Anda di halaman 1dari 16

ANALISA FUNDAMENTAL

diajukan untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah


Teori Portofolio dan Analisis Investasi
Dosen Pengampu:
Muthia Roza Linda, SE, MM

Disusun Oleh:
1. Ari Ardianto
2. Ricky Savega

14059124
14059021

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang dengan karunia-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini.Dalam makalah ini kami membahas mengenai
Pasar Modal Indonesia.
Makalah ini kami buat guna memenuhi tugas makalah dari Ibu Muthia
Roza Linda, SE, MM. selaku dosen pada mata kuliah Teori Portofolio dan
Analisis Investasi.
Kami menyadari bahwa kami masih banyak kekurangan dari makalah ini,
baik dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan
dan pengalaman kami.Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat
kami harapkan.
Padang, November 2016
Penulis

108

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
PEMBAHASAN.....................................................................................................1
A. DASAR ANALISIS FUNDAMENTAL.....................................................1
B. PENGERTIAN ANALISIS FUNDAMENTAL........................................3
C. FAKTOR DALAM ANALISIS FUNDAMENTAL..................................3
1) Faktor Fundamental Makro.......................................................................3
2) Faktor Fundamental Ekonomi (Kinerja) Perusahaan................................7
D. ANALISIS FUNDAMENTAL DAN TEKNIKAL....................................9
E. SPEKULASI BUKAN FAKTOR TEKNIKAL.......................................11
PENUTUP.............................................................................................................13
A. KESIMPULAN..........................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................

ii

109

BAB I
PEMBAHASAN
A. DASAR ANALISIS FUNDAMENTAL
Dalam analisis fundamental, yang dijadikan dasar perkiraan harga
(intrinsic value) adalah faktor-faktor fundamental seperti laporan keuangan,
informasi penting lain yang sewaktu-waktu harus diumumkan perusahaan publik
dan perkembangan ekonomi makro, mau pun berita dalam bidang-bidang lain
seperti politik, sosial, cuaca, dsb. yang dianggap perlu, semuanya selama paling
tidak dua tahun terakhir.
Tidak mungkin bagi siapa saja untuk menyerap semua informasi yang
ditawarkan secara total. Perlu untuk meletakkan perbatasan menurut urutan
prioritas dan keterbatasan waktu maupun sumber daya masing-masing.
Pembatasan yang ditetapkan oleh analis menurut kebutuhan masing-masing
adalah berbeda-beda. Di samping itu akses kepada informasi yang tersedia
tidaklah sama bagi semua pihak yang sedang terlibat, dari segi waktu maupun
jumlah. Perbedaan dalam pembatasan ruang gerak analis akan berpengaruh
terhadap proses pembentukan harga, sehingga akan timbul perbedaan persepsi
tentang tingkat harga yang dianggap wajar.
Bila yang ikut ditinjau juga adalah motivasi berbagai pihak untuk terjun ke
bursa saham, maka gerak harga akan dipengaruhi juga oleh pertimbangan yang
tidak fundamental atau rasional. Pihak yang dianggap menggunakan pendekatan
fundamental adalah investor jangka panjang yang adakalanya perlu melaksanakan
penyesuaian portfolio, namun selalu berusaha untuk memilih saham dengan
kinerja terbaik. Golongan yang tidak selalu bersikap demikian, namun masih
cukup rasional adalah penggerak pasar (market maker) karena kewajibannya
untuk mencipta permintaan pada saham tertentu. Dalam golongan "market maker"
termasuk "specialist" yang oleh peraturan bursa dilarang untuk mencipta
permintaan yang menyesatkan, karena saham yang ditanganinya sebetulnya tidak
memenuhi persyaratan fundamental sama sekali. Para "specialist" ditugaskan
untuk memelihara perdagangan yang hidup dan liquid bagi saham-saham tertentu

berdasarkan imbalan perlakuan istimewa (privileges) dari pihak bursa di Amerika


Serikat.
Perbedaan motivasi antara investor dan para penggerak pasar sudah bisa
menyebabkan saham yang terbaik tidak mendapatkan harga tertinggi. Bisa saja
terjadi bahwa saham yang tidak begitu baik fundamentalnya, dikejar pelaku bursa
karena permintaan yang lebih tinggi.
Pelaku bursa dengan persentase rendah di bursa yang sudah maju, namun
justru lebih tinggi di bursa yang belum berkembang dengan baik, adalah para
spekulator yang tidak rasional. Para spekulator terdiri dari dua kelompok yang
termakan isu bahwa mencari untung di bursa adalah lebih mudah dan cepat
daripada terjun ke dalam bisnis normal.
Kelompok yang satu memang mempunyai uang lebih, sehingga secara
menyeluruh tidak akan kehilangan segala-galanya secara menyakitkan. Kerugian
akan membuat mereka mendapatkan pelajaran pahit yang mudah-mudahan dapat
menjadi pendorong untuk mau berlelah-lelah dalam membuat analisis sebelum
terjun di bursa, daripada mengandalkan rumor atau naluri saja.
Kelompok yang satu lagi adalah mereka yang sebetulnya tidak mempunyai
uang lebih, namun yang tersedia hanya belum dibutuhkan dengan segera. Karena
sama sekali tidak mempunyai pengertian tentang manajemen dana, tidak ada
cadangan untuk menghadapi kerugian yang tiba bersamaan dengan atau lebih
cepat dari kebutuhan penggunaannya. Pengalaman demikian akan membuat
mereka jera masuk ke bursa lagi.
Dari latar belakang materi fundamental dan pelaku bursa saham dapat
ditarik kesimpulan bahwa upaya untuk menetapkan harga di muka, tidak mungkin
bisa berhasil dengan baik. Harga yang telah dihitung dan diperkirakan tidak bisa
diharapkan untuk muncul di bursa. Apa yang dapat diharapkan adalah pedoman
untuk tindakan jual atau beli berdasarkan perbandingan antara analisis dan
kenyataan yang dihadapi pelaku bursa. Juallah saham yang disebut "overvalued"
(harga berada di atas nilai yang telah dihitung/diperkirakan), sebaliknya belilah
saham yang "undervalued" (harga berada di bawah nilai yang telah
dihitung/diperkirakan). Sikap yang rasional demikian memang akan menghasilkan
keuntungan bila jangka waktu yang digunakan adalah cukup lama. Namun apakah

suatu strategi "buy-and-hold" untuk saham yang "undervalued" bisa menghasilkan


keuntungan yang maksimal?
B. PENGERTIAN ANALISIS FUNDAMENTAL
Analisis Fundamental adalah suatu metode analisis yang menggunakan
data ekonomi, seperti data produksi, konsumsi dan pendapatan rumah tangga
untuk meramalkan pergerakan harga. (www.valasnews.com)
Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada
fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknik ini menitikberatkan pada rasio
finansial dan kejadian - kejadian yang secara langsung maupun tidak langsung
mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Sebagian pakar berpendapat teknik
analisis fundamental lebih cocok untuk membuat keputusan dalam memilih saham
perusahaan mana yang dibeli untuk jangka panjang. (http://id.wikipedia.org)
Fundamental analysis, This investment strategy involves evaluating a
stock by examining the company, especially its operations and its financial
condition. Here we look at several valuation methods, factoring in price/earnings
ratio, PEG, dividend yields, book value, price/sales ratio, and return on equity.
(www.investorguide.com)
C. FAKTOR DALAM ANALISIS FUNDAMENTAL
Berdasarkan kutipan yang diambil dari 2 situs internet tersebut, maka
faktor fundamental dapat dibagi menjadi 2, yakni faktor fundamental ekonomi
makro dan fkctor fundamental ekonomi (kinerja) suatu perusahaan.
1) Faktor Fundamental Makro
Setiap berita yang baik yang berhubungan langsung maupun tidak
langsung dengan ekonomi dapat merupakan suatu factor fundamental yang
penting untuk dicermati. Berita-berita tersebut dapat berupa berita yang
menyangkut perubahan ekonomi, perubahan tingkat suku bunga, pemilihan
presiden, bencana alam dan lain-lain. Faktor-faktor fundamental yang sifatnya
luas dan kompleks tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori besar, yaitu
Faktor ekonomi, politik, keuangan moneter dan eksternal:

1. Faktor Ekonomi
Dalam

menganalisis

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

kondisi

fundamental perekonomian suatu negara, indikator ekonomi adalah salah satu


faktor yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan bagian penting dari
keseluruhan faktor fundamental itu sendiri. Seiring dengan kemajuan di bidang
ilmu pengetahuan dan tekhnologi, untuk mendapatkan sumber informasi terkini,
seorang trader juga sering menggunakan informasi yang berasal dari monitor
komputer, misalnya melaui Dow Jones Telerate, Reuters, Knight Rider maupun
Bloomberg.
Indikator-indikator ekonomi yang sering digunakan dalam Analisis
Fundamental, yaitu :
1)
Gross Domestic Product
Gross Domestic Product adalah penjumlahan seluruh barang dan jasa yang
diproduksi oleh suatu negara baik oleh perusahaan dalam negeri maupun
oleh perusahaan asing yang beroperasi di dalam negara tersebut pada suatu
waktu / periode tertentu.
b.

Inflasi
Seorang

Trader

akan

selalu

memperhatikan

dengan

seksama

perkembangan tingkat inflasi. Salah satu cara pemerintah dalam


menanggulangi

inflasi

adalah

dengan

melakukan

kebijakan

menaikkan tingkat suku bunga . Kebijakan peningkatan tingkat suku bunga


ini diharapkan dapat memperkuat nilai tukar dan mengendalikan tingkat
inflasi. Penggunaan tingkat inflasi sebagai salah satu indikator fundamental
ekonomi adalah untuk mencerminkan tingkat GDP dan GNP ke dalam nilai
sebenarnya.
Nilai GDP dan GNP ini merupakan indikator sangat penting bagi seorang
Trader dalam membandingkan peluang dan resiko investasinya di
mancanegara. Umumnya seorang Trader akan menggunakan indikatorindikator inflasi sebagai berikut :
a) Producer Price Index (PPI)
PPI adalah indeks yang mengukur rata-rata perubahan harga yang
diterima oleh produsen domestik untuk setiap output yang dihasilkan

dalam setiap tingkat proses produksi. Data PPI dikumpulkan dari


berbagai

sektor

ekonomi

terutama

dari

sector

manufaktur,

pertambangan dan pertanian.


b)

Consumer Price Index (CPI)


CPI digunakan untuk mengukur rata-rata perubahan harga eceran dan
sekelompok barang dan jasa tertentu. Kedua indeks tersebut, CPI dan
PPI, digunakan oleh seorang Trader sebagai indikator untuk mengukur
tingkat inflasi yang terjadi. Seorang Trader tidak dapat berharap bahwa
Bank Sentral akan menaikkan tingkat suku bunga setiap salah satu
indikator memberikan sinyal kuat tentang adanya inflasi maupun
menurunkan suku bunga untuk keadaan sebaliknya. Contoh : dampak
Perang Teluk (1991) adalah naiknya harga minyak bumi dan ini
membuat indeks CPI di Amerika Serikat juga naik. Namun karena
peningkatan indeks CPI itu tidak berlangsung lama, maka Bank Sentral
Amerika Serikat tidak mengambil tindakan apa pun.

c.

Balance of Payment
Balance of Payment
keseluruhan
suatu

negara,

adalah

aktivitas
baik

yang

suatu

transaksi
bersifat

neraca

yang

perekonomian
komersial

terdiri

dari

internasional

maupun

finansial,

dengan negara lain pada suatu periode tertentu. Balance of Payment ini
mencerminkan seluruh transaksi antara penduduk, pemerintah dan
pengusaha dalam negeri dan pihak luar negeri, seperti transaksi ekspor dan
impor, investasi portofolio, transaksi antar Bank Sentral dan lain-lain.
Indikator umum yang sering digunakan adalah neraca perdagangan /
current account. Faktor lain yang mempengaruhi neraca pembayaran
adalah adanya aliran investasi asing yang masuk ke dalam negeri dalam
bentuk Foreign Direct Investment maupun Portofolio Investment. Contoh :
surplus neraca perdagangan Jepang terhadap Amerika Serikat pada tahun
1998 memberikan gambaran / indikasi yang jelas terhadap meningkatnya
volume permintaan Yen dalam aktifitas perdagangan. Akibatnya nilai tukar
Yen terhadap Dollar AS menguat.

d.

Employment
Employment adalah suatu indikator yang dapat memberikan gambaran
tentang kondisi riil berbagai sektor ekonomi. Indikator mengenai tingkat
kesempatan kerja ini dapat dijadikan sebagai alat untuk menganalisis sehat
/ tidaknya perekonomian suatu negara. Apabila perekonomian berada
dalam keadaan full capacity / kapasitas penuh maka akan tercapai
full

employment.

Jika

keadaan

sebaliknya,

maka

tingkat

pengangguran pun akan meningkat. Tingkat employment adalah indikator


ekonomi yang sangat penting bagi pasar keuangan pada umumnya dan
pasar valuta asing khususnya.
2. Faktor Politik
Faktor Politik, sebagai salah satu indikator untuk memprediksi
pergerakan nilai tukar, sangat sulit untuk diketahui timing/waktu terjadinya secara
pasti dan untuk ditentukan dampaknya terhadap fluktuasi nilai tukar. Ada kalanya
suatu perkembangan politik berdampak pada pergerakan nilai tukar, namun ada
kalanya tidak membawa dampak apapun terhadap pergerakan nilai tukar. Contoh :
gejolak politik yang terjadi di Indonesia pada pasca pergantian kepemimpinan
nasional dari masa pemerintah Orde Baru (1966 1998) sampai ke Orde
Reformasi menimbulkan gejolak fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS
yang sangat signifikan.
3. Faktor Keuangan Moneter
Peranan Faktor Keuangan sangat penting dalam melakukan Analisis
Fundamental. Adanya perubahan dalam kebijaksanaan moneter dan fiskal yang
diterapkan oleh pemerintah, terutama dalam hal kebijakan yang menyangkut
perubahan tingkat suku bunga, akan membawa dampak signifikan terhadap
perubahan dalam fundamental ekonomi. Perubahan kebijakan ini juga akan
mempengaruhi nilai tukar mata uang. Para pengamat pasar valuta asing
menyatakan bahwa tingkat suku bunga adalah penentu utama nilai tukar suatu
mata uang, selain indikator keuangan lainnya, seperti jumlah uang yang beredar.

Aturan umum mengenai kebijakan tingkat suku bunga ini adalah semakin tinggi
tingkat suku bunga semakin kuat nilai tukar suatu mata uang.Tingkat suku bunga
disini dimaksudkan adalah tingkat suku bunga riil bukan yang nominal. Seorang
Trader akan bereaksi terhadap perubahan selisih tingkat suku bunga, bukan pada
perubahan tingkat suku bunga secara individual.
4. Faktor Eksternal
Faktor Eksternal dapat membawa perubahan yang signifikan terhadap nilai
tukar suatu negara. Perubahan ekonomi yang terjadi dalam suatu negara dapat
membawa dampak regional bagi perekonomian negara-negara lain yang terdapat
dalam kawasan yang sama. Dalam era alokasi global asset, arus portofolio modal
tidak lagi mengenal batas-batas wilayah negara. Para Fund Manager, Investor dan
Hedge Fund yang melakukan investasi secara global, sangat mencermati
perubahan ekonomi, bukan hanya dalam lingkup satu negara, melainkan juga
meluas hingga ke dalam lingkup satu kawasan / regional tertentu.
2) Faktor Fundamental Ekonomi (Kinerja) Perusahaan
Teknik ini menitikberatkan pada rasio finansial dan kejadian - kejadian
yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja keuangan
perusahaan. Sebagian pakar berpendapat teknik analisis fundamental lebih cocok
untuk membuat keputusan dalam memilih saham perusahaan mana yang dibeli
untuk jangka panjang.
Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat diketahui dengan mengamati
rasio-rasio keuangannya. Rasio keuangan terdiri dari:
Rasio Likuiditas, rasio keuangan yang menggambarkan kemampuan

perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang segera jatuh tempo.


Rasio Aktivitas, rasio keuangan yang menggambarkan efektivitas

penggunaan sumberdaya yang dimiliki perusahaan.


Rasio Leverage, rasio keuangan yang menggambarkan seberapa besar
penggunaan dana yang berasal dari hutang dibandingkan dengan aktiva

atau ekuitas perusahaan


Rasio Profitabilitas, rasio

yang

perusahaan.

menggambarkan

kemampulabaan

Rasio Pasar.
Rasio-rasio keuangan ini telah tersedia pada laporan-laporan keuangan

yang terdaftar di bursa. Khusus untuk emiten yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta
(BEJ) dapat dilihat pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD).
Sebagaimana dilampirkan contoh berikut ini.

Sumber: ICMD, 2005.


D. ANALISIS FUNDAMENTAL DAN TEKNIKAL
Untuk menghadapi pergerakan harga di bursa saham ada dua macam
pendekatan, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Uraian berikut
dikutip dari situs www.bumianyar.com.
Pada masing-masing pendekatan ada penganut yang agak fanatik sehingga
menimbulkan antagonisme seolah-olah yang satu lebih unggul daripada yang lain.
Para penganut haluan fundamental (fundamentalist) menganggap bahwa harga
bergerak secara acak (random) sehingga arahnya tidak mungkin bisa diduga
sebelumnya. Upaya untuk berbuat demikian tidak lain adalah spekulasi belaka,
yang tentu tidak bisa diterima oleh para teknisi pasar (market technician),
sehingga suka memplesetkan nama fundamentalist menjadi funnymentalist dalam
ucapan yang dipercepat. Antagonisme demikian tidak perlu terjadi bila kita
mempertimbangkan aspek-aspek berikut.
Pekerjaan dalam Analisis Fundamental dilaksanakan sebelum harga
terbentuk di bursa, sebaliknya dalam Analisis Teknikal bahwa pekerjaan baru
dimulai setelah harga terbentuk di bursa. Ingatlah bahwa Tindakan jual-beli
kemudian didasarkan perbandingan antara hasil analisis dan kenyataan di bursa,
yang bisa ditetapkan sebagai "over" atau "undervalued."
Jelaslah dari urutan peristiwa bahwa analisis fundamental dibutuhkan
sebelum bisa ada upaya untuk melaksanakan analisis teknikal. Adalah kekuatankekuatan pasar secara kolektif yang menyebabkan pembentukan harga. Kekuatankekuatan ini adalah hasil dari analisis fundamental yang dilancarkan oleh para
investor dan penggerak pasar maupun spekulator. Hasil dari kekuatan-kekuatan ini
atau tarik menarik antara permintaan dan penawaran adalah yang dipelajari dalam
analisis-teknikal. Interaksi antara permintaan dan penawaran secara kolektif dan
kumulatif menghasilkan grafik gerak harga, yang bila dibaca dengan benar, bisa
menjadi pedoman tindakan beli atau jual yang menguntungkan secara total.
Dalam pandangan analisis teknikal, semua faktor fundamental sudah
masuk ke dalam dan dipresentasikan oleh harga yang terbentuk, sehingga tidak
lagi perlu mempertimbangkan segi fundamental suatu saham. Setelah terjadi

pembentukan harga, maka adalah mubazir untuk memperhatikan segi fundamental


yang menyebabkannya. Yang diperlukan adalah justru kemampuan membaca
dengan benar arah yang akan diambil oleh harga.
Sebaliknya meskipun dimulai dengan analisis fundamental, pelaku bursa
masih bisa mengambil manfaat lebih jauh dari analisis teknikal. Dalam keadaan
"overvalued" apakah saham langsung dijual atau apakah tindakan itu bisa ditunda
dulu untuk meraih keuntungan lebih banyak lagi? Berapa lama lagi waktu harus
dibiarkan berlalu sebelum tercapai suatu titik balik dalam gerak harga? Ini
bergantung dari pemanfaatan analisis teknikal dengan baik.
Dari ulasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa analisis fundamental
dan analisis teknikal saling membutuhkan: yang pertama untuk pembentukan
harga dan yang kedua untuk kelanjutan gerak harga. Perbedaan mendasar antara
kedua cara analisis ini adalah dominannya segi eksakta dalam analisis
fundamental dan hadirnya intuisiberdasarkan pengalaman di masa lampau
dalam kadar tertentu pada analisis teknikal.
Jack D. Schwager sebagai pengaran buku The Market Wizards (1989, New York
Institute of Finance/Simon & Schuster) dan The New Market Wizards:
Conversations with America's Top Traders (1992, Harper Business), setelah
mengadakan wawancara dengan puluhan pakar dalam perdagangan di bursa
saham dan komoditi, ia menulis bahwa analisis fundamental dan teknikal bisa
digunakan terpisah atau tergabung, dengan berhasil.
Dalam bukunya yang terakhir Schwager on Futures (1996, John Wiley &
Sons), ia mengakui di kata pengantarnya bahwa mula-mula ia merupakan "pure
fundamentalist" dan sangat meremehkan analisis teknikal. Namun setelah
mencoba

memanfaatkan

analisis

grafik,

ia

berubah

180

derajat

dari

skeptisismenya yang semula. Perubahan sikap demikian telah dialami banyak


fundamentalist lain melalui pandangan terbuka (open mindedness) yang
memungkinkan mereka mengadakan percobaan. Dengan demikian maka analisis
fundamental

dan

teknikal

tidak

perlu

membutuhkan untuk hasil yang maksimal.

10

dipertentangkan,

karena

saling

E. SPEKULASI BUKAN FAKTOR TEKNIKAL


Memang ruang lingkup analisis teknikal, yang hanya memperhatikan sifat
dan pola gerak harga, tidaklah seluas analisis fundamental yang mencakup ilmu
akunting, ekonomi mikro dan makro, bidang sosial politik, cuaca, dsb. Namun
cara analisis ini tidaklah sederhana juga, apa lagi program komputer mutakhir
memanfaatkan lebih dari 150 indikator atau alat analisis untuk seleksi yang
terbaik antara ribuan saham dalam waktu beberapa menit saja.
Mereka yang menggunakan analisis teknikal dengan benar pasti bukanlah
spekulator yang tidak menguasai dan mengerti tindakan mereka sendiri. Pada
umumnya spekulator menggunakan analisis teknikal dan karena itu cenderung
diasosiasikan dengan analisis teknikal. Karena sesungguhnya belum dimanfaatkan
secara profesional sehingga tingkat keberhasilannya rendah, maka pendekatan
teknikal dianggap spekulatif. Meskipun demikian analisis teknikal tidak identik
dengan spekulasi, yang tidak konsisten dalam hasilnya. Pelaku bursa yang fanatik
teknikal seperti Richard Dennis (buku New Market Wizards, pasal Silence of the
Turtles) di samping mendapatkan hasil yang konsisten dengan melipatkgandakan
beberapa ribu dolar menjadi $200 juta, juga telah melatih puluhan orang lain
untuk berhasil secara konsisten. Agar tidak merusak pasar, mereka terikat kontrak
untuk bungkam tentang sistem dagang mereka.

11

BAB II
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diataas maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
a. Analisis Fundamental adalah suatu metode analisis yang menggunakan
data ekonomi, seperti data produksi, konsumsi dan pendapatan rumah
tangga untuk meramalkan pergerakan harga.
b. Berdasarkan kutipan yang diambil dari 2 situs internet tersebut, maka
faktor fundamental dapat dibagi menjadi 2, yakni faktor fundamental
ekonomi makro dan faktor fundamental ekonomi (kinerja) suatu
perusahaan.
c. Dalam pandangan analisis teknikal, semua faktor fundamental sudah
masuk ke dalam dan dipresentasikan oleh harga yang terbentuk,
sehingga tidak lagi perlu mempertimbangkan segi fundamental suatu
saham. Setelah terjadi pembentukan harga, maka adalah mubazir untuk
memperhatikan segi fundamental yang menyebabkannya. Yang
diperlukan adalah justru kemampuan membaca dengan benar arah
yang akan diambil oleh harga.

DAFTAR PUSTAKA

12

Jogiyanto, H. (2013). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPFE


Yogyakarta.
Tandelilin, E. (2010). Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi. Yogyakarta:
Kanisius.

13