Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN
Bronkitis digambarkan sebagai inflamasi dari pembuluh bronkus Inflamasi
menyebabkan bengkak pada permukaannya, mempersempit pembuluh dan menimbulkan
sekresi dari cairan inflamasi.
Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi (ektasis) bronkus
lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan
oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis
dan otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium
size), sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Hal ini dapat memblok aliran udara ke
paru-paru dan dapat merusaknya.
Bronkitis adalah suatu peradangan pada saluran bronkial atau bronki.
Peradangan tersebut disebabkan oleh virus, bakteri, merokok, atau polusi udara (Samer
Qarah, 2007). Bronkitis kronis adalah batuk disertai sputum setiap hari selama setidaknya
3 bulan dalam setahun selama paling sedikit 2 tahun berturut-turut.
Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun
(berlangsung lama), merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus
trakeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan
ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut.
Secara klinis, Bronkitis kronis terbagi menjadi 3 jenis, yakni:
1. Bronkitis kronis ringan ( simple chronic bronchitis), ditandai dengan batuk berdahak
dan keluhan lain yang ringan.
2. Bronkitis kronis mukopurulen ( chronic mucupurulent bronchitis), ditandai dengan
batuk berdahak kental, purulen (berwarna kekuningan).
3. Bronkitis kronis dengan penyempitan saluran napas ( chronic bronchitis with
obstruction), ditandai dengan batuk berdahak yang disertai dengan sesak napas berat
dan suara mengi.

B. TANDA DAN GEJALA


Ada 3 faktor utama yang mempengaruhi timbulnya bronchitis yaitu rokok, infeksi dan
polusi. Selain itu terdapat pula hubungan dengan faktor keturunan dan status sosial.
1. Rokok

Menurut buku Report of the WHO Expert Comite on Smoking Control, rokok adalah
penyebab utama timbulnya bronchitis. Terdapat hubungan yang erat antara merokok
dan penurunan VEP (volume ekspirasi paksa) 1 detik. Secara patologis rokok
berhubungan dengan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia skuamus
epitel saluran pernafasan juga dapat menyebabkan bronkostriksi akut.
2. Infeksi
Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang
kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling
banyak adalah Hemophilus influenza dan streptococcus pneumonie.
3. Polusi
Polusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai faktor penyebab, tetapi bila ditambah
merokok resiko akan lebih tinggi. Zat zat kimia dapat juga menyebabkan bronchitis
adalah zat zat pereduksi seperti O2, zat zat pengoksida seperti N2O, hidrokarbon,
aldehid, ozon.
4. Keturunan
Belum diketahui secara jelas apakah faktor keturunan berperan atau tidak, kecuali
pada penderita defisiensi alfa 1 antitripsin yang merupakan suatu problem, dimana
kelainan ini diturunkan secara autosom resesif. Kerja enzim ini menetralisir enzim
proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan, termasuk
jaringan paru.
5. Faktor sosial ekonomi
Kematian pada bronchitis ternyata lebih banyak pada golongan sosial ekonomi
rendah, mungkin disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih buruk

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Sinar x dada : Dapat menyatakan hiperinflasi paru paru, mendatarnya diafragma,
peningkatan area udara retrosternal, hasil normal selama periode remisi.
2. Tes fungsi paru : Untuk menentukan penyebab dispnoe, melihat obstruksi,
3.
4.
5.
6.
7.

memperkirakan derajat disfungsi.


TLC
: Meningkat
Volume residu
: Meningkat.
FEV1/FVC
: Rasio volume meningkat.
GDA
: PaO2 dan PaCO2 meningkat, pH Normal.
Bronchogram
: Menunjukkan di latasi silinder bronchus saat inspirasi, pembesaran
duktus mukosa.

8. Sputum

: Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi

patogen.
9. EKG
: Disritmia atrial, peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF.
10. Polisetemia (peningkatan konsentrasi sel darah merah) terjadi akibat hipoksia kronik
yang disertai sianosis, menyebabkan kulit berwarna kebiruan.
E. PENATALAKSANAAN MEDIS
Untuk mengurangi demam dan rasa tidak enak badan, kepada penderita dewasa bisa
diberikan aspirin atau acetaminophen, kepada anak-anak sebaiknya hanya diberikan
acetaminophen. Dianjurkan untuk beristirahat dan minum banyak cairan.
Antibiotik diberikan kepada penderita yang gejalanya menunjukkan bahwa penyebabnya
adalah infeksi bakteri (dahaknya berwarna kuning atau hijau dan demamnya tetap tinggi)
dan penderita yang sebelumnya memiliki penyakit paru-paru. Kepada penderita dewasa
diberikan

trimetoprim-sulfametoksazol,

tetracyclin

atau

ampisilin.

Erythromycin

diberikan walaupun dicurigai penyebabnya adalah Mycoplasma pneumoniae. Kepada


penderita anak-anak diberikan amoxicillin. Jika penyebabnya virus, tidak diberikan
antibiotik.
Jika gejalanya menetap atau berulang atau jika bronkitisnya sangat berat, maka dilakukan
pemeriksaan biakan dari dahak untuk membantu menentukan apakah perlu dilakukan
penggantian antibiotik.
1. Pengelolaan umum
a. Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis,

meliputi :

Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien :


Contoh :
1) Membuat ruangan hangat, udara ruangan kering.
2) Mencegah / menghentikan rokok
3) Mencegah / menghindari debu,asap dan sebagainya.
b. Memperbaiki drainase secret bronkus, cara yang baik untuk dikerjakan adalah sebagai
berikut :
1) Melakukan drainase postural
Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat
dicapai drainase sputum secara maksimum. Tiap kali melakukan drainase postural
dilakukan selama 10 20 menit, tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali. Prinsip
drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum ( secret bronkus ) dengan
bantuan gaya gravitasi. Posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus
disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya, dan dapat dibantu dengan
tindakan memberikan ketukan pada punggung pasien dengan punggung jari.

2) Mencairkan sputum yang kental


Dapat dilakukan dengan jalan, misalnya inhalasi uap air panas, mengguanakan
obat-obat mukolitik dan sebagainya. Mengatur posisi tempt tidur pasien. Sehingga
diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk memudahkan drainase sputum.
3) Mengontrol infeksi saluran nafas.
Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus diperkecil dengan jalan
mencegah penyebaran kuman, apabila telah ada infeksi perlu adanya antibiotic
yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan.

F. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Primer
1) Airway
Kaji kesulitan bernafas, kemungkinan terjadi crakles, ronchi, dan suara nafas
bronkhial pada pasien
2) Breathing
Perhatikan adanya retraksi intercosta, pernafasan cepat dan dangkal, mungkin pula
terjadi crakles, ronchi (jika terdapat sumbatan cairan), dan suara nafas bronchial,
penurunan dan tidak seimbangnya ekpansi dada.
3) Circulation
Perhatikan adanya sianosis, tacicardia, tacipnea, hipotensi (pada stadium
lanjut/shock).
4) Disability
Kaji tingkat kesadaran pasien (GCS), pergerakan bola mata, dan reaksi pupil,
fungsi motorik & sensorik.
2. Pemeriksaan fisik
1) Mata
a) Konjungtiva pucat (karena anemia)
b) Konjungtiva sianosis (karena hipoksia)
c) Konjungtiva terdapat pethechia (karena emboli lemak atau endokarditis)
2) Kulit
a) Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah perifer)
b) Sianosis secara umum (hipoksemia)
c) Penurunan turgor (dehidrasi)
d) .Edema
e) Edema periorbital
3) Jari dan kuku
a) Sianosis
b) Clubbing finger
4) Mulut dan bibir
a) Membrane mukosa sianosis
b) Bernafas dengan mengerutkan mulut
5) Hidung
a) Pernapasan dengan cuping hidung

b) Vena leher : adanya distensi/bendungan


6) Dada
a) Retraksi otot bantu pernafasan (karena peningkatan aktivitas pernafasan,
dispnea, atau obstruksi jalan pernafasan)
b) Pergerakan tidak simetris antara dada kiri dengan kanan
c) Tactil fremitus, thrill, (getaran pada dada karena udara/suara melewati
saluran /rongga pernafasan)
d) Suara nafas normal (vesikuler, bronchovesikuler, bronchial)
e) Suara nafas tidak normal (crekler/reles, ronchi, wheezing, friction rub, /pleural
friction)
f) Bunyi perkusi (resonan, hiperresonan, dullness)
7) Pola pernafasan
a) Pernafasan normal (eupnea)
b) Pernafasan cepat (tacypnea)
c) Pernafasan lambat (bradypnea)
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
2. Gangguan pertukaran gas
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer