Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ikan bandeng (Chanos chanos Forskal ) merupakan salah satu jenis ikan air
payau yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Jenis Ikan ini sudah dikenal oleh
masyarakat luas karena merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki
nilai gizi yang cukup tinggi serta ditunjang dengan rasanya yang enak dan memiliki
kandungan kolesterol yang rendah sehingga aman untuk kesehatan. Pengolahan
produk ikan bandeng yang semakin meningkat pada saat ini, seperti bandeng presto
yang semua tulang dan durinya menjadi lunak, yang menyebabkan meningkatnya
jumlah yang mengkonsumsi ikan bandeng, sehingga permintaan pasar akan ikan
bandeng akhir-akhir ini terus meningkat. Kondisi ini memberikan peluang kepada
pembudidaya untuk mengembangkan usaha budidaya bandeng (Chanos chanos
Forskal) di seluruh wilayah Indonesia yang berpotensi sehingga dapat memenuhi
ketersediaan pasokan ikan bandeng.
Untuk memenuhi kebutuhan ikan bandeng yang terus meningkat dan
berkesinambungan hanya dapat dilakukan melalui pengembangan budidaya. Dengan
terus berkembangnya teknologi pembenihan ikan bandeng, memungkinkan teknologi
pembesaran ikan bandeng dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, sehingga
tidak menjadi kendala dalam teknologi pembesarannya.

Klasifikasi Ikan Bandeng


secara taksonomi bandeng dapat diklasifiksasikan sebagai berikut:
Class
: Pisces
Sub Class
: Teleostei
Ordo
: Copterygii
Family
: Chanidae
GenuS
: Chanos
Spesies
: Chanos chanos Forskal

Gb 1. Ikan Bandeng

Morfologi Ikan Bandeng


Ikan bandeng di Indonesia dikenal juga dengan nama Bandang, Bolu, Muloh,
dan Agam, tetapi dalam perdagangan internasional ikan bandeng dikenal dengan
sebutan Milk fish. Ikan bandeng memiliki ciri khas yaitu bentuk badan yang langsing
berbentuk torpedo, sirip ekor bercabang (tanda ikan perenang cepat), berwarna
keperak-perakan, mulut terletak di ujung kepala dengan rahang tanpa gigi, lubang
hidung terletak di depan mata, mata diselimuti selaput bening (subcutaneous).
Panjang badan di laut dapat mencapai 1 meter tetapi dalam tambak panjangnya tidak
lebih dari 50 cm. Hal ini disebabkan karena pengaruh keterbatasan ruang gerak, dan
karena sengaja dipanen sebelum menjadi dewasa.

II.

ISI
Proses Pembesaran Ikan Bandeng
Dalam usaha pembesaran pada hakekatnya merupakan pengelolaan lanjutan
dari kegiatan penggelondongan yang dilakukan dengan menggunakan metode
budidaya dengan tujuan meningkatkan produksi tambak. Metode budidaya yang
dapat dilakukan antara lain yaitu metode budidaya bandeng secara tradisional yang
disempurnakan, metode progresif, metode modular, dan metode penebaran berganda.
Dari keseluruhan metode tersebut inti kegiatan budidayanya sama yaitu meliputi
perbaikan dan persiapan tambak, penebaran ikan, perawatan selama pemeliharaan,
pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pemberian pakan tambahan, dan
mempertahankan kualitas air agar tetap layak.

1. Pemilihan Lokasi
Lokasi tambak budidaya ikan bandeng yang dipilih mempunyai persyaratan antara
lain:
a. Lahan mendapatkan air pasang surut air laut. Tinggi pasang surut yang ideal
adalah 1,5 2,5m. Pada lokasi yang pasang surutnya lebih rendah dibawah 1
meter maka pengelolaan air menggunakan pompa.
b. Tersedia air tawar untuk mengatur kadar garam yang sesuai bagi pertumbuhan
ikan bandeng.
c. Tekstur tanah yang ideal adalah liat berpasir, karena tanah ini dapat menahan air
dengan baik.
d. Lokasi ideal terdapat sabuk hijau (green belt) yang ditumbuhi hutan mangrove
dengan panjang minimal 100 m dari garis pantai.

e. Keadaan sosial ekonomi mendukung operasional budidaya seperti keamanan yang


kondusif.

2.

Persiapan Tambak
Persiapan lahan adalah proses penyiapan lahan tambak mulai pengeringan lahan
sampai siap ditebar benih untuk pembesaran ikan bandeng. Persiapan tambak sangat
menentukan keberhasilan budidaya. Tahapan Persiapan tambak adalah sebagai
berikut:
a. Perbaikan sarana dan Prasarana
Memperbaiki secara menyeluruh mulai pintu air, pematang, caren, saringan,
saluran pemasukan, saluran pengeluaran dan peralatan lainnya seperti pompa air,
jala lingkar (untuk sampling pertumbuhan ikan).
b. Pengeringan Lahan
Lama pengeringan tergantung cuaca dan kondisi tanah. Tanah yang mempunyai
ketebalan lumpur dalam membutuhkan waktu lebih dari 3 minggu sedangkan
tanah liat berpasir membutuhkan waktu cukup 10 hari. Tujuan pengeringan ini
adalah mempercepat penguapan gas racun-racun, memberantas hama penyakit,
mempercepat proses penguraian dan menaikan pH tanah.
c. Pengangkatan Lumpur
Endapan lumpur sisa pemeliharaan periode sebelumnya berwarna hitam dan
terletak ditengah tambak atau didekat pintu pengeluaran. Lumpur ini banyak
mengandung bahan organik dan gas-gas beracun seperti asam sulfida sehingga
lumpur ini perlu diangkat. Endapan lumpur diangkat kepermukaan tanggul.
d. Pengapuran Tanah

Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan pH tanah serta membunuh bakteri


pathogen yang ada dan organisme hama. Kapur yang digunakan untuk pekerjaan
ini adalah kapur pertanian (CaCO3). Dosis yang digunakan tergantung pada
kondisi pH tanah. Semakin rendah pH tanah maka kebutuhan kapur untuk
pengapuran semakin banyak.
e. Pemupukan
Dalam pemeliharaan ikan bandeng penyediaan makanannya dapat berupa
makanan alami dan makanan buatan. Jenis makanan alami ditambak dapat berupa
klekap, lumut, plankton, dan organisme dasar atau benthos. Namun demikian
jarang sekali semua jenis tersebut dapat hidup dan tumbuh dalam tempat dan
waktu yang bersamaan. Hal ini tergantung dari keadaan kualitas tanah dan air
serta kedalaman air ditambak.
Dalam penumbuhan pakan alami tersebut mempunyai tatacara yang berbeda
tergantung dari jenis pakan alami yang diinginkan. Sehubungan dengan hal
tersebut kebutuhan jenis pupuk yang digunakan untuk proses penumbuhannya
pun berbeda. Untuk penumbuhan klekap yang merupakan kumpulan jasad renik
yang disusun oleh algae biru, benthos, diatom, bakteria, dan organisme renik
hewani, diperlukan pupuk organik seperti dedak halus, bungkil kelapa, kotoran
sapi, kotoran kerbau, dan kotoran ayam.
Jumlah pupuk yang digunakan tergantung dari kesuburan tanah tersebut,
pada umumnya dosis pupuk organik berupa dedak halus diperlukan 500-1000
kg/ha, bungkil kelapa diperlukan 500-1000 kg/ha, kotoran kerbau/sapi 10003000kg/ha, kotoran ayam jumlah pupuk organik yang diperlukan 500 kg/ha.
Penggunaan pupuk anorganik dalam penumbuhan klekap terdiri dari pupuk Urea
dan TSP yang digunakan dengan perbandingan 2:1. Dosis pupuk urea adalah 100
kg/ha dan TSP 50 kg/ha. Aplikasi pupuk anorganik dilakukan setelah didahului

oleh pemasukan air tahap pertama setinggi 5-10 cm dan dikeringkan kembali.
Pada pemasukan air berikutnya dilakukan dengan ketinggian 10-15 cm yang
selanjutnya dilakukan penebaran pupuk anorganik sesuai dengan dosis tersebut.
Penggunaan pupuk organik dilakukan dengan cara diletakan pada beberapa
tempat dibagian tambak secara merata sebelum dilakukan pemasukan air tahap
pertama.
Untuk penumbuhan pakan alami jenis lumut yang komposisi utamanya
adalah alga hijau berfilamen diperlukan kedalaman air antara 40-60 cm. Kisaran
kadar garam yang diperlukan untuk penumbuhan lumut adalah 25 promil atau
lebih. Jenis lumut yang umum tumbuh ditambak adalah lumut sutera
(Chaetomorpha sp), dan lumut perut ayam (Enteromorpha sp). Jenis algae hijau
filamen

lainnya

juga

merupakan

jenis

lumut

adalah Cladophorasp.

dan Vaucheria sp.


f. Pengisian Air Sebelum Tebar
Pada saat terjadi pasang naik cukup tinggi air dimasukan kedalam tambak setelah
melalui saringan di pintu air pemasukan (inlet). Ketinggian air dipelataran tambak
lebih kurang 10 cm. Kemudian pintu air pemasukan ditutup dan air dalam tambak
dibiarkan selama tiga hari, dengan tujuan untuk memperbaiki struktur tanah agar
berada pada kondisi baik untuk pertumbuhan pakan alami. Pada saat pemasukan
air berikutnya dilakukan penggunaan Saponin (tea seed) untuk pemberantasan
hama yang ada di dalam tambak dan untuk merangsang pertumbuhan
phytoplankton. Setelah diberi saponin, tambak dibiarkan hingga

5-7 hari.

Setelah diyakini bahwa berbagai hama di dalam tambak telah mati, maka
pengisian air kembali dilakukan. Pada tahap ini ketinggian air dipelataran cukup
10 cm dan dibiarkan selama 3 hari untuk dilakukan pemupukan dasar. Kemudian
setelah pemupukan dilakukan penambahan air pada tambak dilakukan secara

bertahap sesuai dengan pertumbuhan pakan alami (klekap). Pada ketinggian air 40
cm dari pelataran tambak maka air tambak dipertahankan untuk persiapan
penebaran benih ikan.
3. Persiapan Benih
Dalam persiapan benih ikan bandeng yang akan ditanam dalam proses
pembesaran terdapat beberapa tahapan kegiatan yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
a.

Kegiatan Peneneran
Kegiatan peneneran adalah pemeliharaan benih ikan bandeng dari ukuran nener
hingga mencapai ukuran 5-7 cm. Ukuran benih ikan ini sudah dapat digunakan
pada kegiatan penggelondongan. Luas tambak untuk kegiatan peneneran relatif
lebih kecil dan biasa dikenal dengan sebutan baby box. Perbandingan luas petak
peneneran, penggelondongan, dan pembesaran adalah 1:9:90. lama pemeliharaan
dipetak peneneran berkisar 30-45 hari tergantung pada kondisi pakan alami dan
ukuran ikan.

b.

Kegiatan Penggelondongan
Kegiatan penggelondongan adalah lanjutan pemeliharan benih dari ukuran
gelondongan kecil (pre-fingerling) hingga mencapai ukuran gelondongan.
Kegiatan penggelondongan ini dilakukan kurang lebih selama 30 hari atau pada
saat ukuran berat ikan antara 3-5 gr/ekor. Setelah kegiatan penggelondongan
baru benih ikan bandeng dapat dipelihara di petak pembesaran.

4.

Penebaran Benih
Faktor-faktor penebaran benih yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut
(Mudjiman, 1988):
a.

Padat Tebar
Benih ikan bandeng yang ditebar dipetak pembesaran untuk menghasilkan ikan
ukuran konsumsi disesuaikan dengan metode pembesaran ikan bandeng yang
dilaksanakan. Untuk metode tradisional yang disempurnakan padat tebarnya
adalah 2-3 ekor/ m2. Lama pemeliharaan pada pembesaran ikan bandeng dengan
metode tradisional yang disempurnakan adalah 4 bulan.

b.

Waktu Penebaran
Penebaran benih bandeng harus segera dilaksanakan setelah petakan tambak
siap untuk pemeliharaan. Warna air tambak terlihat kehijauan oleh plankton.
Keterlambatan penebaran akan memberikan peluang hama dan penyakit
berkembang didalamnya. Waktu penebaran dilakukan sore hari atau menjelang
matahari terbenam pukul 16.00-18.00 atau pagi hari sebelum matahari terbit
sampai pukul 07.30 karena pada waktu ini kondisi fluktuasi suhu tidak
mencolok, parameter air dan lingkungan tidak banyak berubah.

c.

Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah proses penyesuaian biota yang dipelihara dengan
lingkungan baru yang akan digunakan untuk budidaya ikan. Melalaui proses
adaptasi ini secara fisiologi dan kebiasaan hidupnya secara perlahan-lahan
disesuaikan dengan lingkungan barunya. Dalam kegiatan aklimatisasi
sebelumnya telah disediakan petakan khusus yaitu petakan yang sangat sempit
yang dibuat hanya untuk sementara dalam kegiatan aklimatisasi atau
penyesuaian benih pada tambak. Ukuran petak ini disesuaikan dengan

banyaknya benih yang akan ditebarkan. Petakan ini dibuat di dekat pintu air dan
dibatasi oleh pematang yang sempit (kecil). Diatas pematang dibangun atap
yang terbuat dari gedek bambu yang dilapisi dengan plastik atau dari daun
kelapa (welit). Kegunaan atap ini adalah sebagai pelindung bagi benih dari
sengatan sinar matahari yang kuat dan hujan, karena air hujan yang langsung
mengalir kepetak aklimatisasi dapat menyebabkan kematian pada benih. Petak
aklimatisasi ini diperlukan baik pada musim kemarau maupun pada musim
hujan.
5.

Pemberian Pakan
Pakan merupakan komponen penting karena mempengaruhi pertumbuhan ikan,
lingkungan budidaya serta memiliki dampak fisiologis dan ekonomis. Kelebihan
pemberian pakan akan menyebabkan bahan organik yang mengendap terlalu banyak
sehingga akan menurunkan kualitas air demikian juga kekurangan pakan akan
menyebabkan pertumbuhan ikan turun dan tubuhnya lemah sehingga daya tahan
terhadap penyakit menurun. Pakan disebarkan secara merata ke dalam tambak.
Jenis pakan yang diberikan adalah pakan buatan dan pakan alami. Pakan
buatan berbentuk pellet dengan berbagai ukuran yang disesuaikan dengan ukuran
(size) ikan. Kandungan nutrisi yang dibutuhkan dalam pakan ikan bandeng (Chanos
chanos Forskal) antara lain protein, karbohidrat, lemak, asam lemak, vitamin serta
mineral. Pakan hidup adalah organisme hidup dalam tambak yang berfungsi sebagai
pakan ikan. Pada umumnya jenis pakan ini adalah plankton. Fungsi plankton
disamping sebagai pakan alami bagi ikan adalah penghasil oksigen dalam air.

6.

Monitoring Pertumbuhan
Monitoring pertumbuhan dimaksudkan untuk mengetahui pertumbuhan dalam
petakan tambak secara individu, populasi dan biomas yang dilakukan secara

periodik. Pengamatan pertumbuhan dilakukan dalam pengambilan contoh (sampel)


dan pemeriksaan ikan dengan dilakukan penjalaan (Jala tebar). Untuk mengamati
respon ikan terhadap pakan serta kesehatan ikan dapat diamati menggunakan anco,
sedangkan pengamatan pertumbuhan dan kelangsungan hidup dilakukan pengamatan
langsung berupa jumlah yang mati. Data yang terkumpul selanjutnya dapat
digunakan untuk menentukan jumlah pakan yang akan diberikan.
Monitoring pertumbuhan ini digunakan untuk menentukan jumlah pakan,
infeksi hama penyakit serta waktu panen yang tepat. Pengambilan sampel atau
sampling dilakukan tidak hanya pada satu titik tambak, atau hanya pada sisi tambak
dimana ikan sering diberi pakan, tetapi harus dilakukan pada lima titik tambak, yaitu
bagian tengah tambak dan empat titik yang lainnya yaitu empat sudut pada tambak.
Hal ini bertujuan agar sampling atau pengambilan sampel yang dilakukan dapat
benar-benar mewakili organisme yang dibudidayakan di tambak secara akurat.
7.

Perawatan Tambak Selama pembesaran


Untuk keberhasilan usaha pembesaran bandeng maka perlu dilakukan
perawatan dengan baik selama pemeliharaan. Perawatan tersebut meliputi pengaturan
air, perawatan pintu dan pematang, pemupukan susulan serta pemberian pakan
tambahan.
a.Pengaturan Air
Selama pemeliharaan, kualitas dan kedalaman air harus diperhatikan, sehingga
benih dapat hidup dengan layak. Pergantian air yang teratur mempunyai
keuntungan dalam menjaga kualitas air tetap baik. Selain itu, unsur hara dan
organisme makanan benih ikan bandeng dapat disuplai ke tambak. Bila air tambak
tidak pernah atau jarang diganti, akan menyebabkan terakumulasinya bahan
beracun di tambak dan itu sangat berbahaya bagi kehidupan benih. Pergantian air

dilakukan secara teratur bersamaan dengan adanya air pasang. Caranya adalah
dengan mengeluarkan setengah atau sepertiga bagian air tambak sebelum terjadi air
pasang, kemudian diganti dengan air pasang yang baru sampai ketinggian air
semula.
Pada saat setelah terjadi hujan, maka air di tambak perlu segera diganti, karena air
hujan akan mengencerkan salinitas. Hal ini dapat membahayakan kehidupan ikan
yang sedang dipelihara. Kemudian juga untuk menjaga salinitasnya agar tetap stabil
dan baik (payau) diperlukan juga sumber air tawar, sumber air tawar bisa diperoleh
dari air sungai.
b. Perawatan Pintu dan Pematang
Untuk menunjang keberhasilan pemeliharaan benih, pematang dan pintu
tambak harus selalu diperiksa dan dirawat dengan baik. Maksud perawatan ini
adalah untuk mencegah terjadinya kebocoran atau rembesan air dari dalam tambak
serta mencegah hilangnya benih. Demikian pula saringan di pintu tambak harus
dibersihkan dengan sikat, untuk memudahkan dalam pertukaran air.
c. Pemupukan Susulan
Sebelum kondisi makanan alami di tambak menipis (habis), segera dilakukan
pemupukan susulan. Pemupukan ini dimaksudkan untuk mensuplai unsur hara
kedalam tambak, sehingga dapat menunjang pertumbuhan makanan alami. Jumlah
pupuk yang diberikan tergantung dari kesuburan makanan alami yang ada. Sebagai
patokan dapat digunakan pupuk Urea dan TSP dengan dosis masing-masing 10
kg/ha. Dapat juga ditambah dedak halus sebanyak 100 kg/ha. Selain sebagai pupuk,
dedak halus juga berfungsi sebagai makanan tambahan.
Mudjiman juga mengatakan bahwa pemupukan sebaiknya dilakukan pada
saat ada air pasang. Hal ini di maksudkan bila hasil pemupukan berpengaruh kurang

baik terhadap kualitas air (seperti terjadi blooming), maka dengan segera dapat
dilakukan pertukaran air. Pemupukan tidak boleh dilakukan pada saat akan turun
hujan, karena air hujan dapat mengencerkan hasil pemupukan tersebut. Selain itu
dalam melakukan pemupukan, pelataran tidak boleh diinjak-injak, karena akan
merusak klekap yang tumbuh.
d.

Makanan Tambahan
Pemberian makanan tambahan dilakukan apabila keadaan makanan alami
sudah tidak dapat lagi menunjang pertumbuhan bandeng yang dipelihara. Jenis
makanan buatan yang digunakan adalah pelet. Jumlah makanan yang diberikan
kira-kira 5% dari berat total tubuh per hari. Pemberian makanan dilakukan dua kali
sehari, yaitu pagi dan sore hari.

8.

Pengamatan Hama dan Penyakit


Hama dan penyakit yang sering mengganggu kegiatan budidaya ikan bandeng
adalah sebagai berikut:
a.

Jenis-jenis hama berupa:


1)

Ikan pemangsa seperti Kakap, Kerong-kerong, Payus, Bulan-bulan dan


jenis ikan penyaing seperti Tilapia, dan Belanak.

2)

Ketam/kepiting, Belut, Tonang, yang merupakan hama yang sering


membuat lubang dan merusak pematang pada tambak.

3)

Ular air dan Burung seperti, Pucuk ikan, Bangau, dan lainnya, sebagai
pemangsa yang sering mengancam kehidupan ikan dalam kegiatan
budidaya di tambak.

Selain itu perlu diperhatikan pengontrolan tambak secara terus-menerus yaitu


mengurangi atau membasmi organisme pengganggu atau pemakan bentik yang

tumbuh di sekitar tambak. Larva chironomid, cacingpolychaete, dan siput yang


merupakan sumber penyakit. Penggunaan kapur dan urea pada saat persiapan tambak
akan membasmi organisme tersebut.
b.

Metode Pengandalian Hama


Ada 2 metode pengendalian hama yaitu :
1.

Secara fisik dan

2.

Secara kimiawi

Secara fisik antara lain dengan cara :


a)

Pengeringan dasar tambak

b)

Pemasangan saringan pada pintu air

c)

Pemasangan perangkap

d)

Pemasangan tali-tali tidak berwarna (nylon) yang direntangkan di atas tambak


untuk mencegah burung pemangsa.
Secara kimiawi, dengan jalan memilih jenis pestisida dan dosis penggunaan

berdasarkan macam hama. Dapat dilihat pada Tabel 1.


Tabel 1. Jenis pestisida dan dosis penggunaan berdasarkan jenis hama
No

3
4

c.

Cara Pemakaian Pestisida


1) Bungkil biji teh ditumbuk hingga halus (bubuk), kemudian direndam dalam
air selama semalam. Disebar merata ke dalam tambak.
2) Bubuk rotenon dicampur dengan air secukupnya, kemudian disebar merata
ke dalam tambak.
3) Akar tuba ditumbuk hingga halus (bubuk), direndam dalam air selama satu
malam, kemudian diambil ekstraknya dan disebarkan merata kedalam
tambak.
4) Brestan dicampur air secukupnya, kemudian disebar merata ke dalam
tambak. Setelah aplikasi tambak harus direklamasi (genangi tambak dengan
air laut atau payau selama 1 malam, lalu kuras)
5) Sevin, dengan membuat umpan dari ikan rucah yang dilumuri dengan bubuk
sevin, kemudian ditaruh disekitar lubang kepiting (pada saat pemeliharaan)
atau disebar merata pada saat persiapan tambak (tambak berair sekitar 10
cm) dan setelah aplikasi tambak perlu dicuci.

d. Penyakit pada Bandeng


Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulan gangguan pada
ikan, sehingga dapat menimbulan kerugian dalam bereproduksi. Timbulnya penyakit
pada ikan disebabkan oleh ketidakserasian antara 3 faktor, yaitu kondisi lingkungan,
kondisi ikan itu sendiri, dan organisme patogen.

Jenis penyakit yang pernah dilaporkan yang menyerang ikan bandeng adalah:
1)

Sisik atau kulit kotor penyakit ini disebabkan oleh Caligus Sp danPiscicolla
Sp, gejalanya yaitu nafsu makan ikan berkurang, susunan sisik rusak, ikan
terlihat malas.

2)
9.

Sirip ekor patah dan rusak penyakit ini disebabkan oleh Fiorrot disease

Pemanenan
Setelah ikan bandeng mencapai ukuran konsumsi, maka dilakukan pemanenan.
Panen dapat dilakukan secara bertahap (selektif) maupun secara total.
a.

Panen Bertahap
Panen bandeng secara bertahap dapat dilakukan dengan metode menyerang air
atau yang dikenal dengan sebutan ngerocok. Hal ini sesuai dengan sifat bandeng
yang selalu menentang arus (aliran air). Caranya adalah pada saat surut air
tambak dikeluarkan sebagian. Kemudian pada saat terjadi pasang yang cukup
tinggi, air baru dimasukan ke tambak melalui pintu air yang ditutup dengan
saringan kasar, ikan bandeng akan segera menyongsong datangnya air baru
tersebut. Dengan demikian, ikan akan terkumpul dalam petak penangkapan
(catching pond). Selanjutnya ikan tersebut ditangkap dengan menggunakan
jaring.

b.

Panen Total
Pada umumnya panen bandeng secara total dilakukan dengan cara pengeringan
tambak. Caranya adalah air dalam tambak dikeluarkan secara perlahan-lahan
sampai air yang ada didalam tambak hanya mengisi bagian pada caren saja.
Ikan bandeng akan berkumpul di caren tersebut. Pemanenan dapat dilakukan
dengan alat berupa jaring yang ditarik (diseret) sepanjang caren. Dapat juga
menggunakan kerai bambu yang didorong sepanjang caren oleh beberapa orang.

Dengan kerai ini, ikan dikumpulkan disuatu tempat tertentu yang luasnya
terbatas (sempit). Selanjutnya dilakukan penangkapan dengan alat tanggok
(scoop net).
Pemasaran
Pemasaran merupakan lanjutan aktivitas pasca panen yang menentukan harga.
Tinggi rendahnya harga di tingkat petani pembudidaya ikan bandeng seringkali
merupakan manipulasi dari pedagang pengumpul atau perantara untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih besar. Harga sangat dipengaruhi oleh tingkat permintaan dari
konsumen dan penawaran dari produsen yang efektif, pasok uang harga, barang
subtitusi, faktor musim, margin pemasaran, pola distribusi, kebijaksanaan harga dan
harga tingkat umum.

DAFTAR PUSTAKA
Buwono, I.D. 2000. Kebutuhan Asam Amino Esensial Dalam Ransum Ikan.
Kanisius, Yogyakarta.
Murtidjo, B.A. 2002. Bandeng. Kanisius. Yogyakarta.
Purnowati, I., Hidyati, D., dan Suparinto, C. 2007. Ragam Olahan Bandeng.
Kanisius, Yogyakarta
Rachmansyah. 2004. Analisis Daya Dukung Lingkungan Perairan Teluk Awarange
Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan Bagi Pengembangan
BudidayaBandeng dalam Keramba Jaring Apung. IPB. Bogor
Sudradjat, A. 2008. Budidaya 23 Komoditas Laut Menguntungkan. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Zakaria.2010.Petunjuk Tehnik Budidaya Ikan Bandeng.diakses dari
http://cvrahmad.blogspot.com.

MAKALAH
PEMBESARAN IKAN BANDENG (Chanos chanos forskal)

Kelompok 4
1. Edwin Andrian R

26010211130075

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013