Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MATA KULIAH TEORI - TEORI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

TEORI EGO PSIKOLOGI


DELAPAN TAHAPAN PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL MANUSIA
ERIK HOMBURGER ERIKSON

Oleh :
Nama : SHIRLEY ANGELIN KUSUMA
NIM

: 16.E2.0012

MAGISTER SAINS PSIKOLOGI UNIKA SOEGIJAPRANATA


SEMESTER GASAL 2016/2017

Erik H Erikson
15 Juni 1902 12 Mei 1994

BAB I
BIOGRAFI ERIK H ERIKSON

Erik H . Erikson adalah psikoanalis Amerika yang lahir di Frankfurt, Jerman pada
tanggal 15 Juni 1902. Ayahnya adalah seorang berkebangsaan Denmark yang tidak diketahui
namanya, yang meninggalkan ibunya sebelum kelahirannya. Ibu Erikson, Karla Abrahamsen
seorang wanita muda keturunan Yahudi, yang membesarkan sendiri Erikson selama tiga tahun
yang kemudian menikah dengan Dr. Theodor Homburger. Selama masa kecilnya, orangtuanya
menyimpan rahasia kelahirannya sehingga Erikson percaya bahwa ayah tirinya adalah ayah
kandungnya. Beberapa literatur menceritakan masa kecil Erikson bahwa ciri ciri fisiknya
berdampak pada kebingungan jati dirinya. Di sekolah Sinagoga ia diolok sebagai orang Nordic
atau goy yang berarti bukan Yahudi karena ia memiliki mata biru dan rambut yang berwarna
pirang serta perawakan yang lebih tinggi seperti orang Denmark, sedangkan di sekolah negeri,
di literatur lain disebut sebagai sekolah tata bahasa, Erikson diolok sebagai orang Yahudi,
sehingga Erikson merasa berada pada tempat yang salah di kedua tempat itu, belum lagi
ditambah kebingungannya mengenai identitas ayahnya.
Erikson, dikatakan bukan sebagai siswa yang pandai, meski demikian beberapa literatur
menyatakan bahwa Erikson sangat baik di bidang sejarah dan Seni. Setelah tamat SMA, ia
bertengkar dengan ayah tirinya yang memaksa dia untuk melanjutkan pendidikan ke
kedokteran, Erikson akhirnya meninggalkan rumahnya dan berkeliling ke Eropa Selatan.
Dimana periode kehidupan Erikson ini konsisten dengan teorinya mengenai tahapan
perkembangan remaja sebagai masa ketidakpuasan, pemberontakan, dan kebingungan
identitas. Pada sekitar usia 18 tahun, ketika merasa terasing dari standar hidup keluarganya,
yang menurut Erikson borjuis, Erikson bertekad mencari gaya hidup yang berbeda. Dengan
bakat melukisnya, ia menghabiskan waktu tujuh tahun berkelana di Eropa Selatan sebagai
seniman.
Setahun kemudian, ia melamar di sekolah seni, yang dijalaninya selma satu tahun dan
kemudian karena merasa tidak nyaman, dia pindah ke Munich untuk belajar di sekolah seni
yang terkenal di sana, yaitu di Akademi Dunst. Pada tahun 1927 ia menerima undangan dari
teman SMA-nya, untuk membantu menjadi guru di taman kanak kanak Amerika di Viena,
3

sekolah ini dikenal sebagai Kinderseminar, yang didirikan oleh Anna Freud, putri dari
Sigmund Freud, bagi anak anak yang orangtuanya sedang belajar menjadi psikoanalis. Di
sana Erikson mengenal keluarga Freud, dan kemudian terpilih sebagai salah satu calon untuk
dilatih di lembaga psikoanalis di Viena.
Dari tahun 1927 hingga tahun 1933, selama kurang lebih 6 tahun Erikson menjalani
latihan psikoanalisis di bawah bimbingan Anna Freud dan August Aichhrn. Latihan ini
merupakan satu satunya latihan akademis formal selain ijazah yang ia peroleh dari sekolah
Maria Montessori Teachers Association di Viena. Oleh krena kurang memiliki gelar akademik,
maka ia tidak memiliki identitas profesional dan dikenal sebagai seniman, psikolog,
psikoanalis, ahli klinis, profesor, antropologis budaya, penganut aliran eksistensialisme,
penulis psikobiografi, dan cendekiawan umum.
Tahun 1929 Erikson menikah dengan Joan Serson, seorang guru dan penari
berkebangsaan Amerika Serikat, yang juga merupakan anggota sekoalah eksperimental di
bawah bimbingan Anna Freud. Erikson dan Joan dikaruniai empat orang anak, yaitu anak laki
laki bernama Kai, Jon, dan Neil dan seorang anak perempuan bernama Sue. Neil lahir dengan
sindroma Down, Di rumah sakit ketika Joan masih terbius, Erikson setuju untuk menempatkan
Neil di sebuah lembaga perawatan, lalu ia pulang dan memberi tahu ketiga anaknya yang lain
bahwa adik mereka telah meninggal saat lahir. Ia berbohong pada mereka, seperti ibunya dulu
berbohong padanya mengenai ayah kandungnya. Pada akhirnya ia memberi tahu anak laki
laki sulungnya, Kai, mengenai kebenarannya. Akan tetapi ia terus membohongi kedua anaknya
yang lain, Jon dan Sue. Walaupun kebohongan ibunya membuat ia terganggu, namun ia tidak
dapat memahami bahwa kebohongannya tentang Neil juga membuat anak anaknya terganggu
pula. Erikson telah melanggar prinsipnya sendiri yaitu, Jangan berbohong pada orang orang
yang kau sayangi dan Jangan mengadu domba anggota keluarga. Untuk menyelesaikan
permasalahan ini, ketika Neil meninggal dunia pada usia 20 tahun, Erikson menghubungi Sue
dan Jon dan meminta mereka untuk menangani semua urusan pemakaman Neil.
Tahun 1933, keluarga Erikson pindah ke Copenhagen, di mana Erikson ingin menjadi
warga negara Denmark lagi yang sekaligus ingin mendirikan pusat latihan psikoanalisis di
negara itu, namun nampaknya kurang berhasil sehingga Erikson dan keluarganya bermigrasi
ke Amerika Serikat dan tinggal di boston, tempat psikoanalisis telah didirikan setahun
sebelumnya. Di sini Erikson menemukan bahwa dia adalah psikoanalis anak yang pertama di
daerah itu. Dua tahun berikutnya ia berpraktik di Boston, tanpa sertifikat kedokteran atau gelar

perguruan tinggi apapun, ia bekerja di bagian penelitian di Rumah Sakit Umum Massachusetts,
Sekolah Kedokteran Harvard, dan Klinik Psikologi Harvard. Oleh karena ingin menulis, dan
merasa terlalu sibuk, Erikson mengambil pekerjaan di Yale pada tahun 1936. Akan tetapi,
setelah 2,5 tahun, ia pindah ke University of California di Berkeley, setelah dia tinggal di antara
orang orang Siox dan mempelajari mereka di Pine Ridge Reservation di Dakota Selatan. I
akemudian tinggal dengan orang orang Yurok di California Utara dan pengalaman
antropologi kultur ini memperkaya serta memperlengkapi konsep kemanusiaannya.
Pada tahun 1950, ia mengikuti sebuah kelompok mental health professionals di Austen
Riggs Center di Stockbridge, Massachusetts, yaitu tempat pusat pemulihan bagi orang orang
muda yang terganggu mentalnya. Ia juga mengajar part time pada Western Psychiatric
Institute di Pittsburgh, Universitas Pittsburgh, dan pada Massachusetts Institute of Technology.
Pada musim panas tahun 1960, ia bergabung lagi dan mengajar lagi di Universitas Harvard dan
menjadi profesor perkembangan manusia. Erikson mulai mendapat perhatian publik karena
tulisan tulisannya yang ekstensif mengenai perkembangan anak, pengembangan konsep dari
krisis identitas, dan modifikiasinya serta perluasan teori Freud mengenai perkembangan
psikoseksual.

LEMBAR FOTO

Anna Freud (1895-1982)


adalah seorang psikolog dari aliran psikoanalisis yang juga merupakan putri dari Sigmund Freud.
tahun 1927 hingga tahun 1933, selama kurang lebih 6 tahun Erikson menjalani latihan psikoanalisis di
bawah bimbingan Anna Freud dan August Aichhrn

Anna Freud bersama ayahnya, Sigmund Freud

LEMBAR FOTO

Erikson dan Joan

BAB II
TEORI
PSIKOLOGI EGO ERIKSON
(ERIKSONS EGO PSYCHOLOGY)

Teori Erikson yang paling terkenal adalah Eriksons Ego Psychology (psikologi Ego
Erikson) yaitu teori perkembangan kepribadian manusia yang mirip dengan karya Freud,
namun bedanya bahwa Erikson menerapkan teori ini dalam konteks psikososial, menambah
sejumlah tahapan lagi, dan menekankan faktor ego daripada id.
Erikson menyatakan bahwa ego kita adalah kekuatan positif yang menciptakan jati diri.
Sebagai pusat kepribadian, ego menolong untuk beradaptasi dengan beragam konflik dan krisis
dalam hidup dan menjaga kita agar tidak kehilangan individualitas pada kekuatan yang
meningkat pada masyarakat. Selama masa kanak kanak, ego lemah, lentur, dan rapuh, namun
mulai berbentuk dan memiliki kekuatan saat remaja. Ego merupakan pemersatu kepribadian,
sebagai agen yang mempersatukan pengalaman pengalaman sekarang dengan jati diri di masa
lampau dan juga dengan gambaran diri yang diharapkan. Erikson mendefinisikan ego sebagai
kemampuan seseorang untuk menyatukan pengalaman pengalaman dan tindakan tindakan
dengan cara yang adaptif (Feist, 2010).
Erikson memperkenalkan tiga aspek ego yang saling berhubungan, yaitu : ego tubuh,
ego ideal, dan ego identitas
1. Ego tubuh adalah bagian dari pusat diri yang mengacu pada pengalaman pengalaman
dengan tubuh kita, cara memandang fisik diri kita sebagai sesuatu yang berbeda dengan
orang lain. Manusia mungkin puas atau tidak puas dengan penampilan tubuhnya dan
bagaimana tubuh tersebut berfungsi, namun manusia menyadari bahwa itu satu
satunya tubuh yang akan pernah dimiliki.
2. Ego ideal mewakili gambaran yang kita miliki terhadap diri kita sendiri dibandingkan
dengan apa yang dicapai diri ideal. Ego ideal bertanggung jawab atas kepuasan atau
ketidakpuasan diri dari keseluruhan jati diri pribadi, bukan hanya dari fisik diri saja.
3. Ego identitas adalah gambaran yang kita miliki terhadap diri kita sendiri dalam ragam
peran sosial yang kita mainkan.

Menurut Erikson, perubahan di ego tubuh, ego ideal, dan ego identitas dapat dan memang
terjadi di tahapan kehidupan manapun, dan perubahan ketiganya paling pesat terjadi pada fase
masa remaja (Erikson dalam Feist, 2010).

Prinsip prinsip Dasar dalam Teori Erikson


Memahami teori psikologi ego dari Erikson yang termuat dalam delapan tahapan
perkembangan manusia harus dilandasi pada pemahaman terhadap beberapa prinsip penting,
yaitu :
1. Pertumbuhan terjadi berdasarkan prinsip epigenetik
Epigenetik, adalah istilah yang dipinjam dari embriologi, merupakan pertumbuhan
langkah demi langkah dari organ janin dimana janin berkembang menurut tingkat yang
telah ditetapkan sebelumnya dalam urutan yang tetap. Dengan cara yang sama, ego
mengikuti perkembangan epigenetik, dengan tiap tahapan berkembang pada waktu
yang seharusnya. Satu tahapan muncul dari dan dibangun berdasarkan tahapan
sebelumnya, tanpa menggantikan tahapan sebelumnya. Perkembangan epigenetik ini
dapat dianalogikan dengan perkembangan fisik anak anak yang tengkurap sebelum
duduk, duduk sendiri sebelum mampu berdiri sendiri, dan berdiri sebelum berjalan.
Saat mereka cukup matang untuk bisa berjalan, mereka masih mempertahankan
kemampuannya untuk tengkurap, duduk, dan berdiri. Erikson (1968) menggambarkan
proses epigenetik dengan mengatakan bahwa apapun yang tumbuh dari dasar tanah
dan yang muncul dari permukaan tanah, tiap bagian memiliki waktu untuk mengalami
pengaruh khusus, sampai semua bagian tumbuh untuk membentuk keutuhan fungsi.
Dengan demikian yang dimaksud dengan epigenesis adalah cara sebuah karakteristik
berkembang di atas karakteristik lain dalam ruang dan waktu (Evans, 1967, hal 21
22).
2. Setiap tahapan perkembangan terdapat interaksi berlawanan, yaitu konflik antara
elemen sintonik (harmonis) dan elemen distonik (mengacaukan). Interaksi tersebut
dibutuhkan untuk adaptasi yang benar, agar siap menghadapi realitas yang harus
dihadapi pada tahap perkembangan selanjutnya.
3. Konflik antara elemen distonik dan sintonik menghasilkan kualitas ego dan kekuatan
ego, yang disebut oleh Erikson sebagai kekuatan dasar (basic strength). Tiap tahapan

menghasilkan kekuatan ego dasar yang muncul dari benturan elemen elemen
harmonis dan mengacaukan di tahapan itu.
4. Benturan antar elemen sintonik dan distonik yang tidak memunculkan kekuatan dasar
(basic strength) akan mengakibatkan terjadinya patologi inti (core pathology) pada
tahap tersebut. Dimana patologi inti merupakan lawan dari kekuatan dasar, dan setiap
tahapan memiliki potensi untuk memunculkan patologi inti tersebut.
5. Terdapat perkembangan pada aspek biologis di setiap tahapan perkembangan manusia.
6. Identitas ego dibentuk oleh keanekaragaman konflik dan kejadian di masa lampau,
masa sekarang, dan yang diharapkan.
7. Setiap tahapan, khususnya sejak remaja dan selanjutnya, perkembangan kepribadian
ditandai oleh krisis identitas yang disebut Erikson sebagai titik balik, yaitu periode
krusial akan meningkatnya kerapuhan atau sebaliknya memuncaknya potensi. Krisis
identitas bukanlah hal yang buruk melainkan kesempatan untuk penyesuaian adaptif
maupun nonadaptif.

Delapan Tahapan Perkembangan Manusia


1. Masa Bayi
Masa bayi dalam teori Erikson meliputi kurang lebih satu tahun pertama
kehidupan dan paralel dengan fase oral dalam perkembangan psikoseksual Freud.
Menurut Erikson masa bayi adalah masa pembentukan, dimana bayi bukan hanya
menerima melalui mulut saja seperti dalam teori Freud, namun juga melalui organ indra
yang lain, dimana hal ini merupakan mode aktivitas yang disebut inkorporasi, yaitu
memasukkan sesuatu ke dalam dirinya secara pasif namun sangat mendambakan sesuatu
itu (Erikson dalam Crain, 2007 hal. 429). Contohnya ketika melihat sesuatu yang
menarik, dia menerima rangsangan visual dan berusaha memasukkan objek tersebut
secara visual dengan kemampuannya. Sejalan dengan itu, bayi juga memasukkan ke
dalam dirinya perasaan perasaan lewat indera mereka yang masih rapuh. Bahkan
refleks refleks mendasar seperti menggenggam, kemudian seiring tumbuhnya gigi bayi
menggigit, nampaknya mengikuti mode inkorporasi juga. Aktivitas inkorporasi
melukiskan mode umum ego bayi waktu pertama kali menghadapi dunia eksternal.
Sebagaimana bayi menerima makanan melalui multunya dan informasi sensori
melalui pengenderaannya yang awalnya bersifat pasif menerima kesan kesan atau
stimulus, kemudian belajar untuk menjadi semakin aktif dengan belajar memfokuskan
diri, mengisolasi stimulus, menggenggam stimulus visual yaitu objek objek dari latar
10

belakang yang lebih buram dan mengikuti gerakan objek tersebut, demikian juga terjadi
pada indera pendengaran dimana organ organ pendengaran meneguhkan mode
menggenggam

secara lebih aktif lagi sehingga bayi dapat membedakan dan

melokalisasikan suara suara yang signifikan , sambil menggerakkan kepala dan


tubuhnya sehingga bisa memasukkan suara suara tersebut ke dalam dirinya, dengan
melakukan itu semua bayi belajar untuk mempercayai maupun tidak mempercayai dunia
luar. Oleh karena itu, masa bayi ditandai oleh gaya psikoseksual sensori oral, krisis
psikososial rasa percaya dasar versus rasa tidak percaya dasar, dan kekuatan
dasarnya adalah harapan.
a. Gaya Psikoseksual Sensori Oral
Tahapan sensori oral merupakan gaya psikoseksual utama dalam
penyesuaian diri masa bayi yang ditandai oleh dua gaya pembentukan yaitu
memperoleh dan menerima apa yang diberikan. Bayi dapat memperoleh
walaupun tanpa keberadaan orang lain misalnya memperoleh udara melalui
paru paru, memperoleh data sensori tanpa manipulasi.
Gaya pembentukan kedua menyiratkan konteks sosial, yaitu menerima.
Misalnya, bayi menerima susu melalui mulutnya untuk menghilangkan rasa
lapar, untuk mendapatkannya dia hanya bisa menerimanya dari orang lain
yaitu ibunya atau pengasuhnya karena ia masih sangat tergantung pada orang
lain, melalui interaksi ini bayi belajar mempercayai atau tidak mempercayai
orang lain. Hal inilah yang membangun krisis psikososial dasar di masa
kanak kanak, yang dinamai rasa percaya dasar versus rasa tidak percaya
dasar.
b. Rasa Percaya Dasar versus Rasa Tidak Percaya Dasar
Seorang bayi apabila secara konsisten mendengar suara ibu, dimana
biasanya sebagai pengasuh utama mereka, dengan usaranya yang ramah dan
ritmis, dan menyadari bahwa ibu menyediakan makanan secara reguler,
maka bayi mulai belajar rasa percaya dasar. Bila mereka bisa bergantung
pada lingkungan visual yang menyenangkan, mereka akan lebih
memperkuat rasa percaya dasar. Dapat dikatakan bahwa apabila pola
menerima segala sesuatu cocok dengan cara kulturnya menerima segala
sesuatu, maka bayi belajar rasa percaya dasar. Sebaliknya, mereka belajar
rasa tidak percaya dasar bila mereka tidak menemui kecocokan antara
kebutuhan sensori oral mereka dengan lingkungan mereka.
11

Rasa percaya dan tidak percaya adalah pengalaman yang tidak


terelakkan bagi bayi. Semua bayi yang bertahan hidup berarti dia telah
dirawat dengan baik, dan oleh karenanya mengembangkan rasa percaya
pada pengasuhnya secara khusus dan pada lingkungannya secara umum.
Sebaliknya bayi yang merasakan frustrasi karena rasa sakit, lapar, dan tidak
nyaman mengembangkan rasa tidak percaya kepada pengasuhnya dan
kepada lingkungannya sehingga mengakibatkan frustrasi, amarah, sifat
permusuhan, sikap sisnis atau depresi.

c. Kekuatan Dasar : Harapan


Konflik antara rasa percaya dasar dan rasa tidak percaya dsar
memunculkan Harapan. Tanpa mengalami konflik antara rasa percaya
dan tidak percaya, manusia tidak dapat mengembangkan harapan. Bayi
harus merasakan lapar, sakit, dan tidak nyaman sebagaimana bayi juga harus
merasakan pengurangan kondisi tidak menyenangkan ini. Dengan memiliki
pengalaman menyakitkan berganti dengan menyenangkan, bayi belajar
untuk berharap bahwa gangguan mereka di masa depan akan diakhiri oleh
hasil yang memuaskan.
Apabila bayi tidak pernah merasakan harapan yang cukup pada masa
ini, maka bayi akan memunculkan lawan dari harapan yaitu withdrawal
atau penarikan diri sebagai patologi initi di masa bayi.
2. Masa Kanak kanak Awal
Masa Kanak kanak awal meliputi kurang lebih tahun kedua dan ketiga dalam
kehidupan, paralel dengan tahap anal Freud. Erikson memiliki pandangan yang lebih
luas dari pandangan Freud, menurut Erikson anak anak mendapat kesenangan bukan
hanya karena menguasai otot sirkular yang dapat berkonsentrasi, namun juga
menguasai fungsi tubuh lainnya, seperti buang air kecil, jalan, memegang, dst. Selain
itu, anak anak mengembangkan rasa kendali akan lingkungan interpersonal mereka,
juga pengukuran dari kendali diri.
a. Gaya Penyesuaian Psikoseksual Otot Uretral Anal
Penyesuaian psikoseksual utama dari masa kanak kanak awal adalah
gaya otot uretral anal. n belajar untuk mengendalikan tubuh mereka,
khususnya berkaitan dengan kebersihan dan pergerakan, lebih dari sekedar
12

waktu untuk pelatihan penggunaan toilet (toilet training), namun juga


waktu untuk belajar jalan, berlari, memeluk orangtua, berpegangan pada
mainan atau objek lain. Dengan aktivitas aktivitas ini, anak anak nampak
sedang menunjukkan kecenderungan menjadi keras kepala. Mereka
mungkin menahan atau menghilangkan fese mereka sesuai kenginan mereka
sendiri saja, meringkuk pada ibu mereka atau tiba tiba menjauhi mereka,
dan senang mengumpulkan barang atau tiba tiba menghancurkannya.
Kanak kanak awal adalah masanya kontradiksi, masa pemberontakan
yang bersikeras dan kepatuhan yang lembut, masa pengungkapan diri yang
impulsif dan penyimpangan yang kompulsif, masa kerja sama yang penuh
cinta dan penolakan penuh kebencian. Desakan yang bersikeras dan
dorongan yang berlawanan ini memicu krisis psikososial utama masa kanak
kanak yaitu otonomi versus rasa malu dan ragu (Erikson dalam Feist,
2010).

b. Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu


Sebagaimana anak anak dengan keras kepala mengungkapkan gaya
otot uretral anal mereka, mereka cenderung menemui kultur yang
berusaha untuk menghambat pengungkapan diri mereka. Orangtua terkadang
mempermalukan atau menegur terlalu keras anak yang mengotori celana dan
mengacaukan makanan. Dengan bersikap demikian orangtua sebenarnya
sedang menanamkan rasa ragu akan kemampuan anak untuk memenuhi
standar mereka. Konflik antara otonomi dengan rasa malu dan ragu ini
menjadi krisis psikososial utama di masa kanak kanak awal.
Menurut diagram epigenetik Erikson otonomi tumbuh dari rasa percaya
dasar, dan bila rasa percaya dasar telah dicapai pada masa bayi, maka anak
anak belajar untuk memiliki keyakinan terhadap diri mereka sendiri, dan duni
atetap utuh selama mereka mengalami krisi psikososial yang ringan, dan jika
anak tidak dapat mengembangkan rasa percaya dasar, maka usaha mereka
untuk mengendalikan organ anal, uretral, dan ototnya selama masa kanak
kanak awal akan diakhiri dengan rasa malu dan ragu yang kemudian akan
membangun krisis psikososial yang serius. Rasa malu dan ragu adalah
kualitas distonik, dan keduanya tumbuh dari rasa tidak percaya dasar yang
dicapai ketika masa bayi.
13

c. Kekuatan Dasar : Kemauan / Keinginan


Kekuatan dasar akan kemauan berkembang dari resolusi krisis otonomi
versus rasa malu dan ragu. Langkah ini adalah awal dari kehendak bebas
dan kekuatan keinginan. Konflik dasar selama kanak kanak awal adalah
antara perjuanagn anak akan otonomi dan usaha orangtua untuk
mengendalikan anak dengan menggunakan rasa malu dan ragu.
Anak anak hanaya akan berkembang bila lingkungan mereka
membiarkan mereka memiliki pengungkapan diri dalam kendali otaot
uretral dan anal juga otot otot lainnya. Ketika pengalaman mereka
mengakibatkan rasa malu dan ragu yang terlalu besar, anak anak tidak
mampu

mengembangkan

kekuatan

dasar

yang

penting

ini.

Ketidakmampuan ini akan diungkapkan sebagai dorongan, yaitu patologi


inti dari masa kanak kanak awal. Terlalu kecilnya keinginan dan terlalu
besarnya dorongan/paksaan akan terbawa sampai usia bermain sebagai
kurangnya tujuan dan hingga usia sekolah sebagai kurangnya rasa percaya
diri.

3. Masa Usia Bermain


Tahapan usia bermain meliputi usia 3 sampai 5 tahun, paralel dengan fase falic
pada tahapan perkembangan psiskoseksual Freud. Freud menempatkan Oedipus
Complex sebagai inti dari fase alat kelamin, namun Erikson percaya bahwa Oedipus
Complex hanya salah satu perkembangan penting selama usia bermain. Erikson
menyatakan bahwa selain mengidentifikasikan diri dengan orangtua mereka, anak
anak usai prasekolah mengembangkan daya gerak, keterampilan berbicara,
keingintahuan, imajinasi, dan kemampuan untuk menentukan tujuan.
a. Gaya Penyesuaian psikoseksual Lokomotor Genital
Oedipus Complex, menurut Erikson, merupakan suatu drama khayalan
yang dimainkan dalam imajinasi anak anak karena adanya pengertian yang
mulai meningkat akan konsep dasar seperti reproduksi, pertumbuhan, masa
depan, dan kematian. Seorang anak mungkin bermain peran sebagai ibu,
ayah, istri, suami, namun bukan hanya merupakan ungkapan gaya genital,
tetapi juga sebagai manifestasi dari berkembang pesatnya kemampuan
lokomotor. Seorang anak perempuan mungkin merasa iri pada anak laki
laki, bukan karena anak laki laki memiliki penis (penis envy), namun
14

karena masayarakat memberikan lebih banyak hak prerogatif pada anak


anak yang memiliki penis (laki laki). Seorang anak laki laki mungkin
memiliki kecemasan akan kehilangan sesuatu, namun kecemasan ini tidak
hanya mengacu pada penis, namun juga bagian tubuh lain.
Ketertarikan akan aktivitas genital diiringi dengan meningkatnya
sarana daya gerak mereka. Mereka sekarang dengan mudahnya bergerak,
berlari, melompat, dan memanjat tanpa usaha yang berat dan permainan
mereka menunjukkan inisiatif serta imajinasi. Keinginan awal ini
berkembang selama tahapan sebelumnya, sekarang berkembang menjadi
aktivitas dengan tujuan. Kemampuan kognitif anak memungkinkan mereka
untuk menghasilkan khayalan terperinci yang tidak hanya mencakup
khayalan Oedipal, namun juga mencakup gambaran, seperti ketika mereka
besar nanti, untuk menjadi seorang pemimpin, seorang tentara, seorang
dokter,dsb. Akan tetapi khayalan khayalan ini juga menghasilkan rasa
bersalah sehingga berkontribusi pada krisis psikososial pada usia sekolah,
yang dinamai inisiatif versus rasa bersalah.

b. Inisiatif versus Rasa Bersalah


Seiring dengan perkembangan motoriknya, anak mulai bergerak dengan
lebih mudah dan lebih kuat sebagaimana ketertarikan genital mereka bangkit,
mereka mengadopsi gaya intrusif berhadap hadapan untuk melakukan
pendekatan terhadap dunia. Walaupun mereka mulai mengadopsi inisiatif
dalam memilih dan mengejar tujuan mereka, banyak tujuan seperti menikahi
ayah atau ibu mereka atau meninggalkan rumah harus ditekan atau ditunda.
Akibat dari tujuan yang tabu dan terhambat ini adalah rasa bersalah. Konflik
antara inisiatif dan rasa bersalah menjadi krisis psikososial utama di masa
bermain, maka Kekangan merupakan patologi inti di usia bermain.

c. Kekuatan Dasar : Tujuan


Konflik antara inisiatif versus rasa bersalah menghasilkan kekuatan
dasar tujuan. Usia bermain juga merupakan tahapan di mana anak anak
mengembangkan hati nurani dan mulai menempelkan label benar atau salah
pada tingkah laku mereka. Hati nurani di masa muda ini menjadi landsan
akan moralitas.
15

4. Masa Usia Sekolah


Tahapan usia sekolah meliputi usia 6 tahun hingga sekitar usia 12 atau 13 tahun,
paralel dengan masa laten dalam teori Freud. Pada usia ini, dunia sosial meluas di luar
keluarga, mencakup kelompok teman, guru dan panutan dewasa lainnya. Keinginan
mereka untuk mengetahui segala sesuatu menjadi lebih kuat. Pada perkembangan
normal, anak anak berusaha untuk membaca dan menulis, atau mempelajari
keterampilan yang dibutuhkan oleh kultur mereka. Usia sekolah tidak harus berarti
sekolah formal, sehingga efektif untuk mengajarkan mengenai masayarakat.
a. Penyesuaian Psiskoseksual Latensi
Dalam periode perkembangan ini Erikson sepakat dengan Freud bahwa
usia sekolah adalah periode Latensi. Latensi seksual di sini penting
karena memungkinkan anak anak mengalihkan energi mereka untuk
mempelajari teknologi kultur mereka dan strategi interaksi sosial
mereka.

b. Industri versus Rasa Rendah Diri


Seiring anak anak bekerja dan bermain untuk memperoleh hal hal
esensial in, mereka mulai membentuk gambaran diri mereka sebagai
orang yang kompeten dan tidak kompeten. Gambaran ini adalah asal
dari ego identitas rasa saya atau kesayaan yang berkembang
hampir utuh selama rema remaja. Krisis psikososial pada tahapan ini
adalah industri versus rasa rendah diri.
Industri adalah kualitas sintonik yang berarti kesungguhan,
kemauan untuk tetap sisbuk akan sesuatu, dan untuk menyelesaikan
sebuah pekerjaan. Anak anak usia sekoalh belajar untuk bekerja dan
bermain pada aktivitas yang diarahkan agar memperoleh kemampuan
bekerja dan mempelajari aturan dalam bekerja sama. Rassoa antara
indsutri dan rasa bersalah harus condong pada industri, namun rasa
rendah diri tidak perlu dihindari, karena dapat bekerja sebagai
pendorong sesorang untuk melakukan yang terbaik., namun rasa rendah
diri yang berlebihan dapat menghalangi aktivitas produktif dan
menghambat rasa kompetensi seseorang.

16

c. Kekuatan Dasar : Kompetensi


Konflik industri versus rendah diri mengembangkan kekuatan dasar
kompetensi, yaitu rasa percaya diri untuk menggunakan kemampuan fisik
dan kognitif dalam menyelesaikan masalah yang mengiringi usia sekolah.
Kompetensi memebrikan landasan untuk partisipasi kooperatif dalam
kehidupan dewasa yang produktif (Erikson dalam Feist, 2010).
Apabila peretentangan antara industri dan rasa rendah diri tidak
condong, baik pada rasa rendah diri ataupun industri yang berlebihan, maka
anak anak akan cenderung menyerah dan mundur ke tahapan
perkembangan sebelumnya. Mereka akan terpaku dengan khayalan Oedipal
yang kekanak kanakan dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka
dalam permainan nonproduktif. Kemunduran ini disebut inersia, lawan dari
kompetensi dan patologi inti usia sekolah.

5. Masa Remaja
Masa remaja meliputi periode pubertas hingga masa dewasa muda, yang
merupakan tahapan perkembangan yang paling krusial karena di akhir periode ini,
seseorang harus sudah mendapatkan rasa ego identitas yang tetap. Krisis antara identitas
dan kebingungan identitas mencapai puncaknya pada tahapan ini.
a. Penyesuaian Psikoseksual Pubertas
Pubertas didefinisikan sebagai kematangan genital, secara psikologis
penting karena memicu pengharapan akan peran seksual di masa
mendatang.

b. Indentitas versus Kebingungan Identitas


Dengan berkembangnya pubertas, remaja mencari peran baru untuk
membantu mereka menemukan identitas seksual, ideologis, dan pekerjaan
mereka. Kebingungan identitas merupakan bagian yang dibutuhkan dalam
pencarian

identitas,

kebingungan

identitas

yang

berlebih

dapat

mengakibatkan penyesuaian patologis dalam bentuk kemunduran. Krisis


psikososial di masa ini adalah identitas versus kebingungan identitas.

17

c. Kekuatan Dasar : Kesetiaan


Kekuatan dasar yang timbul dari krisis identitas remaja adalah
kesetiaan atau keyakinan terhadap suatu ideologi. Setelah mencapai standar
internal tingkah laku, remaja tidak lagi membutuhkan bimbingan orangtua,
namun memiliki rasa percaya diri dalam ideologi agama, politik, dan sosial
mereka sendiri. Lawan dari kesetiaan adalah penyangkalan peran sebagai
patologi inti remaja yang menghalangi kemempuan seseorang untuk
mempersatukan beragam gambaran diri dan nilai nilai menjadi identitas
yang berfungsi.

6. Masa Dewasa Muda


Masa Dewasa muda meliputi usia 19 tahun sampai 30 tahun, tidak terlalu
dibatasi oleh waktu, namun dimulai dengan adanya keintiman di awal tahapan dan
perkembangan generativitas di akhir.
a. Penyesuaian Psikoseksual Genital
Genetelitas sejati dapat berkembang hanya selama dewasa muda ketika
ia dibedakan dengan rasa percaya yang sama dan berbagi secara stabil
kepuasan seksual dengan seseorang yang dicintai. Ia merupakan pencapaian
utama psikoseksual terhadapa masa dewasa muda dan hanya didapati dalam
hubungan intim.

b. Keintiman versus Keterasingan


Dewasa muda ditandai dengan krisis psikososial keintiman versus
keterasingan. Keintiman adalah kemampuan untuk meleburkan identitas
seseorang dengan orang lain tanpa ketakutan akan kehilangan identitas
tersebut. Oleh karena itu keintiman hanya dapat dicapai ketika seseorang
sudah membentuk ego yang stabil. Lawan dari keintiman adalah
keterasingan yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengambil
kesempatan dengan identitas seseorang dengan berbagi keintiman sejati.

c. Kekuatan Dasar : Cinta


Cinta merupakan kekuatan dasar dewasa muda yang muncul dari krisis
keintiman versus keterasingan. Cinta adalah pengabdian matang yang
18

mengatasi perbedaan perbedaan antara pria dan wanita. Lawan dari cinta
adalah eksklusivitas, inti patologi pada dewasa muda. Ekslusivitas menjadi
patologi ketika ia menghambat kemampuan seseorang dalam bekerja sama,
bersaing, atau berkompromi semua hal yang mendasari keintiman cinta.

7. Masa Dewasa
Masa Dewasa meliputi usia 31 tahun sampai 60 tahun, yaitu masa dimana
manusia mulai mengambil bagian dalam masyarakat dan menerima tanggung jawab
dari apapun yang diberikan oleh masyarakat.
a. Penyesuaian Psikoseksual Prokreativitas
Prokreativitas tidak sekedar mengacu pada kontak kgenital dengan
pasangan intim tetapi juga mencakup tanggung jawab untuk mengasuh
keturunan yang merupakan hasil kontak seksual. Prokreasi datang dari
keintiman yang matang dan cinta yang stabil selama tahapan sebelumnya.

b. Generativitas versus Stagnasi


Generativitas sebagai kualitas sintonik masa dewasa didefinisikan
sebagai generasi akan keberadaan baru sebagaimana produk produk baru
dan gagasan gagasan baru, mencakup menetapkan dan membimbing
generasi selanjutnya, mencakup prokreasi anak, produksi bekerja, dan
kreasi hal hal serta gagasan gagasan baru utnuk membangun duni ayang
lebih baik.

c. Kekuatan Dasar : Rasa Peduli


Kekuatan dasar yang muncul pada usia dewasa adalah rasa peduli yang
oleh Erikson didefinisikan sebagai komitmen meluas untuk merawat
seseorang, produk, dan gagasan seseorang yang harus dipedulikan. Antipati
dari rasa peduli adalah penolakan, patologi initi dewasa. Penolakan adalah
ketidkinginan untuk merawatorang orang atau kelompok kelompok
tertentu.

19

8. Masa Usia Lanjut


Tahapan perkembangan usia lanjut berawal dari usia 40 tahun sampai 60 tahun
lebih. Usia lanjut dapat menjadi masa akan kesenangan, keriangan dan bertanya tanya,
namun juga masa akan kepikunan, depresi dan keputusasaan.
a. Gaya penyesuaian psikoseksual Sensualitas Tergeneralisasi
Sensualitas tergeneralisasi memiliki arti mendapat kesenangan dalam
ragam sensasi fisik yang berbeda penglihatan, suara, rasa , bau, berpelukan
dan mungkin rangsangan genital. Sensualitas tergeneralisasi juga dapat
mencakup apresiasi yang lebih besar akan gaya hidup tradisional terhadap
lawan jenis.

b. Integritas versus Keputusasaan


Krisis identitas usia lanjut adalah integritas versus keputusasaan.
Integritas berarti perasaan akan keutuhan dan koherensi, kemampuan untuk
mempertahankan rasa kesayaan serta tidak kehilangan kekuatan fisik dan
intelektual. Sedangkan keputusasaan sebagai lawan dari integritas adalah
ketiadaan harapan.

c. Kekuatan Dasar Kebijaksanaan


Kebijaksanaan sebagai kekuatan dasar usia lanjut adalah kepedulian
terdidik dan terpisah dengan kehidupan itu sendiri dalam menghadapi
kematian itu sendiri, dan antitesis dari kebijksanaan adalah penghinaan
sebagai patologi inti dari usia lanjut yang didefinisikan sebagai reaksi
terhadap perasaan dalam meningkatnya kondisi tamat, bingung, dan tak
berdaya.

Kelebihan Teori Erikson


1. Kontribusi utama dari Erikson adalah memperluas tahapan perkembangan manusia
hingga dewasa bahkan usia lanjut. Dengan mengembangkan pernyataan perkembangan
Freud hingga usia lanjut Erikson menantang gagasan bahwa perkembangan psikologis
berhenti samapai pada masa kanak kanak. Peninggalan Erikson yang paling
berpengaruh adalah teori perkembangannya, khususnya tahapan remaja sampai usia
lanjut.
20

2. Erikson adalah teoritikus pertama yang menekankan periode kritis pada masa remaja
dan konflik konflik seputar pencarian seseorang akan identitas.
3. Erikson juga memicu banyak penelitian empiris, terutama pada remaja, dewasa muda,
dan dewasa.
4. Teori Erikson mempercayai pilihan bebas, memandang manusia secara optimis
walaupun kepribadian sebagian dibentuk oleh kultur dan sejarah, tetapi manusia
memiliki kendali yang terbatas akan takdir mereka. Individu, sebenarnya dapat
mengubah sejarah dan lingkungan mereka, tokoh yang diteliti oleh Erikson dalam hal
ini adalah Martin Luther dan Mahatma Gandhi.

Kritik Terhadap Teori Erikson


1. Menurut beberapa ahli teori Erikson memiliki tahapan perkembangan yang terlalu
kaku, Bernice Neugarten (dalam Santrock, 2008) mengatakan bahwa identitas,
intimasi, indepedensi, dan banyak aspek perkembangan sosioemosional lainnya tidak
muncul secara berurutan secara rapi dalam interval usia tertentu. Aspek aspek itu
merupakan isu penting yang ada di sepanjang kehidupan kita.
2. Pada dimensi mengenai determinan sadar versus tidak sadar, posisi Erikson tercampur.
Sebelum remaja kepribadian sebagian besar dibentuk oleh dorongan tidak sadar.

Sumbangan Teori Ego dan Delapan Tahap Perkembangan Manusia


1. Teori Erikson dapat bermanfaat sebagai panduan untuk bertindak, teori Ego
memberikan banyak bimbingan umum yang mampu memberikan pedoman atau
pendekatan untuk berhadapan dengan masa pertengahan dan dewasa.
2. Teori Erikson dapat memberikan panduan bagi orangtua untuk melakukan pengasuhan
dan menerapkan pola asuh yang tepat bagi anak anaknya sesuai dengan kebutuhan
dan konflik konflik yang menyertai pada fase fase perkembangan yang akan dilalui
oleh anak anaknya.
3. Teori Erikson juga dapat memberikan panduan bagi guru untuk memberikan tindakan
atau untuk menetapkan strategi pendidikan yang tepat bagi anak anak didiknya sesuai
dengan tahapan perkembangan anak didiknya.

21

DAFTAR PUSTAKA

Dialogue with Erik Erikson [Book] / auth. Evans R.I.. - New York : Haroer & Row, 1967.
Para Psikolog Terkemuka Dunia [Book] / auth. Naisaban Ladislaus. - Jakarta : Gramedia
Widiasarana Indonesia, 2004.
Psikologi Pendidikan [Book] / auth. Santrock John W. - Jakarta : Kencana Prenada Media
Group, 2008.
Teori Kepribadian [Buku] / pengar. Feist Jess Feist dan Gregory J.. - Jakarta : Salemba
Humanika, 2010. - Vol. I.
Teori Perkembangan [Book] / auth. Crain William. - Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007.

22