Anda di halaman 1dari 4

BAB V

PEMBAHASAN

Hasil analisis yang dilakukan yaitu pada persilangan N>< we dihasilkan keturunan
F1 we, we , dan N sedangkan pada persilangan N>< wa didapatkan hasil F1 wa,
wadan N. Gen wa dan we mengalami mutasi pada kromosom I sedangkan gen N tidak
mengalami mutasi (Gardner, 1991:168). Hal inilah yang mengakibatkan bahwa semua hasil
F1 pada persilangan N><wa dan N><we menghasilkan F1 yang berbeda, karena ada gen
yang terpaut oleh kelamin yaitu wa dan we. Strain we dan wa yang digunakan dalam penelitian
ini merupakan strain dengan gen-gen yang terpaut pada kromosom kelamin. Pemilihan strain
ini dikarenakan gen yang terpaut pada kromosom kelamin memiliki pola persilangan yang
khas sehingga dapat diidentifikasi dengan mudah adanya peristiwa nondisjunction. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Corebima, 2013 yang menyebutkan bahwa pewarisan sifat
(fenotip) yang terpaut kromosom kelamin X mengikuti suatu pola yang khas, yaitu crisscross
pattern inheritance yang berarti pola pewarisan menyilang. Sifat yang terpaut kromosom
kelamin X yang memiliki pola demikian lebih mudah dipahami pada sifat-sifat yang oleh
gen-gen resesif.
Benang-benang spindel mendistribusikan kromosom pada sel-sel anak tanpa
kesalahan. Namun adakalanya terjadi kecelakaan yang disebut dengan nondisjunction, di
mana bagian-bagian dari sepasang kromosom yang homolog tidak bergerak memisahkan diri
sebagaimana mestinya pada waktu meiosis I, atau di mana kromatid sesaudara gagal berpisah
selama meiosis II. Pada kasus ini, satu gamet menerima dua jenis kromosom yang sama dan
satu gamet lainnya tidak mendapat salinan sama sekali. Kromosom-kromosom lainnya
biasanya terdistribusi secara normal (Campbell, 2002).
Dengan adanya perlakuan penambahan konsentrasi Wantex pada medium yaitu
sebesar 0%, 0.1%, 0.25%, 0,5%, 0,75% dan 1% akan menghasilkan hasil yang berbeda-beda.
Hal ini terlihat dari data pengamatan yang telah diperoleh, pada berbagai tingkat konsentrasi
ada variasi jumlah anakan. Wantex merupakan pewarna tekstil yang berupa Rhodamin B. Di
dalam struktur rhodamin B terdapat ikatan dengan senyawa klorin (Cl) dimana atom klorin
tergolong sebagai senyawa halogen (Mikrajudin, 2009). Secara kasar, dapat dilihat bahwa ada
penurunan dan peningkatan jumlah anakan pada setiap penambahan konsentrasi Wantex yang
diberikan. Pengaruh pemberian pewarna sintetik ini menyerang pada tingkat sel dan juga

DNA. Dimana pewarna sintetik termasuk sebagai bahan kimia yang dapat menyebabkan
kerusakan sel. Bahan tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada tingkat seluler dengan
mengubah permeabilitas membran, homeostasis osmotik, keutuhan enzim atau kofaktor dan
dapat berakhir dengan kematian seluruh organ. Zat kimia menginduksi cedera sel melalui
cara langsung bergabung dengan komponen molekuler atau organel seluler. Pada kondisi ini
kerusakan terbesar tertahan oleh sel yang menggunakan, mengabsorpsi, mengekskresi, atau
mengonsentrasikan senyawa.
Bahan kimia seperti pewarna tekstil menerima atau mendonor elektron bebas selama
reaksi intrasel sehingga mengkatalisis pembentukan senyawa racun. Terdapat 3 reaksi
kerusakan sel yang diperantarai radikal bebas yaitu peroksidase membran lipid, fragmentasi
DNA dan ikatan silang protein. Interaksi radikal lemak menghasilkan peroksida yang tidak
stabil dan reaktif dan terjadi reaksi autokatalitik. Reaksi radikal bebas dengan timin pada
DNA mitokondria dan nuklear menimbulkan rusaknya untai tunggal. Kerusakan DNA
memberikan implikasi pada pembunuhan sel dan perubahan sel menjadi ganas. Radikal bebas
mencetuskan ikatan silang protein yang diperantarai sulfhidril, menyebabkan peningkatan
kecepatan degradasi atau hilangnya aktifitas enzimatis. Sehingga berdasarkan uraian tersebut
proses pembentukan protein dalam tubuh Drosophila melanogaster menjadi terhambat.
Penghambatan sintesis protein tersebut dapat pula terjadi pada protein yang berperan dalam
proses pembelahan kromosom. Sehingga dapat memungkinkan terjadinya peristiwa
nondisjungtion.
Ariani (2004) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa senyawa dalam pewarna
sintetik (Wantex) ini bekerja dengan cara menghambat proses fosforilasi oksidatif yang
berlangsung di mitokondria, pada konsentrasi tinggi, pewarna sintetik ini menyebabkan
hilangnya matrix protein. Zat ini dapat berikatan dengan protein-protein yang akan
menangkap ion H+, akibatnya proses transfer electron yang akan menghasilkan ATP akan
terhambat. Bila proses suplay ATP ini berkurang, maka kerja dari sel akan mengalami
gangguan. Pada proses perkembangan embrio D. melanosgater ini, zigot akan melakukan
pembelahan untuk berkembang menjadi embrio hingga menjadi larva. Dalam proses
pembelahan sel dibutuhkan ATP dalam jumlah yang besar, jika ATP yang diperlukan tidak
tercukupi maka pembelahan sel tidak dapat berlangsung sehingga embrio ini dapat
mengalami kematian. Hal ini mungkin yang mempengaruhi penurunan jumlah anakan pada
F1 akibat pemberian pemrna sintetik tekstil (Wantex) ini.

Efek dari pewarna tekstil (Wantex) terhadap nondisjunction adalah memperbanyak


frekuensi kemunculannya, hal ini dikarenakan rhodamin B ini dapat menyebabkan kerusakan
DNA yang akan mengkode pembentukan enzim-enzim yang berperan dalam pembentukan
mikrotubul saat terjadi pembelah, sehingga kromsom-kromosomnya tidak dapat berpindah
menuju equator. Protein khusus yang berperan dalam proses pembelahan sel ini pada D.
melanogaster dikode oleh gen yang terdapat pada lokus nod, dimana gen-gen ini akan
mengkode protein yang disebut dengan protein kinesin.
Dalam hal ini, zat dalam pewarna tekstil (Wantex) yaitu klorin ini dapat berikatan
dengan protein kinesin, ataupun merusak DNA pada lokus nod tersebut. Adanya ikatan
dengan pewarna tekstil (Wantex) yang kami gunakan ini akan menyebabkan protein kinesin
ini menjadi tidak berfungsi (terjadi perubahan konformasi) sehingga menyebabkan kegagalan
meiosis serta gagal berpisah dari kromosom. Pada hasil analisis dengan menghitung jumlah
anakan pada tiap persilangan, menunjukkan bahwa adanya penaikan dan penurunan. Hal ini
dimungkinkan karena konsentrasi yang tidak sesuai. Artinya bahwa pada konsentrasi yang
diberikan bukan konsentrasi yang efektif yang memberikan pengaruh pada fenotipe yang
muncul. Hal ini berdasarkan kajian teori yang menyebutkan bahwa respon bervariasi tidak
hanya sesuai dengan dosis, usia, jenis kelamin, status gizi dan genetik faktor, tetapi juga
sesuai dengan jangka panjang paparan dosis rendah (Hassan, 2010). Sedangkan hasil grafik
data dengan menghitung jumlah frekuensi nondisjungtion secara umum menunjukkan adanya
kenaikan frekuensi nondisjungtion yang sebanding dengan kenaikan konsentrasi wantex yang
diberikan. Meskipun, data yang diperoleh dari pengujian statistik belum dapat dilakukan
namun berdasarkan perhitungan frekuensi sudah terlihat kenaikannya. Hal ini sudah sesuai
dengan teori yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya. Sedangkan terjadinya
penurunan frekuensi dikarenakan data yang belum lengkap perhitungannya.

Daftar Pustaka
Mikrajudin, Abdullah. 2009. Pendekatan Baru Air Limbah : Berbasis Nanometerial dan Zero
Energy. Bandung : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ITB
Gardner, Eldon, J. Dan Snustad, D.P.1991. Principle Of Genetics Edition. New York: John
Wiley and Sons, Inc.
Hassan, GM. 2010. Efek dari Beberapa Aditif Pemrna Sintetis pada Kerusakan DNA dan
Kromosom Penyimpangan dari tikus. Arab J. Biotech, 13 (1). Fayoum: Departemen
Genetika, fakultas Pertanian, Universitas Fayoum, Mesir.