Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM LAB K3

PENGUKURAN KELELAHAN

Disusun oleh :
Nama

: Diandra Arisnawati

NIM

: J410130073

Semester/shift : 6/A

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016

I.

PENDAHULUAN
a. Latar belakang
Bekerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia.
Kebutuhan itu bermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan
sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada
sesuatu yang ingin dicapai dan orang berharap aktivitas kerja yang
dilakukannya

akan

membawakan

suatu

keadaan

yang

lebih

memuaskan dari sebelumnya. Perkembangan teknologi yang semakin


maju mendorong Indonesia mencapai tahap industrialisasi, yaitu
adanya berbagai macam industri yang ditunjang dengan teknologi
maju dan modern.
Salah satu konsekuensi dari perkembangan industri yang sangat
pesat dan persaingan yang ketat antar perusahaan di Indonesia
sekarang ini adalah tertantangnya proses produksi kerja dalam
perusahaan supaya terus menerus berproduksi selama 24 jam. Dengan
demikian diharapkan ada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi
untuk mencapai keuntungan yang maksimal.
Peranan manusia dalam industri tidak dapat diabaikan karena
sampai saat ini dalam proses produksi masih terdapat adanya
ketergantungan antara alat-alat kerja atau dengan kata lain adanya
antara manusia, alat dan bahan sertalingkungan kerja Interaksi antara
manusia, alat dan bahan, serta lingkungan kerjamenimbulkan beberapa
pengaruh terhadap tenaga kerja. Pengaruh atau dampak negatif sebagai
hasil samping proses industri merupakan beban tambahan dari tenaga
kerja, yang bisa menimbulkan kelelahan kerja (Nurmianto, 2003).
Kelelahan merupakan proses alami tubuh makhluk hidup yang
mampu bergerak bebas dan merupakan proses yang sedapatnya
dihindari oleh para pekerja karena bisa mengurangi kualitas dan
konsentrasi dalam bekerja, sehingga pada akhirnya mengurangi
produksi serta income perusahaan.
Kelelahan kerja tidak hanya terjadi pada para pekerja yang
sebagian besar menggunakan kekuatan fisik seperti buruh bangunan

atau kuli angkut, tetapi juga terjadi pada pekerja yang bekerja di
belakang meja. Di dalam suatu literatur dikatakan bahwa kelelahan
merupakan hal yang belum dapat dijelaskan dengan konkret
bagaimana proses terjadinya, karena bahkan kuli pena pun merasakan
kelelahan dalam bekerja, termasuk para pelajar juga merasakannya.
b. Tujuan
1. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan tingkat kelelahan
seseorang berdasarkan kecepatan waktu reaksi terhadap rangsang
cahaya dan suara
2. Mahasiswa dapat menggunakan alat yang digunakan mengukur
kelelahan
3. Mahasiswa dapat menganalisa data hasil pengukuran
II.

TINJAUAN PUSTAKA
a. Pengertian Kelelahan
Menurut A.M. Sugeng Budiono, dkk. (2000), Kelelahan (fatigue)
merupakan suatu perasaan yang bersifat subyektif. Istilah kelelahan
mengarah pada kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu
kegiatan.
Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat
kesalahan kerja. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan
peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Pembebanan otot
secara statispun (static muscular loading) jika dipertahankan dalam
waktu yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain
Injuries), yaitu nyeri otot, tulang, tendon, dan lain-lain yang
diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive)
(Nurmianto, 2003).
b. Jenis Kelelahan
1. Berdasarkan Waktu Terjadinya
Berdasarkan waktu terjadinya

kelelahan,

maka

kelelahan

dibedakan menjadi 2 yaitu :


a) Kelelahan Akut
Kelelahan akut adalah kelelahan yang terjadi dengan cepat
yang pada umumnya disebabkan oleh kerja suatu organ atau
seluruh tubuh yang berlebihan.

b) Kelelahan Kronis
Kelelahan kronis adalah kelelahan yang terjadi bila
kelelahan berlangsung setiap hari dan berkepanjangan.
Kelelahan kronis merupakan kelelahan yang terjadi
sepanjang hari dalam jangka waktu yang lama dan kadangkadang terjadi sebelum melakukan pekerjaan, seperti perasaan
kebencian yang bersumber dari terganggunya emosi.Selain itu
timbulnya

keluhan

psikosomatis

seperti

meningkatnya

ketidakstabilan jiwa, kelesuan umum, meningkatnya sejumlah


penyakit fisik seperti sakit kepala, perasaan pusing, sulit tidur,
masalah pencernaan, detak jantung yang tidak normal, dan lainlain (AM.Sugeng Budiono, 2003).
Gejala yang nampak jelas akibat kelelahan kronis antara lain :
1) Meningkatnya emosi dan rasa jengkel sehingga orang
menjadi kurang toleran atau asosial terhadap orang lain.
2) Munculnya sikap apatis terhadap orang lain.
3) Depresi berat, dan lain-lain.
2. Berdasarkan Penyebab Terjadinya
Berdasarkan penyebab terjadinya kelelahan, maka kelelahan
dibedakan menjadi 2 yaitu :
a) Kelelahan Fisiologis
Kelelahan fisiologis adalah kelelahan yang disebabkan
oleh faktor fisik ditempat kerja antara lain oleh suhu dan
kebisingan. Dari segi fisiologis, tubuh manusia dianggap
sebagai mesin yang mengkonsumsi bahan bakar dan member
out put berupa tenaga yang berguna untuk melaksanakan
aktivitas sehari-hari. Kerja fisik yang continue dipengaruhi oleh
faktor lingkungan fisik, misal : penerangan, kebisingan, panas,
dan suhu.
b) Kelelahan Psikologis
Kelelahan psikologis adalah kelelahan yang disebabkan
oleh faktor psikologis. Kelelahan psikologis terjadi oleh adanya
pengaruh diluar diri berupa tingkah laku atau perbuatan alam
memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti : suasana kerja,
interaksi dengan sesama pekerja maupun dengan atasan.

3. Berdasarkan Proses Terjadinya


Berdasarkan proses terjadinya

kelelahan,

maka

kelelahan

dibedakan menjadi 2 yaitu :


a) Kelelahan Otot
Kelelahan otot adalah suatu penurunan kapasitas otot
dalam bekerja akibat kontraksi yang berulang.Kontraksi otot
yang berlangsung lama mengakibatkan keadaan yang disebut
dengan kelelahan otot.Otot yang lelah menunjukkan kurangnya
kekuatan, bertambahnya waktu kontraksi dan relaksasi,
berkurangnya koordinasi serta otot menjadi bergetar.
Menurut A.M. Sugeng Budiono, dkk. (2000) gejala
kelelahan otot dapat terlihat dan tampak dari luar (external
signs). Dalam beberapa pekerjaan, kelelahan otot ditandai
dengan :
1) Menurunnya ketinggian beban yang mampu diangkat.
2) Merendahnya kontraksi dan relaksasi.
3) Interval antara stimulusdan awal kontraksi menjadi lebih
lama.
Menurut Santoso (2004),

dalam upaya menghadapi

kelelahan otot dapat dilakukan beberapa cara yaitu :


1) Seleksi yang baik yaitu dipilih tenaga kerja yang berkondisi
prima.
2) Pengaturan jadwal dan istirahat.
3) Ruang istirahat dimaksudkan agar tenaga kerja tidak
beristirahat disembarang tempat.
b) Kelelahan Umum
Kelelahan umum adalah suatu

perasaan

yang

menyebabkan yang disertai adanya penurunan kesiagaan dan


kelambanan pada setiap aktivitas. Perasaan adanya kelelahan
secara umum dapat ditandai dengan berbagai kondisi antara
lain :
1) Lelah pada organ penglihatan.
2) Mengantuk
3) Stress menyebabkan pikiran tegang.
4) Rasa malas bekerja.
5) Menurunnya motivasi kerja yang
kelelahan fisik dan psikis.

diakibatkan

oleh

Menurut Siswanto (2007), jenis kelelahan umum adalah :


1) Kelelahan penglihatan, muncul dari terlalu letihnya mata.
2) Kelelahan seluruh tubuh, karena beban fisik bagi seluruh
organ tubuh.
3) Kelelahan mental, karena pekerjaan yang bersifat mental
dan intelektual.
4) Kelelahan syaraf, karena terlalu tertekannya sistem
psikomotorik.
5) Kelelahan kronis, karena terjadi kelelahan dalam waktu
panjang.
6) Kelelahan siklus hidup, bagian dari irama hidup siang dan
malam.
Di samping kelelahan otot dan kelelahan umum, Grandjean
(1988) juga mengklasifikasikan kelelahan kedalam 7 bagian yaitu :
1) Kelelahan visual, yaitu meningkatnya kelelahan mata.
2) Kelelahan tubuh secara umum, yaitu kelelahan akibat beban
fisik yang berlebihan.
3) Kelelahan mental, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh
pekerjaan mental atau intelektual.
4) Kelelahan syaraf, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh
tekanan berlebihan pada salah satu bagian sistem psikomotor,
seperti pada pekerjaan yang membutuhkan keterampilan.
5) Pekerjaan yang bersifat monoton.
6) Kelelahan kronis, yaitu kelelahan akibat akumulasi efek jangka
panjang.
7) Kelelahan sirkadian, yaitu bagian dari ritme siang-malam, dan
memulai periode tidur yang baru.
c. Penyebab Terjadinya Kelelahan Akibat Kerja
Menurut Azwar (2003), penyebab terjadinya kelelahan kerja antara
lain sebagai berikut :
1) Intensitas dan lama kerja mental dan fisik.

2) Lingkungan yaitu iklim, penerangan, kebisingan, getaran, dan


lain-lain.
3) Circadian rhytm atau jam biologis yaitu jam tidur digunakan
untuk kerja.
4) Problem fisik yaitu berupa tanggung jawab, kekhawatiran
konflik.
5) Kenyerian dan kondisi kesehatan, tidak fit sehingga cepat lelah.
6) Nutrisi, yaitu apabila nutrisi pekerja kurang maka akan cepat
mengalami kelelahan.
Kelelahan fisik disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
1) Kebiasan makan atau tidur tidak teratur.
2) Ketidakseimbangan pada tingkat-tingkat

elektrolit

darah

misalnya sodium, potasium, dan mineral-mineral lainnya.


3) Bertempat tinggal atau bekerja pada daerah yang panas dan
lembab.
4) Anemia
5) Pengaruh pilek dan flu yang berlarut-larut.
6) Penyakit-penyakit penyebab infeksi yang luput dari perhatian,
seperti monokleosis atau virus Epstein-Barr.
7) Beberapa gangguan endokrin, seperti kelenjar tiroid yang gagal
berfungsi sebagaimana mestinya atau gangguan neurologis.
Kelelahan emosional disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
1) Burnout yaitu merusak diri sendiri dengan bekerja terlalu keras.
2) Perubahan yang dihadapkan pada krisis kehidupan yang besar
atau keputusan hidup yang sulit seperti perceraian atau ancaman
pensiun.
3) Kejenuhan karena hidup terasa monoton atau hilangnya
kegairahan dalam rutinitas sehari-hari.
4) Depresi
d. Akibat Kelelahan Kerja
Kelelahan kerja dapat mengakibatkan penurunan produktivitas.
Jadi kelelahan kerja dapat berakibat menurunnya perhatian,
perlambatan dan hambatan persepsi, lambat dan sukar berfikir,
penurunan kemauan atau dorongan untuk bekerja, menurunnya

efisiensi dan kegiatan-kegiatan fisik dan mental yang pada akhirnya


menyebabkan kecelakan kerja dan terjadi penurunan poduktivitas
kerja (AM. Sugeng Budiono, 2003).
e. Penilaian Kelelahan Kerja
Deteksi atau penilaian kelelahan kerja dapat dilakukan dengan
berbagai cara antara lain :
1) Kualitas dan kuantitas hasil kerja, kuantitas hasil kerja dapat
dilihat pada prestasi kerja yang dinyatakan dalam banyaknya
produksi persatuan waktu. Sedangkan kualitas kerja diperoleh
dengan menilai kualitas pekerjaan seperti, jumlah yang ditolak,
kesalahan, kerusakan material, dan lain-lain.
2) Pencatat perasaan subyektif kelelahan kerja, yaitu dengan cara
kuesioner alat ukur perasaan kelelahan kerja (KAUPKK).
3) Pengukuran
gelombang
listrik
pada
otak
dengan
Electroenchepalography (EEG).
4) Uji mental, pada metode ini konsentrasi merupakan salah satu
pendekatan yang digunakan untuk menguji ketelitian dan
kecepatan dalam menyelesaikan pekerjaan. Bourdon wiersman
test merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk
menguji kecepatan, ketelitian, dan konsentrasi.
5) Uji psikomotor (Psycomotor test) dapat dilakukan dengan cara
melibatkan funsi persepsi, interprestasi dan reaksi motor dengan
menggunakan alat digital reaction timer dan flicker fussion.
Waktu reaksi yang diukur dapat merupakan reaksi sederhana atas
rangsang tunggal atau reaksi-reaksi yang memerlukan koordinasi.
Waktu reaksi adalah jangka waktu dari pemberian suatu rangsang
sampai kepada saat kesadaran atau dilaksanakan kegiatan tertentu.
Rangsang yang digunakan pada alat ini berupa cahaya dan suara.
Satuan waktu reaksi adalah milidetik.
Pada saat pemakaian alat, perlu diperhatikan agar hasil lebih akurat :

1) Pemberian rangsang tidak kontinyu.


2) Jarak maksimal sumber rangsang dengan subyek yang diperiksa
maksimum 0,5 m.
3) Konsentrasi subyek hanya pada sumber rangsang dan tidak boleh
melihat operator.
4) Waktu reaksi yang digunakan dapat keduanya atau hanya salah
satu yaitu suara atau cahaya saja.
Kriteria :
1) Normal
: waktu reaksi 150,0 240,0 milidetik
2) Kelelahan Kerja Ringan : waktu reaksi 240,0 < x < 410,0
milidetik
3) Kelelahan kerja Sedang : waktu reaksi 410,0 x < 580,0 milidetik
4) Kelelahan Kerja Berat : waktu reaksi 580,0 milidetik
Keterangan : x adalah hasil pengukuran dengan Reaction Timer.
f. Penanggulangan Kelelahan Kerja
1) Lingkungan kerja bebas dari zat berbahaya, penerangan memadai,
sesuai dengan jenis pekerjaan yang dihadapi, maupun pengaturan
udara yang adekuat, bebas dari kebisingan, getaran, serta
ketidaknyamanan.
2) Waktu kerja diselingi istirahat pendek dan istirahat untuk makan.
3) Kesehatan umum dijaga dan dimonitor.
4) Pemberian gizi kerja yang memadai sesuai dengan jenis pekerjaan
dan beban kerja.
5) Beban kerja berat tidak berlangsung terlalu lama.
6) Tempat tinggal diusahakan sedekat mungkin dengan tempat kerja,
kalau perlu bagi tenaga kerja dengan tempat tinggal jauh
diusahakan transportasi dari perusahaan.
7) Pembinaan mental secara teratur dan berkala dalam rangka
stabilitas kerja dan kehidupannya.
8) Disediakaan fasilitas rekreasi, waktu rekreasi dan istirahat
dilaksankan secara baik.
9) Cuti dan liburan diselenggarakan sebaik-baiknya.

10) Diberikan perhatian khusus pada kelompok tertentu seperti tenaga


kerja beda usia, wanita hamil dan menyusui, tenaga kerja dengan
kerja gilir di malam hari, tenaga baru pindahan .
11) Mengusahakan tenaga kerja bebas alkohol, narkoba dan obat
berbahaya.
III.

IV.

ALAT DAN BAHAN


1. Reaction Timer, Type L.77 Model MET /3001-MED-95
2. Lembar data Reaction Timer
CARA KERJA
1. Menghubungkan alat dengan sumber tenaga listrik
2. Menghidupkan alat dengan menekan tombol ON/OFF pada ON
(hidup)
3. Mereset angka penampilan sehingga menunjukkan angka 0,000
dengan menekan tombol Nol
4. Memilih rangsang suara atau cahaya yang dihendaki dengan menekan
tombol Suara atau Cahaya
5. Subyek yang diperiksa menekan tombol subyek (kabel hitam) dan
menekan tombol secara cepat setelah melihat cahaya atau mendengar
bunyi dari sumber rangsang.
6. Untuk memberikan rangsang, pemeriksa menekan tombol periksa
(kabel biru)
7. Setelah diberi rangsang subyek menekan tombol maka pada layar kecil
akan menunjukkan angka waktu reaksi dengan satuan milli detik
8. Pemeriksaan diulangi sampai 20 kali baik rangsang suara maupun
cahaya
9. Data yang dianalisa (diambil rata-rata) yaitu skor hasil 10 kali
pengukuran ditengah (5 kali pengukuran awal dan akhir dibuang)
10. Catat keseluruhan hasil pada formulir
11. Setelah selesai pemeriksaan matikan alat dengan menekan tombol
On/Off pada Off dan lepaskan alat pada sumber tenaga.
Perlu diperhatikan agar hasil lebih akurat :

Pemberian rangsang tidak kontinyu.


Jarak maksimal sumber rangsang dengan subyek yang diperiksa
maksimum 0,5 m.

Konsentrasi subyek hanya pada sumber rangsang dan tidak boleh

melihat operator.
Waktu reaksi yang digunakan dapat keduanya atau hanya salah satu
yaitu suara atau cahaya saja.

V.

HASIL PENGUKURAN

VI.

PEMBAHASAN
Pada praktikum yang dilakukan pada tanggal 27 April 2016 ini
dilakukan praktikum pengukuran kelelahan di tempat kerja. Kelelahan
kerja merupakan kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu
kegiatan akibat pekerjaan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tingkat
kelelahan akibat kerja yang dialami karyawan bisa menyebabkan
ketidaknyamanan, gangguan dan kemungkinan mengurangi kepuasan serta
penurunan

produktivitas

kecepatan

performansi,

yang

ditunjukkan

menurunnya

mutu

dengan

berkurangnya

produk,

meningkatnya

kesalahan dan kerusakan, kecelakaan yang sering terjadi, berkurangnya


konsentrasi dan ketidaknyamanan dalam melaksanakan pekerjaan.
Pada pengukuran ini dibagi menjadi empat kelompok, setiap
kelompok mengukur dua orang responden dengan menggunakan reaksi
cahaya dan dengan menggunakan reaksi suara. Pengukuran ini mengukur
tingkat kelelahan berdasarkan kecepatan waktu reaksi seseorang terhadap
rangsangan cahaya atau suara yang dilakukan dengan 20 kali pengukuran
dengan menggunakan alat untuk mengukur kelelahan yaitu Reaction
Timer.
Dalam pengukuran menggunakan reaksi cahaya, dihitung hasil
pengukuran ke-6 sampai dengan ke-15 kemudian dirata-rata. Hasil yang
diperoleh yaitu sebesar 190,29 milidetik. Berdasarkan pengukuran ini,
dinyatakan bahwa angka kelelahan responden berada pada Nilai Ambang
Batas (NAB) normal yang telah ditetapkan pada standar pembanding
reaction timer L.77 yang menyatakan bahwa NAB Normal untuk
rangsangan cahaya melalui pengukuran Reaction Timer yaitu antara 150240 milidetik. Sedangkan pada pengukuran menggunakan reaksi suara
diperoleh nilai rata-rata dari pengukuran ke-6 sampai ke-15 sebesar 161,56
milidetik. Berdasarkan pengukuran ini, dinyatakan bahwa angka kelelahan
responden berada di batas normal Hasil pengukuran menunjukkan bahwa
responden masih dalam taraf aman, karena intensitas kelelahan yang masih
normal. Dimana kelelahan normal ini tidak akan menimbulkan efek yang
berbahaya bagi responden.

VII.

KESIMPULAN DAN SARAN


a. Kesimpulan
Kelelahan kerja merupakan kondisi melemahnya tenaga untuk
melakukan suatu kegiatan akibat pekerjaan yang dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Hasil pengukuran kelelahan responden dengan
rangsang cahaya, diperoleh hasil 190,29 milidetik. Sedangkan hasil
pengukuran dengan rangsangan suara diperoleh hasil sebesar 161,56
milidetik. Berdasarkan hasil pengukuran dengan respon cahaya
maupun suara sesuai dengan standar NAB yang telah ditetapkan angka
pengukuran kelelahan kedua responden masih dalam taraf normal
sehingga masih aman dan tidak akan menimbulkan efek yang
berbahaya bagi responden.
b. Saran
1. Bagi pengukur konsentrasi, ketelitian dalam menggunakan alat
reaction timer karena alat ini sangat sensitif, sehingga rentan terjadi
error dalam pengukuran.
2. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan

secara

berkala

terhadap

kelelahan pekerja supaya pekerja dapat nyaman dalam bekerja dan


dapat meningkatkan produktivitas.

DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Saiffudin. 2003. Dasar-dasar Psikometri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Budiono, Sugeng dkk. 2003. Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Semarang:
Universitas Diponegoro.
Nurmianto, Eko. 2003. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: Guna
Widya.
Santoso, Gempur. 2004. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta:
Prestasi Pustaka Publisher.
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental; Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya.
Yogyakarta : Penerbit ANDI.

DOKUMENTASI