terlalu melindungi.


Melindungi orang yang sangat disayang itu baik, tetapi jika terlampau (over
protective) akan dapat memunculkan konflik bagi anak di masa mendatang.

12

iv.

Suasana otoriter di sekolah dalam hal ini sekolah untuk anak usia dini. Guru
yang terlalu menuntut atau pekerjaan sekolah yang tidak sesuai dengan
kemampuan anak akan menimbulkan kemarahan. Kemudian anak pulang ke
rumah dalam keadaan kesal.

Emosionalitas yang meninggi dapat dikenali dengan segera dari perilaku yang
ditimbulkannya. Jika hal itu berasal dari salah satu emosi yang tidak menyenangkan, maka
emosionalitas yang meninggi ditandai oleh kemurungan dan kemarahan silih berganti, yang
seringkali berada di luar batas pengendalian yang disadari. Bentuk emosionalitas yang
meninggi lebih bergantung pada pemahaman anak tentang hal hal yang dapat diterima
secara sosial atau yang mendatangkan penolakan sosial sesedikit mungkin.
Ketegangan saraf selalu menyertai emosionalitas yang meninggi. Hal ini mungkin
diekspresikan dengan menghisap jempol pada anak kecil atau menggigit jari pada anak
yang lebih besar, menggaruk kepala, tertawa terkekeh kekeh, dan kemungkinan besar
juga menyebabkan gagap sesaat atau menelan sebagian bunyi kata kata.
Emosionalitas yang meninggi juga dapat memberikan dampak tertentu kepada
anak, yaitu :
i.

Goncangan keseimbangan tubuh yang menyebabkan tubuh tidak berfungsi


secara normal.

ii.

Keseimbangan tubuh yang tergoncang emosi menyebabkan perilaku anak


menjadi kurang teratur dibandingkan dengan keadaan normal dan bisa
mengalami regresi

iii.

Efisiensi mental menurun terutama dalam segi ingatan, konsentrasi, dan


penalaran.

iv.

Dapat menyebabkan kesulitan membaca

v.

Mempengaruhi penyesuaian anak secara langsung karena penilaian orang


terhadap perilaku mereka, dan secara tidak langsung karena penilaian
orang mempengaruhi sikap dan perilaku anak terhadap orang lain.

vi.

Penyesuaian sosial yang telah terdampak eloh emosionalitas meninggi


berkaitan erat dengan konsep diri anak, maka dapat merugikan bagi
perkembangan kepribadian anak.

Melihat dampak yang merugikan bagi anak dari kemungkinan munculnya emosi
meniggi, maka anak membutuhkan cara untuk mengendalikan atau menyalurkan emosinya
secara tepat, yang akan dibahas pada pokok pembahsan mengenai pengendalian emosi dan
katarsis emosi berikut ini.
13

6) Pengendalian Emosi (Hurlock, 1978,h.231-232)


Konsep ilmiah tentang pengendalian emosi berarti mengarahkan energi emosi ke
saluran ekspresi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial. Hal ini berarti,
pengendalian ekspresi emosi yang tampak merupakan suatu usaha mengalihkan energi
yang ditimbulkan oleh tubuh menjadi persiapan untuk bertindak ke arah pola perilaku yang
bermanfaat dan dapat diterima secara sosial, dan bukan merupakan bentuk penekanan
energi emosional di dalam diri.oleh karenanya, anak anak juga harus belajar bagaimana
cara menangani rangsangan yang membangkitkan emosi dan juga bagaiman cara
mengatasi reaksi yang biasanya menyertai emosi tersebut. Untuk dapat melakukannya
anak harus mampu menilai rangsangan tersebut dan menentukan apakah reaksi emosi yang
akan ia lakukan dapat dibenarkan atau tidak. Semakin dini anak anak belajar
mengendalikan emosi mereka, semakin lebih mudah pula bagi mereka untuk
mengendalikan emosi.

Cara yang Umum pada Anak dalam Menyalurkan Energi Emosional yang Terpendam :
a)

Kemurungan
Kemurungan adalah keadaan emosi yang diperpanjang karena adanya energy
emosi yang tertahan dan emosi itu dibiarkan tetap menyala. Emosi yang tidak
menyenangkan paling mungkin ditahan, sehingga anak tampak merengut, tidak
sehat, berdiam diri, atau masgul. Mereka menjadi tidak bergairah dan berkerja
dengan hasil dibawah tingkat kemampuan mereka menjadi asik dengan diri dan
perasaan mereka sendiri.

b)

Reaksi pengganti
Energy emosional dapat dilepaskan dengan mengganti reaksi emosional
yang biasanya dilakukan dengan reaksi yang lebih dapat diterima secara social.
Sebagai contoh, jika anak marah, mereka mungkin mengganti reaksi memukul
atau menendang dengan reaksi mencaci maki, atau meungkin melakukan
sesuatu yang bermanfaat atau konstruktif.

c)

Pemindahan
Dalam pemindahan (displacement), reaksi emosional ditunjukkan
kepada manusia, binatang, atau obyek yang tidak ada hubungannya dengan
rangsangan. Sebagai contoh, anak yang marah bukannya memukul dan
membentak orang yang telah menimbulkan kemarahannya, tetapi menyerang
korban yang tidak bersalah sebagai kambing hitam.
14

d)

Regresi
Salah satu diantara cara umum untuk mengekspresikan emosi yang terhalang
pada masa kanak-kanak ialah dengan regresi yaitu kembali ke bentuk perilaku
sebelumnya, bahkan yang infantile. Sebagai contoh, anak yang cembury
mungkin ngompol di tempat tidur atau menyatakan bahwa mereka masih harus
dibantu untuk berpakaian.

e)

Letusan emosi
Di dalam letusan emosi, anak-anak bereaksi dengan hebat terhadap rangsangan
yang remeh. Apabila marah, maka mereka melakukan ledakan kemarahan di luar
batas kewajaran terhadap obyek yang telah membuat mereka marah. Karena anakanak yang lebih tua mengetahui bahwa mereka dituntut untuk mengembangkan
toleransi terhadap frustasi, letusan emosi mereka saling beralih menjadi rasa tidak
mampu, rasa bersalah, dan malu.

7) Katarsis Emosi (Hurlock, 1978,h.232 - 235)


Pembersihan sistem energi yang terkurung , yang terjadi apabila ekspresi emosi
dikendalikan, disebut sebagai katarsis emosi. Hampir sama dengan Hurlock, Santrock
menyebut katarsis emosi dengan regulasi emosi, yaitu aspek penting dalam perkembangan
yang berperan penting pada kemampuan anak anak dalam mengelola tuntutan dan
konflik yang dihadapi dalam berinteraksi dengan orang lain (Cole dkk dalam Santrock
2102).
Apabila keadaan mental yang menyertai emosi tidak ditangani secara tepat, hal itu akan
menimbulkan sikap yang tidak menyenangkan sehingga penyesuaian pribadi dan sosial
anak kurang baik. Kebutuhan yang terhalang harus dipenuhi baik secara langsung maupun
secara tidak langsung. Jika anak tidak dapat menggunakan energi itu sepenuhnya dalam
ekspresi emosi yang secara langsung, mereka harus membuangnya dengan cara yang tidak
langsung.
Prinsip yang terpenting dalam katarsis emosi yang sekaligus membersihkan tubuh dan
jiwa adalah dengan mengangkat sebab yang terpendam dari gangguan emosional ke
permukaan, memberikan bantuan untuk menganalisisnya, mengujinya dengan kenyataan
untuk mengetahui sejauh man kebenarannya; dan kemudian mencari cara yang memuaskan
untuk mengekspresikan dorongan yang telah terhalangi sehingga anak akan mengubah
sikap mereka dan mengembangkan pandangan yang lebih menyeluruh.
15

a) Katarsis Fisik
Setiap aktivitas yang menggunakan seluruh energi yang dihasilkan oleh perubahan fisik
yang menyertai emosi akan menimbulkan suatu katarsis bagi energi ini dan
memulihkan keseimbangan. Di kalangan anak anak, tiga macam aktivitas katarsis
yang paling umum dan paling menguntungkan adalah menyibukkan diri, tertawa, dan
menangis.
i.

Menyibukkan diri
Menyibukkan diri melalui permainan atau kerja dapat diterima secara sosial.
Anak anak dapat menyalurkan energi emosional mereka dengan cara
berlari, berenang, bermain bola, dsb. Untuk mencapai katarsis yang
diinginkan, syaratnya bukan hanya harus dapat diterima secara sosial, tetapi
juga harus memuaskan anak, bukan dengan dipaksa tetapi harus dengan
sukarela.

ii.

Menangis
Menangis tidak selalu merupaka perilaku kebayi bayian tetapi dapat
merupakanhal yang baik bagi anak apabila mereka tahu kapan dan di mana
waktu dan tempat yang tepat untuk menangis.

iii.

Tertawa
Anak anak dapat tertawa secara keras untuk mencapai katarsis yang
mereka butuhkan untuk mencapai katarsis yang mereka butuhkan tanpa
menimbulkan penolakan sosial; apabila mereka tertawa ketika anak anak
lain juga tertawa, misalnya karena melihat suatu lelucon atau adegan kartun
di layar televisi atau bahkan ketika mentertawakan diri sendiri.

b) Katarsis Mental
i. Hubungan emosional yang akrab paling tidak dengan salah satu anggota
keluarga untuk membantu anak mengembangkan pandangan yang elbih matang
terhadap masalah mereka.
ii. Kesediaan untuk membincangkan masalah dengan seseorang yang bersikap
simpatik, karena sebagian besar anak tidak dapat berbicara bebas tentang segala

16

seuatu termasuk masalah mereka, kecuali apabila mereka didorong untuk


melakukan hal itu.
iii. Pengertian dari pihak lain terhadap sebab yang melatarbelakangi timbulnya
emosi anak. Contohnya, anak anak yang mengalami rasa takut biasanya
disebbakan hal hal tertentu, jika orang dewasa memahami hal tersebut, maka
anak anak akan bersedia membicarakan ketakutan mereka.
Untuk membantu katarsis mental pada kanak kanak awal dapat dibantu dengan media
permainan seperti permainan boneka, atau bercerita, dan bisa juga dilakukan sambil
bermain dengan menggunakan bahasa anak anak.
Katarsis emosi yang disarankan oleh Hurlock didukung oleh penelitian yang
dilakukan oleh Denham dkk dalam Santrock, 2012, h. 281, yang menyatakan bahwa
anak usia 2 4 tahun memperlihatkan pengingkatan jumlah istilah yang mereka
gunakan untuk medeskripsikan emosi. Selama masa ini, anak anak juga belajar
mengetahui penyebab dan knsekuensi dari perasaan perasaan.
Ketika berusia 4 5 tahun, anak anak memperlihatkan peningkatan
kemampuan merefleksikan emosi. Mereka juga mulai memahami bahwa kejadian yang
sama dapat membangkitkan perasaan perasaan yang berbeda pada orang orang yang
berbeda. Lebih jauh lagi, mereka memperlihatkan adanya peningkatan kesadaran
sehingga mereka perlu mengelola emosi emosi mereka agar dapat memenuhi standard
sosial. Pada usia 5 tahun, sebagian besar anak anak dapat menentukan emosi secara
akurat, yang diperoleh dengna menghadapi lingkungan serta menjelaskan strategi yang
mereka lakukan dalam mengatasai tekanan sehari hari.

II.

Perkembangan Sosial Kanak kanak Awal


Salah satu tugas perkembangan awal masa kanak kank yang penting adalah
memperoleh latihan dengan pengalaman pendahuluan yang diperlukan untuk menjadi
anggota kelompok dalam akhir masa kanak kanak. Jadi awal masa kanak kanak
sering disebut sebagai masa prakelompok. Dasar untuk bersosialisasi diletakkan
dengan meningkatnya hubungan antara anak dengan teman sebayanya dari tahun ke
tahun. Anak tidak hanya lebih banyak bermain dengna anak anak lain tetapi juga lebih
banyak berbicara (Hurlock, Psikologi Perkembangan , 1980).
Manfaat yang diperoleh anak dengan diberikannya kesempatan untuk berhubungan
sosial akan sangat dipengaruhi oleh tingkat kesenangan hubungan sosial sebelumnya.
17

Yang umumnya terjadi dalam periode ini adalah bahwa anak lebih menyukai kontak
sosial sejenis daripada hubungan sosial dengan kelompok jenis kelamin yang
berlawanan (Hurlock,1980).
Sebagian besar interaksi dengan kawan kawan sebaya selama masa kanak kanak
melibatkan kegiatan bermain, namun bermain sosial merupakan salah satu tipe dari
bermain (Seifert dalam Santrock, 2012,h.306) Bermain merupakan salah satu aktivitas
menyenangkan yang dilakukan demi aktivitas itu sendiri.
1. Fungsi Bermain (Santrock, 2012)
a. Bermain untuk mengatasi kecemasan dan melepaskan ketegangan (Freud
dan Erikson)
b. Bermain dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak
(Piaget dan Vygotsky,1962)
c. Bermain memuaskan dorongan eksplorasi anak (Daniel Berlyne, 1960)
d. Bermain untuk mengembangkan keterampilan bahasa dan komunikasi
(Coplan dan Arbeau, 2009)

2. Tingkat Kognitif dari Permainan (Papalia, 2013)


Teori ini merupakan adaptasi tahap perkembangan bermain kognitif dari Piaget
(1951) yang dikembangkan oleh Smylansky (1968) yang membagi perkembangan
bermain kognitif anak atas empat kategori :

a.

Bermain Fungsional
Ciri-cirinya adalah sederhana, menyenangkan dengan gerakan berulang-ulang

menggunakan alat atau tanpa alat, oleh anak usia sampai 2 tahun. Melalui bermain
fungsional atau juga disebut practice play/bermain praktek, anak-anak mulai
merasa yakin dan mampu akan tubuh mereka.

b.

Bermain Membangun (konstruktif)


Bermain konstruktif merupakan bentuk permainan aktif dimana anak

membangun sesuatu dengan mempergunakan bahan atau alat permainan yang ada
semula bersifat reproduktif artinya anak hanya memproduksi objek yang dilihatnya
sehari-hari atau mencontoh gambar atau bentuk yang diberikan.

18

c.

Permainan pura pura (pretend play)


Dalam bermain dramatisasi anak-anak menirukan tindakan-tindakan yang

dihubungkan dengan suatu perlengkapan tertentu, belajar berperan seolah-olah


mereka adalah seseorang atau sesuatu yang tidak asing lagi bagi mereka. Kegiatan
bermain ini mulai muncul pada anak usia prasekolah yang disebut juga tahun
emasnya bermain pura-pura pada anak ditaman kanak-kanak sering muncul di area
keluarga atau rumah tangga dimana tersedia alat-alat bermain serta perlengkapan
lainnya.

d. Bermain Dengan Aturan


Jenis bermain seperti ini, mengembangkan koordinasi fisik anak, menghaluskan
keterampilan sosial dan berbahasa serta membangun konsep kerja sama dan
kompetisi atau lomba.

3. Dimensi Sosial Bermain


Menurut Mildred B. Parten yang meneliti kegiatan bermain sebagai sarana
sosialisasi anak, terhadap 6 tahapan perkembangan bermain yang dapat dilihat dan
diamati ketika anak-anak melakukan kegiatan bermain. ia juga mengungkapkan
adanya perkembangan kegiatan bermain dari tingkat sederhana sampai dengan
tingkat yang tinggi.
a. Unoccupied Play / Perilaku tidak terlibat
Pada tahapan ini, anak terlihat tidak bermain seperti yang umumnya
dipahami sebagai kegiatan bermain. Anak hanya mengamati kejadian di
sekitarnya yang menarik perhatiannya. Apabila tidak ada hal yang menarik,
maka anak akan menyibukkan dirinya sendiri.
Ia mungkin hanya berdiri di suatu sudut, melihat ke sekeliling ruangan,
atau melakukan beberapa gerakan tanpa tujuan tertentu. Jenis bermain semacam
ini hanya dilakukan oleh bayi. Jenis bermain ini belum menunjukkan minat anak
pada aktivitas atau objek lainnya. Tahapan bermain ini biasanya hanya dilakukan
oleh bayi.

19

b. Solitary Play / Bermain Sendiri


Pada tahapan ini, anak bermain sendiri dan tidak berhubungan dengan
permainan teman-temannya. Anak asyik sendiri dan menikmati aktivitasnya. Ia
tidak memperhatikan hal lain yang terjadi. Untuk anak-anak, bermain tidak
selalu seperti aktivitas bermain yang dipahami oleh orang dewasa.
Ketika ia merasa antusias dan tertarik akan sesuatu, saat itulah anak
disebut bermain, walaupun mungkin anak hanya sekedar menggoyangkan badan,
menggerakkan jari-jarinya, dll. Pada tahapan ini, anak belum menunjukkan
antusiasmenya kepada lingkungan sekitar, khususnya orang lain. Tahapan
bermain ini biasanya dilakukan oleh anak usia bayi sampai umur 2 tahun dan
menurun di masa-masa selanjutnya.

c. Onlooker Play / Perilaku Penonton


Pada tahapan ini, anak melihat atau memperhatikan anak lain yang
sedang bermain. Anak-anak mulai memperhatikan lingkungannya. Di
sinilah anak mulai mengembangkan kemampuannya untuk memahami
bahwa dirinya adalah bagian dari lingkungan.
Walaupun anak sudah mulai tertarik dengan aktivitas lain yang
diamatinya, anak belum memutuskan untuk bergabung. Dalam tahapan ini
anak biasanya cenderung mempertimbangkan apakah ia akan bergabung
atau tidak.

d. Parallel Play / Bermain Paralel


Pada tahapan ini, anak bermain terpisah dengan teman-temannya namun
menggunakan jenis mainan yang sama ataupun melakukan perilaku yang sama
dengan temannya. Anak bahkan sudah berada dalam suatu kelompok walaupun
memang tidak ada interaksi di antara mereka. Biasanya mereka mulai tertarik
satu sama lain, namun belum merasa nyaman untuk bermain bersama sehingga
belum ada satu tujuan yang ingin dicapai bersama. Tahapan bermain ini biasanya
dilakukan oleh anak-anak di masa awal sekolah.

20

e. Associative Play / Permainan Asosiatif


Pada tahapan ini, anak terlibat dalam interaksi sosial dengan sedikit atau
bahkan tanpa peraturan. Anak sudah mulai melakukan interaksi yang intens dan
bekerja sama. Sudah ada kesamaan tujuan yang ingin dicapai bersama namun
biasanya belum ada peraturan.
Misalnya melakukan anak melakukan permainan kejar-kejaran, namun
seringkali tidak tampak jelas siapa yang mengejar siapa. Tahapan bermain ini
biasanya dilakukan oleh sebagian besar masa anak-anak prasekolah.

f. Cooperative Play / Permainan yang saling melengkapi dan teratur


Pada tahapan ini, anak memiliki interaksi sosial yang teratur. Kerja sama
atau pembagian tugas/peran dalam permainan sudah mulai diterapkan untuk
mencapai satu tujuan tertentu. Misalnya, bermain sekolah-sekolahan,
membangun rumah-rumahan, dll.
Tipe permainan ini yang mendorong timbulnya kompetisi dan kerja sama
anak. Tahapan bermain ini biasanya dilakukan oleh anak-anak pada masa
sekolah dasar, namun sudah dapat dimainkan oleh anak-anak taman kanak-kanak
bentuk sederhana.

III.

Relasi dengan Kawan Sebaya (Hurlock, 1980, h. 119)


Dalam semua tahapan usia, teman teman terbagi dalam tiga kelompok, yaitu :

1. Rekan
Rekan adalah orang yang memuaskan kebutuhan akan teman dengan berada dalam
lingkungan yang sama dimana ia dapat dilihat dan didengar. Dalam setiap tahap,
rekan bisa saja laki-laki maupun perempuan dan dari segala umur. Misal orang
dewasa senang melihat dan mendengar anak, seperti anak juga senang melihat dan
mendengar orang dewasa.
2. Teman Bermain
Teman bermain adalah orang dengan siapa individu dapat terlibat dalam suatu
kegiatan yang menyenangkan. Biasanya anak lebih menyukai teman bermain yang
sejenis
3. Teman Baik
Teman baik bukan hanya teman bermain namun seseorang yang bisa dijadikan
tempat bertukar pendapat, bercerita dan saling percaya.
21

IV.

Perkembangan Moral Masa Kanak kanak Awal (Hurlock, 1978)


Perkembangan moral pada masa awal anak-anak masih rendah, hal ini di sebabkan
karena perkembangan intelektual sang anak masih belum mencapai tahap untuk mengerti
prinsip-prinsip dan belum mengerti maksud serta manfaat bagi sekelompoknya. Karena
tidak mampu mengerti masalah moral, seorang anak itu hanya bertindak dengan
mengetahui bagaimana tanpa mengetahui mengapa.
Menurut Piaget, masa awal kanak-kanak ditandai dengan moralitas melalui
paksaan pada masa perkembangan moral ini, seorang anak secara tidak langsung
mengikuti peraturan-peraturan tanpa berfikir tentang nilai, dan menganggap bahwa yang
paling berkuasa adalah orang dewasa. Kohlberg merinci dan memperluas tahapantahapan perkembangan moral piaget dengan memasukkan dua tingkat perkembangan
pertama ini yang disebut sebagaimoralitas pra konvensional (Hurlock, psikologi
perkembangan,1980,hlm 123).
Pada tahapan pertama seorang anak belajar patuh akan hukum-hukum atau aturan,
menilai baik benar berdasarkan akibat fisik dari perbuatan itu.
Tahapan kedua seorang anak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan
berharap mendapatkan pujian.

1) Disiplin dalam masa awal kanak-kanak (Hurlock, 1980, h.126)


Pengajaran moral terhadap anak biasanya dilakukan dengan menggunakan cara
disiplin. Disiplin bertujuan menunjukkan perilaku mana yang baik dan perilaku mana
yang kurang baik sehingga ada dorongan untuk melakukan perilaku sesuai standarstandar yang berlaku dimasyarakat.
Pengaruh disiplin pada Anak - anak :
a. Pengaruh pada Perilaku
Penerapan pola disiplin (Hurlock) atau yang disebut dalam Santrock sebagai pola
pengasuhan sebagai bentuk pengajaran moral disiplin tertentu akan berpengaruh
pada perilaku anak.

b. Pengaruh pada Sikap


Sikap sikap yang terbentuk sebagai akibat dari pola pengasuhan tertentu cenderung
menetap dan bersifat umum, tertuju kepada figur penguasa. Anak yang diasuh secara
otoriter maupun dengan pola pengasuhan lemah cenderung membenci orang orang
yang berkuasa.
22

c. Pengaruh pada Kepribadian


Semakin banyak hukuman fisik digunakan, semakin anak cenderung menjadi
cemberut, keras kepala, dan negativistik, yang mengakibatkan penyesuaian pribadi
dan sosial yang bururk, yang juga merupan ciri khas dari anak yang dibesarkan
dengan disiplin atau pola pengasuhan yang lemah. Anak yang dibesarkan di bawah
disiplin yang autoritarian atau demikratis akan mempunyai penyesuaian pribadi dan
penyesuaian sosial yang terbaik.

Menurut Baumrind (dalam Santrock, 2012) terdapat 4 jenis pola asuh sebagai bentuk
pengajaran moral disiplin, yaitu:
a. Authoritarian parenting (Pengasuhan otoritarian)
Pola asuh ini mengkombinasikan tingginya demandingness/control dan
rendahnya acceptance/responsive. Orang tua memaksakan banyak peraturan,
mengharapkan kepatuhan yang ketat, jarang menjelaskan mengapa anak harus
memenuhi peraturan-peraturan tersebut, dan biasanya mengandalkan taktik
kekuasaan seperti hukuman fisik untuk memenuhi kebutuhannya.

b. Authoritative parenting (Pengasuhan autoritatif)


Orang tua authoritative lebih flexibel; mereka mengendalikan dan
menggunakan kontrol, tetapi mereka juga menerima dan responsif. Seimbang
dalam kedua dimensi baik demandingness/control maupun acceptance/responsive.
Mereka membuat peraturan yang jelas dan secara konsisten melakukannya,
mereka juga menjelaskan rasionalisasi dari peraturan mereka dan pembatasannya.
Mereka juga responsif pada kebutuhan anak-anak mereka dan sudut pandang
anak, serta melibatkan anak dalam pengambilan keputusan keluarga. Mereka
dapat diterima secara rasional dan demokratis dalam pendekatan mereka, meski
dalam hal ini jelas mereka berkuasa, tetapi mereka berkomunikasi secara hormat
dengan anak-anak mereka.

c. Neglectful parenting (Pengasuhan yang melalaikan)


Merupakan orang tua yang mengkombinasikan rendahnya demandingness/control
dan acceptance/responsive yang rendah pula. Secara relatif tidak melibatkan diri
pada pengasuhan anak mereka mereka terlihat tidak terlalu perduli pada anak-anak
23

mereka dan bahkan mungkin menolak mereka atau yang lainnya mereka
kewalahan dengan masalah-masalah mereka sendiri yang mana mereka tidak
dapat memberikan energi yang cukup untuk menetapkan dan menegakkan aturan.

d. Indulgent parenting (Pengasuhan yang memanjakan)


Pola pengasuhan ini mengandung demandingness/control yang rendah dan
acceptance/responsive yang tinggi. Orang tua permisif penyabar, mereka
membuat beberapa pengendalian pada anak-anak untuk berperilaku matang,
mendorong anak untuk mengekspresikan perasaan dan dorongan mereka dan
jarang menggunakan kontrol pada prilaku mereka.
Dampak atau pengaruh pola asuh orang tua terhadap anak anak menurut Baumrind, adalah:

Pola asuh authoritative akan menghasilkan karakteristik anak - anak yang

mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu
menghadapi stres, mempunyai minat terhadap hal-hal baru dan koperatif terhadap
orang-orang lain.

Pola asuh otoritarian akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut,

pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma,


berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.

Pola asuh yang melalaikan (neglectful parenting) akan menghasilkan

karakteristik anak-anak yang agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau


mengalah, harga diri yang rendah, sering bolos dan bermasalah dengan teman.

Pola asuh yang memanjakan (indulgent parenting)

akan menghasilkan

karakteristik anak-anak yang agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau
menang sendiri, kurang percaya diri dan kurang matang secara sosial.

2) Hubungan Keluarga Pada Masa Awal Kanak-Kanak


Meskipun anak sudah asyik bermain dengan teman sebayanya, namun keluarga tetap
menjadi pengaruh terpenting dalam proses sosialisasi. Selain kontak dalam keluarga lebih
sering, keluarga juga lebih hangat. Jadi pengaruh keluarga lebih tinggi dibandingkan
pengaruh yang lainnya terhadap proses perkembanngan psychososial anak.
Kondisi yang paling penting dalam penyesuaian anak, baik pribadi maupun social adalah
hubungan orang tua dengan masa awal-awal tahun anak, dan hubungan dengan sanak

24

keluarga. Serta hubungan dengan saudara ketika seorang anak merasa dekat dengan salah
satu anggota keluarga maka ia akan meniru tokoh tersebut baik dari sifat, sikap dan perilaku.
a.

Hubungan orang tua-anak

Perubahan-perubahan dalam hubungan orang tua anak dimulai pada masa tahun kedua masa
bayi belangsung terus selama awal masa kanak-kanak dan biasanya dalam tingkat awal lebih
cepat. Perubahan ini disebabkan oleh banyal hal diantaranya :
i)

Perubahan pada anak


Kalau bayi yang lembut dan menyenangkan menjadi lebih mandiri dan dapat
menolong diri sendiri, Ia cenderung terus memberontak, terkesan nakal, tegas,
menjelajah, menuntut perintah, dan menolak perintah.

ii)

Perubahan sikap orang tua


Dengan sikap mandirinya anak, orang tua menganggap bahwa anaknya tidak lagi
memerlukan perawatan dan perhatian besar seperti waktu dia bayi.
Konsep orang tua tentang anak yang Baik

iii)

Jika anak tidak memenuhi harapan orang tua, orang tua sering menjadi kritis dan
bertindak menghukum akhirnya, anak bereaksi negativistik dan menyulitkan orang
tua.
iv)

Konsep kekanak-kanakkan tentang orang tua yang Baik


Bagi kebanyakan anak , orang tua yang baik adalah orang tua yang selalu sedia selalu
ingin melakukan apa yang dikehendaki anak dan kapanpun.Kalau orang tua gagal
memenuhi konsep yang ada anak akan benci dan melemahkan kasih sayang kepada
orang tua.

v)

Orang tua kesayangan


Dikarenakan ibu adalah orang yang sering bersama dengan anak dibandingkan ayah
maka ibu dapat lebih mengerti perilaku anak.

vi)

Lebih menyukai orang luar


Bila anak mengikuti taman kanak-kanak atau indria atau ditempatkan dipusat
perhatian anak terkadang anak lebih menyukai guru atau pengasuh dibandingkan
orang tua.

b.

Hubungan dengan saudara


Hubungan yang baik antara bayi dan saudaranya mulai berkurang dalam tahun

kehidupan kedua dan pada masa bayi menjadi anak-anak. Saat inilah hubungan bayi dengan
saudara mengalami pergeseran hal ini bukan hanya merusak suasana rumah tetapi
mengganggu konsep diri anak. Anak-anak ketika dipaksa merasa kurang mampu apalagi
25

kalau dikritik kakak-kakaknya. Tidak semua hubungan dengan saudara bersifat


bertentangan dan kalaupun terjadi pergesekanan itu hanya sekali - sekali saja.
Hubungan dengan saudar juga dapat membawa pengaruh positif yaitu , anak belajar
untuk menilai diri sendiri sebagaimana orang lain menilai dirinya, saudara baik kakak
maupun adik memberikan perasaan aman dan mengajarkan bagaimana caranya
memperlihatkan kasih sayang kepada orang lain, belajar melaksanakan peran peran
tertentu sesuai dengan seksnya dan ururtan kelahirannya, pertengkaran antar saudara
memberikan pengalaman yang berharga bagaimana memebrikan toleransi. (Hurlock,
psikologi perkembangan,1890,hlm 130)
c.

Hubungan dengan sanak keluarga


Ada 2 kondisi hubungan dengan sanak keluarga sehingga dapat memengaruhi sosial

anak
i.

Pertama,frekuensi hubungan. Kalau keluarga tinggal dalam masyarakat yang


berbeda atau di kota atau Negara yang berlainan maka hubungan antara anak
dengan sanak saudara sangat jarang.

ii.

Kedua, peran sanak saudara dalam kehidupan anak. Peran saudara sepupu adalah
sebagai teman bermain sedangkan nenek berperan sebagai ibu atau pengasuh.
Sepanjang hubungan dengan sanak saudara bersifat sebagai teman bermain
hubungan cenderung menyenangkan meskipun ada kalanya terjadi pertengkaran
sebagaimana halnya dalam hubungan dengan saudara kandung. (Hurlock, psikologi
perkembangan,1890,hlm 131)

3) Gender (Santrock, 2012, h.285)


Dalam perkembangan sosial dan kepribadian pada masa anak-anak, gender merupakan
salah satu aspek penting yang mempengaruhi tingkah laku dan sikap yang diasosiasikan
dengan laki-laki atau perempuan. Kebanyakan anak mengalami sekurang-kurangnya tiga
tahap dalam perkembangan gender.
i.

Pertama,Identitas Gender (Gender identity), ketika anak berusia 2 tahun anak


mulai menyadari bahwa orang dapat dibagi dalam dua kategori, yang merujuk
pada penghayatan gendernya, termasuk pengetahuan, pemahaman, dan
penerimaan menjadi seorang pria atau wanita.

ii.

Kedua, Peran Gender (gender role) 2, 5 tahun, seperangkat ekspetasi yang


menentukan bagaimana wanita dan pria seharusnya berpikir, bertindak, dan
merasa.
26

iii.

Ketiga,Tipe Gender (Gender typing) mengacu pada penerapan karakteristik


peran tradisional maskulin dan feminin. Contoh berkelahi adalah karakteristik
maskulin dan menangis adalah karakteristik feminin.

Ketiga tahap perkembangan gender tersebut turut mendasari perilaku anak untuk
berperilaku sesuai dengan yang diharapkan dalam masyarakat. Gender dipengaruhi oleh :
a. Pengaruh Biologis
Sejumlah faktor biologis yang berpengaruh adalah kromososm, hormon, dan evolusi.
b. Pengaruh sosial
Pengaruh sosial pada gender sangat besar dipengaruhi oleh ;
-

Pengaruh orangtua

Strategi sosialisasi ibu

Strategi sosialisasi ayah

Pengaruh Kawan sebaya


o Komposisi gender dari kelompok anak anak

Usia 3 tahun bermain dengan teman bergender sama

Usia 4 12 tahun preferensi bermain dengan kelompok gender sama


meningkat

o Ukuran kelompok

Anak laki cenderung berpartisipasi dalam berbagai permainan


kelompok yang lebih terorganisasi

Anak laki lebih suka bermain dalam kelompok yang lebih besar

o Interaksi dalam kelompok bergender sama

Anak laki lebih suka permainan fisik, berkompetisi, memperlihatkan


ego, berisiko, dan mencari dominasi

Anak perempuan lebih suka terlibat percakapan kolaboratif,


berbicara dan bertindak secara timbal balik.

c.

Pengaruh Kognitif
Observasi, imitasi, hadiah, dan hukuman merupakan mekanisme dimana gender
berkembang sesuai teori kognitif sosial. Interaksi antara anak dan lingkungan sosial
merupakan kunci utama bagi perkembangan gender. (Santrock 2012, h. 289).
Disempurnakan oleh teori skema gender, dimana skema gender mengorganisasi dunia
berdasarkan wanita dan pria, anak memahami hal yg sesuai dan tidak sesuai dengan
gender mereka dan termotivasi untuk bertindak sesuai degan skema gendernya.

27

BAB III
PENUTUP

Dasar dari berbagai pola emosi dan kepribadian terletak pada awal kehidupan, maka
tahun tahun awal kehidupan adalah periode yang penting dalam menentukan bentuk pola itu
dan

segala hal yang mengganggu perkembangan emosi yang baik akan menghambat

penyesuaian yang dilakukan anak, yang terpenting bagi orang tua, pengasuh, ataupun guru
adalah dapat menyediakan kondisi ideal yang dapat mengatasi berbagai hambatan
perkembangan emosi maupun perilaku sosialanak secara efektif. Ciptakan kondisi yang dapat
menjamin perkembangan social emosional anak secara positif. perkembangan positif dalam
konteks perkembangan emosi maksudnya adalah mampu menciptakan dan menyediakan
kondisi yang dapat menjamin terkendalinya ekspresi emosi dari setiap anak sehingga emosi
anak terlindungi, lebih stabil dan seimbang serta wajar dalam tampilannya,sedangkan terkait
dengan pengembangan dimensi sosial anak maksudnya adalah anak mampu melakukan
interaksi sosial serta meningkatkan keterampilan anak dalam bersosialisasi.
Hal yang terpenting adalah perkembangan emosi dan sosial anak dapat saling terbangun
secara utuh dalam suatu kondisi yang diciptakan seperti disebutkan diatas, berbagai keadaan
yang dapat merusak perkembangan emosi dan sosial anak dapat di hindarkan. Kondisi yang
potensial akan mengganggu dapat ditekan hingga batas minimal atau mungkin dihancurkan.

28

DAFTAR PUSTAKA

Feist, J. F. (2010). Teori Kepribadian (Vol. I). Jakarta: Salemba Humanika.


Hurlock, E. B. (1978). Perkembangan Anak Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan . Jakarta: Erlangga.
Papalia, D. E. (2013). Perkembangan Manusia, Human Development, Jilid 1. Jakarta:
Salemba Humanika.
Santrock, J. W. (2012). Pekembangan Masa Hidup, Life Span Development, Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.

29

Beri Nilai