Anda di halaman 1dari 5

NAMA

NIM
KELAS

: UNI WAHYUNI
: 1515442002
: PEND. GEOGRAFI ICP

A. Cekungan Sumatera Utara (Nouth Sumatera Basin)


Daerah ini merupakan bagian dari Back-arc Basin lempeng Sunda yang
meliputi suatu jalur sempit yang terbentang dari Medan sapai ke Banda Aceh. Di
sebelah barat jalur ini jelas dibatasi oleh singkapan-singkapan pra-Tersier. Dapat
dikatakan bahwa yang dikenal sebagai lempung hitam (black clay) dan batupasir
bermika (micaceous sandstone), mungkin merupakan pengendapan non-marin.
Transgresi baru dimulai dengan batupasir Peunulin atau batupasir Belumai, yang
tertindih oleh Formasi Telaga. Formasi regresi diwakili oleh Formasi Keutapang
dan Formasi Seureula yang merupakan lapisan resevoir utama. Daerah cekungan
ini juga terdiri dari cekungan yang dikendalikan oleh patahan batuan dasar. Semua
cekungan tersebut adalah pendalaman Paseh (Paseh deep). Di sini jugalah letak
dearah terangkat blok Arun, yang dibatasi oleh patahan yang menjurus ke utaraselatan.
Cekungan Paseh membuka ke arah utara ke lepas pantai, ke sebelah
selatan tempat depresi Tamiang dan depresi Medan. Di antara kedua depresi
tersebut terdapat daerah tinggi, dan di sana Formasi Peunulin/Telaga/Belumai
langsung menutupi batuan dasar. Minyak ditemui pada formasi ini (Diski,
Batumandi), lebih ke selatan lagi terdapat depresi Siantara dan kemudian daerah
cekungan dibatasi oleh lengkung Asahan dari cekungan Sumatera Tengah.
Struktur daerah cekungan Sumatera Utara diwakili oleh berbagai lipatan yang
relatif ketat yang membujut barat laut-tenggara yang diikuti oleh sesar naik. Di
sini diketahui bagian barat relatif naik terhadap bagian timur. Perlipatan terjadi di
Plio-Plistosen. Semua unsur struktur yang lebih tua direfleksikan pada
paleotopografi batuan dasar, seperti misalnya di blik Arun yang menjurus ke
utara-selatan.

Cekungan sumatera Utara secara tektonik terdiri dari berbagai elemen


yang berupa tinggian, cekungan maupun peralihannya, dimana cekungan ini
terjadi setelah berlangsungnya gerakan tektonik pada zaman Mesozoikum atau
sebelum mulai berlangsungnya pengendapan sedimen tersier dalam cekungan
sumatera utara. Tektonik yang terjadi pada akhir Tersier menghasilkan bentuk
cekungan bulat memanjang dan berarah barat laut tenggara. Proses sedimentasi
yang terjadi selama Tersier secara umum dimulai dengan trangressi, kemudian
disusul dengan regresi dan diikuti gerakan tektonik pada akhir Tersier. Pola
struktur cekungan sumatera utara terlihat adanya perlipatan-perlipatan dan
pergeseran-pergeseran yang berarah lebih kurang lebih barat laut tenggara
Sedimentasi dimulai dengan sub cekungan yang terisolasi berarah utara pada
bagian bertopografi rendah dan palung yang tersesarkan. Pengendapan Tersier
Bawah ditandai dengan adanya ketidak selarasan antara sedimen dengan batuan
dasar yang berumur Pra-tersier, merupakan hasil trangressi, membentuk endapan
berbutir kasar halus, batu lempung hitam, napal, batulempung gampingan dan
serpih.
Transgressi mencapai puncaknya pada Miosen Bawah, kemudian berhenti
dan lingkungan berubah menjadi tenang ditandai dengan adanya endapan napal
yang kaya akan fosil foraminifora planktonik dari formasi Peutu. Di bagian timur
cekungan ini diendapkan formasi Belumai yang berkembang menjadi 2 facies
yaitu klastik dan karbonat. Kondisi tenang terus berlangsung sampai Miosen
tengah dengan pengendapan serpih dari formasi Baong. Setelah pengendapan laut
mencapai maksimum, kemudian terjadi proses regresi yang mengendapkan
sedimen klastik (formasi Keutapang, Seurula dan Julu Rayeuk) secara selaras
diendapkan diatas Formasi Baong, kemudian secara tidak selaras diatasnya
diendapkan Tufa Toba Alluvial.
B.

Stratigrafi Cekungan Sumatera Utara


Proses tektonik cekungan tersebut telah membuat stratigrafi regional
cekungan Sumatera Utara dengan urutan dari tua ke muda adalah sebagai berikut :
1. Formasi Parapat

Formasi Parapat dengan komposisi batupasir berbutir kasar dan


konglomerat di bagian bawah, serta sisipan serpih yang diendapkan secara tidak
selaras. Secara regional, bagian bawah Formasi Parapat diendapkan dalam
lingkungan laut dangkal dengan dijumpai fosil Nummulites di Aceh. Formasi ini
diperkirakan berumur Oligosen.
2. Formasi Bampo
Formasi Bampo dengan komposisi utama adalah serpih hitam dan tidak
berlapis, dan umumnya berasosiasi dengan pirit dan gamping. Lapisan tipis
batugamping, ataupun batulempung berkarbonatan dan mikaan sering pula
dijumpai.

Formasi

ini

miskin

akan

fosil,

sesuai

dengan

lingkungan

pengendapannya yang tertutup atau dalam kondisi reduksi (euxinic). Berdasarkan


beberapa kumpulan fosil bentonik dan planktonik yang ditemukan, diperkirakan
formasi ini berumur Oligosen atas sampai Miosen bawah. Ketebalan formasi amat
berbeda dan berkisar antara 100 2400 meter.
3. Formasi Belumai
Pada sisi timur cekungan berkembang Formasi Belumai yang identik
dengan formasi Peutu yang hanya berkembang dicekungan bagian barat dan
tengah. Terdiri dari batupasir glaukonit berselang seling dengan serpih dan
batugamping. Didaerah Formasi Arun bagian atas berkembang lapisan batupasir
kalkarenit dan kalsilutit dengan selingan serpih. Formasi Belumai terdapat secara
selaras diatas Formasi Bampo dan juga selaras dengan Formasi Baong, ketebalan
diperkirakan antara 200 700 meter. Lingkungan pengendapan Formasi ini adalah
laut dangkal sampai neritik yang berumur Miosen awal.
4. Formasi Baong
Formasi Baong terdiri atas batulempung abu-abu kehijauan, napalan,
lanauan, pasiran. Umumnya kaya fosil Orbulina sp, dan diselingi suatu lapisan
tipis pasir halus serpihan. Didaerah Langkat Aru beberapa selingan batupasir
glaukonitan serta batugampingan yang terdapat pada bagian tengah. Formasi ini

dinamakan Besitang River Sand dan Sembilan sand, yang keduanya merupakan
reservoir yang produktif dengan berumur Miosen Tengah hingga Atas.

5. Formasi Keutapang
Formasi Keutapang tersusun selang-seling antara serpih, batulempung,
beberapa sisipan batugampingan dan batupasir berlapis tebal terdiri atas kuarsa
pyrite, sedikit mika, dan karbonan terdapat pada bagian atas dijumpai
hidrokarbon. Ketebalan formasi ini berkisar antara 404 1534 meter. Formasi
Keutapang merupakan awal siklus regresi dari sedimen dalam cekungan sumatera
utara yang terendapkan dalam lingkungan delta sampai laut dalam sampai Miosen
akhir.
6. Formasi Seurula
Formasi ini agak susah dipisahkan dari Formasi Keutapang dibawahnya.
Formasi Seurula merupakan kelanjutan facies regresi, dengan lithologinya terdiri
dari batupasir, serpih dan dominan batulempung. Dibandingkan dengan Formasi
Keutapang, Formasi Seurula berbutir lebih kasar banyak ditemukan pecahan
cangkang moluska dan kandungan fornifera plangtonik lebih banyak. Ketebalan
Formasi ini diperkirakan antara 397 720 meter. Formasi ini diendapkan dalam
lingkungan bersifat laut selama awal Pliosen.
7. Formasi Julu Rayeu
Formasi Julu Rayeu merupakan formasi teratas dari siklus endapan laut
dicekungan sumatera utara. Dengan lithologinya terdiri atas batupasir halus
sampai kasar, batulempung dengan mengandung mika, dan pecahan cangkang
moluska. Ketebalannya mencapai 1400 meter, lingkungan pengendapan laut
dangkal pada akhir Pliosen sampai Plistosen.
8. Vulkanik Toba

Vulkanik Toba merupakan tufa hasil kegiatan vukanisme toba yang


berlangsung pada Plio-Plistosen. Lithologinya berupa tufa dan endapan-endapan
kontinen seperti kerakal, pasir dan lempung. Tufa toba diendapkan tidak selaras
diatas formasi Julu Rayeu. Ketebalan lapisan ini diperkirakan antara 150 200
meter berumur Plistosen.
9. Alluvial
Satuan alluvial ini terdiri dari endapan sungai ( pasir, kerikil, batugamping
dan batulempung ) dan endapan pantai yaitu, pasir sampai lumpur. Ketebalan
satuan alluvial diperkirakan mencapai 20 meter.
http://chaniago021090.blogspot.co.id/2013/06/bab-i-pendahuluana.html