Anda di halaman 1dari 7

Cara Mengukur Hambatan, Tegangan dan Arus Listrik | Kita akan

melakukan eksperimen pengukuran besaran-besaran listrik yaitu hambatan, arus,


dan tegangan listrik. Arus dan tegangan yang akan kita ukur adalah arus dan
tegangan searah DC. Alat ukur yang akan kita gunakan adalah multimeter, yaitu alat
ukur yang mampu mengukur hambatan, arus dan tegangan sekaligus.
Ada beberapa skala dalam multimeter yang terkait dengan posisi saklar pemilih.
Untuk membaca skala secara benar. Anda harus memperhatikan keterangan pada
skala tersebut. Skala terukur dapat ditentukan dengan rumus berikut
Hasil pengukuran = (skala yang ditunjuk jarum/skala maksimalnya) x posisi saklat
pemilih.
A. Mengukur Hambatan Listrik.
Peralatan : Multimeter dan beberapa hambatan listrik.
Langkah-langkah:

1. Tempatkan saklar pemilih pada posisi pengukuran hambatan (bertanda ).


Hubungkan kedua pin (positif dan negatif). Jika jarum penunjuk tidak tempat
menyimpang ke kanan ke posisi nol, putarlah tombol kalibrasi untuk
menepatkannya.
2. Tempatkan saklar pemilih pada posisi terbesar (x 10 k), tempelkan masingmasing ujung pin pengukur pada ujung-ujung sebuah resistor. Amati skala
yang ditunjuk oleh jarum dan tentukan besar hambatan tersebut. Perhatikan
bahwa dalam pembacaan skala hambatan, nilai nol mulai dari arah kanan.
Jika skala yang terbaca terlalu kecil (jarum menyimpang jauh ke kanan
mendekati nol), putar saklar pemilih ke angka pengali yang lebih kecil
(misalnya x 1k) hingga diperoleh skala yang jelas.
3. Ulangi prosedur pengukuran itu untuk mengukur hambatan pada resistor
yang lain.
B. Mengukur Tegangan Listrik DC
Peralatan multimere, soket baterai dan beberapa batu baterai.
Langkah-langkah:

1. Putar saklar pemilih pada posisi DCV.


2. Hubungkan kutub positif mulitimeter (pin positif) pada kutub positif sebuah
batu baterai. Ingat, jangan sampai terbali pemasangan kutub positif dan
negatifnya.
3. Baca skala jarum penunjuk dan tentukan tegangan baterai tersebut.
4. Ulangi prosedur pengukuran untuk menentukan tegangan baterai-baterai
yang lain.
5. Sebagai variasi. Anda dapat menggabungkan baterai dalam sebuah soket
dan mengukur tegangan gabungannya.
C. Mengukur Arus Listrik DC

Peralatan: Multimeter, baterai dan sebuah lampu sebagai hambatan.


Langkah-langkah:
1. Putar saklar pemilih pada posisi DCmA.
2. Hubungkan kutub positif multimeter (pin positif) pada kutub positif sebuah
batu baterai melalui sebuah lampu. Ingat, jangan sampai terbalik
pemasangan kutub positif dan negatifnya.
3. Baca skala jarum penunjuk dan tentukan besar arus dalam rangkaian
tersebut.

Hukum Ohm mempelajari

arus listrik pada rangkaian tertutup. Arus listrik


mengalir karena adanya beda potensial antara dua titik pada suatu penghantar,
seperti pada lampu senter, radio, dan televisi. Alat-alat tersebut dapat menyala
(berfungsi) karena adanya aliran listrik dari sumber tegangan yang dihubungkan
dengan peralatan tersebut sehingga menghasilkan beda potensial.
Hukum Ohm
Orang pertama yang menyelidiki hubungan antara kuat arus listrik dengan beda
potensial pada suatu penghantar adalah Georg Simon Ohm, ahli fisika dari
Jerman.Ohm berhasil menemukan hubungan secara matematis antara kuat arus
listrik dan beda potensial, yang kemudian dikenal sebagai Hukum Ohm.
Kita ketahui bahwa makin besar beda potensial yang ditimbulkan, maka kuat arus
yang mengalir makin besar pula. Besarnya perbandingan antara beda potensial dan
kuat arus listrik selalu sama (konstan). Jadi, beda potensial sebanding dengan kuat
arus (V ~ I). Secara matematis dapat kita tuliskan V = m I, m adalah konstanta
perbandingan antara beda potensial dengan kuat arus. Untuk lebih jelasnya
perhatikan gambar grafik berikut!

Grafik hubungan antara kuat arus dengan beda potensial


Pernyataan Hukum Ohm
Berdasarkan grafik di atas, nilai m dapat kita peroleh dengan persamaan m =
.
Nilai m yang tetap ini kemudian didefinisikan sebagai besaran hambatan listrik yang
dilambangkan R, dan diberi satuan ohm (), untuk menghargai Georg Simon Ohm.
Jadi, persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.
atau V = I x R
Keterangan:
V : beda potensial atau tegangan (V)
I : kuat arus (A)
R : hambatan listrik ()

Persamaan di atas dikenal sebagai Hukum Ohm, yang berbunyi Kuat arus yang
mengalir pada suatu penghantar sebanding dengan beda potensial antara ujungujung penghantar itu dengan syarat suhunya konstan/tetap.
Aplikasi Hukum Ohm Pada Kehidupan
Pada kehidupan sehari-hari, kadang kita menemukan sebuah alat listrik yang
bertuliskan 220 V/2 A. Tulisan tersebut dibuat bukan tanpa tujuan. Tulisan tersebut
menginformasikan bahwa alat tersebut akan bekerja optimal dan tahan lama (awet)
ketika dipasang pada tegangan 220 V dan kuat arus 2 A. Bagaimana kalau dipasang
pada tegangan yang lebih tinggi atau lebih rendah? Misalnya, ada 2 lampu yang
bertuliskan 220 V/2 A, masing-masing dipasang pada tegangan 440 V dan 55 V. Apa
yang terjadi?
Tulisan 220 V/2 A menunjukkan bahwa lampu tersebut mempunyai hambatan
sebesar (R) =
= 110 . Jadi, arus listrik yang diperbolehkan mengalir sebesar
2 A dan tegangannya sebesar 220 V. Jika dipasang pada tegangan 440 V, maka
akan mengakibatkan kenaikan arus menjadi I =
=
= 4 A. Arus sebesar ini
mengakibatkan lampu tersebut bersinar sangat terang tetapi tidak lama kemudian
menjadi putus/rusak. Begitu juga apabila lampu tersebut dipasang pada tegangan 55
V, maka arus akan mengalami penurunan menjadi I =

= 0,5 A.

Arus yang kecil ini mengakibatkan lampu menjadi redup (tidak terang), konsep ini
merupakan bentuk pemahaman terhadap hukum ohm.