Anda di halaman 1dari 24

BUMI SEBAGI SISTEM FISIKA DAN KIMIA

Konsep sistem adalah suatu cara untuk menguraikan suatu masalah yang besar dan
rumit menjadi masalah-masalah yang lebih kecil dan lebih mudah dipelajari. Sistem dapat
dikatakan sebagai suatu bagian dari alam universal yang dapat diisolasi dari bagian alam
universal yang lain untuk keperluan observasi dan mengukur perubahan. Dengan mengatakan
bahwa sistem adalah bagian dari alam yang universal, maka berarti dapat didefinisikan sesuai
dengan kehendak si pengamat. Kita dapat memilih batasan-batasan sistem sesuai dengan
kemudahan penelitian kita. Dengan demikian, sistem bisa kecil dan bisa pula besar, bisa
sederhana dan bisa bula kompleks atau rumit. Selanjutnya, mengatakan bahwa suatu sistem
terisolasi dari alam universal di sekitarnya berarti bahwa suatu sistem harus mempunyai batas
yang memisahkannya dari sekelilingnya. Berdasarkan kondisi batasnya, sistem dapat
dibedakan menjadi tiga :
1) Sistem terisolasi yaitu sistem dengan batas yang mengisolasi sistem dari lingkungan
sekitarnya sehingga tidak dapat terjadi pertukaran energi atau materi antara sistem itu
dengan lingkungannya. Di dalam dunia nyata sistem jenis ini tidak ada, karena tidak
ada batas yang benar-benar dapat mengisolasi secara sempurna sehingga energi tidak
dapat masuk ataupun lepas.
2) Sistem tertutup yaitu sistem dengan batas yang memungkinkan untuk terjadinya
pertukaran energi, tetapi tidak memungkinkan pertukaran materi antara sistem dengan
lingkungannya. Bumi adalah contoh alam dari sistem tertutup ini.
3) Sistem terbuka yaitu sistem dengan batas yang memungkinkan terjadinya pertukaran
energi dan materi melintasi batas. Sub-sistem Bumi merupakan contoh alam dari
sistem terbuka ini.
Dengan beberapa pengecualian yang sangat terbatas, dapat dikatakan bahwa Sistem
Bumi adalah sistem tertutup. Energi dapat masuk dan meninggalkan Bumi. Massa Bumi
hampir konstan. Pengecualian terjadi pada sejumlah kecil meteorit yang sampai ke Bumi dari
ruang angkasa dan sejumlah kecil gas yang lepas dari atmosfer ke ruang angkasa.

Sebagai suatu sistem, Bumi memiliki empat reservoir raksasa yang menampung
materi, dan setiap reservoir itu adalah suatu sistem terbuka karena baik materi maupun energi
dari setiap reservoir itu dapat masuk dan keluar. Ke-empat reservoir Bumi itu yang
merupakan sustu sub-sistem Bumi adalah:
1) Atmosfer
Atmosfir adalah selubung berbagai gas yang mengelilingi bumi. Ketika radiasi
matahari memasuki atmosfir, sebagian dari radiasi itu dipantulkan kembali ke dalam
ruangan awan dan debu. Sebagian yang lain meluncur kepermukaan bumi, dimana
radiasi ini diserap atau dipantulkan kembali keruangan /selubung tersebut oleh
permukaan-permukaan reflektif seperti es, salju dan air yang ada di permukaan bumi.
Sinar yang dipantulkan kembali oleh Bumi berupa radiasi infra merah, yang berhawa
panas,.Gas-gas atmosferik tertentu akan menyerap gelombang panjang radiasi infra
merah tersebut dan meningkatkan temperatur dipermukaan bumi.Hal ini dikenal sebagai
efek rumah kaca (GRK).Tanpa efek rumah kaca, bumi akan menjadi jauh lebih dingin;
banyak bentuk kehidupan tidak akan bertahan. Gas-gas yang membentuk atmosfir
adalah: nitrogen, oksigen, argon, karbon dioksida, metane dan ozon- yang mengatur dan
menyeimbangkan energi yang terkandung dan yang dilepaskan.

2) Hidrosfer

Samudra dan perairan besar yang lain akan menahan panas yang diserap dari radiasi
sinar matahari lebih lama dibandingkan dengan daratan. Perbedaan panas yang terjadi
akan mengakibatkan terbentuknya Arus-arus yang berputar secara vertikal, dari
permukaan keperairan-perairan lebih dalam, dan secara horizontal dari garis lintang yang
tinggi ke yang rendah dan menyeberangi garis bujur. Ketika panas dilepaskan,sering kali
pada jarak yang jauh dari tempat dimana panas tersebut diserap,interaksinya dengan
atmosfir menghasilkan siklus-siklus harian dan siklus musiman dan temperatur yang
mempengaruhi iklim dan kondisi setempat.

3) Biosfer
Biosfir didifinisikan sebagai ruangan bumi-didalam atmosfir,hydrosfir dan lithosfir
dimana kehidupan telah berkembang. Biosfir terdiri dari tanah dan bagian atas dari kerak
bumi, lapisan bagian bawah dari atmosfir dan hydrosfir. Biosfir mungkin dianggap
sebagai tempat bersama yang dihuni oleh umat manusia, tanaman, burung-burung, ikanikan, bakteri dan binatang buas dan jinak.Semua ekosistem digabung dalam biosfir, yang
mempunyai kemampuan mengatur sendiri. Jika terjadi perubahan-perubahan dibiosfir,
dimana organisme-organisme tersebut tidak dapat ber adaptasi, maka kemampuan dari
organisme tersebut untuk menyerap zat-zat untuk tumbuh dan ber-reproduksi akan
terpengaruh.

4) Geosfer

Geosfer secara umum adalah lapisan atau sfera yang terdapat pada bumi terletak
pada permukaan bumi dan di bawah permukaan bumi dan lapisan bumi tersebut
berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan bumi.
Geosfer terdiri dari: atmosfer, litosfer(termasuk pedosfer), hidrosfer dan sampai
biosfer(antroposfer). Kalau kita amati sepintas masing-masing sfera tersebut saling
terpisah tetapi kalau kita perhatikan secara lebih mendalam ternyata lapisan-lapisan

tersebut saling terkait, saling berinteraksi membentuk satu system hubungan atau
keterkaitan antara masing-masing lapisan bumi tersebut.
Karakteristik dan sifat dari sfera-sfera tersebut berbeda-beda ada yang relative statis
dan ada yang sangat dinamis. Litosfer umumnya bersifat relaif statis, dikatakan relative statis
karena pada waktu tertentu menjadi sangat dinamik, misalya saat terjadi gempa bumi atau
terjadi letusan, gunung api, atmosfer, hidrosfer dan biosfer umumnya bersifat dinamik, dalam
arti setiap waktu dapat mengalami perubahan-perubahan.
Model dari Sistem Bumi dapat dilihat pada Gambar 2. Pada gambar tersebut terlihat
bahwa Bumi sebagai suatu benda langit yang merupakan salah satu anggota dari Sistem Tata
Surya merupakan suatu sistem tertutup. Bumi menerima pancaran radiasi gelombang pendek
dari Matahari dan kembali memancarkan radiasi gelombang panjang ke ruang angkasa.
Sementara itu, sub-sistem Bumi merupakan sistem terbuka yang diantara sesamanya dapat
terjadi pertukaran energi dan materi.
Gambar 2. Model Sistem Bumi. Bumi sebagai benda angkasa merupakan sistem tertutup,
sedang sub-sistem Bumi yang terdiri dari atmosfer, hidrosfer, biosfer dan geosfer merupakan
sistem terbuka. Sumber: Skinner dan Porter (2000), Gambar 1.19.
Komponen fisik dari Sistem Bumi terdiri dari sub-sistem Daratan (Geosfer), Lautan/Air
(Hidrosfer), dan Udara (Atmosfer). Setiap komponen tersebut berinteraksi satu sama lain
sehingga di dalam Sistem Bumi terdapat interaksi Daratan-Lautan, Daratan-Udara, dan
Lautan-Udara. Secara visual, kondisi keberadaan dari ketiga komponen Sistem Bumi itu dan
interaksinya dapat digambarkan sebagai model seperti Gambar 3. Semuanya terintegrasi
dalam Ruang dan Waktu.
Gambar 3. Model Sistem Bumi yang memperlihatkan hubungan dan interaksi di antara
sub-sistem

fisik.

Sumber:

Global

Change

News

Letter

no.

68,

Feb.

2007.

Pergerakan material di Bumi terjadi dalam bentuk pergerakan bersiklus[1]. Hal ini berarti
bahwa pergerakan terjadi secara kontinyu atau terus menerus. Gambaran ini memberikan
kerangka yang baik yang dapat membantu kita mempelajari bagaimana materi dan energi
tersimpan dan bagaimana keduanya digerakkan dalam suatu siklus dari satu reservoir ke
reservoir yang lain oleh sistem Bumi. Ada dua aspek yang penting bagi gerakan bersiklus,

yaitu (1) reservoir tempat material berada, dan (2) aliran atau fluks material-material dari
reservoir yang satu ke reservoir yang lain.
Ada tiga siklus yang sangat penting yang menggerakkan material dan energi di Bumi,
yaitu:
1) Siklus hidrologi. Siklus ini menggerakkan air di dalam hidrosfer. Keberadaan siklus
ini ditunjukkan oleh adanya hujan, salju dan aliran air sungai. Siklus ini terjadi dari
hari ke hari dan jangka panjang.
2)

Siklus batuan. Siklus ini menggambarkan berbagai proses yang membentuk,


memodifikasi, mendekomposisi, dan membentuk kembali batuan oleh proses-proses
internal dan eksternal Bumi.

3) Siklus tektonik. Siklus ini berkaitan dengan pergerakan dan interaksi antar lempenglempeng litosfer, dan proses di bagian dalam Bimu yang dalam yang mengendalikan
pergerakan lempeng-lempeng litosfer.
Ketiga siklus tersebut berkaitan erat satu sama lain melalui proses-proses fisika, kimia
dan biologi. Pentingnya ketiga siklus itu akan terlihat bila membicara siklus biogeokimia dari
unsur-unsur kimia yang penting bagi kehidupan seperti karbon, oksigen, nitrogen sulfur,
hidrogen dan fosfor.
Siklus hidrologi adalah fenomena yang terutama terjadi di atmosfer dan digerakkan oleh
panas dari Matahari yang menguapkan air dari samudera dan daratan (Gambar 4A). Uap air
yang dihasilkan bergerak naik masuk ke atmosfer dan kemudian bergerak bersama aliran
udara. Dalam perjalanannya bersama aliran udara, beberapa bagian uap air mengalami
kondensasi dan kemudian mengalami presipitasi dalam bentuk hujan atau salju dan kembali
ke samudera atau daratan Gambar 4B. Air hujan yang jatuh ke daratan dapat mengalir masuk
kedalam aliran sungai, meresap ke dalam tanah, atau menguap kembali ke udara untuk
bergerak kembali dalam siklus. Sebagian air yang di dalam tanah diserap oleh tanaman, dan
kemudian mengembalikan air itu ke atmosfer melalui daun dengan proses transpirasi. Salju
dapat tetap berada di daratan selama satu atau dua musim dan bisa lebih lama hingga mencair
dan airnya mengalir meninggalkan salju. Berbagai reservoir dan alur pergerakan air dalam
siklus hidrologi adalah seperti pada Gambar 4C.

Gambar 4A. Siklus hidrologi (panah abu-abu) dan energi Matahari (panah putih).
Sumber: Ingmanson dan Wallace (1985).
Gambar 4B. Siklus hidrologi dan transfer material tahunan. Sumber: Duxbury et al.
(2002).
Gambar 4C. Siklus hidrologi. Menggambarkan proses dan pergerakan air dari reservoir
satu

ke

reservoir

yang

lain.

Sumber:

Skinner

dan

Porter

(2000).

Siklus batuan menggambarkan seluruh proses yang dengannya batuan dibentuk, dimodifikasi,
ditransportasikan, mengalami dekomposisi, dan dibentuk kembali sebagai hasil dari proses
internal dan eksternal Bumi. Siklus batuan ini berjalan secara kontinyu dan tidak pernah
berakhir. Siklus ini adalah fenomena yang terjadi di kerak benua (geosfer) yang berinteraksi
dengan atmosfer, hidrosfer, dan biosfer dan digerakkan oleh energi panas internal Bumi dan
energi panas yang datang dari Matahari.
Kerak bumi yang tersingkap ke udara akan mengalami pelapukan dan mengalami
transformasi menjadi regolit melalui proses yang melibatkan atmosfer, hidrosfer dan biosfer.
Selanjutnya, proses erosi mentansportasikan regolit dan kemudian mengendapkannya sebagai
sedimen. Setelah mengalami deposisi, sedimen tertimbun dan mengalami kompaksi dan
kemudian menjadi batuan sedimen. Kemudian, proses-proses tektonik yang menggerakkan
lempeng dan pengangkatan kerak Bumi menyebabkan batuan sedimen mengalami deformasi.
Penimbunan yang lebih dalam membuat batuan sedimen menjadi batuan metamorik, dan
penimbunan yang lebih dalam lagi membuat batuan metamorfik meleleh membentuk magma
yang dari magma ini kemudian terbentuk batuan beku yang baru. Pada berbagai tahap siklus
batuan ini, tektonik dapat mengangkat kerak bumi dan menyingkapkan batuan sehingga
batuan tersebut mengalami pelapukan dan erosi. Dengan demikian, siklus batuan ini akan
terus berlanjut tanpa henti (Gambar 5).
Gambar 5. Siklus batuan. Menggambarkan proses yang menyebabkan batuan berubah
dari satu bentuk ke bentuk yang lain dan ditransportasikan. Sumber: Skinner dan Porter
(2000)
Berbeda dari sikus batuan yang terutama merupakan fenomena yang terjadi di kerak benua,
maka siklus tektonik terutama melibatkan kerak samudera, dan prosesnya didominasi oleh
proses-proses di bagian dalam Bumi yang digerakkan oleh energi geotermal Bumi.

Gambaran siklus tektonik dapat dilihat pada Gambar 6A dan B. Ketika magma yang
datang dari mantle muncul di tempat pemekaran lantai samudera, maka ditempat itu akan
terbentuk kerak samudera baru. Kerak samudera yang tua akan kembali ke dalam mantle di
zona penunjaman. Dengan demikian, masa hidup kerak samudera lebih pendek daripada
masa hidup kerak benua.
Gambar 6A. Siklus tektonik. Kontak antara magma dengan air laut di zona pemekaran
samudera menunjukkan interaksi antara geosfer dan hidrosfer yang mempengaruhi komposisi
air laut, sementara itu volkanisme menunjukkan kontak antara geosfer dan atmosfer yang
mempengaruhi komposisi udara. Sumber: Skinner dan Porter (2000).
Gambar 6B. Siklus tektonik. Menggambarkan aliran proses dan pergerakan material.
Sumber: Skinner dan Porter (2000).
Fenomena volkanisme dapat terjadi berkaitan dengan mekanisme penunjaman. Ketika
kerak samudera masuk kembali ke dalam mantel dan meleleh kembali, unsur-unsur volatil
dari kerak samudera itu menyebabkan kerak benua di atasnya meleleh. Magma yang
terbentuk muncul ke permukaan sebagai gunungapi. Dengan demikian terjadi penambahan
material baru ke kerak benua. Di pihak lain, aktifitas gunungapi yang mengeluarkan debu dan
gas dari dalam Bumi mempengaruhi komposisi udara. Kondisi ini menunjukkan interaksi
antara geosfer dan atmosfer.
Selain di zona penunjaman, magma dapat muncul di daerah pemekar lantai samudera. Di
daerah pemekaran lantai samudera, interaksi antara kerak samudera dengan samudera di
atasnya mempengaruhi komposisi air laut disekitarnya. Magma yang muncul di zona
pemekaran dan membentuk kerak samudera baru membentuk batuan beku yang panas dan
bereaksi dengan air laut. Unsur-unsur dari dalam batuan yang panas bereaksi dengan unsurunsur yang ada di dalam air laut. Ini adalah salah satu cara mantle mempengaruhi komposisi
air laut, dan juga cara yang penting bagaimana material dan proses dari siklus tektonik
berinteraksi dengan siklus hidrologi.
Keterkaitan antar Siklus

Gambaran hubungan antara siklus hidrologi, siklus batuan dan siklus tektonik dapat
dilihat pada Gambar 7. Interaksi semacam itu telah berlangsung secara terus menerus sejak di
Bumi terdapat air laut sekitar 4 milyar tahun yang lalu.
Gambar 7. Keterkaitan antara siklus hidrologi, siklus batuan dan siklus tektonik. Sumber:
Skinner dan Porter (2000).
Hal yang penting dari interaksi ketiga siklus tersebut adalah gambaran tentang
bagaimana material bergerak dari satu reservoir ke reservoir yang lain dan proses-proses yang
menggerakkannya. Selain itu, ketiga siklus tersebut juga memperlihatkan bagaimana peranan
energi panas yang berasal dari bagian dalam Bumi dan dari Matahari berperanan dalam
menggerakkan suatu proses dan memindahkan material dari satu reservoir ke reservoir yang
lain.
Ada dua hal utama yang membedakan antara Bumi dengan planet-planet yang lain di
dalam Sistem Tata Surya, yaitu:
1) Bumi memiliki air dalam jumlah besar dan membentuk sub-sistem hidrosfer sedang
planet-planet yang lain tidak memiliki air. Dengan kata lain, hidrosfer hanya dijumpai
di Bumi dan tidak dijumpai di planet-planet yang lain.
2) Di Bumi terdapat fenomena tektonik lempeng sedang di planet-planet yang lain tidak
ada. Fenomena tektonik lempeng mengindikasikan bagian internal Bumi yang cair
dan memiliki energi panas yang tinggi.
Berlangsungnya siklus hidrologi, siklus batuan dan siklus tektonik di Bumi berkaitan erat
dengan keberadaan dua hal tersebut. Siklus hidrologi tidak dapat berlangsung bila di Bumi
tidak ada hidrosfer, sedang siklus batuan dan tektonik tidak dapat berlangsung bila tidak ada
tektonik lempeng. Dengan demikian, bila keberadaan hidrosfer dan tektonik lempeng hanya
ada di Bumi, maka ketiga siklus tersebut hanya berlangsung di Bumi dan tidak dapat
berlangsung di planet-planet yang lain.
Bumi berbentuk oblate spheroid, yang berarti diameter ekuator lebih panjang daripada
diameter kutub. Bumi berrotasi pada sumbunya dari barat ke timur, dan Bumi berrevolusi
mengelilingi Matahari dengan orbit yang berbentuk ellips. Pada titik terdekat yang disebut
perihelion, jarak Bumi dan Matahari 147.000.000 km dan terjadi pada bulan Juli, sedang pada

titik terjauh yang disebut aphelion, berjarak 150.000.000 km dan terjadi pada bulan Januari.
Fakta lain adalah bahwa sumbu rotasi Bumi membentuk sudur 23,5o terhadap bidang orbit
Bumi.
Bentuk bumi bulat menyebabkan penyerapan radiasi sinar Matahari oleh Bumi berkurang
sesuai dengan perubahan posisi lintang dari ekuator ke kutub (Gambar 8). Selanjutnya, posisi
sumbu rotasi Bumi yang menyudut 23,5o terhadap bidang orbit Bumi menyebabkan
terjadinya variasi penyinaran tahunan di permukaan Bumi (Gambar 9). Variasi pemanasan
Bumi ini mengendalikan sirkulasi samudera dan atmosfer, dan juga siklus hidrologi.
Gambar 8. Variasi intersitas penyinaran Matahari terhadap permukaan Bumi sebagai
akibat dari perbedaan posisi lintang. Perbedaan intersitas penyinaran itu menyebabkan
perbedaan energi panas dari Matahari yang diterima oleh Bumi sesuai dengan posisi lintang
suatu tempat di permukaan Bumi. Sumber: Berner dan Berner (1987).
Gambar 9. Gerak revolusi Bumi terhadap matahari dan posisi sumbu rotasi Bumi yang
membentuk sudut 23,5o terhadap bidang orbit Bumi menyebabkan perubahan musim
sepanjang tahun. Sumber: Berner dan Berner (1987).
Sirkulasi atmosfer adalah konsekuensi dari ketidakseimbangan panas di permukaan
Bumi yang terjadi karena perbedaan intensitas penyinaran yang telah dibicarakan di atas, dan
gerak rotasi Bumi. Gambaran umum sirkulasi atmosfer yang menunjukkan angin rata-rata
tahunan disajikan dalam Gambar 10.

KERAK SEBAGAI SISTEM YANG TERPISAH

Pada divergent margin, material baru ditambahkan ke permukaan bumi. Pada convergent
margina, material permukaan masuk ke mantel, kemudian mengalami peleburan dan

akhirnya ke permukaan bumi


Diferensiasi geokimia sekunder adalah penyebaran unsur yang dikontrol oleh ukuran ion
Pada proses kristalisasi magma, terjadi penambahan unsur-unsur ke atmosfer dan
hidrosfer.

Siklus Geokimia
Terdapat tiga tipe siklus utama unsur pada permukaan bumi, antara lain:

Pada siklus yang ideal massa dan komposisi kimianya akan berubah sepanjang waktu

geologi. Siklus akan tetap, dengan rata-rata penambahan dan pengeluaran seimbang.
Apabila material pada komposisi kimia yang berbeda ditambahkan atau dilepaskan
dari siklus, siklus tidak dapat kembali ke kondisi semula (adanya penambhana

material dari vulkanik yang baru dari mantel ke permukaan)


Material juga dapat ditambahkan atau dikurangin dari siklus tanpa perubahan
komposisi kimia, tetapi massanya berubah (adanya variasi massa biosfer dengan
waktu)

A. Siklus Air

Siklus air merupakan perpaduan objek hidrosfer secara keseluruhan. Di dalam siklus ini
terdapat beberapa proses yang membentuk pergerakan air secara kontinyu, Siklus air yang
lengkap mencakup keberadaan air dalam atmosfer hingga dalam tubuh air yang berada di
permukaan bumi, seperti laut, gletser, danau, maupun mengalir di bawah permukaan tanah.
Selanjutnya, air akan kembali ke atmosfer. Proses proses yang terjadi di dalam siklus air,
antara lain evaporasi (penguapan, perubahan wujud dari cair menjadi gas), kondensasi
(pembentukan awan, perubahan wujud dari gas menjadi cair), presipitasi (proses jatuhnya
partikel air dari atmosfer menuju permukaan bumi), intersepsi (gangguan dalam transportasi

air), infiltrasi (proses pergerakan air tanah dari permukaan ke dalam tanah), run off (aliran air
di permukaan tanah), dan storage (penyimpanan air). Kandungan air sesaat di atmosfer
sekitar 0,001% (1.300 km3) dari semua cadangan air di seluruh bumi. Molekul air yang
masuk ke dalam atmosfer melalui proses evaporasi akan kembali lagi menuju permukaan
bumi setelah 10 hari melalui proses presipitasi.
B. Siklus Karbon

Karbon di alam memiliki kandungan total 0,1% dari massa kerak bumi. Dari total
keseluruhan karbon tersebut, karbon terdapat dalam atmosfer, biosfer, laut (termasuk karbon
anorganik terlarut dan biota laut), sedimen (termasuk bahan bakar fosil, sistem air tawar, dan
material organik), serta interior bumi (karbon dari kerak dan mantel bumi). Siklus karbon
menjelaskan tentang distribusi dan akumulasi karbon. Siklus ini berkaitan dengan vegetasi
yang menyerap gas CO2 selama proses fotosintesis. Secara umum terdapat tiga macam siklus
karbon yang dapat dijumpai di alam:

Siklus Biologi, melalui proses: atmosfer -> absorpsi -> vegetasi -> asimilasi -> hewan
-> respirasi -> atmosfer

Siklus Geologi, melibatkan lautan di bumi yang berperan sebagai cadangan air utama
di bumi. Air bersifat melarutkan gas CO2 melalui proses: CO2 (atmosfer) > CO2 (air)
> H2CO3 > Ca(HCO3)2 > CaCO3

Siklus teknogenik biologi, melibatkan proses pengendapan material organik pada


masa lampau (minyak bumi, batubara, gas alam, sekis, dan lain lain) maupun
aktivitas manusia. Proses pelepasan gas CO2 ke dalam atmosfer oleh aktivitas
manusia merupakan penyebab utama terjadinya efek rumah kaca.

Siklus karbon geologi berlangsung dalam skala waktu jutaan tahun. Sementara itu siklus
karbon biologi berlangsung dalam skala waktu harian hingga ribuan tahun.
C. Siklus Oksigen

Oksigen merupakan sebuah gas yang tidak memiliki warna dan bau, serta membentuk
senyawa dengan semua unsur, kecuali gas mulia. Oksigen terdapat di atmosfer dengan
kelimpahan volume sebesar 20,95%. Oksigen penting untuk kelangsungan hidup organisme.
Selain berasal dari proses fotosintesis, oksigen juga dapat terbentuk melalui proses disosiasi
dari sinar ultraviolet di atmosfer.
Vegetasi di biosfer setiap tahun melepas sekitar 430 470 miliar ton oksigen selama
proses fotosintesis. Siklus oksigen cukup kompleks karena oksigen juga banyak dijumpai
dalam material anorganik maupun organik. Tanaman dan hewan menggunakan oksigen untuk
respirasi dan melepaskannya ke udara maupun air dalam bentuk gas karbondioksida.
Karbondioksida digunakan oleh alga dan tanaman hijau yang berklorofil untuk diubah

menjadi karbohidrat dalam proses fotosintesis. Oksigen juga dapat berasal dari air hujan
maupun salju yang sangat kaya akan oksigen terlarut. Konsentrasi oksigen menurun seiring
dengan bertambahnya kedalaman air karena berkurangnya aktivitas fotosintesis. Jika air
banyak mengandung material organik dan kondisinya sesuai maka akan banyak dijumpai
bakteri aerob sehingga jumlah oksigen terlarut berkurang. Berkurangnya kadar oksigen
terlarut ini sebanding dengan bertambahnya jumlah populasi bakteri.
D. Siklus Nitrogen

Nitrogen adalah gas yang tidak berwarna dan berbau, serta sedikit larut dalam air di
bawah kondisi normal. Kandungannya di kerak 0,04% dari massa keseluruhan dan di
atmosfer 75,6% dari massa keseluruhan dan 78,1% dari volume keseluruhan. Hewan dan
tanaman tidak dapat berasimilasi langsung dari nitrogen di atmosfer tetapi tanaman dapat
menggunakannya dalam bentuk nitrat terlarut di tanah oleh akar tanaman. Dengan sejumlah
reaksi kimia maka nitrogen akan berikatan membentuk asam nukleik dan protein. Protein
dimanfaatkan oleh organisme yang lebih tinggi. Senyawa nitrogen yang berasal dari sisa
organisme yang membusuk diuraikan oleh bakteri membentuk senyawa sederhana yang
merupakan kelompok amonia dan garam amonium (amonifikasi). Kelompok bakteri lain
mengubah senyawa ini menjadi nitrat yang mudah digunakan untuk proses asimilasi oleh
tanaman (nitrifikasi). Sejumlah nitrogen di atmosfer difiksasi oleh badai guruh maupun
bakteri di akar tanaman kacang kacangan. Sebagian nitrat di tanah ditransportasi oleh air
permukaan ke laut dan diendapkan di dasar laut. Sebagian dari nitrat ini kembali ke daratan

oleh proses: fitoplankton -> zooplankton -> ikan -> burung. Bakteri tertentu, yaitu bakteri
denitrifikasi mampu menguraikan senyawa amonium. Sebagai hasilnya, gas nitrogen
dilepaskan melalui proses yang disebut denitrifikasi

PENGARUH MANUSIA DALAM SIKLUS GEOKIMIA

Bercampurnya zat asing dengan udara yang bersih, diatas harga yang normal disebut

pencemaran (polusi)
Material yang tidak dapat diakaomodasi oleh lingkungan atau menghasilkan pengaruh

yang tidak diinginkan di biosfer disebut polutan


Lima tipe polutan utama :
1. Karbon monoksida (CO)
2. Sulfur Oksida (SO)
3. Hidrokarbon
4. Nitrogen Oksida (NO)
5. Partikel padat

HUJAN ASAM

Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan
secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) untuk karbon dioksida (CO 2) di udara
yang larut dengan air hujan memiliki bentuk asam lemah. Asam dalam hujan ini sangat
bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh
tumbuhan dan hewan.
Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan
bakar fosil dan nitrogen di udara bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan
nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk
asam sulfat dan asam nitrat larut sehingga jatuh bersama-sama dengan air hujan.
Air hujan asam akan meningkatkan keasaman air tanah dan permukaan berbahaya bagi
ikan dan tumbuhan. Upaya untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.
Sumber Terjadinya Hujan Asam
Tentu hujan asam dapat terjadi akibat semburan gunung berapi dan dari proses biologis
di tanah, rawa, dan laut. Namun, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia

seperti industri, pembangkit listrik, kendaraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian
(terutama amonia).
Gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat dilakukan oleh angin hingga ratusan kilometer
di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan disimpan ke dalam tanah.
Hujan asam karena industri telah menjadi isu penting di Republik Rakyat Cina, Eropa
Barat, Rusia dan daerah di arah angin. Hujan asam dari pembangkit listrik di Amerika Serikat
bagian barat telah menghancurkan hutan New York dan New England. Pembangkit listrik
umumnya menggunakan batu bara sebagai bahan bakar.

Efek rumah kaca atau Greenhouse effect merupakan istilah yang pada awalnya berasal
dari pengalaman para petani di daerah beriklim sedang yang menanam sayur-sayuran dan
biji-bijian di dalam rumah kaca. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa pada siang hari
waktu cuaca cerah, meskipun tanpa alat pemanas suhu di dalam ruangan rumah kaca lebih
tinggi dari pada suhu di luarnya. Mengapa demikian?

Karena sinar matahari yang menembus kaca dipantulkan kembali oleh tanaman atau
tanah di dalam ruangan rumah kaca sebagai sinar inframerah yang berupa panas. Sinar yang
dipantulkan tidak bisa keluar ruangan rumah kaca sehingga udara di dalam rumah kaca
suhunya naik dan panas yang dihasilkan di dalam ruangan rumah kaca tidak bercampur
dengan udara luar rumah kaca. Akibatnya suhu di dalam ruangan rumah kaca lebih tinggi
daripada suhu di luarnya yang dinamakan efek rumah kaca. Bagaimana terjadinya efek rumah
kaca itu? Apa penyebab terjadinya efek rumah kaca?
Pancaran sinar matahari yang sampai ke bumi, setelah melalui penyerapan oleh berbagai
gas di atmosfer sebagian dipantulkan dan sebagian diserap oleh bumi. Bagian yang diserap
akan dipanaskan lagi oleh bumi sebagai sinar inframerah yang panas. Sinar inframerah
tersebut di atmosfer akan diserap gas-gas rumah kaca seperti uap air, dan karbondioksida
sehingga tidak terlepas ke luar angkasa dan menyebabkan panas terperangkap di troposfer
dan akhirnya mengakibatkan peningkatan suhu di lapisan troposfer dan di bumi. Hal tersebut
menyebabkan terjadinya efek rumah kaca di bumi.
a. Gas-gas Rumah Kaca
Gas-gas rumah kaca adalah gas-gas yang menyebabkan terjadinya rumah kaca. Gasgas rumah kaca antara lain: uap air, karbon dioksida, metana, ozon, dinitrogenoksida, dan
chlorofluorocarbon. Gas rumah kaca di atmosfer menyerap sinar inframerah yang

dipantulkan oleh bumi. Peningkatan kadar gas rumah kaca akan meningkatkan efek
rumah kaca yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global.
b. Uap air
Uap air merupakan penyumbang terbesar bagi efek rumah kaca. Jumlah uap air
dalam atmosfer berada di luar kendali manusia, dan dipengaruhi oleh suhu global. Jika
bumi menjadi lebih hangat, jumlah uap air di atmosfer akan meningkat karena naiknya
laju penguapan. Hal ini akan meningkatkan efek rumah kaca serta akan mendorong
pemanasan global.
c. Karbondioksida
Karbondioksida merupakan gas rumah kaca terpenting penyebab pemanasan global
yang sedang ditimbun di atmosfer karena kegiatan manusia. Sumbangan utama menusia
terhadap jumlah karbondioksida dalam atmosfer berada dari pembakaran bahan bakar
fosil yaitu minyak bumi, batu bara, dan gas bumi. Selain itu, penggundulan hutan serta
perluasan wilayah pertanian juga meningkatkan jumlah karbondioksida dalam atmosfer.
d. Metana
Metana merupakan gas rumah kaca yang terdapat secara alami. Metana dihasilkan
ketika jenis-jenis mikro organisme tertentu menguraikan bahan organik pada kondisi
tanpa udara. Gas ini juga menghasilkan secara alami pada saat pembusukan biomassa di
rawa-rawa. Metana mudah terbakar, dan menghasilkan karbondioksida sebagai hasil
sampingan. Kegiatan manusia telah meningkatkan jumlah metana yang dilepaskan ke
atmosfer. Sawah merupakan kondisi ideal bagi pembentukkannya, dimana tangkai padi
nampaknya bertindak sebagai saluran metana ke atmosfer. Meningkatnya jumlah ternak
sapi dan kerbau merupakan sumber lain yang berarti, karena metana dihasilkan dalam
perut mereka dan dikeluarkan ketika mereka bersendawa dan kentut. Metana juga
dihasilkan dalam jumlah cukup banyak di tempat pembuangan sampah.
d. Ozon
Ozon merupakan gas rumah kaca yang terdapat secara alami di atmosfer. Di
troposfer, ozon merupakan zat tercemar hasil sampingan yang terbentuk ketika sinar
matahari bereaksi dengan gas buang kendaraan bermotor. Ozon pada troposfer dapat
mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.

e. Dinitrogenoksida
Dinitrogenoksida merupakan gas rumah kaca yang terdapat secara alami. Sumber
utamanya yaitu kegiatan mikro organisme dalam tanah. Pemakaian pupuk nitrogen
meningkatkan jumlah gas ini di atmosfer.
f. Chlorofluorocarbon
Chlorofluorocarbon merupakan sekelompok gas buatan. Gas ini yang paling banyak
digunakan mempunyai nama Freon. Zat-zat tersebut digunakan dalam proses
mengembangkan busa, di dalam peralatan pendingin ruangan, dan lemari es. Gas-gas ini
dapat merusakkan lapisan ozon.
Peningkatan gas rumah kaca akan meningkatkan efek rumah kaca, terutama disebabkan
oleh pencemaran udara, dan dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Pemanasan
global yaitu peningkatan suhu di permukaan bumi yang mengakibatkan perubahan iklim dan
kenaikan permukaan air laut. Pemanasan global merupakan salah satu akibat efek rumah kaca
pada atmosfer bumi.